Sabtu, 30 April 2011

[Album] moumoon - 15 Doors


moumoon – 15 Doors
(2011 – Avex Trax)

Tracklist:
1. We Go (intro)
2. 15 Doors
3. One Step
4. Sunshine Girl
5. moonlight
6. Blue Rain
7. 青い月とアンビバレンスな愛 Aoi Tsuki to Ambivalence na Ai
8. ハレルヤHallelujah
9. YAY
10. EVERGREEN
11. Destiny
12. 天国に一番遠い場所 Tengoku ni Ichiban Tooi Basho
13. On the right
14. HAPPY UNBIRTHDAY
15. Farewell (outro)


Gw mulai tertarik mendengarkan moumoon setelah mendengar single mereka tahun 2010, “Sunshine Girl” yang super-catchy itu. Setelah diubeg-ubeg sedikit, moumoon adalah duo pop Jepang yang terdiri dari YUKA di vokal dan Kousaku Masaki di gitar serta...err...sisanya—maksudnya komposer merangkap arranger serta memainkan beberapa instrumen lainnya. Aliran musiknya ternyata emang seperti bisa didengar di single “Sunshine Girl” tadi: pop yang manis dengan perpaduan live instruments dan elemen digital yang terkesan santai dan refreshing (kalo gw kasih padanannya di Indonesia, mungkin Andezz *sotoy*). Album 15 Doors ini sediri adalah full-album kedua moumoon. Melihat diskografinya, mereka memang irit merilis album tapi lebih rajin rilis mini-album dan single. Saking jarangnya, dalam album ini pun termuat single2 mereka yg dirilis sejak tahun 2009, lumayan ye.

Bisa ditebak dari judulnya, 15 Doors terdiri dari 15 track: 13 lagu ditambah intro dan outro. Gw bisa langsung menvonis bahwa semua lagu di album ini masuk kategori nyaman didengar. Ternyata nggak cuman single “Sunshine Girl” aja yang cathcy, tapi semua lagu bisa dibilang nggak kalah cathcy nya, agak2 pop Skandinavia gimana gitu *sotoy lagi*, terbungkus dalam musik yang—sebagaimana disinggung sebelumnya—menimbulkan kesan refreshing, dipadukan dengan vokal YUKA yang manis-tanpa-terpaksa sehingga kesan tersebut makin menjadi. Mood albumnya pun cukup terjaga, dari yang up-beat ceria seperti “Sunshine Girl”, “15 Doors” dan “YAY”, yang up-beat serius kayak “One Step” dan “Hallelujah”, yang medium semisal “moonlight” dan “Tengoku ni Ichiban Tooi Basho”, juga yang ballad macem “Aoi Tsuki to Ambivalence na Ai”, “EVERGREEN” dan “Destiny”, masing2 diaransemen cukup pas sesuai kebutuhannya (beat-nya ada yg digital ada juga yang pake drum, nggak jarang ada string section juga). Yang cukup menarik adalah vokal YUKA pun lumayan bunglon menyesuaikan nuansa masing2 lagunya, ketika di bagian ballad doski pun berusaha mengeluarkan suara “asli” ketimbang suara “santai” yang terdapat pada lagu2 lain, sehingga lolos dari kesan annoying, hehehe. Ditambah lagi pronounciation YUKA pada kata2 berbahasa Inggris sangat bagus untuk ukuran orang Jepang *ngenyek*. Nice.

Dari 15 track yang ada, track favorit gw selain “Sunshine Girl” yg udah gw sebut berjuta kali itu, adalah “moonlight”, “Aoi Tsuki to Ambivalence na Ai”, dan “On the right” yg mengingatkan gw sama "Lovefool"-nya The Cardigans. Kesan kesuluruhan gw terhadap album 15 Doors milik moumoon ini adalah: menyegarkan. Setiap lagu tidak terasa salah secara penulisan dan struktur *heh, apa?*, mudah untuk larut dalam soundnya yang memang memikat. Akan tetapi, bila gw mendengarkan dari awal sampe akhir, buat gw album ini terasa lebih lama dari durasi sebenarnya. Ini sensasi yang cukup aneh, padahal aransemennya apik dan lagu2nya enak, dibilang boring pun nggak juga. Namun ya itu, sulit untuk memberi nilai yang all-positive ketika setiap kali gw denger lagi selalu berasa nggak-kelar2. Mungkin karena lagu2nya sebenarnya sederhana dan nggak ribet, tetapi terkesan dipanjang2kan, ada 13 lagu pula, jadi gw merasa demikian, entahlah, tapi ya gitu deh *apaseh*.

