Kamis, 30 Desember 2010

Year-End Note: My 10 Top Albums of 2010

Berikut ini adalah 10 album yang paling berkenan di hati saya *tinggi beut bahasa guweh*. Bukan berarti yang terbaik, tapi setidaknya album2 ini nggak bikin gw kesal setiap kali dengar =). Sayang sekali kali ini gw belum bisa mendiscover karya dari artis2 baru, mungkin gw emang kurang telaten dalam menjelajah dunia musik 2010 *merasa gagal*, tapi mudah2an gw tidak menyesal memasukkan album2 yang ada di daftar ini *agak nggak yakin*. Here we go, dalam urutan abjad.


1. Documentary – Hata Motohiro (秦 基博)
Album ketiga Hata Motohiro yang overall tidak mengecewakan dengan aransemen2 yang fresh meski terganjal 1-2 lagu yang ganggu (=_=”). Sekedar tambahan, gw merekomendasikan album Documentary edisi khusus “B” dengan bonus 1 CD bertajuk Covers - Hata Motohiro Sings 2007-2010 yang berisi 11 lagu2 Jepang lawas (meski nggak terlalu populer) yang dinyanyikan ulang oleh Hata (baik rekaman maupun live). Nice package.
Review.


2. Hands All Over – Maroon 5
Maroon 5 masih terdengar “Maroon 5 banget”. Masih menyenangkan didengar walaupun dari lagunya satu per satu tidak lebih baik dari album2 sebelumnya. Tetep bisa bikin angguk2 dengan hentakan dan permainan intsrumen yang…err…”Maroon 5 banget” itu, hehe.


3. LIFE – Angela Aki
Karya yang bertumbuh sebagai album Angela Aki favorit gw. Lagu2nya sih nggak ada yang mempunyai impact besar seperti beberapa hits di album2 sebelumnya, tapi album keempat ini dirangkai menjadi satu kesatuan yang manis didengar tanpa menanggalkan mutu.
Review.


4. Look What We've Found – Endah N Rhesa
Light and fun tidak harus kacangan. Endah N Rhesa membuktikannya dengan mengumpulkan melodi menarik, lirik sederhana, dan eksperimen kecil2an dalam aransemen dalam sebuah album yang meski terasa singkat namun tidak membosankan bila diulang-ulang.
Review.


5. Magic Disk (マジックディスク)– ASIAN KUNG-FU GENERATION
ASIAN KUNG-FU GENERATION mulai berani menawarkan sound baru dalam albumnya, bahkan ada yang benar2 jauh gaya mereka yang sudah2. Most of them worked, only a couple need more work, yet I still love them anyway =).


6. MONKEY MAJIK BEST ~10 Years & Forever~ – MONKEY MAJIK
Single2 Monkey Majik dari tahun 2006 sampe 2010 yang sebagian besar gw suka terkumpul dalam satu album. Menyenangkan sekali, meskipun gw kurang sreg sama urutan lagunya yang agak monoton, but still...

7. Shipahead – Tomita Lab (冨田ラボ)
Sebuah album proyek milik produser/arranger beraliran pop-jazz Jepang antik yang saya kagumi, Keiichi Tomita. Bukan musik yang terlalu aneh, malah masih sangat bisa didengar, namun bila diperhatikan dengan seksama, suara yang keluar dari setiap layer rekaman album ini benar2 diletakkan secara tepat dan mengacak-acak indera pendengaran saya dengan kejeniusannya *wow lebay, hehe*. Belokan nada dan pergantian chordnya ajaib. Great music indeed.
Review.


8. Sports – Tokyo Incidents/Tokyo Jihen (スポーツ– 東京事変)
Tokyo Incidents ini mungkin seperti Tomita Lab versi keroyokan. Kegilaan mereka dalam memainkan instrumen rock dalam ranah pop-jazz ini memang lebih “brutal” dibandingkan musisi/band lainnya. Tidak ada, sekali lagi, tidak pernah ada pengulangan dari setiap lagu yang mereka rekam. Selalu terkesan fresh termasuk di album keempat mereka ini. Apakah permainan mood lagu dari yang minimalis sampe yang maksimalis, cepet banget sampe slow banget juga bisa disebut “olah raga” telinga? Bisa jadi =P.
Review.


