Rabu, 28 Maret 2012

[Movie] Roro Mendut (1982)


Roro Mendut
(1982 - PT. Gramedia Film, PT. Sanggar Film, PT. Elang Perkasa Film)

Directed by Ami Prijono
Screenplay by Tim Produksi
Produced by Hatoek Soebroto, J. Adisubrata, Tirto Yuwono
Cast: W.D. Mochtar, Meriam Bellina, Mathias Muchus, Sunarti Rendra, Sofia W.D., Clara Sinta


Dalam alam angan-angan gw, gw ini adalah seorang filmmaker yang ingin mengangkat kisah-kisah berlatar tanah Jawa masa lampau ke dalam layar sinema modern bernilai produksi tinggi dan serius, unlike the current  TV drama non-sense adaptations =P. Salah satu yang ingin gw bikin adalah berdasdarkan sebuah novel berjudul "Rara Mendut" karya Y.B. Mangunwijaya a.k.a. Romo Mangun, hanya karena premisnya menarik dan sampul cetakan terbarunya cakep...dan gw bahkan sampe sekarang belum baca isinya, haha. Baiklah, angan-angan itu mungkin masih jauh jika melihat sekarang gw masih dalam status totally unskilled, unnetworked, and penniless—namun dengan semangat Agnes Monica aku takkan menyerah =). Sekitar bulan lalu, gw baru tau bahwa kisah "Rara Mendut" ini sudah pernah difilmkan pada tahun 1982 dengan bintang Meriam Bellina dengan judul Roro Mendut ("a" diucapkan "o", Javanese thing)...dan dalam suatu rencana kosmik, beberapa minggu kemudian gw menemukan Dewan Kesenian Jakarta dan Kineforum memasukkan film Roro Mendut sebagai salah satu film yang diputar dalam gelaran tahunan Bulan Film Nasional 2012: Sejarah adalah Sekarang 6. Wah, pertanda apa ini =D. Akhirnya dengan niatan dan penasaran gw datang untuk nonton, sekaligus pertama kalinya gw menyambangi event BFN ini. Kapan lagi bisa nonton film lama Indonesia di bioskop.

Rara Mendut aslinya adalah sebuah kisah dalam naskah Jawa kuno yang berkembang jadi cerita rakyat (as per wikipedia, what else =P), lalu dibuatkan dalam versi roman naratif berbahasa Indonesia oleh Romo Mangun yang dipublikasikan secara bersambung di harian Kompas tahun dari 1982 hingga 1987. Film Roro Mendut sendiri diproduksi tahun 1982, jadi sebenarnya gw agak ragu mengatakan bahwa film ini berdasarkan prosanya Romo Mangun, bahkan di film ini sendiri tidak ada kredit "berdasarkan" (not like it really matters back then, penulis naskahnya aja cuman tercantum "Tim Produksi"), akan tetapi karena diproduksi oleh Gramedia (yang—kemungkinan—punya hak publikasi naskah "Rara Mendut"-nya Romo Mangun. Kompas sama Gramedia itu sekeluarga ya, fyi) jadi kurang lebih pasti ada kaitannya lah, who knows.

Pada zaman kesultanan Mataram (sekarang Jawa bagian tengah) pada masa kekuasaan Sultan Agung, Tumenggung (kepala daerah) Wiraguna (W.D. Mochtar) berhasil menaklukan wilayah Pati (di pantai utara Jawa) dan merampas harta benda sekaligus perempuan-perempuannya, di antaranya adalah Roro Mendut (Meriam Bellina) yang sangat cantik jelita. Karena jasanya itu, Wiraguna dihadiahi Roro Mendut oleh Sultan, sehingga Mendut dibawa dan dipersiapkan sebagai selir Wiraguna di kediamannya. Namun, Mendut bukanlah wanita yang menurut begitu saja (katanya sih pembawaan "perempuan pesisir" yang "liar" =D), ia gemar melawan aturan dan terang-terangan menolak dijadikan selir. Sikapnya yang tidak seperti wanita (di Mataram) kebanyakan malah membuat Wiraguna tambah tertarik. Fine, kalau nggak mau "disinggahi", Mendut harus bayar pajak harian. Mendut rupanya tak kehabisan akal. Selepas pertama kali tampil menari di pendopo kediaman Wiraguna, Mendut memang sudah mengundang minat orang banyak akan kecantikannya. Mendut memanfaatkan itu untuk mendapatkan uang: ia menjual rokok bekas hisapannya di pasar. Wiraguna berusaha meluluhkan usaha Mendut dengan menaikkan pajak, namun Mendut selalu berhasil memenuhinya. Hingga suatu ketika Mendut bertemu dengan pemuda asal Pekalongan, Pronocitro (Mathias Muchus) dan mereka saling jatuh cinta, keduanya lalu merencanakan untuk melarikan diri dari daerah kekuasaan Wiraguna meski sangat besar risikonya.

Roro Mendut ini terlihat sesuai "umur"-nya, dari penuturan, tata adegan, pengambilan gambar, ritme, editing, hingga akting. Film ini berjalan sebagaimana kita biasa menikmati sebuah visualisasi cerita rakyat cara oldies banget: ada narator untuk menjelaskan latar belakang dan konklusi akhir, aktingnya yang tampak teatrikal, adegan perang dan pertarungan yang terlalu hati-hati, adegan intim yang malu-malu buat syarat aja (haha), jokes-nya, juga di pengisian suara yamg suka nambah-nambah dialog yang nggak ada pas syuting, dan gw yakin yang ngisi suara Meriam Bellina bukan beliau sendiri. Kalau ini terjadi pada film produksi baru, mungkin gw akan murka. Tetapi keklasikan gaya itu begitu termaafkan untuk kasus Roro Mendut ini sehingga tak menghalangi gw menikmatinya. Roro Mendut jelas merupakan film yang digarap dengan sangat baik secara produksi. Desain produksinya yang terlihat otentik dan lengkap—entah lokasi yang udah jadi atau emang set untuk film doang, tapi bangunannya dari batu bata dan kayu betulan dengan warna yang benar, bukan pake gabus/triplek dengan pewarna murahan. Segi aktingnya meski terlalu teatrikal tetapi tampil dengan penjiwaan luar biasa, dari W.D. Mochtar dan Meriam Bellina sebagai tokoh sentral, lalu ada Sunarti Rendra a.k.a. Sunarti Soewandi sebagai Nyi Ajeng, istri utama Wiraguna yang berperangai tenang dan tegas namun misterius, Mathias Muchus mungkin masih oke-oke saja, but even the extras acted wonderfully

Naskahnya tampil dengan penceritaan yang kuat dan utuh berikut pula karakterisasi yang teliti, dialognya pun disusun menarik kadang menggelitik, seperti yang paling gw inget adalah ketika Mendut rencananya disuruh datang ke kamar Wiraguna tapi nggak dateng-dateng juga, Nyi Ajeng berujar kira-kira "'Hidangan' masih panas. Kalau terlalu panas rasanya tidak nikmat" *juara!*. Gw juga suka sekali dengan ketelitian yang terkesan remeh tetapi menarik, seperti perbedaan budaya "gunung" dan "pantai" yang tercermin dari sikap dan perilaku perempuannya, selir-selir Wiraguna yang dari berbagai adat, peran ajudan, dayang dan kasim yang menyertai Wiraguna dan Nyi Ajeng, lalu perkembangan ceritanya yang memang tidak sekedar cinta segitiga nan melankolis tetapi menyangkut juga dengan kehormatan tahta Wiraguna dan kesultanan Mataram vs rakyat "jajahan"-nya, karena eksekusi melarikan Mendut oleh Pronocitro memang mengandung unsur pengkhianatan dan blasphemy, terlepas dari keberpihakan penonton terhadap Mendut. 

Sebenarnya banyak sekali yang dapat diekstrak dari kisahnya sendiri. Salah satunya adalah perlawanan atas adat yang merepresi hak perempuan, yaitu sikap Mendut yang menolak keras dirinya dijadikan selir Wiraguna yang selain tuwek, juga mewakili pihak yang menindas tempat asalnya. Di sisi lain kisahnya memperlihatkan bahwa ada titik di mana perempuan berkuasa atas laki-laki yang dimanfaatkan dengan baik oleh Mendut, yaitu nafsu birahi. Kita sekarang bisa punya lebih banyak kesempatan memperoleh "a piece of our idols" seperti foto, poster, kliping artikel *jadul*, rekaman video, tanda tangan atau merchandise, bahkan akun twitter, facebook serta BlackBerry messenger (you stalkers! =P) demi memuaskan rasa kekaguman dan memenuhi hasrat kita untuk lebih intim dengan sang idola. Jelas, zaman dahulu nggak ada TV atau radio, film atau gambar potret. Kesempatan khalayak untuk memiliki "idola" adalah pada malam hiburan di kediaman resmi Tumenggung yang mungkin hanya beberapa kali, pada momen ini pula Mendut dikenal dan dikagumi. Lalu Mendut menawarkan "a piece of her", nggak tanggung-tanggung yaitu saliva dari mulutnya sendiri, untuk dinikmati pengagumnya yang bahkan rela merogoh kocek sangat dalam. Sounds silly tetapi kalo kemarin lihat fans Justin Bieber nangis-nangis hampir rusuh di Bandara? Yeah, silly but true. Mendut memang "menjual diri" namun bukan kehormatannya. Detil lain yang gw lihat antara lain kontras tarian keraton yang syahdu dengan goyang "pesisir" oleh Mendut yang lebih rancak, atau yang cukup menggelitik karena mencerminkan masyarakat (Indonesia) sekarang adalah "aji mumpung" dari orang-orang di pasar atas kesuksesan kios rokok Mendut, dari tukang gadai hingga cewek-cewek yang coba ikut-ikutan jualan rokok bekas hisapannya. Selalu akan ada KW untuk segala sesuatu ya =D.

So guys, kalau ada kesempatan, tontonlah Roro Mendut ini. This is a fine Indonesian film. Sebuah film yang digarap serius, production value kelas tinggi, cerita yang mudah dipahami yang diselipkan sedikit nilai filosofi, sosial dan budaya, dengan hasil yang memuaskan serta menghibur terlepas dari beberapa cacat klasik di sana-sini, yang sesungguhnya mudah terabaikan karena intensitas narasinya. Atau mungkin tunggu remake-nya buatan gw kelak *Amin aja deh* =).