Jadi kesimpulannya, moumoon lewat 15 Doors berhasil memikat gw dengan musiknya yang nyaman dan manis di kuping, kayaknya enak kalo didenger di perjalanan siang2. Ya, album ini sepertinya lebih enak kalo tidak didengar terlalu seksama, sayangnya. Tapi, tetep, this is a fine album kok, not bad at all.



My score: 7/10


moumoon


Previews courtesy of YouTube

15 Doors



Sunshine Girl



moonlight



Aoi Tsuki to Ambivalence na Ai



YAY



EVERGREEN



On the right

Minggu, 24 April 2011

[Movie] The Informant! (2009)


The Informant!
(2009 – Warner Bros.)

Directed by Steven Soderbergh
Screenplay by Scott Z. Burns
Based on the book by Kurt Eichenwald
Produced by Gregory Jacobs, Jennifer Fox, Michael Jaffe, Howard Braunstein, Kurt Eichenwald
Cast: Matt Damon, Scott Bakula, Joel McHale, Melanie Lynskey


Nggak lama berselang setelah nonton Invictus, gw nonton satu film yg juga dibintangi Matt Damon, The Informant!. Selain sama2 dirilis tahun 2009, dan sama2 berawalan “in” *eh kok kayak deja vu ya...hmmm*, kedua film juga berdasarkan kisah nyata bersetting 1990-an. Bedanya, The Informant! mengambil tempat dunia korporat besar di Amerika Serikat, dan Damon adalah pemeran utamanya, dan dia gendut. Seperti judulnya, bercerita tentang Mark Whitacre (Matt Damon), salah satu eksekutif perusahaan biokimia penghasil bahan sintesis untuk makanan, Archer Daniels Midland (ADM) yang kemudian menjadi mata-mata FBI untuk kasus price-fixing bahan protein sintetis yg disebut lisin di perusahaan tempat dia bernaung itu. Apa itu lisin? Well, it doesn’t really matter (gw nyari di wiki juga nggak ngerti, hehe), karena yg jadi perhatian, saking nggak banyak yang tau tentang lisin yang konon banyak “menghuni” makanan dan minuman olahan pabrik itu, perusahaan2 yang memproduksinya yang seharusnya saling bersaing ternyata malah udah “janjian” soal harga jual lisin ke klien masing2, sehingga mereka akan terus dan terus mendapat keuntungan yang besar karena klien2 nggak punya banyak pilihan. Inget dulu kasus di kita harga SMS di semua provider nggak lebih murah dari Rp 200 sampe Rp 500 sebelum akhirnya dibongkar aparat bahwa ternyata mereka ada perjanjian penetapan harga? Yah, kira2 seperti itu.

Mark Whitacre melaporkan adanya praktek price-fixing ini kepada agen FBI, Brian Shepard (Scott Bakula, yaoloh apa kabar Quantum Leap =D) dan Bob Herndon (Joel McHale) ketika FBI sedang menyelidiki adanya laporan pemerasan terhadap ADM dari Ajinomoto Jepang (juga memproduksi lisin). Karena butuh bukti, maka FBI memutuskan “memakai” Mark sebagai informan, lengkap dengan merekam setiap pembicaraan telepon dan rapat2 yang diikutinya sampai ada bukti yang kuat untuk menuntut petinggi ADM. Ini tentu menjadi tekanan tersendiri bagi Mark, yang hanya orang kantoran alih2 agen terlatih, yang harus tetap menjalankan aktivitasnya sekaligus mencari celah agar memperoleh bukti2 yang dibutuhkan FBI. Ketika penggerebekan ADM akhrinya terlaksana, dan ketahuan bahwa Mark adalah si pengadu, pihak ADM tentu gerah...apalagi ditemukan sesuatu yang justru akan memberatkan Mark kemudian.