9. A Thousand Suns – Linkin Park
Sebuah album yang butuh waktu untuk dicerna. Lagu2nya tidak banyak, namun dirangkai sedemikan rupa dengan pelbagai interlude yang membuat mendengarkan A Thousand Suns sebuah pengalaman yang curious. Linkin Park memang berniat menawarkan sound yang berbeda di album keempatnya, dan niat itu sungguh2 dinyatakan. Bukan kegagalan kok, cuman ya itu tadi, butuh waktu.


10. UTADA HIKARU SINGLE COLLECTION VOL. 2 – Utada Hikaru (宇多田ヒカル)
Konon rilisan milik penyanyi yang album debutnya adalah album paling laris di Jepang sepanjang masa ini diluncurkan sebagai penanda buat Utada yang akan rehat sejenak dari dunia entertain..ment. Berisi 12 single2 (plus 1 bonus lagu “Beautiful World” versi akustik) berbahasa Jepang milik Utada sejak 2004 hingga 2008 di disc pertama, lalu 5 lagu2 baru di disc kedua, album ini memang salah satu yang pantas dimiliki terutama bagi penggemar J-Pop—well, mendengarkan kompilasi hits Utada bagi gw adalah pilihan yg bijak karena berarti tak harus mendengarkan lagu2 aneh yg biasanya ada di album regulernya, hehehe. Single2 lamanya yang diurut secara terbalik (dari yang paling belakangan dirilis) tak disangka nggak membosankan, lagu2 barunya pun nggak mengecewakan. A must buy!



Demikianlah senarai Top 2010 kategori musik, semoga bermanfaat *halah*. Sebagaimana gw singgung di pembukaan My 10 Top Songs of 2010 (Indonesia) kemarin, mohon bersabar untuk daftar filmnya, karena masih banyak yang harus dikejar nih, mudah2an gak terlalu lama deh ya, hehe.

Happy New Year!


Next: My 10 Top Movies of 2010 (on January 2011)

Rabu, 29 Desember 2010

Year-End Note: My 10 Top Songs of 2010 (Japan)

Waktunya 10 lagu Jepang 2010 favorit gw. Ternyata mengalami beberapa minggu di negeri itu—dan saat kerja pun radio berkumandang—bukan berarti membuat gw menemukan lebih banyak lagu untuk dipertimbangkan untuk masuk daftar. Toh bikin 10 lagu top di bawah ini gak perlu pake pergolakan batin yang gimana gitu *halah*, lancar2 saja, karena memang sebagaimana gw nyatakan dalam postingan My J-Pop kemaren2, lagu2 J-Pop akhir2 ini lagi kurang yahud, lebih banyak lagu2 dari “artis2 idola” yang secara musikal kurang cocok buat gw. Namun, 10 lagu di bawah ini gw djamin yahoed dah. Dalam urutan abjad latin, ini dia senarai nya…


1. “Ai” Hata Motohiro (「アイ」秦 基博)
Great song from my favorite artist. Denger sekali langsung nusuk dalem sekali. “Ai” menurut gw adalah lagu terbaik Hata Motohiro bersanding dengan “Uroko” dan “Asa ga Kuru Mae ni”. Melodinya mudah diingat, aransemennya sangat intens dan melegakan, sebuah lagu ballad yang romantis dan powerful dalam waktu bersamaan, apalagi vokal maknyuss Hata semakin matang. Just listen.





2. “Baby I Love You” (「ベイビー・アイラヴユー」) – TEE
Nampaknya sudah jadi tradisi bagi artis rap/hiphop atau reggae Jepang untuk membuat setidaknya satu single love ballad—yang sebagian besar balada patah hati, and most of them worked well. Tahun 2010 adalah giliran penyanyi reggae, TEE yang menawarkan lirik gombal (maklum, namanya juga lagu cinta) dalam bentuk curhat sing-talk di setiap verse nya, plus hook yang sederhana tapi catchy nya minta ampun, dibungkus beat medium yang santai. Eh, untungnya vokal TEE cukup berkarakter dan enak didenger pula. Nice.





3. “Harukaze” – D.W. Nicols (「春風」D.W.ニコルズ)
Tradisi J-Pop juga untuk setidaknya menelurkan sebuah single bertema kelulusan a.k.a. perpisahan sekolah di musim semi. “Harukaze” ini kira2 berisi tentang penggalan2 kengangan di sekolah yang dirangkai manis lewat nada yang sangat easy-listening dan aransemen yang kalem—meski tidak lambat. Dari pertama kali denger udah langsung masuk ke ingatan, aransemen vokalnya pun cukup oke. Sebuah lagu yang sebenarnya agak sedih tapi dibawakan dengan enak dan “empuk”, maknyuss.





