Sabtu, 27 Agustus 2011

[Movie] Kung Fu Panda 2 (2011)


Kung Fu Panda 2
(2011 - DreamWorks Animation/Paramount)

Directed by Jennifer Yuh Nelson
Written by Jonathan Aibel, Glenn Berger
Produced by Melissa Cobb
Cast: Jack Black, Angelina Jolie, Dustin Hoffman, Gary Oldman, James Hong, Michelle Yeoh, Jackie Chan, Seth Rogan, David Cross, Lucy Liu, Danny McBride, Dennis Haysbert, Jean-Claude Van Dame


Kung Fu Panda hadir di tahun 2008 sebagai salah satu film yang paling menghibur bagi gw, baik dari idenya yang fresh, humornya yg bikin ngakak sentosa, inspirasi2 yg menyentuh (filosofinya mantep lho), eksekusi yang tepat, dan visual yang cantik memukau. Resep2 itu agak jarang ditemui dalam film2 animasi CGI dari studio DreamWorks yang meskipun produktif, kurang banyak mengeluarkan “adikarya” layaknya kompetitor utamanya, Pixar, karena lebih sering menekankan pada humor2 beresiko dan pengisi suara aktor2 terkenal ketimbang menanamkan kesan mendalam di lewat ceritanya—pun visualnya kebanyakan gak cakep2 amat. Kung Fu Panda itu menurut gw adalah film DreamWorks Animation terbaik setelah Shrek (dan kemudian “nambah anggota” baru How To Train Your Dragon di tahun 2010), namun gw agak sangsi ketika pembuat filmnya berencana menjadikan si Po dkk “the next Shrek” (dan Madagascar) dengan membuat sekuel, mengingat menurut gw Shrek 2 itu gak bagus2 amat dan bikin gw males nonton yg ke-3 dan 4. Akan tetapi, Kung Fu Panda 2 membuktikan bahwa jika ditangani dengan kadar yang benar nggak terlalu maksa, sebuah sekuel bisa tetap berkesan bahkan menyamai pendahulunya.

Kung Fu Panda memang pada dasarnya punya cerita agak standar apalagi kalau kita sudah cukup familiar sama film2 dan serial kung fu, berbasis baik vs jahat, soal seseorang *majas personifikasi nih* yang dianggap useless bertekad menjadi pendekar tangguh dan akhirnya menjadi pahlawan, cuman ya jadi lebih exciting karena tokoh2nya berwujud hewan (dan untungnya bentuknya gak “hewan jejadian” kayak ikan2 mengerikan di Shark Tale =P). Po (Jack Black) si panda yang tampak luar—dan dalamnya juga sih—tidak pantas menjadi pendekar kung fu pada akhirnya menjadi pendekar hebat yang mengalahkan musuh jahat, lalu dijuluki The Dragon Warrior yang melindungi Valley of Peace, bersanding dengan kelompok pendekar idolanya The Furious Five: Tigress/Harimau (Angelina Jolie), Monkey/Monyet (Jackie Chan), Crane/Bangau (David Cross), Viper/Ular (Lucy Liu), dan Mantis/Belalang Sembah (Seth Rogen), di bawah ajaran guru Shifu (Dustin Hoffman). Dalam Kung Fu Panda 2 pun nggak jauh2 pada kisah khas dunia persilatan. Ketika guru Shifu hendak mengajarkan ilmu kung fu tingkat lanjut untuk Po, terdengar kabar bahwa Shen (Gary Oldman), si pangeran Merak dari kota Gongmen sedang melancarkan aksi keji dengan pasukan serigalanya untuk menguasai China dan memunahkan kung fu dengan cara merampas logam2 dari rakyat dan menjadikannya senjata meriam berkekuatan dahsyat. Guru Shifu mengutus Po dan The Furious Five pergi ke kota megah Gongmen untuk menghentikan Shen. Yang Po tidak sangka adalah misi kali ini akan membawanya pada terkuaknya rahasia jati dirinya: kenapa dianya panda tapi bapaknya angsa (James Hong)? ^_^;

