Minggu, 29 Januari 2012

[Movie] Midnight in Paris (2011)


Midnight in Paris
(2011 - Sony Pictures Classics/Mediapro/Gravier Productions/Versátil Cinema)

Written and Directed by Woody Allen
Produced by Letty Aronson, Stephen Tenenbaum, Jaume Roures
Cast: Owen Wilson, Rachel McAdams, Marion Cotillard, Kathy Bates, Michael Sheen, Carla Bruni, Corey Stoll, Tom Hiddleston, Alison Pill, Adrien Brody, Kurt Fuller, Mimi Kennedy, Nina Arianda, Léa Seydoux


Midnight in Paris menandai judul kedua garapan aktor/sutradara/penulis naskah veteran Hollywood, Woody Allen yang gw tonton setelah Vicky Cristina Barcelona (2008). Kesamaan unsur cerita orang Amerika yang "berkelana" ke sebuah kota Eropa (banyak sekali shot pemandangan kota yang bikin sirik penontonnya yang jadi pingin ke sana) sedikit banyak membuat gw mau nggak mau membandingkan film ini dengan Barcelona. Benar saja, sebagian besar gw merasakan persamaan, entah itu dari tone gambar, dialog mengalir yang santai tapi "cerewet", hingga esensi konflik seseorang yang selangkah lagi menuju kemapanan tetapi menemui keraguan pada perjalanannya di kota asing. Namun tentu saja keduanya adalah film yang berbeda. Midnight in Paris membawa karakternya pada pengalaman aneh bin ajaib dalam menemukan jawaban atas kebimbangannya.

Gil Pender (Owen Wilson) seorang penulis naskah film-film Hollywood yang sedang berusaha menulis novel perdananya tengah berlibur di Paris bersama tunangannya Inez (Rachel McAdams) sekaligus menemani orang tua Inez (Kurt Fuller & Mimi Kennedy) yang sedang dalam bussiness trip. Benih-benih kebimbangan muncul karena perbedaan keinginan Gil dan Inez: Gil mulai mempertimbangkan ide pindah dan menetap di Paris, yang baginya adalah kota penuh inspirasi, sedangkan Inez yang setelah menikah ingin hidup normal makmur sejahtera di Amerika sebagaimana ia sekarang menganggap ide Gil itu non-sense dan tak serius. Lalu pada suatu ketika Gil nyasar sendirian tengah malam, ia tiba-tiba diajak naik sekelompok orang lokal berpakaian kuno ke mobil yang kuno juga, hingga dibawa ke semacam klub malam bernuansa kuno dimana ia bertemu dengan Zelda (Alison Pill) dan suaminya F. Scott Fitzgerald (Tom Hiddleston), yang kemudian mempertemukannya dengan Ernest Hemingway (Corey Stoll). Ya, legenda-legenda literatur Amerika yang (harusnya) hidup tahun 1920-an in persons, dan kesemuanya adalah idola Gil. Malam-malam berikutnya Gil coba mengulangi pengalaman yang sama, dan tak hanya bertemu lagi dengan Hemingway, tetapi juga dengan kritikus seni legendaris Gertrude Stein (Kathy Bates), pelukis Pablo Picasso (Marcial Di Fonzo Bo), perupa surealis Spanyol Salvador Dalí (Adrien Brody) dan ikon-ikon seni lainnya dari era favorit Gil itu.

