Rabu, 15 Juni 2011

[Movie] Sólo Con Tu Pareja (1991)


Sólo Con Tu Pareja
Only With Your Partner/Love in the Time of Hysteria
(1991 - IFC Films)

Directed by Alfonso Cuarón
Screenplay by Carlos Cuarón
Produced by Alfonso Cuarón, Rosalia Salazar
Cast: Daniel Gimenéz Cacho, Claudia Ramirez, Luis de Icaza, Astrid Haddad, Dobrina Liubomirova, Isabel Benet


Kerjaan Tomás Tomás (Daniel Gimenéz Cacho) cuma 2: bikin slogan iklan, dan meniduri perempuan. Biar nggak berpenampilan keren2 amat, Tomás bisa aja menggaet wanita manapun yang dia temui ke kasur-tanpa-ranjang di flat-nya. Suatu kali, Tomás disuruh tetangga sekaligus sahabatnya yang seorang dokter, Mateo Mateos (Luis de Icaza) untuk cek-up termasuk tes HIV—mungkin khawatir juga sama "pergaulan"nya. Tak lama setelah itu Tomás mengalami malam yang paling geuleuh ketika ia kedatangan perawat seksi dari klinik Mateo, Silvia Silva (Dobrina Liubomirova) yang—tentu saja—mau “nyoba” si notorious womanizer Tomás di flatnya, eh bersamaan datang juga atasan Tomás, Gloria Gold (Isabel Benet) dengan alasan serupa, tapi Tomás menempatkannya di flat Mateo yg memang sedang keluar kota. Silahkan bayangkan bagaimana Tomás me-manage birahi dengan 2 perempuan sekaligus di 2 kamar terpisah...ya, melibatkan menyelinap lewat jendela. Beberapa kali mondar-mandir antara 2 flat yang penuh nafsu, Tomás rupanya menyempatkan diri tertegun melalui jendela ketika melayangkan pandangan pada sesosok wanita muda nan cantik yang tinggal di antara flatnya dan flat Mateo, yang sedang berlatih petunjuk keselamatan penerbangan, yang belakangan diketahui bernama Clarissa (Claudia Ramirez) seorang pramugari, tetangga yang lumayan baru. Tomás jatuh cinta pada Clarissa, tapi gadis (eh, "gadis"?) itu sudah punya pacar seorang pilot, dan Tomás pun agak malu karena setiap ketemu Clarissa dia tidak dalam pesona terbaiknya. Ditambah lagi, lantaran dikecewakan, Silvia mengerjai Tomás dengan memalsukan hasil tes HIV-AIDS-nya jadi positif! Tomás yang panik langsung mencoba mendaftar siapa saja yang pernah dia tiduri, sampai mau mencoba bunuh diri. Namun, apakah begitu saja hidup seorang Tomás akan berakhir, apakah usahanya merangkai cinta pada Clarissa akan kandas pula tanpa usaha lebih jauh?


Ini dia debut layar lebar sutradara favorit gw, Alfonso Cuarón, yang nantinya akan lebih dikenal sebagai sutradara yang bikin geleng2 kepala di road-comedy erotis Y Tu Mamá También, membelalak mata di Children Of Men, juga yang mengepalai salah satu episode favorit dari seri Harry Potter yaitu The Prisoner of Azkaban. Kalau dirunut-runut, film2 yang disutradarai pria asal Meksiko ini makin kemari makin antik dan mahal ye. Cukup menarik juga mengetahui bahwa beliau memulai segalanya dengan sebuah komedi bertema seks yang ringan sekaligus sedikit berbau kampanye HIV-AIDS awareness...dan didanai oleh institusi pemerintahan Meksiko!—gee, I wonder if the goverment knew what they did with the money all along, di Indonesia mana bisa, hehehe. Menarik juga bahwa di film ini sudah tampak bibit gaya khas Cuarón yang akan muncul di film2 berikutnya. One-long-take shot? Ada. Gambar2 cakep artistik besutan kolaborator setianya, sinematografer handal Emanuel Lubezki? Ada. Adegan sexual intercourse yang rada frontal (meski di sini tidak diperlihatkan bagian2 vital tubuh)? Ada. Adegan2 yang tak disangka-sangka? Whoa, tunggu sampai Anda lihat apa yang mereka lakukan di bagian klimaks ^_^.