Meski sebenarnya ceritanya agak serius, rupanya penulis naskah Scott Z. Burns menemukan hal2 lucu-lucu nan pahit dari kisah sepak terjang Mark Whitacre yang nantinya malah dipenjara lebih lama daripada bos2 ADM-nya itu. Dengan pendekatan komedi yg kering—bahkan sejak awal di tulisan “meski film ini berdasarkan kisah nyata dst” ^_^—Burns juga menggunakan Mark Whitacre sebagai narator (sort of) dengan kalimat2 yang menggelitik. Pendekatan ini pun disambut baik oleh sutradara Steven Soderbergh, mulai dari pergantian adegan yg lincah, gambar2 cerah (dan keren), penggunaan musik ceria kayak iklan2, bahkan mengkasting banyak sekali stand-up comedian menjadi pemeran2 pendukung (as per wikipedia), selain juga menampilkan momen2 yang bikin alis naik dan ketawa belakangan. Ya film ini jadi biografi yang komedi, terutama menyaksikan ke-o’on-an Mark dalam menjalani misinya sebagai informan FBI. Norak banget dia pas dipakein perekam suara dia ngomong sendiri untuk deskripsi tentang keadaan kantornya atau orang2 yang ditemuinya saat rapat, atau pura2 ke WC untuk ganti side kaset perekamnya XD. Meski pada paruh kedua, ke”polosan” Mark mulai terbongkar dan bergeser jadi keheranan dan mungkin kesebalan bagi penonton, tetapi nuansa “lucu” itu tidak semerta berubah begitu saja, justru ritme film ini cukup terjaga hingga akhir. Itu adegan Mark harus ngomong di pengadilan geli banget deh gelagatnya =D.

Selain pendekatan yang agak berbeda (mungkin yang agak mirip, seinget gw, adalah Catch Me If You Can, kisah nyata yang dibikin komedi), film ini nggak berfokus pada persoalan2 yang kelewat berat seperti konspirasi kapitalisme dan sebagainya, tetapi lebih kepada sepak terjang Mark Whitacre dan efek dari apa yg dia perbuat terhadap perusahaannya sendiri yang telah memberinya karir yang menjanjikan. Matt Damon pun tampak effortless dalam sosok Whitacre, yang sebenarnya cerdas, namun lama2 harus “melatih” ke-pura-puraannya dalam menjalankan misi, hingga ia akhirnya terjebak dalam kepura-puraannnya sendiri...atau jangan2 udah dari awal? Who knows. Meski sedikit dijelaskan di beberapa bagian, terutama di akhir, bagi gw sebenarnya kurang jelas dan pasti apa motivasi Mark Whitacre menjadi “whitsleblower” kejahatan perusahaannya, dan Damon bagus sekali menampilkan keragu-raguan dan kesambil-laluan Mark setiap menjawab ketika ditanya “kenapa?” yang memperkuat kesan ketidakpastian itu.

Overall, The Informant! mungkin tidak bakal menarik perhatian banyak orang mengingat cerita kasusnya yang tidak “menarik”, filmnya juga banyak ngobrolnya (gw juga merasa agak jenuh di tengah2), serta kayaknya nggak banyak yang terlalu suka juga dengan cara film ini menampilkan kelucuan situasional yang witty itu, namun film ini tetap layak tonton. Buat gw film ini sesungguhnya menarik, agak menambah pengetahuan, juga menambah daftar film yang menampilkan performa bagus dari Matt Damon dan bukan pula karya mengecewakan dari Steven Soderbergh. Nggak rugi lah kalo ditonton.




My score: 7/10

Sabtu, 23 April 2011

[Movie] Invictus (2009)


Invictus
(2009 – Warner Bros.)

Directed by Clint Eastwood
Screenplay by Anthony Peckham
Based on the book "Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game that Made a Nation" by John Carlin
Produced by Lori McCreary, Robert Lorenz, Mace Neufeld, Clint Eastwood
Cast: Morgan Freeman, Matt Damon, Tony Kgoroge, Adjoa Andoh


Dalam rangka menambah wawasan sinema gw *prett*, gw akhir2 ini lagi mengusahakan lebih sering nonton film2 yg terlewatkan oleh gw ketika film2 itu lagi hit2nya. Entah karena kebetulan atau sebenarnya gw adalah penggemar di alam bawah sadar, gw menonton dua film yg dilakoni Matt Damon secara berdekatan, dua film tersebut pun ternyata diterbitkan sama2 tahun 2009, sama2 mendapat tanggapan positif secara umum, dan sama2 berawalan “in” (uh-huh), yaitu The Informant! (review terpisah) dan Invictus ini. Invictus mungkin lebih high profile karena menceritakan tentang tokoh besar dunia, pejuang anti diskriminasi dan juga mantan presiden berkulit hitam pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela. Namun bukan berupa biografi biasa, Invictus mengambil sepenggal kisah sepak terjang Nelson Mandela di awal pemerintahannya sebagai presiden Afrika Selatan yang ternyata berbicara banyak tentang tokoh ini.