Gil dan penonton tentu bertanya-tanya penjelasan tentang peristiwa ajaib ini. Apakah perputaran waktu? Ataukah dimensi mistis (pemikiran Indonesia sekali)? Entahlah, rasanya itu juga nggak sepenting bahwa pengalaman ini justru memotivasi dan membuka wawasan Gil dalam penulisan novelnya, apalagi draft novelnya bisa dibaca oleh Gertrude Stein langsung. Mungkin rasanya seperti musisi-musisi masa kini yang tiba-tiba bisa bertemu dan demo musiknya diperdengarkan pada John Lennon. Tak hanya itu, dalam "alam lain" itu Gil bertemu dengan Adriana (Marion Cotillard, ini sih murni fiksi karakternya), seorang wanita cantik nan menawan (of course lah, Marion Cotillard gituh) peminat fashion yang, kalau meminjam istilah Gil, membawa sebutan "groupie" ke level berbeda, karena dia pernah menjadi kekasih gelap seniman-seniman ternama termasuk Picasso. Gil dan Adriana merasa saling cocok karena memiliki pemikiran agak sejalan, bahwa masa yang mereka sedang jalani sekarang tidaklah seindah "masa keemasan" yang lalu: Gil yang dari tahun 2000-an mengagumi Lost Generation di dekade 1920-an (semasa Perang Dunia I *nyontek Wiki*), Adriana yang (kira-kira) dari era 1920-an mengagumi era yang disebut Belle Époque di akhir abad ke-19 yang lebih glamor. Kecocokan itu pun berkembang jadi ketertarikan, apalagi itu sangat kontras dengan hubungan Gil dan Inez di "dunia nyata" yang lama-lama makin sering berselisih, diperparah oleh kemunculan Paul (Michael Sheen), teman Inez yang seorang intelektual angkuh namun selalu dipuja-puji Inez.

Dengan rentetan dialog yang seakan tanpa henti, dan kemunculan tokoh-tokoh sejarah seni, mungkin dengan gampang film ini dicap sebagai film bersegmen terbatas. Bagaimana tidak, kelompok penonton yang tidak punya bekal sejarah seni dan kesusastraan yang cukup pasti akan heran apa keistimewaan dari berkumpulnya tokoh-tokoh masa lalu itu...contohnya gw, hehe. Sedangkan kelompok penonton lain yang lebih melek begituan, mungkin akan kegirangan melihat penggambaran tokoh-tokoh ini yang dimainkan dengan luar biasa oleh para aktor di dalamnya. Gw sendiri akhirnya mencari jalan lain dalam menikmati film ini, yaitu kisah romansa dan pencarian jati diri yang disajikan natural dan jenaka (mungkin) khas Woody Allen. Alihkanlah fokus pada Gil yang lumayan idealis dan apa adanya ini yang terjebak antara kisah cinta "dunia nyata" yang grafiknya menurun, dengan kisah cinta baru di "dunia nostalgia" yang absurd itu, dan bagaimana ia me-manage keduanya. Lihat pula inti kegelisahan Gil dan Adriana yang merasa tidak puas dengan zaman mereka dan berharap bisa "escape" ke periode yang mereka anggap the best period, yah layaknya para penghuni 9gag.com yang menganggap 1990-an itu periode lebih baik daripada zaman sekarang yang "banyak sampah" di TV, huehehe. But like everyone should've known, kita nggak bisa terus-terusan terjebak di nostalgia masa lalu...tetapi bukan berarti kita pasrah saja pada masa kini dan masa depan. Decide.

Midnight in Paris secara keseluruhan adalah tontonan yang terkemas ringan, menyenangkan, nggak berlama-lama, mengalir, sederhana (segi teknis atau production value-nya tidak tampak mewah, toh kota Paris sudah mewah dengan sendirinya), serta dipenuhi oleh aktor-aktor yang berperan dengan kualitas mumpuni--ho-oh, termasuk Owen Wilson yang tanpa beban. Namun dibalik itu semua tersimpan sebuah pemikiran dan perenungan soal eksistensi yang agak berat juga, yang membuatnya nggak se-enjoyable Vicky Cristina Barcelona yang lebih ringan dan lebih menitikberatkan pada relationship. Still, film ini sama sekali tidak jelek, idenya segar, berisi, dan ngalor-ngidul-nya nggak sembarangan (heh?). Mungkin gw masih perlu banyak baca lagi kali yah untuk bisa benar-benar enjoy Midnight in Paris. Atau mungkin perlu langsung ke Paris =P.


My score: 7/10

Kamis, 26 Januari 2012

AJIRENJI MINDSTREAM REVIEWS 3RD ANNIVERSARY + QUIZ


IT'S THE 3RD ANNIVERSARY!

