Sabtu, 26 November 2011

[Movie] Contagion (2011)


Contagion
(2011 - Warner Bros.)

Directed by Steven Soderbergh
Written by Scott Z. Burns
Produced by Michael Shamberg, Stacey Sher, Gregory Jacobs
Cast: Matt Damon, Laurence Fishburne, Jude Law, Kate Winslet, Marion Cotillard, Gwyneth Paltrow, Jennifer Ehle, Elliott Gould, John Hawkes, Sanaa Lathan, Bryan Cranston, Anna Jacoby-Heron, Chin Han


Entah siapa yang memulai membuat film dengan gaya penceritaan seperti ini, sebuah tema yang dijabarkan dari berbagai sisi lewat banyak karakter dengan kisahnya masing-masing dan terkadang saling bersinggungan di titik-titik tertentu. Traffic yang dirilis di tahun 2000 adalah salah satu film model demikian yang paling dikenal. Kesuksesan Traffic yang membahas tema narkoba di Amerika dan Meksiko ini rupanya memberi kesan tersendiri bagi penulis naskahnya Stephen Gaghan dan sutradaranya Steven Soderbergh (yang keduanya meraih Oscar lewat film tersebut), sehingga kemudian keduanya membuat karya lainnya yang berkonsep serupa: Gaghan membuat Syriana (2005) yang bertema industri minyak, dan Soderbergh tahun ini membuat Contagion, yang mengundang sedikitnya 8 aktor pemenang dan atau nomine Oscar, dan kali ini jangkauan(seting)nya global. Yes, film ini begitu menjanjikan, namun apakah Soderbergh sanggup mengulang kesuksesan Traffic 11 tahun silam? *halah serius amat yak*

Tema utama Conatgion adalah "virus mematikan". Sekembalinya ke Minneapolis dari business trip-nya di Hong Kong, kesehatan Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) menurun drastis hingga akhirnya meninggal dunia. Seremnya, kematian Emhoff bersamaan dengan meninggalnya seorang salaryman dalam bus umum di Tokyo, seorang model Ukraina di hotelnya di London, dan seorang pelayan casino Macau yang tinggal Hong Kong, dengan gejala yang sama persis. Tanpa waktu lama, nggak sampe 3 hari bahkan, wabah misterius ini dengan cepat luar biasa menjalar ke berbagai belahan dunia dan menelan korban jiwa dalam jumlah mencengangkan.

Dari titik ini kita dibawa untuk membahasnya dari berbagai sisi, dari titik nol (si pasien pertama) hingga yang mencakup masyarakat luas. Dari sisi para peneilti ada Dr. Ellis Cheever (Laurence Fishburne) yang mengepalai penelitian wabah/virus ini di lembaga Centre of Disease Control (CDC), menjadi konsultan bagi wakil pemerintahan (Bryan Cranston) yang mencurigai adanya aksi senjata biologis (GR amat sik), juga menugaskan Dr. Ally Hextall (Jennifer Ehle) untuk mengidentifikasi virus lalu mencari vaksinnya. Lalu ada Dr. Erin Mears (Kate Winslet) yang ditugaskan ke Minneapolis untuk meneliti cara penularan dan penyebaran virus ini serta memulai tindakan pencegahan dan penanggulangan orang-orang yang sudah tertular. Di belahan dunia lain, utusan WHO, Dr. Leonora Orantes (Marion Cotillard) datang ke Hong Kong untuk menyelidiki asal muasal virus itu, dimulai dari menyelidiki kegiatan yang dilakukan Beth Emhoff sewaktu di sana. Di San Francisco muncul pula seorang blogger vokal, Alan Krumweide (Jude Law) yang mencium adanya konspirasi di balik penanganan penyakit ini antara pemerintah, korporasi farmasi dan para penanam saham. Tak ketinggalan perjuangan Mitch Emhoff (Matt Damon), suami Beth yang untungnya dinyatakan kebal akan virus, namun kini bersama putri kandungnya Jory (Anna Jacoby-Heron) harus mengalami kebingungan dan kesulitan kala kepanikan sudah menulari semua orang melebihi virus itu sendiri.

Banyak ya? Yah memang begitulah konsepnya, satu peristiwa yang mempengaruhi berbagai ruang dan karakter. Di sini tidak ada tokoh utama karena semua porsinya sama. Jika dilihat-lihat Contagion ini adalah disaster movie skala besar tapi dengan penanganan yang sangat realistis dari sisi yang minimalis (orang per orang) tanpa drama-drama berlebihan, meskipun ini tetaplah fiksi. Film ini juga memberi gambaran yang (konon) cukup akurat mengenai cara kerja orang-orang berwenang dalam menangani wabah baru (seperti flu burung dan flu babi kemarin, atau anthrax dan sapi gila jaman dulu—yang membuat gw berpikir kalau dokter menemukan virus baru tuh kayak filmmaker mau bikin film kolosal 3-dimensi, passionate sekali ^_^) sekaligus dampak sosial yang ditimbulkannya seperti tekanan media massa, kebingungan tenaga kesehatan, paranoia, kepanikan, chaos, penjarahan, kriminalitas, hingga penyanderaan demi mendapatkan jatah vaksin. Memang banyak sekali istilah-istilah medis yang diujarkan di sini yang memberi kesan film ini hanya untuk “kalangan sendiri”, namun kalau mau bersabar, naskah film ini sebenarnya menggunakan trik serial “CSI”: setiap ada istilah ilmiah, pasti ada yang mengujarkan penjelasan gampangnya Contoh: Dr. Hextall menjelaskan kesulitan penelitian virus dengan “blablablablabla”, lalu ada pihak yang bertanya "jadi vaksinnya udah ada belum?", jawabannya "belum" <-- intinya kan itu =D. Menurut gw ini menarik, film ini berusaha realistis tetapi tidak sok pintar, sehingga kesan yang timbul adalah, well, informatif—kita diingatkan lagi pada pelajaran Biologi pada bab makhluk hidup bagian awal tentang apa itu virus dan cara kerjanya, juga soal R-nought dan formites #eaa. Namun di sisi lain film ini memberi ketegangan yang cukup untuk membuat orang-orang rada paranoid untuk megang-megang apapun itu, begitu cepatnya wabah ini menyebar ditunjukkan dengan baik dan efektif.

Gw selalu kagum dengan film yang sukses menampilkan kisah multiplot berkait dan karakter banyak menjadi sebuah tontonan solid, nggak kebayang repotnya menyusun konsep dan perencanaannya, dan Contagion ini tak terkecuali. Film ini termasuk nyaman ditonton, keterkaitan antar plot dan karakternya mudah dipahami, gw mudah ingat orang ini dan orang itu peran/fungsinya apa saja. Apalagi melihat keseriusan aspek mise-en-scène yang luar biasa keren, mulai dari tata artistik, pemilihan lokasi, dan terutama sinematografinya (oleh Soderbergh sendiri dengan nama alias “Peter Andrews”) yang jernih, tajam dan efektif, banyak sudut-sudut fotografi yang akan sangat maknyus ditembakkan di layar raksasa IMAX (karena film ini juga dirilis di teater-teater IMAX...di sono tapi, bukan di sini *sigh*) . Yang gw suka lagi, film ini ringkas dan tidak bertele-tele, nggak sampe 2 jam lho filmnya, editingnya lincah dan nggak berlama-lama, namun bisa jadi bumerang karena mungkin jadi terasa terlalu cepat bagi sebagian penonton. Menurut gw sih memang bagusnya gayanya gesit begini, untuk mengakali ritme film yang emang banyak ngomongnya. Kalo nggak mudeng ya nonton lagi =D.