Pasca dilantik sebagai presiden di Afrika Selatan, negara yg selama ini mempraktekkan apartheid, yaitu diskriminasi antara ras Eropa (yg menguasai pemerintahan) dan ras pribumi Afrika, Nelson Mandela (Morgan Freeman) merasa terpanggil untuk menyatukan 2 kubu yang selama ini hidup terpisah dan dipisahkan secara politik maupun sosial itu. Mandela mengawalinya dari kantor kepresidenannya, meski menimbulkan keheranan dan keseganan beberapa pihak, ia tidak serta merta “mengusir” staf berkulit putih, ia juga menggabungkan paspampres dari presiden lama yg berkulit putih, dengan staf keamanan bawaannya yg berkulit hitam. Namun ia pun terpanggil untuk lebih jauh lagi untuk menyatukan bangsanya yang menurutnya masih belum memiliki rasa kesatuan. Mandela lalu mengarahkan pandangannya pada tim rugby nasional Afrika Selatan, yang dijuluki Springbok—yang hanya punya 1 anggota tim yang berkulit hitam, yang belum punya prestasi yang membanggakan. Lewat pertemuan empat mata dengan kapten timnas, François Pineaar (Matt Damon), Mandela mendukung penuh dan secara tak langsung meminta agar Springbok untuk sebisa mungkin meraih Piala Dunia rugby, apalagi kali itu (1995) Afrika Selatan menjadi tuan rumahnya. Tak hanya itu, Mandela meminta Springbok untuk meng-humas-kan timnas rubgy dan permainan rugby itu sendiri—yang hanya digemari kaum kulit putih—kepada rakyat yang berkulit hitam. Apakah ini cara yang tepat untuk mempersatukan seluruh rakyat Afrika Selatan?

Bisa dibilang Invictus ini film dengan genre dual-layer (hehehe, emangnye keping DVD), ia adalah genre biografi—yang bukan tokoh olahraga—sekaligus genre olahraga. Sinergi dua jenis ini diramu dengan apik lewat naskah dan penyutradaraan yang lancar dan tepat sasaran (walau belum istimewa banget2 sih). Gambaran bagaimana keadaan Afrika Selatan, terutama pada masyarakatnya setelah Nelson Mandela jadi presiden (masih ada sisa2 sentimen apartheid, yang ras kulit putih masih enggan dengan pemerintahan dipimpin orang berkulit hitam—terlihat dari ortu nya François tiap nonton TV, yang ras kulit hitam juga sinis dan anti dengan segala yang berhubungan dengan simbol kekuasaan ras kulit putih—termasuk tim Springbok...bahkan kedua kubu punya bendera dan lagu kebangsaan masing2), reaksi rakyat Afrika Selatan dengan kepemimpinan presiden barunya, serta seperti apa sosok Mandela itu sendiri sehingga menjadi tokoh yg dikagumi banyak orang, baik dalam menjalankan pemerintahan maupun secara personal. Selain itu, film ini juga menceritakan pergumulan François sebagai kaptem timnas yang harus tegar mengemban harapan sang presiden sekaligus menghadapi tekanan pesimistis media massa, masyarakat bahkan anggota timnya sendiri. Semuanya itu ternyata bisa dirangkum rapi hanya lewat sebuah momentum Piala Dunia rugby 1995. Nilai plusnya lagi, dengan penggabungan dua genre itu, film ini jadi punya “klimaks” yang lebih berasa daripada film2 biografi biasa, sehingga sembari menyajikan pengetahuan dan insipirasi lewat dramatisasi tokoh dan sejarah, film ini juga jatuhnya cukup menghibur, at least buat gw.

Menyertai cerita yg oke, opa Clint Eastwood dengan baik hati menampilkan adegan2 yang membumi dan believable dalam gambar2 segar dipandang. Namun lebih daripada itu, kunci dari sebuah film biografi adalah tokoh utamanya, dan oh my lord, Morgan Freeman sempurna menjiwai diri Nelson Mandela yang berwibawa dan know-what-he's-doing, tapi bersahaja dan kadang jenaka itu—dan yup, penonton akan melihat dia pake baju batik =). Gw pernah beberapa kali liat pak Mandela di televisi, namun melihat opa Morgan (tolong “opa”nya jangan dihilangkan, bisa salah persepsi, apalagi bagi adik2 remaja =P) gw hampir percaya bahwa dialah Mandela. Tak hanya dari kelihaian public speaking serta karismanya, tapi juga sisi kemanusiaannya digali sangat baik, great preformance indeed. Aktor lainnya yang kebanyakan aseli Afrika Selatan pun bermain baik, juga untuk Matt Damon yang semakin ke sini semakin biasa bermain bagus, tidak over-acting namun tetap bisa memberi “isi” bagi tokohnya yang sebenarnya tidak banyak bicara itu.

