Minggu, 29 Mei 2011

My Top 25 Albums of the 2000's

Melanjutkan rangkaian senarai terbaik dekade 2000-an setelah lagu-lagu (Jepang, Indonesia dan Internasional) kali ini akan gw sampaikan 25 album paling berkesan yang dirilis mulai tahun 2000 sampai 2009. Gw akan menyusunnya seperti senarai tahunan gw, bahwa untuk kategori album semuanya gw campur2 dari negara2 mana saja, jenis musik apa saja (termasuk soundtrack), full atau mini-album juga nggak masalah, formatnya pun bebas (makanya jangan heran kalo ada keterangan gambar yg tidak berbentuk kaset atau CD *ehem). But hold on, perlu diperingatkan sekali lagi bahwa album2 yang nanti anda lihat adalah berdasarkan penilaian pribadi, dan lebih penting lagi adalah ini berdasarkan yang udah pernah gw denger aja, secarra gitu yaw gw bukan wartawan majalah Rolling Stone atau sejenisnya yang sudah mendengarkan ribuan album dari seluruh dunia sehingga bisa punya kredibilitas dan referensi yang sangat kaya, sedangkan gw yah dengernya itu2 aja ^_^;.

Syarat2 agar bisa masuk senarai ini sederhana saja. Sebagai konsumen, bagi gw album yang bagus adalah yang lagunya enak2 semua (ya kan?). Kalaupun gak semua, yah sebagian besar enak2lah *kompromi*. Kalau sudah enak2 semua lagunya, tahap berikutnya yg gw perhatikan adalah “presentasi” dari lagu2nya dalam album: seberapa keren, rapi, atau uniknya bunyi2an musiknya, serta urutan lagunya apakah bikin jenuh atau nggak kalau didengarkan secara utuh (gw emang jarang memperhatikan lirik, hehe). Simpel tho? Dengan syarat2 ini, nggak dipungkiri akan ada bias penilaian untuk album2 dari artis yang gw emang gemari, tapi yah mau bagaimana lagi, yang “top” dan “berkesan” itu pasti yang gw suka dong. Tapi demi sedikit objektivitas, akhirnya gw memutuskan untuk hanya boleh memasukkan satu album dari satu artis, jadi kalau artis bersangkutan rilisannya lebih dari satu gw pilih 1 yang terbaik menurut gw. Ditambah lagi, gw akan meng-exclude album2 kompilasi ataupun sejenis greatest hits, pokoknya harus album “original”, yaitu lagu2nya memang direkam untuk menjadi bagian dalam album tersebut (rekam ulang sih masih boleh =)).

Dan baiklah, kita mulai My Top 25 Albums of the 2000’s, menurut preferensi, dalam urutan mundur =).


Kamis, 26 Mei 2011

[Movie] Trust (2011)


Trust
(2011 – Millennium Films/Nu Image)

Directed by David Schwimmer
Written by Andy Bellin, Robert Festinger
Produced by David Schwimmer, Ed Cathel III, Dana Golomb, Robert Greenhut, Tom Hodges, Avi Lernee, Heidi Jo Markel
Cast: Clive Owen, Catherine Keener, Liana Liberato, Jason Clarke, Viola Davis, Noah Emmerich, Chris Henry Coffey, Zoe Levin, Spencer Curnutt


Cewek ababil 14 tahun nan sporty itu bernama Annie Cameron (Liana Liberato). Baru masuk SMA dan mulai mencari jati diri, Annie berkenalan dengan nama Charlie di sebuah situs sosial online "TeenChat" (kayaknya fiktif)—yang seharusnya dihuni oleh remaja2 seusia Annie, bahkan Annie merasa jatuh cinta pada Charlie yang baginya paling mengerti dirinya. Ketika akhirnya diajak bertemu, di luar dugaan Annie, sosok asli Charlie (Chris Henry Coffey) ternyata adalah oom2 usia 30-an. Namun Annie tetap nerusin "kencan" mereka hari itu...hingga berakhir dengan hubungan badan di sebuah motel. Brittany (Zoe Levin) yang merasakan hal yang tidak beres pada kopi darat Annie dengan seorang oom2 asing, melaporkan pada pihak sekolah, dan akhirnya kepolisian, bahkan FBI pun turun tangan: Annie diduga telah menjadi korban pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Poin film ini baru dimulai setelah kejadian tersebut. Apa reaksi orang tua Annie, William (Clive Owen) dan Lynn (Catherine Keener) mungkin sudah bisa dibayangkan. Ketika agen FBI, Tate (Jason Clarke) yang mengangani kasus ini mengatakan proses penyelidikan dan penangkapan si "Charlie" akan memakan waktu, makin gusarlah William dan Lynn. William menjadi kian emosional dan terobsesi untuk menangkap si penjahat kelamin yang menggerayangi putrinya, bahkan sampe ikut2an melacak lewat perkumpulan orang tua korban "sex predator" termasuk menyimpan transkrip obrolan daring Annie dan "Charlie". Namun rupanya, reaksi berbeda muncul dari Annie. Meski awalnya sedikit shock, lewat konselingnya dengan psikolog, Gail (Viola Davis), Annie merasa bingung dengan "kehebohan" orang2 sekitarnya akan hubungannya dengan Charlie. Ia merasa bahwa hubungannya dengan Charlie baik2 saja, ia masih percaya bahwa terlepas dari perbedaan usia, Charlie itu mencintai dirinya, dan hubungan intim yang dialaminya bukanlah bentuk pelecehan, karena Charlie adalah "orang yang dikenal", toh banyak anak2 seumuran dia yang udah eng-ing-eng juga (tapi sama anak2 seumuran juga sih *geleng2*) tapi gak sampe panggil2 polisi begini. Satu hal yang membuat dia kesal hanyalah mengapa Charlie nggak pernah menghubungi dia lagi pascakejadian tersebut *rolleyes*. Perbedaan persepsi inilah yang memicu seringnya clash antara Annie dan William, bahkan William dengan Lynn dalam menghadapi kejadian amit2 ini.

Trust overall adalah sebagaimana dugaan gw sebelum nonton, sebuah drama indie bertema kelam yang berskala kecil namun tetap menggugah. Siapa sangka kalo film ini digarap sama David Schwimmer, pemeran Ross di serial "Friends" =). Dengan inti cerita yang menarik, film ini berusaha menampilkan potret kehidupan keluarga Amerika yang ditempa kejadian memilukan dengan alami namun tetap emosional—gw suka dengan penokohan Annie yang anak remaja biasa, bukan terlalu precocious/mental ketuaan seperti di film Juno misalnya. Niat itu sebagian besar memang berhasil, terutama dari deretan aktornya. Clive Owen tampil baik, mesikipun mukanya datar dan sama seperti di semua filmnya, tapi di sini emosinya selalu dapet, awesome =D. Demikian juga Catherine Keener yang cukup meyakinkan sebagai sosok ibu meski porsinya di cerita tidaklah terlalu signifikan. Penampilan aktris remaja Liana Liberato perlu di-highlight karena setiap gerak-gerik dan emosinya tampak luwes dan believable sebagai Annie si remaja clueless. Adegan2 dirinya marah sama sang ayah senantiasa dimainkan dengan manteph dan menusuk. Selain pada pemain, gw pun respek pada perkembangan cerita filmnya yang tidak melulu fokus pada mencari si Charlie, melainkan kepada dampak yang dialami keluarga Cameron, terlebih lagi adalah hubungan ayah-anak William dan Annie yang selama ini memang terasa kaku, yang gw sinyalir menjadi pemicu tak langsung kecenderungan Annie lebih suka membuka diri kepada orang2 yang tak dikenalnya di dunia maya.

