Jumat, 24 Juni 2011

[Album] RAN - HOP3


RAN - HOP3
(2011 - KEP Media/Universal Music Indonesia)

Tracklist:
1. Sepeda
2. Mencuri Hati
3. Salah Tingkah
4. Telepon
5. Fresh
6. Singgasana Hati
7. Kulakukan Semua Untukmu
8. Dance With Me


Dengan ini saya nyatakan, mengetahui dst, menimbang dst, memutuskan bahwa RAN....lolos sebagai salah satu artis muda terbaik yang pernah dimiliki negeri Nusantara generasi sekarang ini. Biarlah anugerah musik Indonesia berkutat musik major-label yang begitu2 saja, tetapi RAN buat gw telah membuktikan bahwa mereka tetap berenergi dan berkualitas di album ketiganya ini. Fresh di album pertama, tidak kendor di album kedua, dan kini lebih solid di album ketiga. Jika selama ini khalayak mengenal RAN dengan musik yang pop dengan sentuhan R&B (dan rap, tentu saja) dan sedikit jazz, album HOP3 terdengar lebih terkonsentrasi pada bidang pop-R&B-Urban yang lebih digital, terbukti tidak ada kredit pemain drum di albumnya ^_^;. Tapi jangan salah, RAN ini mempergunakan teknologi mesin bunyi2an dengan sangat bijak dan tidak mengaburkan karakter mereka yang fun dan asyik masyuk, nggak maksa atau kecentilan asal bunyi. Alhasil keseluruhan album HOP3 ini masih sangat enak sekali dinikmati, bahkan buat gw lebih daripada album Friday.

Apa yang gw senangi dari HOP3 adalah setiap lagu terdengar "penuh", tidak ada lapisan kosong dalam soundnya, semangat tetapi tetap santai, lagu2nya pun masih dengan nada2 yang kok-bisa2nya-nemu-yang-catchy-tapi-tetep-unik-karena-ada-jazzynya-sedikit. Permainan gitar Asta dan penambahan instrumen2 lainnya terasa pas dan padu dengan timing dan mixing yang pas pula. Lagu per lagu punya karakter yang cukup distinctive, tidak terasa monoton, namun tetap bisa dikenali sebagai "RAN". Pun nggak ada track yang menganggu atau out of place, sesuatu yang masih gw temukan di album mereka terdahulu. Singkat kata, asoy lah. Dimulai dengan cerah lewat lagu "Sepeda" yang jadi single promo album ini, deretan lagunya disusun dengan sangat baik antara yang upbeat ("Mencuri Hati", "Dance With Me" yang mendisko), medium ("Salah Tingkah", "Fresh", "Singgasana Hati"), sampai yang cukup kalem ("Telepon bagian B" =)). Pengaruh R&B yang kental tertuang dalam track "Telepon bagian A" (I'll exlpain it later =D), dan ada pula sulapan mereka terhadap lagu hitnya Fatur dan Nadila "Kulakukan Semua Untukmu" menjadi sangat groovy. Pokoknya semua mengalir lancar dan enak sekali *kayak apaan aja, hehe*. Secara musikalitas, ramuan RAN dalam HOP3 perlu diberi aplaus yang tulus dan meriah. *plokplokplokplok*

Nah, kita tiba pada bagian lirik yang akhirnya jadi perhatian gw. Gw senang ada lagu dengan tema baru dan konkrit seperti "Sepeda" dan "Telepon" yang berimbas juga pada liriknya yang terdengar oke dan cukup unik. Bagian2 berbahasa Inggris, terutama rap-nya Rayi juga makin kreatif saja (ada yang menyinggung "book the flight" di lagu "Singgasana Hati" =D). Namun pada lagu2 lainnya lama2 makin terasa tema dan pilihan katanya ke situ2 lagi, yah gombalan cinta mengawang-awang yang tidak terlalu baru lah. Untung saja semuanya tertolong oleh nada2 yang cakep, kemasan musik yang—lagi2—asoy, dan vokal Nino dan Rayi yang alhamdulillah semakin baik dan enak didengar. Coba kalo nggak, beuh...

Kesimpulannya HOP3 adalah album yang sangat "RAN" namun tetap sangat enjoyable karena kreativitas bermusik mereka sepertinya tidak pernah berlawanan dengan selera khalayak kuping gw. Mungkin agak disayangkan jumlah track mereka semakin sedikit di album ketiga, tapi tak apa karena kesolidan album ini tidak terbantahkan, kurangnya lagu tidak berarti tidak memuaskan. Semua lagunya asik, tapi gw sendiri paling suka lagu "Sepeda", "Kulakukan Semua Untukmu" dan "Telepon bagian B"...Oke, kenapa pada track "Telepon" gw tulis bagian A dan B? =D Rupanya meski terdaftar ada 8 track, sesungguhnya ada 9 lagu di album ini. Track "Telepon" menyimpan dua buah lagu, lagu pertama yang nge-beat berat dan ada kata2 "telepon", yang kedua lagu kalem yang ada kata2 "tega". Kalo versi donlod ilegal kalo gak salah sih 2 lagu ini terpisah jadi "Telepon" dan "Tega" (hehehe, dasar). Entah apa alasan mereka me-merge 2 lagu ini jadi 1 track sepanjang 8 menitan, padahal lirik lagunya nyambung2 banget juga nggak, mudah2an bukan kesalahan teknis deh ^_^'.

So this is a good album, bagi yang masih ngomel soal kualitas musik Indonesia harus coba dulu denger album ini. And guess what, RAN memproduksi (atau istilah umumnya "mem-produser-i") album ini sendiri lho, bukankah itu pertanda bahwa mereka memang punya "sesuatu" sehingga diperbolehkan oleh para stakeholder untuk mengutak-atik karya mereka sendiri, dan ternyata hasilnya jauh dari mengecewakan, sebuah langkah yang sangat tepat dan perlu dibanggakan. Good job, I like it...*nyolong jargon*.