Namun kemampuan khas Soderbergh yang harus diuji adalah bagaimana beliau mengoptimalkan para pemerannya yang banyak itu lewat porsi masing-masing yang terbatas. Fortunately, he did it again. Para pemain bintang ini rata-rata berhasil memberikan performa signifikan. Mungkin yang paling lemah si Laurence Fishburne yang gak ada bedanya sama perannya di serial “CSI”. Namun, kalau melihat Jude Law yang tidak canggung jadi orang nagging yang lama-lama nyebelin juga (mungkin hanya karakter Alan yang paling tidak datar di sepanjang film dengan gaya ngomong ngototnya), Marion Cotillard yang anggun dan tenang (agak males-malesan sih sebenarnya) namun determined dalam tugasnya, Matt Damon yang gelisah tapi harus tegar di hadapan putrinya, Kate Winslet yang serius dan kaku dalam tugasnya sampai tidak memperhatikan diri sendiri, dan Jennifer Ehle yang begitu excited dalam usaha menemukan vaksin namun tetap dalam bawaan santai dan effortless, Contagion jelas bukannya menghalangi bakat-bakat yang ada didalamnya, juga nggak cuma mengedepankan performa aktor di atas plot dan ide yang ingin disampaikan. Di sini Soderbegh memberikan ruang yang cukup bagi para aktornya untuk unjuk gigi sesuai fungsi dalam cerita. Hampir semua tokoh di sini “nggak punya” latar belakang, jadi bobot penampilan mereka di layar sangat menentukan simpati penonton atau tidak, but they did very well here (favorit gw adalah Ehle, Winslet dan Damon).

So, yeah , I really enjoyed this film, bisa jadi calon film terfavorit gw tahun ini. Gw pikir juga ini film yang bagus, ditulis dengan baik dan dieksekusi dengan serius dan rapih. Nggak cuma demi hingar-bingar “film besar bertaburan bintang” semata, namun Contagion hadir sebagai film yang mengangkat tema serius yang cukup dekat dengan keseharian kita, karena memang pernah dan (bukannya tidak mungkin) akan terjadi *amit-amit, tok tok tok*. Film model ini nggak bisa dilihat hanya dari "apa intinya" saja, justru yang memberi bobot (dan tak kalah menarik) adalah kisah tiap persona yang ada di dalamnya, karena seperti kehidupan, semua punya bagian masing-masing (ketimbang bikin satu karakter doang yang udahlah peneliti virus, ternyata istrinya kena wabah, eh dia sendiri yang cari vaksinnya di sela-sela kesulitan pasokan makanan, itu mah lebih gampang daripada bikin Indomie =P). Inti filmnya apa? Ya nggak ada intinya, karena bukan itu yang penting. Contagion gw bilang almost as good as Traffic, tidak terlalu menggebrak, namun lebih ringkas—alias lebih singkat durasinya =)—dan lebih jernih tampak visualnya, ketegangan dan performa aktingnya pun memuaskan. Tapi itu gw, yang menganggap Traffic itu keren dan Syriana itu bagus meski banyak orang bilang mboseni. Yah selera orang beda-beda. Tapi setuju dong kalo adegan penutup Contagion ini mantep =). Pokoknya: cuci tangan dengan sabun, siapapun Anda *parno*.



My score: 8/10

Kamis, 24 November 2011

[Movie] The Adventures of Tintin (2011)


The Adventures of Tintin
a.k.a The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn
(2011 - Paramount)

Directed by Steven Spielberg
Screenplay by Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish
Based on the comic series "The Adventures of Tintin" by Hergé
Produced by Peter Jackson, Kathleen Kennedy, Steven Spielberg
Cast: Jamie Bell, Andy Serkis, Daniel Craig, Simon Pegg, Nick Frost, Toby Jones


Kepopuleran wartawan super kepo asal Belgia, Tintin beserta anjing lucunya, Snowy memang mendunia, ya selain memang petualangannya sampai keliling dunia dan bulan =D. Di Indonesia sendiri sudah terbangun basis penggemar tersendiri sejak cukup lama—hingga baru-baru ini serial komiknya dicetak ulang. Gw sendiri lumayan suka petualangan tokoh yang dalam bahasa aslinya dilafalkan “tang tang” ini, tapi gw menyaksikannya lewat versi serial animasi TV-nya (produksi Kanada) yang gw koleksi VCD-nya, hehe. Tintin akhirnya diangkat ke layar lebar oleh dua nama besar Hollywood: Steven Spielberg (Jaws, E.T., Jurassic Park among others) sebagai sutradara dan Peter Jackson (The Lord of the Rings, King Kong) sebagai produser dan kemungkinan sutradara sekuelnya, sebuah berita menjanjikan sekaligus mengkhawatirkan. Bagaimana jadinya jika Hollywood memfilmkan tokoh komik sekaligus ikon budaya kebanggaan Belgia ini? The problem is solved, karena bentuknya tetap animasi, tepatnya animasi motion-capture (berdasarkan gerak aktor, kayak The Polar Express, Beowulf, A Christmas Carol, dan Avatar) sehingga ia tetaplah “kartun” namun selangkah lebih hidup.

Suatu hari, wartawan pengungkap misteri tersohor, Tintin (Jamie Bell) membeli kapal model (miniatur lah) yang belakangan diketahui adalah model dari kapal laut legendaris Unicorn. Tak lama setelah dibawa pulang, flat Tintin disusupi maling yang mencuri kapal modelnya itu. Kepenasaranan akan siapa yang mencuri kapal model yang dibeli di pasar kaget—pake nawar pula—dan mengapa, kemudian membawa Tintin pada misteri tentang kapal Unicorn milik Sir Francis Haddock yang pada abad ke-18 tenggelam di lautan Karibia seusai berseteru dengan rombongan perompak Red Rackham. Belumlah misteri makin terang, Tintin diculik oleh orang yang bernama Sakharine (Daniel Craig) hingga disekap di kapal Karaboudjan yang berlayar untuk mencari kapal model Unicorn yang lainnya. Dalam usaha meloloskan diri Tintin bertemu Kapten Haddock (Andy Serkis) yang tak lain adalah keturunan langsung Sir Francis Haddock. Bersama Kapten Haddock yang kapal berserta awaknya disabotase Sakharine itu, Tintin tertantang untuk melepaskan diri sekaligus menuntaskan misteri kapal model Unicorn yang ternyata ada tiga buah dan menyimpan petunjuk kepada harta karun Red Rackham yang hilang.