Bagi gw film ini mengalir dengan cukup baik dengan pace yang lumayan pas, tidak terlalu lama dan tidak terlalu buru-buru, sinematografinya juga sama sekali nggak jelek. Film ini memang tidak sepenuhnya depresif—walau memang itu kesan yang dominan, tetapi humor kecil2 juga diselipkan dan lumayan menghibur. Pun cara film ini menampilkan obrolan chatting di layar dalam bentuk tulisan sembari adegan berjalan terbilang efektif. Adegan2 yang cukup bikin napas panjang serasa-tak-percaya juga dieksekusi dengan cukup baik (misalnya ketika diperlihatkan foto korban2 pelecehan...beserta umurnya >.<). Ada sih sedikit ganjalan pada sebuah eksekusi adegan, yaitu pertemuan pertama dan satu2nya Annie dengan Charlie. Dalam film ini, gw sebagai penonton seakan udah bisa langsung nge-judge bahwa si Annie ini antara dihipnotis atau bodoh banget. Si Charlie kelihatan banget punya udang dibalik hakau, apa yang diucapkan dan cara Chris Henry Coffey mengucapkannya itu kurang maut ah. Ketika Annie kemudian bilang bahwa Charlie itu baik dan sebagainya, gw langsung bereaksi dalem hati "bego banget nih anak, udah ketahuan kalee", sehingga gw mau simpati juga agak susah, malah gw berpihak sama William yang mengucapkan hal2 serupa dengan pemikiran gw pada Annie dalam sebuah adegan. Namun tampaknya, dengan cara inilah Trust ingin menunjukkan betapa rentannya anak remaja untuk mudah percaya pada siapa saja yang dianggapnya mendukung dan memperhatikan dirinya sebagaimana adanya, apapun caranya. 

Sayang banget juga tokoh Lynn sebagai ibu Annie tidak digali lebih dalam, ia tampak sebagai ibu yang asik bagi anak2 tetapi seakan nggak punya andil lebih dalam mengatasi permasalah anaknya, dan kalaupun ada tidak terlalu nampak di film ini (ada indikasi kalau William lebih fokus pada penyebab, Lynn lebih peduli pada dampak yang dialami anaknya *sok tau*). Malah lebih banyak adegan kakaknya Annie, Peter (Spencer Curnutt), yang bagi gw malah nggak terlalu relevan. Akan tetapi sebagai tontonan utuh, Trust bukanlah karya yang harus dihindari. Meski bagi gw masih ada yang nggak sreg di beberapa bagian, tetapi Trust masih berhasil dalam menyampaikan kegelisahan orang tua dan anak atas musibah miris yang mereka alami dengan menyolek emosi dan tidak dibuat-buat.



My score: 6,5/10

Rabu, 25 Mei 2011

[Movie] 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011)

 

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita
(2011 – Anak Negeri Film)

Written and Directed by Robby Ertanto
Produced by Intan Kieflie
Cast: Jajang C. Noer, Marcella Zalianty, Olga Lydia, Happy Salma, Intan Kieflie, Henky Solaiman, Tamara Tyasmara, Verdi Solaiman, Tizza Radia, Patty Sandya, Rangga Djoned, Tegar Satrya, Albert Halim, Achmad Zaki


7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (selanjutnya akan direfer sebagai "film ini" =P) adalah sajian tujuh fragmen dari tujuh orang wanita berbagai latar sosial (tokohnya Marcella Zalianty nggak diitung, we'll get to that later) yang saling bersinggungan dengan tokoh dokter Kartini (Jajang C. Noer), seorang dokter kandungan di sebuah RS Umum sebagai stasiunnya. Ketujuh wanita ini terhubung di ruang periksa rumah sakit. Lili (Olga Lydia) sedang mengandung besar namun sering datang ke dokter dengan memar2 di wajahnya, yang kita tau itu akibat melayani suaminya yg sadomasokis. Yanti (Happy Salma) datang periksa rutin mengingat dia adalah seorang penjaja seks pinggir jalan daerah Jakarta Kota, Jalan Hayam Wuruk kayaknya *lho terlalu spesifik kayaknya nih gw*, yang kemudian harus mendengar kabar tidak mengenakkan tentang kesehatan alat reproduksinya. Rara (Tamara Tyasmara) anak SMP ingusan labil penggemar Chupa Chups yang pertama kalinya memeriksakan diri ke dokter kandungan akibat khawatir setelah berhubungan intim dengan pacarnya yg cowok SMA. Ratna (Intan Kieflie) adalah perempuan sederhana pekerja keras yang baru hamil setelah menikah 5 tahun lamanya, ini anak pertama baginya, tapi ternyata bukan anak pertama bagi suaminya. Lastri (Tizza Radia), yang selalu datang ke dokter bersama suaminya Hadi (Verdi Solaiman) dengan kemesraan-tak-akan-cepat-berlalu, adalah seorang wanita tambun yang menantikan seorang anak untuk melengkapi kebahagiaannya. Lalu ada Ningsih (Patty Sandya), seorang wanita berwatak keras yang sudah kesekian kalinya hamil dan kini ngebet punya anak laki-laki, karena berhasrat untuk "menciptakan" laki2 yang tidak sepayah suaminya. Keenam wanita ini adalah pasien dr. Kartini, seorang wanita dengan karakter tegas namun berlaku compassionate, yang bertekad untuk membela kaum perempuan dan tidak bergantung pada laki-laki. Tak hanya jadi audiens kisah hidup pasien2nya, dr. Kartini pun harus punya "drama" dalam kehidupan pribadinya ketika dokter baru, Rohana (Marcella Zalianty, makanya dia nggak terhitung 7 wanita karena dia hanya bagian dari kisah dr. Kartini), yang muda, cerdas dan tampak ambisius yang agak menggugat ketegaran dan pandangan hidup dr. Kartini dengan cara2 yang, well, nyolot.

Dari 7 kisah yang ada, meski seperti terpisah-pisah, sebenarnya memiliki faktor kesamaan lebih dari perkara "kandungan", yaitu bahwa cerita 7 wanita ini berkaitan dengan lelakinya masing2. Tadinya gw berpikir, wah mau "menelanjangi" kebejatan kaum pria nih, karena awalnya gw sangka semuanya tentang wanita yang ditindas laki-laki, dan memang sebagian besar dari 7 wanita ini harus merasakan kepahitan dan sakit hati dalam hidupnya akibat jadi sekadar "mainan" kaum lelaki (Lili, Rara, Ratna, alasan Yanti jadi pelacur, juga Lastri). Namun pandangan itu harus gw eliminasi ketika mengingat tokoh Ningsih yang jelas malah lebih superior dari suaminya, lalu gw juga teringat bahwa sikap Ratna setelah mengetahui kekurangajaran suaminya juga bukti melawan penindasan. Pun kisah Yanti malah cenderung ke romansa dengan adanya Bambang (Rangga Djoned) si tukang ojek liaison officer alias "anjelo" a.k.a. antar-jemput-lonte nya Yanti (XD), yang bukannya menindas namun justru membela Yanti, in my opinion they are equal. Lalu film ini maunya apa?