Sungguh senaaang rasanya ternyata blog Ajirenji Mindstream Reviews bisa bertahan hingga 3 tahun tepat pada hari ini. Meskipun nggak rajin-rajin amat, gw sebenarnya nggak nyangka bisa terus menghidupkan blog iseng ini sampai sekarang, belum bosen tuh =). Mungkin karena dilakukan dengan santai, sukarela dan senang hati tanpa paksaan dan tekanan kali ya jadi bisa bertahan *sok ngasih tips*. Sedikit mengingat setahun belakangan ini, selain tetap berusaha update ulasan film yang gw tonton dan album yang gw dengar, salah satu highlight pada tahun ke-3 kemarin adalah postingan Top 100 Films of 2000's yang cukup menguras energi dan emosi *lapkeringetpakehandukGoodMorning*, pun di saat yang sama gw pertama kalinya "berinteraksi riil" dengan pembaca melalui kuis berhadiah yang thank God yes berjalan dengan lancar tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Gw tentu saja masih (sangat) berharap blog Ajirenji ini akan terus aktif hingga tahun-tahun berikutnya. Blog ini adalah sarana berpendapat yang gw sayangi *peluk*, dan mudah-mudahan nggak akan gw telantarkan di kemudian hari. Amin. Gw sudah ada beberapa rencana postingan yang akan hadir di tahun keempat, semisal senarai lagu-lagu dekade 90-an favorit, dan...emm...errr...ya....lain-lain *sebetulnya belum nemu =P*. Ditunggu yah.

BTW, gw bersyukur juga bahwa selama 3 tahun (hingga 26 Januari 2012 pukul 00:00) blog ini telah diakses 55.557 kali =). Whoa, buat gw itu angka yang besar apalagi ini cuman blog kecil tidak terlalu serius yang kadang kontennya nggak jelas =D. Yah apapun itu, melalui postingan ini gw juga ingin menghaturkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peminat dan pembaca blog ini, baik yang mampir dengan sengaja ataupun nyasar *hehehe*. Akses dan komentar kalian benar-benar jadi penyemangat gw dalam menulis dan memposting. Ganbarimasu.



QUIZ
Nah, sebagai salah satu wujud terima kasih gw, dan juga masih dalam rangka penertiban koleksi DVD gw (sebenernya ini sih yang utama, hahaha *getok*), gw akan membagikan 3 DVD resmi dari koleksi gw bagi siapa saja yang mau. Lumayan 'kan? =) Baiklah, ketiga DVD resmi yang akan gw bagikan adalah A Scanner Darkly, Be Kind Rewind dan The Hangover, seperti terlihat di bawah ini:

siapa mau?

Gw jamin ketiganya, meski sudah tidak perawan, masih dalam keadaan mulus tanpa kerusakan, karena baru pernah dipasang sekali saja. Bagaimana?

Oke, gw akan bagikan ketiga DVD di atas kepada 3 orang berbeda. Jadi satu orang akan dapat satu DVD *dijelasin*. Cara mendapatkannya gampang aja: 
1. kirim e-mail ke reinoezra@gmail.com, subjek "QUIZ AJIRENJI 3RD ANNIVERSARY"
2. tuliskan nama, alamat jelas, dan judul DVD yang kalian inginkan dari 3 pilihan tadi. 

Pemenangnya akan ditentukan dengan cara undian untuk masing-masing hadiah. Jadi contohnya ada 100 orang (yakali) minta The Hangover, 100 nama akan gw kocok hingga keluar satu nama yang ditakdirkan untuk menerima DVD The Hangover secara cuma-cuma. As simple as that. Jadi silahkan kirimkan bila berminat, saya tunggu sampai 8 Februari 2012, dan pemenang akan diumumkan tanggal 11 Februari 2012. Ingat, satu orang satu aja ya mintanya, jangan maruk-maruk ah =).


Demikianlah sedikit perayaan kecil 3 tahun blog Ajirenji bertengger di dunia maya. Besar harapan semoga keberadaan blog saya ini dapat bermanfaat atau setidaknya sekadar selingan tak membahayakan bagi Anda yang telah membaca maupun yang akan membaca =D. 

Thank you, and good luck.