The Adventures of Tintin yang diberi sub-judul The Secret of the Unicorn ini meleburkan kisah komik petualangan Tintin episode “The Secret of the Unicorn” dan lanjutannya, “Red Rackham’s Treasure”, plus “The Crab with the Golden Claws” yang mempertemukan Tintin dengan Kapten Haddock pertama kali, kemudian dirangkai dalam nuansa petualangan yang bombastis. Tidak persis sama, namun masih banyak rujukan otentik dengan kisah aslinya, seperti Snowy yang menggemaskan dan (terlalu) pintar, atau kemunculan penyanyi soprano Bianca Castafiore yang bersuara “menggelegar-dalam-arti-kata-sebenarnya" itu, dan tak lupa ada duo polisi blo’on Thompson (Simon Pegg) dan Thomson (Nick Frost) yang selalu mengundang tawa. Nampaknya film ini tidak akan mengecewakan penggemar Tintin, karena Tintin dan kawan-kawan di sini tidak terlalu beda dengan yang mereka kenal, deskripsi tokoh-tokohnya sesuai dengan yang dibuat oleh sang pengarang Hergé, kecuali mungkin Kapten Haddock yang bagian maboknya agak terlalu diekspos kayak kehidupan rumah tangga Ustad Solmed. Di sisi lain sepertinya film ini akan mudah dipahami oleh penonton baru, karena kisahnya bisa dibilang kisah baru berdasarkan poin-poin dari 3 episode komik Tintin yang gw sebut di awal paragraf. Guliran alur kisahnya yang harus mengungkapkan misteri sekaligus sebagai perkenalan kembali akan tokoh-tokoh dunia Tintin ini dibuat rapi, mulus, dan cukup jelas. Pokoknya secara cerita, film ini aman.

Nah sekarang tinggal bagaimana presentasinya. Sejauh ini, The Adventures of Tintin adalah film animasi motion capture yang paling enak dilihat yang pernah gw tonton—masih di bawah Avatar kalau semua orang mau mengakui bahwa Avatar itu film animasi, which I think it is. Desain artistik 1930-1940-an serta warna-warna yang digunakan sangat menarik mata, pun komposisi gambar serta gerakan animasinya halus sekali. Rupa para karakternya pun dibuat semirip mungkin dengan desain asli mereka di versi komik/kartun (gaya rambut, pakaian, bentuk hidung), namun tetap berbentuk “manusia”, sebuah solusi yang menarik sehingga pasti tidak akan ada yang protes “kenapa si anu jadi kayak gitu bentuknya” sebagaimana kita bingung kenapa Son Goku-nya Dragon Ball bisa jadi bule Film animasi perdana yang dikepalai langsung oleh Steven Spielberg ini juga, menurut gw, adalah sebuah ajang pelampiasan bagi beliau terhadap teknik pengambilan gambar film-film fantasi yang akan sulit dilakukan bila digarap live action. Permainan cahaya kontras ala film-film Spielberg terdahulu tetap ada (karena konsultan gambarnya Janusz Kaminski, sinematografer CS-annya Spielberg), namun yang paling kentara adalah pergerakan “kamera” yang seakan tanpa batas, bisa dimana dan kemana aja dengan lincahnya—terbukti pada adegan kejar-kejaran di Maroko dari puncak bukit sampe pinggir laut yang “satu-take” =D, dan di berapa momen hal itu efektif menimbulkan excitement.

Kalo tentang aktor-aktornya gw bingung menilainya karena yang ada di layar bukanlah “diri” mereka yang utuh, namun baik Jamie Bell maupun Andy Serkis memberi volume berarti bagi peran masing-masing dengan baik, selain kerja para animator terbilang berhasil membuat setiap tokoh CGI ini tampak hidup dan nggak mengerikan kayak patung kerasukan. Yang pasti, Spielberg (dan Peter Jackson) telah menjalankan tugas dengan baik karena memperlakukan Tintin dengan terhormat lewat film ini. Kemenangan film ini terletak pada komitmennya untuk tidak mengkhianati sumber aslinya, baik dari tokoh, ambianse, sampai penyusunan misterinya dalam cerita baru yang cukup segar. Terlebih lagi dalam medium teranyar ini, melalui percampuran komedi, drama, misteri (bukan horor lho ya), laga, dan sedikit suspense—masih dalam koridor adventure tentunya—dalam ritme yang enak, film ini telah menyuntikkan kisahnya dengan keseruan menyenangkan yang heboh, keseruan ala Spielberg yang kadang-kadang terlalu kartun, tapi untungnya ini memang kartun! Gw sih sebenarnya merasa filmnya agak kurang ringkas dan suka terlalu lama berkutat di satu poin, namun overall The Adventures of Tintin bukanlah tontonan yang mengecewakan, justru seru rasanya dan bagus dilihat.



My score: 7,5/10

Minggu, 20 November 2011

[Movie] Immortals (2011)


Immortals
(2011 - Relativity Media)

Directed by Tarsem Singh Dhandwar
Written by Charles Parlapanides, Vlas Parlapanides
Produced by Gianni Nunnari, Mark Canton, Ryan Kavanaugh
Cast: Henry Cavill, Mickey Rourke, Stephen Dorff, Frieda Pinto, Luke Evans, Isabel Lucas, John Hurt, Kellan Lutz


Okay, ini menarik. Begitu banyaaak orang di luar sana yang tampaknya tidak suka, benci dan menghina dina mariana film Immortals karya Tarsem Singh ini. Well, sepertinya saya akan sendiri saja kali ini. YES, I DO LIKE THIS FILM. Gw malah menikmati film ini, dan lucunya bukan sebagai guilty pleasure. Gw nggak menganggap film ini jelek. Ini cukup aneh, mengingat film ini menyadur salah satu mitos dari mitologi Yunani kuno. Gw mencak-mencak ketika Troy (2004)—tentang perang Sparta vs Troya—muncul sok mau jadi Gladiator dan mengubah fokus cerita tapi tetep nggak fokus. Gw tidak terkesan dengan Clash of the Titans (2010)—tentang Perseus—yang tanpa greget berarti dan juga tidak terlalu bagus dilihat mata. Dari segi cerita, Immortals sama ngaconya dengan kedua film tadi, namun—anehnya—gw memakluminya. Kesambet apaan ya gw...

Immortals ini bercerita tentang Theseus (Henry Cavill) yang dipilih—by fate, very mythological indeed—untuk menjadi pahlawan tanah Yunani untuk melawan raja jahat Hyperion (Mickey Rourke). Hyperion ingin menggugat—dengan alasan yang melankolis sekali—kaum abadi gunung Olympus yang disembah sebagai dewa-dewi yang dikepalai Zeus (Luke Evans), dengan melepaskan kaum abadi lawannya dewa-dewi ini, yang disebut Titan, untuk menimbulkan perang khayangan, dengan harapan dewa-dewi akan hancur, or something like that (nah logika begonya adalah, immortals nggak bisa dilawan manusia yang mortal, tapi kalo sesama immortals bisa, so there you go). Caranya, sesuai ramalan sang Oracle perawan (yang artinya akan ada satu poin dimana dia nggak perawan lagi) bernama Phaedra (Freida Pinto), Hyperion, sembari menyerang dan menguasai seluruh wilayah Yunani, harus mencari panah ajaib Epirus yang dapat membobol penjara para Titan di gunung Tartarus. So, singkat cerita Theseus beserta kawan-kawan yang ketemu di jalan harus mencegah Hyperion, sekaligus mencegah timbulnya kembali peperangan dewa-dewi vs para Titan, meskipun Theseus sendiri punya motivasi personal untuk menumpas sang raja preman ini.