My score: 8/10


Gambar poster diambil dari Indonesian Film Center

Sabtu, 24 Maret 2012

[Movie] The Raid (2012)


The Raid
(2012 - PT. Merantau Films/XYZ Films/Celluloid Nightmares)

Written and Directed by Gareth Huw Evans
Produced by Ario Sagantoro
Cast: Iko Uwais, Ray Sahetapy, Donny Alamsyah, Joe Taslim, Pierre Gruno, Yayan Ruhian, Iang Darmawan, Tegar Satrya, Eka Rahmadia


Kabar mengenai The Raid—yang saat itu judulnya masih Serbuan Maut—mulai santer sejak caturwulan akhir tahun 2011, ketika film ini pertama kali diputar untuk umum di festival film internasional Toronto (itu di Kanada, kali aja ada yang nggak tau) bahkan mendapatkan penghargaan People's Choice Award (artinya paling difavoritkan pengunjung festival, kali aja ada yang baru tau =P) dalam kategori laga/horor/fantasi yang disebut Midnight Madness. Di saat hampir bersamaan film ini dipungut Sony Pictures Classics untuk diedarkan di bioskop Amerika Utara (itu maksudnya Amerika Serikat dan Kanada, kali aja ada yang *plaakkk*). Bahkan pengulas-pengulas film internasional pun mengaminkan bahwa The Raid sebagai film yang istimewa, sampe-sampe pada mendaulatnya sebagai "best action film in recent years" dan semacamnya. Bangga? Jelas, karena lewat film ini setidaknya nama Indonesia akan sering disebut dan terbaca oleh warga dunia untuk hal yang keren: film laga. 

Akan tetapi, reaksi masyarakat Indonesia terhadap berita ini haruslah bijaksana, dalam artian jangan mengharapkan yang "iya-iya" dulu terhadap prestasi film ini. Kita tidak sedang membicarakan film yang—sebagaimana standar "bagus"-nya pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP—punya daya bercerita yang kuat, mengandung unsur keindonesiaan serta pesan moral yang dapat diambil oleh penontonnya *hmpft*. Kita sedang membahas film yang udah dari sononya diniatkan dan dimaksudkan sebagai film hiburan. Kalau boleh soteyu nih, The Raid adalah murni film aksi brutal yang menggabungkan adegan pencak silat dan tembak-tembakan. Tapi, supaya bisa dijadikan sebuah film, deretan adegan aksi itu juga perlu cerita lah. Nggak perlu cerita berat dan rumit, ringan saja juga gak masalah asalkan masih logis dan nyambung dari awal sampe akhir, just as an "excuse", supaya adegan-adegan laga itu tetap beralasan, nggak tiba-tiba muncul aja. Yup, The Raid memang film semacam itu. Misi utamanya adalah menghadirkan adegan demi adegan kelahi yang dapat menggedor excitement dan mendobrak mulut penonton dengan seruan semacam "aw!" "wuss!" "issh" atau "anjrot!". Perihal ini, The Raid berhasil dengan gilang gemilang.

Oke, karena sebuah ulasan harus menyertakan film ini tentang apa, maka akan gw sampaikan. Sebuah pasukan khusus kepolisian—semacam Densus—mengadakan operasi penggerebekan rahasia ke sarang gembong narkoba di sebuah rumah susun kumuh, dengan target utamanya Tama (Ray Sahetapy), yang saking berkuasanya di gedung itu punya banyak anak buah sangar bersenjata yang siap merintangi para polisi, lantai demi lantai. Dan...yah, intinya sih begitu. Nggak deing ;), ada lah perkembangan cerita di sana-sini, tapi ya udahlah, 'kan yang dicari adegan-adegan baku hantam berdarahnya. Gw nggak perlu kasih tau secara detil, tonton aja langsung, karena cerita sederhananya itu sudah sangat mudah dipahami tanpa harus dijelaskan lagi lewat ulasan atau kritik film.

What I'm saying is, salah banget kalau pergi nonton The Raid dengan niat nyari cerita. Ceritanya mah biasa aja. Gareth Evans, sutradara asal Wales (itu di Inggris Raya, dempetan sama England dan Scotland, kali aja ada yang nggak tau =DD) yang begitu cintanya pada Indonesia dan pencak silat sehingga membuat film aksi Merantau lalu The Raid ini—dengan lebih banyak memanfaatkan kearifan lokal (yang bule cuma dia, sinematografer sama produser eksekutifnya), merangkaikan adegan-adegannya dengan jalinan plot ala video game: terobos segala rintangan dan musuh yang menghadang sampai target utama dapat diringkus. Ada pihak baik (anggota kepolisian) dan pihak jahat (preman gembong narkoba dan penghuni rumah susun)—walaupun pada perkembangannya nggak sesederhana itu. Kalo ada musuh, tangkap. Kalau musuh menyerang, tembak. Kalau peluru habis, pake pisau. Pisau ilang, habisi pake silat tangan kosong dong =D. Untungnya ritme yang digunakan begitu pas, dinamis dan exciting. Asyiknya lagi, di antara aksi-aksi seru-cadas-keren-banget nya itu, selalu ada kesempatan untuk bernapas dan menyerap kembali sisi manusia yang membuat film ini tidak jatuh jadi film action bego nan kosong. Sisi manusia itu adalah hero kita, Rama (Iko Uwais). Ia punya motivasi jelas dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota polisi khusus dalam menggerebek gangster narkoba berbahaya, namun ia juga bukan orang yang haus darah. Ia punya istri dan bayi on the way menanti di rumah, dan juga seorang kakak berstatus DPO polisi yang harus ditemukan dan dibawa pulang. Maka dalam setiap pertarungan seseru dan sebrutal apapun, kita pasti mendukung doski.

Sekali lagi, pada dasarnya yang ditampilkan The Raid adalah adegan-adegan violent yang cadas namun tetap keren dan watchable, ditangkap dengan begitu stylish sehingga menimbulkan keseruan dan kekaguman ketimbang kejijikan (toh darahnya juga kebanyakan CGI, tapi jauuuh lebih baik daripada efek di Blood: The Last Vampire atau Ninja Assassin sekalipun). Woh, aksi tembak-tembakan yang udah kayak film perang dunia II, adegan baku hantam baik keroyokan maupun one on one digarap dengan sangat sangat SANGAT maksimal, nggak tanggung-tanggung, and no cheap effects. Porsinya tidak singkat namun tidak lama juga, dan herannya, kok bisa aksi-aksi seru banget di paruh awal udah banyak tetapi di paruh akhirnya malah tambah seru. Penataan adegan sekaligus eksekusi pengambilan gambarnya juga sangat intens dan rapi. Keseriusan penggarapan film ini adalah sebuah nilai utama. Gareth Evans dkk tidak berusaha membuat film "berbobot", namun pantang pula dibuat asal-asalan. Maka jadilah The Raid, mulai dari tata artistik, pencahayaan, sinematografi, editing, tata suara, musik dan tentu saja tata laga yang semuanya tampak serasi, selaras dan serius. Film ini juga, walaupun sebenarnya nggak perlu dihiraukan sebegitunya, nyatanya juga memiliki beberapa performa akting yang baik yang memberi nilai tambah, seperti Ray Sahetapy, Yayan Ruhian dan Alfridus Godfred, semuanya adalah tokoh villain. Ray Sahetapy memang udah nggak diragukan lagi, sedangkan akting dari dua nama terakhir melengkapi "kebengisan" mereka dalam bertarung: Yayan sebagai Mad Dog yang gemar adu jotos ketimbang adu tembak, Godfred sebagai preman berparang yang tampil intimidatif dan genuine dengan logat Maluku-nya (tanpa mengurangi rasa hormat lho ya, ampun bang).

Menonton film semacam The Raid sebaiknya nggak usah repot bawa-bawa intelejensia segala, nanti malah nyiksa diri sendiri. The Raid memang stylized action yang banyak ngarangnya. Ngarang mulai dari setingan rumah susun yang meski kumuh tapi agak terlalu bagus dan besar untuk benar-benar ada di Indonesia (malah mirip film Hong Kong), disiplin dan tutur kata para polisi yang sama sekali tidak seperti anggota militer/kepolisian kita, hampir semua laki-laki penghuni rumah susun termasuk para pengemas narkoba rupanya merangkap sebagai pesilat yang lebih milih ngajak duel daripada lari kalau digerebek polisi, atau kelihatan banget diatur cuma tokoh utamanya yang masih hidup sampe akhir. YAK-I-YA-LAHH, namanya juga film dengan imajinasi. Setingnya pun lebih ke alternate universe of Indonesia karena unsur yang benar-benar merujuk ke Indonesia cuma bahasa Indonesia, preman Ambon, AlfaMart, RCTI dan Koran Sindo. Lepaskanlah semua rujukan dunia nyata Anda, dan masukilah dunia The Raid sebagaimana yang dimau oleh pembuat filmnya, niscaya Anda akan lebih mudah menikmatinya, toh sebenarnya set up dunia The Raid cukup solid dan konsisten. Gw aja masih bisa cuek dengan dialog yang banyak ungkapannya masih terdengar "terjemahan mentah bahasa Inggris ke Indonesia" tanpa melalui proses sintaksis dan pragmatika *tapi tetep disinggung, hehe*. Ini film yang seru banget kok. Well, kecuali Anda memang nggak kuat menyaksikan adegan-adegan perkelahian, orang dibanting, ditusuk, dibacok, dipatahkan tulang, ditembak dan pelbagai pilihan terluka lainnya, atau nggak sanggup nangkep ucapan sebagian besar aktor (termasuk Iko, Joe Taslim dan Pierre Gruno) yang memang artikulasinya sering nggak jelas, ya udah nggak bisa diapa-apain lagi kalo itu, hehehe.




My score: 7,5/10


NB: Jangan meragukan kemampuan perkelahian para aktor di film ini. Iko Uwais dan Yayan Ruhian adalah pesilat yang juga jadi penata laga film ini. Alfridus Godfred adalah altlet bela diri tarung derajat. Joe Taslim juga ternyata atlet judo nasional. Ayo banting!

[Movie] The Hunger Games (2012)


The Hunger Games
(2012 - Lionsgate)

Directed by Gary Ross
Screenplay by Gary Ross, Suzanne Collins, Billy Ray
Based on the novel by Suzanne Collins
Produced by Nina Jacobson, Jon Kilik
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Lenny Kravitz, Stanley Tucci, Wes Bentley, Donald Sutherland, Amandla Stenberg, Liam Hemsworth


Sejak hadirnya film-film adaptasi novel fantasi semacam Harry Potter dan The Lord of The Rings di milenium ketiga ini, sudah banyak usaha memfilmkan novel-novel fantasi terkenal, atau nggak terkenal tapi nuansanya kira-kira mirip. Kita sudah lihat ada The Chronicles of Narnia yang hasilnya so-so saja ampe pindah studio di sekuel keduanya, kemudian muncul Bridge of Terabithia, Percy Jackson, The Seeker: The Dark is Rising dan Stardust yang gagal gal gal (at least secara keuntungan bisnis), eh kemudian ada Twilight yang gemerlapan membuat histeris penggemarnya (mostly perempuan) di berbagai belahan dunia, sukses luar biasa padahal datang dari studio kecil independen yang belum punya nama banget (Summit). Meanwhile, enam bulan belakangan ini gw mendengar ada satu lagi novel kontemporer yang punya banyak fans berjudul "The Hunger Games" karya Suzanne Collins. Nah, dengan segala hormat, karena di sekeliling gw kebanyakan fans buku ini adalah cewek, jadi syak wasangka bahwa ini "Twilight"-nya dekade 2010-an tak dapat tertahankan. Kemudian datanglah berita bahwa novel yang merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi ini akan difilmkan, "well, of course" pikir gw. Sekarang giliran studio Lionsgate, yang juga bukan studio besar, berani coba-coba mengulang kesuksesan pendahulunya lewat The Hunger Games, tetapi dengan deretan nama pendukung cukup menjanjikan, terutama sekali karena digarap oleh sineas nomine Oscar, Gary Ross (Seabiscuit, Pleasantville). So let's see.