In short, gw suka Invictus ini. Gambaran tentang Nelson Mandela mungkin tidak menyeluruh tetapi cukup vital, apalagi tentang gaya kepemimpinannya. Pun ide yg disampaikan bahwa “cuman” pertandingan olahraga bisa mempersatukan bangsa, yang bagaikan harapan berlebihan, it actually kinda work, don’t you think? Inspiratif dan enak ditonton, itulah Invictus ini. Tolong pinjamkan film ini sama bapak2 dan ibu2 di pemerintahan kita itu *ciee sok kritis ni ye*.



My score 7,5/10

Rabu, 13 April 2011

[Movie] ? a.k.a. Tanda Tanya (2011)


?
a.k.a. Tanda Tanya
(2011 – Mahaka Pictures/Dapur Film)

Directed by Hanung Bramantyo
Written by Titien Wattimena
Produced by Celerina Judisari, Hanung Bramantyo
Cast: Revalina S. Temat, Reza Rahadian, Agus Kuncoro, Hengky Solaiman, Endhita, Rio Dewanto, Edmay Solaiman, David Chalik, Glenn Fredly, Dedy Soetomo


Jika dibandingkan dengan karya Hanung Bramantyo sebelumnya, Sang Pencerah yg sukses itu, “?” terlihat seperti film yang lebih “kecil”, dengan desain produksi yg tidak terlalu mewah atau rumit, juga penggunaan kamera digital yg—maaf—di benak gw adalah pertanda film “murah” *ampun bang*. Namun, rupanya “?” mengusung bukan hal murahan, justru malah perihal sensitif yg dimiliki dan dialami semua orang, setidaknya di negeri kita. Bagaikan membuat film Crash ala Indonesia, Hanung kali ini membuat kisah saling silang manusia2 yang hidup berdampingan juga bersinggungan dalam perbedaan agama, ras, budaya dst. Setau gw sih film Indonesia jarang yang mengangkat konten seperti ini, apalagi yg tidak bias *sok tau ah*, dan rupanya Hanung Bramantyo lah yang berani melakukannya lewat film yang konon karena bingung kasih judul apa jadinya dibubuhkan lambang "?" (atau dibaca "tanda tanya") saja.

Di satu wilayah di Semarang (kata tulisan keterangannya), beberapa karakter berbeda latar belakang dibuat saling berhubungan, tapi sebenarnya mereka punya cerita masing2, bisa dibilang ada 3 macam cerita yg difokuskan dalam jangka waktu 1 tahun dan ditandai pada sekitar perayaan Paskah, Ramadhan, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Tokoh yg punya “akses” ke semua bagian cerita adalah Menuk (Revalina S. Temat). Muslimah berjilbab tapi bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan Canton Chinese Food. Menuk menjadi tulang punggung keluarga mengingat sang suami, Soleh (Reza Rahadian) belum punya penghasilan—membuatnya jadi labil karena merasa kehilangan kebanggaan sebagai seorang “laki-laki”. Rumah makan tempat Menuk bekerja adalah milik Tan Kat Sun (Hengky Solaiman)—well, sebenarnya hanya di refer sebagai “engkoh” sepanjang film ini—yang tengah dalam pengobatan atas penyakitnya (entah apa), harusnya sih usaha keluarga ini diteruskan oleh sang putra, Ping Hen alias Hendra (Rio Dewanto, akhirnya dia main di sesuatu yang tidak berlatar Bali atau Jogja =P) tapi selama ini kerjanya main di luar rumah terus tanpa bilang2 atau pamit2. Teman baik Menuk, Rika (Endhita) adalah janda beranak satu yang baru pindah keyakinan ke Katolik—tapi membiarkan anaknya yang kecil tetap mempraktekan Islam. Belakangan Rika semakin akrab dengan Surya (Agus Kuncoro), seorang aktor kecil2an, seorang Muslim, yang mendapat kesempatan main peran utama berkat kedekatannya dengan Rika, yaitu jadi Yesus di drama Paskah.

