Senin, 28 Februari 2011

WINNERS of The 83rd Annual Academy Awards



Para peraih penghargaan film prestisius Academy Awards ke-83 sudah diumumkan, kini saatnya the moment of truth berapa banyak tebakan gw yg benar tahun ini. (O) berarti benar dan (X) berarti salah. And the Oscars went to...



Sabtu, 26 Februari 2011

Tebak-Tebakan Pemenang 83rd Academy Awards

Hampir tiba saatnya ajang penghargaan (salah satu yang) paling bergengsi dan paling populer di dunia. The OSCARS! Sebagai penggemar film, agak gatal rasanya untuk nggak menebak-nebak siapa2 saja yang akan mendapat piala emas berbentuk laki-laki yg sebenarnya nggak botak ini. Meski bukan orang yang kredibel dalam bidang perfilman, toh kebiasaan irasional ini tetap muncul tahun demi tahun, walaupun tidak semua unggulannya udah gw tonton--maaf, tolong jangan hina saya, ini sama seperti kebiasaan kalian penggemar sepakbola yang demen banget meramal hasil Piala Dunia bahkan jauh sebelum eventnya dimulai, atau kebiasaan penggemar fashion meramal trend tahun berikutnya di pertengahan tahun berjalan. Tidak ada alasan spesifik kenapa gw melakukan ini, bukan juga karena "oh gw penggemar film jadi musti prediksi pemenang Oscar, kalo nggak gitu bukan moviegoers namanya" *aduh kayak twit sindirannya siapa ya tuh? =P*, it's just plain fun.

Seperti tahun2 sebelumnya, cukup banyak film yang masuk nominasi tahun ini yg belum gw saksikan, apalagi film2 nomine itu yang HARUSNYA tayang di bioskop kita TIDAK JADI TAYANG gara2 masalah DUIT BELAKA sehingga pihak2 yang berwenang berantem sendiri TANPA MEMIKIRKAN KEPENTINGAN KONSUMEN! *geplak* *sabar pak* *tarik napas*. Jadi gw hanya bisa mengandalkan perasaan dan kesotoyan belaka. Di bawah ini gw menebak (bukan prediksi) pemenang dari setiap kategori, yang dasarnya percampuran antara penilaian/perbandingan dari yang udah gw saksikan (baik film utuh maupun cuplikan2), "rumus"2 yang biasanya bisa menentukan pemenang, penghargaan2 pra-Oscar, pendapat2 orang yang udah beredar, dan yang paling besar porsinya adalah...ngasal =P. Gw juga mencantumkan nama yang kayaknya nggak akan menang tapi gw akan senang kalo ternyata menang dalam "happy surprise". Perlu diingat, gw sering sekali salah tebak, namanya juga tebakan, jadi jangan terlalu dipercaya lah, hehehe.

So, inilah tebakan gw untuk 83rd Academy Awards...





Kamis, 24 Februari 2011

The 1st IMBlog Choice Awards 2011 Champions

DAN AKHIRNYA, telah keluar hasil lengkap pemenang JAWARA dan TERSOHOR dari gelaran penghargaan Indonesian Movie Bloggers Choice Awards atau IMBlog Choice Awards yang pertama. Yeeeeaaaaay!!! \ ^0^ / Pengumuman pemenangnya pertama kali disebarluaskan lewat situs majalah film online flickmagazine.net hari Minggu, 20 Februari 2011 pukul 21:00 WIB...jadi gw agak telat nih postingnya di blog ini hehehe. Tapi gak papa, sebagai bentuk partisipasi gw, harus posting duonks.



Sebagaimana gw sempat singgung di postingan nominasinya, IMBlog Choice Awards adalah gelaran perdana penghargaan online untuk film, baik film Indonesia maupun luar Indonesia, yang diadakan oleh Indonesian Movie Bloggers (IMBlog) Community, sekumpulan penulis blog yang membahas tentang film yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia, termasuk di antaranya ya penulis blog Ajirenji ini =). Dari 40-an blogger yang tergabung dalam IMBlog Community, maka terpilihah nama2 yang mendapat predikat JAWARA sepanjang tahun 2010. Eh, tapi jangan lupa, untuk nominasi yang sama, kami juga menundang para penghuni dunia maya untuk ikutan memilih favoritnya. Dari 200-an suara yang terhitung, terpilihlah pula nama2 yang mendapat predikat TERSOHOR, yang menariknya, banyak yang beda loh sama yang JAWARA =).

Bagaimanapun, saya dan segenap teman2 di IMBlog Community mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak dalam menyukseskan gelaran kami ini. Kami pasti berharap ini tidak akan jadi IMBlog Choice Awards yg terakhir kali, malah kalau bisa lebih berkembang lagi. Doakan kami ya *ala dubbing Benteng Takeshi*. Dan tidak lupa, selamat buat para JAWARA dan TERSOHOR IMBlog Choice Awards yang pertama!!!!

Dan pemenangnya adalaaah....



Minggu, 20 Februari 2011

[Movie] The King's Speech (2010)



The King's Speech
(2010 - The Weinstein Company/UK Film Council)

Directed by Tom Hooper
Screenplay by David Seidler
Produced by Iain Canning, Emile Sherman, Gareth Unwin
Cast: Colin Firth, Geoffrey Rush, Helena Bonham Carter, Guy Pearce, Timothy Spall, Derek Jacobi, Michael Gambon


Setelah The Fighter kemarin, The King's Speech juga gw tonton dengan niatan "apa sih istimewanya" menjelang perhelatan Academy Awards tahun ini. Gimana nggak penasaran, ketika banyak penghargaan pra-Oscar hanya memberi perhatian "seperlunya" pada film ini, eeh ternyata The King's Speech mendapat 12 nominasi di ajang Oscar yang benar2 mencakup semua bidang (film, akting (3 nominasi), sutradara, naskah, editing, suara, sinematografi, artistik, kostum, musik, simply everything o.O). Wah, agak beban nih nontonnya, gimana kalo ternyata ekspektasi gw jadi ketinggian mengetahui reputasi film yg juga memenangkan People's Choice Awards (pilihan penonton) di festival film internasional di Toronto ini (yg 2 tahun sebelumnya dimenangkan film pemenang Oscar juga, Slumdog Millionaire). We'll see about that.