My score: 8/10


RAN



Previews courtesy of YouTube


Mencuri Hati



Sepeda



Kulakukan Semua Untukmu

Kamis, 23 Juni 2011

[Album] Lala Karmela - Kamu, Aku, Cinta


Lala Karmela - Kamu, Aku, Cinta
(2011 - Sony Music Indonesia)

Tracklist:
1. Omong Kosong
2. Kamu, Aku, Cinta
3. Cinta Tak Tepat Waktu
4. Satu Jam Saja
5. Engkaulah Mentari
6. Serba Salah
7. Buka Semangat Baru (Ello, Ipang, Berry "Saint Loco", Lala)
8. Kamu
9. Sweet Temptation
10. Hasrat Cinta
11. Rindu Kamu yang Dulu
12. Engga Mau Susah


Ekspektasi memang berbahaya #eaaa ^_^;. Pertama kali gw pernah liat Lala Karmela dulu di TV, namanya masih Lala tok, terlihat menjanjikan dengan suara yang asli merdu (bukan sok dimerdu-merduin)dengan gitar dan lagu2 berbahasa Inggris yg konon dibuatnya sendiri. Gw pikir, wah, oke juga nih, ada cewek ayu bersuara merdu menjadi seorang singer-songwriter bergitar yang sangat jarang kelihatan di negeri kita—sayang gw langsung lepas gitu aja tanpa nge-cek albumnya waktu itu, hehe. Kini tibalah saatnya bagi Lala, kini dengan tambahan Karmela (mungkin biar nggak ketukar sama Lala Suwages atau Teletubbies), untuk ekseiys lewat album debut major label Indonesia nya ini (karena Lala yang separuh Filipino ini sudah ada produk rekaman sebelumnya di Filipina sana *lokasi gw menyelesaikan kelas 6 SD dan EBTANAS* *halah penting banget*). Sebelum rilis album ini, Lala sudah punya modal beberapa lagu yang dilepas secara umum sejak setahunan lalu, mulai dari cover lagunya Yana Julio “Hasrat Cinta”, ikutan lagu iklan Coca Cola versi Indonesia “Buka Semangat Baru” (Open Happiness), lalu mengisi soundtrack film Satu Jam Saja untuk title song-nya (iya, lagunya Asti Asmodiwati yg-tak-pernah-berhenti-dicover-ulang-oleh-semua-orang-tapi-tak-pernah-jadi-bagus itu =P), dan lagu untuk promo album ini, “Kamu, Aku, Cinta” yg juga jadi judul album ini. Banyak lagu cover ya memang. Tapi ekspektasi gw belum pudar bahwa mungkin saja Lala akan menunjukkan kekuatannya sebagai seorang penyanyi dan penulis lagu secara maksimal lewat album debutnya ini. And so? Terbukti sih... di 2 lagu doang =_=”.

Zaman sekarang gitu loh, ketika label independen yg memberi kesempatan luas bagi si artis untuk menunjukkan karakternya sudah mulai diterima sebagian masyarakat (sebut saja Tompi, Endah N Rhesa, Ridho Rhoma (!)), tapi kenapa masih ada saja produk major label yang antara enggan dan malu untuk meng-amplify karakter artis2nya yang sebenarnya berbakat besar? Apakah hanya karena mengira lagu2 catchy dari “musisi2 ternama yang terlibat” semata itu lebih menjual? “Menjual”? Ow please, gw aja udah nggak berani nanya berapa kriteria “platinum”. No wonder banyak artis kita yang tadinya major label memilih untuk jalur mandiri kemudian. Kasihan artis2 seperti Lala yang kayak “dihalangi” oleh pemikiran industrial terbelakang semacam itu.

Jadi pertama-tama, coret ekspektasi bahwa album Lala ini “berisi” Lala saja. Rupanya dari 12 track yang ada, 2 di antaranya cover version dan 1 lagu iklan tadi, (hanya) 2 lagu ciptaan Lala (“Kamu” dan “Sweet Temptation”), sisa 9 lagu adalah “sumbangan” artis2 lain seperti Sandhy Sondoro (“Kamu, Aku, Cinta”), Rizky dari Alexa, hingga Tiwi T2 (yup, you read that right). Dari membaca proporsi penulisan lagu saja gw mulai agak drop sama album ini. I thought she’s supposed to be a singer-songwriter, namun cukup disayangkan album debut yang seharusnya jadi perkenalan jati diri seorang artis ini kurang mengeksposisi hal itu. Lagunya sih enak2 ya, pop-rock khas Indonesia, seimbang antara yang upbeat maupun slow, catchy, nggak jelek2 amat. Setiap lagu dinyanyikan dengan manis tak membosankan oleh vokal bening tak mengesalkan milik Lala, neng ini bisa lah nyanyi apapun dengan suaranya yang secantik rupanya itu *hehehe* *malu*. Bisa saja gw membuat permakluman “yah namanya juga artis baru” terhadap album ini. Tetapi, kok  gw paling “merasakan” Lala justru pada lagu2 yang diciptakannya, lebih terpancar energi dan kesungguhannya sehingga lebih berkesan dari yg lainnya. Berarti dia sangat bisa dong menunjukkan karakternya sebagai seorang artis tanpa harus numpang di lagu2 bikinan orang lain. Ini membuat gw malah berharap seandainya saja lebih banyak lagu2 ciptaan Lala masuk album ini, mungkin album ini akan lebih berbicara. Lagu2 lain yang tidak diciptakan Lala, mohon maaf ini opini saya saja sih, dengan mudah bisa digantikan penyanyi lainnya. I mean, lagu ciptaan Rizky Alexa bisa saja dinyanyikan oleh...Alexa.