Rabu, 25 Januari 2012

The 2nd IMBlog Choice Awards Nominees - Film Asing


Sudah lewat satu tahun, Indonesian Movie Bloggers Community (IMBlog Community) kembali hadir menggelar ajang apresiasi daring untuk dunia film, The 2nd IMBlog Choice Awards. Boleh tepuk tangannya *prok678x* =). Yak dengan format yang kurang lebih sama IMBlog Choice Awards  tahun ini juga akan memilih siapa dan apa saja yang akan menerima predikat JAWARA dan TERSOHOR dalam dunia film sepanjang tahun 2011 kemarin. Sebagaimana sebelumnya, anggota IMBlog yang adalah para blogger pembahas film yang tersebar di penjuru Indonesia, ya termasuk saya sendiri =), akan menjadi "dewan juri" untuk menentukan predikat JAWARA, sedangkan Anda para pembaca/khalayak dunia maya juga diundang yuk hayuk untuk memilih nomine yang paling disukai agar dapat predikat TERSOHOR lewat online poll (silahkan scroll ke paling bawah untuk tautannya). Namun, sedikit perubahan untuk tahun ini adalah pemenang IMBlog Choice Awards untuk Film Asing akan diumumkan minggu ketiga bulan Februari 2012 dalam rangka meramaikan awards season di negeri sana, sedangkan untuk Film Indonesia akan diumumkan bulan Maret 2012 dalam rangka menyambut Hari Film Nasional. Jadi, satu-satu aja ya, lumayan biar nggak numpuk =). Pantengin terus ya.

Untuk sekarang ini IMBlog Choice Awards akan diberikan kepada Film Asing, range filmnya adalah semua film asing yang telah beredar resmi di Indonesia baik di layar bioskop komersial, festival, maupun VCD/DVD/Blu-Ray sepanjang tahun 2011. Setelah menghimpun suara dari 30-an anggota IMBlog Community, tersusunlah nominasi yang terdiri atas 16 kategori yang asik-asik deh. Silahkan disimak nominasi untuk Film Asing calon-calon JAWARA dan TERSOHOR berikut ini:


Selasa, 24 Januari 2012

[Movie] The Iron Lady (2011)


The Iron Lady
(2011 - The Weinstein Company/20th Century Fox/Pathé/Film4/UK Film Council)

Directed by Phyllida Lloyd
Screenplay by Abi Morgan
Produced by Damian Jones
Cast: Meryl Streep, Jim Broadbent, Olivia Colman, Susan Brown, Anthony Head, Richard E. Grant, Alexandra Roach, Harry Lloyd, Iain Glen


Sosok Margareth Thatcher adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah modern, ia adalah pemimpin pemerintahan pertama di benua Eropa yang berkelamin perempuan, bahkan menjabat dengan cukup lama selama 11 tahunan, dari 1979 hingga 1990 yang penuh dinamika. Film mengenai tokoh ini pun cepat atau lambat pasti akan dibuat. The Iron Lady adalah film bioskop pertama tentang Thatcher (sebelumnya ada beberapa miniseri dan FTV) yang jelas mendapat perhatian. Mendengar rencana produksi film yang didukung dana pemerintah UK (seperti halnya The King’s Speech) ini agak mixed feeling sebenarnya, tokoh berjulukan wanita besi ini tidak diperankan oleh aktris kebangsaan Inggris, melainkan Amerika. Tapi untungnya aktris Amerika itu tak lain tak bukan si ultra luar biasa, Meryl Streep. Tapi lagi, film ini disutradarai oleh Phyllida Lloyd yang “sukses” lewat Mamma Mia! (juga dibintangi Streep) yang menurut gw filmnya, emm, yah, begitu ajalah. So bagaimana hasilnya?

The Iron Lady dalam kalimat singkat: Meryl Streep-nya keren banget, filmnya nggak keren banget. Gw mengerti maksud bahwa film ini berfokus pada Thatcher yang sudah pensiunan janda lansia demensia, which is profoundly gw nggak ngerti menariknya dimana, tapi terserah sih. Riwayat kehidupannya, yang sebenarnya lebih gw nantikan, disampaikan mengikuti apa yang diingat oleh oma Thatcher di masa tuanya. Naskahnya bermaksud untuk fokus pada Thatcher yang punya penyesalan dan kegalauan antara masa tugasnya sebagai orang nomer 1 di pemerintahan Inggris Raya dengan kurangnya waktu yang ia habiskan dengan suaminya, Denis Thatcher (Jim Broadbent) semasa hidup dan kedua anak kembar cewek-cowoknya, Carol (Olivia Colman) dan Mark, saking galaunya sampe-sampe ia masih bisa “ngobrol” sama suaminya yang sudah meninggal. Namun yang terjadi, filmnya terlalu menitikberatkan pada fase Thatcher tua itu yang hanya beberapa hari rentang waktunya, dibandingkan dengan perjuangan dan kiprahnya di pemerintahan yang terkesan hanya selingan kilas balik saja seakan penonton dipaksa untuk sudah tau tentang Thatcher. Oke gw tau siapa Thatcher, tapi gw ‘kan nggak tau sistem dan proses pemilihan anggota parlemen dan kabinet di Inggris sana gimana. Yang ada hanya Thatcher udah lulus Oxford eh tiba-tiba udah calonin diri buat jadi anggota DPR aja, terus kalah. Lha prosesnya gimana, cara milihnya gimana? Katanya susah kalau wanita maju jadi anggota parlemen, susahnya gimana? Lagi-lagi, penonton “dipaksa” untuk sudah tau tentang segala proses itu. Plis deh. Untuk sebuah film sejarah dan biografi, film ini pelit pengetahuan.