Mungkin benar juga pandangan dr. Rohana, tidak semua perempuan adalah korban, dan jika memang menjadi "korban" belum tentu bisa langsung disalahkan pada laki-laki. Lili dan Ratna adalah contoh istri2 yg memang disakiti suami, tetapi sikap mereka dalam menghadapinya bertolak belakang. Film ini juga menyinggung apa yg juga ada di benak gw sejak lama: kalau nggak mau tekdung sebelum waktunya, kenapa gitu ceweknya mauan aja diapa-apain sama cowoknya? Mungkinkah ketertindasan itu sesunggunya sebuah pilihan? Well, berbeda dari dugaan awal gw, dan mungkin karena penulis/sutradaranya adalah cowok *hehehe*, film ini tidaklah serta merta menjadi film pembelaan kaum perempuan berbagai kelas sosial sebagai yang terus tertindas dengan menyudutkan laki2 sebagai antagonis belaka. No, karena hidup tidak sesederhana itu. Setiap kisah punya persoalan dan sebab musabab masing-masing dengan lebih menekankan pada pribadi tiap2 tokoh sebagai manusia (khususnya dari sisi perempuan), tetap terkait dengan hubungan antargender, namun  nggak melulu mengangkat "perang gender". Berbeda manusia berbeda pula kasusnya, kita harus memandang dari berbagai sudut dengan lebih bijak, nggak bisa serta-merta nge-judge dan menyamaratakan segala hal. Mungkin itu sebabnya film ini menampilkan 7 variasi kisah perempuan, dan hubungan mereka dengan para lelakinya pun beranekaragam jenisnya.

Eh, serius amat nih ^_^;. Baiklah, secara tontonan sinematik, sutradara Robby Ertanto boleh dibilang sukses dalam mengaduk rata ketujuh kisah yang ia tawarkan yang sebenarnya sangat familiar di sekitar kita, menjadi sebuah karya yang tetap relevan dan tidak terlalu membingungkan, bahkan ketika kisah2nya dimerge oleh beberapa peristiwa dan karakter sebagai "jalan tembus"nya sekalipun. Semuanya berjalan secara paralel, tetapi gw sendiri tetep bisa punya pegangan "oh si anu ceritanya begini, si itu ceritanya begitu" dan tetap bisa gw ikutin hingga akhir, kekuatan penceritaannya nggak terlalu timpang. Mixturenya pun cukup unik, walau pada dasarnya drama serius, tetapi ada saja yang agak "serem" sampe yang komedi, membuat film ini tidak terlalu membosankan, ditambah lagi dialog2 yang cerdas namun nggak mengawang-awang alih-alih terkesan mengkhotbahi. Gw pun salut dengan tata adegan yang terbilang baik, tampak natural dan blockingnya bagus tanpa terlihat palsu, apalagi pergerakan dan sudut pengambilan kameranya cakep dan mulus sekali. Soal akting gw pun perlu menjempoli semua pemeran yang tampil baik dan menjiwai tanpa harus menye-menye. Jajang C. Noer walau masih tetap terlihat "watak" dengan gaya bicaranya yang khas, tetapi auranya selalu berbeda di tiap2 film yang ia mainkan, sama halnya dengan Henky Solaiman sbg dr. Anton yg setia berPDKT santun sama dr. Kartini, dan untungnya chemistry keduanya nggak canggung. Jika boleh memilih penampilan favorit, gw akan menobatkannya pada Intan Kieflie yang sukses menularkan empati akibat ekspresi sakit hatinya yang ridiculously real.

Sebuah film yang nyaris tanpa cela? Nyaris! Gw sih masih maklum ya sama tata suara yang agak kasar, maklum filmnya bukan film mahal, tapi gw begitu terganggu sama musiknya yang antara out of place atau salah mixing, atau just plain wrong, sebab di sana sini masih terisi bunyi2an khas sinetron selain pemotongannya yang seringkali terlalu tiba2. Come on you're better than that. Bahkan kalo gw bilang tanpa musik pun film ini akan jadi lebih intens lho. Bagian pembukanya pun gw kaget, gw kira itu trailer, soalnya adegan2 yang ada muncul tiba2 dengan editing cepat tanpa ada resapan sedikit pun, bikin agak ilfeel, untung aja semakin ke sana semakin oke. Oh ya, titel beserta lagunya mending ditaro di akhir aja gimana? *ini penonton aja sok ngatur2 yang bikin pelem*. But apart from those, sebenarnya film ini masih layak tonton dan secara substansial (yang artinya adalah...? *mboh*) tidak ada yg mengganggu gw, masih bisa dinikmati kok. Tambah satu nilai untuk niat baik, kurang lagi setengah untuk bad decision on music. =)



My score: 7,5/10

Sabtu, 21 Mei 2011

[Album] Yu Takahashi - Realtime Singer Songwriter


高橋 優 – リアルタイム・シンガーソングライター
Yu Takahashi – Realtime Singer Songwriter
(2011 - Warner Music Japan)

Tracklist:
1.  終焉のディープキス    Shuuen no Deep Kiss
2.  素晴らしき日常    Subarashiki Nichijou
3.  福笑い   Fukuwarai
4.  メロディ   Melody
5.  希望の歌    Kibou no Uta
6.  靴紐    Kutsuhimo
7.  サンドイッチ    Sandwich
8.  ほんとのきもち    Honto no Kimochi
9.  虹と記念日    Niji to Kinenbi
10.  現実という名の怪物と戦う者たち    Genjitsu to iu Na no Kaibutsu to Tatakau Mono-tachi
11.  少年であれ    Shounen de are


Jika ada hal yang lebih menyenangkan daripada mengetahui artis favorit kita akan merilis album baru, adalah menemukan artis baru yang karyanya bagus dan menjanjikan. I always love that feeling. Yu Takahashi adalah spesimen terbaru gw. Singer-songwriter-bergitar-berkacamata-keliatan-nerd 27 tahun ini pertama kali gw kenal sekitar setahun yg lalu lewat major debut single-nya “Subarashiki Nichijou”, yg gw anggap cukup enak tapi terus gw agak lupakan begitu saja—ah, artis baru, gitu pikir gw. Kemudian ketika gw sedang ada tugas di Jepang, single keduanya “Honto no Kimochi” menjadi adiktif karena kerap berkumandang di radio dan juga lewat serial dorama berjudul "Q10" (dan iklan2nya) di televisi sana, belakangan gw jadi suka dan akhirnya jadi salah satu lagu J-Pop terfavorit gw tahun 2010 kemarin =). Ketika beberapa waktu lalu Takahashi merilis album debutnya ini, Realtime Singer-Songwriter, tadinya gw hanya coba-coba denger sebagai respon gw terhadap beberapa single-nya yg gw suka. Eeh, nggak disangka, ternyata album ini berhasil merenggut perhatian gw dan menjadi album debut artis J-Pop terbaik yang pernah gw denger setelah sekitar 2 tahunan terakhir.

The thing about a debut album, adalah seiogianya kita bisa melihat impresi bahkan identitas musikal si artis bersangkutan. Berdasarkan pendengaran gw terhadap album in, Yu Takahashi bernyanyi dalam ranah musik folk-rock yang kental tapi lagu2nya sendiri masih terbilang pop. Vokalnya sendiri sebagaimana penampilan luarnya sebenarnya bukan kategori keren atau dahsyat, secara warna dan teknik sih lumayan saja, bahkan kadang agak annoying karena sering pake suara nasal sehingga rada mirip Shiina Ringo versi laki, namun pembawaannya yang jujur, tulus, ada-usaha, dan bahkan emo namun aman terkendali membuatnya tetap terkesan istimewa dan mudah diterima di kuping. Pokoknya untuk ukuran vokalis Jepang, Takahashi ini termasuk oke, he’s still better than many of those thought-or-told-that-they-can-sing-and-deserve-to-make-records Japanese singers/actors-turned-singer #nomentions *ngenyek*.