Jika dilihat sekilas, film "?" seakan siap menjadi sebuah sajian berani nan provokatif, apalagi berkaitan dengan perbedaan (kelompok) agama yang merupakan hal paling sensitif di bangsa kita. Namun pada hasilnya, film ini nggak sampe segitunya. Memang sih filmnya nggak seperti bacaan pelajaran PMP/PPKN/PKN/Kewarganegaraan yang kerap menggambarkan ah, betapa indahnya yg berbeda2 latar berlakang hidup berdampingan dengan rukun dan damai dan tenteram dan tenggang rasa dan lapang dada dan tepa salira dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara *neguk air minum sebentar*, soalnya kehidupan nyata tidak selalu demikian...Tetapi film ini juga ternyata sedikit segan dalam menyentuh isu keagamaan yg dikedepankan dalam promo2nya, poin itu hanya sebagian dari pelbagai hal yang disajikan dalam film ini. Menuk dan Soleh kerap berselisih pendapat karena ego khas laki-laki dari Soleh, selain karena ekonomi mereka yg masih agak jauh dari sejahtera. Lalu ada semacam asmara platonik tumbuh antara Rika dan Surya, serta krisis komunikasi orang tua-anak lewat masalah keluarga Tan. Jadi sebenarnya ini lebih kepada tentang manusia2nya, bukan soal perbedaan itu sendiri, toh manusia yg satu dengan yg lain memang sudah berbeda meski tanpa label agama atau budaya, kan?

Dengan porsi tiap karakter yang seimbang, gw cukup menikmati alir film “?” ini. Keterkaitan para tokohnya cukup wajar. In fact, gw respek bahwa film ini berusaha ditampilkan sewajar mungkin, mulai dari kegiatan2 sampai konflik2 yg dihadirkan, sehingga (menurut gw) lebih mudah terhubung dengan penontonnya. Masih ada sih sisa2 melodrama, dialog “kalbu” yg bikin gw mikir “masak sih ada orang yg ngomong kayak gitu?”, ataupun akting yg teatrikal (which was not really a bad thing actually), tapi semua masih dalam tahap bisa dimaklumi demi tersalurkan apa yg ingin disampaikan pembuat filmnya—makanya gw bilang “cukup” wajar =D. Pun tidak ada tokoh yang terlalu lurus dan sempurna di sini (mungkin kecuali tokoh ustadz yg diperankan David Chalik). Kerendahdirian Soleh karena belum bisa diandalkan, keprasahan Menuk atas tempramen suaminya, keprihatinan suami istri Tan akan masa depan putranya, beban yg belum siap ditanggung Hendra untuk meneruskan usaha keluarga, kekhawatiran Rika bukan hanya pada keyakinan dan komunitas barunya, tapi juga terhadap reaksi anak, orang tua serta mantan suaminya soal dia yg pindah keyakinan, serta keraguan Surya atas kesempatan untuk mengembangakan diri namun bersinggungan dengan apa yg dianutnya, bagi gw ini perkara yg tidak kecil namun wajar dan dapat dialami siapapun, dan untungnya semua dirajut cukup enak dalam film ini...emm, kecuali pada bagian penyerangan rumah makan milik Koh Tan yg menurut gw kurang kuat disampaikan sebab musababnya, ngerti sih tapi yaa...terlalu tiba2 mnurut gw. Bagian klimaksnya pun bagi gw masih kuno ekseskusinya, I could think of a better idea to execute that scene: harusnya nggak usah lari dan teriak2 *alah ngomong doang =P*.

Di luar itu, keseriusan Hanung dkk membuat film ini watchable dan tidak ofensif sangat pantas dihargai. Sebagaimana gw bilang di awal, film ini nggak semewah Sang Pencerah atau Ayat-Ayat Cinta, namun kesederhanaan itu tetap terlihat nyaman dan cakep, apalagi berkat sorotan kamera Yadi Sugandi yg sekali lagi membuktikan kamera digital bukan alasan untuk gagal menangkap gambar yang menimbulkan efek sinematik. Para aktor pun berperan lumayan lah, nggak bagus2 amat sih tapi cukup sesuai—lagi2 menurut gw yg mainnya paling bagus adalah yg perannya dikit banget: Dedy Soetomo sebagai Pastor. Kredit khusus kepada Agus Kuncoro yg menunjukkan keseriusannya (atau mungkin keseriusan tokohnya) dalam memerankan Yesus dengan meniru persis pose patung Yesus disalib—oh, and I really like the Santa Claus explanation =D. Di sisi lain, kredit tidak khusus harus gw berikan pada Reza Rahadian yg kok kayak sama aja sih gayanya kayak di film2 sebelumnya, hmmm...