4. “Honto no Kimochi” – Yu Takahashi (「ほんとのきもち」高橋 優)
Yu Takahashi yang tampak seperti singer-songwriter berpenampilan nerd ternyata handal sekali dalam membuat lagu dengan melodi mantap dan vokal jujur yang merekatkan lirik2 yang sebenarnya sederhana tapi agak panjang ^_^;. Hal plus yang gw suka dari single ini adalah aransemen yang terdengar megah, terutama bagian string section serta drum yang rada “nanggung”, semua terdengar sempurna menghiasi lagu “tembakan” bawel Takahashi beserta gitar akustiknya itu.





5. “SAKURA” – MONKEY MAJIK
Lagu ini juga bertema “kelulusan” kayak “Harukaze” nya D.W. Nicols (see? Hampir semua artis J-Pop pasti pernah bikin lagu kayak begini). Dalam “SAKURA”, Monkey Majik tetap pada ciri khasnya membuat melodi (dan lirik) yang mudah diingat dengan musik yang simpel dan santai. Vokal utama dari Maynard pun menambah bobot lagu ini dengan penghayatan yang oke =).





6. “Sayonara Lost Generation” (「さよならロストジェネレイション」) – ASIAN KUNG-FU GENERATION
Ini dia track terfavorit gw dari album terbaru ASIAN KUNG-FU GENERATION yang bertajuk Magic Disk. Sedikit berbeda dengan gaya mereka yang lalu2, AKG tidak menggeber distorsi di lagu ini, malah cenderung santai, kecuali di bagian chorus yang maut sekali. Ditambah melodi catchy dan agak “main-main” di bagian sebelum chorus dan bagian bridge, everything sounds fresh and perfect. Good! Sayang gw gak bisa nemu preview online, jalan satu2nya ya harus mengunduh memiliki albumnya *agak promosi*.


7. “Sunshine Girl” – moumoon
Yaoloooh lagu ini enak skaali. Beat ringan, vokalnya pun manis. Gw belum pernah mendengar bunyi-bunyian mesin yang genit dan ceria tapi tepat guna seperti yang ditampilkan duo moumoon ini. Yang pasti lagu ini tetap renyah didegar dalam suasana apapun, terutama kalau sedang ingin menaikkan mood. Happy day summer day sunshine girl…=)





8. “Sweet Spot” – Tokyo Incidents/Tokyo Jihen (「スイートスポット」東京事変)
“Sweet Spot” adalah lagu yang paling cepet nempel di otak di antara semua lagu dalam album Sports milik Tokyo Incidents. Liriknya berbahasa Inggris dan agak saru kalo dipikir-pikir dengan akal tidak sehat, dibalut warna agak slow R&B namun tetap dengan permainan instrumen2 jenius khas Tokyo Incidents, secara keseluruhan terdengar begitu intens dan kadang “seksi” bikin pengen denger lagi dan lagi.





9. “Tatakau Kimi yo” (「戦う君よ」) – THE BACK HORN
Terdengar sangat anthemic setelah beberapa kali diputar, hentakan dan kocokan gitarnya yang cukup sangar—namun masih dengan melodi yang “bisa didengarkan”—benar2 mengajak gw untuk headbang kecil2an *maklum biasanya denger di dalem bus, malu kalo diliatin* Cadass!





10. “Wildflower” – Superfly
Lagi2 Superfly masuk list gw, menjadikannya satu2nya artis yang 3 kali berturut-turut ada di 10 Top Songs gw sejak tahun 2008 *penting*. “Wildflower” tetap membawa wewangian ala 60s-70s kali ini dengan unsur rock campur agak country dikit meski tetap dengan melodi minor ala pop Jepang *nah lho bingung kan*. Gw suka karena musiknya nggak digeber banget tapi tetap cukup menghentak…dan vokal si Shiho Ochi massih nembak benneerr.