Segala resep keberhasilan Kung Fu Panda pertama ada pada Kung Fu Panda 2 ini. Bukan dalam arti pengulangan, melainkan kepada gaya humornya (walau buat gw not as funny nor original as the original *pengulangan kata*), gaya berceritanya, keindahan visual dan keseruan laga pertarungan kung fu yang maksimal dan sangat menghibur (satu lagi bukti sutradara wanita tak kalah di bidang laga =)), juga pada bagaimana ceritanya menyentuh penonton meski dengan pendekatan yang berbeda, apalagi film ini menggali  tentang latar belakang Po lebih dari sekedar panda gembrot konyol fanboy kung fu. Di sisi lain, juga sama seperti film pertamanya, tokoh2 The Furious Five, kecuali Tigress, tetap seperti tempelan belaka dan belum berkembang banyak selain perkembangan dialog Monkey oleh Jackie Chan agak nambah gak cuma 2 kalimat, hehe. Mungkin tidak ada elements of surprise seperti di film pertama (bagaimana Po si panda gembul ditakdirkan melawan pendekar jahat paling berbahaya). Namun tidak masalah, karena penceritaannya di film ini tetap lancar, tidak neko2, timingnya pas, penuh semangat, serta menarik involvement gw dalam kisah asal usul Po bisa sampe ke Valley of Peace dan diurus bapaknya sekarang, quite touching.

Kalaupun adalah sedikit yang kurang2 (kenapa Po kadang keliatan berat tapi kadang ringan gerakan tubuhnya ^_^;), Kung Fu Panda 2 berhasil menambalnya dengan ritme cerita yang enak dan penggarapan visual yang sangat mumpuni. Desain kota Gongmen serta penataan adegan klimaksnya sangat2 keren dan indah, pewarnaan dan tata cahayanya cantik merangsang kekaguman, well memang art direction keseluruhan film ini cakep2 banget layaknya alam negeri Tiongkok dalam lukisan yang menjadi hidup. Desain karakternya juga bagus banget, apalagi detil2 fur/bulu yang terihat mulus dan keren, demikian juga desain Shen si merak yang tangguh sekaligus tetep cakep ekornya, gerak gerik saat bertarung pun dibuat anggun. Kerennya lagi, film ini juga menggunakan teknik animasi mirip wayang serta animasi 2-dimensi (kayaknya gabungan CGI dan gambar tangan) pada segmen2 tertentu, kedua gaya visual ini sama cantik dan kerennya, diposisikan dengan bijak dan nggak mengganggu. Semua dirangkum dalam rangkaian adegan selama 90 menit tanpa rasa kebosanan sedikitpun. Pertarungan2nya seru, lucu dan menyegarkan. Gw paling suka “adegan barongsai” yang kocak sekaligus cerdas konsepnya, haha. Performa pengisi suaranya tidak terlalu mengecewakan, Jack Black masih terdengar gaya khasnya menyatu dengan sosok Po (jahat gak sih gw kalo bilang lebih suka begini daripada liat Jack Blacknya langsung? =P), Dustin Hoffman dan Gary Oldman sukses memberi bobot pada karakter2nya yang berukuran mungil, pun Michelle Yeoh sebagai Soothsayer, kambing peramal yang suka makan kain (^_^;) berhasil menunjukkan wibawanya—seperti tokoh guru Oogway di film pertama, tokoh Soothsayer ini jadi semacam penjelas cerita dan pemberi pesan moral yang bukannya gak penting =).Mnenurut gw sih yg paling pol adalah James Hong sebagai bapaknya Po yang porsinya lebih banyak di sini, berkarakter banget dah =).

Sajian yang menghibur, memanjakan mata, exciting, kocak, tidak shallow namun gak kelewat berat membuat gw menetapkan Kung Fu Panda 2 ini sebagai film yang bagus, sebuah sekuel yang jauh dari kata “mengecewakan” atau “kurang”, malah gw bilang ini as good as the first (belum sampe “lebih bagus” lah). Tidak ada rasa sesal atau malu nontonnya, sangat menyenangkan tanpa merasa dibodohi. Apalagi nilai yang ingin ditanamkan, bahwa untuk maju kita perlu mengenali jati diri kita sesungguhnya, dimanifestasikan dengan mulus—tapi gw jadi agak takut kalau ada sekuel lagi Po-nya semakin bijak dan nggak lucu lagi =( *kekhawatiran berlebihan*. Btw lagi2 gw perhatikan, kalau di film pertama gw sadar penduduk Valley of Peace terdiri dari angsa, babi dan kelinci, penduduk Gongmen terdiri dari kambing dan domba. Bahan makanan semua =P.