Satu hal yang jadi perhatian gw dari lagu2 Takahashi adalah lirik2nya yang panjang dan seringkali dinyanyikan cepat. Isinya sih sederhana saja, bukan kromo inggil, tapi tetap puitis, orisinil dan mengena tanpa terlalu banyak huruf kanji *ehehehe*, tapi ya itu, panjang. Di sinilah mungkin letak alasan kenapa produsernya menjuluki Takahashi sebagai “realtime singer-songwriter”—dan menjadikannya gimmick serta judul album =P—karena Takahashi cenderung menuangkan apa saja yang ada di pikirannya tentang sebuah tema (tema2 sederhana tapi dalem) ke dalam sebuah lagu tanpa ragu2, alhasil liriknya jadi panjang2 *kayaknya sih gitu* =D. Julukan unik inipun sempat dibuktikan dalam sebuah klip yang gw saksikan di YouTube, lagu “Fukuwarai” ditulis Takahashi ketika sedang diundang sebuah acara radio (live) sehabis ada obrolan dengan seorang tamu (kayaknya artis). Dari kalimat “sekai no kyotsuu gengo wa eigo janakute egao to omou” (bahasa dunia bukan bahasa Inggris, melainkan senyuman) dalam obrolan itu, satu verse plus chorus nya selesai beberapa saat saja setelahnya, dan langsung disuruh dinyanyikan saat itu juga *weeeits*.

Akan tetapi, sound musik, musikalitas, vokal dan “keistimewaan” dalam membuat lagu belum cukup untuk membuat seorang artis menarik minat gw. Jujur saja, dengan jenis musik, cara nyanyi dan lirik2 yang “cerewet” seperti yang ditawarkan lewat album ini, Yu Takahashi bisa saja gw lewatkan...tapi apa daya, ternyata album Realtime Singer-Songwriter ini, gw jamin, seriously, lagunya enak2 semua! Gw harus salut sama mas Takahashi ini karena dengan pintar menumpangi lirik2 bawelnya dalam melodi2 yang simpel, catchy dan mudah terngiang, in every single track of the album. Bagusnya lagi, sesuai dengan semangatnya dalam membuat lirik, bungkusan aransemen musiknya pun terbilang maksimal nggak setengah2, bahkan yang agak menye-menye sekalipun. Dibuka dengan track “cadas” (dalam lingkup folk-rock, nggak pake distorsi) bisa bikin headbang kecil *halah* “Shuuen no Deep Kiss” dan ditutup track minimalis inspiratif anthemic dalam balutan piano dan cello saja “Shounen de are”. Di antaranya adalah deretan lagu2 dengan naik turun irama yang sama sekali tidak membosankan. Masih ada yang “cadas” di lagu “Kibou no Uta”, yang agak ceria dan bersemangat di “Genjitsu to iu Na no Kaibutsu to Tatakau Mono-tachi”, yang agak cepat namun berkesan “grand” dengan aransemen yang full seperti “Subarashiki Nichijou” dan “Honto no Kimochi”, yang agak kaleman dan manis di “Fukuwarai”, “Kutsuhimo” dan “Niji to Kinenbi”, terselip juga ballad rada menye-menye di “Meldoy”, sampe ada pula lagu lucu tentang pengalaman2 di minimarket/convenient store dalam “Sandwich” yang hanya diiringi gitar dan pianika. Cukup berwarna, tetapi karakter serta energi Takahashi tetap bisa terlihat, they all worked really well.

“Fukuwarai” , “Shounen de are” dan “Sandwich”, serta “Honto no Kimochi” tentu saja, adalah track2 paling favorit gw dari album ini, namun gw tetap menyukai lagu2 lainnya juga tanpa kecuali. Jika ada yg least favorite, maka itu jatuh pada “Genjitsu to iu Na no Kaibutsu to Tatakau Mono-tachi” tapi ini pun masih enak aja di kuping gw. Seperti gw tekankan sebelumnya, lagunya enak2 dan diurutkan dengan sempurna sehingga bisa diputar ulang tanpa ada bosan2nya. Bahkan tetap enak ketika lagu2nya ini didengarkan secara mandiri (mungkin kalo lagi shuffle/random dengan koleksi lagu lain di mp3 player =D). Yu Takahashi lewat album perdananya ini akhirnya sukses meretakkan keraguan gw akan kualitas J-Pop yang belakangan banyak yg “nggak selera gw”. Jelas bahwa Takahashi bukan macem artis yang akan sangat populer mengingat musiknya juga yang bukan selera pasar (kinda the reason why I like him), namun di sisi lain dia ini juga akan mudah disukai bagi semua yang mau menyendengkan telinga pada karya2nya. Realtime Singer Songwriter ini fresh, berkualitas, menyenangkan dan so far belum membosankan setelah gw denger 7-8 kali dalam jangka waktu kurang dari sebulan, bisa jadi front-runner album terfavorit gw tahun ini. Recommended for those who in thirst for a new and promising J-Pop act, and also don’t bother on how the artist looks =D.



My score: 8,5/10

高橋 優/Yu Takahashi


Previews courtesy of YouTube 
(saya sih agak menyarankan "dengar" dulu aja baru "lihat" =P)


*New* Cuplikan ke-11 lagu di Realtime Singer Songwriter =)





Subarashiki Nichijou



Honto no Kimochi (lagu tema dorama Q10 (kyuuto))



Fukuwarai



Genjitsu to iu Na no Kaibutsu to Tatakau Mono-tachi (lagu tema anime Bakuman)



Shounen de are



NB: Kalo diperhatiin, tiap video klip frame kacamatanya beda2 =D.

Sabtu, 14 Mei 2011

[Movie] Source Code (2011)


Source Code
(2011 - Summit/Vendôme)

Directed by Duncan Jones
Written by Ben Ripley
Produced by Mark Gordon, Jordan Wynn, Philppe Rousselet
Cast: Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga, Jeffrey Wright, Michael Arden


“Hollywood” yang dalam bayangan banyak orang adalah: 1. film dengan aksi2 dan visual efek keren, dan; 2. memajang bintang terkenal. Film2 seperti ini biasa nya milik studio2 besar USA yang produksi2 terbarunya memang belum ada tanda2 akan benar2 beredar di bioskop Indonesia akibat permasalahan DUIT yang lagi2 menjadikan KONSUMEN sebagai KORBAN *tarik napas* *ngeludah* *cuih* . Dengan dua unsur tadi plus tentu saja: 3. promo berlebihan yang mencitrakan hanya film2 seperti itulah yang layak tonton, sudah cukup untuk menarik minat penonton kita. Nah, karena udah lama nggak ada yang seperti itu, Source Code, sebagai film produksi Amerika tahun 2011 pertama yang beredar di Indonesia setelah 3 bulan terakhir ini, bagaikan es jeruk manis di tengah2 kekeringan akan film impor/Hollywood. Jadi gini, film2 yg memenuhi 3 unsur yg gw singgung tadi bisa saja analoginya air dingin saja, namun Source Code, yg punya 3 unsur “Hollywood” tersebut (eh, Jake Gyllenhaal tuh terkenal kan? *ragu*) meskipun dari studio kecil/independen, gw analogikan es jeruk manis, karena film ini bukan film biasa-aja-tapi-jadi-bagus-karena-nggak-ada-pilihan-lain. Honest.

Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) tiba2 terbangun di sebuah kereta api Jabodetabek commuter menuju kota Chicago, namun bukan di dalam tubuhnya sendiri. Belum selesai kebingungannya, tiba2 kereta tersebut meledak! Colter lalu terbangun dalam sebuah ruangan tertutup dan langsung dihubungi melalui “videophone” oleh Kapten Goodwind (Vera Farmiga), bahwa Colter, yang seorang pilot AU Amerika yang (tadinya) bertugas di Afghanistan, sedang dalam tugas memasuki memori seseorang bernama Sean Fentress yang sedang pagi itu (kejadiannya sudah terjadi, btw) sedang menaiki kereta yang meledak di tengah jalan. Dalam "dunia" 8 menit terakhir memori hidup Fentress, yang disebut “source code”, Colter ditugaskan untuk mencari pelaku bom kereta itu, sebelum orang yang sama melakukan peledakan selanjutnya yang lebih besar...dengan cara Colter harus kembali ke memori yang sama berulang kali sampai pelaku bom itu ditemukan. Dengan tetap memiliki kesadaran dan ingatan pada kali2 sebelumnya, Colter pun mencoba menjalankan tugasnya tersebut di dalam source code dengan menyelidiki apapun yang ada di sekitarnya dalam waktu yang pendek2, meskipun berada ditengah ketidaktahuan akan apa yang terjadi di dunia nyata, he really had no idea, and so did I =).

Kalo boleh langsung gw memvonis, Source Code ini seru sekali. Premisnya mirip dengan serial lawas “Quantum Leap” (yang bintangnya, Scott Bakula ikut cameo jadi suara ayah Colter di film ini), namun Source Code lebih menekankan pada sisi thriller, aksi, dan misteri dengan twist2 menakjubkan sepanjang jalan—dan gw suka banget cara pengungkapan twist2nya, kayak sambil lalu tapi kena, genius. Bagusnya lagi, meski berpotensi rumit karena memang berlabel film “aksi fiksi-ilmiah”, apa yang ditampilkan sutradara Duncan Jones (anaknya penyanyi tuir David Bowie) dan penulis Ben Ripley tidak langsung membebani penonton dengan kerumitan bertele-tele. Penonton (gw) sejak awal berada pada pihak Colter yang juga gak tau apa-apa, segala hal yg terjadi di film ini pun masih misteri sebelum Colter mengetahuinya, itu memberi kesempatan bagi pembuat filmnya untuk menyelipkan penjelasan demi penjelasan sederhana bagi orang awam, termasuk penjelasan “ilmiah” yang untungnya tidak terlalu membingungkan (atau gw yg terlalu nevermind-the-details, hehe) sehingga gw dengan mudah larut dalam apa yg ditampilkan film ini, toh ceritanya tidak hanya bertumpu pada bagian fiksi-ilmiah-nya saja, tetapi pada perjuangan Colter untuk menyelesaikan misi sekaligus kembali ke kehidupannya yang semula. Ya, makna “es jeruk manis” tadi adalah bagaimana film ini mengusung cerita yang menarik dan dieksekusikan dengan baik. Bukan hanya soal keren2an visual (yang memang keren) dan aksi2an, tetapi Source Code juga memperhatikan kelelahan dan goncangan emosi Colter dalam menjalani misinya, apalagi setelah mengetahui lebih lanjut tentang apa yang terjadi pada dirinya. Pada “penambahan” arah film ini, bahwa in the end ini tentang diri Colter, gw pun masih suka, smooth. That guy deserve some happiness =).

Dipermanis oleh akting pemerannya yang kompak dan meyakinkan, yg di”kapten”-i Jake Gyllenhaal yang mulus sekali mengundang simpati penonton, Source Code sekali lagi sebuah tontonan yang memuaskan, setidaknya buat gw. Mulai dari cerita, gaya bercerita, laju filmnya, akting, visual, efek visual, musik, suara, tidak ada yang perlu dikomplain saking nyaris tanpa cela. Cara merancang situasi 8 menit di source code secara berulang pun benar2 rapi dan mengena. Pun film ini ditutup dengan cukup mengherankan tapi mengasyikan. Setelah menyentuh sisi kemanusiaan pada bagian menjelang akhirnya (yang dengan baik ditempatkan dengan pas tanpa terasa maksa), bagian akhirnya menegaskan apa yang jadi pertanyaan semua film fiksi-ilmiah: “what if?” =). Meski memang tidak original2 amat (percampuran "Quantum Leap" dan Groundhog Day dan...Harry Potter?), tetap saja Source Code perlu ditandai sebagai film yang mengasyikan tanpa membahayakan. Ada aksi menegangkan, ada ledakan (as many times as Colter entering the source code, of course =D), ada misteri, ada romansa, ada drama kemanusiaan, ada misi yang harus diselesaikan, dirangkai dialog2 yang tidak membodohi, film ini lengkap sudah menyajikan apa yang dapat memuaskan penonton yang datang ke bioskop. Apalagi, film ini bersih (nggak pake dipotong oleh sensor =P) dan durasinya cuman satu setengah jam cing =D. Like this film *jempol*.



My score: 8/10

[Movie] The Mirror Never Lies (2011)


The Mirror Never Lies
Laut Bercermin
(2011 - Pemda Kabupaten Wakatobi/WWF Indonesia/SET Film)

Directed by Kamila Andini
Written by Kamila Andini, Dirmawan Hatta
Produced by Garin Nugroho, Nadine Chandrawinata
Cast: Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian, Gita Lovalista, Eko, Zainal


Entah ada yang merasa seperti yang gw rasa, Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara bisa jadi adalah pemerintah daerah paling ekseeis di Indonesia setahun ini. Buktinya? Setelah jadi tuan rumah konferensi kelautan dunia, nama "Wakatobi" yang terkenal dengan wisata selamnya ini juga makin ke sini sering muncul di infotainment lewat liputan selebritis dan selebritis kurang terkenal yang diundang oleh pemerintah setempat untuk acara2 entah apa *jiaah ketauan deh suka nonton infotemeun =P*. Tak sampai situ, Pemda Wakatobi pun akhirnya menggunakan juga media film sebagai perpanjangan ke"eksis"annya. Bekerja sama dengan organisasi lingkungan hidup WWF Indonesia, film berlatar Wakatobi dan lautannya ini bahkan bukan film main2 atau asal2an promosi, melainkan film fiksi yang digarap serius dan bisa dibilang setaraf festival, apalagi mengundang sutradara art-house kondang Indonesia, Garin Nugroho sebagai produsernya, yang menguatkan ekspektasi tersebut. Film tersebut adalah The Mirror Never Lies, atau subjudul bahasa Indonesianya, Laut Bercermin. Film ini memang gw tengarai sebagai ajang berbagai kepentingan: promosi taman nasional Wakatobi (courtesy of Pemkab Wakatobi), kampanye kepedulian lingkungan hidup (courtesy of WWF), ajang coba2 Putri Indonesia 2005 Nadine Chandrawinata yg konon pecinta alam sebagai produser film, dan yang tak kalah penting adalah ajang pembuktian sutradara muda Kamila Andini, yang tak lain adalah putri Garin Nugroho, dalam menggarap film panjang perdananya.