Tetapi mungkin itu hanya kekurangan kecil saja dari film ini. Kita masih bisa lihat highlight sepak terjang Thatcher sepanjang karirnya, mulai dari debat di ruangan parlemen dengan suara high pitch nan nyolot-nya itu, mencalonkan diri jadi ketua partai konservatif meskipun bilang “nggak bakal ada perempuan jadi perdana menteri Inggris selama saya masih hidup” *eaa*, pembentukan citra selama kampanye (soal rambut, baju, dan sikap tubuh), juru kampanyenya yang kena bom teror gerakan Irlandia merdeka IRA, berhasil jadi perdana menteri, membuat kebijakan kontroversial, pemboman hotel tempat dia dan suami menginap, perang dengan Argentina merebut Falklands Island, hingga sikap menolak untuk ikutan dalam mata uang tunggal Eropa. Semuanya ditampilkan cukup menarik meski kadang agak sureal (ada gambaran dalam pengambilan keputusan, Thatcher memutuskan sendiri, bukan kata orang yang ada di dekatnya), menggambarkan betapa kerasnya watak wanita ini, yang dapat membawa keuntungan sekaligus kerugian bagi sekitarnya. Namun sekali lagi, porsi fase-fase “masa lalu” Thatcher itu hanya sekedar syarat saja, sambil lalu. Kekurangan terbesar film ini adalah kegagalannya untuk jadi tidak membosankan. Film ini hanya 1 jam 45 menit tetapi berasa lammmaaaa banget akibat lajunya yang kayak nggak kemana-mana, terutama di setengah jam pertama. Masa-masa tua Thatcher yang sangat lebih banyak porsinya itu terlalu ditekankan tetapi tidak dibuat menarik dan nggak jelas arahnya. Sampe-sampe dalam hati gw sering berujar “Boleh beralih ke adegan flashback lagi gak, please.”

Satu-satunya kunci yang membuat gw betah menonton film ini sampai akhir adalah Meryl Streep yang, sebagaimana gw sebut tadi, ultra hebat aktingnya. Gesturnya, ekspresinya, cara bicaranya, sorot matanya, she nailed every single scene. Film ini akan jadi males banget ditonton seandainya tidak ditolong oleh tante Meryl dan efek make-up-nya yang jawara banget. Jika ada yang bakal gw ingat terus dari film ini adalah performa tante Meryl, bukan penyampaian ceritanya yang menjemukan, bukan pula karakterisasi pendukung yang nggak berefek apa-apa itu. Yes, kita masih bisa mendengar quotes inspiratif dari seorang Margaret Thatcher—terutama yang gw inget bahwa katanya terlalu banyak orang ingin “menjadi” ketimbang “berbuat” sesuatu—tapi sekali lagi, film yang baik tidak cukup hanya dengan kutipan kata-kata yang baik. The Iron Lady pada akhirnya hanyalah sebuah film biasa saja yang harusnya merasa malu karena perfoma akting pemeran utamanya yang 3 kali lebih baik daripada segala hal lain dalam filmnya.