My score: 8/10

Rabu, 17 Agustus 2011

[Movie] The Tree of Life (2011)



The Tree of Life
(2011 - Fox Searchlight/River Road Entertainment)

Written and Directed by Terrence Malick
Produced by Sarah Green, William Pohlad, Brad Pitt, Dede Gardner, Grant Hill
Cast: Brad Pitt, Sean Pean, Jessica Chastain, Hunter McCracken, Laramie Eppler, Tye Sheridan


The Tree of Life adalah salah satu film yang paling ditunggu tahun ini oleh sebagian penggemar film termasuk gw sendiri. Bukan, bukan penantian semacam menanti Harry Potter atau Transformers, tetapi lebih atas dasar kepenasaranan seperti apa karya terbaru sutradara pemalu “misterius” yang bergaya antik, Terrence Malick. Sebagaimana gw sampaikan di review film Malick sebelumnya, The New World yang cuakepnya banget itu, opa Malick ini punya gaya berbeda dan tersendiri dalam menggarap dan mempresentasikan filmnya (I don’t think the word “artistic” fit the description), pun beliau sangat irit dalam berkarya. Walau sudah 30-tahunan berkarir, The Tree of Life ini baru film ke-5 nya. Kepenasaranan pun meruncing ketika film ini dikirain bisa rilis 2009, trus 2010, eh jadinya 2011—lagi2 ini “terganjal” kebiasaan opa Malick yang demen ngendok menahun di ruang editing barengan editornya yg kali ini ada 5 orang (!), dan ditambah lagi film ini memenangkan penghargaan tertinggi Palm d’Or (Palem Emas) di Festival Film Cannes tahun ini, meskipun reaksi awal penonton film ini saat diputar di sana terbelah antara salut dan cela.

Buat gw pribadi yang hanya punya sedikit pengalaman menonton film2nya opa Malick, menonton The Tree of Life harus dengan kewaspadaan dan persiapan khusus. Pertama, ini “filmnya Malick”. Dengan gaya khasnya menyambung potongan2 klip gambar/footage hasil syuting secara cepat berasa lagi mimpi, ditempel voice over puitis, dan ledakan konflik yang nyaris tidak ada *gak ada tuh babak2 intro, pengenalan konflik, klimaks dsb*, film2 Malick selalu punya citra sebagai "film ninabobo", makanya waktu gw mau nonton ini jam midnight show, gw udah tidur siang dulu sebelumnya =D. Kedua, tak seperti dua film Malick sebelumnya yg pernah gw tonton, The Thin Red Line dan The New World tadi, premis film ini abstrak sekali, besar kemungkinan gw bakal gak nangkep atau kebingungan, sehingga gw seharian berusaha menjaga mood dan melemaskan otak supaya setidaknya menerima film ini dengan segala ke”berbeda”annya dengan lapang dada. Either that or fall to sleep, I will never walk out the theatre, ever (namun dilakukan juga oleh beberapa orang yang tidak tau apa yang mereka perbuat), loe kira gampang nyari duit...

Setelah menonton (utuh, tanpa tidur, the nap works ^_^ v), sudah diduga gw menemukan kesulitan untuk menceritakan ulang film ini. Kalo mau secara “kalimat promo”, The Tree of Life adalah film tentang pendamaian diri terhadap sebuah tragedi. “Diri” di sini adalah Jack O’Brien (Sean Penn), yang masih punya ganjalan terhadap kematian adik pertamanya, R.L. saat masih berusia 19 tahun beberapa dekade sebelumnya. Ia heran kenapa ibunya bisa tegar, karena dia sendiri agak nggak terima hingga saat ini. That’s the “what”, now the “how” is the problem. Udahlah dengan gaya khas Malick yang cepat banget berpindah adegan, film ini tambah “menantang” dengan penceritaannya yang tidak linear dan seakan pointless. Ada momen ketika keluarganya mendapat berita meninggalnya R.L., ada momen kehampaan Jack dewasa, ada proses terciptanya langit dan bumi hingga ada dinosaurus sampai pada komet/asteroid yang memunahkannya (!), ada fase lahir dan tumbuhnya Jack, lalu berhenti pada memori Jack remaja (Hunter McCracken) dengan segala kegiatan dan kenakalannya, fase2 aqil balig, permainan2nya dengan teman2 dan kedua adik laki2nya, R.L. (Laramie Eppler) dan Steve (Tye Sheridan), betapa lembut dan penuh cintanya sang ibu (Jessica Chastain), dan betapa kerasnya didikan sang ayah (Brad Pitt), saking kerasnya (walau tidak di luar batas normal sih) cenderung menumbuhkan kebencian di hati Jack. Tak berhenti di situ, kita juga akan kembali kepada Jack dewasa yang jalan2 di bebatuan karang, hingga bertemu dengan orang2 terkasih, termasuk yang sudah tiada, di satu tempat entah dimana dan kapan. Film apaan sih nih?