Di sebuah kampung suku Bajo, dikisahkan seorang anak perempuan bernama Pakis (Gita Novalista) yang begitu merindukan ayahnya yang tak kunjung pulang, sampe dia sering terjaga hingga larut malam menunggu ayahnya pulang. Suku Bajo memang menggantungkan hidupnya dengan melaut—bahkan kampung mereka bangun di atas laut dangkal bukannya di darat. Bahwa kepala keluarga akan sering pergi melaut jauh dalam waktu yang panjang sudah menjadi kebiasaan. Tak jarang pula, mengenal bahwa laut begitu luas dan juga ganas, apapun bisa terjadi bagi mereka yang pergi mengarunginya, termasuk kehilangan nyawa. Itulah yang ditekankan ibu Pakis, Tayung (Atiqah Hasiholan) kepada putrinya, bapak tidak pulang sudah terlalu lama, artinya bapak sudah tidak ada, tinggal mereka berdua. Karena itu Tayung kini harus berusaha keras menghidupi diri dan putrinya dan itu bukanlah hal mudah. Pakis masih belum dapat menerima “dugaan” ayahnya tewas atau apalah, dia tetap terus berharap, memikirkan sang ayah serta cerita dan pesan2nya sebagai pelampiasan kangennya, termasuk membawa-bawa cermin pemberian ayahnya, bahkan sampe membawa cermin itu ke dukun dengan harapan bisa setidaknya melihat sang ayah. Suatu hari, datanglah Tudo (Reza Rahadian), seorang “peneliti lumba-lumba” dari Jakarta yang dalam rangka pekerjaannya akan menginap di rumah yang tadinya ditinggali ayah Pakis. Pakis agak nggak rela dengan kedatangan Tudo, seakan-akan ayahnya sudah tidak akan tinggal di rumah itu lagi. Namun lambat laun Pakis bisa menerima kehadiran Tudo, bahkan mungkin mengobati kesepiannya. Mungkin.

The Mirror Never Lies sepertinya memperpanjang “formula” film di Indonesia yang tampak “artistik” tapi juga berusaha menghibur: use the kids =D. Melanjutkan apa yang sudah dilakukan Denias Senandung di Atas Awan dan Laskar Pelangi, film ini memperkenalkan sebuah daerah dan budaya yang eksotik di Nusantara yang belum banyak diketahui, dan menggunakan anak2 sebagai penggerak ceritanya, serta memanfaatkan kepolosan anak2 untuk (dengan harapan) menghibur penontonnya. Nggak ada yang salah dengan itu, tapi ya kalo bisa 3 kali formula yang sama tuh kayaknya udah maksimal deh, bapak ibu produser =). Anyway, dibandingkan dua judul yang gw singgung tadi, The Mirror Never Lies mungkin film yang paling “bukan anak2”, mulai dari laju cerita dan eksekusinya yang agak ala film “nyeni”, juga karena isu yang diangkat agak rumit: kehilangan. Konfliknya memang minim kalau bisa dibilang hampir nggak ada, hanya penantian seorang Pakis pada ayahnya, yang sering adu teriak sama ibunya yang menyuruhnya berhenti mengingat-ingat ayahnya—padahal Tayung juga merasakan kesepian yang sama besarnya. Apa yang mereka lakukan sehari-hari atas perasaan itu wajar2 saja sebenarnya, berselisih pendapat antara ibu dan anak, serta kenakalan2 khas anak. Kedatangan Tudo pun tidak menambah drama yang gimana gitu, hanya mungkin ada saling ketertarikan Tudo dan Tayung, serta kemudian jadi objek “puber”nya Pakis. Intinya Tudo, yang menyimpan gaun putih di kamarnya itu (which is kalau pikiran gw sedang tidak positif akan mengganggap itu agak aneh, hiii), menjadi “sekedar alat” penegasan betapa Pakis dan juga Tayung sedang merasa kehilangan. Bagi yang mengharap lebih, hmm, maap2 aja. Film ini mengalir begitu wajar dan nggak dibuat-buat, namun saking wajarnya memang jatuhnya film ini jadi agak “sunyi” karena kurangnya letupan2 yang kentara agak berasa lama jadinya.

Meski demikian, nggak bisa dipungkiri bahwa The Mirror Never Lies adalah sebuah karya yang rapih dan patut dipuji. Dari eksekusinya di layar, gw menemukan tata adegan yang terbilang artisik—terutama adegan yg berhubungan dengan Tayung dan bedaknya (mungkin mbak Kamila belajar dengan baik dari bapaknya, hehe), selain bahwa keseluruhan film ini ditangkap oleh sinematografi yang ciamik dan top markotop, banyak gambar2 cantik dan keren tidak hanya dari pemandangan alam (adegan bawah airnya, waduuuh ckckckck), tetapi juga dari lingkup sempit sebuah kampung suku Bajo tempat Pakis dan Tayung dll berada. Gw punya shot favorit yaitu di bagian akhir, pokoknya yang ada perahu dan cermin yg diambil dari bawah air, wooooww.... Penampilan para aktornya pun dengan sukses membuat gw sedikit mengesampingkan ceritanya yang sepi itu. Atiqah Hasiholan tetap tampil meyakinkan sebagai meski wajahnya terus menerus dilapisi bedak putih, karakternya tetap keluar dari cara bicara, gestur, dan kerja fisik yang dilakukannya (bagian ngebersihin rumput laut itu keren deh, mbak =)). Akting anak2 yang asli suku Bajo pun sangat nyaman dilihat karena begitu natural. Gita Novalista harus dipuji pada tugasnya sebagai pemeran utama yang dibawakan dengan baik, namun mungkin yang paling “cacthy” adalah tokoh Lumo yg dimainkan oleh Eko (nanti tambah nama di belakangnya ya dik, biar nggak ketuker sama sejuta Eko se-Indonesia =D) yang tampil jenaka. Adegan2 yang melibatkan tokoh Pakis, Lumo dan Kutta (Zainal) memang poin paling menghibur dari film ini, nggak pernah gagal =D. Sedangkan Reza Rahadian berperan seperti halnya...Reza Rahadian, usual stuff =P.

Di luar itu, gw terkesan dengan sutradara dkk yang mampu memfungsikan beberapa aspek dari budaya suku Bajo yang padu dengan ceritanya. Mulai dari cara hidup keluarga—ayah dan ibu tidak satu rumah, ayah pergi melaut cari ikan dan ibu menjual hasil tangkapan di pasar, Tayung yang memakai bedak di wajah (mungkin sebagai lambang duka), berbalas pantun, ritual perdukunan, ritual perjodohan hingga pemakaman, semuanya bukan asal ditampilkan tetapi ada relevansi yang sama sekali tidak terasa dipaksakan. Dan bagusnya lagi, film ini juga tidak meninggalkan “kepentingan” lain selain sekedar bercerita, yaitu memamerkan keindahan alam bahari wilayah Wakatobi, serta membuat penonton merasa sayang untuk merusak keindahannya. The Mirror Never Lies ternyata berhasil merangkum apa yang diinginkan masing2 pihak pendukungnya. Sebuah film yang mengerahkan sisi artistik pembuatnya, memotret sebuah kebudayaan dengan adil—terutama dari bahasa yang digunakan secara wajar, serta menimbulkan efek yang sesuai dan positif. Dan perlu diingat lagi, ini karya perdana seorang sutradara wanita muda seusia Agnes Monica. Not perfect but definitely watchable, with patience. Bonus 1 poin untuk niat baik. Kirim gih ke Oscar =).



My score: 8/10

Selasa, 10 Mei 2011

[Movie] The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007)


The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford
(2007 - Warner Bros.)

Written for the screen and Directed by Andrew Dominik
Based on the novel by Ron Hansen
Produced by Ridley Scott, Jules Daly, Brad Pitt, Dede Gardner, David Valdes
Cast: Brad Pitt, Casey Affleck, Sam Rockwell, Mary-Louise Parker, Jeremy Renner, Sam Shepard, Paul Schneider, Garret Dillahunt, Michael Parks, Zooey Deschanel, Hugh Ross (narrator)


Berbarengan sama The Hangover, gw menonton The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford ini (selanjutnya akan gw refer sebagai "film ini" aja =P) karena tergoda sama DVDnya yg lagi diskon, nggak ada niat khusus untuk menontonnnya, yah demi memperbanyak perbendahraan film aja sih. Lagian film ini tampaknya cukup menjanjikan, ada bapak Brad Pitt sebagai bintang utama, juga oom Ridley Scott sebagai produsernya, terus mendapat tanggapan yang mayoritas postif baik dari kritikus maupun teman2 blogger (terutama si inisial A dari tanah B yg suka banget film ini, #nomention =D). Ditambah lagi film ini mengantongi sepasang nominasi Oscar 2008 yaitu best supporting actor untuk adeknya bang Ben, Casey Affleck, dan best cinematography untuk opa Roger Deakins. Well, sebagaimana tulisan gw tentang sinematografer beberapa waktu lalu, nama Roger Deakins sebenarnya sudah cukup buat jaminan sebuah film layak tonton, tak terkecuali film ini =).