Semesta The Hunger Games kalo gak salah adalah di masa depan di Amerika Utara ketika peradaban udah gak jelas, kini segala sesuatu berada dalam pemerintahan yang disebut Panem yang berpusat di kota Capitol, serta membagi wilayah kekuasaannya menjadi 12 distrik dengan sebutan angka. Kekuasaan Panem bukannya tanpa perlawanan, sejarah menyatakan banyak pemberontakan, namun pada akhirnya Panem tetap digdaya. Sebagai bentuk usaha preventif demi "stabilitas" negara, Panem setiap tahun mengadakan "The Hunger Games", sebuah kompetisi/reality show akbar yang mempertarungkan remaja-remaja usia antara 12-18 tahun dari setiap distrik masing-masing satu cowok dan satu cewek. 24 remaja ini ditempatkan dalam satu arena survival, harus saling bunuh, dan pemenangnya, of course, adalah yang satu-satunya masih hidup. Sadis ye. Protagonis kita pada film ini adalah Katniss (Jennifer Lawrence), gadis tangguh  asal Distrik 12, yang disebut sebagai daerah paling miskin. Ia ikut penyelengaraan The Hunger Games ke-74 secara mengajukan-diri, sebagai ganti adiknya yang masih 12 tahun yang namanya beruntung ketarik di undian Reaping, sebagai cewek wakil Distrik 12, bersama Peeta (Josh Hutcherson) sebagai wakil cowoknya. Plot point-nya tentu saja apakah Katniss akan memenangkan kompetisi ini sebagaimana janjinya pada sang adik dan juga cowoknya, Gale (Liam Hemsworth), yang berarti pula harus mengharapkan kematian Peeta, rekan sekampung yang juga punya perasaan ehehehem sama Katniss.

Dari sini mungkin dirasa ceritanya kayak film sakit asal Jepang, Battle Royale, tetapi menariknya The Hunger Games membuat proses menuju dan selama Hunger Games itu menjadi semacam perumpamaan yang lebih kompleks dan luas. Buat apa sih dibikin The Hunger Games? Kalo kata presiden Snow (Donald Sutherland) kepada si PIC acara, Senecca (Wes Bentley), ini supaya rakyat mendapat tontonan yang melibatkan mereka secara emosional, meskipun acaranya kejam dan seperti menyerahkan "tumbal" rutin setiap tahun—yang menimbulkan rasa takut, pasti ada pula harapan dari rakyat bahwa wakil dari distrik mereka akan menang, yang memunculkan rasa bahwa mereka "diperhatikan", walaupun itu sekadar simbol belaka. Kita melihat bahwa di Distrik 12, khususnya Katniss dan Peeta serta sebagaimana diwanti-wanti oleh pembimbing mereka Haymitch (Woody Harrelson), mengikuti The Hunger Games ini jelas adalah aksi keterpaksaan (daripada disikat pasukan pemerintah), sekaligus tiket ekspres untuk mati. But then again, tidak semua peserta dari distrik lain merasa begitu, sebagian malah merasa ini sebuah kebanggaan yang dijalani dengan percaya diri, wong masuk tipi dengan rating dan sharing tertinggi. Yah maklum masih labil =P. Di sisi lain, gw melihat adanya perumpamaan komersialisasi ajang ini, menjadikan penderitaan orang lain sebuah tontonan sekaligus cari keuntungan. Ada kebutuhan pihak sponsor, image consultant (khusus buat Katniss dan Peeta ada Cinna (Lenny Kravitz) dengan eyeshadow emasnya =P), parade di depan publik dengan kostum konyol, wawacara (dengan host ternama Caesar (Stanley Tucci)), juga rekayasa dalam acara yang harusnya berupa "realita". Padahal ya buntut-buntutnya mereka dipersiapkan untuk menderita, untuk saling bacok, untuk mati, yet people seemed eager to see that anyway

Meskipun nggak baca novelnya, kenyataan bahwa gw masih bisa ngangkep bagaimana itu dunia The Hunger Games beserta tetek bengeknya merupakan tanda keberhasilan film ini dalam bertutur kepada penonton awam seperti gw. Gw nggak perlu bertanya-tanya mengapa begini mengapa begitu, karena semua dipaparkan sedikit demi sedikit dengan rapi dan efektif, tidak terlalu sulit dicerna ataupun dinalar makna lugas dan kiasnya. Bagusnya lagi, karakterisasinya bisa berkembang lancar seiring berjalannya cerita. Gw bisa nangkep tokoh Katniss yang berwatak keras, jago bertahan hidup di hutan melebihi anggota pramuka, berani (atau dipaksa harus berani), no non-sense, namun tetap cerdas dengan caranya untuk bertahan tanpa kehilangan hati nurani, a heroine yang tidak letoy namun tidak super juga. Peeta, yang dengan cerdas dimunculkan nggak dari awal sebagaimana posisinya di mata Katniss, pun tumbuh menjadi tokoh yang pasti mengundang dukungan karena ketulusan dan kepintaran yang tidak disangka-sangka. Keberadaan tokoh-tokoh lain juga rasanya diberi porsi yang signifikan sesedikit apapun itu, sebagaimana peristiwa-peristiwa yang ditampilkan, pada dasarnya punya keterkaitan dengan benang merah cerita tanpa harus dipaksakan atau terabaikan. In short menurut gw penulisan dan pengisahan film ini solid nyaris tanpa komplain.

Sekarang secara presentasi audio visual, The Hunger Games rupanya memang tidak dibuat main-main. Memang film ini membutuhkan production value yang cukup wah mengingat seting ceritanya yang antah-berantah. Kebutuhan desain produksi yang sophisticated tepat guna (misalnya kontras antara Distrik 12 yang kumuh dan ndeso dengan Capitol yang penampilan penduduknya benar-benar fake seperti tokohnya Elizabeth Banks) serta penggunaan visual efek memang tak terhindarkan. Taaapiii, yang gw suka dari film ini, meskipun dengan visual yang mewah, film ini nggak terkesan pamer. Tidak ada sorotan panorama atau "lihat-lihat" yang berlangsung lebih dari 3 detik, visual efeknya bahkan seperti hanya pelengkap saja. Semua selalu cepat-cepat kembali ke cerita dan tokohnya. Dari cara pengambilan gambarnya saja terbilang lain daripada film-film sains-fiksi atau fantasi sejenis, warnanya begitu natural, penanganannya banyak yang hand-held, bergerak ke berbagai angle dan cukup shaky (nggak bikin pusing kok), membuat film ini terkesan modern, zaman sekarang banget, ibarat percampuran gaya filmnya Paul Greengrass dan Christopher Nolan. Sebenarnya mewah namun tetap bernuansa sederhana dan engaging khas produksi "independen". Didukung lagi dengan tata musik yang tidak konvensional, gak asal main orkestra, ada nuansa-nuansa folk (karena ada nama produser T-Bone Burnett (O Brother Where Art Thou?, Cold Mountain, Walk The Line) di sana) yang menguatkan nuansa "beda" selama menyaksikan film ini.

The Hunger Games memang cukup beda dari perkiraan atau prasangka yang ada. Ini film fiksi ilmiah campur petualangan yang menargetkan penonton remaja hingga dewasa muda, yang tidak asal taruh romansa kacangan ataupun kekerasan asal berdarah aja. Everything mixed together quite well, lumayan memuat bobot berarti, dan dipresentasikan dengan cermat. The Hunger Games memang memenuhi segala kriteria yang diperlukan sebagai film hiburan, mulai dari penyusunan naskah dan penyampaian cerita yang baik nan efektif, akting yang nggak malu-maluin (gw masih lebih suka Jennifer Lawrence di X-Men: First Class tapi yang di sini tetep oke kok), kelengkapan gambar dan suara yang apik, kedalaman emosi para tokohnya yang cukup, pacing-nya pas-pas aja, serta dihiasi adegan-adegan laga yang seru juga....well okay filmnya jelas bukan dibuat untuk memompa adrenalin sebegitunya, tetapi beberapa adegan memang seru (kesukaan gw adegan start di arena Hunger Games yang sound-nya diredam), kalaupun ada yang nggak terlalu seru (ehem di pertarungan akhir, hehehe) toh kemudian ditebus oleh langkah non-laga yang cakep. Satu hal lagi yang gw salut adalah kekerasan yang ditampilkan (ngebayanginnya aja udah agak gimana kan, anak belasan tahun bunuh-bunuhan), memang cukup berusaha diredam tetapi nggak lame, tetep berasa violent dengan kadar yang sesuai dengan penonton remaja.

Film ini memang punya ending cukup kompleks dan rada ngegantung, karena novelnya pun berupa trilogi, jadi nantikan saja sekuelnya. Namun yang pasti The Hunger Games ini sudah membungkam keraguan atas proyek yang terkesan pengen ngekor kesuksesan tetangga ini. Meskipun gw belum sampe jumping off my seat (ya ngapain juga gw lompat dari kursi?), tetapi nyatanya petualangan si keren Katniss ini harus diakui digarap nicely serta menjadi tontonan yang mengasyikan.