Honorable Mention: Guilty Pleasure of The Year
“Gee” – Girl’s Generation a.k.a. SNSD a.k.a. Shojo Jidai (少女時代)
Yang gw maksud adalah versi Jepangnya. Pas gw dateng ke negeri itu, Girl’s Generation baru saja memulai debut Jepangnya sehingga lagi sering2nya promo di stasiun2 TV sana (barengan sama KARA, but somehow I prefer this one =P). “Gee” adalah single Jepang kedua mereka, dan jujur saja, hanya dengan melihat 2 kali performa 9 gadis Korea berbentuk tubuh sama ini di TV, lagu “jahat” ini seperti sudah meracuni gw sehingga gatel pengen cari lagunya dan melihat lagi dan terus menerus penampilan2 mereka yang lain untuk lagu yang sama di YouTube. Lagu jahat! Gee gee gee gee baby baby baby…u_u’





Next: My 10 Top Albums of 2010

Selasa, 28 Desember 2010

Year-End Note: My 10 Top Songs of 2010 (International)

Tanpa perlu yang panjang2 dan lebar2 lagi, berikut senarai maksa 10 lagu internasional tahun 2010 yang paling gw inget =). Dalam urutan abjad:

1. “Break Your Heart” - Taio Cruz feat. Ludacris
Catchy sekali lagu ini *gak ada alasan lain*.

2. “The Catalyst” - Linkin Park
Pertama kali denger lagu ini bikin bingung, apalagi buat gw yang penggemar Linkin Park dari zaman awal dekade 2000-an. Lagu apa ini? Penuh sesak dengan bunyi2an instrumen mesin dan lirik yang diserukan lantang. Namun, lama kelamaan “The Catalyst” terdengar anthemic apalagi di paruh akhirnya. Epic!

3. “I Am” - Mary J. Blige
Basian 2009. Bobot vokal Mary J. ternyata juga cocok dalam lagu pop R&B ringan semacam ini. Biar gw bilang ringan, tapi jangan salah, lagu ini bukan ecek2. Meskipun catchy dengan beat asoy, vokal emosional khas Mary J. masih terpamerkan dengan baik dan tidak berlebihan atau kekurangan.



4. “Just The Way You Are” - Bruno Mars
Salah satu lagu tergombal tahun 2010, tapi mnurut gw melodinya dan aransemennya asik banget. Tahun ini memang breakthrough nya Bruno Mars: sukses sebagai produser, juga tampil dalam berbagai kolaborasi bersama artis lain, karya perdana yang mengusung namanya sendiri ini pun sangat layak disimak. Suaranya mantep sekali orang ini =). When I see your face…face…face…*gema*

5. “King of Anything” - Sara Bareilles
Lagunya gak terlalu catchy untuk ukuran lagu pop, tapi aransemennya—yang tanpa mesin itu—sangat menarik. Diawali pake permainan vokal, keseluruhan lagu ini diiringi irama yang nggak pasaran yang terdengar menyegarkan dan bikin pengen ikut tepuk tangan.

6. “Let's Just Fall in Love Again” - Jason Castro
Santai dan liriknya lucu. Tadinya gw nggak nyangka lagu pop akustik ala USA ini dinyanyiin sama si peserta American Idol yang paling cengengesan itu, ternyata suara dan lagunya enak juga =).

7. “Misery” - Maroon 5
Maroon 5 nggak pernah gagal dalam menelurkan lagu yang menghentak setiap kali mengeluarkan album. “Misery” yang (masih) berlirik sakit hati dikemas dengan musik funk cerah ala Maroon 5, mudah diterima kuping banyak orang termasuk kuping gw. Asik lah pokoknya.

8. “Nothin' On You” - B.O.B feat. Bruno Mars
Alasan sama dengan nomer 1 *nggak kreatip*.

9. “Pyramid” - Charice feat. Iyaz
Pertama kali gw liat si Charice ini dulu di sebuah episode Oprah, memang sangat menjanjikan. Ngeliat performa doi di acaranya David Foster menyanyikan “I Will Always Love You” dan “I Have Nothing” nya Whitney Houston…wow sangat sangat menjanjikan gadis remaja aseli Filipin ini. Kalo gak salah single “Pyramid” adalah karya debut internasionalnya. Meski terdengar “pop Amerika” sekali, tapi dengan bantuan dari vokal/rap dari Iyaz, “Pyramid” bukanlah usaha yang sia-sia: lagunya enak, vokal dahsyat Charice pun cukup terakomodasi.

10. “Sign of a Victory” - R. Kelly feat. The Soweto Spiritual Singers
Dibandingkan “Waka Waka”, gw yakin gak ada yang inget sama lagu ini. “Sign of a Victory” adalah official anthem FIFA World Cup 2010 South Africa kemaren (entah apa beda statusnya dengan “Waka Waka” yang official song) yang dinyikan pas upacara pembukaannya. Label “anthem” pun ternyata tidak asal2an, “Sign of A Victory” memang mengalir megah, mencampurkan style R&B ballad ala R. Kelly dengan bunyi2an khas Afrika, terutama bagian chorus yang hanya berisi seruan “heee” dari Soweto Spiritual Singers yang bikin merrinndinng.