Film ini sangat terbuka terhadap berbagai interpretasi, yang akan gw bahas di sini hanyalah dari satu sisi yang paling bisa gw tangkep. Film ini dibuka dengan penggalan ayat dari Alkitab, tepatnya kitab Ayub. Ayub adalah tokoh biblikal terkenal, ia orang yang paling saleh di bumi pada masanya serta memiliki kekayaan melimpah, lalu Tuhan mengizinkan iblis membuat Ayub bangkrut sebangkrut-bangkrutnya, sakit sesakit-sakitnya, anak2nya mati, pokoknya segala macam penderitaan paling pol untuk menguji kesetiaannya, padahal dia nggak salah apa2, hingga pada akhirnya Ayub lulus uji karena tetap setia, serta apa yang tadinya hilang dikembalikan berlipat kali ganda. Namun, mungkin yang sering luput dari perhatian banyak orang, meski kisah Ayub itu sebenarnya, well, gitu doang, namun kitab Ayub itu sendiri terdiri dari 42 pasal/bab...weleh, apaan aja isinya coba? Jujur gw gak pernah baca menyeluruh (ampun pak pendeta =P), namun gw bisa bilang film The Tree of Life ini mirip dengan garis besar isi kitab Ayub. Perenungan, pembelaan, kebingungan, kebimbangan, jeritan, penyesalan, hingga percakapan dengan sang Pencipta. 

Kisah penderitaan Ayub tadi bisa kelar hanya dalam satu kalimat, tapi tentu yang dia rasakan selama prosesnya tidak bisa disederhanakan begitu saja, sakitnya mah tetep, ya toh? Itu juga yang dirasakan Jack O’Brien. Dari tragedi kehilangan adiknya yang mati muda, meski sudah bertahun-tahun, meski ia sudah jadi arsitek mapan sejahtera di lingkungan serba rapih dan teratur (dan kantor yang oke berat =)), pertanyaan2 “itu” masih muncul dalam benaknya: Kenapa harus terjadi? Apa salah saya? Kenapa Tuhan tega? Tuhan dimana saat itu terjadi? Buat apa saya susah payah jadi orang baik kalau Tuhan tetap membiarkan penderitaan datang? Kalau segala sesuatu ada hikmahnya, apa hikmah dari kematian seseorang yang disayangi di usia 19 tahun? Sepanjang film ini, Jack mencoba melacak jawaban pertanyaan2 itu secara perlahan, lewat bagaimana ia memandang hidupnya di masa lalu, ketika ia menyerap segala sesuatu di dunia sekelilingnya baik maupun buruk, bagaimana ia memandang ibunya, bagaimana ia memandang adiknya yang nantinya meninggal dunia, dan yang paling membekas adalah bagaimana ia memandang ayahnya yang bahkan sempat dia doakan celaka. But somehow, yang paling membekas itu justru kerap mengalihkan dari jawaban yang ia cari...


Gw pikir semua orang pernah mengalami apa yang dialami Jack meski mungkin skalanya berbeda: mempertanyakan keadilan Tuhan, terutama setelah mengalami tragedi memilukan. Gw sendiri juga kadang2 suka merenung ketika habis mengalami peristiwa, misalnya kecelakaan atau sesepele pulang kerja kemaleman, hehe. Bahkan yang bukan "tragedi" seperti itu pun, pikiran gw akan kemana-mana, dan tak jarang berusaha “ngobrol” sama Yang Kuasa dengan pertanyaan2 serupa pertanyaan2 Jack (dan ibunya). Berpikir seandainya gw nggak begini atau nggak begitu, kenapa gw masih begini-begini aja, berkhayal gw mau jadi apa nantinya, lalu mengingat-ingat kembali masa lalu bahkan yang tidak relevan sekalipun sama kejadian yang gw alamin—mungkin sama kayak ngelanturnya film ini pada sesi penciptaan alam semesta, tapi mungkin bagian ini ingin menunjukkan posisi Sang Pencipta dengan ciptaannya terutama manusia: manusia tidak terlibat bahkan tidak melihat terbentuknya bumi yang begitu menakjubkan itu, so what makes us think we know better?