My score: 7,5/10

Jumat, 23 Maret 2012

[Movie] Margin Call (2011)


Margin Call
(2011 - Myriad/Benaroya/Lionsgate/Roadside Attractions)

Written and Directed by J.C. Chandor
Produced by Robert Odgen Barnum, Corey Moosa, Michael Benaroya, Neal Dodson, Zachary Quinto
Cast: Kevin Spacey, Paul Bettany, Jeremy Irons, Zachary Quinto, Penn Badgley, Simon Baker, Demi Moore, Stanley Tucci


Pada tau nggak seh apa yang menyebabkan krisis ekonomi Amerika yang heboh terjadi sejak tahun 2008 silam? Gw sih enggak, mau dijelasin gimana juga gw nggak paham, terutama karena gw juga nggak menguasai komponen perekonomian kapitalisme di Amerika atau di mana pun, baru nyampe belajar Koperasi aja gw =P. Jadi setelah mencerna penjelasan yang paling mudah dari Ligwina Hananto dan Suze Orman, mungkin masih ada salah persepsi jadi tolongin gw kalau ada yang salah atau kurang, kira-kira begini: 

1. Masyarakat beli rumah, tanah atau mobil dengan cara bayar pake kredit/minjem dari perusahaan finansial. They call it mortgage, we call it hipotek. Atau meminjam uang dengan harta-harta besar itu sebagai jaminannya. 
2. Perusahaan finansial udah ngeluarin duit untuk peminjam, jadi masyarakat/peminjam harus balikin duitnya dong. Caranya dicicil secara berkala plus bunga. Dari sini sih ngerti ya.
3. Utang cicilan itu dijadikan "surat utang" yang diperjualbelikan oleh perusahaan kredit itu untuk perusahaan-perusahaan finansial lainnya, jadi semacam jaminan untuk modal. Lho kan itu utang, belum ada duitnya? Nah, karena HARAPANnya adalah utang tersebut AKAN terlunasi plus bunganya, AKAN ada uangnya, jadi yang diperdagangkan dan dijaminkan adalah nilai uang yang AKAN didapat.
4. Masalah terjadi karena ternyata banyak sekali masyarakat/peminjam yang nggak bisa melunasi, atau nilai uang yang dikembalikan nggak sebesar yang diharapkan. Akibatnya nilai surat utangnya yang jadi jaminan jatuh atau malah gak ada nilainya. Perusahaan finansial yang meminjamkan uang harus menanggung utang tersebut kepada siapapun yang telah membeli surat utang, tetapi yang terjadi utangnya terlalu banyak sedangkan penerimaan pun nggak ada, jadi banyak perusahaan-perusahaan semacam ini, yang tadinya berlimpah uang, jatuh bangkrut (toh uangnya dari awal emang nggak ada bukan?).
5. Yaudah gw taunya sampe situ, hubungannya sampe bikin keuangan perusahaan-perusahaan besar jadi rontok dan banyak PHK gw belum bisa menalar.

Apa hubungannya dengan film Margin Call? Well, karena film ini menceritakan jam-jam pertama krisis itu. Di sebuah perusahaan fiktif yang bergerak dalam bidang, err...entahlah, anggep aja kredit finansial, mereka sudah mulai mengalami masalah entah di mana, jadi pada suatu hari memutuskan untuk mem-PHK sebagian pegawainya, termasuk di jajaran manajemen risiko (whatever that means) Eric Dale (Stanley Tucci) yang sudah sangat lama bekerja di sana. Dale kesal bukan soal pengabdian lama atau posisi, tetapi Eric mengsinyalir pengenaan PHK pada dirinya disebabkan adanya ketidaksukaan beberapa atasannya, terutama Sarah Robertson (Demi Moore), setelah Eric mengemukakan prakiraan nggak enak tentang keadaan perusahaan setahun sebelumnya. Di saat-saat terakhirnya di kantor, Eric menyerahkan sebuah flash-disk (yu-es-bi kalo orang sini bilangnya mah) kepada seorang analis muda, Peter Sullivan (Zachary Quinto) sambil bilang "hati-hati". Peter penasaran dan segera membuka isi flash-disk yang adalah hasil pekerjaan Eric yang belum selesai. Peter menyempurnakan hitung-hitungannya dan terungkaplah apa yang dimaksud Eric, yaitu:........*geleng-geleng* entahlah cuma mereka yang tau =P. Sutradaranya sih cuman bilang pokoknya itu sebuah proyeksi yang akurat tentang kejatuhan perusahaan mereka, perusahaan ini akan merugi bahkan melebihi jumlah nilai aset yang dimiliki, mungkin bangku dan bolpen dijual juga nggak akan ngaruh.

Dari titik itu, film ini bergerak pelan-pelan dengan memanggil karakter-karakter yang terkait satu per satu. Peter memanggil supervisornya, Will (Paul Bettany), Will manggil si bos perusahaan, Sam (Kevin Spacey), Sam memanggil dewan atasannya lagi, Jared (Simon Baker) beserta timnya Sarah Robertson yang kayaknya jadi semacam dewan penasihat gitu. Lalu karena begitu gentingnya "masalah itu", biar udah lewat tengah malam juga, didatangkanlah bos besar perusahaan induk mereka, John Tuld (Jeremy Irons). Nah kumpul dah tuh. Sekarang mereka berusaha mencari solusi bagaimana supaya tidak bangkrut, atau kalau memang harus bangkrut, gimana caranya supaya mereka bisa mundur pelan-pelan, ngambil untung semampunya, sebelum bubar. Langkah mana yang mereka ambil akhirnya juga gw nggak tau pasti. Pertentangan ada di antara Sam dan Jared plus John yang terkesan nggak berhati, Eric dan Sarah yang kesannya nggak mau menanggapi serius peringatannya dulu malah dianya dipecat, ditambahi kebimbangan pegawai yang istilahnya masih di bawah banget seperti Peter dan kawannya yang masih muda banget Seth (Penn Badgley), bebannya adalah mereka yang pertama kali tau sejak awal sebelum rekan-rekan mereka. 

Film ini sesungguhnya a well-made one. Presentasi akting dan gambarnya terjaga dengan rapih dan baik. Tapi, gw tuh kayak dicuekin sama filmnya. Dengan lajunya yang lambat berseting tengah malam/pagi buta di sebuah gedung pencakar langit kota New York, isinya cuman orang-orang saling ngobrol sembari menunggu. Ya, menunggu, menunggu apa langkah perusahaan, serta menunggu nasib mereka masing-masing. Atau juga menunggu sampe durasinya lebih dari 90 menit biar tidak jadi film pendek belaka. Sayangnya gw merasa mereka ngobrol dalam kalimat-kalimat encrypted. Bukan istilah susah, cuman mereka juga nggak memberikan rujukan dan gambaran jelas tentang apa yang mereka katakan, tentang masalah yang mereka hadapi itu, kesannya gak maju-maju, ya cuman buat nunggu matahari terbit aja. Terlalu banyak kata ganti, seakan menghindari hal yang teknis, terutama apa sebenarnya hitung-hitungan Eric dan Peter, tapi bahkan penjelasan mereka sebenarnya kerja di perusahaan macam apa juga nggak ada. Udah berkali-kali ada karakter minta "tolong pake bahasa sederhana", gw massih juga gagal nangkep "apaan?" (ini sih salah gw kali ya). Yang jelas, mereka akan bangkrut, gitu doang. Kirain di sini bisa mendapat insight tentang apa kira-kira asal-muasal runtuhnya perekonomian Amerika 2008 sehingga gw lebih paham, nyatanya nggak. Yang diperlihat adalah (ceritanya) orang-orang di balik sebuah perusahaan (ceritanya) yang pertama menyatakan bangkrut sebelum merambat ke perusahaan yang lainnya. Reaksi dari orang-orang ini pun ya gitu-gitu aja, nggak ada yang gimana gitu *O my God, gw jadi pake kata ganti kayak film ini*. Palingan yang jelas terlihat emotionally connected adalah semua adegan Eric, adegan Sam yang berhubungan dengan anjingnya, serta obrolan Peter, Will dan Seth yang mungkin paling gampang dipahami karena lebih nyambung ke "dunia luar". Sisanya, err...

Overall, I did not enjoy this film. Kemungkinan besar karena pengetahuan gw yang terbatas, pun film ini tidak memperkayanya. Mungkin lain hal jika ditonton oleh orang-orang berlatar ekonomi atau orang-orang Amerika sendiri. Yang bisa gw lihat adalah orang-orang saling berbicara seakan tau apa yang mereka bicarakan tanpa peduli GUWEH ngerti atau enggak. Nyebelin kan? Thanks a lot, man.



My score: 5,5/10

Senin, 19 Maret 2012

[Movie] Mata Tertutup (2012)


Mata Tertutup
(2012 - Maarif Production/SET Film)

Directed by Garin Nugroho
Written by Tri Sasongko
Produced by Asaf Antariksa, Endang Tirtana
Cast: Jajang C. Noer, M. Dinu Imansyah, Eka Nusa Pertiwi, Kukuh Riyadi


Mata Tertutup mungkin pada dasarnya sebuah film "titipan". Diprakarsai lembaga humaniora nasional berbasis Islam, Maarif Institute (didirikan oleh mantan ketua Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif), Mata Tertutup ingin dijadikan sarana pembelajaran dan...yah sekaligus propaganda tentang bahaya dari suatu gerakan radikal yang dikenal sebagai NII, Negara Islam Indonesia. Dengan tema dan "niatan" tersebut, sangat wajar bila film yang sudah kelar tahun 2011 ini awalnya berkeliling untuk diputar di kampus-kampus, komunitas-komunitas dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Namun kemudian, film ini akhirnya dirilis di bioskop komersial tahun ini, wow berani banget ya....berani bukan soal temanya yang provokatif, tapi berani ambil risiko nggak laku, hehehe. Film beginian gitu loh. Pemain yang terkenal di sini cuman Jajang C. Noer, sisanya konon adalah aktor "comotan" dari teater-teater di Jogja dan Solo, pun seterkenal-terkenalnya nama sutradara Garin Nugroho, maap-maap nih, beliau terkenalnya sebagai pembuat film "nyeni" yang jarang laku secara bisnis. Tetapi melihat sendiri Mata Tertutup—dengan mata terbuka tentu saja B-)—gw mendapatkan hal yang cukup ridiculous, dimana pesan titipan+pemain tak terkenal+citarasa seni Garin Nugroho malah menghasilkan sebuah karya yang mudah dicerna, berbobot dan menggugah, tanpa terlihat terpaksa.

Mata Tertutup menggelar 3 plot terpisah dalam satu seting ruang kota Jogjakarta, namun semuanya dituturkan secara selang-seling. Kalau gw boleh menalar, 3 plot ini mewakili 3 sisi berbeda terkait dengan NII. Dari sisi "perekrutan", ada Jabir (M. Dinu Imansyah), sehabis DO dari pondok pesantren karena ibunya sudah tidak bisa lagi membiayai, bersama sahabatnya yang gemar ngebodor, Husni (Kukuh Riyadi) mulai coba kerja serabutan di terminal, hingga mereka bertemu dengan seorang sales buku Islami, yang kemudian pelan-pelan mengajak mereka ke pengajian kelompoknya sampai menawarkan untuk berbuat "sesuatu" sebagai bakti kepada agama dan orang tua. Kemudian sisi "di dalam NII" melalui pengisahan tokoh Rima (Eka Nusa Pertiwi), seorang pemudi aktif berpikiran cukup kritis yang sebenarnya berasal dari keluarga yang fine-fine aja dan berkecukupan. Ia direkrut NII hingga dirinya menjadi kader yang berprestasi, karena dapat mengumpulkan banyak anggota baru beserta dana besar dalam waktu cepat. Kisah Rima inilah yang menjadi insight akan apa itu NII, dari cara perekrutan, cara indoktrinasi, prinsip-prinsip, ritual-ritual, hukum-hukum berlaku, dan penjabat-pejabat yang berwenang. Ketiga dari sisi dampak pada keluarga, ada seorang ibu perantau asal Minang, Asimah (Jajang C. Noer) yang mendapati putrinya yang seorang mahasiswi kedokteran bernama Aini mengambil sejumlah uang lalu kabur dari rumah tak kunjung pulang. Asimah begitu panik apalagi mengingat belum lama ini suaminya juga pergi meninggalkan anak-istrinya. Kabar kawan dan pihak kampus mengatakan Aini diduga tergabung dalam NII. Asimah nggak tau apa itu NII selain bahwa itu semacam kelompok sesat, yang pasti ia berusaha dengan segenap kekuatannya untuk dapat menemukan putrinya itu.