My score: 6/10

[Album] No Regret Life - Discovery


No Regret Life - Discovery
(2011 - spiral-motion)

Tracklist:
1. Heart is Beating 62
2. The Sun
3. Wonderful World
4. Clocks
5. ハローグッバイ (Hello Goodbye)
6. interlude
7. Tonight Is The Night
8. Suggestion
9. スローモーション (Slow Motion)
10. 夢のあと (Yume no Ato)
11. Life is a Symphony


No Regret Life adalah salah satu contoh band yang berpotensi, musiknya cukup mudah dicerna dan berkarakter, tapi nggak laku. Gw curiga, antara merekanya yang nggak berkembang, atau karena di tengah-tengah industri musik Jepang yang memang selalu memunculkan sesuatu yang baru dan kinclong (baik bunyi maupun gaya tampilan) sebagai prasyarat agar bisa "ngangkat", No Regret Life ini mungkin dianggap terlalu sederhana. Tampilan mereka memang biasa dan "normal", musik-nya yang hampir pure post-grunge rock pun bukanlah jenis musik terlaku di negeri sana. Gw dan mungkin segenap generasi "anime 2000-an" mengenal band 3 orang ini saat single mereka "Nakushita Kotoba" digunakan sebagai lagu penutup kesekian dari anime ternama Naruto, dan menurut gw adalah salah satu lagu terbaik yang pernah muncul di anime itu. Pada efeknya, meskipun sudah masuk major label asuhan Sony Music Jepang, bintang No Regret Life tidak sampai melesat, 3 album yang mereka rilis dari tahun 2006 hingga 2008 tidak sampai mengangkat nama mereka dengan penjualan yang sangat sangat modest. Pada akhirnya mereka melepas (atau dilepas?) oleh label besar, namun No Regret Life dengan "tanpa penyesalan" kembali ke jalur independen seperti awal karir  mereka, terus merilis karya di bawah label milik mereka sendiri, spiral-motion. Discovery adalah full length album pertama yang dirilis label mereka itu.

Gw termasuk cukup mengikuti rilisan No Regret Life selama ini. Gw suka musiknya yang meskipun agak keras tetapi memperhatikan melodi, juga warna vokal khas Kazusou Oda yang serak-serak laki banget gitu deh. Tak sedikit single-single mereka memang gw sukai. Interestingly enough, gw sebenarnya pernah mendengar ketiga album major label mereka, tetapi tidak sampai merenggut perhatian gw sebegitunya (gw jadi cukup ngerti lah kenapa nggak terlalu laku). Namun, berbeda dengan Discovery, bahkan ketika didengarkan pertama kali sambil lalu, gw langsung pingin memutar ulang. Terdiri dari 11 track, 2 di antaranya berupa intro dan interlude intstrumental singkat (track 1 dan 6), gw merasakan ada energi dan bobot berbeda dari album ini dibandingkan album-album No Regret Life sebelumnya, bahkan menurut gw jauh lebih matang. Mungkin karena nggak ada lagi pressure dari pihak label? Bisa jadi. Distorsi gitar dan gebukan drumnya terdengar lebih lugas dan nggak neko-neko. Vokal Oda pun terdengar lebih sincere dan nggak maksa—gw nggak bilang teknik nyanyinya bagus ya, pokoknya sangat berkarakter dan enak. Rangkaian lagu dari awal hingga akhir sangat enjoyable, dinamis, menghentak, dan yang penting melodinya yang catchy.

Pengaturan track album ini asyik sekali, bagaikan setlist sebuah live performance/konser. Diawali intro "Heart is Beating 62" yang kalem sebagai pemanasan, tensi mulai menanjak lewat "The Sun" yang menghentak enak, serta menarik ketika lirik bait pertamanya diawali dengan kata "hisashiburi" (lama tak jumpa), seakan menyapa pendengarnya yang telah menanti album mereka selama tiga tahunan ini. "Wonderful World" yang lebih kencang adalah rekam ulang dari salah satu mini-album awal mereka dahulu menjadi kelanjutan yang menyenangkan. Lagu "Clocks" dengan nuansa serupa (tapi verse-nya lebih kalem) kemudian muncul sebagai track yang menonjol karena begitu catchy melodinya, dan otomatis jadi salah satu track terfavorit gw di album ini, khas No Regret Life dengan energi lebih dan terkesan full. "Hello Goodbye" adalah penutup 'babak pertama' yang lebih medium iramanya, tetapi lebih emosional akibat distorsi gitar yang masih kencang. Setelah disela "interlude" yang agak random jamming session, lagu "Tonight Is The Night", "Suggestion", dan "Slow Motion" kembali menggeber maksimal musik dan vokal. 