The Tree of Life ini layaknya visualisasi lamunan, perenungan, bahkan (kalau kata kritikus Roger Ebert) sebuah rangkaian doa dari Jack O'Brien, yang bisa jadi representasi dari opa Malick sebagai penulis/sutradaranya—kota Waco, Texas tempat keluarga O'Brien tinggal ternyata kampung halaman beliau. Jack (kita) bertanya, dan Yang Kuasa (sebenarnya) menjawab, mungkin tidak dengan kata2, tetapi dengan segala cara yang seringkali luput dari perhatian kita sebelumnya, dan itulah yang coba Jack cari dari memori masa lalunya (bukan berarti imajinasi ya), ia sedang look around, berusaha “mendengarkan” Tuhan. Gw setuju sama satu aspek film ini, bahwa kata2 "tabah ya", "ayo move on", atau "Tuhan punya rencana" dan segala ceramah penghiburan yang diujar oleh orang lain tidak akan mempan bagi pemulihan duka dan luka batin kalau bukan dicetuskan dari dalam diri sendiri, mungkin butuh waktu untuk itu, mungkin juga sampai berpuluh tahun seperti Jack. Apakah Jack akhirnya mendapat yang ia cari? Menurut gw iya, setelah mengubek-ubek kenangan masa remajanya, ia dapet sesuatu yang tadinya luput, sesuatu yang menjadi kunci pemulihan tali kasih dengan ayahnya yang selama ini, bahkan hingga Jack dewasa, masih terganjal kepahitan dan kebencian.

Menurut gw akan tidak adil menilai The Tree of Life ini sebatas film bagus atau tidak. Patokannya apa? The Tree of Life sekali lagi adalah sebuah pengalaman sinema yang berbeda, “luar biasa” dalam arti “di luar kebiasaan”. Meski tetap membawa ciri seorang Terrence Malick—misalnya keeksisan rumput ilalang =D, film ini tetap membawa impresi tersendiri. Salah besar jika mencari sebuah film yang lurus dan mencolek emosi layaknya dramatisasi film India atau sinetron Korea, lebih salah lagi kalau menonton ini karena faktor pengen liat Brad Pitt semata (kena loe, hehe). Kalo perspektifnya begitu, film ini bakal menjemukan sekali, lebih baik nonton Legends of The Fall aja lagi =D. Memang Pitt, Jessica Chastain, Sean Penn, bahkan si Jack remaja Hunter McCracken (yang porsinya paling besar sepanjang durasi 138 menit film ini) yang kalo gak salah baru pertama kali main film, semua bermain secara remarkable tanpa cela, gerak gerik dan gestur saat long shot maupun ekspresi wajah saat close up mereka bagus banget. Memang pula film ini begitu indah secara audio visual. Sinematografi yg dikepalai Emmanuel Lubezki memang hands down a total awesomeness (coba cek gambar2 screen-capture di teaser posternya di atas, ya kayak gitu filmnya =)), bikin menggelinjang gimana gitu #eh. Akan tetapi kesan yang lebih kuat daripada bentuk tampilannya adalah bagaimana film ini merasuk, menimbulkan empati, melibatkan diri penonton secara mendalam (bagi yang mau memperhatikan) sebab segala peristiwa dalam kilasan2 kenangan itu ditampilkan apa adanya dan nyata—tidak terstruktur sebagaimana cara kerja pikiran kita ketika mengenang sesuatu, seakan dialami atau memang pernah dialami oleh siapapun kita. Salah satu adegan powerful adalah ketika sekeluarga O’Brien makan siang, si ayah ngamuk karena R.L. menegur dirinya yang melanggar peraturannya sendiri untuk tidak bersuara di meja makan. Adegan ini powerful bukan karena dramatis, tetapi karena peristiwa semacam ini menimbulkan trauma, dan film ini berhasil mengeksekusinya dengan sedemikian.