Enough with that, mari kita bahas album ini secara innocent saja. Diawali dengan cukup menghentak di lagu “Omong Kosong” yang sedikit rock, album Kamu, Aku, Cinta mengalir sebagai sajian yang nyaman dan enak didengar—alias just another produk artis solo pop Sony Music Indonesia *aargh tidak, kepribadian saia mulai terpecah...* =P. Sebagaimana gw singgung, musiknya kebanyakan pop-rock yang easy listening ala anak band—termasuk ada sentuhan country di lagu “Cinta Tak Tepat Waktu”, juga ballad kalem di “Serba Salah”—yang umumnya ditata cukup rapi, liriknya 84% tentang cinta—alias just another Indonesian pop album *aaargh, hentikan!*. Secara lagu satu per satu, sekali lagi, album ini tidak bermasalah. Bahkan jumlah yang bisa gw favoritkan lumayanlah, ada “Kamu, Aku, Cinta”, “Serba Salah”, “Rindu Kamu yang Dulu”, selain tentu saja “Kamu” dan “Sweet Temptation”, performa Lala di “Hasrat Cinta” juga cantik =). Dimasukkannya lagu “Satu Jam Saja” mungkin agak mengganggu gw yang memang tidak pernah suka lagunya, so, silahkan abaikan. Selang seling lagunya pun oke, nggak monoton, cuman nih kayaknya menempatkan lagu “Engga Mau Susah” sebagai penutup itu agak2 gimanaa gitu. Dibuka dengan “Omong Kosong” lalu ditutup “Engga Mau Susah”, it’s like we’re going nowhere ^_^”. Kalau boleh gw saranin, coba tuker track ini dengan “Buka Semangat Baru” yang bisa dianggap bonus track saja, niscaya album ini akan lebih cakep sedikit.

Jadi kesimpulannya, album Indonesia perdana Lala Karmela ini oke, enak2 lagunya, vokal sejuk Lala terfasilitasi dengan cukup baik. It’s decent pop vocal album, but, kind of dissapointing at the same time. Tanpa ada “karakter Lala Karmela” yang dominan, album ini sayangnya berpotensi cepat dilupakan, karena gw sendiri "belum kenalan" sama Lala Karmela kalau hanya lewat album ini saja. Oh, lagunya enak2...ya udah, selesai. Namun gw masih percaya, neng Lala Karmela itu lebih daripada yang di album ini, jadi jangan biarkan kapitalisme semu mengekang talentamu yang sesungguhnya *ealah beratnya bahasa gw =P*. Ditunggu deh karya selanjutnya yang lebih “Lala Karmela”. Tapi nanti jangan lupa nulis siapa aja yang main instrumen di setiap lagunya ya, abisnya kasian yang di album ini nggak ditulis sama sekali, kayak diabaikan begitu saja, hehe. Good luck.



My score: 6/10


Lala Karmela


Previews courtesy of YouTube

Hasrat Cinta



Buka Semangat Baru (Ello, Ipang, Berry "Saint Loco", Lala)



Satu Jam Saja




Kamu, Aku, Cinta

Sabtu, 18 Juni 2011

[Movie] Black Swan (2010)


Black Swan
(2010 - Fox Searchlight/Cross Creek Pictures)

Directed by Darren Aronofsky
Story by Andrés Heinz
Screenplay by Mark Heyman, Andrés Heinz, John McLaughlin
Produced by Mike Medavoy, Arnold W. Messer, Brian Oliver, Scott Franklin
Cast: Natalie Portman, Vincent Cassel, Mila Kunis, Barbara Hershey, Winona Ryder


Boleh percaya atau tidak, ketika membaca premis Black Swan (film yg jadi korban pertama permasalahan krisis film impor di negeri kita sekitar 4 bulan lalu, bete saiah, may you all burn in hell lah *kasar*), juga dari review2 yang beredar, gw agak membayangkan film ini akan jadi versi film dari kisah2 pelakon/penari/penampil/apapun itu yang sering dijumpai di komik2 Jepang, contoh yang paling gw inget adalah Topeng Kaca. You know, di komik itu digambarkan perjuangan seorang aktris panggung muda yang berusaha mendapat peran bergengsi namun harus tetap serius dalam peran apa saja sebelum memperoleh kesempatan prestisius itu, semisal peran jadi tembok atau pohon, bah gambaran perjuangannya lebaynya minta ampun dah, sampe ada momen transformasi dirinya jadi tembok atau pohon segala. Well, those sort of things did work on comic form, tapi apakah visualisasi semacam itu akan sukses juga jika memang ada yang menampilkannya dalam live action? Untuk Black Swan, jawabannya: BISA!

Plot Black Swan terlihat sederhana awalnya. Company balet di New York pimpinan Thomas Leroy (Vincent Cassel) akan memulai seri pertunjukan di musim yang baru dengan menggelar sendratari klasik Swan Lake karya Tchaikovsy. Untuk peran utama, si Swan Queen, Thomas membuka audisi bagi anak2 didiknya untuk menggantikan Beth Macintyre (Winona Ryder) yang "dipensiunkan" karena faktor usia *mungkin, and Beth seemed nggak ridho over it*. Nina Sayers (Natalie Portman) lah yang kemudian terpilih. Jadi ceritanya kita akan melihat suka duka seorang balerina dalam berlatih, mendalami, menghadapi senior resek dan rival yang menjegal, benih2 cinta dengan sang pelatih, hingga berhasil memerankan tugasnya...not! Tantangan yang harus dihadapi Nina dalam meraih spotlight di pentas balet ini sungguh bukan hal yang mudah dan tidak seremeh hal2 yang biasa ada di film2 bertema olahraga atau roman remaja itu. Nina dituntut harus bisa memerankan si angsa putih—jelmaan putri yang dikutuk—sekaligus kembaran jahatnya, angsa hitam yang merayu kekasih si angsa putih, dengan sama baiknya. Untuk 2 peran itu harus satu orang ya? Yah, di situlah letak permasalahan Nina. Thomas menilai Nina bagus sekali sebagai angsa putih, namun tidak sebagai angsa hitam. Kesempurnaan teknik dan ketelitian Nina rupanya belum cukup untuk menopang perannya sebagai angsa hitam yang penggoda. Thomas malah merujuk pada anak pindahan dari San Francisco, Lily (Mila Kunis) yang terlihat cuek, lepas, tanpa beban, santai, bahkan cenderung sembrono, walau secara teknik tidaklah sempurna, tapi yang kayak ginilah yang pas jadi angsa hitam. Nina, demi peran utama perdananya ini, kemudian mulai menggali dirinya sendiri untuk memunculkan sisi "hitam" dari dalam dirinya seperti yang diinginkan Thomas, yang pada perkembangannya malah lebih cenderung merusak jiwanya sendiri, jiwa yang seumur hidup dibentuk dan dipasung pada definisi kesempurnaan yang semu.

