Senin, 27 Februari 2012

WINNERS of The 84th Academy Awards

Baru saja usai pembagian piala penghargaan paling bergengsi di perfilman Hollywood, The 84th Academy Awards di Hollywood and Highland Theatre d/h Kodak Theatre, tepatnya 26 Februari 2012 waktu sono alias 27 Februari 2012 pagi waktu Indonesia. Mari kita cek peraihnya sekaligus seberapa bodoh gw dalam menebak pemenang di masing-masing kategori. (O) berarti benar dan (X) berarti salah. And the Oscars went to...



best picture
"The Artist" (O)
Lovely film. And Harvey Weinstein.


directing
"The Artist", Michel Hazanavicius (O)
Well-deserved. And Harvey Weinstein.


actor in a leading role
Jean Dujardin in "The Artist" (O)
Wonderful performance, pantas menang. And Harvey Weinstein


actress in a leading role
Meryl Streep in "The Iron Lady" (X)
Akhirnya, Oscar ketiga untuk si ratu akting. Sangat pantas. Oh, and Harvey Weinstein.


actor in a supporting role
Christopher Plummer in "Beginners" (O)
Mengambil quote opa Plummer kepada piala Oscar-nya saat speech: "You're only two years older than me, darling. Where have you been all my life?" =)


actress in a supporting role
Octavia Spencer in "The Help" (O)
The easiest guess, tetap agak terharu waktu Octavia menerima pialanya.


writing (adapted screenplay)
"The Descendants" (O)


writing (original screenplay)
"Midnight in Paris"  (O)


animated feature film
"Rango" (O)


foreign language film
"A Separation", Iran (O)


cinematography
"Hugo" (X)
Yah, kecewa Emmanuel Lubezki gak menang. In the other hand, Robert Richardson kini masuk dalam jajaran sinematografer yang menang 3 Oscar, itu sebuah prestasi gemilang, dan siapa tahu filmnya emang bagus (belum nonton).


film editing
"The Girl with the Dragon Tattoo" (X)
Tim yang sama di "The Social Network" tahun lalu kembali menang dalam film ini. Agak mengejutkan soalnya kirain Oscar nggak mau ngasih piala sama tim yang persis sama dua tahun berturut-turut, but I don't think that matters now.


art direction
"Hugo" (O)


costume design
"The Artist" (X)
And Harvey Weinstein.


makeup
"The Iron Lady" (O)
Well-deserved even without Harvey Weinstein.


music (score)
"The Artist" (O)
Also well-deserved even without Harvey Weinstein.


music (song)
"Man or Muppet" from "The Muppets" (X)
Tuh salah lagi kan =|


sound editing
"Hugo" (X)


sound mixing
"Hugo" (O)


visual effects
"Hugo" (X)
Ohohoho, didn't really see this coming. but that's alright, setidaknya bukan Transformers =P.


documentary feature
"Undefeated" (X)
And Harvey Weinstein.


documentary short subject
"Saving Face" (X)


short film (animated)
"The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore" (X)


short film (live action)
"The Shore" (X)


Total tebakan gw hanya benar 13 dari 24 kategori, persis sama dengan tahun lalu. O, well, emang saya bukan penebak yang handal. Kalau direkapitulasi, The Artist berjaya atas raihan 5 piala termasuk di kategori utama yaitu Best Picture, Best Director, Best Actor untuk Jean Dujardin selain juga di kategori Original Music Score dan Costume Design. Jumlah yang sama diraih oleh film anak 3-Dimensi karya Martin Scorsese, Hugo untuk kebanyakan kategori teknis seperti Art Direction dan Cinematography (dua piala yang dibagikan paling awal) selain Sound Mixing, Sound Editing, dan Visual Effect.

Acara penganugerahan pun berlangsung cukup mulus, lebih mending daripada tahun lalu yang nggak berenergi meski host-nya dua orang aktor muda. Billy Crystal justru dengan sangat nyaman dan lancar kembali membawakan acara dari awal hingga akhir untuk ke-9 kalinya, meskipun dibilang lucu banget juga nggak. Ada pertunjukan singkat dari Cirque du Soleil yang memukau, dan yang paling gw suka dari acara ini adalah tata musik pengiring acaranya yang diurus oleh Hans Zimmer (pemenang Oscar untuk The Lion King) yang kerja bareng Pharrell Williams (N.E.R.D.), terlihat ada A.R. Rahman juga di beberapa segmen, karena mereka merangkai musik yang elegan tetapi dengan sentuhan modern yang luar biasa asik. Keren. Tapi kekecewaan besar terjadi karena nggak ada performa nomine Best Original Song. Cuma dua nomine tapi tetep nggak dikasih nyanyi?! Kebangetan dah.

Akhir kata, selamat untuk para pemenang, semoga film-film yang belum beredar di bioskop kita segera tayang juga. Thank you for the movies.

Minggu, 26 Februari 2012

[Movie] Dilema (2012)


Dilema
(2012 - WGE Pictures/87 Films)

Directed by Robert Ronny, Adilla Dimitri, Rinaldy Puspoyo, Robby Ertanto
Written by Wulan Guritno, Adilla Dimitri, Robert Ronny, Robby Ertanto, Rinaldy Puspoyo
Produced by Wulan Guritno, Adilla Dimitri
Cast: Roy Marten, Slamet Rahardjo, Reza Rahadian, Pevita Pearce, Ario Bayu, Winky Wiryawan, Baim Wong, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Ray Sahetapi, Jajang C. Noer, Abimana Aryasatya, Kenes Andari, Verdi Solaiman, Rangga Djoned


Sebenarnya gw cukup kesulitan menjabarkan ulang konsep dari film Dilema. Film ini diklaim sebagai film omnibus, yang kalo gw gak salah tangkep maknanya adalah dalam durasi full feature (kali ini sekitar 90 menit) terdapat beberapa segmen film pendek yang digarap terpisah—cerita dan atau pembuatnya—yang memiliki sedikit keterkaitan entah itu tema (seperti Perempuan Punya Cerita), seting (misalnya Paris Je T'aime) ataupun genre (seperti horor 4Bia atau Takut), atau ada juga seperti Jakarta Maghrib yang terdiri dari beberapa segmen cerita terpisah namun digarap oleh kru yang sama. Tapi biasanya, sekat antar segmen di film omnibus itu jelas dan berurut. Dilema boleh disebut omnibus, ada 5 segmen yang konon dibuat terpisah, menurut laman wiki resminya ada segmen The Officer (sutradara Adilla Dimitri), Garis Keras/Hardline (sutradara Robby Ertanto), The Big Boss (sutradara Rinaldy Puspoyo), The Gambler (sutradara  Robert Ronny), dan Rendezvous yang entah siapa sutradaranya (di wiki-nya sih ditulis Yudi Datau—yang menjabat sinematografer film ini—tapi nggak tercantum resmi baik di film maupun poster). Akan tetapi, kelima segmen ini tidaklah terpisah-terpisah amat, semua segmen masih sangat berkait, malah lebih mirip film multi-plot ketimbang film omnibus. Lagipula, tiap segmen disajikan random tanpa sekat segmen yang jelas, gw bahkan nggak tau judul tiap segmen sebelum liat di credit roll akhir. Nah, jadinya lebih mirip film Traffic atau Babel...tapi tiap segmen dibuat oleh sutradara berbeda...mmm...yah kira-kira begitulah *segitu dulu bingungnya*.

Dalam Dilema, penonton diberi sajian 5 sisi nista kehidupan ibukota. The Officer bercerita soal polisi yang baru mulai patroli di hari pertama, Ario (Ario Bayu) mengikuti seniornya Bowo (Tio Pakusadewo) yang preman dan korup—somehow gw gak yakin otentisitas polisi reserse kriminal tampilannya bisa kayak duo Lethal Weapon seperti Ario dan Bowo, ada yang bisa konfirmasi? =). Garis Keras adalah tentang runtuhnya hubungan persahabatan Ibnu (Baim Wong) dan Said (Winky Wiryawan) yang tergabung dalam gerakan kekerasan radikal atas nama agama, karena salah satu mulai menyadari ada yang salah dengan tindakan-tindakan mereka. The Big Boss mengikuti arsitek muda Adrian (Reza Rahadian) yang secara misterius dipanggil oleh Sonny Wibisono (Roy Marten), seorang pengusaha raksasa sekaligus bukan-rahasia-lagi dedengkot organized crime yang berkuasa (baik ekonomi maupun aparat hukum) di Jakarta yang sudah mendekati ajal. The Gambler cukup sederhana mengisahkan seorang paruh baya, Sigit (Slamet Rahardjo) yang meski sudah lama tidak berjudi, tiba-tiba datang bernostalgia ke perjudian (tentu saja tempat ilegal) milik Gilang (Ray Sahetapi) dan kembali main demi mendapatkan jam tangan warisannya kembali. Sedang Rendezvous mungkin akan familiar bagi yang sering nonton filmnya Nayato, tentang seorang gadis muda, Dian (Pevita Pearce) yang sedang liburan galau karena kurang perhatian orang tua kemudian bertemu dengan seorang wanita tomboy, Rima (Wulan Guritno) yang menyeretnya kembali ke pergaulan bebas (plus the "now, kiss" moment between them girls, fufufu).

Interrestingly, Dilema ini justru cukup kawin bila dinikmati sebagai satu film utuh tanpa perlu mengingat embel-embel omnibus atau "kompilasi film pendek", ya karena memang kaitannya yang sangat nyambung, yang mulai ketahuan di pertengahan. Pun sebenarnya tone tiap segmennya nggak beda jauh meski sutradaranya beda-beda, mungkin kerja editor serta sinematografi yang berfungsi maksimal dalam hal ini—dan memang dikerjakan oleh orang-orang yang sama untuk semua segmen, sehingga ritmenya bisa terjaga, tidak ada segmen yang terasa lebih lemah dari yang lainnya, semua bisa tampil seimbang. Dengan kata lain, Dilema bisa dibilang tontonan yang solid sebagai satu kesatuan, pretty enjoyable. Mungkin masalahnya adalah di bagian cerita yang, yah gitu lagi gitu lagi. Nggak bisa dibilang terlalu ngaco sih, cuman setiap segmen punya basis plot yang tidak terlalu baru, entah itu remaja stress kena narkoba, seorang anak yatim piatu yang nggak sadar dia itu selama ini keberuntungannya sudah diatur, atau anak baru idealis vs senior korup. Garis Keras yang mengangkat isu kelompok berlabel agamayang bertindak radikal juga agak terlalu preachy dan sambungan ke "segmen lain"-nya pun maksa banget. Namun lagi-lagi, penyampaiannya dibuat sewajar mungkin, pun pada bagian akhir tiap segmen akhirnya kembali pada tema "dilema", dimana karakter-karakter dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang sulit, sehingga kekurangsegaran plot dasar dapat agak tersamarkan. 