Kalau mau dipermudah, anggaplah The Tree of Life ini bukan “film” dalam arti umum, melainkan lebih kepada visualisasi memori masa lalu yang diceritakan oleh seseorang, misalnya ayah/ibu atau kakek/nenek kita (opa Malick ya udah kakek2 toh, =D), atau juga visualisasi sebuah sesi doa berantai atau meditasi, atau kalo mau generasi 2000-an banget, anggaplah ini Pensieve versi panjang (lho kok nyambungnya Harry Potter =P). Tak perlu tergesa-gesa mempertanyakan kontinuitas adegan2 yang cepat beralih itu, karena pikiran kita bakal terus memproses dan merangkaikannya sendiri kok, bahkan seusai nonton. The Tree of Life adalah sebuah film yang bermakna dalam, sebuah perenungan sekaligus perayaan terhadap "hidup", dan dibuat secara cermat nan puitis—the words are just..wow. Bisa jadi Anda akan terperangah dengan dialog2 dan narasi yang diujarkan sepanjang film ini: damn, I thought about that too...



My score: 8,5/10

Jumat, 05 Agustus 2011

[Album] Superfly - Mind Travel


Superfly – Mind Travel
(2011 – Warner Music Japan)

Tracklist:
1. Rollin' Days
2. Beep!!
3. Fly To The Moon
4. タマシイレボリューション Tamashii Revolution (Extended ver.)
5. Eyes On Me
6. Deep-sea Fish Orchestra
7. Secret Garden
8. Sunshine Sunshine
9. Morris
10. Wildflower
11. Free Planet
12. 悪夢とロックンロール Akumu to Rock 'n' Roll
13. Only You
14. Ah


Band yg terdiri dari vokalis Shiho Ochi saja ini memang salah satu artis J-Pop yang menjanjikan di tengah-tengah merajalelanya girlband dan boyband idols (baik Jepang maupun yg "impor" dari Korea). Musiknya yang membawa warna nostalgia namun tetap kekinian memang sudah menarik minat gw sejak album perdananya yang self-titled (dan masuk di 10 besar top album dekade 2000-an versi gw). Meskipun album keduanya, Box Emotions tidak terlalu memuaskan gw, namun selalu ada tempat bagi Superfly di hati gw *cieee*. Sempat tidak berekspektasi apa2, akan tetapi ketika selesai mendengarkan Mind Travel, album ke-3 Superfly yang seperti 2 album sebelumnya kembali sempat nangkring di puncak ranking Oricon ini (that's a hattrick =)), gw kembali bersemangat dan percaya bahwa Superfly bakal eksis di blantika J-Pop for quite a while.

Superfly belum berubah haluan di album ini, temanya masih pop-rock nuansa musik 60-an dan 70-an, entah itu terpengaruh rock n roll maupun soul. Akan tetapi nampaknya Superfly agak memetik hikmah dari Box Emotions yang terlalu tensi (lagu kenceng dirombongin gitu) dan monoton itu, dan sedikit sadar bahwa keberhasilan album debut Superfly adalah dari keragaman musik yang ditawarkan, bukan dari ngotot2an distorsi. Dalam Mind Travel memang masih ditemukan yang rock n roll lumayan kenceng ("Rollin' Days", "Beep!!", "Tamashii Revolution", "Free Planet", "Akumu to Rock 'n' Roll" *obviously*) yang untungnya dengan irama yang lebih beragam sehingga tidak terlalu membosankan. Namun yang lebih utama adalah keragaman musik yang kembali ditawarkan Superfly di album ini, dengan asik pula dibawakannya. Ada disko 70-an ("Fly To The Moon"), slow ballad ("Eyes On Me"), stadium rock ("Deep-sea Fish Orchestra" yang mantap dengan string section powerful), pop ceria ("Sunshine Sunshine"), pop akustik ("Morris", cuma pake gitar dan akordion), ballad yang agak kencengan ("Wildflower"), gospel ("Ah"), bahkan sampai ke musik R&B ala Motown yang nggak ada rock2nya sama sekali ("Secret Garden" lebih ke R&B, "Only You" ke traditional R&B *ketahuan sok taunya deh gw =P*).

Gw juga cukup lega bahwa pengurutan lagunya terbilang aman2 saja dan gak terlalu mengganggu. Tadinya sempat ragu dengan 4 track pertama yang kenceng semua , agak monoton sih memang namun setidaknya bisa lolos dari jebakan "mboseni". Dibuka dengan "Rollin' Days" yang bernuansa rock n roll ceria dan asik sebagai semacam pemanasan—hampir mirip single "Manifesto" mereka di album pertama, Superfly membawa gw pada "perjalanan pikiran" lewat lompatan2 "genre" dalam track demi track *eaa lebay*, hingga merasakan kelegaan di track penutup "Ah" yang liriknya cuma "aaaaah" *serius*. Segi aransemen pun tidak mengecewakan dan tidak meninggalkan karakter Superfly yang sudah2, namun sekaligus memperkuat daya suara Shiho Ochi yang sudah bagus, jadi tambah enak disimak (bagus di sini bukan standar Jepang, tapi emang bagus beneran, remember she's one of my version's best Japanese vocalists =)). Ketika powernya digeber di "Tamashii Revolution", eeh, dia kembali mengempuk di "Secret Garden" dan "Morris". Ketika "liar" lagi di "Free Planet" dan "Akumu to Rock'n'Roll", eeh, melembut lagi di "Only You", dan ditutup pamer semesta vokal dengan semestinya di "Ah". Pokoknya pas tanpa paksaan.