The King's Speech berkisah seputar naik tahtanya Raja George VI di Inggris sekitar awal2 perang dunia II. Ah biasa, sejarah. Tunggu, film ini bercerita tentang Raja George VI yg naik tahta menggantikan kakaknya, Edward VIII yg melepas tahta demi bisa menikah dengan wanita (janda cerai 2 kali) yg dicintainya. Hmm, menarik. Wait, that's not even a bit part of the film. The King's Speech ini berfokus pada masalah yang dimiliki Raja George VI sejak kecil, dia gagap. Film dimulai dengan peristiwa nggak enak kalo nggak mau disebut memalukan, ketika Raja George VI yang masih jadi sang Duke of York bernama Pangeran Albert (Colin Firth), harus membacakan pesan bapaknya sang Raja George V (Michael Gambon) dalam pembukaan sebuah acara...tapi bahkan satu kalimat pun kayak nggak selesai. Parah dah. Setelah berbagai metode gagal membuahkan hasil untuk menyembuhkan kegagapannya, sang istri, Putri Elizabeth (Helena Bonham Carter) berinisiatif membawa Albert ke seorang terapis bicara bernama Lionel Logue (Geoffrey Rush). Maka dimulailah latihan2 Albert dan Lionel untuk mengatasi kegagapan sang Pangeran. Terapinya ternyata bukan mudah, apalagi metode yg digunakan Lionel agak2 nyentrik, namun pemulihan Albert dari kegagapannya itu semakin krusial ketika ia harus naik tahta menjadi Raja George VI, serta harus membuat pernyataan sikap terhadap tantangan Herr Hitler di daratan Eropa.

Secara cerita, The King's Speech sudah serba baik dan benar sebagai sebuah film sejarah yang menarik, buat gw setidaknya. Bukan sejarahnya yang harus akurat, tapi dari sisi mana berceritanya. Film ini berfokus pada satu hal saja: mengatasi kegagapan sang Raja Inggris—yang memang beneran ada dalam sejarah, dia bokapnya Ratu Elizabeth II yg sekarang bertahta. Nah bagusnya, tanpa harus banyak2 tulisan keterangan atau segala visualisasi terlampau detil, gw tetep tau peristiwa2 sejarah yg terjadi di sekitar fokus film ini, tanpa kehilangan fokus mau bercerita soal apa *mengulang kata fokus terlalu sering =P*. Karena fokus itu pula, sisi manusia dari tokoh2nya juga tergali lebih dalam. Penonton bisa dapat melihat lebih dekat tentang keminderan, kekakuan sekaligus tempramen dari Pangeran Albert, yang kemudian harus berhadapan dengan karakter santai dari Lionel. Interaksi mereka menarik untuk disimak, apalagi ketika semakin lama jarak kasta mereka—Lionel adalah kaum biasa asal Australia—semakin menghilang berkat saling pengertian satu dengan yang lain, karena salah satu metode Lionel adalah mengetahui cikal bakal kegagapan yang pasti berhubungan dengan persoalan pribadi, sebuah hal yang tadinya, bahkan mungkin sampe sekarang, dianggap tak lazim terjadi antara kaum darah biru dengan "jelata", but it worked. Lewat akting Colin Firth yang sangat meyakinkan dan Geoffrey Rush yg luwes tanpa beban, belum lagi Helena Bonham Carter sebagai Putri yg nantinya jadi Permaisuri Elizabeth (istrinya, bukan anaknya) yg sangat simpatik dan compassionate, film secara keseluruhan ini berhasil mentransfer sinyal emosi tokoh2 kepada penontonnya dengan baik dan sepantasnya.

Menyenangkan juga pada kenyataan bahwa film ini disampaikan tidak terlalu serius tendensinya, malah banyak adegan2 dan dialog2 pintar-jenaka, selain tentu saja latihan2 "vokal" Albert bareng Lionel yang memang tampak aneh2 tapi menghibur =D. Satu hal yang menggelitik adalah pada gambaran Raja yg berpidato untuk rakyat lewat radio BBC, pidatonya kapan tapi foto "lagi pidato"-nya diambil kapan *ngakak*. Eh, bagian pidato Raja George VI di bagian akhirnya pun (ini bukan spoiler, wong itu judulnya kok) dirangkai dengan cantik, gw ikutan khawatir seperti Permaisuri Elizabeth ketika mendengar debut sang suami berpidato untuk khalayak umum sebagai seorang Raja, "bisa lancar gak ya?" hehehe. Untuk sektor non-ceritanya tertata nyaris sempurna. Mulai dari kostum+riasan+rambut (yup) yang tampak otentik, art direction yang juga cantik (perhatikan lukisan berantakan di dinding ruang terapi Lionel, itu keren deh, perhatikan juga perubahan wallpaper di rumah Lionel). Dengan cerita yang baik dan tampilan yang memikat, mudah saja menilai bahwa The King's Speech memang sebuah karya yang bagus, dari berbagai sisi malah.

Cuma...apakah gw menyukainya sebesar banyak orang lain di luar sana menyukainya, I don't think so. Apa ya...hmm...ada yang mengganjal aja. Penceritaan yang cenderung datar? Nggak juga, penceritaannya termasuk enak sekali diikuti. Well, mungkin ada lah beberapa momen yang gw rasa kepanjangan atau cara penyampaian adegan panjang itu yang nggak membuat gw nyaman. Mungkin juga karena kameranya yang sering pake wide-lense dan steady-cam saat bergerak itu agak kurang sedap dipandang mnurut gw, malah agak kasar. Walau harus diakui secara sudut fotografi bagus2 sekali—kecuali satu hal: gw kurang suka kecenderungan kamera yg selalu menyorot aktornya dengan proporsi terlalu minggir =P, ada perasaan senewen yg timbul dari gambarnya. Bisa jadi kesenewenan itu disengaja untuk mewakili Albert/Raja George VI yang gelisah dan canggung tapi berusaha tetap tenang mengingat status yg mewajibkan citra yg baik dan tenang (mudah2an memang begitu, biar berasa pinter aja gw ^_^;), tapi yah...gitu deh. Gw akui film ini bagus, tapi gw nggak/belum merasa film ini se-sangat-istimewa puja-puji yg gw dengar dari pelbagai pihak. Kenapa gw bilang gitu gw juga bingung jawabnya. Mungkin karena film ini agak2 mirip The Queen beberapa tahun lalu, endingnya pun agak mirip, sehingga terselip perasaan "gitu doang" di hati gw usai menonton The King's Speech. Argumen sebisa gw sekarang adalah bahwa The King's Speech film yang memenuhi segala kriteria "bagus", tapi ya itu saja, memikat tapi kurang menggugah gw secara pikiran dan hati, somehow. But I guess that's just me...