Jika boleh memilih, bagian favorit gw jatuh pada segmen The Gambler. Kisahnya mungkin agak mengingatkan pada kesaksian-kesaksian di acara Solusi Life *heuheuheu*, pun properti arloji emas warisan yang dipertaruhkan tidak tampak "150 juta rupiah"—I mean, bannya kulit gitu =P. Namun plot yang masuk akal dan pendekatan yang ekstensif terhadap karakter Pak Sigit (yang dimainkan cukup mengesankan oleh Slamet Rahardjo) membuat gw jadi berpihak sama Pak Sigit meskipun tindakannya haram dan motivasinya untuk kambuh berjudi juga cetek, tapi gw akan ikut merasa senewen tiap kali kartunya kalah, haha. Merging-nya dengan segmen The Officer—spoiler dikit, walau awalnya juga terasa lame dan terlalu banget, tapi akhirnya punya ending paling kuat dari yang lain. Dari segi visual pun The Gambler yang paling oke, ini mungkin karena setingnya yang hanya di tempat judi ilegal (plus toiletnya), ruang dan pencahayaannya ditata paling menarik. 

Ngomong-ngomong soal visual, Dilema menurut gw ditangkap dengan tata kamera yang baik, pewarnaannya terjaga, hanya saja segi desain produksinya—selain The Gambler—terlihat kurang menarik dan terlalu sederhana sehingga tidak beda dengan sinetron atau FTV. We need to improve our production designing. Serta satu hal yang bikin kagok adalah rentang waktu tiap segmen, apakah waktunya bersamaan atau tiap segmen ada rentang waktu tersendiri tidak terlalu jelas, ini terutama di segmen Rendezvous yang suasananya selalu malam dan pakaian orang-orangnya selalu sama. Namun terlepas dari itu, Dilema masih bisa didapuk sebagai film yang layak tonton karena overall digarap serius, tidak mencelakakan dan tidak menjemukan, setidaknya bagi gw. Penampilan para aktor ternama di dalamnya juga bukan sekadar jualan, karena mereka semua bisa tampil baik. Gw cukup terkejut ketika melihat Baim Wong ternyata bisa akting betulan setelah selama ini dirinya hanya terlihat pura-pura akting di layar kaca =P, dan patut dicatat pula Wulan Guritno dalam film yang diproduksinya sendiri bareng suaminya ini membuktikan bahwa dia selalu bisa jadi aktris andalan dalam beragam peran, she's good. Sayangnya, meski berharap banyak pada Roy Marten, apalagi dengan perannya yang "serem", gw malah tidak merasakan apa yang harusnya gw rasakan pada tokoh Sonny Wibisono, mungkin harusnya oom Roy dan oom Tio tukeran peran, hehe. But anyway, good job buat kru Dilema, film ini sama sekali tidak memalukan. Eh...jadi...sutradara segmen Rendezvous siapa nih?



My score: 7/10

The 2nd IMBlog Choice Awards Champions - Film Asing



Setelah melepas daftar nominasinya bulan lalu, 25 Februari 2012 malam kemarin melalui akun Twitter resmi Indonesian Movie Bloggers Community @IMBlogCommunity, maka terungkaplah peraih Indonesian Movie Bloggers Choice Awards atau IMBlog Choice Awards tahun kedua untuk kategori Film Asing (non-Indonesia), baik yang mendapat predikat JAWARA—dipilih oleh para blogger pembahas film anggota IMBlog Community (secara demokratis lho gak pake kongkalikong apalagi bayar-membayar =)), maupun predikat TERSOHOR yang dipilih lewat polling terbuka. Ajang daring apresiasi film ala movie bloggers kali ini menjadi "empunya" film semi-surealis The Tree of Life yang memperoleh 6 predikat Jawara termasuk Film Jawara selain 4 predikat Tersohor. Sedangkan Black Swan berjaya merebut perhatian para voters umum sehingga sukses memenangkan predikat Film Tersohor. Eh, dalam IMBlog Choice Awards kedua ini kembali diwarnai oleh hal menarik ketika movie bloggers dan voters umum memenangkan para pemenang yang sama persis untuk kategori Pelakon Utama Pria/Wanita dan Pelakon Pendukung Pria/Wanita, ade ape =D. Anyway, berikut adalah daftar lengkap pemenang The 2nd IMBlog Choice Awards untuk kategori Film Asing.


Rabu, 22 Februari 2012

[Movie] The Artist (2011)


The Artist
(2011 - Warner Bros./Studio 37/La Petite Reine/The Weinstein Company)

Written and Directed by Michel Hazanavicius
Produced by Thomas Langmann
Cast: Jean Dujardin, Bérénice Bejo, John Goodman, James Cromwell, Penelope Ann Miller, Missi Pyle, Kevin Davitian, Malcolm McDowell, Uggie


Tujuan dibuatnya film The Artist sudah jelas: menampilkan kembali sensasi sinema lawas, terutama Hollywood, dan terutama lagi film bisu. Apa itu film bisu? Jadi gini ya adek-adek, sebelum film itu ada teknologi 3-dimensi, sebelum film itu ada efek visual komputer, sebelum film itu gambarnya berwarna, dan sebelum film itu ada suaranya, zaman dulu yang namanya motion picture atau kita kenal sebagai film bioskop itu hanya dapat merekam gambar (hitam putih pastinya). Iya...ho-oh...betul, nggak ada suaranya. Jadi di bioskop filmnya ya hanya ditampilkan gambar para aktor berakting dalam seting-seting, saling berdialog sih tapi suaranya nggak kedengeran, penjelasan cerita hanya mengandalkan mimik dan gerak pemain serta dibantu title cards (tulisan di sela-sela adegan/gambar)—waktu itu teknologi yang dapat menyelaraskan rekam suara dengan gambar film belum ditemukan. Terus bener-bener nggak ada suara gituh? Bosen dong? Ya nggak juga. Setiap film bisu pasti ditemani oleh iringan musik sepanjang durasi yang menjadi unjung tombak efek dramatisasi...dan musik ini dimainkan live di bioskop! The Artist, film produksi Prancis, rilisan 2011 atau sekitar 80 tahun sejak film bisu turun pamor di Hollywood, dengan berani menampilkan sebuah tontonan bernuansa tempo doeloe tersebut: hitam putih, rasio gambar seperti televisi (bukan layar lebar), speed gambar yang agak cepat, dan (99%) tanpa dialog. Itu sajakah tawarannya? Apa cuma gimmick doang biar dibilang cutting edge gimana gituh? Eits, no no no, The Artist tidak hanya dipresentasikan sebagai film bisu, tetapi ia juga bercerita tentang industri film bisu itu sendiri.

Alkisah di akhir dekade 1920-an, George Valentin (Jean Dujardin) adalah bintang film bisu yang sangat tenar di Hollywood, film-filmnya selalu mendulang sukses, membuatnya diidolakan selain memampukannya bergaya hidup mewah. Akan tetapi, suatu ketika bos studio Kinograph tempat ia bernaung, Al Zimmer (John Goodman) memperlihatkan teknologi terbaru: film bersuara. Zimmer bilang semua film nantinya akan diproduksi bersuara, tetapi George langsung menolak dan menganggap gagasan ini konyol. Penolakan George terhadap film bersuara ternyata berakibat fatal, ia tak dapat job, pamornya menurun, film (bisu) yang nekad ia produksi sendiri ketika film bersuara popularitasnya menanjak juga gagal total. Akibatnya ia bangkrut, hingga sang istri (Penelope Ann Miller) memutuskan untuk meninggalkannya, dan segala miliknya ia jual atau gadai demi bisa bertahan hidup, termasuk harus memberhentikan sopir sekaligus asistennya yang setia, Clifton (James Cromwell). Hal kebalikan terjadi pada Peppy Miller (Bérénice Bejo), wanita muda yang pernah masuk headline koran karena tersandung di depan George pada sebuah premier film. Mengawali karir sebagai pemain figuran di salah satu filmnya George, bahkan ia diberi ciri khas berupa tahi lalat palsu di dekat bibir olehnya, Peppy justru semakin bersinar hingga memperoleh status Hollywood's sweetheart lewat film-filmnya yang sukses besar, yang jelas sudah bersuara—istilahnya "talkies". Ketika menyaksikan sendiri keruntuhan hidup George yang dikaguminya serta telah berjasa atas karirnya, Peppy berniat membantu George kembali bangkit, namun masalahnya ego George yang mantan bintang besar sulit untuk berkompromi pada masa transisi seperti ini.

Gw mendapatkan paket lengkap setelah menonton The Artist. Kisah yang menarik, akting menawan, drama, humor (terutama karena ada si anjing (Uggie)), musik dan tarian, serta sejumput gambaran tentang era film bisu seperti tersebut di paragraf awal, dibungkus dalam kemasan yang seharusnya ketinggalan zaman namun nyatanya tetap memiliki daya tarik yang sangat kuat. This film works in every way. Bagaimana sutradara Michel Hazanavicius membuat sebuah film gaya sangat kuno ini tetap menarik disaksikan dan diikuti hingga akhir di tengah-tengah era digital hingar-bingar sekarang ini terbilang mencengangkan, yang pasti he did it superbly (bahasa campur =P). Namun bukan hanya soal tampilannya yang lain sendiri, ceritanya yang orisinil sekaligus relevan pada segala masa juga menjadi magnet yang kuat. Cerita tentang seseorang menghadapi perubahan disampaikan dengan rapih, mendalam, sederhana, serta ritmenya tepat dan menggugah emosi, bahkan kita lihat ada subtle romance antara George dan Peppy di sana yang cukup menggemaskan. Dinamika yang ditampilkan begitu mudahnya dirasakan, dari mulai pembukaan yang komikal hingga ke pertengahan yang begitu emosional sampe pengen puk-puk si oom George, dan ditutup kembali dengan senyum gembira, sangat enjoyable, dan itu semua dilakukan (nyaris) tanpa kata terucap. Sekali lagi, pengisahan film ini hanya berdasarkan bahasa visual dan dibantu tulisan serta musik. Caranya dalam menggambarkan karir George yang semakin menurun dan karir Peppy yang semakin menanjak sungguh pas, cerdik dan segera dapat dipahami oleh gw yang tidak punya pengalaman nonton film bisu sekalipun (kecuali "Tom & Jerry", heuheu). Berani bikin beginian aja sudah luar biasa, apalagi membuatnya jadi tontonan yang memikat dan menghibur, sangat luar biasa. 

