Selasa, 08 Februari 2011

[Movie] The Green Hornet (2011)


The Green Hornet
(2011 - Columbia)
 
Directed by Michel Gondry
Screenplay by Seth Rogen, Evan Goldberg
Based on the radio series created by George W. Trendle
Produced by Neal H. Moritz
Cast: Seth Rogen, Jay Chou, Cameron Diaz, Christoph Waltz, Tom Wilkinson, Edward James Olmos, David Harbour


Jika diibaratkan jalan kaki sejauh 3 km aja (tak peduli siang atau malam), trus sampe di tujuan langsung minum air dingin aja...beeeuuuuhhh segernya minta ampun, tuh air tawar jadi berasa manis bener—walaupun hanya bertahan di 5 tegukan pertama. Well, kayaknya itu gambaran yang tepat mengenai The Green Hornet ini. Hari itu adalah sehari sebelum hari libur eee tapi kerjaan di kantor seperti sengaja menghalangi gw untuk pulang tepat waktu dengan tenang dan senang...eeee pas mau pulang busnya jarang banget dan macet lagi. Ketika kekesalan semakin naik ke ubun-ubun, gw memutuskan untuk masuk bioskop dan nonton The Green Hornet di jam terakhir (kelar jam setengah 12). Eeeee untunglah film ini bukannya menambah setress, tapi justru menjadi penyegar hari gw itu—masuk kategori air minum, bukan air comberan atau kobokan. *curhat satu paragraf: selesai*

Dalam tradisi Batman atau Iron Man, The Green Hornet adalah identitas yang dipakai seorang pewaris kerajaan media/koran besar di Los Angeles, Britt Reid untuk membasmi kejahatan di kotanya.  Tapi bedanya Britt ini adalah anak muda sosialita yang hobinya bersenang-senang dan...hmm, nggak bisa apa2 sebenarnya. Ketika ayahnya (Tom Wilkinson) disengat lebah kemudian meninggal dunia, Britt pun "terpaksa" harus mengisi posisi ayahnya sebagai pemimpin perusahaan. Boring! Britt malah mengajak bujang ayahnya, Kato (Jay Chou) yang serba bisa—bikin  kopi pake mesin canggih, bikin mobil fungsional kayak tank, bisa bela diri, bisa gambar, bisa main musik, bisa nyanyi, dan bisa...err..nyetir...untuk bersama-sama terjun ke lapangan untuk memerangi kejahatan secara langsung. Mulai dari "mengganggu" sarang2 preman, Britt pun merekayasa agar alter egonya, yang dijuluki The Green Hornet bisa terus masuk headline, yang kemudian "berhasil" menarik perhatian dedengkot kejahatan terorganisir di Los Angeles, Chudnofsky (Christoph Waltz) yang menguasai semua sektor dunia hitam di kota itu. Apakah pahlawan karbitan seperti The Green Hornet/Britt dan Kato sanggup menghadapi dan mengalahkan penjahat betulan seperti Chudnofsky?

Sebagai film yang sepertinya diset sebagai komedi-aksi, The Green Hornet pada akhirnya adalah sebuah tontonan ringan tanpa pretensi apa-apa, namun dihiasi dengan humor dan aksi yang cukup krispi. Malah kayaknya nilai2 kepahlawanan *halah* di sini agak ketutup, karena filmnya ya komedi. Tokoh Britt sendiri meski udah berubah wujud jadi "pahlawan bertopeng" tetep aja nggak bisa apa2 selain senang dengan exposure The Green Hornet yang dilakukannya sendiri, ia jadi terlihat bodoh saja jika dibandingkan Kato yang lebih banyak bertindak tepat dan dapat diandalkan...but hey, it's a comedy so that's suppose to be funny. Jika demikian, maka Seth Rogen bisa dibilang berhasil dengan pembawaan sok2an campur kekanakan hingga menjengkelkan dalam memerankan Britt/The Green Hornet, karena memang dibikinnya begitu. Kebalikan dengan Kato yang lebih kalem dan lebih "heroik"—tapi tetap ada sisi humornya, yang untungnya dibawakan dengan tidak memalukan oleh bintang pop Taiwan, Jay Chou. Meski sebenarnya nggak 100% klop, tapi di mata gw parpaduan Rogen sebagai Britt dan Chou sebagai Kato tidaklah gagal, interaksi mereka cukup seger kok.

Namun ada kalanya juga gw merasa beberapa bagian ditampilkan tanpa tujuan jelas atau dipanjang-panjangkan, yang berimbas pada durasi, seperti adegan berantem Britt dan Kato memakai barang apapun yang ada di rumah sebagai senjata (berasa film Hong Kong lawas gak sih ^_^;) yang terus terang kelamaan. Pun karakterisasi tokoh wanita yang diperankan Cameron Diaz dan bahkan juga si penjahat yang diperankan Christoph Waltz tidak istimewa kalau nggak mau dibilang tidak penting. Meski naskahnya udah dicoba dengan sedikit beda, yaitu The Green Hornet dicitrakan seperti penjahat sehingga lebih mudah mencari dedengkot penjahat kota, tetap saja sesungguhnya secara cerita The Green Hornet ini gak nendang-nendang amat. Tapi di luar itu, film ini buat gw fine2 saja. Sutradara Michel Gondry pun sempet2nya memasukkan sentuhan visual khasnya yang nyentrik yang biasa dia gunakan di video2 musik atau film2 karyanya sebelumnya (Eternal Sunshine of The Spotless Mind, Be Kind Rewind) ke dalam film yang terbilang mainstream ini. Gw inget betul kerennya adegan Kato memberantas preman untuk pertama kalinya yang dibuat dengan efek slow motion dan mobil yang tiba2 jadi berlapis-lapis, atau satu frame pecah jadi belasan bahkan puluhan frame yang (terkesan) one-take-shot, dan yang paling keliatan adalah adegan Britt yang mencoba menganalisa cara dan motivasi penjahatnya dengan visual abstrak, which were all really cool.

So dengan timing yang tepat, The Green Hornet menjelma menjadi tontonan yang menyegarkan dan mengundang tawa gw yang lagi agak suntuk sewaktu nonton, lumayan kocak. Nggak benar2 istimewa, tapi cukup menghibur...meski rasanya belum tentu nilai hiburannya tetap stabil kalau ditonton lagi, kayak analogi air dingin di atas tadi *sok nyambung2in*.




My score: 6,5/10

2 komentar:

  1. Sebagai penggemar Seth Rogen (karena dia cute dan chubby^^) dan Jay Chou, gue sebenernya agak kecewa karena tokoh cewe-nya Cameron Diaz. Entah mengapa, ga suka aja sama aktris yang satu ini. Hahaha.

    Soal adegan berantem di rumah itu malah ngingetin gue sama Pineapple Express: adegan berantem Dale & Saul vs. Red di rumah Red.

    BalasHapus
  2. @Frysta, saya sih blum nonton Pinaple Express, tapi kalo mengingat bahwa film itu juga melibatkan Seth Rogen, wajarlah =)

    BalasHapus