My score: 7,5/10

Sabtu, 19 Februari 2011

53rd GRAMMY AWARDS / 2011



Yak saia telat, hehehe. Padahal blum seminggu perayaannya tapi udah berasa gw basi banget membahas perhelatan anugerah musik Grammy Awards ke-53 ini =). Yasudahlah, sebagaimana dua tahun terakhir gw akan tetap kasih komentar sedikit2 tentang acara penghargaan yang (katanya) paling bergengsi di dunia ini.

Overall pergelaran Grammy kali ini yang konsepnya kurang lebih serupa dengan tahun2 sebelumnya, menurut gw relatif lebih meriah daripada tahun lalu dengan penampil2 yang oke2, bukan karena emang terkenal trus gw bilang oke—jiah gw aja kayaknya cuma tau seiprit dari artis2 yang tampil, cuman penampilan mereka memang memancarkan hasrat dan energi serta menunjukkan kapasitas mereka sebagai artis yang layak tampil di panggung yang ditonton pelaku dan pecinta musik di serluruh dunia *yaaolooh bahasa gw*. Penampilan pembuka dari Christina Aguilera, Martina McBride, Jennifer Hudson, Florence Welch vokalisnya Florence+The Machine, dan Yolanda Adams yang menyanyikan lagu2 dari Ratu Soul, Aretha Franklin, like wow...pada lomba tereak2 dah tuch ^_^;. Tapi gw salut pada konsepnya menyatukan vokalis pop, country, R&B, rock dan gospel bersama-sama, cool.

2 performance lain yang gw pikir keren bueratz adalah marathon B.o.B, Bruno Mars, dan Janelle Monae yang dimulai dengan anggun dan ditutup dengan seru sekali, dan juga marathon artis2 folk Mumford & Sons, The Avett Brothers, dan mereka lalu berbaris rapih dengan instrumen masing2 mengiringi sang legenda folk rock Bob Dylan...itu baru musik! Kolaborasi unik Cee Lo Green dan Gwyneth Paltrow (God she really can sing) dengan boneka2 ala Muppet yang sangat berwarna juga jadi highlight tersendiri, pun penampilan singkat dan simpel Norah Jones, Keith Urban dan John Mayer menyanyikan hit dari legenda country ber....bakat besar, Dolly Parton "Jolene" sangat berkesan buat gw. Keren lah. Selain itu, ada Muse dengan permainan teater+visual di layar pixel yang bagus (seting paling bagus mnurut gw di Grammy kali ini), Lady Gaga dengan lagu baru dan "tanduk" di pundaknya, Eminem+Rihanna+Adam Levine (Maroon 5)+Skylar Grey+Dr. Dre yang emosional dan Lady Antebellum juga oke. Enak juga nonton acaranya kali ini =).

Gw gak bisa komentar banyak soal pemenangnya, paling taunya Lady Gaga sama Bruno Mars di bidang pop. Lady Antebellum pastilah yg paling sumringah malam itu karena menang 5 piala, tak hanya di bidang country, tapi juga 2 penghargaan bergengsi serupa tapi tak sama di Song of The Year dan Record of The Year untuk lagu "Need You Now". Di luar itu, masih di kategori "general" *tak tergantung jenis musik* kejutan terjadi pada Album of The Year yang diperoleh band rock-alternative Kanada, Arcade Fire lewat album The Suburbs (dari penampilan mereka di Grammy ini di akhir acara, 2 lagu, tampaknya saya kurang cocok dengan musik mereka, so far), dan kejutan tapi tidak mengagetkan adalah Best New Artist yg dimenangkan vokalis+bassis jazz Esperanza Spalding, yang unggul atas artis2 lainnya yg relatif lebih populer, terutama si -ehem- Justin Bieber -ehem-. Yasudahlah, biar pada melek bahwa belasan ribu anggota yayasan yg memilih pemenang Grammy tidak silau popularitas dan punya kuping yang tidak terbatas wawasannya, yeah! Dan sebagai pemerhati J-Pop, gw pun harus memberi selamat kepada Tak Matsumoto, yang lebih dikenal sebagai gitaris (like one of the best out there ^o^) dari band pop-rock legendaris Jepang, B'z, yang menang Grammy atas kerjasamanya dengan gitaris kawakan Amerika, Larry Carlton lewat album Take Your Pick, yang memperoleh penghargaan Best Pop Instrumental Album. Omedetou gozaimasu =).


Berikut beberapa pemenangnya:


Album of The Year: The Suburbs / Arcade Fire
Record of The Year: Need You Now / Lady Antebellum
Song of The Year: Need You Now / Lady Antebellum
Best New Artist: Esperanza Spalding

Best Pop Vocal Album: The Fame Monster / Lady Gaga
Best Female Pop Vocal Performance: Bad Romace / Lady Gaga
Best Male Pop Vocal Performance: Just The Way You Are / Bruno Mars
Best Pop Performance By A Duo Or Group With Vocals : Hey, Soul Sister (Live) / Train
Best Pop Collaboration With Vocals: Imagine / Herbie Hancock, Pink, India.Arie, Seal, Konono no. 1, Jeff Beck & Oumou Sangare
Best Traditional Pop Vocal Album: Crazy Love / Michael Bublé
Best Pop Instrumental Performance: Nessun Dorma / Jeff Beck
Best Pop Instrumental Album: Take Your Pick / Larry Carlton & Tak Matsumoto

Best Dance Recording: Only Girl (In The World) / Rihanna
Best Electronic/Dance Album: La Roux / La Roux

Best Rock Album: The Resistance / Muse
Best Rock Song: Angry World / Neil Young
Best Solo Rock Vocal Performance: Helter Skelter / Paul McCartney
Best Rock Performance By A Duo Or Group With Vocals: Tighten Up / The Black Keys
Best Hard Rock Performance: New Fang / Them Crooked Vultures
Best Metal Performance: El Dorado / Iron Maiden

Best Alternative Music Album: Brothers / The Black Keys

Best R&B Album: Wake Up! / John Legend & The Roots
Best R&B Contemporary Album: Raymond V Raymond / Usher
Best R&B Song: Shine / John Legend & The Roots
Best Female R&B Vocal Performance: Bittersweet / Fantasia
Best Male R&B Vocal Performance: There Goes My Baby / Usher
Best R&B Performance By A Duo Or Group With Vocals: Soldier of Love / Sade
Best Traditional R&B Vocal Performance: Hang On In There / John Legend & The Roots
Best Urban/Alternative Performance: Fuck You / Cee Lo Green

Best Rap Album: Recovery / Eminem
Best Rap Song: Empire State of Mind / Jay-Z & Alicia Keys
Best Rap Solo Performance: Not Afraid / Eminem
Best Rap Performance By A Duo Or Group: On To The Next One / Jay-Z & Swizz Beatz
Best Rap/Sung Collaboration: Empire State of Mind / Jay-Z & Alicia Keys