As I said before, keberhasilan film bisu juga terletak pada performa aktor yang harus sedapat mungkin menyampaikan karakteristiknya hanya lewat gerak-gerik dan ekspresi—yang mau nggak mau harus agak berlebih (kalau istilah di film ini "mugging")—tanpa wicaranya terdengar. Kehadiran aktor-aktor yang cukup dikenal seperti John Goodman, James Cromwell dan Missi Pyle yang emang tampak fisiknya sudah berkarakter dari sononya dimanfaatkan dengan baik dan akting mereka memang memberi volume yang berarti. Akan tetapi, satu keputusan Hazanavicius yang paling sempurna adalah memberi peran George Valentin pada aktor komedi Prancis Jean Dujardin. Dengan wajah dan gestur yang sangat ekspresif, Dujardin secara kharismatik menjiwai dan meragai (eh?) seluruh sisi karakter George Valentin yang berkumis ala Clark Gable di Gone with the Wind ini dengan tanpa cela, dari yang flamboyan nan menyenangkan sampai yang depresif dan suicidal, we really feel him. Dalam sekejap saja, penonton akan menyayangi tokoh George yang sebenarnya angkuh dan keras kepala itu, rasanya akting Dujardin punya andil besar akan efek ini. How I love the spy movie filming scenes when George worked with Peppy for the first time =D. Bérénice Bejo  juga tampil tak kalah memikat dengan performanya sebagai aktris manis nan ceria namun berhati mulia, emosinya begitu natural walau dalam gerak-geriknya yang "berlebih", membuat gw percaya Peppy itu memang bintang kesayangan pemirsa di Hollywood (dalam semesta film ini tentu saja).

The Artist, terlepas dari gaya penyampaian yang tidak biasa gw saksikan, adalah tontonan yang menyenangkan serta begitu mudahnya mengambil tempat di hati sebagai salah satu film terbaik yang pernah gw tonton setahun terakhir. Tata adegan, tata visual, tata musik serta aktingnya istimewa, ceritanya dan penceritaannya pun sama istimewanya. Sebuah cara yang sensasional (dan kreatif) dalam menggambarkan sulitnya diri seseorang dalam menerima perubahan keadaan sekitarnya, meski pada akhirnya bagaimanapun perubahan tak dapat terhindarkan. Akan tetapi ada sebuah pencapaian yang patut gw catat di luar isi filmnya sendiri, bahwa The Artist menjadi bentuk penghormatan dan perayaan yang pantas untuk sebuah era sinema yang pernah jaya, karena membuat gw juga mengerti kenapa orang-orang zaman dulu tetap antusias menonton film meski nggak denger pemainnya pada ngomong apa. Jangan takut sama peringatan "Film ini hitam putih dan tanpa dialog" kalau toh filmnya bisa memikat dan menawan perhatian serta perasaan meski tanpa warna atau kata.



My score: 8,5/10

Senin, 20 Februari 2012

Tebak-Tebakan Pemenang 84th Academy Awards

Sudah hampir waktunya ajang penghargaan film paling terkenal dan salah satu paling bergengsi di dunia, Academy Awards akan dilangsungkan. Seperti biasa, pembagian piala berjulukan Oscar ini begitu menyulut antusiasme semua orang napalagi para pecinta film. Menyambut itu, karena merasa gatal dan nggak nyaman kalau tidak melakukan ini, dan sebagaimana gw melakukannya pada tahun-tahun sebelumnya, berikut gw akan menyampaikan tebakan siapa saja yang akan menang di Oscar tahun ini. Tujuannya apa? Yang nggak apa-apa, iseng aja, seneng aja, biar lucu aja. Masalah buat eloh? =P

Anyway, gw bilang ini tebakan, bukan prediksi. Mengapa? Sebab kata "prediksi" itu lebih layak dipakai kalau memang ada perhitungan khusus dan argumen valid yang mendukungnya. Sedangkan gw hanya menebak, "perhitungan"-nya juga yang gampang-gampang aja, atau malah nggak pake perhitungan sama sekali alias asal tebak saja =P. Perhitungan gampang itu maksudnya kalau nomine bersangkutan sudah menang berbagai peghargaan sebelum Oscar seperti awards dari Screen Actors Guild, Directors Guild, Producers Guild, Writers Guild dan sebagainya yang hasilnya relatif nggak jauh-jauh amat dari hasil Oscar—Golden Globe Awards udah lama nggak bisa lagi diandalkan untuk menebak pemenang Oscar. So basically, nggak perlu nonton semua film ternominasi untuk bisa tebak pemenang Oscar. Akan lebih baik sih kalau memang sudah menonton semua film ternominasi jadi bisa punya gambaran lebih jelas, tetapi sudah nonton pun belum tentu yang gw bilang paling bagus/suka pasti menang, sebaliknya yang gw pikir paling jelek/nggak suka pasti kalah, jadi yaah kembali lagi harus mempertimbangkan berbagai rujukan di atas.


Sekali lagi, meskipun sudah dengan beberapa rujukan dan strategi, tebakan tetaplah tebakan, jadi akan sangat mungkin banyak yang meleset. Toh dalam sejarahnya gw menebak pemenang Oscar, rekor terbaik gw hanya 2/3 dari semua kategori. Kurang jago, hehehe. Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, mari melihat tebakan gw untuk tahun ini, sekaligus pilihan "pleasant surprise", yaitu yang bukan unggulan tetapi jikalau ternyata menang gw akan menyambutnya dengan senang hati. Ohiyah, silahkan mampir ke sini untuk melihat daftar lengkap nominasinya.



MY OSCAR GUESSES:


best picture
So far baru 4 dari 9 film nomine Best Picture tahun ini yang udah gw tonton. Kalo dari rumus "pemenang Best Picture pasti juga dapat nominasi Directing-Writing-Editing", maka calon pemenang tahun ini hampir pasti di antara The Artist, The Descendants, atau Hugo, nah kalo dilengkapi lagi dengan kategori Cinematography, maka "final" Best Picture hanya untuk The Artist vs Hugo, sayangnya gw belum nonton Hugo. Gw suka The Artist, dan penghargaan-penghargaan pra-Oscar pun sepertinya mengarah ke film antik ini, termasuk Producers Guild dan Directors Guild, jadi tebakan gw film bisu hitam-putih inilah yang akan meraih Best Picture...lagipula film ini didukung oleh Harvey Weinstein =P.

pleasant surprise: "The Tree of Life", huehehe, very unlikely to happen though.


actor in a leading role
Jean Dujardin in “The Artist”
Ah, he's awesome! Dengan ekspresi dan gesturnya yang total sekaligus lovable meski (hampir) tiada terdengar suaranya, Monsieur Dujardin memang pantas bila diberi penghargaan ini, melengkapi pelbagai penghargaan yang ia telah raih untuk film ini seperti Screen Actors Guild, British Academy Film Award (BAFTA) dan juga Best Actor Award di Festival Film Cannes tahun lalu, canggih ye. Dan sepertinya belakangan ini aktor/komedian asal Prancis ini punya citra yang menyenangkan di media massa Hollywood, people would love to see him winning.

Jean Dujardin
pleasant surprise: Gary Oldman in "Tinker Tailor Soldier Spy", belum nonton sih gw, cuma karena dia memang keren aja setiap main film =)


actor in a supporting role
Christopher Plummer in “Beginners”
Anggapan "kasian udah panjang banget karirnya tapi nggak pernah dapet Oscar" bisa jadi pertimbangan kemenangan opa Chris (inget Alan Arkin di tahun 2007 untuk Little Miss Sunshine), dan lagi-lagi beliau sudah menyapu hampir semua penghargaan pra-Oscar untuk perannya sebagai seorang pria senja yang baru membuka diri untuk hidup sebagai seorang homoseksual ini. Aktor yang disegani dalam peran yang menantang.

Christopher Plummer

pleasant surprise: Max von Sydow in "Extremely Loud & Incredibly Close", faktornya hampir sama dengan opa Chris (mereka seumuran pula), gw juga cukup kagum dengan akting opa Max yang asal Swedia tapi bisa juga bahasa Inggris dan Prancis ini dalam beberapa film sebelumnya (gw blum nonton Extremely Loud blablabla), jadi seneng aja kalaupun beliau yang menang.


actress in a leading role
Viola Davis in “The Help
Pertarungan Best Actress cukup ketat tahun ini. Meryl Streep mungkin jadi jagoan banyak orang karena akting tanpa celanya sebagai Margareth Thatcher dalam The Iron Lady, tapi faktor bahwa filmnya-sendiri-tuh-nggak-bagus-deh-ah mengurungkan niat gw menebak bahwa tahun ini tante Meryl akan mendapat Oscar ketiganya. Meryl itu aktris hebat dan alangkah jauh lebih baik kalau beliau menang Oscar ketiganya kelak melalui film yang lebih bagus daripada The Iron Lady *ngatur*. Jadi tebakan (dan dukungan) gw jatuh pada penampilan paripurna Viola Davis dalam The Help, dan kemenangannya di Screen Actors Guild Awards bisa jadi pertanda

Viola Davis

pleasant surprise: Michelle Williams in "My Week With Marilyn", karena headline news-nya bakal seru: from Dawson's Creek to Hollywood with an Oscar =).


actress in a supporting role
Octavia Spencer in “The Help”
Ini tebakan paling gampang karena semua penghargaan pra-Oscar, dari penghargaan para kelompok kritikus film dan Golden Globe hingga yang paling "ngaruh" seperti Screen Actors Guild Awards dan British Academy Film Awards diraih oleh Octavia Spencer, terlepas dari perannya yang tidak terlalu menantang sebenarnya. Well, from just a recurring role on "Ugly Betty" to Oscar will be a fine upgrade =).