Dalam mitologi Yunani, Theseus adalah pahlawan keturunan raja sekaligus keturunan dewa laut Poseidon yang terkenal karena melawan mahkluk separo manusia separo kerbau, Minotaur, dan menjadi raja kota Athena—ini cari di Wiki, dulu padahal kuliah pernah ikut kelas mitologi Yunani tapi bagian ini udah nggak memperhatikan materi, biasalah kelas besar =P. Di Immortals, hanya bagian Minotaur (sort of) itu saja yang muncul. Sisanya, mulai dari penokohan Theseus sampe, well, segala-galanya adalah ngarang-ngarangnya si penulis naskah aja. Padahal dari nama kedua penulis itu jelas-jelas Yunani, kenapa mereka berani semena-mena merombak kisah turun-temurun kebudayaan mereka demi sebuah tontonan berjudul Immortals? Tahan. Menurut gw, mungkin mereka berprinsip pada apa itu makna mitologi sendiri, bahwa tidak ada versi benar atau salah, versi daerah sini bisa jadi berbeda dengan versi daerah sana, malah bisa jadi bertentangan. Mitologi bukanlah literatur dengan plot yang saklek (kecuali Troy mungkin), continutity-nya pun jangan harap bisa dinalar. Jadi, daripada pusing, dan memang nggak ada yang melarang, mereka mengarang bebas cerita tentang Theseus yang anak haram vs Hyperion yang bukan Titan, serta berulangnya perang dewa-dewi vs para Titan. Tokoh-tokohnya pun agak random dicomot nama-namanya dari mitologi lalu dibuat karakterisasi yang jauh berbeda. Bukannya menyadur, malah membuat kisah baru. Tetapi di luar “pelanggaran”-nya itu, kisahnya terbilang fine-fine saja, sebab akibatnya masih okelah, malah masih memiliki spirit mitologi Yunani banget, yakni peristiwa besar sampe melibatkan dewa-dewi dilandasi motivasi yang personal dan intrik-intrik sinetronik.


Kalau naskahnya mengacak-acak mitologi sama seperti Troy dan Clash of The Titans tadi, lalu mengapa kok gw masih bisa aja menikmatinya? Nah di sinilah giliran kerja sutradaranya—yang dalam 3 filmnya variasi namanya ada 3: Tarsem Singh, Tarsem, dan sekarang Tarsem Singh Dhandwar, labil doi. Bisa jadi karena udah dari naskahnya ngarang, maka Tarsem pun merasa bebas untuk mencitrakan ulang mitologi Yunani itu menjadi sebuah fantasi antah-berantah menurut imajinasi(liar)nya sendiri. Yunani itu kering dan gersang dan desanya ada di tebing-tebing, bukan di tanah hijau nan subur penuh pohon zaitun. Dewa-dewi punya banyak mode cosplay pakaian, bukan hanya pake selembar kain tanpa daleman (atau baju besi berkilau). Ritual doa pun lebih mirip cara Hindu. Dan yang paling ngaco adalah, sang Oracle dan 3 pelindungnya adalah orang India, Afrika, Asia Timur, dan Kaukasia (Yunani itu Mediterania, mirip Italy atau Turki lah) berbicara dalam bahasa Yunani =D. Yang gw kagum, Tarsem tidak merasa canggung dengan kengacoannya, ia malah asik bermain-main lewat gambar sambil membawa ceritanya yang masih cukup jelas arahnya kemana. Untungnya, dia adalah Tarsem, seseorang yang telah membuat visual gokil di The Cell dan The Fall, keasikan dalam kengacoannya itu tetaplah artistik.

Tarsem ini pasti punya bakat gambar dan komposisi yang cakep, pasti guru kesenian senang sama dia. Setiap frame diciptakannya dengan mengagumkan cantik dan ganjilnya sejak adegan pertama, the trailer didn’t do it justice (and kind of misleading too). Tidak hanya bentuk (kostum, set) dan komposisi warna yang ciamik, tetapi bagaimana cara orang-orang dan benda-benda itu bergerak juga bikin mata tak berkedip, sebuah sinergi penyutradaraan, desain kostum, desain produksi, dan sinematografi yang luar biasa, dan percayalah keartistikan itu bukan terletak pada bagian efek CGI. Seakan-akan lebih dari separuh film ini adalah parade instalasi seni. Bahkan adegan Phaedra membilas wajahnya dari minyak hitam pun terlihat nyeni sekali. Yes, gw sangat terpuaskan pada gambar demi gambar film ini. Kostumnya gila desainnya, fantastik, dan kudu harus diapresiasi di ajang penghargaan (dan itu tadi, cara kostumnya digerakkan pun keren). Biar pun ceritanya hanya dalam batas “oke”, gambar-gambar mengagumkan ala Tarsem inilah yang membuat betah menatap layar, hingga akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang, kita sampai pada adegan klimaks yang paling diharapkan banyak orang: peperangan. Ini pun keren (dan cukup gory juga), tapi biar demikian kekaguman gw masih tertuju pada komposisi dan rancangan gambarnya. Awesome.

Immortals bukannya tanpa kelemahan. Di luar kepuasan, gw pun merasakan ganjalan pada castingnya yang ngaconya agak kelewatan, seperti sosok Zeus yang kurang tua, Athena (Isabel Lucas) yang tatapannya terlalu kosong, pokoknya casting dewa-dewinya tuh agak aneh deh. Pun konsep kenapa para kaum abadi ini bisa berdarah dan “mati” juga gak terlalu jelas, atau jangan-jangan sebenarnya nggak benar-benar mati, tuh Titan nya aja nggak abis-abis. O well, terserah deh. Permainan aktornya sih lumayan saja. Mickey Rourke tetap gondrong dan berkharisma meski kali ini ketutupan kostum-kostum fantastisnya, sedang Henry Cavill sendiri bolehlah, cukup sebagai step signifikan sebelum jadi Superman baru (mukanya mirip Christopher Reeve euy). Bagi yang mengharapkan keseruan stylized atau lebih banyak pria bugar setengah telanjang seperti 300-nya Zack Snyder sebagaimana diiming-iming iklannya, silahkan bersiap kecewa dan caci maki film ini. Immortals tidak sama dengan film-film Hollywood kebanyakan, terutama dari gaya visual dan berceritanya (terutama lagi Immortals bukan buatan Zack Snyder, coba deh mulai belajar mengenali sutradara *mulaisokngatur*), konsepnya pun udah agak nyeleneh, sayangnya ini ditutup-tutupi oleh produser-produsernya sehingga terkesan menipu. Seperti The Fall, it’s a fine exhibition of imagination, but with more blood and less heart. Immortals tidak seperti ekspektasi banyak orang sepertinya, tetapi justru melebihi ekspektasi gw setelah sempat ragu dengan trailernya yang sok 300 itu, justru filmnya Tarsem emang harus agak aneh begini. Benar, saya suka film ini. Sekian dan terima kasih.