Best Compilation Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media: Crazy Heart / Various Artists
Best Score Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media: Toy Story 3
Best Song Written For Motion Picture, Television Or Other Visual Media: The Weary Kind (From Crazy Heart)

Best Short Form Music Video: Bad Romance / Lady Gaga

complete winners @ grammy.com

Sabtu, 12 Februari 2011

[Movie] The Fighter (2010)


The Fighter
(2010 - The Weinstein Company/Relativity Media/Paramount)

Directed by David O. Russell
Story by Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson
Screenplay by Paul Tamasy, Eric Johnson, Keith Dorrington
Produced by Ryan Kavanaugh, Mark Wahlberg, Paul Tamasy, Todd Lieberman, David Hoberman, Dorothy Aufiero
Cast: Mark Wahlberg, Christian Bale, Amy Adams, Melissa Leo, Mickey O'Keefe, Jack McGee


Sejak baca previewnya di majalah M2, tadinya gw gak ada niat2 tertentu untuk menantikan The Fighter ini, terutama karena film ini berlatar belakang tinju. Gw kurang suka film bertema sports yg biasanya ceritanya basi, kalaupun ada yg tidak basi kayak pemenang Oscar, Million Dollar Baby (soal tinju juga), tetep aja gw kurang suka karena terlalu depresif *lha maunya yang kayak apa dong, plinplan =P*. Ternyata di akhir tahun, tanpa gw sangka2 The Fighter adalah salah satu film kontender ajang2 penghargaan perfilman di USA sana, bahkan terakhir film ini dapet 7 nominasi Academy Awards tahun ini (ditulis gede2 tuh di posternya), termasuk salah satu dari 10 nomine Best Picture. Wah, sebagai penggemar film nan kepo, gw musti cek dong apa istimewanya The Fighter ini, nomine Oscar gitu loh =P.

Secara plot, The Fighter ini biasa sekali. Berdasarkan kisah nyata, The Fighter menceritakan ulang perjuangan petinju Amerika kelas welter era 1980-an, “Irish” Micky Ward yang berangkat dari sekedar petinju miskin minim gelar dari kota kecil berlingkungan keras, sampai memenangkan sabuk juara dunia di kelasnya. Iya, jadi ada adegan tanding di bagian awal dimana dia kalah, trus jadi konflik batin dan konflik sama orang2 sekitar, trus coba bangkit lagi, dan puncaknya menang deh tuh jadi juara dunia. See? Basi kan? Eits, ternyata e ternyata, plot standar itu disumpel sama penceritaan, dialog, akting dan eksekusi yang tidak biasa, setidaknya mnurut gw, in a very good way. Sejak adegan awal, film ini sudah menarik dengan pengambilan gambar yang stabil tapi cepat mengambil sosok Micky (Mark Wahlberg) dari belakang yg lagi ngaspal jalan, trus ada tangan yang meninju-ninju dari balik kamera (badannya belum keliatan) yg ternyata kakak sekaligus pelatih Micky, Dicky Ecklund (Christian Bale). “Eksentrisitas” sinematografi film ini pun berlanjut dan memuncak pada bagian2 pertandingan tinju Micky yg disiarkan di televisi, karena penonton disuguhi kualitas dan pengambilan gambar layaknya sedang nonton di TV, which is efeknya lebih super dramatis dibandingkan film2 sports lain, excitement gw dan rasanya penonton lainnya juga jadi sangat otentik dan maksimal, kayak nonton pertandingan beneran =D. Brilliant!

Selain visual yang menarik dan memang bernuansa 80-an, gw juga merasa tergelitik pada cara berceritanya yang—mnurut gw—lucu. Memang yang paling terlihat mengundang tawa adalah kelakuan si Dicky yang agak songong sok asik—krn dia mantan petinju pro yg pernah 1 kali ngalahin petinju legendaris Sugar Ray Leonard—tapi slengean dan pecandu narkoba yang agak kekanak-kanakan. Namun banyak juga adegan2 dan karakter2 lain yang turut menyumbang kelucuan film ini. Misalnya adegan sebelum dan sesudah nonton bioskop saat kencan pertama Micky dan Charlene (Amy Adams) (Charlene bilang “harus ya gue baca (subtitel) melulu pas nonton” XD), juga sebagian besar adegan yg melibatkan Charlene yang sering clash dengan saudara2 perempuan Micky yg jumlahnya segambreng dan rambutnya pada acak2an itu XD (gw tau itu maksudnya 80’s style, tapi...XD). Bukan berarti ini film komedi, tapi setidaknya itu membuat The Fighter lebih membumi dan gak terlalu melodramatis nan membosankan.

Tapi bukan berarti juga film ini jadi nggak serius, malahan sutradara David O. Russell, berhasil membangun simpati penonton (gw) terhadap film dan karakter2 serta yang terjadi di dalamnya—aneh juga ketika gw melihat keluarga Micky-Dicky yang jauh dari sakinah itu, tapi ketika ada adegan Dicky keluar dari penjara dan dipeluk sama sang putra dan ibunda, Alice (Melissa Leo), tetap kentel banget kasih sayang kekeluargaannya. Lucu, khawatir, tegang, sedih, lega, naik turunnya perjuangan Micky untuk bisa jadi juara beserta peristiwa dan permasalahan di antaranya semua diramu dengan timing yang pas. Adegan ketika Micky disuruh memilih antara Alice, ibunya sebagai manajer dan Dicky sebagai pelatihnya, yang tak lain keluarganya sendiri, dengan pelatih+manajemen baru (yg dibawa oleh sang ayah, George (Jack McGee)) yg membuatnya juara selama Dicky bermasalah dengan hukum, mnurut gw adalah best part film ini, menyayat hati—tapi tetep diselipin lucu2an, nice.

Keistimewaan The Fighter lengkap sudah dengan cast yang bagus2 semua. Mark Wahlberg mainnya apik apalagi melihat dedikasinya melakoni adegan tinju yang sangat meyakinkan selain membawakan karakter Micky yang agak introvert dengan pas sekali. Ada pula pemeran ibu Micky, Alice yaitu Melissa Leo yang keren sekali sebagai ibu superwoman sekaligus manajer Micky yang agak ambisius meski kadang canggung juga melihat efek make-up nya yg kurang tua (malah ada beberapa pemeran putri2nya kelihatan lebih tua dari dia =D). Gw pun suka dengan penampilan Amy Adams yang terlihat rapuh tapi ternyata “sadeis” juga nggak kalah sama Alice. Tapi mungkin Christian Bale sebagai Dicky lah yang paling memancing pujian. Selain bentuk tubuhnya yg kering, pembawaannya yang sering mengundang tawa dan sebal di waktu bersamaan benar2 meyakinkan—dan ketika ada footage Dicky Ecklund yg asli di akhir film, ebuset, mirip aja kelakuannya =D. Namun di luar performa individual, penampilan mereka yang saling mendukung dengan kuat menambah citarasa tinggi film yang di atas kertas seharusnya biasa banget ini.