Selepas 3 track kenceng itu, barulah keistimewaan kedua album ini muncul, yaitu track akustik "Yume no Ato". Bukan pertama kali No Regret Life menyematkan lagu akustik di album mereka, namun "Yume no Ato" bisa jadi lagu bukan rock mereka yang pertama, benar-benar kalem dan tenang, permainan biola dari musisi senior Neko Saito pun menambah warna melankolis lagu ini. Di lagu ini juga ketahuan bahwa vokal Oda terlalu terbiasa nyanyi kenceng sehingga agak kagok ketika toned-down begini, tapi warna suaranya tetap terjaga oke. Akhirnya album ini ditutup dengan megah lewat track rock ballad "Life is a Symphony", melodinya apik dan range vokal Oda dipamerkan dengan keren di sini. Ini juga lagu yang mengkonfirmasi kesukaan gw akan album ini. 

Discovery memang album yang ringkas, lagu-lagunya rata-rata singkat dan padat durasinya, namun rasanya pas sekali. Gw senang dengan No Regret Life yang tetap berkarya meski harus berjuang "sendirian", dan ternyata hasilnya lebih bagus daripada masa-masa major-label mereka dahulu. Sebuah usaha yang sama sekali tidak sia-sia. Semangat dan energi baru mereka terpancar dengan baik lewat album ini. Terutama bagi yang pernah menyukai lagu-lagu band ini terdahulu, pasti akan dipuaskan lewat album ini. Sebuah album yang akhirnya menunjukkan bahwa No Regret Life adalah artis yang perlu mendapat perhatian lebih.


My score: 8/10

No Regret Life


Previews:

Senin, 09 Januari 2012

My Top 20 ASIAN KUNG-FU GENERATION Songs So Far

Tahun 2011 kemarin diperingati sebagai 15 tahun sejak band kesayangan gw, ASIAN KUNG-FU GENERATION terbentuk (that means 1996, kali aja ada yang males ngitung =P). Entah berhubungan atau enggak, AKG telah mengumumkan perilisan album "best-of" berjudul BEST HIT AKG pada akhir Januari 2012 ini (kayaknya nggak juga berhubungan sih ya =P), meskipun katanya juga sudah ada rencana rilis album baru pada pertengahan tahun ini. Gw belum dapet albumnya, ya karena belum dirilis, tetapi tracklistnya sudah bisa dilihat di situsnya jadi bisa dikira-kira isinya seperti apa. Nantikan reviewnya di blog ini yah.


Kecintaan gw terhadap AKG tiadalah bersyarat, karya mereka yang paling bapuk pun akan gw nikmati juga pada akhirnya *romantis gak seh =)*, namun pasti ada karya-karya yang lebih gw favoritkan daripada yang lain. Nah, sebagai semacam pemanasan sebelum perilisan album BEST HIT AKG yang bakal memuat single-single dan lagu-lagu yang dianggap nge-hit, gw akan menggulirkan 20 lagu terbaik AKG versi gw sendiri. Tidak semua single AKG—yang notabene harusnya "menjual"—menjadi favorit gw, malah banyak juga track yang hanya nangkring di album nggak diapa-apain (jarang juga dimainkan di konsernya) yang, IMO, better-than-they-realize.


Terambil dari 16 single, 6 album, 2 mini-album, 1 album kompilasi b-track dan 5 album kompilasi  yang dikeluarkan oleh mereka dalam rentang dari tahun 2003 (major debut mereka) sampai 2011, gw akan mendaftar 20 lagu AKG terfavorit gw sejauh ini dalam urutan mundur, meskipun sebenarnya urutan teratas sudah bisa ditebak kalau merujuk pada postingan My Top 25 J-Pop Songs of the 2000's. Dan btw, gw tidak mempertimbangkan faktor lirik, karena sampe saat ini nggak ada satupun lagu AKG yang gw paham benar liriknya, hahaha. Oke, postingan ini mungkin agak berbau fanboy dan "untuk kalangan sendiri", tapi percayalah, lagu mereka ini cenderung mudah diterima, terutama yang suka sama genre alternative rock atau power pop sebagaimana genre dasar AKG, yang kerap terdengar seperti perpaduan Weezer, Green Day dan Simple Plan. So, are you ready? Mari...