Film ini adalah salah satu film yang judulnya sangat menggambarkan sekali isi filmnya, no spoiler here =D. Ya, film ini tentang sebuah kejadian pembunuhan seseorang bernama Jesse James (Brad Pitt) oleh seseorang bernama Robert Ford (Casey Affleck). Siapa itu Jesse James (bukan mantannya Sandra Bullock ya)? Siapa pula itu Robert Ford? Film ini membeberkannya dengan cukup murah hati bagi gw yang nggak tau apa2 soal peristiwa sejarah yang benar2 terjadi pada akhir abad ke-19 di Amerika ini—ceritanya jaman koboi nich. Jadi gampangnya si Jesse James ini kayak Si Pitung-nya orang sonoh, ia seorang buronan kriminal—perampok dan pembunuh juga—yang terkenal banget sampe2 jadi legenda yang malah mencitrakannya bak pahlawan rakyat. Robert "Bob" Ford adalah salah satu yang sangat mengidolakan Jesse. Kesempatan untuk mendekati sang idola pun terbuka lebar ketika Jesse James yang komplotannya tinggal sang kakak seorang, Frank (Sam Shepard) hendak melakukan perampokan terakhir sebelum mereka pensiun—setelah semua anggota komplotannya yang asli entah mati atau tertangkap semua. Bob ngintilin sang kakak, Charley (Sam Rockwell) yang direkrut untuk perampokan kereta api bareng James bersaudara. Sukses dengan aksi itu, mungkin karena menangkap sinyal "penyembahan" dari Bob, Jesse pun mengajaknya untuk tinggal di rumahnya bareng istri (Mary-Louise Parker) dan anak2, buat bantu2 kali ye. Bob pun berkesempatan lebih dekat, bahkan sangat dekat dengan Jesse dan kehidupan yang dijalaninya, hingga pada satu saat Bob terpancing oleh Jesse yang seakan merendahkannya sampai2 berinisiatif untuk menjadi mata2 bagi pihak berwajib untuk menyerahkan Jesse...tapi seperti diindikasikan judulnya, bukanlah demikian yang terjadi.

Meski berlatar "western", film ini jauh dari yang namanya aksi kejar2an dan tembak2an. Film ini menyusuri waktu2 terakhir Jesse James sebelum mati dibunuh pada usia 34 tahun, serta juga kehidupan Bob Ford yang memang berwatak "istimewa" ini. Film ini dengan perlahan dan nyaris mulus menunjukkan 2 hal itu. Jesse James terlihat bingung dan depresi pasca pensiun dari dunia kriminal (sekalian nomaden untuk bersembunyi), dan mungkin juga takut bahwa dari orang2 yang pernah jadi komplotannya bisa saja bersekongkol untuk berkhianat dan menyerahkan dirinya, apalagi bagi barangsiapa yang menyerahkan Jesse ke penegak hukum akan mendapat hadiah uang yang sangat besar. Bob Ford terlihat sebagai seorang ababil yang butuh pengakuan, ingin menunjukkan bahwa dia berani dan mampu diandalkan meski tampilan luarnya terlihat canggung dan diremehkan. Di saat yang sama terlihat pula ada pergumulan di dalam batin Bob antara kekagumannya yang besar kepada Jesse sang legenda dengan apa yang dia lihat dan terima dari sosok Jesse aslinya.

Jadi kenapa Bob membunuh Jesse? Apa karena kecintaannya amat sangat itu telah berubah jadi benci yang amat sangat? Atau justru karena tidak ingin merusak citra idolanya yang sudah tidak sehebat dan seheroik yang ia tau saking sudah terobsesinya, sehingga nyawanya harus segera diakhiri? Atau malah karena dengan itu ia ingin menjadi sehebat, bahkan lebih hebat dari Jesse? Bob memang jadi terkenal karena berhasil membunuh buronan paling dicari saat itu, bahkan merekonstruksi peristiwa pembunuhan Jesse James dalam lakon drama panggung yang dimainkannya sendiri bersama sang kakak, tapi toh nyatanya Jesse James tetap dianggap pahlawan di mata rakyat, dan Bob hanya dianggap pengkhianat dan pecundang yang cari sensasi belaka. Dari mulut Bob sendiri kepada Dorothy Evans (Zooey Deschanel), meluncur alasan bahwa "Jesse mau bunuh saya.. juga untuk hadiah uangnya". Tapi apakah memang demikian? Gw sih masih "tradisional" dengan menganggap bahwa itu karena Jesse "menghina" Bob. Bagaimana perasaan kita kalau orang yang kita idolakan dan agung2kan—bahkan mungkin yg kita cintai, malah berbalik menertawakan kita dan mencurigai yang tidak2? Yang pasti, bagi gw pemikiran Bob agak sulit untuk dipahami, dan film ini menggambarkannya dengan baik, terutama dari penampilan manteph dari Casey Affleck dengan ekspresi pokerface nan memelas namun menyimpan emosi yang siap (namun tidak sampai) meledak sepanjang film. Great job.

Film ini rapih sekali, plotnya dieman-eman supaya dapat tersampaikan sedetil mungkin proses yang membawa pada peristiwa pembunuhan Jesse James (termasuk proses panjang bagaimana bisa Bob mendapat kepercayaan polisi untuk jadi mata-mata). Bahayanya, semua itu disampaikan dengan pelan, sunyi, dan murung. Gw masih bisa sih mentolerir film2 pelan dan sunyi *sok banget*, tapi kalo filmnya jadi 2,5 jam lebih ya agak berat juga, hehe. Mungkin dalam rangka autentisitas, semua aktor di sini ngomongnya pelaaan gitu baik volume maupun kecepatan, menambah bukti yang memberatkan bahwa film ini membosankan saking detilnya dan bikin ngantuk—dan saya memang ngantuk di tengah2, hehehe. Tapi tak mengapa, toh atas jasa opa Roger Deakins, lagi2 membuat gw betah memandang layar karena tampilan2 gambar yang cuantik nan memukau, adegan perampokan kereta api di malam gelap yang kontras dengan lampu kereta itu epik sekali, lalu ada adegan penggerebekan tempat tinggal Bob Ford yang disorot dari balik jendela, bahkan di saat lain beliau bisa aja nangkep gambar debu2 kecil berterbangan terkena sinar matahari di adegan2 dalam rumah =). Superb.

Kesimpulan gw, film ini bagus deh. Serius gw. Tapi serius juga, film ini lama dan berasa lamanya—padahal ini udah versi pendek dari cut aslinya yg 4 jam aja gitu, apalagi gejolak2 dalam plotnya sedikit dan jaraknya jauh2. Tetapi kalau nggak begitu caranya, mungkin ceritanya jadi nggak meresap bin merasuk dan kurang "mendidih" di bagian klimaksnya. Entahlah. Bagaimanpun, film ini adalah sebuah karya baik, diarahkan dengan baik, dimainkan oleh aktor2 yang mumpuni (meskipun Mary-Louise Parker cuma kayak figuran, dan Zooey Deschanel cuma ngomong 2 kalimat plus nyanyi, tapi yah bolehlah =D), kemasan visual yang berkelas nan anggun, serta dinarasikan secara baik dengan memberi informasi yang cukup tentang tokoh2 sejarah yang ada di ceritanya sehingga nggak nyuekin penonton yang nggak tau apa2 kayak gw ini, plus tanpa dramatisasi yang dibuat-buat (konon ini film soal Jesse James yang paling mendekati fakta sejarah). It's long but kinda worth your time =).