Honorable Mention: Guilty Pleasure of The Year
“Alejandro” - Lady Gaga
Perpaduan antara Ace of Base dan telenovela, “Alejandro” sangat sering terngiang-ngiang di benak gw…sedikit banyak gara2 ringtone SMS salah seorang rekan kantor adalah lagu ini u_u”. Dongkolmaning, dongkolmaning…alehandro…


Next: My 10 Top Songs of 2010 (Japan)

Senin, 27 Desember 2010

Year-End Note: My 10 Top Songs of 2010 (Indonesia)

Kembali di akhir tahun dan sudah saatnya buat gw membuat senarai “top” tahun 2010 versi gw. Sebenarnya agak sulit membuat senarai untuk tahun ini, baik lagu maupun terutama film, karena gw terhalang tugas pekerjaan yang mengharuskan gw gak ada di tanah air dengan akses informasi (terutama radio dan TV) yang terbatas selama hampir 3 bulan lamanya, sehingga “bahan2” yang ada pun agak maksa agar dapet masing2 10 item di setiap kategori. Karena keadaan ini juga gw pun terpaksa akan menunda daftar My Top Movies of 2010 hingga bulan Januari karena gw harus catch-up film2 yang gw lewatkan terutama di kuartal akhir 2010 (jadi bagi yang menanti-nanti, sabar dulu ya hehehe).

Hal yang sama pun terjadi pada kategori lagu2 Indonesia, gw kurang bahan dan pengetahuan sehingga jangan heran kalo beberapa ada yang kurang populer atau gw sendiri anggap gak bagus2 amat. Tapi inilah 10 lagu Indonesia yang hadir sepanjang 2010—sepanjang pengetahuan gw, yang paling oke menurut gw, dalam urutan abjad. Monggo disimak…


My 10 Top Songs of 2010 (Indonesia)

1. “Antartika” – Soulvibe
Sejak dulu gw kurang suka Soulvibe, mnurut gw mereka agak nanggung dalam segi lagu dan aransemen, serta warna dan teknik 2 vokalnya bukan selera gw. Lalu muncul lagu “Antartika” di radio2 yang mengejutkan karena nggak mengandung unsur “soul” atau err.. “vibe” yang tadinya diusung Soulvibe, tapi malahan lagu pop yang catchy dengan melodi minor nan ceria yang tidak standar. Quite nice. Liriknya? Yah biasa lah, gombal ala bule diterjemahin ke bahasa Indonesia, hehehe.

2. “Cinta Mati 3” - Mulan Jameela
Yup, judulnya konyol. Setau gw di dunia ini hanya Ebiet G. Ade yang pernah membuat lagu bersekuel sampe 3. Well, gw tebak lagu ini ditulis oleh bossnya Mulan, Dhani Ahmad yang memang akhir2 ini—sejak punya Republik Cinta Management—tak pernah lepas dari kesan “konyol” dari karya2nya (apa perlu gw ingetin “Ayang-Ayangku” atau “Wanita Paling Cantik Di Negeriku Indonesia” atau ..proyek The Rock? =.=”). Honestly, I miss the old Dhani when he used to wrote great songs (sebelum album Laskar Cinta-nya Dewa 19), dan kerinduan itu agak terjawab lewat lagu “Cinta Mati 3” ini. Bernuansa kayak lagu2 slow-beat ballad karya Dhani yang dinyanyikan Reza dulu, lagu berlirik standar ini termasuk dalam karya paling nggak konyol keluaran Republik Cinta selama ini =P.

3. “Gejolak Cinta” - Indah Dewi Pertiwi feat. Sandhy Sondoro
Lagu pop beraroma groove kental adalah barang langka di jagad radio Indonesia. Mungkin dengan kekuatan Colonel Sanders, lagu karya Sandhy Sondoro (yang memang tidak dibesarkan dalam blantika musik pop Indonesia) ini pun meluncur mulus di khalayak dan mendapat sambutan yang sangat baik terutama dari gw (siapa gw?). Perpaduan suara Indah yang Sheila Madjid-ish dan suara “soulful galak” Sandhy pun turut menambah keasyikan tersendiri ketika mendengarnya. Groovy baby yeah.