Track terfavorit harus gw tahbiskan pada "Secret Garden" dan "Sunshine Sunshine". Gw termasuk agak jenuh bila Superfly terus menerus keluar dengan distorsi rock saja, sehingga dua track manis ini menjadi angin segar, karena memunculkan sisi lain dari Superfly dan Shiho Ochi, secara musik maupun vokal. "Only You" juga gw favoritkan setelah dua track tadi, disusul "Morris" yang menyentuh, dan "Deep-sea Fish Orchestra" yang megah, tak ketinggalan "Wildflower" dan "Rollin' Days". Jadi album ini jelas lebih baik dari album kedua, namun kayaknya masih belum bisa menyamai album pertama Superfly, mungkin faktor freshness juga berperan *halah*. Tetapi yang pasti gw cukup puas dengan third effort ini, terutama dengan variasi warna musik yang ditawarkan dan sajiannya yang cukup enjoyable. Tidak mengecewakan. Gw gak bilang bagus banget loh ya =).



My score: 7,5/10


Superfly

Previews
courtesy of YouTube

Rabu, 03 Agustus 2011

[Movie] Attack The Block (2011)


Attack The Block
(2011 – Studio Canal/UK Film Council/Film4)

Written and Directed by Joe Cornish
Produced by James Wilson, Nira Park
Cast: John Boyega, Jodie Whittaker, Nick Frost, Luke Treadaway, Alex Esmail, Franz Drameh, Leeon Jones, Simon Howard, Jumayn Hunter, Danielle Vitalis


Gw agak telat nonton Attack The Block ini, yaitu ketika usia tayangnya di bioskop Jabodetabek (di jaringan yang lebih-mahal-tapi-lebih-friendly itu) udah 2 minggu dan bentar lagi digusur Harry Potter 7B. Ketertarikan gw bermula pada review di blog2 tetangga, tapi sedikit banyak juga pada pendomplengan "from the producers of Shaun Of The Dead" di posternya, yang adalah sebuah film horor zombie tapi komedi yang pernah gw saksikan beberapa tahun lalu. Membayangkan film itu yang sukses bikin gw ketawa kering dengan humor2 khas Bri'ish-nya, gw pun berharap Attack The Block dapat menghibur gw sedemikian.

Malam2 *aku seeendiriii...#abaikan*, di sebuah pemukiman yang agak rawan (rawan tapi rapi dan bersihnya naujubilah) di sudut London Selatan, seorang wanita bernama Sam (Jodie Whittaker) ditodong oleh 5 orang bertutup muka, namun tiba2 proses penodongan itu terganggu karena ada benda jatuh dari langit mengenai mobil yang ada di sebelah mereka. Sam mengambil kesempatan untuk lari, sedangkan ke-5 berandal yang ternyata anak2 cowok masih belasan tahun itu sibuk mencari apa yg baru saja jatuh. Mereka menemukan sesosok makhluk aneh di dalam mobil itu, bahkan melukai sang dedengkot, Moses (John Boyega). Dengan peralatan todongan mereka, Moses dan gengnya bertekad memberi pelajaran pada si makhluk yang mirip hibrida monyet dan anjing dengan gigi banyak banget itu. Setelah berhasil mematikan si makhluk, mereka membawanya kepada bandar ganja, Ron (Nick Frost) untuk memastikan makhluk apa itu—karena Ron suka nonton National Geographic Channel ^_^;. Namun tak lama sesudah mereka setuju bahwa itu alien—thanks to Brewes (Luke Treadaway), pelanggan Ron yang kebetulan lagi di sana yg ternyata pernah kuliah zoologi, muncul lebih banyak lagi benda2 jatuh ke lingkungan mereka, bisa ditebak itu berarti lebih banyak lagi sosok2 serupa makhluk alien yang Moses dkk harus lawan. The block is being attacked! Attack The Block kemudian bergerak jadi film survival sekelompok orang dengan belasan alien bersosok aneh berbulu gelap dan bergigi glow-in-the-dark sebagai ancamannya. Dengan peralatan seadanya (pentungan, pisau, pedang pajangan, sepeda, skuter), 5 berandal kita ini pun bertekad melawan alien2 yang belakangan mereka sadari seperti hanya mengincar mereka berlima saja.