Tadinya gw udah siap-siap aja memilih satu plot favorit, tetapi gagal. Kenapa? Karena ketiga kisah yang disampaikan film ini sama-sama bikin terenyuh. Terenyuh sama Jabir, wakil dari kalangan miskin yang terbentur keadaan hidup yang tenang namun keras, yang seakan nrimo banget walau sebenarnya itu karena kebingungan. Terenyuh sama Asimah yang susah payah mencari putrinya dengan keterbatasan daya upaya. Terenyuh pula pada Rima yang mencari "tempat" bagi cita-citanya, memperbaiki keadaan dan kesetaraan kesempatan pada perempuan. Lho maksudnya? Ya, terenyuh karena gw paham juga kenapa ia bisa mengira NII dapat mewadahi aspirasinya. Terlepas dari kegiatan NII yang sesat dan sebagainya, motivasi orang-orang hingga akhirnya bisa masuk jadi anggota NII sesungguhnya didasarkan pada argumen-argumen kuat. Negara kita saat ini memang tampak payah, sangat kurang rasa aman nyaman damai apalagi sejahtera, nah datangnya NII, yang mengklaim sebagai solusi tentu tidak sukar dalam menarik perhatian dan simpati, apalagi pake bawa-bawa agama—di Indonesia 'kan masih banyak orang yang ciut nyali berpikir kritisnya kalo ada yang bawa-bawa agama, jadi kerap mudah terpedaya oleh pihak-pihak yang memanfaatkan itu untuk kepentingan tersendiri, including politics and businesses—terutama bagi orang-orang yang sedang gundah, entah itu karena keadaan ekonomi (Jabir) dan sosial (Rima) negara ini, atau bahkan "hanya" masalah keluarga (Aini).

Sebenarnya akan panjang kalau membicarakan apa yang tersajikan dalam film ini. 90-an menit durasi Mata Tertutup memang mengusik perhatian dan perenungan kita terhadap keadaan di sekitar. Apalagi isu-isu dalam Mata Tertutup terlalu nyata untuk dicuekin, kejadian-kejadian serta prosesnya yang ada di film ini bukan karang-karangan belaka. NII memang ada, yang bertujuan mengambil alih pemerintahan RI yang dianggap "salah", perekrutan anak-anak kampus itu pun betulan terjadi karena teman-teman gw semasa kuliah ada yang pernah bersentuhan langsung dengan gerakan campuran separatis, kudeta, dan kultus relijius ini. Film ini memberi wawasan yang agak lebih luas dari apa yang sudah gw pernah denger. Mungkin yang paling striking adalah kegiatan-kegiatan NII dalam kisah Rima. Teman-teman Muslim mungkin akan lebih berasa, karena secara gamblang ditunjukkan bahwa para pejabat dan pemimpin NII ini memanfaatkan penggalan ayat-ayat kitab suci sebagai dasar (dan pembenaran) tindakan-tindakannya, mulai dari cara mengadili sampai cara memotivasi anggotanya mengumpulkan dana sebanyak mungkin dengan cara apapun (termasuk mengambil harta milik keluarga, malah di-encourage lho) untuk NII. Namun terlepas dari itu, seperti gw singgung sebelumnya, film ini bukan sekadar bilang "NII itu sesat", tetapi juga memancing pemikiran alasan mendasar kenapa gerakan-gerakan seperti ini muncul dan orang-orang yang tumbuh dalam otoritas Republik Indonesia mau saja berpindah haluan ke gerakan-gerakan ini. Ini yang membuat Mata Tertutup jauh dari kesan "menggurui" (kecuali di end credit, hehe), lebih ke "mendoseni" mungkin =P.

Enough about that terlalu serius stuff =). Apa yang sekilas disangka tak beda dari iklan layanan masyarakat, kampanye anti-separatisme atau contoh kasus dalam pelajaran Kewarganegaraan ternyata disajikan dalam 3 kisah yang masing-masing terbilang rinci, emosional, serta mengikat perhatian. Penonton memang dijejali dengan informasi-informasi (yang gw sebut "titipan" tadi), namun ini tetap "film betulan", yang mempunyai dimensi artistik yang dapat menyentuh sisi kemanusiaan, nggak sekedar ngasih tau atau "ngajarin" doang. Visual dan tata adegan khas Garin yang artistik (dan seperti tidak terpikirkan oleh sineas lain) tetaplah mencuat, tak kalah menonjol dengan konten cerita filmnya, sinematografinya bagus. Performa pemain pun sangat meyakinkan sekaligus tidak dibuat-buat, kalo istilah gw real acting *halah sok banget*—konon saat syuting harus banyak improvisasi karena skenarionya cuman garis besar adegan doang. Mungkin ini keuntungan memakai aktor yang terlatih di teater, mereka selalu mengisi layar dengan sikap dan tindakan yang bebas tapi tidak di luar konteks, bukannya cuman bengong doang dengan ekspresi palsu kayak para pemain sinetron kita. Oh ya, ada juga "konten daerah" seperti (konon) kebiasaan Garin yang tercakup di sini, yaitu penggunaan bahasa Jawa (dalam berbagai variasi), juga bahasa Minang yang dibawakan dengan leluasa oleh Jajang C. Noer. 

Jadi kalo mau dibikin catatan, Mata Tertutup ini film yang hampir ideal: punya cerita yang mudah dicerna dan dipahami, eksekusi audio visual serta akting ciamik, tema penting dan aktual, penggambaran realita yang realistis, ada pengetahuan, ada pesan moral (heuheuheu), ada representasi ke-Indonesia-an yang bukan cuma ibukota, ada lucunya juga (tokoh Husni yang menyanyikan lagu pop Indonesia pake bahasa Jawa, sama gerak-gerik panik ala emak-emak tokoh Asimah =D) jadi yah relatif menghibur, nggak bikin ngantuk (ritmenya pelan tapi pasti), dsb dsb. A good movie, sekaligus sarana pengetahuan yang efektif nan dewasa, harusnya ditonton oleh kalangan luas. Sekarang masyarakat pada mau nggak datang untuk menonton film bertema serius kayak gini?



My score: 8/10

Senin, 12 Maret 2012

[Movie] Negeri 5 Menara (2012)


Negeri 5 Menara
(2012 - KG Production)

Directed by Affandi Abdul Rachman
Story by Salman Aristo
Screenplay by Salman Aristo, Rino Sarjono
Based on the novel by A. Fuadi
Produced by Salman Aristo, Auora Lovenson Chandra, Dinna Jasanti
Cast: Gazza Zubizzaretha, Billy Sandy, Ernest Samudera, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Adnanda Putra, Ikang Fawzi, Donny Alamsyah, Andhika Pratama, Sakurta Ginting, David Chalik, Lulu Tobing, Eriska Rein, Mario Irwinsyah, Rangga Djoned


Bila menyangka bahwa Negeri 5 Menara sebagai satu lagi film Indonesia yang menampilkan kisah penuh inspirasi serta pesan moral dengan pemeran di bawah umur sebagai protagonisnya layaknya yang telah dilakukan dalam Laskar Pelangi, well, memang bener, it is exactly that very same formula. Lucunya, kedua karya ini sama-sama diangkat dari novel yang agak semi...maksudnya semi-otobiorafi (ee, yg ketawa berarti perlu disapu tuh pikirannya) dari pengarangnya sendiri, pun sama-sama mengandung pesan motivasi meraih mimpi setinggi apapun itu. Berdasarkan info-info yang beredar (remember, gw nggak hobi baca buku), novel Negeri 5 Menara ditulis berdasarkan pengalaman pengarang A. (Ahmad) Fuadi, yang juga pernah menjadi wartawan di Voice of America, selama tinggal dan menuntut ilmu di sebuah pesantren ternama di Jawa Timur bernama Gontor pada akhir 1980-an, lalu dituangkannya dalam moda fiksi dengan nama-nama orang dan tempat yang di-altered.

Selepas lulus madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), dengan keterpaksaan Alif (Gazza Zubizzaretha) berangkat juga dari kampungnya di danau Maninjau, Sumatera Barat ke Ponorogo, Jawa Timur untuk mendaftarkan diri ke sebuah pesantren (untuk putra), atau istilahnya "pondok modern" bernama sebut saja Madani. Setelah diterima, dimulailah kehidupan Alif di rumah barunya, menjalani hari demi hari tinggal, belajar dan melakukan kegiatan lainnya, terutama bersama-sama teman sekamar asramanya: Baso (Billy Sandy) yang berasal dari Sulawesi Selatan (which of course explain the cameo of minyak tawon =D), Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Adnanda Putra) dari Madura. Dari kegiatan pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler—Alif ikut di majalah internal pesantren, hingga cinta monyet, semua dialami Alif di tahun pertamanya. Akan tetapi terlepas dari segala suka duka yang dialami dan keeratan hubungan dengan "keluarga" barunya, keengganan Alif dalam menjalani pendidikan di pondok Madani yang "hanya" karena keinginan orang tuanya (David Chalik dan Lulu Tobing) masih bersarang. Keinginan itu semakin kuat ketika Alif cs diundang Atang ke rumah orang tuanya di Bandung, di sana Alif bertemu lagi dengan sahabat SMPnya (Sakurta Ginting) yang sedang menjalani apa yang diimpikan mereka berdua: SMA di Bandung lalu kuliah di ITB, seperti Habibie. Kebimbangan Alif inilah yang menjadi titik penentu arah plot film Negeri 5 Menara ini.

Meski gw sebut "plot", gw sebenarnya nggak melihat benar-benar muncul jalan cerita yang menyatukan peristiwa demi peristiwa. Film ini lebih ke penceritaan potongan-potongan kehidupan yang dijalani Alif di pesantren bersama 5 sahabatnya yang menamakan diri "geng" Sahibul Menara, yang punya perjanjian kelak akan pergi ke tempat impian masing-masing di seluruh dunia dan akan berkumpul lagi dengan membawa foto menara-menara ternama di negara-negara itu. Pun dengan cara penulisan dan penggarapan film ini, kita akan lebih banyak diperkenalkan pada karakter-karakter remaja penghuni pesantren serta perkenalan tentang kehidupan pesantren, ketimbang membuat penasaran dengan peristiwa atau konflik besar apa yang akan terjadi nanti, karena memang tidak ada yang benar-benar dinanti selain apakah Alif akan tetap di Madani atau akan pindah ke Bandung, serta berhasilkah keenam sahabat ini mewujudkan mimpi ngumpulin foto mereka di menara-menara di berbagai negara—ini pun porsinya kecil dari keseluruhan film. Akan tetapi, bukan berarti tidak menarik, justru kekuatan Negeri 5 Menara garapan Affandi Abdul Rachman ini terletak pada betapa asyik dan enjoyable-nya mengintip kehidupan Alif, meskipun tanpa konflik yang benar-benar utama. Pun film ini bertabur kelucuan-kelucuan yang menghibur, kepolosan-kepolosan yang bernada nostalgia meski bukan dari memori gw sendiri, serta manisnya persahabatan 6 sekawan Sahibul Menara ini. Naik-turun mood film ini ditata dengan baik sehingga walaupun tanpa konflik besar, film ini nggak datar-datar amat, malah terkesan bersahaja dan menyenangkan.