Jadi ibaratnya mie goreng instan yang sebenarnya caranya udah baku untuk jadi mie goreng, pembuat film ini meramu mie goreng instan dicampur telur dan tepung menjadi perkedel mie ditambah tomat, cabe dan keju *kok jadi resep masakan ya?*. Begitulah gambaran gw tentang The Fighter, yang lebih dari sekedar sports movie yang seru dan menyentuh saja, tetapi juga kuat lewat penceritaan dan akting, serta istimewa lewat gaya visual yang tidak umum—keseruan otentik kayak nonton pertandingan betulan itu perlu di-highlight terang2 deh, sampe2 temen2 nonton gw tepuk tangan ^_^ . I didn’t expect to like this film, but yet I do =). Tonton deh.



My score: 8/10

Selasa, 08 Februari 2011

[Movie] The Green Hornet (2011)


The Green Hornet
(2011 - Columbia)
 
Directed by Michel Gondry
Screenplay by Seth Rogen, Evan Goldberg
Based on the radio series created by George W. Trendle
Produced by Neal H. Moritz
Cast: Seth Rogen, Jay Chou, Cameron Diaz, Christoph Waltz, Tom Wilkinson, Edward James Olmos, David Harbour


Jika diibaratkan jalan kaki sejauh 3 km aja (tak peduli siang atau malam), trus sampe di tujuan langsung minum air dingin aja...beeeuuuuhhh segernya minta ampun, tuh air tawar jadi berasa manis bener—walaupun hanya bertahan di 5 tegukan pertama. Well, kayaknya itu gambaran yang tepat mengenai The Green Hornet ini. Hari itu adalah sehari sebelum hari libur eee tapi kerjaan di kantor seperti sengaja menghalangi gw untuk pulang tepat waktu dengan tenang dan senang...eeee pas mau pulang busnya jarang banget dan macet lagi. Ketika kekesalan semakin naik ke ubun-ubun, gw memutuskan untuk masuk bioskop dan nonton The Green Hornet di jam terakhir (kelar jam setengah 12). Eeeee untunglah film ini bukannya menambah setress, tapi justru menjadi penyegar hari gw itu—masuk kategori air minum, bukan air comberan atau kobokan. *curhat satu paragraf: selesai*

Dalam tradisi Batman atau Iron Man, The Green Hornet adalah identitas yang dipakai seorang pewaris kerajaan media/koran besar di Los Angeles, Britt Reid untuk membasmi kejahatan di kotanya.  Tapi bedanya Britt ini adalah anak muda sosialita yang hobinya bersenang-senang dan...hmm, nggak bisa apa2 sebenarnya. Ketika ayahnya (Tom Wilkinson) disengat lebah kemudian meninggal dunia, Britt pun "terpaksa" harus mengisi posisi ayahnya sebagai pemimpin perusahaan. Boring! Britt malah mengajak bujang ayahnya, Kato (Jay Chou) yang serba bisa—bikin  kopi pake mesin canggih, bikin mobil fungsional kayak tank, bisa bela diri, bisa gambar, bisa main musik, bisa nyanyi, dan bisa...err..nyetir...untuk bersama-sama terjun ke lapangan untuk memerangi kejahatan secara langsung. Mulai dari "mengganggu" sarang2 preman, Britt pun merekayasa agar alter egonya, yang dijuluki The Green Hornet bisa terus masuk headline, yang kemudian "berhasil" menarik perhatian dedengkot kejahatan terorganisir di Los Angeles, Chudnofsky (Christoph Waltz) yang menguasai semua sektor dunia hitam di kota itu. Apakah pahlawan karbitan seperti The Green Hornet/Britt dan Kato sanggup menghadapi dan mengalahkan penjahat betulan seperti Chudnofsky?

Sebagai film yang sepertinya diset sebagai komedi-aksi, The Green Hornet pada akhirnya adalah sebuah tontonan ringan tanpa pretensi apa-apa, namun dihiasi dengan humor dan aksi yang cukup krispi. Malah kayaknya nilai2 kepahlawanan *halah* di sini agak ketutup, karena filmnya ya komedi. Tokoh Britt sendiri meski udah berubah wujud jadi "pahlawan bertopeng" tetep aja nggak bisa apa2 selain senang dengan exposure The Green Hornet yang dilakukannya sendiri, ia jadi terlihat bodoh saja jika dibandingkan Kato yang lebih banyak bertindak tepat dan dapat diandalkan...but hey, it's a comedy so that's suppose to be funny. Jika demikian, maka Seth Rogen bisa dibilang berhasil dengan pembawaan sok2an campur kekanakan hingga menjengkelkan dalam memerankan Britt/The Green Hornet, karena memang dibikinnya begitu. Kebalikan dengan Kato yang lebih kalem dan lebih "heroik"—tapi tetap ada sisi humornya, yang untungnya dibawakan dengan tidak memalukan oleh bintang pop Taiwan, Jay Chou. Meski sebenarnya nggak 100% klop, tapi di mata gw parpaduan Rogen sebagai Britt dan Chou sebagai Kato tidaklah gagal, interaksi mereka cukup seger kok.

Namun ada kalanya juga gw merasa beberapa bagian ditampilkan tanpa tujuan jelas atau dipanjang-panjangkan, yang berimbas pada durasi, seperti adegan berantem Britt dan Kato memakai barang apapun yang ada di rumah sebagai senjata (berasa film Hong Kong lawas gak sih ^_^;) yang terus terang kelamaan. Pun karakterisasi tokoh wanita yang diperankan Cameron Diaz dan bahkan juga si penjahat yang diperankan Christoph Waltz tidak istimewa kalau nggak mau dibilang tidak penting. Meski naskahnya udah dicoba dengan sedikit beda, yaitu The Green Hornet dicitrakan seperti penjahat sehingga lebih mudah mencari dedengkot penjahat kota, tetap saja sesungguhnya secara cerita The Green Hornet ini gak nendang-nendang amat. Tapi di luar itu, film ini buat gw fine2 saja. Sutradara Michel Gondry pun sempet2nya memasukkan sentuhan visual khasnya yang nyentrik yang biasa dia gunakan di video2 musik atau film2 karyanya sebelumnya (Eternal Sunshine of The Spotless Mind, Be Kind Rewind) ke dalam film yang terbilang mainstream ini. Gw inget betul kerennya adegan Kato memberantas preman untuk pertama kalinya yang dibuat dengan efek slow motion dan mobil yang tiba2 jadi berlapis-lapis, atau satu frame pecah jadi belasan bahkan puluhan frame yang (terkesan) one-take-shot, dan yang paling keliatan adalah adegan Britt yang mencoba menganalisa cara dan motivasi penjahatnya dengan visual abstrak, which were all really cool.