Mengenai “tuduhan” bahwa film ini mencoba menyerukan kembali pentingnya toleransi dan kerukunan hidup orang2 yg berbeda latar belakang (bukan agama saja), memang benar, dan sepanjang pengetahuan gw yang seorang warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan Sumpah Pemuda dan akal sehat, nggak ada yg salah dengan itu. Namun tanpa terlalu menggurui, “?” mencoba menyampaikan pesan itu lewat bahasa yg lebih mudah dimengerti kebanyakan orang daripada propaganda dalam tulisan, yaitu “pengalaman” orang lain. Bagian antiklimaks alias endingnya memang jadi too good to be true, namun keseluruhan film ini sudah cukup memuaskan gw baik dari segi cerita yg separuh jalan mendekati realistis maupun segi tampilan yang sama sekali tidak asal2an. "?" nggak se-provokatif seperti yang di"curigai" orang2, tapi ini film kita, tentang kita, yang pantas dan baik ditonton. Eh, ada lagu2 Sheila On 7 lho =).



My score: 7,5/10

Minggu, 03 April 2011

[Movie] The Company Men (2010)


The Company Men
(2010 - The Weinstein Company)

Written and Directed by John Wells
Produced by John Wells, Claire Rudnick Polstein, Paula Weinstein
Cast: Ben Affleck, Chris Cooper, Tommy Lee Jones, Kevin Costner, Maria Bello, Craig T. Nelson, Rosemarie DeWitt


Efek dari terjadinya krisis ekonomi Amerika sejak akhir 2008 rupanya jadi inspirasi banyak pihak untuk membuat berbagai karya sinema yg berkaitan, entah itu dokumenter ataupun fiksi. The Company Men menjadi salah satu film cerita yang bertema demikian, kali ini berfokus pada isu PHK kepada pegawai2 yg jabatannya terbilang tinggi. Ya, krisis keuangan yang menyebabkan pasar saham terjun bebas *sok tau banget gw* tak jarang memaksa perusahaan2 bahkan yg sudah besar dan mapan untuk merumahkan sebagian pegawai demi menjaga kelangsungan perusahaan, sampai2 yg sudah menjabat manajer ke atas pun terkena imbasnya. The Company Men sendiri mencoba mengisahkan reaksi dan dampak dari PHK gila2an itu terhadap beberapa orangmengingatkan gw sama Up In The Air, tapi ini berfokus pada yg terPHK. Jadi ceritanya ada perusahaan perkapalan besar (fiktif) bernama GTX yg harus ikut mengalami krisis, dan dari sana penonton diajak mengikuti dan mengamati "perjuangan" Bobby Walker (Ben Affleck), Phil Woodward (Chris Cooper) dan Gene McClary (Tommy Lee Jones), dalam menghadapi perubahan besar dalam hidup mereka tersebut, dan cara mereka menghadapinya agak berbeda satu dengan yg lainnya.

Bobby mungkin memiliki kehidupan impian seorang "ekseutif muda" yg punya pekerjaan bagus, istri+2 anak yg baik2, tinggal di rumah suburban, mobil Porsche, ikut klub golf, dan sebagainya. Mengubah gaya hidup yg enak itu sama sulitnya dengan mencari pekerjaan baru di tengah resesi, dan itulah yg dialami Bobby yg begitu berat cabut dari keanggotaan klub golf dan menjual rumah dan mobil mewahnya (pas adegan jual mobil, gw mikir "kenapa gak dari awal cuy!" ^.^;) demi bisa survive sampai dia dapat pekerjaan baru. Selain juga kebanggaan seorang kepala keluarga yg seperti hilang lenyapkarena nganggur, Bobby pun hampir frustasi menanti dapet pekerjaan baru karena penolakan demi penolakan yg dia alami, berbulan-bulan lamanya ia harus diingatkan istri (Rosemarie DeWitt) untuk terus sabar dan nanti pasti dapet, sampai akhirnya ia harus "diskon gengsi" dengan menerima tawaran iparnya yg seorang kontraktor rumah, Jack Dolan *wah pasti suka bermain orangnya =P* (Kevin Costner) untuk bantu2 sebuah proyek.