Octavia Spencer


animated feature film
Rango
Gw sih nggak terlalu suka filmnya, tapi secara teknik animasi dan sebagainya, Rango terbilang unggul.

pleasant surprise: "Kung Fu Panda 2", gw bener-bener pendukung Kung Fu Panda 2, setelah film pertamanya dulu "terhadang" WALL-E di ajang Oscar 2009, menang untuk sekuelnya di tahun ini bisa jadi pelipur lara yang manis.


art direction
“Hugo"
Gw percaya deh sama tata artistik film-filmnya Martin Scorcese.

pleasant surprise: "The Artist"


cinematography
“The Tree of Life”
Harus, harus dan HARUS menang. Go Emmanuel Lubezki go!!!

pleasant surprise: "War Horse"


costume design
“Anonymous”
Kalo liat-liat trailernya, film ini yang paling rumit desainnya, biasanya yang kayak begitu yang menang.

pleasant surprise: "Jane Eyre"


directing
“The Artist", Michel Hazanavicius
Karena pemenang di Directors Guild of America pasti menang Oscar, selalu begitu.

(extremely) pleasant surprise: "The Tree of Life", Terrence Malick


documentary feature
“Pina”
Asal tebak.


documentary short subject
"The Tsunami and the Cherry Blossom"
Asal tebak dan agak sesuai momentum memperingati hampir setahun bencana gempa besar di Jepang kemarin.


film editing
“Moneyball”
Asal tebak aja ini mah.


foreign language film
"A Separation", Iran
Film non-English yang paling high profile tahun ini.


makeup
Make-up dalam film ini sama sempurnanya dengan performa Meryl Streep. It should win.

pleasant surprise: "Harry Potter and the Deadly Hallows Part 2", well, jika akhirnya Harry Potter memperoleh Oscar, biarlah kiranya dari kategori ini, gw rela kok =D.


music (score)
“The Artist”
Dalam film bisu, musik adalah kunci dalam menjelaskan nuansa tiap adegan filmnya, karena hanya musik yang bisa didengar penonton saat menonton filmnya. Musik dalam The Artist melakukan tepat demikian selain ditata dengan cantik dan elegan.


music (song)
"Real in Rio" from "Rio"
Rekor gw yang selalu salah tebak best song belum terpecahkan sejauh ini. This time I kinda like both nominees. Untuk sebuah lagu mandiri, gw lebih memilih lagu dari Rio ini, samba-nya rancak nan asik, dan pantas jika memang menang. Tetapi untuk lagu yang lebih sesuai konteks filmnya, ya lagu The Muppets-lah yang memenuhi kriteria demikian, meskipun lagunya agak terlalu ngelawak dan kurang indah (serta bukan lagu dari film The Muppets yang paling gw suka). Either way, one thing for sure, we can expect fantastic performances of both songs in the awarding night =).



pleasant surprise: "Man or Muppet" from "The Muppets"


short film (animated)
"A Morning Stroll"
Asal tebak, dan karena menang di banyak festival termasuk Sundance.


short film (live action)
"Tuba Atlantic"
Asal tebak.


sound editing
“War Horse”
Asal tebak.


sound mixing
“Hugo”
Asal tebak.


visual effects
Problem?


writing (adapted screenplay)
“The Descendants”
Asal tebak saja, selain karena reputasi Alexander Payne yang memang dicintai Academy.


writing (original screenplay)
Karena film ini begitu disayangi banyak orang. Bila akhirnya diberi satu penghargaan, terutama untuk kategori ini, maka akan sangat dimaklumi.

pleasant surprise: "The Artist", karena ceritanya oenjoe banget...



Mari kita buktikan pada acara penganuherahannya Senin, 27 Februari 2012 pagi WIB, dan setelahnya gw akan posting perihal daftar pemenang 84th Academy Awards sekaligus hasil tebakan gw apakah benar atau salah =). See you.

Sabtu, 18 Februari 2012

[Movie] The Help (2011)


The Help
(2011 - Touchstone/DreamWorks/Reliance Entertainment)

Written for the Screen and Directed by Tate Taylor
Based on the novel by Kathryn Stockett
Produced by Brunson Green, Chris Columbus, Michael Barnathan
Cast: Emma Stone, Viola Davis, Bryce Dallas Howard, Octavia Spencer, Jessica Chastain, Allison Janney, Sissy Spacek, Ahna O'Reilly, Chris Lowell


"The help" adalah istilah yang dipakai terhadap orang-orang yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Amerika sana, khususnya di kota Jackson negara bagian Mississippi tahun 1960-an yang menjadi seting film The Help ini. Bisa dibilang itu istilah halus dari maid, kayak di kita itu mutasi istilah dari babu-pembantu-PRT hingga asisten rumah tangga dan entah apalagi istilah yang nanti akan susah payah diciptakan oleh media massa kita apabila ungkapan terakhir itu juga dirasa terlalu merendahkan, padahal dari dulu sudah ada istilah "pramuwisma" di KBBI. Anyway, berdasarkan film ini, permasalahan para pramuwisma di wilayah itu bukan hanya soal pekerjaan, entah jam kerja atau upah, tetapi juga soal tekanan sosial berdasarkan ras dari kaum majikan yang hampir seluruhnya bulai/kulit putih (silahkan ganti Kaukasia kalo dirasa kurang sopan) terhadap kaum pramuwisma dan pekerja kasar lainnya yang hampir seluruhnya kulit hitam (silahkan ganti Afrika-Amerika kalo dirasa kurang sopan atau nggak keberatan dengan betapa panjangnya istilah itu). Tidak cukup dengan pemberian upah pas-pasan, hak mereka dalam masyarakat pun dibatasi, sampe penggunaan fasilitas umum juga dibedakan, maka tak heran kerap timbul ketegangan dan perselisihan hingga tindak kekerasan bermotif ras.

Adalah Eugenia "Skeeter" Phelan (Emma Stone), seorang gadis kulit putih sarjana yang bercita-cita jadi penulis, merasa tergerak atas perlakuan teman-temannya di arisan ibu-ibu muda kota Jackson terhadap pembantu-pembantu mereka. Terutama lagi, ketika si ketua arisan, Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard) telah menggagas peraturan daerah tentang pembedaan kamar mandi pembantu di rumah-rumah, karena katanya orang kulit hitam "kuman penyakitnya beda sama kita-kita" #plakk. Skeeter berprakarsa membuat buku tentang curhatan para The Help ini, ia memulai dari Aibileen (Viola Davis) yang sedang bekerja untuk Elizabeth Leefolt (Ahna O'Reilly), serta sahabatnya Minny Jackson (Octavia Spencer) yang pernah bekerja pada Hilly namun dipecat karena kepergok memakai WC majikan. Meski awalnya enggan, Aibileen dan Minny akhirnya mau membagi ceritanya pada Skeeter, namun mereka harus berhati-hati karena tindakan mereka ini, yang memang sebuah usaha memperjuangkan persamaan hak antar ras, rupanya melanggar hukum negera bagian saat itu (!) selain berpotensi menimbulkan gejolak masyarakat—kaum kulit putih bakal tersinggung dan makin menekan kaum kulit hitam.

The Help kemudian mengalir dengan beberapa fragmen cerita dari masing-masing karakter utama kita seraya Skeeter menyusun bukunya. Dari sana kita ketahui Aibileen, wanita paruh baya yang hidup sendirian sejak putranya meninggal, hanya mengulang rutinitas menjadi pembantu/pengasuh anak bagi majikannya yang dia kasih istilah "anak yang bikin anak", karena Elizabeth, yang dulu juga ia asuh dari kecil, hampir gak pernah benar-benar mengurus putrinya yang masih balita itu. Tadinya dia enggan membantu Skeeter, "yaudahlah" mungkin pikirnya, namun semenjak Hilly membuat pembantu barunya ditangkap atas tuduhan mencuri tanpa proses hukum, Aibileen akhirnya luluh dan bersedia bercerita kepada Skeeter. Kisah yang mungkin lebih menggelitik datang dari Minny, selepas "lancang" sama Hilly, ia kemudian bekerja kepada Celia Foote (Jessica Chastain), wanita ceria yang selama ini dikucilkan dari pergaulan arisan ibu-ibu muda karena penampilannya yang agak terbuka...dan menikah dengan mantan pacar Hilly, sehingga dicap sundal (girls' logic *geleng-geleng*). Celia yang nggak pernah punya pembantu rupanya menjadikan Minny sebagai "joki", bersih-bersih dan masak-masak tanpa sepengetahuan suaminya. Kisah Skeeter pun tak kalah menarik, layaknya simbol wanita modern, ia digambarkan berwatak keras, tidak ingin sama dengan teman-teman sebayanya yang bekeluarga di usia muda, bahkan sampe cuek sama cowok, namun kekerasan hatinya itulah yang kemudian berjasa atas perubahan yang dibawanya ketika buku tentang pramuwisma susunannya diterbitkan, meski efeknya tidak selalu manis.

The Help tidak menitikberatkan kisahnya pada yang berat-berat, apakah soal perjuangan hak, ketidakadilan atau semacamnya. Justru film ini dipresentasikan dengan cukup ringan dan bersahaja, drama lembut nan emosional yang mudah menyentuh banyak kalangan. Mungkin di situ kekurangannya, yaitu permasalahan sosial serius yang ditampilkan terkesan tidak mendalam dan tergolong "ringan" (nggak pake acara dihamili atau disetrika majikan segala, heuheuheu). Memang sepertinya The Help dibuat agar bisa ditonton seluas mungkin, ditampilkan dengan gambar-gambar cerah, drama dan tawa yang seimbang, serta penokohan yang tidak terlalu kompleks—Aibileen, Skeeter dan Minny itu protagonis dan Hilly antagonis—bahkan cenderung terlalu fiksi Hollywood (seperti tokoh emaknya Hilly (Sissy Spacek) yang kok bisa musuhan banget sama anaknya sendiri). Akan tetapi, gw nggak terlalu masalah dengan itu karena ditampilkan dalam porsi yang tidak berlebihan sehingga tidak sampai timbul benih-benih penolakan untuk suka film ini. Sebaliknya, The Help akan mudah disukai, peristiwa-peristiwa berlingkup personal yang ditampilkan terbilang menarik perhatian dan tokoh-tokohnya mudah mengundang simpati (atau benci). Ini tak lepas dari permainan para aktornya, yang menjadi kekuatan utama film ini. Viola Davis tampil luar biasa sebagai seseorang yang memendam begitu banyak perkara dalam hatinya, gestur dan ekspresinya, baik serius maupun tawanya sangat believable dan tulus. Pemain lainnya pun tak kalah berkesan, terutama Emma Stone yang sukes sebagai seorang independent woman, Bryce Dallas Howard yang berhasil jadi nyebelin, dan Octavia Spencer yang berhasil menjadi wanita cablak meski punya kepahitan di rumah tangganya. Jessica Chastain yang tahun 2011 nongol di banyak film, berhasil tampil dengan sifat bertolak belakang dari peran outstanding-nya di The Tree of Life meski setingnya tidak jauh berbeda.