So dengan timing yang tepat, The Green Hornet menjelma menjadi tontonan yang menyegarkan dan mengundang tawa gw yang lagi agak suntuk sewaktu nonton, lumayan kocak. Nggak benar2 istimewa, tapi cukup menghibur...meski rasanya belum tentu nilai hiburannya tetap stabil kalau ditonton lagi, kayak analogi air dingin di atas tadi *sok nyambung2in*.




My score: 6,5/10

Kamis, 03 Februari 2011

[Movie] The Way Back (2010)


The Way Back
(2010 - Exclusive Films)

Directed by Peter Weir
Screenplay by Keith R. Clarke, Peter Weir
Based on the book "The Long Walk: The True Story of a Trek to Freedom" by Slavomir Rawicz
Produced by Peter Weir, Duncan Henderson, Joni Levin, Nigel Sinclair
Cast: Jim Sturgess, Ed Harris, Colin Farrell, Saoirse Ronan, Dragos Bucur, Gustaf Skarsgård, Alexandru Potocean, Mark Strong, Sebastian Urzendowsky


Alasan gw mau nonton The Way Back adalah dari bintang2nya yg relatif gw kenal, ada Jim Sturgess, Ed Harris, Colin Farrell sampe si mata permata Saoirse Ronan, juga nama sutradaranya, Peter Weir yang bukan orang sembarang mengingat resumenya The Truman Show (ada Ed Harris juga) dan Master and Commander: The Far Side of The World. The Way Back sendiri terinspirasi dari sebuah buku karya  Slavomir Rawicz tentang—konon—kisah nyata dirinya yang kabur dari kamp tahanan komunis di Siberia jalan kaki menuju India—eh tapi konon keabsahan dan kebenaran kisah ini juga diragukan lho. So, dari premis dan judulnya saja, kita bisa tebak bahwa film ini akan menghabiskan sebagian besar ceritanya di perjalanan, untung nggak sepanjang dan seribet The Lord of The Rings pastinya, hehe.

Dari plot tidak banyak yang bisa diceritakan, simpel saja sebenernya. Berseting di masa Perang Dunia II, The Way Back mengisahkan Janusz (Jim Sturgess), seorang Polandia yang dikirim ke kamp tahanan (gulag) di Siberia karena dituduh membangkang dari partai komunis selain dirinya adalah mata2, padahal itu tuduhan palsu. Di gulag, Janusz pelan2 termotivasi untuk melarikan diri. Niat itu disambut baik oleh Khabarov (Mark Strong) yang membantunya membuat perencanaan dan persiapan. Ketika salju masih turun lebat, akhirnya Janusz benar2 kabur bersama 7 rekannya, termasuk si kriminal Rusia, Valka (Colin Farrell) dan orang Amerika, Mister Smith (Ed Harris)—eh si Khabarov malah ciut dan urung ikut. Dimulailah perjalanan mereka sepanjang ribuan kilometer melalui ganasnya hutan belantara dan kekurangan pangan. Tujuan mereka adalah melewati perbatasan Rusia menuju Mongolia, namun ternyata di sana juga sudah dikuasai gerakan komunis, sehingga terpaksa perjalanan mereka perpanjang, ke Tibet, lalu ke India, namun itupun harus melewati gurun yang tak kunjung berakhir.

Sebelum kisah dimulai, sudah ada tulisan bahwa film ini didedikasikan bagi 3 orang (pria) yang kabur dari gulag dan menuju tanah kebebasan di India (yang bukan kekuasaan komunis) dengan selamat. Jadi satu2nya hal yang bisa dinantikan selama 2 jam film ini bergulir selain “kapan sampenya” adalah “siapa aja yang bakal mati” ^_^;, karena, jujur saja, memang tidak ada hal penting lain yang bakal terjadi selain itu. Celakanya, ini justru berpotensi menuangkan rasa bosan karena ceritanya cukup datar tanpa gejolak yang berarti. Mnurut gw sih pilihan Peter Weir untuk tidak memakai cara overdramatic dalam perjalanan Janusz dkk ini adalah pilihan yang nggak salah juga. Adegan demi adegan ditata senatural mungkin, nggak ada konflik yang berlebihan yang malah bakal menimbulkan kesan palsu. Mungkin yang coba di-emphasize adalah perjalanan menuju kebebasan itu sendiri serta keakraban di antara para pelarian kita ini...tapi bagian terakhir ini juga agak terlambat. Kecuali penampilan kocak Colin Farrell, pengenalan dan pengakraban penonton pada anggota pelarian lain—yang sebagian besar dimainkan aktor2 Eropa, gw bilang agak telat untuk mencuat dan didalami, sehingga pas ada yg mati atau apapun, kurang menimbulkan simpati. Lagi2, mungkin ini karena penekanan lebih pada “perjalanan”, sebab dialog pun terbilang sedikit saja.

Namun, harus gw akui film ini sukses memberi sebuah efek: lelah. Bukan lelah nontonnya, tapi gw merasa ikutan capek dengan perjalanan mereka ini. Meski durasinya normal (thanks to the nice editing, yeay), kesan panjang dan lamanya petualangan mereka melewati berbagai medan dan cuaca kerasa banget, gw rasa ini didukung oleh kostum, make-up, dan musik yang minim, sangat minim. Jadi ketika mereka sudah sampai suatu tempat yang memang dituju, gw ikutan bernapas lega =). Jangan salah, mnurut gw sih filmnya nggak ngebosenin2 amat lah, apalagi gambar2nya bagus, lokasi2nya eksotik, dan akting pemainnya cukup baik walau tidak luar biasa. Film ini lengkap sebagai sebuah tontonan yang dibuat dengan niat, departemen teknisnya bagus, dan setidaknya memberi sesuatu efek tadi. Tapi, yaah, emang agak datar dan segi ceritanya tidak terlalu istimewa sebenarnya. But, actually not bad at all.