Oleh ibunya (Barbara Hershey), Nina selalu ditanamkan sebagai “sweet girl”. Meski secara screen time sang ibu porsinya sedikit, namun gw menebak iniliah titik tolak dari obsesi tak sehat Nina pada peran Swan Queen ini. Ketika Nina sudah “terbentuk” sebagai anak rumahan yang alim dan berprestasi membanggakan, dihadapi pada kenyataan bahwa itu tidaklah cukup untuk memerankan Swan Queen dengan “sempurna”, maka terpiculah Nina untuk berusaha mengorek sisi lain dari dirinya yang selama ini terepresi pada label “sweet girl” tadi. Ia mulai melawan apa kemauan ibu bahkan sampai pada titik cukup ekstrem, ia mulai coba2 “pergaulan malam” yang dianut Lily, dan lebih parahnya lagi ia mulai berhalusinasi, dari tumbuh bulu sayap di punggung dan jari jemarinya yang menyatu—mulai bertransformasi jadi angsa hitam, like, figuratively, ketakutan tak beralasan bahwa Lily hendak merenggut posisi primadona dari dirinya, hingga berkali-kali berhadapan dengan dirinya sendiri dalam tubuh yang berbeda dimanapun itu. Parahnya Nina semakin lama semakin tak bisa sadar mana yang nyata dan mana yang perasaan-dik-Nina-sadja. Ketika sisi kelamnya coba dikorek, ternyata muncrat tak terkendali. Ketika sisi gelapnya makin muncul dan terbentuk, akibat yang tak diantisipasi adalah bahwa jiwanya seakan menjadi terpecah, sehingga tinggal tunggu waktu yang mana yang akan ambil alih tubuh balerinanya itu. All for the sake of perfection.

Black Swan mengajak penonton untuk menyelami diri Nina dalam menanggung beban sebagai bentuk “pertanggungjawaban” atas impian, or should I say, ambisinya menjadi bintang—atau malah ambisi ibunya? Tak hanya satu sisi saja sebetulnya, akan tetapi semua melebur jadi satu, mulai dari tekanan yang pasif-agresif dari sang ibu, kekaguman yang intimidatif terhadap sang senior Beth, keinginan untuk memuaskan Thomas, juga usaha untuk “membebaskan” diri yang rtak dinyana sangat menyakitkan. Namun satu sisi yang gw cukup paham jelas karena terlihat dari awal hingga klimaks film adalah “rivalitas” yang "dibikin" Nina terhadap Lily—Lilly-nya sih baik2 aja, Nina-nya tuh—yang diawali pada saat Nina menyangka Lily sekilas adalah dirinya sendiri versi berbaju gelap, ditambah lagi kemudian Lily adalah pesaing kuatnya dalam peran Swan Queen dan Thomas ingin supaya Nina mencontoh Lily dalam menyelami peran angsa hitam. Persaingan sepihak ini mulai meruncing pada saat Nina ingin melihat gaya hidup Lily, mengikutinya, bahkan “mengambil sari” dari Lily—ehem, ini “kode” sebuah adegan =D—yang akan menyempurnakan transformasinya menjadi angsa hitam, lalu memuncak pada malam pementasan Swan Lake yang “berdarah-darah”, ketika bagi Nina, Lily seperti hendak mengambil apapun yang ada padanya saat itu.

Letak keberhasilan Black Swan—yang didengungkan sebagai psychological thriller—bagi gw adalah penggambaran persepsi Nina yang ditampilkan lewat visual2 dan adegan2 yang di atas kertas “komik banget”, tapi ternyata smooth dan tidak canggung pada hasil akhirnya, malah membuat gw larut dalam dunia kecil nan kelam milik Nina Sayers ini tanpa terpancing sedikitpun untuk mentertawakan. Obsesi terhadap kesempurnaan Nina diterjemahakan oleh sutradara Darren Aronofsky dengan intens, nggak berbelit juga nggak memanjakan, malah sesekali mengerikan. Keberhasilan ini juga tak lepas dari lokomotif akting Natalie Portman yang wonderfully meyakinkan lewat ekspresi dan emosi yang tepat, sebagai seorang “sweet girl” yang berusaha membangkitkan sisi “bad girl” yang justru membuatnya kena kayak gangguan jiwa gitu—terlepas dari gerakan baletnya yang mungkin masih belum terlihat seperti pro banget, tapi gw suka deh trik kamera yang kalo Portman nari pasti telapak kakinya nggak pernah keliatan =). Belum lagi cara pengambilan gambar yang terkesan agak “indie” tetapi begitu intim dengan sudut dan pergerakan sinematografinya yang menawan dan elok dipandang—banyak yang kayak jalan ngikutin tokohnya dari belakang. Gw suka pada saat kamera mengikuti adegan2 tari, pas ngelompat, kameramannya kayak ikutan lompat juga ^_^. Pun penggunaan CGI yang memang punya efek pendukung cerita bukan sekedar pamer canggih2an belaka ditampilkan dengan baik sekali.

Tak salah bila Black Swan menjadi pembicaraan, menjadi pilihan beberapa banyak orang sebagai film ter-oke tahun 2010. Menurut gw pribadi pun film ini keren sekali. Mulai dari cerita hingga pengemasannya, dari akting sampai gaya visualnya. Intensitas dan thrill-nya tidak pernah kendor sedikitpun. Sebuah film yang istimewa dan somehow sarat makna. Dan yang paling penting, Black Swan adalah sebuah contoh film yang menampilkan “keberlebihan” lewat cara yang anggun nan artistik dan kekinian. Bravo.