Tokoh prianya memang minim sekali, maka The Help mungkin akan gampang "dituduh" sebagai film cewek, tetapi bukan berarti nggak bagus. Film ini terbilang enjoyable dan menghibur meski temanya agak sensitif dan durasinya lebih dari dua jam, ya terutama karena performa para aktornya itu. Tidak hebat, presentasinya keseluruhannya juga ala drama Hollywood banget, gak terlalu memberi impact gimana gitu, tetapi masih sangat layak simak. Disajikan dengan ringan, film ini memang tidak menyentuh terlalu dalam soal gejolak sosial yang diskriminatif pada setingnya, tetapi setidaknya latar sosial itu ditempatkan dengan cukup signifikan terhadap cerita dan tokohnya. Gw sebagai penontonnya juga merasa mendapat sedikit pengetahuan, misalnya bahwa kecenderungan orang kulit putih selalu menang atas orang kulit hitam secara hukum, serta tekanan (termasuk secara perundang-undangan) yang dialami orang-orang kulit putih yang simpati sama orang kulit hitam, di Amerika loh ini, di wilayah south yang konon masyarakatnya lebih religius. Oh, dan bahwa nama-nama orang di south itu aneh-aneh ya =D.



My score: 7/10

Jumat, 17 Februari 2012

[Album] back number - Superstar


back number - スーパースター (Superstar)
(2011 - Universal Music Japan)

Tracklist:
1. はなびら (Hanabira)
2. スーパースターになったら (Superstar ni nattara)
3. 花束 (Hanataba)
4. 思い出せなくなるその日まで (Omoidasenaku naru sono hi made)
5. あやしいひかり (Ayashii hikari)
6. 半透明人間 (Hantoumei ningen)
7. チェックのワンピース (Check no One Piece)
8. ミスターパーフェクト (Mister Perfect)
9. こぼれ落ちて (Koboreochite)
10. リッツパーティー (Ritz Party)
11. 電車の窓から (Densha no mado kara)
12. 幸せ (Shiawase)


back number adalah band pop-rock Jepang dengan berat bersih tiga orang personel: Iyori Shimizu (vokal+gitar), Kazuya Kojima (bass), dan Hisashi Kurihara (drum)—fyi, ejaan nama ketiga personelnya ini belum bisa dikonfirmasi ya, gw cuma pake jasa kanji-romaji converter online =P. But who are they really? Gw juga baru denger mereka pertama kali pertengahan tahun 2011 lalu ketika single mereka "Hanataba" begitu merenggut perhatian gw sehingga akhirnya menjadi lagu J-Pop terfavorit gw di tahun bersangkutan. Single-single mereka selain itu tidak terlalu menarik perhatian gw, tetapi pada akhirnya gw iseng dengerin album major debut mereka, Superstar. Dan, wow, didn't expect it but albumnya ternyata berisi lagu-lagu enak yang dirangkai dengan oke. Seriously. Padahal gw akui, musik back number itu terdengar biasa saja, tetapi gampang banget membuai dan memunculkan efek "enjoy". Gw sampe berusaha mencari-cari apa yang membuat musik biasa back number ini bisa begitu enak dinikmati.

Sebagaimana disebut tadi, musik back number itu pop rock, rata-rata dalam irama medium dan bertema cinta. This would sounds like some Indonesian bands, doesn't it? Di atas kertas (atau webpage =P) bisa dianggap begitu, sound mereka serupa nuansa dengan band-band pop-rock komersil Indonesia, hanya saja lagu-lagu yang dibawakannya menurut pada "kebiasaan Jepang" yang punya lompatan notasi dan kord yang jelas berbeda—cenderung banyak minor—dengan kebiasaan musisi Indonesia atau bangsa lainnya *sotoy*. "Biasa saja"-nya back number juga terindikasi dari dinginnya sambutan publik Jepang terhadap album ini. Tapi, mungkin salah satu yang menyebabkan gw menikmati album ini adalah: "biasa saja"-nya J-Pop tetaplah menarik di telinga gw, istilahnya "eksotik", hehe. Rasanya gw udah cukup lama tidak mendengar band Jepang yang membawakan lagu-lagu pop melodik dengan musik sederhana yang mudah dicerna serta dengan vokal yang tidak menyebalkan, mengingat industri musik sana udah kepenuhan entah sama produk-produk komersial seperti boyband dan girlband—yang tujuan utamanya jelas bukan supremasi musik, artis-artis dengan musik terlalu kreatif dan berat sehingga kerap sulit dinikmati, artis-artis yang musiknya terlalu ke-Amerika/Eropa-an, atau yang dulunya dikenal dengan musik sederhana dan melodik (seperti Spitz) sudah jarang berkarya. Sebuah kerinduan yang mungkin baru gw sadari ketika akhirnya mendengarkan album Superstar ini. Keistimewaannya justru datang dari kesederhanaannya.

Ke-kurang-sreg-an gw saat mendengar single-single mereka sebelumnya secara terpisah ("Hanabira", "Hanataba", "Omoidasenaku naru sono mae ni") terlesap begitu saja ketika mendengarkan album ini dari awal sampe akhir. Lagu-lagunya sangat ramah di kuping dan ingatan, vokal Iyori Shimizu pun punya appeal tersendiri: vokalnya bundar (atau bahasa muggle-nya: vokal bulat), lembut, mulus, kadang terdengar nelangsa, tetapi tulus, nggak pake suara palsu nan maksa seperti kebanyakan vokalis pop Jepang yang lama kelamaan terdengar annoying (*ehem* *lirik flumpool, remioromen dan sejenisnya* *sorry*). Well, jujur jika didengarkan secara sepotong-sepotong (seperti pada klip preview "Superstar album digest" di bagian akhir postingan ini) maka sepertinya lagu-lagu back number dalam album ini terdengar serupa semua, beda di irama aja. Memang itulah yang jadi kesulitan gw ketika mencoba membedakan satu lagu dengan lagu lainnya dalam album ini, yah karena nadanya gak jauh-jauh dan mirip-mirip...tapi memang enak-enak semua. Gimana bisa? Karena mereka punya cara presentasi yang cerdas.

"Hanabira" ternyata sebuah lagu medium-fast berhias string section bermelodi minor nan catchy yang cukup berenergi sebagai track pembuka. back number pun makin meyakinkan ketika lagu yang lebih cepat berdetak disko "Superstar ni nattara" berkumandang. Track ini seperti semacam mantera, karena lewat lagu ini gw mulai bisa mengira apa sebab lagu-lagu band ini terasa oke meski sebenarnya berformula biasa saja. "Superstar ni nattara" adalah contoh jelas range back number dalam membuat dan mengaransemen lagu mereka: struktur ringkas dan padat, intro yang distinctive, getokan drum yang asik, serta variasi komposisi dalam sebuah lagu. Mungkin yang lebih tau musik bisa lebih jago menjelaskan ini, tetapi sepenangkapan gw, pengaturan atau komposisi kemunculan bunyi/permainan instrumen dan vokalnya berbeda-beda di tiap bagian (intro, verse, pre-chorus, chorus, bridge, interlude dst.) dalam masing-masing lagu, tidak monoton, sehingga nikmat didengar kuping, meski tanpa skill personil yang luar biasa sekali (they're good, though). Nah, sejak itu gw jadi memperhatikan bahwa setiap track setelahnya juga memiliki kekuatan serupa. Contoh lagi adalah track ketiga, love ballad berirama medium "Hanataba" yang titik istimewanya terletak pada verse 1-nya yang cuma ada drum dan bass menemani vokal (diulangi juga di bagian akhir/coda), begitu intim dan dalem—dalam versi berbeda muncul juga di track "Mister Perfect" dan "Densha no mado kara". Track "Mister Perfect" pun agak lain sendiri karena diawali dengan vokal saja menyanyikan bagian chorus (a cappela lah istilahnya) lalu kemudian baru bunyi instrumen muncul perlahan hingga penuh di bagian chorus, quite nice.

Baiklah, cukup dengan penjabaran dari pertanyaan "kenapa bisa enak". Cuman mau menegaskan bahwa gw suka sama album Superstar ini dan cukup untuk meletakkannya di salah satu album favorit gw di tahun 2011. "Hanataba" jelas jadi highlight, namun gw juga punya beberapa track favorit lainnya. Yang langsung jadi favorit kedua adalah track "Densha no mado kara" dengan perpaduan drum lembut dan petikan melodi gitar yang begitu kalem, intim (mengulang kata intim), dan merasuk, melodinya pun indah dan mudah diingat. Lainnya lagi adalah lagu mellow yang dominan gitar akustik "Check no One Piece" (artinya "gaun terusan bermotif kotak-kotak", in case you're wondering),  "Hanabira", serta "Superstar ni nattara" yang asik sekali. Dua track lain yang perlu gw kasih "special mention" karena agak lain adalah "Koboreochite" yang paling ngerock tanpa tanggung-tanggung, serta lagu ceria "Ritz Party" yang melodinya tidak minor sendiri =D. Oh ya, kecerdasan back number dalam album ini bukan hanya soal aransemen lagu satu per satu, namun juga urutan lagu pada albumnya yang membuatnya sangat enjoyable. Antara yang medium, pelan sekali dan cepat disebar dan disusun dengan sangat baik dan tidak menjemukan, kecuali mungkin track penutup "Shiawase", sebuah ballad kesedihan yang content-nya tidak sevariatif track-track lainnya (cuma alat band plus string section yang keras), serta kurang memberi kesan berarti selain bahwa lagu ini paling panjang durasinya. But then again, gw udah telanjur menikmati keseluruhan album ini. Sebuah album pop-rock-biasa yang tetap fresh dan istimewa, "superstar" dengan caranya sendiri *eaaa*.