My score: 7,5/10

Minggu, 08 Mei 2011

[Movie] The Hangover (2009)


The Hangover
(2009 - Warner Bros.)

Directed by Todd Phillips
Written by Jon Lucas, Scott Moore
Produced by Todd Phillips, Daniel Goldberg
Cast: Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, Justin Bartha, Heather Graham, Sasha Barrese, Jeffrey Tambor, Ken Jeong, Mike Tyson, Mike Epps


Komedi khas Amerika dan gw kurang punya chemistry yang cocok. Bukannya gw anti-komedi lho, toh terakhir gw ngakak kok waktu nonton 3 Idiots tahun lalu. Tapi mungkin dulu gw terlalu sering liat di TV atau gimana, pokoknya gw tuh nggak pernah bisa tertawa tulus kalo nontonnya film2 komedi romantis Hollywood atau film2nya Adam Sandler alih2 Ben Stiller, dan sudah lama gw tidak berminat pada yang begituan, liat trailernya pun nggak tertarik. Gw nggak bilang bahwa film2 semacam itu semuanya jelek, namun untuk sebuah karya yang memang bertujuan "mengajak tertawa", kasusnya adalah gw lebih banyak tidak tertawanya. Palingan nyengir atau ketawa kecil pake napas *you know what I mean lah*. The Hangover, yang muncul pada tahun 2009 dan mendapat pujian di sana sini selain punda-pundi keuntungan, sebenarnya juga nggak terlalu menarik perhatian gw. Namun apa daya, ketika laper mata melihat tulisan "diskon" menggoda iman, gw pun membeli DVDnya, yah mumpung diskon, toh film ini juga mendapat review2 yang positif, menang Golden Globe Award pula, jadi mungkin saja gw akan menyukainya dan mungkin akan tertawa enak.

Ternyata nggak tuh.

Ceritanya sih memang gw akui cukup memikat. 3 sahabat: Phil (Bradley Cooper), Stu (Ed Helms), dan Doug (Justin Bartha) ditambah calon kakak ipar Doug, Alan (Zach Galifianakis) liburan bareng ke Las Vegas dalam rangka "bachelor party" untuk Doug yang dalam dua hari akan menikah. Malam sesampainya di sana mereka langsung mulai "jalan"...dan pagi keesokan harinya, masih setengah sadar dari mabok, Phil, Stu dan Alan terbangun di suite hotelnya yang berantakan, Phil bonyok, Stu giginya copot 1, nemu bayi di lemari, dan ada harimau di kamar mandi...dan Doug hilang! Jadi pertanyaannya, dimana Doug? Trus semalem tuh mereka ngapain aja sampe ada benda2 aneh di kamar? Dan lagi, kok bisa2nya mereka nggak inget sama sekali apa yg terjadi semalaman? Mereka bertiga memutuskan untuk melacak keberadaan dan harus menemukan Doug dari petunjuk2 yang ada sebelum hari pernikahan Doug keesokan harinya, yang membawa mereka pada fakta2 mengejutkan tentang apa yang mereka lakukan semalam sebelumnya.

Secara struktur plot *kayak gw ngerti aja* film ini cukup bikin terpaku karena gw penasaran juga pada ngapain aja tuh orang2 teler, dan memang yang bergulir tidak mudah disangka-sangka. Menarik lah. Tapi eksekusinya itu lho, yang sangat khas komedi bodoh2an ala USA, lagi2 gw kurang sreg. Pertanda paling kentara adalah tokoh nyebelin dari Alan, tokoh yang dirancang untuk jadi nyebelin dan memang nyebelin. "Pumping" baby? What the hell? Mungkin bagi orang "sono" adanya tokoh nyebelin adalah lucu, tapi buat gw, si Alan ini terlalu nyebelin sehingga jadinya nggak lucu. Tindakan mereka sudah bodoh dan itu saja (mudah2an) bisa mengundang tawa, lalu kenapa juga harus nambah tokoh yang dirancang bodoh lagi? *sigh* Pun beberapa dialog, situasi dan aksi-reaksi yang dirancang lucu, hanya beberapa saja yang bikin gw nyengir. So in short, The Hangover lumayan punya taring di jalan cerita, tapi nggak di komedinya, biasa aja...atau mungkin karena selera humor gw aja yang nggak ke situ.

The Hangover bisa jadi menghibur bahkan mengesankan bagi sebagian orang. Selain ceritanya yang agak berbeda, serta gambar2nya yang cukup menyegarkan, akting pemainnya juga baik sesuai kebutuhan, apalagi ada Bradley Cooper yang akan jadi magnet kaum wanita dan remaja putri, dan ya mungkin saja ada yang selera humornya klop dengan para pembuat filmnya sehingga ngakak dengan lelucuan2 yang dieksebisi di film ini. Gw sendiri sepertinya masuk ke sebagian lain yang tidak terlalu menyukai film ini. Nggak terlalu bikin kesal sih, cuma nggak terlalu spesial dan bagi gw nggak lucu2 amat. Biasa ah. But then again, mungkin karena culture-gap, atau gwnya yg aneh *berdiri di pojokan*.



My score: 5,5/10

Rabu, 04 Mei 2011

POLL RESULT: Lagu Jepang Terpopuler di Indonesia

Teng teng teng! Polling lagu Jepang terpopuler di Indonesia sudah ditutup! *pdahal udah dari kemaren =P*. Setelah dipajang di pojokan blog ini selama lebih kurang 40 hari, jajak pendapat iseng2 tanpa pamrih ini telah menampung 72 respon pilihan mana saja di antara 9 lagu J-Pop yang gw lemparkan, yang para responden ini akui mereka kenali—bukan menyukai, tapi setidaknya ingat/pernah dengar, karena bagi gw ukuran "populer" adalah yang dikenal baik oleh yang suka maupun yang tidak =). Tanpa ditunda-tunda lagi, mari kita tengok hasilnya, sekalian ada previewnya untuk mengingatkan. Here they are the most popular Japanese songs in Indonesia *prikitiw*:


1. "First Love" Utada Hikaru [49 respon (68%)]


2. "Kokoro no Tomo" Mayumi Itsuwa [43 respon (59%)]


3. "Fukai Mori" Do As Infinity [39 respon (54%)]


4. "Haruka Kanata" Asian Kung-Fu Generation [37 respon (51%)]


5. "Sobakasu" Judy and Mary [36 respon (50%)]


6. "Stay Away" L'Arc~en~Ciel [34 respon (47%)]


7. "La La La Love Song" Toshinobu Kubota [31 respon (43%)]


8. "True Love" Fumiya Fujii [29 respon (40%)]


9. "I For You" Luna Sea [23 respon (31%)]



Sebelum membahas hasil "angket"nya mungkin perlu dijelaskan bahwa ini adalah polling terbuka yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mampir di blog ini, sehingga gw pun sebenarnya nggak bisa mengendalikan respondennya. Boro2 demografinya (usia, jenis kelamin, domisili, suka hal2 ke-Jepang-an atau tidak, dll), gw aja nggak bisa jamin bahwa 1 responden hanya 1 kali ikut polling, pun polling hanya diikuti sama responden yang punya akses internet saja, hehe. Yah, namanya juga polling iseng2, nyantai aja lagi =).