My score: 8,5/10

Rabu, 15 Juni 2011

[Movie] Sólo Con Tu Pareja (1991)


Sólo Con Tu Pareja
Only With Your Partner/Love in the Time of Hysteria
(1991 - IFC Films)

Directed by Alfonso Cuarón
Screenplay by Carlos Cuarón
Produced by Alfonso Cuarón, Rosalia Salazar
Cast: Daniel Gimenéz Cacho, Claudia Ramirez, Luis de Icaza, Astrid Haddad, Dobrina Liubomirova, Isabel Benet


Kerjaan Tomás Tomás (Daniel Gimenéz Cacho) cuma 2: bikin slogan iklan, dan meniduri perempuan. Biar nggak berpenampilan keren2 amat, Tomás bisa aja menggaet wanita manapun yang dia temui ke kasur-tanpa-ranjang di flat-nya. Suatu kali, Tomás disuruh tetangga sekaligus sahabatnya yang seorang dokter, Mateo Mateos (Luis de Icaza) untuk cek-up termasuk tes HIV—mungkin khawatir juga sama "pergaulan"nya. Tak lama setelah itu Tomás mengalami malam yang paling geuleuh ketika ia kedatangan perawat seksi dari klinik Mateo, Silvia Silva (Dobrina Liubomirova) yang—tentu saja—mau “nyoba” si notorious womanizer Tomás di flatnya, eh bersamaan datang juga atasan Tomás, Gloria Gold (Isabel Benet) dengan alasan serupa, tapi Tomás menempatkannya di flat Mateo yg memang sedang keluar kota. Silahkan bayangkan bagaimana Tomás me-manage birahi dengan 2 perempuan sekaligus di 2 kamar terpisah...ya, melibatkan menyelinap lewat jendela. Beberapa kali mondar-mandir antara 2 flat yang penuh nafsu, Tomás rupanya menyempatkan diri tertegun melalui jendela ketika melayangkan pandangan pada sesosok wanita muda nan cantik yang tinggal di antara flatnya dan flat Mateo, yang sedang berlatih petunjuk keselamatan penerbangan, yang belakangan diketahui bernama Clarissa (Claudia Ramirez) seorang pramugari, tetangga yang lumayan baru. Tomás jatuh cinta pada Clarissa, tapi gadis (eh, "gadis"?) itu sudah punya pacar seorang pilot, dan Tomás pun agak malu karena setiap ketemu Clarissa dia tidak dalam pesona terbaiknya. Ditambah lagi, lantaran dikecewakan, Silvia mengerjai Tomás dengan memalsukan hasil tes HIV-AIDS-nya jadi positif! Tomás yang panik langsung mencoba mendaftar siapa saja yang pernah dia tiduri, sampai mau mencoba bunuh diri. Namun, apakah begitu saja hidup seorang Tomás akan berakhir, apakah usahanya merangkai cinta pada Clarissa akan kandas pula tanpa usaha lebih jauh?


Ini dia debut layar lebar sutradara favorit gw, Alfonso Cuarón, yang nantinya akan lebih dikenal sebagai sutradara yang bikin geleng2 kepala di road-comedy erotis Y Tu Mamá También, membelalak mata di Children Of Men, juga yang mengepalai salah satu episode favorit dari seri Harry Potter yaitu The Prisoner of Azkaban. Kalau dirunut-runut, film2 yang disutradarai pria asal Meksiko ini makin kemari makin antik dan mahal ye. Cukup menarik juga mengetahui bahwa beliau memulai segalanya dengan sebuah komedi bertema seks yang ringan sekaligus sedikit berbau kampanye HIV-AIDS awareness...dan didanai oleh institusi pemerintahan Meksiko!—gee, I wonder if the goverment knew what they did with the money all along, di Indonesia mana bisa, hehehe. Menarik juga bahwa di film ini sudah tampak bibit gaya khas Cuarón yang akan muncul di film2 berikutnya. One-long-take shot? Ada. Gambar2 cakep artistik besutan kolaborator setianya, sinematografer handal Emanuel Lubezki? Ada. Adegan sexual intercourse yang rada frontal (meski di sini tidak diperlihatkan bagian2 vital tubuh)? Ada. Adegan2 yang tak disangka-sangka? Whoa, tunggu sampai Anda lihat apa yang mereka lakukan di bagian klimaks ^_^.


Sólo Con Tu Pareja sendiri menurut gw masuk dalam jajaran istimewa dari filmografi Cuarón yang belum banyak itu. Ditulis oleh sang adik, Carlos, film ini merupakan salah satu pelopor sinema Meksiko yang mengedepankan kehidupan kelas menengah di Mexico City, ketika film2 yang banyak diproduksi sebelumnya lebih menekankan yang kaum terlalu kaya atau terlalu pinggiran—ini menurut fitur bonus DVDnya, bukan gw yg riset =P.  Film ini juga muncul ketika awareness tentang HIV-AIDS sedang banyak diperbincangkan di awal 1990-an (meskipun katanya di Meksiko lebih salah kaprah dikira bahwa itu penyakitnya kaum homoseksual semata), sehingga bisa dibilang Cuarón bersaudara mengambil langkah berani untuk membuat kisah pria yang doyan ganti pasangan yang akhirnya jatuh cinta pada seseorang yang rasanya tak pantas dia miliki ini—bahwa kaum heteroseksual berpotensi kena HIV-AIDS juga. Untungnya, meski tanpa menanggalkan bobot cerita dan visual, Sólo Con Tu Pareja mengambil jalan yang ringan, jenaka dan menyenangkan untuk disaksikan. Lihat saja nama2 tokohnya yang lucu2 karena berupa pengulangan =D. Begitu juga dengan cara film ini meletakkan kelucuan, bukan hanya dari tokoh dan perilakunya, tetapi juga dari dialog dan jalan cerita yang dibangun tanpa ada kesan bolong2, bahkan berita koran di awal tentang orang Amerika yang meledakkan anjing peliharaannya di dalam microwave pun bukan sekadar celetukan saja. Lucu, agak dodol, tapi di saat yang bersamaan menunjukan kecerdasan si sineas, bahwa kedodolan2 yang ditampilkan bukannya menghina kecerdasan penonton. Bagusnya lagi, pesan tentang HIV-AIDS disampaikan tanpa menceramahi, bahkan terintegrasi dengan ceritanya.