My score: 7,5/10


back number


Previews

Selasa, 14 Februari 2012

54th GRAMMY AWARDS / 2012


Perhelatan merayakan anugerah industri rekaman yang paling bergengsi di Amerika Serikat, Grammy Awards, yang memasuki penyelenggaraan ke-54 telah usai digelar di Los Angeles, California, 12 Februari 2012 waktu setempat. Telah terbagi puluhan piala berbentuk gramophone emas untuk kerja para pelaku musik dan segenap unsur pendukungnya yang dinyatakan sebagai yang terbaik selama periode setahun ini (tepatnya sih September 2010-September 2011), tapi tentu saja penganugerahan piala yang on air di televisi cuman beberapa saja. Pada penyelenggaraan kali ini ada sedikit perubahan, yang paling kelihatan adalah perampingan kategori "performance" pada setiap bidang musik. Tahun lalu kita masih melihat pembedaan solo pria dan wanita, atau grup dan kolaborasi, kali ini dilebur seminim mungkin, jadi hanya "Best Performance" baik untuk solo maupun grup/kolaborasi, hanya bidang Pop dan Country yang ada pembedaan kategori solo dan grup/kolaborasi. Yah terserah sih, cuman kalo gitu ya jumlah nominenya ditambah kek jangan cuman 5, kasian bener *usulgakpenting*.

Seperti biasa, acara Grammy Awards diisi oleh lebih banyak penampilan para musisi di atas pentas ketimbang pembagian piala. Kali ini cukup ramai karena ada musisi senior legendaris macam Paul McCartney dan Bruce Springsteen, yang muda-muda pun ada seperti Jason Aldean bareng Kelly Clarkson, Chris Brown, Rihanna dan Coldplay, David Guetta dan Deadmou5, Foo Fighters, serta kolaborasi tua muda Alicia Keys-Bonnie Raitt, Maroon 5-Foster The People-The Beach Boys, The Band Perry-Blake Shelton-Glen Campbell, sampe Tony Bennett-Carrie Underwood. Tahun ini keseluruhan tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan tetapi nggak jelek juga. Beberapa penampilan yang paling berkesan buat gw adalah Bruno Mars yang membawakan "Runaway Baby" dalam nuansa soul mengkilap dan koreografi artraktif ala James Brown yang sangat menghibur, yep termasuk split-nya. Adele menyanyikan lagu paling heits 2011, "Rolling In The Deep" dengan sederhana namun penuh energi, apalagi mengingat ini pertama kalinya Adele manggung setelah sempat menjalani operasi radang pita suara di akhir tahun lalu, cadas. Satu lagi yang berkesan adalah duo cowok/cewek yang mengusung musik Folk yang baru gw lihat pertama kali, namanya The Civil Wars (pemenang dua Grammy malam itu) yang begitu powerful walaupun hanya bermodal harmonisasi vokal nan merdu dan tulus serta iringan gitar akustik garang. Meski cuman sebentar, performa lagu berjudul "Barton Hollow", yang konsepnya "sekadar opening act" itu meninggalkan kesan yang lebih daripada "main attraction"-nya, Taylor Swift yang menyanyikan lagunya "Mean" dengan kostumnya yang ndeso. Penampilan-penampilan yang lain cukup oke, tetapi cukup disayangkan juga artis-artis yang tadinya  diharapkan stunning seperti Katy Perry atau kolaborasi Coldplay dan Rihanna malah jatuhnya biasa saja, atau Nicky Minaj yang terkesan trying-too-hard.

Ho iya, acara Grammy tahun ini mendadak sendu karena tepat sehari sebelumnya, salah satu penyanyi pop wanita terbaik dunia pemenang Grammy berulang kali, Whitney Houston ditemukan meninggal dunia. Beberapa momen di acara ini didedikasikan pada Whitney, seperti doa berjamaah yang dipimpin oleh sang MC, LL Cool J, serta tepat setelah segmen "In Memoriam", pemenang Grammy (dan Oscar) Jennifer Hudson menyanyikan "I Will Always Love You" yang merupakan salah satu biggest hits-nya Whitney Houston untuk mengenang beliau. Eh ada juga beberapa momen menarik saat pidato penganugerahan, semisal Foo Fighters yang komentar soal "musisi yang bener itu nggak tergantung sama mesin komputer" (or something like that) saat menerima Grammy untuk "Best Rock Performance", dan juga Justin Vernon/Bon Iver yang ngaku "nggak enak" ketika menerima Grammy untuk "Best New Artist", karena merasa masih terlalu banyak musisi berbakat di luar sana yang luput dari pandangan Grammy dan panggungnya (well-said, sir). 

Grammy tahun ini adalah milik Adele, karena dari semua kategori yang menominasikan karyanya, menang semua, total ada enam, termasuk yang paling prestisius "Album", "Record", dan "Song of the Year", disusul oleh Foo Fighters yang juga menyapu bersih seluruh 4 kategori di bidang Rock plus kategori "Best Long Form Music Video" untuk DVD mereka, demikian juga Kanye West yang menang "Best Rap Album" plus keseret menang di 3 sisa kategori bidang Rap yang melibatkan namanya. Cukup memuaskan kan?


Berikut beberapa pemenangnya:

Album of the Year: 21 / Adele
Record of the Year: "Rolling In The Deep" / Adele
Song of the Year: "Rolling In The Deep" / Adele
Best New Artist: Bon Iver

Best Pop Vocal Album: 21 / Adele
Best Pop Solo Performance: "Someone Like You" / Adele
Best Pop Duo/Group Performance: "Body And Soul" / Tony Bennett & Amy Winehouse
Best Traditional Pop Vocal Album: Duets II / Tony Bennett & Various Artists
Best Pop Instrumental Album: The Road From Memphis / Booker T. Jones

Best Dance Recording: "Scary Monsters And Nice Sprites" / Skrillex
Best Dance/Electronica Album: Scary Monsters And Nice Sprites / Skrillex

Best Rock Album: Wasting Light / Foo Fighters
Best Rock Song: "Walk" / Foo Fighters
Best Rock Performance: "Walk" / Foo Fighters
Best Hard Rock/Metal Performance: "White Limo" / Foo Fighters

Best Alternative Music Album: Bon Iver / Bon Iver

Best R&B Album: F.A.M.E. / Chris Brown
Best R&B Song: "Fool For You" / Cee Lo Green & Melanie Fiona
Best R&B Performance: "Is This Love" / Corinne Bailey Rae
Best Traditional R&B Performance: "Fool For You" / Cee Lo Green & Melanie Fiona

Best Rap Album: My Beautiful Dark Twisted Fantasy / Kanye West
Best Rap Song: "All Of The Lights" / Kanye West, Rihanna, Kid Cudi & Fergie
Best Rap Performance: "Otis" / Jay-Z & Kanye West
Best Rap/Sung Collaboration: "All Of The Lights" / Kanye West, Rihanna, Kid Cudi & Fergie

Best Country Album: Own The Night / Lady Antebellum
Best Country Song: "Mean" / Taylor Swift
Best Country Solo Performance: "Mean" / Taylor Swift
Best Country Duo/Group Performance: "Barton Hollow" / The Civil Wars

Best Compilation Soundtrack Album For Visual Media: Broadwalk Empire: Volume 1 / Various Artists
Best Score Soundtrack Album For Visual Media: The King's Speech
Best Song Written For Visual Media: "I See The Light" (Tangled)

Best Short Form Music Video: "Rolling In The Deep" / Adele
Best Long Form Music Video: Foo Fighters: Back & Forth / Foo Fighters

Producer of the Year, Non-Classical: Paul Epworth
(for Adele [tracks I'll Be Waiting, Rolling In The Deep]; Cee Lo Green [single No One's Gonna Love You]; Foster The People [tracks Call It Want You Want, I Would Do Anything For You, Life On The Nickel])

complete winners @ grammy.com

Sabtu, 11 Februari 2012

QUIZ WINNERS: Ajirenji Mindstream Reviews 3rd Anniversary

Yuhu...sudah saatnya gw mengumumkan siapa saja 3 orang yang telah beruntung untuk mendapatkan masing-masing sebuah DVD film dari koleksi gw, yaitu A Scanner Darkly, Be Kind Rewind dan The Hangover dalam rangka ulang tahun blog Ajirenji ini 26 Januari yang lalu. Jadi bagi yang sudah merasa mengirimkan e-mail untuk mendapatkan salah satu dari DVD tersebut, mari menyimak. Dan, setelah diadakan pengocokan tanpa satu pun unsur kongkalikong atau jampe-jampe (not by me at least), pemenangnya adalah:





A SCANNER DARKLY


Pemenang DVD A Scanner Darkly, film tahun 2006 yang diarahkan Richard Linklater dan dibintangi Keanu Reeves, Winona Ryder, Robert Downey Jr. dan Woody Harrelson ini adalah:

R. AKBARSYAH di Bogor, Jawa Barat.

Selamat ya =).


A Scanner Darkly (Vision Interprima Pictures): 
1 disc; region 3; single-sided dual layer disc; NTSC; anamorphic widescreen; 
100 minutes; audio English and Thai (Dolby Digital 5.1); 
subtitles English, Chinese, Thai, Korean, Indonesian
bonus features (Commentary by Keanu Reeves, Writer/Director Richard Linklater, 
Producer Tommy Palotta, Author Jonathan Lethem and 
Philip K. Dick's daughter Isa Dick Hackett; 
One Summer in Austin: The Story of Filming A Scanner Darkly; 
The Weight of the Line: Animation Tales; Theatrical Trailer)





BE KIND REWIND


Pemenang DVD Be Kind Rewind, film tahun 2008 yang diarahkan Michel Gondry dan dibintangi Jack Black, Mos Def, Danny Glover dan Mia Farrow ini adalah:

ANGGA CAESAR F. di Surabaya, Jawa Timur

Yeay, congrats =)


Be Kind Rewind (Prime Movie Entertainment): 
1 disc; region 0; single layer disc; NTSC; anamorphic widescren; 96 minutes; 
audio English (Dolby Digital 5.1); subtitles English, Indonesian.