Film perdana karya komedian Inggris, Joe Cornish ini bisa dibilang maksimal dalam kesederhanaannya. Keserhanaan itu terlihat dari plot yang agak standar, efek2 visual yang tidak mewah, serta adegan2 aksi yang tidak menggelegar, dan tak lupa desain alien yang tampak tidak terlalu merepotkan konsepnya ^_^;. Meski demikian, Cornish menggunakan beberapa unsur dari sisi lain London yang jarang disorot—apalagi dalam pandangan audiens internasional —yang konon juga pernah dialami sendiri oleh Cornish, sehingga menjadikan film ini terasa fresh juga. Ini tampak pada bagian awal ketika kita diperkenalkan pada lingkungan dimana Moses dkk berada (dan juga tempat Sam tinggal). Sebuah lingkungan yang tampak intimidatif dengan penduduknya yang berpenampilan silau dan sering berkata kasar dengan logat yang khas—termasuk anak2, serta rawan kriminalitas. Dimana remaja dan anak2 mempunyai standar "keren" dengan saling memberi julukan aneh dan menjadi bagian dari sindikat narkoba atau sejenisnya, dan ini di"dukung" oleh sikap kepolisian yang memandang siapapun yang dari lingkungan ini pasti kriminal, boro2 mau bantu lawan alien, salah sedikit saja langsung main tangkap. Ini pun digunakan Cornish dalam cerita, bahwa Moses dkk ini gak bisa meminta tolong pihak berwajib, sehingga harus melawan serbuan alien ini dengan kekuatan mereka sendiri. Ada secuil kritik sosial di sini.

Namun, bagian2 yang agak serius itu diramu dengan keseruan yang naif dan humor2 yang oke, membuat Attack The Block ini cukup enjoyable. Memang unsur berdarah-darah dan seram2an masih kental, tetapi bagian lucunya pun dibuat lumayan efektif, baik lewat situasi maupun (terutama) dialog. Kadar kelucuannya mungkin nggak sampe kayak Shaun of The Dead *mungkin juga karena gw masih agak asing sama humor Inggris dan bahasa2 slang yg mereka gunakan, we call it 'culture gap'* tetapi cukup banyak momen2 yang mengocok perut—kebanyakan sih yg melibatkan tokoh Ron. Salah satu yg bikin gw ngakak adalah ketika salah satu anak buah Moses, Pest (Alex Esmail) mempermasalahkan kenapa pacar Sam yang seorang dokter membantu anak2 di Ghana ketimbang di Inggris, saksikan sendiri deh XD. Attack The Block seperti film survival melawan alien/zombie biasa, sering juga dijuluki kategori B-movie (and, yes, there will be casualties), tetapi dengan tambahan humor dan tokoh utamanya anak2 berandalan, it worked really well. Tak hanya itu, perkembangan cerita dan karakternya pun dieksekusi dengan mulus dan baik. Hal ini juga didukung oleh pemainnya yang sebagian besar tidak terkenal bahkan baru pertama kali main film (sebagian besar anak2 remajanya, termasuk John Boyega/Moses), semuanya bermain pas dan cukup kompak. Moses dkk aksinya memang nakal kalau gak mau disebut kriminal, tetapi kemudian harus berjuang keras, menggeber keberanian melindungi diri dan teman2 melawan para alien, lambat laun malah menarik simpati penonton, juga simpati dari karakter Sam yang agak stuck sama anak2 ini demi mendapat perlindungan dari makhluk2 alien yang liar dan sadis itu.

Overall, Attack The Block adalah sebuah film sederhana yang cukup seru dan agak konyol serta seram juga, namun tetap menghibur—pun rapih secara audio visual. Boleh lah ditonton di kala waktu senggang atau mau cari variasi film alien yang berbeda dari hingar-bingar Hollywood. Amanahnya adalah: jadi anak berandal itu berguna untuk membasmi alien.Yo.



My score: 6,5/10