Kesenangan menonton film ini diperkuat dengan jajaran pemainnya, yang sebagian besar adalah aktor panggung, yang kompak luar biasa. Permainan Daniel Gimenéz Cacho (yang jadi narator di Y Tu Mamá También) terbilang gemilang dan tanpa beban, begitu juga dengan pasangan tetangganya Mateo dan Theresa (Luis de Icaza, Astrid Haddad) yang menjadi semacam "pengendali" tingkah laku Tomás, bahkan dua orang Jepang kolega Mateo yang "terseret" pada permasalahan Tomás pun melebur dengan sangat baik—padahal katanya Cuarón cuma "nemu" mereka di kedutaan, bukan aktor =D. Interaksi mereka terlihat lancar, pokoknya upgrade puluhan tingkat deh dari model akting telenovela, para aktor kita ini berhasil menghidupkan karakter masing2 sehingga sedikit banyak membuat penonton peduli pada mereka tanpa dipaksa, meski sebenarnya kedalaman tiap karakter tidak terlalu kentara. Toh ini bukan film yang berat, atau setidaknya tidak terlihat berat, dan akting mereka memperlihatkan unsur fun dan kenyamanan tersebut. Rupanya, lagi2 ciri film2 Cuarón yang sepertinya membuat para aktornya nyaman berakting sudah terlihat pula dari film ini.


So, overall, tidak salah bila hanya karena Sólo Con Tu Pareja inilah Cuarón dengan tidak terlalu sulit melangkah ke perfilman dunia, khususnya Hollywood—setelah ini dia dipanggil Warner Bros. untuk mengarahkan A Little Princess, dan film ketiganya adalah adaptasi modern novel Charles Dickens, Great Expectations yang dibintangi Robert De Niro! Sólo Con Tu Pareja adalah sebuah film yang menghibur namun tetap artistik (dari segi gambar, keren2 deh). Ceritanya mungkin tidaklah istimewa dan kini banyak ditemui, tetapi cara penyampaiannya yang membuatnya terasa istimewa, begitu solid nyaris tanpa celah menganggu. Kelucuannya mungkin agak berlebihan tapi tidak sampai absurd, konyol atau maksa, dan konsistensinya terjaga hingga akhir. Sebuah tontonan yang gebleg dan menyenangkan, sebuah debut yang gemilang dari Alfonso Cuarón yang bakal semakin unjuk gigi di dunia sinema—walaupun pada akhirnya film ini tidak sukses secara komersil dan musti "jalan2" dulu ke berbagai festival, but look what happened after that =). Saking okenya, gw bahkan tidak terlalu mengindahkan penampakan pesawat telepon, komputer, cara pake celana jeans Tomás, serta model2 rambut jaman 1990-an awal yg jelas2 nampak dan akan mengundang tawa, tetapi nyatanya bukan itu bagian yang gw tertawakan =D. Alfonso Cuarón had started it with awesomeness, and never stop eversince. Mari menunggu karya terbarunya yang katanya akan lebih spektakuler, Gravity di tahun 2012 =).



My score: 8/10

Minggu, 12 Juni 2011

[Movie] A Little Princess (1995)


A Little Princess
(1995 - Warner Bros.)

Directed by Alfonso Cuarón
Screenplay by Richard LaGravenese, Elizabeth Chandler
Based on the novel by Frances Hodgson Burnett
Produced by Mark Johnson
Cast: Liesel Matthews, Eleanor Bron, Liam Cunningham, Vanessa Lee Chester, Arthur Mallet


Akhirnya gw sudah melengkapi filmografi—yg film panjang—dari sutradara kesukaan gw, señor Alfonso Cuarón, dengan baru2 ini berturut-turut menyaksikan A Little Princess dan Sólo con tu Pareja (review terpisah). Gw akan mulai dari A Little Princess, film kedua sekaligus debut Hollywoodnya, karena sebenarnya gw pernah menyaksikannya di sebuah pekan screening film2 Cuarón di Bentara Budaya Jakarta tahun lalu, tapi gak kedapetan bagian awalnya karena gw dateng telat ^_^;. Menyaksikan A Little Princess, bagi gw yang lebih dulu mengenal Cuarón dari karya era 2000-annya (Y Tu Mamá También, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Children of Men) pasti merasakan ada sensasi berbeda dari film ini. A Little Princess memang sebuah film anak2 dengan pemain anak2 dan...well, ini film anak2, titik.

Ceritanya pada masa perang dunia pertama, gadis cilik Sara Crewe (Liesel Matthews) yang anak yatim namun bahagia karena punya ayah (Liam Cunningham) yang sangat menyayanginya selain berlimpah fasilitas bagaikan seorang putri, dikirim ke sebuah sekolah asrama putri di New York oleh ayahnya yang akan ikut berperang bersama pasukan Inggris. Tak butuh waktu lama, Sara menjadi murid yang disenangi sebagian besar anak2 lainnya lantaran dia pandai mendongeng. Berbeda dengan sang kepsek, Miss Minchin (Eleanor Bron) merasa Sara ini terlalu “cerdas” karena kerap mempertanyakan disiplin dan tradisi kaku yg diterapkan sekolah, termasuk berteman atau bahkan sekedar berbicara dengan anak pelayan berkulit hitam, Becky (Vanessa Lee Chester). Suatu ketika, Sara mendapat kabar bahwa sang ayah tewas di medan perang. Pastilah ia sedih karena dengan ini ia jadi sebatang kara, namun sudah jatuh tertimpa tangga, segala harta milik sang ayah diambil alih oleh pemerintah, sehingga secara teknis Sara tidak bisa melanjutkan biaya sekolahnya. Miss Minchin masih memperbolehkan Sara untuk ada di sekolah, tetapi tidak sebagai siswi, melainkan sebagai pelayan asrama bersama Becky, bahkan segala kepunyaan Sara yang ada di asrama disita oleh Miss Minchin, bila ketahuan dia mengambil atau memilikinya kembali, dia akan dituduh mencuri. Kasian ya...Apakah Sara akan menderita selamanya, ataukah ada keajaiban bakal terjadi sebagaimana pada dunia dongeng yang kerap diceritakannya?