THE HANGOVER


Nah ini dia hadiah paling favorit =). Pemenang DVD The Hangover, film tahun 2009 yang diarahkan Todd Phillips dan dibintangi Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, dan Heather Graham ini adalah:

SANDRA EKA RISTIANJANI di Jakarta

Boleh tepuk tangannya =D....


The Hangover (Vision Interprima Pictures): 
1 disc; region 3; single-sided dual layer disc; NTSC; anamorphic widescreen; 
100 minutes; audio English and Thai (Dolby Digital 5.1); 
subtitles English, Thai, Korean, Indonesian, Cantonese, Chinese; 
bonus feature (Map of destruction; Three best friends song; Gag reel)




Selamat sekali lagi untuk ketiga pemenang. Hadiah akan segera saya kirim melalui jasa kurir JNE, mudah-mudahan dapat sampai ke tempat Anda masing-masing dengan selamat dan tidak kekurangan sesuatu apapun.

Terima kasih dan tetep mampir ya ke blog ini =).

[Movie] Haywire (2012)


Haywire
(2012 - Relativity Media)

Directed by Steven Soderbergh
Written by Lem Dobbs
Produced by Gregory Jacobs
Cast: Gina Carano, Ewan McGregor, Channing Tatum, Michael Angarano, Michael Douglas, Antonio Banderas, Bill Paxton, Michael Fassbender, Mathieu Kassovitz, Anthony Brandon Wong


Steven Soderbergh akhir-akhir ini menarik perhatian gw. Beliau ini sutradara produktif yang agak unik karena berani membuat berbagai jenis film dengan gayanya sendiri. Dari yang normal-normal saja dan disokong studio besar seperti Erin Brockovich dan Ocean's Eleven, hingga produksi independen seperti drama berat Traffic dan Che, bahkan pernah mengajak bintang porno Sasha Grey untuk main di film The Girlfriend Experience...yang, sorry guys, bukan film porno. Setelah terakhir mengingatkan orang banyak untuk rajin cuci tangan di Contagion, Soderbergh yang pernah memenangkan penghargaan sutradara terbaik di dua perhelatan paling bergengsi, festival film internasional Cannes dan Oscar ini kembali lagi ke jalur indie dengan membuat film aksi silat pertamanya, Haywire. Mengajak bintang-bintang terkenal—yang sepertinya mudah sekali dilakukan Soderbergh, tokoh utama Haywire justru seorang mantan atlet Muay Thai dan mixed-martial arts yang minim pengalaman akting.

Well you know story, lumayan tipikal. Soal seseorang agen/mata-mata/apapunitu yang dituduh melakukan kejahatan dan kemudian berusaha membalas dendam, membersihkan nama, sekaligus mengungkap pihak dibalik fitnah yang menimpanya. Jadi ada seorang perempuan tangguh bernama Mallory (Gina Carano), bekerja untuk sebuah agensi spionase swasta yang dikelola Kenneth (Ewan McGregor) yang sering dikontak pemerintah dalam melaksanakan misi hitam. Seusai sukses menyelamatkan seorang wartawan bernama Jiang (Anthony Brandon Wong) di Barcelona atas permintaan politisi Spanyol, Rodrigo (Antonio Banderas), Mallory mencium ada gelagat aneh berkaitan dengan misi terakhirnya itu ketika menjalani sebuah misi sederhana di Dublin, apalagi ia diserang oleh partner misinya sendiri, Paul (Michael Fassbender). Mallory tahu betul bahwa ada yang tidak beres, sehingga berusaha menghindari berbagai penangkapan, pulang ke Amerika, dan membongkar konspirasi dibalik usaha pelenyapan dirinya itu.

Tahan dulu, perlu diingatkan bahwa meskipun konsepnya adalah "film silat", Haywire tetap filmnya Soderbergh, yang suka membuat film yang konsepnya biasa jadi agak "menyimpang" dari kebiasaan, seperti membuat kasus nyata kejahatan korporat menjadi komedi satir di The Informant! dan film tentang perampokan menjadi bergaya dan berkarakter lewat Ocean's Eleven. Jika banyak yang berharap Haywire adalah film nonstop action seperti trilogi Bourne atau Salt, well sorry, Soderbergh dan penulis naskah Lem Dobbs kali ini lebih sering bermain-main dengan yang namanya kewaspadaan. Kita akan melihat bahwa penceritaan Haywire agak lamban, detil dan sunyi, namun gw sendiri cukup memaklumi kelambanan itu, tetap beralasan, they're actually up to something, dan menimbulkan efek ketegangan, paling terasa ketika di kamar hotel Dublin. Toh kalo dipikir-pikir kesunyian justru deskripsi paling dekat dan tepat untuk bidang spionase. Kita bahkan menyaksikan adegan ambush di bagian awal film dengan suara yang diredam (quite stylish though). Namun, kejenuhan mungkin nggak bisa terhindar akibat cara seperti ini, gw juga merasakannya. Ada satu yang lucu, film yang plotnya agak basic dan karakterisasi dangkal (sebagaimana kebanyakan film genre ini, hehe) ini seperti "memanjakan" penonton dengan memberikan penjelasan plot, yaitu dengan adanya tokoh Scott (Michael Angarano) yang dijadikan "pengganti" penonton untuk mendengar cerita Mallory, bahkan sampe disuruh ngapalin nama-nama tokoh yang disebut Mallory (=D), juga dalam cara pengungkapan konspirasi di akhir film yang caranya jelas dan sederhana sekali. Film ini sama sekali tidak bepura-pura jadi film pintar.

Tetapi jangan salah, ketika sampai pada bagian laga, Haywire benar-benar menampilkannya dengan maksimal. Adegan-adegan kelahinya, busyet, kayak beneran sih. Keras, brutal, riil, nggak banyak gaya (kelihatan dari gestur tubuh saat menerima serangan yang bikin teriak "anjrit!"). Wow, meskipun gaya penceritaannya gak kayak film aksi-silat biasa, bagian aksinya justru sangat istimewa, orisinil, keren, ditampilkan dengan jelas, real time tanpa slow-motion, dan editing yang tidak berlebihan, menunjukkan "keindahan" sebuah pertarungan dengan baik. Kerja stunt dan tata gambar yang sangat apik dan patut diapresiasi tinggi. Penantian akan kemunculan adegan-adegan aksi inilah yang membuat gw tetap bertahan di tengah lambannya laju plot yang ditampilkan. Menurut gw Soderbergh sudah memperlakukan genre martial arts-action dengan baik di sini, meski agak tidak biasa tetapi Haywire punya cerita yang jelas dan adegan aksi yang "sadeis" nian, plus gambar-gambar yang artistik dan bintang-bintang kelas wahid.

Permainan Gina Carano tidaklah mengecewakan, ia berhasil membawakan sosok tangguh dengan baik di tengah-tengah aktor kawakan, setidaknya kemampuannya terlihat selevel sama Channing Tatum (eh, gimana maksudnya? =P). Ketangguhannya juga menjadi daya tarik tersendiri dari film ini. Memang, untuk sebuah film aksi produksi Hollywood dengan taburan bintang dan sutradara ternama, serta seting elegan di Amerika dan Eropa, Haywire nampak kurang exciting, terlihat terlalu "indie" dengan kesunyian, cakupan minimal dan kurangnya hingar bingar—dan kalo boleh gw menyalahkan, musiknya tuh standar banget deh. Akan tetapi Haywire bukanlah film buruk apalagi gagal, bukan pula perusak reputasi Soderbergh ataupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. Film ini keren, nggak berat, cuman mungkin tidak terlalu memuaskan segitunya amat. Dan setidaknya seting pertarungan klimaksnya bukan di pabrik terbengkalai =P.



My score: 7/10

[Movie] One Day (2011)


One Day
(2011 - Focus Features/Random House Films)

Directed by Lone Scherfig
Screenplay by David Nicholls
Based on the novel by David Nicholls
Produced by Nina Jacobson
Cast: Anne Hathaway, Jim Sturgess, Rafe Spall, Patricia Clarkson, Ken Stott, Romola Garai, Tom Mison


Membuat sebuah film romantika itu susah-susah gampang. Gampang, karena sedangkal apapun kisah kasih yang ditampilkan pasti ada saja dari kalangan penonton yang akan merasakan "ini film kok gw banget" terlepas dari benar-benar suka filmnya atau tidak, boro-boro soal kualitas sinematiknya. Susah, karena membuat kisah cinta yang benar-benar baru itu hampir tidak mungkin, toh romansa 'kan begitu-begitu doang, soal pertemuan dua orang atau lebih yang saling mencinta kemudian akhirnya antara jadian dan bahagia atau berpisah dalam patah hati dan tragedi, that's it, nggak ada alternatif lain. Yang dibutuhkan agar kisah cinta, yang diceritakan berulang-ulang dalam bentuk karya seni umat manusia sejak dahulu kala, menjadi tetap "baru" dan nggak basi adalah cara penyampaiannya. Buat gw konsep One Day ini menyegarkan, kisahnya sih soal lika-liku percintaan sepasang pria dan wanita, nothing new, namun yang diceritakan pada audiens hanya satu hari di setiap tahun selama 20 tahun hubungan mereka.

Satu hari itu adalah 15 Juli. 15 Juli 1988 di Edinburgh, Emma (Anne Hathaway) dan Dexter (Jim Sturgess) baru saja pulang pagi sehabis pesta kelulusan mereka dari kuliah. Agak mabuk, Emma dan Dexter yang semasa kuliah nggak kenal-kenal amat ini berencana untuk melakukan hubungan eng-ing-eng, etapi nggak jadi, udah kesiangan kali, entahlah pokoknya mereka memutuskan jadi temen aja. 15 Juli tahun-tahun berikutnya kita melihat perkembangan kehidupan dua insan ini serta tentu saja hubungan keduanya. Mereka semakin akrab dan sangat sehati, soulmate lah, tetapi mereka selalu menghindari, atau membuat rintangan sendiri, agar tidak menjadi pasangan kekasih. Emma memulai kehidupan pascakuliah dari bawah namun pelan-pelan dapat mewujudkan impiannya menjadi penulis sastra. Dexter yang lebih outgoing memulai karirnya di dunia broadcasting dengan cemerlang, namun kemudian terjerumus dalam kehidupan tak sehat. Akan tetapi, Emma dan Dexter selalu saling memiliki dalam keadaan apapun itu, bahkan ketika mereka sudah punya pasangan masing-masing. Tapi sampe kapan mau begitu terus?