My score: 7/10

Sabtu, 19 November 2011

[Movie] Sang Penari (2011)


Sang Penari
(2011 - Salto Films/Indika Pictures/KompasGramedia Production/Les Petites Lumières)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Based on the "Ronggeng Dukuh Paruk" trilogy novels by Ahmad Tohari
Produced by Shanty Harmayn
Cast: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Lukman Sardi, Teuku Rifnu, Tio Pakusadewo, Happy Salma, Zainal Abidin Domba


I've mentioned once before bahwa walau gw tidak bisa mengelak status sebagai lulusan jurusan sastra, gw hanya tahu sedikit sekali soal karya sastra. Memalukan. Gw baru tahu penampakan novel berjudul "Ronggeng Dukuh Paruk" hanya beberapa tahun yang lalu karena seorang teman kampus sedang membacanya. Padahal terbitan pertama trilogi novel karya Ahmad Tohari ini sudah beredar pada paruh awal dekade1980-an ("Ronggeng Dukuh Paruk" (1982), "Lintang Kemukus di Dini Hari" (1984), dan "Jentera Bianglala" (1985)), bahkan kata seorang teman lagi novel ini pernah disinggung dalam soal-soal ujian mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP atau SMA. Hee, kemane aje guweh...Anyway, tahun ini karya sastra Indonesia yang (konon) terkemuka ini dibuat dalam bentuk film yang sangat menjanjikan kualitasnya jika dilihat dari look-nya. Sebelum masuk ke review, ada satu hal yang menarik mengenai film ini setelah gw mencari-cari info tentang novelnya, film yang dibubuhi judul Sang Penari (terjemahan dari "The Dancer", judul novel edisi bahasa Inggrisnya) ini memang mengambil plot dasar novelnya, termasuk latar dan tokoh-tokohnya, film ini jelas "berdasarkan" novel, tetapi entah kenapa para pembuat film insist pake kata "terinspirasi". Takut kena sambit penggemar novelnya gara-gara banyak titik perbedaan? Nyantai aja lagi. Menurut loe trilogi Bourne antara novel sama film samanya dimana coba? ^_^; *perbandingan yang aneh*

Jadi mari gw coba uraikan apa yang gw peroleh dari Sang Penari mengingat gw belum pernah baca novelnya. Gw harus memulainya dari apa itu "ronggeng Dukuh Paruk". Dukuh Paruk adalah sebuah desa miskin di kawasan Banyumas, Jawa Tengah dengan masyarakat yang biasa-biasa saja, berladang, bertani, kurang berpendidikan, terikat kepercayaan tradisional dan sebagainya. Satu hal yang dapat menyalakan geliat penduduk desa adalah kesenian tari ronggeng. Seorang penari ronggeng bukan hanya sekadar njoget atau nembang, tetapi wanita itu harus memiliki tanda "terpilih" oleh (arwah) kakek moyang perinitis desa untuk kemudian menjadi ronggeng, simbol keramat milik desa yang dipercaya dapat membawa berkah dan kemakmuran bagi seluruh desa. Nah, berkah itu juga tidak hanya dipercikkan dalam bentuk njoget, tetapi juga terbuka bagi pria-pria yang sanggup bayar mahal untuk mengalami transendensi ilahi...alias berhubungan kelamin dengan sang ronggeng. Dalam pandangan mereka, termasuk yang para wanita juga yang turut mendukung, laki-laki yang berhubungan intim dengan ronggeng adalah suatu kebangaan, ya karena itu tadi, ronggeng itu wanita terpilih, dan dipercaya bisa membawa berkah baik untuk masyarakat maupun untuk rumah tangga.

Tahun 1960-an, adalah Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Nyoman Oka Antara) yang tumbuh di Dukuh Paruk, dan kedekatan mereka bertumbuh pula menjadi cinta masa muda-mudi. Masalahnya, Srintil merasa terpanggil menjadi ronggeng, apalagi setelah bertahun-tahun Dukuh Paruk tak punya ronggeng lagi karena yang terakhir (Happy Salma) beserta beberapa penduduk lain mati keracunan tempe bongkrek buatan orang tua Srintil—yang juga ikut meninggal, yah ini sekaligus demi memperbaiki nama keluarga. Rasus jelas tak rela kekasih hatinya jadi harfiah milik bersama. Namun keduanya memutuskan untuk menghormati tradisi desa mereka, yang tersisa hanya kepasrahan. Srintil—dengan susah payah—berhasil diakui menjadi ronggeng dan menjalani segala kewajibannya, Rasus pun mundur perlahaan ke luar desa hingga akhirnya direkrut dan dididik jadi tentara nasional. Little they know, bukan hanya tradisi ronggeng yang akan semakin memisahkan cinta mereka. Dukuh Paruk kemudian berhasil dimenangkan simpatinya oleh Bakar (Lukman Sardi) untuk mendukung partainya, ia pun menggunakan seni ronggeng (Srintil dkk) sebagai sarana menghimpun massa pendukung. Namun tak lama, selepas peristiwa Gerakan 30 September di ibukota, Dukuh Paruk disinyalir menjadi kampung PKI, dan Srintil beserta rombongan tour band ronggengnya ditangkap karena diduga menjadi anggota tercatat organisasi bawahan PKI—padahal di Dukuh Paruk tidak ada yang bisa baca tulis. Ketika tentara dikerahkan untuk menumpas anggota ataupun terduga anggota PKI tanpa pengadilan, termasuk di Dukuh Paruk, Rasus bimbang terbelah antara tugas baktinya pada negara dengan keinginannya untuk mencari dan menyelamatkan Srintil yang diringkus dan ditahan entah dimana.

Sang Penari adalah contoh film yang seharusnya banyak dibuat tapi gw tau nggak semua orang bisa menjadikannya berhasil secara keseluruhan. Hal yang kentara dari film ini adalah bobotnya yang tidak kosong, karena dari naskahnya mengharuskan adanya kerterkaitan latar budaya, sosial, tempat, politik, dan sejarah yang sangat erat dengan tokoh-tokohnya serta plot utamanya yang “cuman” kisah cinta ini. Kisah Srintil dan Rasus akan sulit dipindahkan ke dimensi lain, karena hanya di momen inilah kisah mereka benar-benar kena. Jadi, kebudayaan ronggeng ataupun latar sejarah nasional 1960-an bukan sekadar tempelan supaya menambah beban film biar kesannya “bermutu”, tetapi memang tanpa itu, ceritanya nggak jalan. Mengingat tuntutan cerita yang harus mengaitkan beberapa aspek tadi, gw menemukan Sang Penari berhasil menyampaikannya dengan baik, cukup mulus, dan tanpa harus susah payah memberi penjelasan kepada penonton, padahal “PKI”-nya juga nggak ditunjukkan jelas kalau mereka itu PKI, komunis atau apapun itu. Gw cukup mengerti apa itu ronggeng, gw pun memahami efek dari peristiwa penumpasan komunis terhadap rakyat yang nggak tau apa-apa. You see, makanya gw sangat tidak suka ketika politik mencemari dan nebeng budaya dan agama/kepercayaan untuk mempengaruhi masyarakat yang nggak tahu apa-apa demi meraih kekuasaan, jijik tauk *jadi serius gini*. Gw pun mengerti pergulatan emosi Srintil dan Rasus, dan akibatnya terhadap nasib mereka kemudian. The film just work.

Keberhasilan itu pun sangat didukung oleh keseriusan teknis dari sutradara Ifa Isfansyah dan kawan-kawannya. Dengan desain produksi yang tidak terkesan palsu, dan sinematografi yang terkesan mentah namun efektif dan cantik (Yadi Sugandi gitu loh), Sang Penari sangat bikin betah dilihat. Performa aktornya pun terbilang keren, no.1- nya Oka Antara yang keren sekali transformasinya dari pemuda desa polos dan ngapak (“Siap, paK!” ^_^) menjadi seorang anggota tentara nasional. Udah bau Citra nih, Bli. Prisia Nasution pun mengejutkan gw yang hanya tau akting payahnya jadi presenter sementara di Termehek-Mehek (eh...itu akting ‘kan ya? =P), kini tampil meyakinkan sebagai wanita desa ayu yang menjadikan njoget sebagai passionnya, bukti bahwa dia aktris berbakat dan siap berdedikasi. Dan lebih keren lagi, adalah nama-nama aktor Nyoman, Nasution, Simatupang, Teuku dan lain sebagainya meyakinkan gw bahwa mereka orang Banyumas, sangat perlu diacungi jempol. Jagoan Anda semua.