My score: 7/10

[Movie] Biutiful (2010)


Biutiful
(2010 - Focus Features)

Directed by Alejandro González Iñárritu
Screenplay by Alejandro González Iñárritu, Armando Bo, Nicolás Giacobone
Produced by Alejandro González Iñárritu, Jon Kilik, Fernando Bovaira
Cast: Javier Bardem, Maricel Álvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrella, Eduard Fernández, Cheikh Ndiaye, Diaryatou Daff, Taisheng Cheng, Luo Jin, Ana Wagener


Sebelum Biutiful ini, gw udah menyaksikan 2 film karya sutradara Meksiko, Alejandro González Iñárritu yaitu 21 Grams dan Babel. Gw suka sekali dengan 21 Grams yang menyampaikan cerita tentang “kesempatan kedua”nya dengan acak2an tapi tidak membingungkan, lalu gw pun memuji Babel yang memaparkan dengan elegan tentang misunderstanding antarmanusia. Dilengkapi dengan Biutiful ini, gw menangkap persamaan dari gaya penyutradaraan González Iñárritu: pertama, ia senantiasa fokus pada momen2 personal—termasuk sex dan nudity, yeah ^_^”—meski latar filmnya sendiri berhubungan dengan peristiwa yang lebih besar dan penting. Kedua: film2nya nggak bisa langsung dibilang “bagus” atau “jelek” tanpa direnungkan selama beberapa lama—atau ini emang gwnya aja yg o’on, hehe...dan ketiga: semua bernuansa murung.

Karya González Iñárritu kali ini setingnya cuman di satu tempat, Barcelona Spanyol, dan tokohnya yang utama cuman 1 orang, Uxbal yang diperankan dengan gilang-gemilang oleh Javier Bardem. Kurang murung apalagi coba kalo ceritanya tentang seorang duda cerai beranak dua yang menghitung hari sisa hidupnya akibat kanker prostat yang terlambat didiagnosa. Lalu diceritakan bahwa Uxbal ini juga paranormal yang bisa menghantar arwah agar “berangkat” dengan tenang. Namun, rupanya hidup sebagai paranormal tidak cukup untuk menghidupi dirinya dan 2 anaknya yang masih kecil2, Uxbal pun selama ini juga terjun di underworld Barcelona nan keras, yang khusus bertugas sebagai liaison officer bagi para imigran ilegal China yg dipekerjakan bikin produk KW, juga imigran ilegal Senegal yang jadi pedagang  produk2 itu. Ketika kenyataan bahwa ia akan meninggal terasa begitu berat, hal itu ditambah lagi dengan datangnya sang mantan istri, Marambra (Maricel Álvarez) yang agak ada kepribadian ganda, plus juga tertangkapnya para imigran Senegal yang cepat atau lambat akan mengancam terbongkarnya imigran2 yang lain yang diurus Uxbal.

Momen demi momen bergulir bergantian sepanjang durasi yang cukup panjang, sampai tulisan ini dipublish gw kurang paham betul film ini tentang apa *o’on continues*. Hal yang bisa gw rasakan langsung dari film ini bukanlah apa yang mau disampaikan sutradara/penulis naskahnya, tetapi efek simpati dari tokoh Uxbal. Ia tentu ingin berbuat/meninggalkan sesuatu untuk anak2nya, ia ingin tenang sebelum benar2 tidak ada lagi di dunia, namun kemalangan demi kemalangan tidak memuluskan niat itu. Adalah sang mantan istri yang belum sembuh2 amat sehingga gw juga agak segan kalau anak2 Uxbal diurus Marambra, pun usahanya untuk sebisanya menyediakan yang terbaik dan terlayak bagi para imigran gelap bukanlah hal mudah. Bardem dengan sangat tepat memunculkan ketakutan, kepedihan, kegelisahan sekaligus ketegaran dan ketegasan Uxbal menjelang ajalnya yang menyakitkan, lewat ekspresi maupun reaksi terhadap sekitarnya—bukan hanya dengan cara mencak2 kayak di sinetron. Kunci gelap dan depresifnya film Biutiful ini memang berada di tangan Bardem, dan untuk yang ini, great job.

Ah, tapi gw nggak berhenti berusaha memahami film ini. Gw pun coba menghubungkan film dengan judulnya (sama seperti cara gw coba memahami Babel). Biutiful ini memang bahasa Inggris “beautiful” tapi salah ejaan. Satu adegan kecil yang berhubungan dengan ini adalah ketika putri Uxbal bertanya padanya cara mengeja beautiful, dan Uxbal pun membantunya jadi seperti itu tulisannya. Apa yang gw tangkep adalah bahwa biutiful merupakan ungkapan yang baik, yang menyenangkan, dinyatakan dengan niat yang mulia, namun karena dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak tau cara penulisannya yang benar, maka niat mulia itu menjelma dalam wujud/tulisan yang secara “aturan” adalah salah. Katakanlah Uxbal adalah wujud kata biutiful itu, ia bukan orang jahat, ia bahkan berusaha memberikan yang terbaik bagi orang2 yang mengandalkannya, niat yang mulia, bahkan ia hampir mengabaikan penyakitnya demi itu. Namun apa mau dikata, niat itu telanjur dimanifestasikan dalam dunia hitam yang menurut perangkat buatan manusia yang disebut “hukum” adalah salah. Lalu, kalau dipikir lagi, apakah “salah” sama dengan “jahat”?

Gw stop dulu perenungannya, mungkin butuh nonton kali kedua (kalo niat, hehe) untuk lebih mendalami apa yang coba disampaikan González Iñárritu lewat karya teranyarnya ini. Di lain pihak, kisah hari2 terakhir Uxbal diterjemahkan dengan nuansa yang sama depresifnya dengan Uxbal sendiri. Terakhir gw melihat kota Barcelona dalam film karya Woody Allen, Vicky Cristina Barcelona—yg lucunya juga dibintangi Bardem, yang tampak eksotik, santai, cantik, everything seemed just fine. Namun Barcelona di Biutiful ini disorot dari sisi yang hampir tak akan pernah ditaruh di buku travelling guide, kotor, gerah, bikin senewen, bahkan sampai ke sisi2 paling kumuh kalangan imigran yang tak layak ditinggali. Sinematografinya dengan baik menangkap itu. Memang secara gambar keseluruhan agak mirip dengan film2 González Iñárritu lain yang pernah gw tonton (kameranya suka nengok2 di dalem ruangan yg relatif kecil), namun kali ini banyak sekali menampilkan close-up wajah Uxbal yang menguatkan kesan (buat gw at least) bahwa—meski terdapat subplot sana-sini yg sama2 tragis—film  ini memang tentang Uxbal...dan gw belum singgung soal penampakan arwah dan bayangan yang gerakannya delay di sekitar Uxbal =).