Jika dilihat dari segi cerita, ya kita bisa tebaklah formula dasar kisah romansa di sini: cewek-cowok itu nggak mungkin murni sahabatan (although this is still arguable in real life, konon lho). Kenapa sih mereka nggak jadian aja dari kapan tau? Ribet dan bikin gregetan adalah yang bisa gw ekspresikan untuk jalan ceritanya, sama gregetannya mendengar Anne Hathaway yang harusnya jadi orang Inggris tapi logat British-nya cuman kadang-kadang (mempunyai nama sama dengan istri William Shakespeare rupanya nggak menjamin kemampuan berlogat Inggris *gaknyambungjugasih*). Tetapi biarkanlah begitu, mungkin ini semacam gambaran istilah "it's complicated", sama-sama cinta, tahu, dan mau, tapi "takut merusak persahabatan", terserahlah...atau mungkin itu efek yang diinginkan dari pembuat filmnya? Jangan-jangan pembuat filmnya ingin penonton mem-"bego-bego"-in Emma dan Dexter, sehingga efek pada peristiwa-peristiwa besar di beberapa tahun terakhir menjadi besar pula efeknya? Jika memang demikian, berarti One Day cukup berhasil, setidaknya menurut gw.

Di luar itu, gw sebenarnya lebih tertarik pada struktur penceritaannya yang hanya menampilkan tanggal 15 Juli saja dari 1988 hingga 2011, yang katanya sih mengikuti struktur dalam novelnya. Struktur seperti ini yang membuat One Day berbeda dari roman kebanyakan. Penonton disuruh meraba gambaran keadaan Emma dan Dexter dalam satu hari setiap tahunnya, yang lumayan efektif. Yang lebih menarik adalah cara film ini tidak memaksakan setiap tanggal 15 Juli harus ada peristiwa besar nan dramatis. Ada kalanya seharian kita melihat Emma dan Dexter cukup intens dan lama, ada kalanya kita melihat mereka di tempat terpisah bahkan tak terhubung telepon, ada pula tahun yang dibuat sangat singkat atau seperti dilongkap, sebuah cara pengisahan yang unik. Setidaknya film ini terbebas dari kesan nggak natural atau dibikin-bikin, nggak kayak tiap episode serial "24" setelah musim pertama =P, dan sutradara Lone Scherfig membuatnya cukup enak diikuti. "Cukup" karena gaya sutradara wanita yang angkat nama lewat An Education (2009) ini memang lembut, subtle, dan tidak meledak-ledak, sehingga dalam sudut pandang lain pasti ada saja yang menganggap film ini menjemukan. 

Tak hanya itu, menampilkan sekitar 20 babak dalam satu film berdurasi 100-an menit memunculkan resiko yang tak terhindarkan, yaitu kurangnya greget emosi. Waktu yang berjalan cukup ringkas memang kurang bisa memfasilitasi kedalaman karakter Emma dan Dexter, hubungan mereka, perubahan yang mereka alami, apalagi tokoh-tokoh lainnya, seperti Ian (Rafe Spall) pacarnya Emma, orang tua Dexter (Patricia Clarkson dan Ken Stott) atau Sylvie (Romola Garai) istri MBA-nya Dexter. Gw nggak merasakan peliknya permasalahan Emma dan Ian waktu mereka putus, ataupun kesedihan Dexter setelah meninggalnya sang bunda karena kanker. Tapi selama gw bisa paham the big picture, gw sih nggak masalah sama segi itu (gw blum baca novelnya loh, well gw emang gak baca novel apapun sih =P). Toh para aktornya bermain dengan cukup baik, ini tentu saja lagi-lagi jika mengabaikan logat Anne Hathaway =P. One Day adalah film yang cukup enjoyable, pengisahannya menarik, gambarnya pun enak dilihat baik dari sinematografi maupun sisi artistik yang mungkin riweuh juga ya dalam menampilkan perubahan zaman dengan sebaik mungkin di setiap babaknya. It's pretty good dan akan cukup mudah diingat karena beberapa hal tersebut, sayangnya bukan karena kadar ke-"menyentuh"-annya. Eh, tapi cara penutupannya cakep lho =).



My score: 7/10

Selasa, 07 Februari 2012

[Movie] Chronicle (2012)


Chronicle
(2012 - 20th Century Fox)

Directed by Josh Trank
Story by Josh Trank, Max Landis
Screenplay by Max Landis
Produced by Adam Schroeder, John Davis
Cast: Dane DeHaan, Alex Russell, Michael B. Jordan, Michael Kelly, Ashley Hinshaw


Awalnya gw memandang Chronicle sekadar sebagai film pengisi awal tahun yang "lucu juga". Film ini bisa dibilang tidak orisinil kalau dijabarkan satu-satu. Film tentang asal mula manusia-manusia biasa yang memperoleh kekuatan super adalah lumrah dalam kisah-kisah superhero komik, pun pernah diangkat serial Heroes. Gaya penceritaan dan gambar ala dokumenter atau istilahnya mockumentary, khususnya yang seakan berupa found-footage atau (pura-puranya) direkam amatir lewat kamera tangan oleh tokohnya langsung tanpa diedit, semakin kemari juga semakin sering dilakukan sejak kesuksesan horor The Blair Witch Project atau Paranormal Activity hingga sci fi Cloverfield. Soal remaja zero to hero juga terlalu sering wara-wiri di film dan televisi produksi Amerika. Nah, Chronicle merangkum semua itu menjadi sebuah konsep "remaja-remaja biasa yang memperoleh kekuatan super dengan gaya found-footage". Now that's kinda new.

Kamera kebanyakan "dipegang" oleh Andrew Detmer (Dane DeHaan, bukan Leonardo DiCaprio), seorang anak SMA introvert yang ibunya sakit keras, ayahnya pensiunan ringan tangan tak beruang, dianya sendiri digencet juga di sekolah. Teman sekolah terdekatnya adalah Matt (Alex Russell), sepupunya sendiri yang penggemar filsafat, itu juga sebatas sering pergi-pulang sekolah bareng. Suatu malam di tengah-tengah pesta di lahan terbengkalai, Matt dan Steve (Michael B. Jordan, jangan ilangin B.-nya) si siswa populer memaksa Andrew dan kameranya merekam mereka masuk ke sebuah lubang misterius di tengah-tengah hutan, yang ternyata di dalamnya ada sebuah benda besar serupa kristal yang menyala-nyala. Sekian waktu kemudian Andrew, Matt dan Steve memulai dokumentasi apa yang terjadi pada mereka selepas kejadian itu: mereka bisa mengendalikan benda tanpa kontak fisik. Kemampuan misterius itu pun semakin berkembang, tadinya sih buat iseng-iseng aja ngerjain orang-orang (biasa lah anak muda), mulai dari nyusun Lego sampe mindahin posisi parkir sebuah mobil, tetapi kekuatan itu akhirnya bisa sampai pada level membuat diri mereka terbang bebas di angkasa. Namun semakin besar kemampuan mereka, apakah diimbangi dengan kesiapan diri atas konsekuensinya?

Chronicle rupanya membuat hal-hal yang tidak orisinil yang gw singgung di awal tadi menjadi sebuah tontonan yang segar dan menghibur. Model penyampaian ala found footage-nya tidaklah memusingkan, bahkan cukup cermat. Gambar-gambar tidak hanya diambil dari kamera milik Andrew, tetapi kamera lain yang disekitarnya pun "digunakan" agar memperjelas ceritanya, seperti CCTV, kamera handphone, kamera mobil/helikopter polisi, ataupun handycam milik orang lain. Malah asiknya, karena ceritanya Andrew bisa ngangkat/mindahin barang pake pikiran, kameranya juga sering dipakai lepas dari tangannya, sering melayang-layang berkeliling kesana kemari dengan mulus menjauhi Andrew dkk, clever =D. Namun, mungkin yang paling membuat Chronicle enjoyable adalah caranya dalam membawakan kisah dengan ide "fantastis" tetap membumi dan sehari-hari saja, dengan situasi dan perilaku serta becandaan karakter-karakter yang dekat dengan kalangan anak-anak muda di dunia nyata. Tentu saja "kesan riil" menjadi kunci keberhasilan utama film dengan teknik semacam ini, dan Chronicle no doubt memilikinya. Ini juga tak lepas dari permainan oke dari para aktornya yang umumnya tidak dikenal. Kenikmatan mengikuti cerita didukung lagi oleh sektor efek visual yang halus dan efektif nan mumpuni. Mungkin tidak mewah, namun tidak ada kesan pamer atau terlalu kliatan bohongnya, semuanya menyatu dengan solid dan believable. Adegan klimaksnya yang heboh pun dieksekusi dengan baik dan mengagumkan.

Chronicle mungkin masih menyisakan banyak pertanyaan, pun ada beberapa bagian, entah dialog yang agak generik atau adegan yang masih kurang sreg di gw (adegan-adegan Andrew bertengkar ama bapaknya (Michael Kelly) agak maksa untuk dikesankan direkam di kamera secara alamiah), namun film ini keseluruhannya adalah tontonan yang asyik. Hal-hal klise tentang anak remaja, lengkap dengan tema kekerasan rumah tangga atau sekolah dan sedikit romansa, ditambah isu kemampuan tidak-biasa (dan pesan moralnya) menjadi tetap lezat disantap karena disajikan dalam gaya berbeda dan tidak kedodoran. Sederhana, tidak berlebihan, enak diikuti dan dilihat. Rasanya itu cukup untuk menjadikan Chronicle sebagai film yang sangat patut ditonton di awal tahun ini. Oh, betapa respek saya berlipat-lipat ketika tahu sutradara dan penulisnya menjadikan film ini debut film panjang layar lebar mereka, dan mereka berdua baru berusia seperempat abad saja! Promising.



My score: 7,5/10