Sang Penari layak diangkat sebagai salah satu film terbaik Indonesia, baik tahun ini maupun tahun-tahun kemarin dan mendatang, dan itu karena keseriusan penggarapan dan keberhasilan penyampaian. Memang masih ada poin-poin yang tidak gw pahami betul dari segi ceritanya, namun sesungguhnya keseriusan pembuat film dan penyampaian yang nggak sok pretensius, dekat dengan penontonnya, sudah cukup memuaskan gw, bagus di cerita maupun di mata. Dan, maaf kalo diskriminatif, tapi bahasa Jawa ngapak masih terdengar lucu dan menghibur di telinga saya *jahat*.



My score: 8/10

Senin, 14 November 2011

QUIZ WINNERS: My Top 100 Films of the 2000's

Oke, setelah senarai My Top 100 Films of the 2000's sudah diungkap semua, kini saatnya kita ungkap siapa saja 3 orang yang berhasil mendapatkan masing-masing 1 DVD resmi dari koleksi gw (ya, bekas, hehe) sebagai hadiah quiz yang gw adakan sekitar 2 minggu lalu. 

Sebagai penegas, gw akan ulang lagi ya pertanyaannya:
TEBAKLAH 3 JUDUL FILM POSISI TERATAS (1,2,3) DALAM SENARAI MY TOP 100 FILM OF THE 2000'S!

Dan, sesuai dengan postingan senarai bagian terakhir, jawaban yang tepat adalah:
1. CHILDREN OF MEN
2. MOULIN ROUGE!
3. THE DARK KNIGHT

*APPLAUSE*



THE WINNERS
Sebagaimana gw udah beritahukan, yang berhak mendapat hadiah adalah yang menjawab dengan tepat judul dan urutannya. Dari sekian ribu jawaban yang masuk *nghayal*, ternyata hanya  SATU orang yang dapat menjawabnya dengan tepat. Orang yang "u know me so well" itu, sekaligus sebagai pemenang pertama adalah:



HALOMOAN SIRAIT di Semarang, Jawa Tengah
*Big Applause*
Dengan demikian maka saudara Moan berhak mendapatkan DVD film nomer 1, Children of Men. Selamat yah.
Children of Men (Vision Interprima Pictures): 
1 disc; region 3; single-sided dual layer; NTSC; 
anamorphic widescreen; 109 minutes; audio English and 
Thai (Dolby Digital 5.1); subtitles English, Thai, Korean, 
Indonesian, Cantonese, Mandarin Traditional; 
bonus feature (the-making-of)



Kemudian, karena masih ada 2 DVD lagi dan tidak ada lagi yang menjawab dengan tepat, maka sebagaimana janji, gw akan mempertimbangkan jawaban-jawaban yang 3 judulnya benar tetapi urutannya kurang tepat. Jawaban yang demikian ternyata ada 3. Karena hadiah tidak dapat ditambah (=P), gw terpaksa harus mengeliminasi satu orang. So, to be a little bit fair, gw telah mengundi 3 nama ini secara acak, dan 2 nama yang terambil, or should I say terlempar dari wadah kocokan, masing-masing mendapatkan DVD film nomer 2 dan nomer 3 berturut-turut.


Dan, pemenang kedua jatuh kepada:

AWYA WAHARIKA di Denpasar, Bali
*Applause*
Maka saudara Awya akan memperoleh DVD film nomer 2, Moulin Rouge! Selamat.
Moulin Rouge! (Alliance Entertainment Singapore):
1 disc; region 3; single-sided dual layer; NTSC;
anamorphic widescreen; 128 minutes; audio English
(Dolby Digital 5.1, DTS 5.1); subtitles English, Cantonese,
Mandarin, Korean, Thai; bonus features
(audio commentary, behind the curtain)




Dan akhirnya, pemenang ketiga jatuh kepada:

FARIZ RAZI di Surabaya, Jawa Timur
*Applause* *histeris*
Untuk itu saudara Fariz akan menerima DVD film nomer 3, The Dark Knight. Congrats.
The Dark Knight (Vision Interprima Pictures):
2 discs; region 3; single-sided dual layer (disc 1),
single layer (disc 2); NTSC; anamorphic widescreen;
154 minutes; audio English and Thai (Dolby Digital 5.1);
subtitles English, Korean, Thai, Bahasa Indonesia, Cantonese,
Chinese; bonus features (creation of a scene, IMAX sequences,
Gotham Tonight news program, galleries)



Untuk ketiga pemenang, hadiah akan dikirim melalui jasa kurir. Nanti akan saya beritahu detil apa dan kapannya melalui e-mail. Ditunggu saja ya. Setelah diterima, mohon kirim pesan ke gw ya biar gak was-was gwnya. Semoga berkenan dan bermanfaat serta dijaga baik-baik, siapa tau bisa jadi valuable item apalagi  kalo saya sudah terkenal nanti *dream believe and make it happen* =D.

Usai sudah rangkaian postingan My Top 100 Films of the 2000's versi Ajirenji. Mohon maaf jika ada kekurangan dan kekecewaan. Namun moga-moga diberi umur panjang dan kesempatan untuk bikin quiz lagi. This is so much fun =D.

Selamat untuk para pemenang, and see ya!

Minggu, 13 November 2011

My Top 100 Film of the 2000's: Final Part (no. 10-1)

Sampailah kita pada bagian akhir dari serial postingan senarai My Top 100 Films of 2000-2009 ini, tepatnya posisi sepuluh besar. Kecenderungan kriteria top 10 ini adalah film-film yang menyeimbangkan kepuasan teknis, cerita, dan unsur hiburan, yang selalu memanggil-manggil untuk ditonton ulang dan kenikmatannya tidak cepat pudar, yang tidak akan terlupakan sampai akhir hayat *levay*. Seperti yang gw sampaikan pada foreword, gw punya selera pasaran sehingga kesepuluh film paling top versi gw ini pasti banyak yang tahu dan banyak pula yang suka, so jangan harap yang aneh-aneh, hehe. Kurang cutting edge deh. But to hell with that, bagi yang sudah menanti-nanti film-film paling “whoa” di dekade 2000-an versi gw, atau bagi yang penasaran sama jawaban quiz yang gw adakan kemarin, inilah saat penyingkapannya. Oh ya, gw menyematkan pula potongan adegan dari film-filmnya (nemu di YouTube), kali aja yang belum nonton pengen tau filmnya kira-kira kayak gimana.  AND. HERE. THEY. ARE.....