Sebagaimana gw tekankan di awal, A Little Princess adalah film anak2, sebuah proyek yang agak mengherankan mengingat ini diarahkan oleh sutradara yang terkenal karena film dengan adegan2 persenggamaan frontal Y Tu Mamá También sesudahnya, bahkan filmnya sebelum film ini, Sólo con tu Pareja –juga film debut Cuarón—adalah juga sebuah sex comedy =D. Secara jalan cerita film ini termasuk generik sekali layaknya sebuah film anak2 bersetting masa lalu ala Hollywood semacam Annie atau Matilda (sok tau padahal blum nonton =P). Ada heroine yang baik hati, smart, berani dan tabah namun mengalami kemalangan dan terdzalimi—walau mnurut gw si Sara ini agak "delusional" karena pada satu titik nggak membedakan dongeng dan kenyataan, oh well that's not the point really. Ada tokoh dewasa yang jahat (si Miss Minchin dari rambut putih segarisnya aja udah ketauan antagonis) ada juga yang agak dodol. Ada anak “teladan” di sekolah yg iri sama keberadaan dan kepopuleran Sara. Ada selipan pesan2 bijak dan motivasi untuk anak2 ("every girl is a princess", anyone? =)). Kemudian dengan sedemikian rupa lewat berbagai peristiwa, se-filmbanget apapun itu, akhirnya toh akan bahagia =). Memang tone-nya sedikit dark untuk sebuah film anak2—bahkan bagian berwarna di visualisasi cerita Rama-Sita juga terkesan demikian, nuansa visual film ini agak mirip sama Great Expectations—namun dengan menggunakan sudut pandang dan kepolosan anak2 tetap membuat film ini terasa hangatnya. Akting aktor2 ciliknya diarahan dengan baik, terlihat seperti anak2 yang sedang bermain teater sih (dari nada ucapannya yang, yah, gitu deh =D), namun mereka tampak nyaman di layar, tanpa beban atau sok dewasa. Begitupun pemain dewasa yang bermain tepat porsinya.

Sentuhan yg juga ada dalam karya2 Cuarón lainnya ternyata masih gw rasakan, baik dari penyampaian ceritanya terbilang mudah dipahami tanpa terlalu memanjakan penonton, adanya adegan2 yg tak disangka-sangka (balon meletus, “kutukan” Sara pada si sirik Lavinia (Taylor Fry) ^_^;) dan one-long-take shot yang cakep (meski hanya 1-2 adegan saja), dan yg terutama adalah dari desain produksi dan sinematografi yang manstab sekali (film ini dinominasikan di Academy Awards 1996 untuk kedua bidang tersebut). Bisa jadi ini adalah karya Cuarón yang paling tidak gw favoritkan—buat gw dia paling tokcer kalau ikut terlibat dalam naskahnya, namun A Little Princess sama sekali bukanlah karya yang jelek. Ceritanya memang anak2 sekali, tetapi bagaimanapun film ini indah dan enak ditonton, menghibur pula. Sebuah pembuktian bahwa Cuarón punya range yang luas namun tidak membuatnya kehilangan karakter, entah itu komedi mesum, drama, fiksi ilmiah, petualangan, maupun yang diperuntukkan bagi anak2. Dan, karena melalui A Little Princess dimana Cuarón terbukti pandai mengarahkan aktor2 muda inilah, beliau akhirnya dipanggil membuat Harry Potter 3 yg keren itu. A beautiful and artistic feature for kids and the whole family—berasa kutipan kritikus =P.



My score: 7/10

Sabtu, 11 Juni 2011

[Album] Agnes Monica - agnes is my name


Agnes Monica - agnes is my name
(2011 - Aquarius Musikindo)

Tracklist:
1. Paralyzed
2. Godai Aku Lagi
3. Tak Ada Logika
4. Karena Ku Sanggup
5. Teruskanlah
6. Janji-Janji
7. Bukan Milikmu Lagi
8. Matahariku
9. Tanpa Kekasihku
10. Jera
11. Bilang Saja
12. Cinta Diujung Jalan


Agnes Monica memang salah satu vokalis wanita paling menonjol di negeri kita dalam sepuluh tahun terakhir. Oke, dia memang sudah terkenal sebagai penyanyi cilik, presenter acara anak2, pemain sinetron dan bintang pelbagai iklan, tetapi nama perempuan seumuran gw ini *ngaku2* *tapi bener* memang lebih terasosiasi sebagai seorang penyanyi. Selain karena gaya performing-nya yg beda dari artis pop wanita Indonesia kebanyakan—lebih berpakem pada singing-and-dancing pop star dunia macam Britney Spears, Christina Aguilera, dan belakangan artis2 pop Korea, lagu2nya pun terbilang sangat populer di berbagai kalangan. Popularitasnya, yang ditandai dengan banyaknya penggemar fanatik dan kemenangan dia dalam ajang2 penghargaan yg dinilai dari vote umum (ya karena penggemar fanatiknya itu), diimbangi pula dengan lirikan sinis sebagian orang yang menganggapnya terlalu ambisius dan menang sesumbar untuk *God, I hate this phrase* go-international, tapi sepertinya belum tercapai juga =D. Well, jujur gw bukan penggemar Agnes, tapi gw juga bukan pembenci. Meskipun gw hanya menyukai sebagian karya2nya, menurut gw dia adalah contoh artis yang sangat berdedikasi (menurut saksi mata dia tidak pernah telat atau mangkir berlatih), and (meski tidak persis seperti yg diharapkan) she did have international projects already, so shut up =P. Ya, Agnes memang perlu diteladani dalam hal benar2 memberikan segalanya demi memberi performa terbaik yg dia bisa, vokal maupun gerak, terlepas dari fakta bahwa dia memang sudah menggeluti dunia ini hampir seumur hidupnya.