Karena tanpa plot besar pula, Negeri 5 Menara harus memperhatikan betul cara presentasi tokoh-tokohnya, karena di itulah kunci yang akan membuat penonton betah menyaksikan layar. Penokohannya terbilang baik, cukup distinctive dan konsisten satu dengan yang lain, termasuk dari bawaan suku dan bahasa sampai pada sifat masing-masing, ditampilkan dalam porsi yang mencukupi. Sutradara Affandi Abdul Rachman pun menjalankan tugas lumayan beratnya dengan cukup baik, yaitu mengarahkan 6 sekawan kita yang dimainkan oleh aktor-aktor remaja yang baru pertama kali main film, terutama sekali Gazza Zubizzaretha yang posisinya utama. Masih agak kaku sih, tapi yang penting presence mereka perlahan sanggup merenggut perhatian dan kepedulian penonton. Para pemeran dewasanya membawakan perannya dengan bijak dan pas, termasuk Donny Alamsyah dan Andhika Pratama yang cukup berkesan, serta Ikang Fawzi sebagai kyai kepala pondok yang bermain bagus sehingga gw serta-merta lupa akan asosiasi namanya dengan On Clinic. Oh, keseriusan tampilan visual ini juga perlu diacungi jempol dan senyum tulus lho. Oke, pesantrennya emang langsung di lokasi pesantren Gontor, Ponorogo yang namanya "cuman" tinggal diganti jadi Madani, namun tugas penata artistik yang cukup sulit adalah menampilkan seting 1989-1990-an setepat mungkin, dan itu sukses banget. Mulai dari penggunaan film buat kamera foto, lem Glukol, benda-benda pos, kaleng Susu Bendera logo jadul buat nyimpen rendang (oh sponsor ternyata =D), sampai hanya menampilkan mobil-mobil tua dalam gambar-gambar long-shot, quite meticulous indeed. Ditangkap juga oleh sinematografi yang jernih, editing enak, dan diiringi musik asik, begitu mudahnya memuji Negeri 5 Menara sebagai film yang dibuat dengan niat dan semangat yang positif.

Salah satu aspek yang gw suka dalam sebuah film adalah jika film bersangkutan memberi pengetahuan yang sebelumnya nggak gw punya, dan Negeri 5 Menara ini memberikannya, terutama soal pesantren, seperti kegiatan atau tidurnya para santri bagaimana. Boarding school ini, di luar citra dan prasangka khalayak bahwasanya hanya mengajarkan ajaran Islam, atau bahkan—seperti dalam percakapan orang tua Alif di awal film—semacam "pembuangan" anak-anak badung, kehidupan yang dijalani Alif dkk itu berbeda sama sekali dari bayangan itu. Well, pelajaran agama Islam, bahasa Arab, pencak silat, disiplin ibadah yang ketat pasti ada, tetapi mereka juga diajari ilmu eksakta, bahasa Inggris yang sesekali dipakai dalam percakapan dan media tulisan bahkan ada lomba speech-nya, juga ada  kegiatan ektrakurikuler yang mungkin banyak dari kita berpikir "emang boleh ya itu di pesantren?" seperti nge-band dan majalah internal yang terorganisir baik, para ustadz pun lebih sering terlihat memakai kemeja dan dasi. Jika benar otentik seperti di gambaran film ini, pendidikan yang dijalani pondok "Madani" ini mungkin malah lebih maju daripada sekolah negeri sekalipun pada zamannya. Mungkin ini agak promosi pondok pesantren Gontor sih, hehe, toh kayaknya juga nggak semua pesantren seperti di film ini, tetapi setidaknya ini memberikan gambaran bahwa pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan sebagaimana lembaga pendidikan formal lainnya di mana pun itu, hanya saja dengan cara berasrama dan berbasis Islam. Pada akhirnya juga ini menunjukkan bahwa lulusan pesantren nggak berarti bakal stuck di situ-situ aja, mimpi mereka apapun itu pasti akan terwujud kalau bersungguh-sungguh, sebagaimana semboyan yang didengungkan oleh Ustadz Salman (Donny Alamsyah), "man jadda wa jada".

Negeri 5 Menara tidak hadir sebagai sekedar Laskar Pelangi versi pesantren semata, tetapi menjadi satu lagi film yang digarap dengan baik, menghangatkan, a feel-good movie. Masih ada kesan kuat "film pendidikan", tapi menyenangkan. Pesan moralnya kadang terlalu frontal, tapi nggak menjengkelkan. Berlatar Islami tetapi bukan berarti film ini nggak bisa dinikmati oleh kalangan penonton seluas mungkin, toh ini lebih ke soal kehidupan dan persahabatan daripada soal agama, juga bukan hanya ber-gimmick religius layaknya sinetron bulan puasa yang nggak beda sama sinetron biasa cuman ditambahin kostum Islami, adegan doa, dan selipan bahasa Arab di dialognya. Nggak nyangka juga sih bahwa formula yang sudah pernah dipakai film lain bisa dibuat lagi dengan kualitas dan kenikmatan yang tidak kalah oke. Dengan setitik dua titik kelemahan (kadang dialognya agak berat mengawang-awang, dan adegan penutupnya juga kayak iklan provider telepon selular edisi Lebaran), namun dengan kelengkapan produksi yang sangat serius, Negeri 5 Menara dengan mudah melenggang jadi salah satu Indonesia's better films. Kalo katanya film ini laris ditonton masyarakat, memanglah pantas demikian =).



My score: 7,5/10

Kamis, 08 Maret 2012

[Movie] Hugo (2011)


Hugo
(2011 - Paramount/GK Films)

Directed by Martin Scorsese
Screenplay by John Logan
Based on the book "The Invention of Hugo Cabret" by Brian Selznick
Produced by Graham King, Martin Scorsese, Johnny Depp, Tim Headington
Cast: Asa Butterfield, Ben Kingsley, Chloë Grace Moretz, Sacha Baron Cohen, Helen McRory, Christopher Lee, Frances de la Tour, Emily Mortimer, Richard Griffiths, Ray Winstone, Michael Stuhlbarg, Jude Law


Dari film-film terkemuka yang dirilis beberapa waktu belakangan ini banyak yang mengangkat nostalgia sebagai bagian dari ide utamanya. Sebut saja dalam deretan nominasi Best Picture di Oscar barusan ini, sedikitnya ada Midnight in Paris yang mengangkat nostalgia zaman keemasan sastra modern tahun 1920-an, jangan lupa ada The Tree of Life yang mayoritas isinya adalah memori masa kecil di era 1950-an, lalu The Artist yang me-"reka ulang" sensasi menonton film bisu yang berjaya di quartir awal abad ke-20, ada pula Hugo yang bahkan menjadikan salah satu pelopor dunia sinema sebagai tokoh penting di dalamnya. Walaupun diangkat dari buku cerita anak karya Brian Selznick, Hugo rupanya bukan saja hadir sebagai visualiasi kisah petualangan kanak-kanak semata. Di tangan sutradara kawakan Hollywood, Martin Scorsese, (Shutter Island, The Departed, The Aviator, Goodfellas, Raging Bull, yeah gak nyangka 'kan beliau akhirnya nyoba bikin "film anak"?) film ini rupanya menawarkan lebih banyak lagi. 

Paris, musim dingin sekitar 1930-an, tersebutlah seorang anak malang bernama Hugo Cabret (Asa Butterfield). Ibunya telah lama tiada, ayahnya (Jude Law) pun meninggal dalam kebakaran, sedangkan ia harusnya dirawat oleh pamannya, Claude (Ray Winstone) tapi si oom minggat aja gitu. Jadilah Hugo mengerjakan apa yang harusnya jadi tanggung jawab oom Claude, yakni nyetel semua jam di stasiun kereta api (karena dulu belum ada batere buat jam, adik-adik) sekaligus tinggal di balik tembok, namun jangan sampai ketahuan, terutama oleh si kepala stasiun (Sacha Baron Cohen) jika ia tidak mau dimasukkan ke panti asuhan. Hugo sebenarnya berusaha tetap bertahan sendirian di stasiun karena ingin selesai memperbaiki sebuah mesin peninggalan sang ayah, sebuah automaton (semacam robot berbentuk manusia) yang dapat menulis. Demi itu, Hugo sering mencuri perkakas dan sukucadang di toko reparasi mainan milik bapak tua Georges Méliès (Ben Kingsley)...eh sekalinya ketahuan, buku catatan peninggalan ayah soal automaton itu pun disita Georges, yang bereaksi emosional saat melihat isi catatan itu. Hugo yang ternyata punya keahlian memperbaiki barang mekanik akhirnya dipekerjakan Georges sebagai ganti barang-barang yang telah ia curi. Selama ini pula Hugo bergaul akrab dengan putri asuh Georges, Isabelle (Chloë Grace Moretz), dan rupanya Isabelle memiliki sebuah komponen khas yang dapat mengatifkan automaton Hugo. Dan wow, automaton itu berfungsi...etapi  pas dicoba si automaton bukannya menulis, ia malah menggambar, lalu diakhiri tanda nama Georges Méliès! Lho lho lho, ada apa ini ada apa dengan automaton dan Papa Georges?

Hal pertama yang mau gw bahas adalah baiknya penulisan naskah serta presentasinya. Dengan materi dasar yang menargetkan konsumen anak, serta dengan tokoh utama berwujud anak-anak, penulis John Logan berhasil membuat kisahnya mudah dicerna serta dialog yang tidak riweuh. Subplot-subplot serta karakter tambahan yang tidak terlalu nyambung dengan benang merah plot pun tetap bisa ditampilkan tanpa harus buang waktu atau mengalihkan perhatian, pokoknya pada akhirnya semua tersimpul di satu titik yang tampak wajar dan nggak maksa, ini nggak gampang lho. Kemudian ini diolah lewat penuturan Scorsese yang kali ini tampak lebih sabar, berusaha agar presentasi filmnya nggak terlalu berat, nggak buru-buru serta mudah dinikmati. Gw bilang sih jadinya film ini aman sama penonton segala usia, hubungan antar peristiwanya jelas, tokoh-tokohnya pun punya appeal yang khas dan mudah diingat khas film anak-anak, tetapi yah kurang tau pasti juga, kali aja ada yang menganggap paruh awal film ini bosenin, karena memang gw akui film ini agak hati-hati dalam babak perkenalan dan motivasi (tanpa narator) sebelum masuk dalam tujuan utama tokoh-tokoh kita...tapi daripada kecepetan ntar nggak ngerti lagi....