Senin, 07 November 2011

[Movie] Thor (2011)


Thor
(2011 - Paramount)

Directed by Kenneth Branagh
Story by J. Michael Straczynski, Mark Protosevich
Screenplay by Ashley Edward Miller, Zack Stenz, Don Payne
Based on the comic book created by Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby
Produced by Kevin Feige
Cast: Chris Hemsworth, Natalie Portman, Tom Hiddleston, Anthony Hopkins, Stellan Skarsgård, Kat Dennings, Clark Gregg, Idris Elba, Colm Feore, Ray Stevenson, Tadanobu Asano, Josh Dallas, Jaimie Alexander, Rene Russo


Tadinya tuh gw udah nggak tertarik sama Thor ini, toh dia ini bukan tokoh superhero yang populer-populer amat. Ketika harusnya film ini rilis pada saat aksi mogok atau dimogokkanya (tergantung perspektif) impor film Hollywood di Indonesia gw juga fine-fine aja, nggak niat nonton juga sih. Namun ketika sudah rilis di DVD, gw agak gatel pengen beli, tapi ragu, gw bakal suka nggak ya, mana penyewaan VCD/DVD udah punah di sekitar tempat tinggal gw. Eh, taunya, entah dalam pertimbangan marketing macam apa, Thor akhirnya dirilis juga di bioksop (terbatas), lebih dari sebulan setelah DVD/Blu-Ray resminya beredar. Weird huh? ^_^;.Ya untunglah gw, karena setidaknya gw bisa tes filmnya, suka ya syukur karena udah nonton, kalaupun gw nggak suka toh gw rugi dalam bentuk harga tiket bioskop, bukan 139rb rupiah dalam bentuk DVD. But after watching it, sepertinya gw mulai mempertimbangkan untuk membelanjakan 139rb itu =).

Thor tampaknya bukan proyek yang main-main. Meskipun sekilas ide pembuatannya hanya semacam syarat untuk terwujudnya proyek kumpulan superhero Marvel tampil bareng dalam The Avengers (bersama Iron Man, Hulk, Captain America, Hawkeye) tahun depan, Thor sudah tampak agak berbobot dari komposisi produksinya. Film ini ditangani oleh Kenneth Branagh, yang mungkin dikenal khalayak luas sebagai pemeran Profesor Lockhart di Harry Potter 2, namun sebenarnya aktor Inggris ini cukup dikenal juga sebagai seorang sutradara baik film maupun drama panggung terutama yang berkaitan dengan karya Shakespeare (Hamlet, Love's Labour's Lost, Much Ado About Nothing). Either way, menyutradarai film superhero Hollywood bervisual efek ekstensif mungkin hal baru baginya, dan sebaliknya, film "Hollywood" dengan sentuhan seorang sutradara yang terbiasa mengarahkan drama mungkin akan membawa kesegaran tersendiri, rada gambling juga nih orang-orang. Belum lagi deretan cast yang kok-mau-maunya-ikutan seperti Natalie Portman, Stellan Skarsgård, Rene Russo, Anthony Hopkins, Idris Elba hingga Tadanobu Asano, Thor diam-diam sangat menjanjikan sekaligus mengemban beban berat akibat ekspektasi mutunya.

Film Thor ini diangkat dari serial komik keluaran Marvel terinspirasi dari mitologi Norse. Itu lho, wilayah Skandinavia dan sekitarnya. That's right, sebelum permainan daring Ragnarok merajalela di kalangan remaja urban Indonesia di paruh awal dekade lalu, Stan Lee dkk udah duluan membuat versi superhero dari mitologi dewa-dewa bangsa Eropa Utara ini—tapi di versi ini mereka lebih ke "mahkluk sakti dari dunia lain" ketimbang dewa, they are not immortal. Di negeri khayangan Asgard, adalah Thor (Chris Hemsworth) si putra mahkota yang sebentar lagi akan menerima tahta dari sang ayah, Odin (Anthony Hopkins). Sesaat sebelum sah, ruang penyimpanan pusaka mereka disusupi oleh kaum Jotun, buto es dari negeri kegelapan Jotunheim. Meski digagalkan, Thor yang tempramental gatal untuk "memberi peringatan" atas pelanggaran gencatan senjata Asgard-Jotunheim ini. Bersama sang adik, Loki (Tom Hiddleston) beserta sahabat ksatrianya, Sif (Jaimie Alexander), Volstagg (Ray Stevenson), Hogun (Tadanobu Asano) dan Frandal (Josh Dallas) mereka bertandang ke Jotunheim, tanpa sepengetahuan dan persetujuan Odin. Karena ketahuan, serta dianggap tak pantas menerima tahta raja, Odin pun mengusir Thor dari Asgard ke bumi, berikut pula palu pusaka Mjolnir yang hanya bisa diangkat oleh yang pantas. Thor yang jatuh di gurun dekat kota kecil di Amerika, ditemukan oleh para ilmuwan-entah-meneliti-apaan yang terdiri dari Jane Foster (Natalie Portman), Dr. Erik Selvig (Stellan Skarsgård), dan si bodor Darcy (Kat Dennings). Dalam tubuh yang fana, Thor berusaha untuk kembali ke negerinya meski harus berhadapan dengan ketidaktahuannya tentang kehidupan sebagai manusia biasa, yang membuatnya malah lebih mirip orang yang kabur dari RSJ.

Secara nalar, gw sebenarnya nggak terlalu nangkep maksud dan tujuan dari kejadian-kejadian yang terjadi di layar, kurang ngeh sama apa inti ceritanya =D. Latar belakang dunia Thor dan Asgard memang cukup bisa dimengerti. Tapi kemana arahnya, siapa musuhnya (well, tau sih cuman musuhnya mau berbuat apa itu baru ketemu di tengah-tengah film), apa masalah yang harus diselesaikan, apa yang harusnya dinantikan oleh penonton, apa urgensi-nya, kurang dapet lah gw. Pokoknya ada Thor yang mau balik ke negeri asalnya sekaligus pembuktian dirinya pantas jadi raja, dan ada Loki (yang udah ketauan dari tampang dan warna outfitnya adalah) si villain yang entah maunya apa. Lalu apa sesungguhnya yang nanti mengubah Thor menjadi sadar dan berubah heroik *ehem agak spoiler* gak terlalu jelas juga buat gw. BUT, jika mengesampingkan kelemotan gw, Thor adalah sesungguhnya film yang enjoyable dan cukup memuaskan. Jujur. Thor bukanlah film yang teledor dalam menyajikan hiburan yang tidak menciderakan. Eksekusinya sangat baik, mulai dari ritme cerita, sinematografi, desain artistik (Asgard-nya cakep), efek visual yang efektif, kostum, hingga porsi laganya jauh dari mengecewakan. Gw menemukan cukup banyak momen yang berkesan, baik bikin ketawa sama humornya yang cukup efektif, maupun dari aksinya yang terbilang keren, bahkan menurut gw lebih keren daripada sepasang film Iron Man. Rupanya nama-nama bereputasi baik tadi tidak salah pilih proyek, Thor sama sekali tidak memalukan.

Selain itu, meskipun *again* gw agak kurang paham pada apa konflik inti dari film ini, di sisi lainnya gw terbilang menikmati penyajian pengenalan para tokohnya yang lumayan banyak itu, dan rasanya itu terbantu oleh penampilan tiap aktornya. Chris Hemsworth yang belumlah tenar boleh dibilang berhasil dalam menjiwai Thor yang nggak sabaran dan songong, Natalie Portman pun tetap sanggup menjaga kehormatan namanya yang baru saja menang Oscar, tidak terlalu serius tetapi tidak main-main, demikian juga Anthony Hopkins yang selalu berwibawa. Kalo penampilan terkeren boleh gw nobatkan pada Idris Elba sebagai si penjaga gerbang yang cool *mungkin karena contact lense dan tambahan efek di suaranya, hehe*, dan surprisingly Tom Hiddletson yang sama kurang terkenalnya dengan Hemsworth menampilkan performa yang mengesankan sebagai Loki si second-in-line galau yang penuh tipu daya tapi anehnya nggak bikin kesal, he's actually quite cool too.