Sudah ada 3 album dan berbagai hits sejak debutnya sebagai artis-pop-bukan-cilik-lagi pada tahun 2003 lalu (she was 17), Agnes Monica pada tahun 2011 meluncurkan album "best" nya bertajuk agnes is my name (respon semerta gw setelah baca judulnya: "yea, we know" ^_^;. Well, at least ini masih lebih normal daripada judul Whaddup A? dan Sacredly Agnezious yg walau catchy tapi entah apa artinya). Sebagaimana diharapkan album ini menyajikan lagu2 yg dirilis Agnes sebagai hits radio/TV, ada 11 lagu, ditambah satu lagu baru "Paralyzed" yg jadi lagu promo untuk album ini. Menurut pandangan gw selama ini, apapun yang dirilis Agnes pasti jadi hit, atau setidaknya sempat jadi pembicaraan dan persenandungan orang2. Tentu akan menyenangkan kalau semua hits tersebut terangkum dalam sebuah album. Sayangnya, lagi2 album agnes is my name menjadi bukti penguat bahwa artis/perusahaan rekaman Indonesia sangat PELIT dalam membuat album kompilasi best hits (contoh lain: Rezza, Ari Lasso, Project Pop, KLa Project among others). 12 lagu tampaknya banyak, tapi hit Agnes seharusnya lebih dari itu, bukan? Oke, gw coba maklumi jika album ini mengeliminasi lagu2 kolaborasi Agnes dengan artis2 lain ("Cinta Mati", "Hanya Cinta Yang Bisa") mungkin demi fokus pada Agnes seorang, atau yang berbahasa non-Indonesia ("Shake It Up", dan, err...lain2) supaya ya lebih menjual aja. Tapi kemana lagu "Indah" atau "Ku T'lah Jatuh Cinta" dan lagu2 lainnya yg juga dirilis di radio dan video musik? Apa sih susahnya sih masukin 2-3 track lagi biar jadi lebih lengkap albumnya? Huh.

Baiklah kita berfokus sama produk jadinya aja deh. 11 lagu keluaran 2003-2010 milik Agnes yang ada dalam agnes is my name pasti sudah tak asing lagi bagi anda yang mengaku warga negara dan penduduk NKRI, dan pasti ada perasaan senang ketika mendapatkan lagu2 hits yang kita akrabi dibundel dalam satu album. Meski memang tidak lengkap, daftar lagu yang termasuk dalam album ini cukup memuaskan, dari single perdana "Bilang Saja" sampe yang terakhir "Karena Ku Sanggup" yang melankolis, dan tentu saja ada signature Agnes, "Tak Ada Logika" *lompat2kijang*, selain juga disumpal hit2 yg terkenal tapi mnurut gw sejak dulu agak maksa semacam "Bukan Milikmu Lagi" dan "Godai Aku Lagi". Gw pernah mendengar semua album Agnes sebelumnya meski nggak mendalami2 amat, tapi di album ini gw baru sadar bahwa lagu2 Agnes ternyata hanya ada 2 jenis: 1) up-beat menjorok ke R&B; dan 2) slow galau mendayau-dayau. Gw pikir, iya ya, Agnes kalo nggak jedang jedung, ya ballad slow banget bernada minor, nggak ada yg medium atau santai. Lucunya, gw menyadari itu karena pengurutan lagu2 album ini yang agak mengganjal kalau nggak mau dibilang, ehem, tak ada logika. Diurut acak tanpa melihat dari segi waktu rilis ataupun jenis musiknya itu bukan masalah (untungnya antara yg paling baru (track 1) tidak menganggu lagu yg lama2), masalahnya ini jadinya dibikin berturut-turut 3 lagu cepat, 2 lagu lambat, 2 lagu cepat, 3 lagu lambat (termasuk "Matahariku" dan "Tanpa Kekasihku" yang bagian depannya mirip itu), 1 lagu cepat, 1 lagu lambat. Bagi gw yang sering bikin kompilasi bajakan pribadi, ini adalah rumus maut untuk membuat bosan (pernah juga terjadi sama Monkey Majik). Biar lagu2nya udah pada kenal, tapi kan hakikatnya ini sebuah album yang didengar dari awal hingga akhir secara utuh dan satu kesatuan. Kalo slow sama slow dirombong bikin ngantuk, tapi nantinya ternyata ada upeat yang juga dirombong jadi terkesan nggak imbang layaknya adonan kue yang nggak diaduk rata. Ada baiknya kalau diselang-seling, toh jumlahnya sama-sama ini, biar dinamis gitu loh, dan itu trik yg bisa menyamarkan gaya musik Agnes yg cuma 2 macem itu, IMHO nih.

But hey, kalau memang menginginan lagu2 hits Agnes dalam satu keping album ya inilah barangnya. Gw yakin penggemar tidak akan kecewa, dan bagi yang suka tapi belum mau beli album2 Agnes sebelumnya, album ini lumayan tepat dan oke untuk dimiliki—atau setidaknya itulah yg coba diyakinkan mas2 dan mbak2 KFC pada Anda, hehehe. Kecuali komplain pelit dan urutan lagunya yang kurang menyenangkan, album ini masih terbilang baik lah. Toh tanpa dipungkiri lagu2nya memang nge-hits—favorit pribadi gw adalah "Bilang Saja" yg rada blues dan "Tanpa Kekasihku" yang emo itu, pun lagu barunya "Paralyzed" mungkin adalah karya terbaik Agnes baik dari segi lagu maupun aransemen, citarasa-nya pop-R&B USA gimana gitu, nice and asyik. Keseluruhan, not bad =].



My score: 6,5/10


Agnes Monica

Previews courtesy of YouTube

Paralyzed


Karena Ku Sanggup


Tak Ada Logika


Tanpa Kekasihku


Bilang Saja