Jika dari segi kisah dirasa belum cukup, maka dipastikan tampilan visual film inilah yang bikin lebih betah. Look film ini luar biasa, mulai dari desain produksi, kostum, efek visual, sinematografi hingga pewarnaan gambar yang vintage kuning-biru (gw nggak merasa pernah lihat warna hijau di sini =D) sekali lagi membuktikan kualitas Martin Scorsese sebagai sineas yang tau betul cara membuat tontonan memikat nan matang secara visual, bahkan yang film keluarga macam ini. Detil dan presentasi gambarnya begitu cantik, lincah dan berkelas. Visually fantastic walau bukan film fantasi. Memang, Hugo tidak bisa dibandingkan dengan film-film fantasi anak macam Narnia atau Harry Potter—apalagi hanya karena ada kereta api dan 3 orang aktor yang juga main di seri Harry Potter, plis deh =P—karena film ini TIDAK ADA MAGIC-nya.  Jika mau membandingkan, Hugo ini lebih mirip film anak 1990-an macam A Little Princess, yang bertumpu pada cerita yang lebih plausible, layak dikonsumsi anak namun tidak kekanak-kanakan, tanpa sihir namun masih punya sense of wonder, tetapi Hugo jelas punya kelengkapan yang lebih paripurna. Penggerak film ini murni petualangan Hugo dan Isabelle dalam mencari jawaban atas misteri yang mereka temui di tengah situasi yang cukup sulit sekaligus exciting, tanpa sihir, tanpa ibu peri. 



Kalaupun ada yang namanya "magic" di film ini bukan semata-mata gaib, melainkan daya magis dari gambar bergerak, the magic of the movies. Hal yang awalnya kayak nggak relevan tetapi justru memberi penjelasan yang mendalam terhadap misteri dibalik automaton itu. Satu hal dari yang gw suka dari film ini, meskipun diproduksi dengan teknologi sinema termutakhir, Hugo memberi ruang khusus bagi pengetahuan sejarah tentang cikal bakal yang namanya film. Menarik melihat berbagai reaksi penonton saat menonton film yang saat itu belumlah lazim, lebih terpukau lagi gw ketika sampai pada segmen bagaimana film-film fantasi saat itu dibuat, dengan perlengkapan teatrikal dan teknik sangat sederhana, namun hasilnya ajaib ketika gambarnya dipertontonkan. Bagian ini bikin gw senyum-senyum girang dan tersentuh, unyuw banget ya dulu orang kalo bikin film. Semangat, ketulusan, dan kreativitas para sesepuh dulu yang luar biasa terpantul dengan baik lewat film ini, IMO the best part of the whole film, dan pasti akan menggugah keharuan para pecinta film di luar sana. Inilah sisi paling unik dari Hugo, sebuah film mutakhir dan canggih yang memberi penghormatan pada "leluhur"-nya, terhadap bagaimana film dibuat pada awalnya, yang tak dipungkiri menjadi biang inspirasi bagi dunia perfilman hingga saat ini. Eh, tapi apa hubungannya sama Hugo dkk? Aaaaada deh. Coba aja cari nama Georges Méliès di google dan youtube, you'll get the idea =).

Hugo adalah sajian sinema yang menawan, menghibur, rapih, cantik luar-dalam, ada sedikit pengetahuan sejarah, eh musiknya juga cakep, serta tema universal tentang pencarian jati diri lewat Hugo sendiri, yang mempertanyakan alasan dan tujuan hidupnya ketika segala kemalangan menimpanya, boro-boro mikirin masa depan. Sebuah tontonan yang komplit. Kalau dipikir, mungkin film ini tidak segitunya "untuk anak-anak", film ini punya kedalaman makna yang mungkin hanya bisa ditangkap orang dewasa—hmm perumpamaan "orang" dan "sukucadang" sih cukup jelas ya buat gw =)—tetapi memang penyajiannya terbilang aman untuk segala usia, setidaknya nggak ada orang berdarah di sini. Oh ya, my favorite part selain tentang "sejarah film" tadi, adalah penampilan Sacha Baron Cohen yang maksimal kocaknya. Di antara semua pemain (apalagi jika dibandingkan oleh Asa Butterfield sebagai Hugo yang masih perlu belajar lagi ya dik ya), doi yang paling mencuri perhatian, gelagatnya itu paling komikal dan "Sacha Baron Cohen" banget—dalam versi semua umur tentu saja, paling sukses lah. Adegan kepalanya pelan-pelan memenuhi layar adalah efek 3-D terbaik di film ini XD. But overall, a delightful and meaningful film.



My score: 8,5/10

Sabtu, 03 Maret 2012

[Movie] Tinker Tailor Soldier Spy (2011)


Tinker Tailor Soldier Spy
(2011 - StudioCanal/Working Title/Focus Features)

Directed by Tomas Alfredson
Screenplay by Bridget O'Connor, Peter Straughan
Based on the novel by John le Carré
Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Robyn Slovo
Cast: Gary Oldman, Benedict Cumberbacth, Colin Firth, Tom Hardy, Toby Jones, Ciarán Hinds, Mark Strong, John Hurt, David Dencik, Simon McBurney, Kathy Burke, Svetlana Khodchenkova, Konstantin Khabenskiy


Mari kita mulai review ini dengan berterus terang bahwa gw nggak gitu ngerti Tinker Tailor Soldier Spy ini, okay? Gw tidak akan berpura-pura paham tentang segala intrik yang terjadi sepanjang film bertema spionase Inggris semasa perang dingin ini. Film produksi UK dan Prancis ini disutradarai oleh sineas Swedia, Tomas Alfredson yang angkat nama di dunia internasional lewat drama remaja vampir Let The Right One In (yang kemudian di-remake jadi Let Me In di Hollywood). Melihat data-data bahwa film ini produksi Eropa sesungguhnya sudah jadi peringatan filmnya akan "berbeda" dari film-film spionase yang biasanya gw tonton. Berdasarkan pengalaman gw yang sedikit ini, film-film karya orang Eropa kebanyakan dipresentasikan cenderung alon-alon, jadi ya musti siap-siap. Di film ini adegan yang menampilkan opening credit aja ada kali 5 menit lebih, man! Tetapi bukan cuma kelambanan laju—yang berasa banget itu—yang jadi masalahnya. Karena ternyata meski bertempo irit bukan berarti segala intrik-intrik film ini jadi lebih jelas dan mudah dipahami. Sebaliknya, cukup banyak detil tersebar di sana-sini dari awal hingga akhir yang, karena gw bukanlah termasuk penonton berotak cepat tanggap, akan mudah keselip jika tidak diperhatikan benar-benar, bila tidak jadinya kayak gw yang masih agak "hah?" sama cara penyelesaian konfliknya, malah musti liat Wikipedia yang sinopsisnya super spoiler itu baru agak nyambung...dikit.

Berlatar tahun 1970-an, ketika terjadi Perang Dingin antara dunia Barat dengan ideologi demokrasi-liberalnya (Sekutu, termasuk Inggris dan Amerika) vs dunia Timur dengan ideologi sosialis-komunisnya (Rusia, Jerman Timur, negara-negara Eropa Tengah dan Timur), Tinker Tailor Soldier Spy berkisah tentang usaha pensiunan pimpinan MI6—lembaga intelijen rahasia Britania Raya, George Smiley (Gary Oldman) yang ditugaskan oleh Menteri Pertahanan untuk meneruskan kecurigaan pimpinan MI6 terdahulu, berkode nama "Control" (John Hurt) akan adanya pengkhianat bagi Rusia di jajaran pimpinan tertinggi MI6, kecurigaan yang dipicu oleh kegagalan misi Jim Prideaux (Mark Strong) yang harusnya memperoleh identitas jenderal komunis yang mau beralih ke Sekutu tapi dianya malah ditembak di Hungaria. Kecurigaan tidak dapat dilepaskan dari empat pimpinan MI6 yang masih ada saat ini: Percy Alleline (Toby Jones) sang pengganti Control, Roy Bland (Ciarán Hinds), Bill Haydon (Colin Firth), dan Toby Esterhase (David Dencik). Dengan akses yang terbatas, Smiley merekrut Peter Guillam (Benedict Cumberbatch) sebagai pegangannya di dalam kantor MI6, lalu mulai menyelidiki dari petunjuk yang ada satu per satu demi membongkar siapakah si pengkhianat itu.

Emm, ya, film ini memang sunyi, toh namanya juga penyelidikan orang yang kerja di DALAM KANTOR jadi ketiadaan adegan laga itu bisa dimaklumi, done. Nah, dalam mengikuti jalannya film ini, positifnya adalah, setiap petunjuk yang didapat dan setiap orang yang ditemui (termasuk kemunculan si agen lepas Ricky Tarr (Tom Hardy), dan beberapa staff MI6 yang dipecat oleh Alleline) pasti bermanfaat, nggak ada yang nggak penting, dan nyambung sampe bagian akhirnya, serta ada unsur yang melibatkan hubungan emosional antar pribadi yang disematkan tanpa dipaksakan. Negatifnya adalah, gw nggak paham bagaimana itu caranya bisa nyambung, hehehe. Rasanya semuanya disampaikan terlalu banyak, terlalu subtle, terlalu sambil lalu, dan butuh kerja ekstra untuk merangkai sendiri petunjuk-petunjuk dan orang-orang yang sudah ditampilkan, karena film ini tidak memberikan penjelasan lebih atau perulangan. Well, jika ini sebuah novel, gw mudah saja tinggal balik-balik ke halaman sebelumnya, tetapi ini sebuah film, yang langkahnya tetap harus jalan terus tanpa ngerem, kalau ketinggalan ya sudah ikhlasin terima jadi aja *curhat*. Hasilnya, gw jadi kurang bisa menikmati film ini...wong nggak ngerti =P.

Oke, yang itu biarkan saja. Mari membahas yang bisa gw ngerti aja, yaitu nuansa film ini. Dari gambarnya yang suram dan kurang warna mencerminkan nuansa "perang dingin" (tapi warnanya tetap natural, nggak biru), ketika segala hal tampak muram dan penuh kecurigaan, dan pas dengan seting waktunya yang Eropa 70-an, yang tentu saja merupakan bukti keseriusan dari tata artistik (eh ruang rapat pimpinan oranje-nya keren =)), sinematografi, kostum serta makeup & hair. Pokoknya look film ini begitu menjiwai ke-vintage-an zamannya tanpa terkesan fabricated. Selain itu, tampak sutradara dalam memunculkan nuansa emosional dari tiap karakternya, yang sebenarnya udah ketahuan dari pemilihan aktor-aktornya yang gak mungkin sekadar numpang nampang doang. Ada John Hurt, Colin Firth, Toby Jones, Ciarán Hinds, Mark Strong juga Tom Hardy dan Benedict Cumberbatch, semua mempersembahkan presence karakter dengan signifikan yang cukup membantu dalam mengingat ketika gw lupa nama-nama tokoh mereka =P. Gary Oldman tentu saja tampil gemilang, meski nggak banyak "tingkah" dan terkesan selalu meredam emosinya, tetapi di situlah letak kesuksesannya dalam menunjukkan berbagai dimensi tokohnya tanpa berlebihan, raut serta gesturnya membuatnya mudah menarik simpati dan memang meyakinkan sebagai orang yang dapat dipercaya, tetap terkesan heroik, meski dirinya sudah...err...an old man =P.