Sólo Con Tu Pareja sendiri menurut gw masuk dalam jajaran istimewa dari filmografi Cuarón yang belum banyak itu. Ditulis oleh sang adik, Carlos, film ini merupakan salah satu pelopor sinema Meksiko yang mengedepankan kehidupan kelas menengah di Mexico City, ketika film2 yang banyak diproduksi sebelumnya lebih menekankan yang kaum terlalu kaya atau terlalu pinggiran—ini menurut fitur bonus DVDnya, bukan gw yg riset =P.  Film ini juga muncul ketika awareness tentang HIV-AIDS sedang banyak diperbincangkan di awal 1990-an (meskipun katanya di Meksiko lebih salah kaprah dikira bahwa itu penyakitnya kaum homoseksual semata), sehingga bisa dibilang Cuarón bersaudara mengambil langkah berani untuk membuat kisah pria yang doyan ganti pasangan yang akhirnya jatuh cinta pada seseorang yang rasanya tak pantas dia miliki ini—bahwa kaum heteroseksual berpotensi kena HIV-AIDS juga. Untungnya, meski tanpa menanggalkan bobot cerita dan visual, Sólo Con Tu Pareja mengambil jalan yang ringan, jenaka dan menyenangkan untuk disaksikan. Lihat saja nama2 tokohnya yang lucu2 karena berupa pengulangan =D. Begitu juga dengan cara film ini meletakkan kelucuan, bukan hanya dari tokoh dan perilakunya, tetapi juga dari dialog dan jalan cerita yang dibangun tanpa ada kesan bolong2, bahkan berita koran di awal tentang orang Amerika yang meledakkan anjing peliharaannya di dalam microwave pun bukan sekadar celetukan saja. Lucu, agak dodol, tapi di saat yang bersamaan menunjukan kecerdasan si sineas, bahwa kedodolan2 yang ditampilkan bukannya menghina kecerdasan penonton. Bagusnya lagi, pesan tentang HIV-AIDS disampaikan tanpa menceramahi, bahkan terintegrasi dengan ceritanya.

Kesenangan menonton film ini diperkuat dengan jajaran pemainnya, yang sebagian besar adalah aktor panggung, yang kompak luar biasa. Permainan Daniel Gimenéz Cacho (yang jadi narator di Y Tu Mamá También) terbilang gemilang dan tanpa beban, begitu juga dengan pasangan tetangganya Mateo dan Theresa (Luis de Icaza, Astrid Haddad) yang menjadi semacam "pengendali" tingkah laku Tomás, bahkan dua orang Jepang kolega Mateo yang "terseret" pada permasalahan Tomás pun melebur dengan sangat baik—padahal katanya Cuarón cuma "nemu" mereka di kedutaan, bukan aktor =D. Interaksi mereka terlihat lancar, pokoknya upgrade puluhan tingkat deh dari model akting telenovela, para aktor kita ini berhasil menghidupkan karakter masing2 sehingga sedikit banyak membuat penonton peduli pada mereka tanpa dipaksa, meski sebenarnya kedalaman tiap karakter tidak terlalu kentara. Toh ini bukan film yang berat, atau setidaknya tidak terlihat berat, dan akting mereka memperlihatkan unsur fun dan kenyamanan tersebut. Rupanya, lagi2 ciri film2 Cuarón yang sepertinya membuat para aktornya nyaman berakting sudah terlihat pula dari film ini.


So, overall, tidak salah bila hanya karena Sólo Con Tu Pareja inilah Cuarón dengan tidak terlalu sulit melangkah ke perfilman dunia, khususnya Hollywood—setelah ini dia dipanggil Warner Bros. untuk mengarahkan A Little Princess, dan film ketiganya adalah adaptasi modern novel Charles Dickens, Great Expectations yang dibintangi Robert De Niro! Sólo Con Tu Pareja adalah sebuah film yang menghibur namun tetap artistik (dari segi gambar, keren2 deh). Ceritanya mungkin tidaklah istimewa dan kini banyak ditemui, tetapi cara penyampaiannya yang membuatnya terasa istimewa, begitu solid nyaris tanpa celah menganggu. Kelucuannya mungkin agak berlebihan tapi tidak sampai absurd, konyol atau maksa, dan konsistensinya terjaga hingga akhir. Sebuah tontonan yang gebleg dan menyenangkan, sebuah debut yang gemilang dari Alfonso Cuarón yang bakal semakin unjuk gigi di dunia sinema—walaupun pada akhirnya film ini tidak sukses secara komersil dan musti "jalan2" dulu ke berbagai festival, but look what happened after that =). Saking okenya, gw bahkan tidak terlalu mengindahkan penampakan pesawat telepon, komputer, cara pake celana jeans Tomás, serta model2 rambut jaman 1990-an awal yg jelas2 nampak dan akan mengundang tawa, tetapi nyatanya bukan itu bagian yang gw tertawakan =D. Alfonso Cuarón had started it with awesomeness, and never stop eversince. Mari menunggu karya terbarunya yang katanya akan lebih spektakuler, Gravity di tahun 2012 =).



My score: 8/10

4 komentar:

  1. Nice review.

    Eh... bukannya memalsukan hasil medis berarti melanggar hukum? Apalagi pelakukanya perawat. Apa si perawat gak masuk penjara kalau ketahuan?

    BalasHapus
  2. @Kencana, =D, yah namanya juga lucu2an. Lagian waktu itu ceritanya hasil tes dibikin pake mesin tik sama si perawat, yang asli buat arsip klinik/dokter sih bener, cuman kopian yg dikirim ke Tomas itu yg di"sabotase" ^_^;

    BalasHapus
  3. @arienji:

    Oh, gitu toh. Fufufufu, perawatnya jahil + licik juga. Entah mesti simpati atau ketawa ama pemeran utamanya...

    Overall, nice review.

    BalasHapus