So is Biutiful a good movie, you asked? So far, gw nggak berani bilang. Film ini murung bikin dahi mengernyit dengan durasi sepanjang 2,5 jam (dan memang terasa panjang), jadi jelas bukan film untuk pelepas stress (loe pikir?), bahkan untuk nangis buaya pun tidak bisa. Namun yang gw berani bilang, performa prima Bardem dan penggarapan González Iñárritu senantiasa membuat gw menaruh perhatian penuh ke layar. Satu misteri yang belum gw temukan jawabannya, ada apa dengan pergantian aspect ratio layar di awal dan akhirnya yah?




My score: 7/10

NB: perhatian, tenyata panggilan sayang klub sepakbola Barcelona, Barca tidak dibaca dengan "barka" melainkan "barsa", terima kasih.

[Movie] Burlesque (2010)


Burlesque 
(2010 - Screen Gems)  

Written and Directed by Steven Antin
Produced by Donald De Line
Cast: Cher, Christina Aguilera, Stanley Tucci, Cam Gigandet, Eric Dane, Kristen Bell, Julianne Hough, Alan Cumming, Peter Gallagher


Film musikal Hollywood sedikit banyak selalu menarik perhatian gw, apalagi setelah genre yang pernah agak dicuekin ini mulai marak pada dekade lalu sejak kesuksesan Moulin Rouge! dan Chicago, yang kebetulan saya sukah sekalih. Eee tapi, sebenernya selain kedua judul itu, gw tidak menemukan lagi film musikal yang benar2 sukses, dalam arti memuaskan gw. Phantom of The Opera itu datar (dan untuk film yang tokoh utamanya seharusnya bisa nyanyi opera, failed), Mamma Mia! agak konyol, Sweeney Todd kuat bukan di bagian musiknya, Across The Universe..emmm...ya begitulah. Selepas nonton Burlesque, gw menyimpulkan bahwa film musikal (modern) yang sukses seharusnya punya cerita bagus dan eksekusi yang orisinil (seperti Chicago), atau kalaupun ceritanya standard, visual dan musiknya harus super-duper yahud sampe membelalak mata (seperti Moulin Rouge!), nggak boleh nanggung. Burlesque sayangnya adalah satu contoh film musikal yang ceritanya standard dan visual nanggung...nggak orisinil pula.

Bagi gw Burlesque adalah semacam arena pengen2an para produser atau bahkan aktornya untuk bikin versi agak modern dari Chicago (musiknya mirip), campur sedikit Moulin Rouge! (sama2 nama tempat =P, dan sama2 tempatnya terancam bangkrut), dan meminjam cerita Coyote Ugly, cuma kali ini tokoh yang dimainkan Piper Perabo di film itu berubah wujud jadi dua orang: Ali (Christina Aguilera) yang pengen jadi artis sukses di kota, dan Jack (Cam Gigandet) yang pengen jadi penulis lagu sukses di kota....and of course mereka saling jatuh centa, namanya juga film. Ali yang merasa stuck di tempat tinggalnya—dan sebatang kara—nekad hijrah ke Los Angeles untuk jadi Britney Spears...eh, maksudnya jadi penyanyi merangkap penari. Takdir/sutradara begitu baik menyuruh Ali untuk masuk ke Burlesque Lounge, klub malam yang juga menampilkan cewek2 menari kabaret sambil lipsync (ini seperti show banci di Thailand tapi versi perempuan tulen =P). Ali langsung pengen dan, melalui si bartender Jack, menemui pemilik klub, Tess (Cher) yang ternyata sedang punya masalah utang sewa gedung namun tak sudi klubnya dibeli pengembang real estate. Meski awalnya ogah2an, tapi Tess akhirnya mau menerima Ali masuk ke tim kabaretnya, bahkan setelah melihat bakat luar biasa Ali, Tess kemudian menjadikannya bintang utama dan merombak shownya menjadi kabaret yang nyanyi live yang berpusat pada kedahsyatan vokal Christina..eh..Ali, menggantikan Nikki (Kristen Bell) yang selalu bermasalah ala diva2 kelas teri—dan nggak bisa nyanyi live.

Yo’ih, cerita tentang gadis daerah yang berbakat luar biasa dan bercita-cita kuat berusaha mewujudkan mimpinya di kota besar meski harus menghadapi keraguan, persaingan plus tempelan romantisisme, entah udah berapa kali gw ketemu plot semacam ini baik di film maupun komik atau sinetron Jepang (untungnya gak jatuh ke lembah nista kayak sebagian besar cerita film Indonesia serupa). Tidak ada yang benar2 baru di sini, bahkan ide Ali tentang “semuanya cuma lipsync, tapi coba kalo nyanyinya live...” juga gw yakin dicomot dari pernyataan Hudson di Indonesia Mencari Bakat, hahaha. Tapi nevertheless, pengulangan2 baik itu cerita maupun konsep visualnya jujur saja masih terbilang watchable dan tidak menjemukan2 amat. Meskipun tidak fresh tapi masih rapi dan bisa dinikmati, mengingat film ini meng-expose dengan baik kemampuan show(wo)manship dari Christina Aguilera baik vokal maupun gerak, koreografinya juga dinamis seperti layaknya video2 musik Xtina jaman2 album ketiganya...oh wait, keseluruhan film ini memang seperti kumpulan video klip Xtina dengan Cher sebagai opening dan interlude act-nya ^_^.

Xtina memang menonjol di performa saat bernyanyi, namun ternyata lulusan Mickey Mouse Club ini (bayangan gw ini acara kayak Barney gitu gak sih?) tidak memalukan saat berakting, biasa tapi tidak terlihat amatir. Aktor2 lainnya juga memberikan penampilan biasa tapi bolehlah. Cher, yang pernah menang Oscar jauh sebelum gw lahir, sebenarnya menampilkan akting yang paling baik dan meyakinkan, cuman itu loh...ketutupan susuk di mukanya, jadi kadar “meyakinkan”nya turun 50% deh =P.

Burlesque bisalah jadi pilihan tontonan yang cukup menghibur. Gambarnya cukup bagus, musiknya lumayan oke, bahkan memberi pengetahuan baru tentang “air rights” =D, meski di tengah-tengah gw musti menahan diri untuk tidak menguap sama keklise-an yang bertebaran dimana-mana. Not original but not bad.


My score: 6/10