Kalau dipikir-pikir, mungkin memang tujuan sutradaranya untuk membuat Tinker Tailor Soldier Spy ini lebih bertitikberat di karakter, karena adegan-adegan yang gw bilang lamban itu lebih banyak menunjukkan gambaran karakter dan hubungan antarkarakter, dapet banget lah kalau itunya sih, terima kasih juga pada tata musiknya yang indah yang memberi polesan berarti buat adegan-adegan itu. Nggak salah juga sih. Cuman 'kan intrik film ini agak rumit dan berat ya, kalau nggak diberi penekanan ya jadi bingung, misteri dan dramanya berasa kurang seimbang. Di saat harus ada usaha ekstra untuk merangkai misterinya, saat bersamaan harus juga ada usaha ekstra untuk bersabar dalam menghadapi lajunya, agak too much usaha ya, berat juga ya beban jadi penonton, hehe. Entahlah, mungkin perlu ditonton ulang supaya lebih paham atau lebih enjoy, tapi gak tau juga deh niat nonton ulangnya bakal ada atau nggak...



My score: 6/10

Kamis, 01 Maret 2012

[Movie] The Ides of March (2011)


The Ides of March
(2011 - Exclusive Media Group/Cross Creek Pictures/Sony Pictures Entertainment)

Directed by George Clooney
Screenplay by George Clooney, Grant Heslov, Beau Willimon
Based on the stage play "Farragut North" by Beau Willimon
Produced by Grant Heslov, George Clooney, Brian Oliver
Cast: Ryan Gosling, George Clooney, Philip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, Evan Rachel Wood, Marisa Tomei, Jeffrey Wright, Max Minghella, Jennifer Ehle


George Clooney. Dulu si oom "cuma" dikenal sebagai pemeran paling ganteng di serial medis terkenal "ER". 18 tahun, sekian belas orang kekasih, 1 piala (aktor pendukung terbaik di Syriana) dan 6 nominasi Oscar kemudian (3 akting, 2 naskah, 1 sutradara), he's already a Hollywood elite. Bukan cuma tambah terkenal, tambah laris dan tambah ganteng, rambahan profesinya di luar akting pun nggak main-main, kualitasnya sangat, sangat patut diperhitungkan. Oom Clooney sejauh ini baru menyutradarai 4 judul film bioskop, dua di antaranya memperoleh nominasi Oscar, yaitu Good Night, and Good Luck (termasuk sutradara dan film terbaik loh), dan yang 2011 barusan ini The Ides of March yang "hanya" diberi jatah nominasi skenario adaptasi. Intinya adalah, di luar unsur favoritisme di Academy, terbukti he actually can make fine films. The Ides of March adalah sebuah drama politik yang cukup pelik tetapi digelar lewat intrik yang mendasar dan relevan. Berdasarkan drama panggung karya Beau Willimon, "Farragut North", oom Clooney sukses merekrut jajaran aktor kualitas wahid nan menjanjikan dalam karya terbarunya ini. Sepengelihatan gw, itu sama sekali tidak percuma.

Jika ada kesulitan dalam menikmati The Ides of March ini, maka itu cuma mengenai latar sistem pemilihan calon presiden Amerika Serikat yang terus terang aja nggak gw pahami betul. Jadi, kira-kira aja nih ya, dua partai politik besar di sana, Partai Demokrat (cenderung liberal, julukannya "partai biru" yang berlambang keledai) dan Partai Republik (cenderung konservatif/religius, julukannya "partai merah" yang berlambang gajah) masing-masing mengajukan satu orang calon presiden. Namun sebelum itu harus ada primary election, yaitu menentukan siapa capres yang akan diajukan oleh masing-masing partai. Proses ini di masing-masing partai udah mirip persaingan pemilu presiden betulan, karena tiap kandidat (kali ini dua orang) harus berusaha memenangkan sebanyak mungkin dukungan anggota/delegasi dari partainya sendiri di tiap negara bagian—jadi bukan model musyawarah nasional/sidang raya/muktamar/kaukus/apalah namanya itu. The Ides of March menyorot pada titik ini—kisah fiktif tentu saja, khususnya soal tim sukses gubernur Mike Morris (George Clooney) dalam menghadapi rivalnya senator Pullman (Michael Mantell) untuk meraih posisi capres Partai Demokrat.

Stephen Meyers (Ryan Gosling) adalah kepala staff kampanye Morris yang muda nan cerdas—tugasnya kira-kira menyiapkan materi kampanye, entah pidato, argumen debat atau persiapan wawancara, musti hati-hati juga lho karena kalo salah sedikit bisa diputarbalikkan oleh pihak lawan untuk menjatuhkan. Meski sebenarnya ketua tim sukses Morris adalah Paul Zara (Philip Seymour Hoffman), banyak bagian dari bahan pidato/debat kampanye Morris disusun oleh Stephen. Tak hanya itu, Stephen menjalankan tugasnya itu dengan keyakinan bahwa kepemimpinan Morris akan membawa perubahan lebih baik bagi bangsanya. Stephen bukan sekadar ingin memenangkan Morris karena dia bergabung di tim kampanyenya, namun ia memang percaya akan sosok Morris yang bersih dan rasional, tanpa cara kotor pun Morris bakal menang, tak hanya sebagai capres Partai Demokrat, tetapi juga sebagai presiden Amerika Serikat nantinya. Idealisme politik Stephen pun harus diuji ketika ketua tim sukses Pullman, Tom Duffy (Paul Giamatti) tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu secara rahasia, ternyata untuk menawarkan posisi di tim sukses Pullman. Meskipun Stephen menolak, still that was, of course, a mistake. Situasi tambah runyam, ketika Stephen tanpa sengaja menguak sebuah rahasia dari cewek magang yang dikencaninya, Molly (Evan Rachel Wood) yang dapat membahayakan langkah politik Morris.

Gw berani bilang bahwa The Ides of March, meski berlabel seram "drama politik", sesungguhnya tidak sulit dinikmati oleh lebih banyak orang, karena intisarinya kerap terjadi di mana saja. Kita bisa begitu terpaku kagum akan satu tokoh, seperti Mike Morris di sini, dan kita berlaku setia hingga berbuat apa saja sebagai bentuk dukungan karena kekaguman itu. Namun kadang kita lupa bahwa sosok yang kita kagumi dan percayai adalah manusia juga. Morris adalah sosok pemimpin yang ideal, pemikirannya maju, argumennya meyakinkan, sikapnya tegas tanpa terkesan ambisius, dan ia tidak suka menjegal lawan dengan cara tercela...tetapi pasti ada saja satu sisi dirinya yang tidak sesuai ekspektasi semua orang, dan dari sisi inilah kerap timbul kekecewaan yang menyakitkan, kesetiaan pengagumnya tentu akan terguncang, apalagi mengingat posisi Stephen yang menyaksikan sendiri flaw dari tokoh yang dikaguminya. Sebagaimana kata Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan milik kita. Dan gw agak-agak merasa ini seperti "Bill Clinton: the movie" =D. 

Film ini menyampaikan ide tersebut dalam sebuah konstruksi plot yang rapih dan kokoh, segala motivasi dan sebab-akibatnya logis dan cukup mudah diikuti, tidak ada yang sia-sia dan mengerucut pada satu titik konflik yang krusial, yaitu ketika kekecewaan Stephen mengoyak kepercayaan dan idealismenya terhadap masa depan yang lebih baik sebagaimana diyakininya saat terjun ke dunia politik. Jadi, terlepas dari nama-nama tenar yang jadi pemerannya serta nama sutradaranya, The Ides of March adalah sebuah film yang dirangkai dengan solid, dikemas dalam kelengkapan teknis yang baik dan ritme yang intensif, nggak terlalu cepat ataupun lambat—nuansanya mengingatkan gw sama Michael Clayton, dialognya ditata baik dan nggak terlalu mbingungin, sekaligus mengusung sebuah isu manusiawi yang cukup penting. Hal yang gw juga sukai dari film ini adalah karakterisasi yang dibangun dengan baik dan efektif, meski levelnya "pemilihan calon presiden USA" tetapi terus menjejakkan penuturannya pada tokoh-tokoh secara personal, dan inilah yang sukses membuat gw merasa terlibat dan mudah memahami apa yang terjadi pada plotnya. 

Eksibisi kemampuan akting para pemerannya pun terakomodir dengan baik, sangat baik malah, film ini punya salah satu ensemble cast terbaik yang pernah gw tonton. Kita bakal lihat akting kharismatik George Clooney (cukup menarik bahwa si oom jarang jadi peran utama di film garapannya sendiri), penjiwaan tingkat tinggi dari Philip Seymour Hoffman dan Paul Giamatti, kehadiran singkat nan signifikan dari Marisa Tomei dan Jeffrey Wright, juga penampilan manis nan rapuh dari Evan Rachel Wood. Ryan Gosling sendiri juga membuktikan dirinya pantas memikul tanggung jawab sebagai pemeran utama sekaligus disejajarkan bareng para aktor hebat tersebut, perubahannya dari sosok cerdas dan tulus ke bimbang hingga kecewa hingga sikapnya menghadapi dilema dibawakan dengan mulus tanpa cela berarti, DAN kita bahkan bisa melihat doi menyetir—get it? "nyetir"? =P. In the other hand, The Ides of March adalah satu lagi bukti kualitas dan kerja keras seorang George Clooney sang filmmaker yang semakin matang, nyaman disaksikan sekaligus berkelas dan berbobot. Eh, interestingly gw juga mencium colongan opini (mungkin dari oom Clooney) tentang isu-isu mutakhir di Amerika (kebebasan beragama, pajak progresif, perang di Timur Tengah, pernikahan sejenis dst.) lewat pidato dan argumen Mike Morris. Kritis nih ye...



My score: 8/10


NB: setelah nyontek wiki, "the ides of March" itu adalah sebutan zaman Romawi kuno untuk hari paling tengah (idus) dari bulan Maret, yaitu tanggal 15 Maret. Hari ini jadi terkenal karena Julius Caesar ditikam ramai-ramai oleh dewan senat pada hari itu untuk mengakhiri kekuasaannya. 15 Maret dalam film The Ides of March mungkin merujuk pada tanggal 15 Maret (bisa jadi tahun 2011, soalnya katanya hari Selasa/Super Tuesday) yaitu ketika ceritanya akan diadakan primary election Partai Demokrat di negara bagian Ohio. Soal hubungannya sama tewasnya Caesar...kurang tau juga ya, hehehe