Dengan penataan yang baik dari berbagai sisi, "risiko" yang diambil oleh Marvel dalam pembuatan film ini terbayar secara fair. Dengan intrik dan drama yang fine, karakterisasi baik, romansanya lumayan, gambar yang generally keren (bukan cuma soal visual efek ya), diimbangi dengan adegan aksi oke dan humor-humor yang tidak bodoh, this film works well. Porsi kehadiran agen-agen SHIELD (Agen Coulson yang dimainkan Clark Gregg yang juga eksis di Iron Man)—rujukan ke The Avengers—mungkin agak sedikit ganggu ya, namun overall Thor adalah salah satu film superhero Marvel yang paling menyenangkan dan memuaskan untuk ditonton. Not super-special, tapi nggak rugilah.



My score: 7/10

Selasa, 01 November 2011

[Movie] Real Steel (2011)


Real Steel
(2011 - Touchstone/DreamWorks)

Directed by Shawn Levy
Story by Dan Gilroy, Jeremy Leven
Screenplay by John Gatins
Based in part upon the short story "Steel" by Richard Matheson
Produced by Don Murphy, Susan Montford, Robert Zemeckis, Shawn Levy
Cast: Hugh Jackman, Dakota Goyo, Evangeline Lilly, Anthony Mackie, Kevin Durand, Hope Davis, Karl Yune, Olga Fonda


Berseting kira-kira sepuluh tahun mendatang, masyarakat lebih tertarik menyaksikan pertandingan tinju yang dilakoni oleh robot ketimbang manusia betulan. Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah mantan petinju profesional yang kini juga berurusan dengan robot petarung bersama cem-cemannya, Bailey (Evangeline Lilly *blush*) yang adalah putri dari almarhum pelatihnya dulu. Hidup dari satu pasar malam ke yang lain di kawasan Texas, belum lagi hutang yang menumpuk, suatu hari Charlie dikejutkan oleh berita meninggalnya sang mantan kekasih yang telah memberinya anak 11 tahun bernama Max (Dakota Goyo). Charlie menyerahkan hak asuh pada tantenya Max, Debra dan suaminya yang tajir (dengan imbalan, di bawah tangan tentu saja ^_^;), namun selama musim panas si oom dan tante Debra liburan ke Eropa, Max dititipkan pada Charlie. Meski awalnya sering berselisih paham, Max kemudian terpikat pada dunia tinju robot yang digeluti Charlie, bahkan anak otaku ini diajak Charlie dalam pertarungan underground demi dapet duit buat bayar utang. Kegagalan pada pertarungan menggunakan robot yang dibeli dari hasil "menjual" Max ini membawa mereka ke tempat rongsokan untuk cari sukucadang, dan di sanalah Max menemukan sebuah robot utuh dan lusuh—dirancang sebagai robot latihan yang bisa meniru gerakan dan anti-peyot—namun masih berfungsi dengan baik. Dengan sedikit perbaikan di sana sini, bersama robot yang dinama Atom ini, dimulailah perjalanan Max dan Charlie dalam kancah pertarungan robot, mulai dari yang underground, sampai pada tingkat liga nasional, bahkan hingga menantang petarung terkuat, Zeus, dan di saat yang sama lambat laun mempererat hubungan ayah-anak telat ketemu ini.

Real Steel (gw suka kepeleset nulisya reel steal =P) adalah sebuah film yang, hmmm, umum sekali, baik dari segi cerita maupun penceritaan—misalnya sudah pasti Charlie dan Max bakal akur di akhirnya, masak enggak sih =P. Lumrah kalau mudah disukai, karena berkonsep zero to hero beriringan dengan kisah ayah-anak. Sejak Rocky, Karate Kid, Bloodsport dan, err, "Glee", everyone likes underdog stories, I guess. Walaupun jualannya adalah pertarungan antar robot di atas ring (yang sama artinya dengan pertunjukan CGI), menurut gw film ini sejak awal telah menetapkan jalur pendekatan yang baik, yaitu soal manusianya. Jadi ya, kita akan disuguhi pertarungan "brutal" dan seru antar robot sekaligus menyaksikan kecanggihan teknologi efek visual, namun kita juga dibuat untuk memahami dan peduli pada manusia-manusia dibaliknya, terkhusus pada tokoh protagonis kita. Untungnya para pemeran menjalankan tugasnya masing-masing dengan cukup baik. Hugh Jackman tidak memalukan, dan Dakota Goyo cukup berhasil dalam membawakan perannya yang anak kecil banget (liat waktu dia cerita ke Charlie setelah abis nonton pertandingan Zeus, hehe) tapi nggak kekanak-kanakan menyebalkan, terlihat normal-normal saja. Nah, ngomong-ngomong soal itu, salah satu yang membuat film ini layak disimak adalah pembawaannya yang normal, membumi, nggak terlalu mengawang-awang. Segala sesuatu yang kita lihat di layar terbilang sangat plausible untuk ada di sekitar kita di masa datang, atau malah sudah ada (tampaknya handphone Nokia bakal dipake lagi, hihihi), cukup meyakinkan dan believable.

Akan tetapi, gw tidak melihat nilai lain lagi yang membuat Real Steel jadi favorit gw. Gw sih overall cukup terhibur, gw suka dengan perkembangan hubungan Charlie dan Max, gw suka dengan visual efeknya yang cukup nyaman disaksikan, adegan tarungnya pun tidak berantakan. Namun di saat yang sama gw tidak merasa terlalu excited, tidak juga merasa benar-benar tersentuh (baru paham dan peduli saja) dengan dramanya yang dihiasi dialog-dialog klise, serta konflik-konflik sampingan seperti dari tokohnya Kevin Durand yang agak buang-buang waktu—dimunculkan hanya supaya ada lagi tokoh antagonis menyebalkan ketika dirasa tokoh antagonis yang dingin dan keren seperti robot Zeus dan kroni-kroninya tidak cukup meramaikan filmnya. Plotnya sendiri dibangun dengan lambat di awalnya—ya bisa jadi dengan alasan memperdalam, terserah sih, malah Atom aja baru ditemukan setelah setengah jam film berjalan. Untuk film yang menjadikan robot Atom sebagai “jagoan”-nya, gw sih merasa itu agak kelamaan. Ini belum lagi menyinggung subteks kekerasan dan perjudian ya, hihihi *sokbermoral*, nggak lah, nyantai aja kale.

Namun lagi-lagi, bila sudi mengabaikan hal-hal itu, Real Steel tetaplah film yang tidak perlu dihindari. Banyak momen-momen yang dieksekusi dengan baik dan bikin senyum—misalnya adegan-adegan Atom dan Max yang joged bareng ^_^. Ia masih lebih baik daripada film-film futuristik lain yang keberatan di efek visual tapi masabodo sama cerita. Setidaknya, Real Steel justru menggunakan teknologi itu sebagai pendukung drama keluarga yang lebih dikedepankan. It is a nicely made film, a harmless entertainment. Itu dan melihat senyuman Evangeline Lilly? This film is not bad at all =D.



My score: 6,5/10