Adapun Phil lebih senior dan jabatannya di atas Bobby, kehidupan pasca PHK tampak sulit diterimanya. Mengingat usianya yg tanggung karena nggak sampe sepuluh tahun lagi pensiun, mendapat pekerjaan baru jadi lebih sulit daripada Bobby yg masih 30-an. Akan tetapi pengalaman yg paling berat seharusnya dialami oleh Gene. Ia vice-president GTX, salah satu pendiri perusahaan ini sejak masih usaha kecil, juga sahabat dari si presdir, James Salinger (Craig T. Nelson)yg merasa gak punya cara lain menyelamatkan perusahaannya selain PHK (tapi malah bangun kantor baru demi pencitraan =.=")serta berselingkuh sama manajer HRD, Sally Wilcox (Maria Bello), nyatanya tidak bisa meloloskannya dari PHK. Namun, justru diperlihatkan bahwa Gene lah yg paling nrimo. Kehidupan "mapan"nya pun tampaknya rela ia lepaskan, toh ia sudah tak bahagia sama sang istri yg tampaknya seorang emak2 sosialita. Bisa jadi ini menjadi momentum baginya untuk mengubah hidup yg diam2 dia inginkan, perceraian dan mengubah gaya hidup pun dijalaninya dengan lancar2 saja, dan mungkin karena itu pula ia berani mengambil langkah yg penuh optimisme sekaligus risiko. Selanjutnya yg perlu kita nantikan adalah ending dari masing2 tokoh kita yg juga tidak sama satu dengan yg lain...well not really =).

The Company Men, merupakan debut penyutradaraan dari John Wells yg biasa jadi produser, digarap cukup bersahaja dan nyaman dalam menyampaikan kisah yg agak "menakutkan" karena bisa terjadi sama siapa saja ini. Meski berisi tentang orang2 yg gelisah, film ini dibawa dengan cukup menyegarkan, tidak terlampau serius banget namun tidak berusaha jadi komedi juga, porsi ketawanya pas lah. Meskipun masih terasa dramatisasinya, terutama dari dialog, namun semua masih dalam batas wajar, cukup efektif dan efisien, dan tidak terasa palsu. Serasa sedang melihat visualisasi curhatan orang2 terPHK yg mudah relate dengan penyimaknya, terutama pada bagian Bobby yg memang porsinya lebih dominan. Singkatnya, secara cerita dan penyampaiannya terbilang cukup enak, dan "nasib" tokoh2nya pun nggak terkesan too good to be true, which is good. Namun gw masih merasakan ganjelan ketika merasa pendalaman tokoh Phil kurang digali (sampai mana frustasinya, dan bahwa dia itu dikenal tukang jilat dan gak disukai orang kantor juga cuman sekadar diomongin doang) sehingga apa yg terjadi pada dia pun kayak nggak penting. Mending gak usah digali sekalian daripada efeknya nanggung kan *lho ini ngomongin apa seh?*.

But anyway, gw lumayan suka dengan pendekatan manusiawi dari film ini, karena memang krisis ekonomi atau apalah itu tidak bisa hanya dipandang dalam skala besar semata, tapi juga lewat orang per orang yg terkena dampaknya. Penampilan kompak dan okeh dari aktor2nya pun memperkuat kelaikan tonton film ini, dari Ben Affleck, lalu Tommy Lee Jones dan Chris Cooper yg tidak mempermalukan status "pemenang Oscar" di nama mereka, dan, yah, termasuk Kevin Costner juga mainnya cukup bagus (padahal dari dulu gak pernah gw membayangkan doi bisa "akting", entah kenapa ^_^;). Ditambah lagi gambar2 cakep nan mulus persembahan sinematografer Roger Deakins (oh gw suka bagian Phil di garasi malem2, among others =)) membuat The Company Men, dengan premis yg sebenarnya "kurang menarik" secara pasar, secara keseluruhan adalah film yg layak dan tidak merugikan untuk ditonton. Tidak terlalu istimewa sih buat gw, tapi bisa jadi pilihan yang baik di tengah-tengah terbatasnya pilihan film yg tayang di bioskop2 kita sekarang ini. Oh btw, satu hal yg gw bisa ambil dari film ini: dana darurat dan pensiun itu penting! Listen to Suze Orman, people =D.



My score: 7/10