4. “Manusia Biasa” - Yovie & NuNO
Yovie & NuNO tampaknya selalu berhasil menyelinap di antara band2 baru nan standar dan menempatkan lagu mereka menjadi hits. “Manusia Biasa” pun muncul dengan formula catchy, manis tak cengeng, aransemen terkesan penuh, dengan lirik yang nggak ada puitis2nya namun tidak terdengar cheesy. Bagouus…

5. “Menari” - MALIQ & D'ESSENTIALS
Terambil dari mini album terbaru MALIQ & D’ESSENTIALS berjudul The Beginning Of A Beautiful Life yang secara keseluruhan kurang bisa gw nikmati, terselip lagu “Menari” yang lembut dan menyejukkan. Lirik, melodi dan permainan instrumen membentuk kesan romantis yang enak sekali didengar, apalagi kalo ujan2 *apasih*.

6. “Moving On” – Andien
Kesimpulan gw terhadap senarai ini dan juga tahun2 lalu, adalah gw senang dengan artis Indonesia yang menghasilkan karya yang tidak gitu2 aja namun juga hasil akhirnya baik. Andien yang lebih dikenal sebagai penyanyi jazzy ternyata sukses membawakan lagu bertema I-will-survive dalam warna soul/gospel Amerika nan ceria dan bersemangat. A feel good song.

7. “Satu Cinta” - Ari Lasso feat. Sandy Canester
Lagu ini baru gw kenal beberapa jam sebelum tulisan ini dibuat, tapi langsung gw masukin ke daftar top 2010. Why? 1. Ari Lasso (no doubt a hitmaker); 2. Sandy Canester (very talented songwriter with wonderful husky voice); 3. Lagunya enak dan positif. Ada yg mau protes?


8. “Tak Pernah Setengah Hati” – Tompi
Kalau gw perhatiin di acara2 TV, dokter Tompi ini impresi nya agak angkuh ya. Namun mungkin cuman Tompi satu2nya artis Indonesia yang keangkuhannya gw maklumi. Because he is a great artist. Memasuki album keempatnya, Tompi masih bertenaga moncer menciptakan karya lagu yang bagus, menggugah, serta mengakomodasi kekuatan vokalnya, dan tetap bermelodi catchy. Satu hal yang gw suka dari lagu ballad ini adalah penggunaan instrumen orkestra yang lengkap dan bijak (string dan brass section) sehingga tetap terkesan megah ditengah kesyahduan lagunya. Memang bukan karya yang setengah hati =).


9. “Tersimpan” - Glenn Fredly
Apalah arti blantika musik Indonesia tanpa kehadiran biangnya lagu patah hati yang lirih namun selalu membekas ini. Glenn Fredly kembali pada “keahliannya” membuat lagu cengeng namun tetap bisa mentransfer motivasi dan emosi kecengengan itu baik lewat melodi, lirik, aransemen maupun vokal sehingga tetap terdengar berbobot. Mungkin agak terlalu Glenn-banget, tapi ya gimana ya…gak ada yang lebih bagus dari Glenn (yang lebih mahal banyak….*kriik kriik*)

10. "Wish You Were Here" - Endah N Rhesa
Endah N Rhesa…musti ngomong apalagi ya tentang pasutri jenius ini. Lagu2 mereka selalu punya daya magis yang membuat pendengarnya larut. “Wish You Were Here” adalah track terfavorit gw dari album kedua mereka, Look What We’ve Found. Ini lagu yang langsung nempel di ingatan gw karena petikan gitar yang lembut dan nada yang menggugah membungkus liriknya yang sederhana. Mesmerizing


Honorable Mention: Guilty Pleasure of The Year
"Datang dan Kembali" - Vidi Aldiano
Call me a snob tapi gw merasa Vidi Aldiano (dan rekan sejawatnya Afgan) adalah artis yang masih dalam tahap “idola remaja” yang bisa nyanyi ketimbang artis yang sesungguhnya. Namun…emang dasar kuping nggak bisa diajak kompromi, bagian “ketuk pintu” itu selalu terngiang-ngiang. Damn! u_u”


Next: My 10 Top Songs of 2010 (International)

Minggu, 26 Desember 2010

[Movie] Rapunzel a.k.a. Tangled (2010)



Rapunzel a.k.a. Tangled
(2010 - Walt Disney)

Directed by Nathan Greno, Byron Howard
Screenplay by Dan Fogelman
Inspired by the fairy tale by Jacob Grimm and Wilhelm Grimm
Produced by Ron Conli
Cast: Mandy Moore, Zachary Levi, Donna Murphy, Ron Perlman, M.C. Gainey, Jeffrey Tambor, Brad Garrett


Disney kembali hadir dengan film animasi musikal bertema dongeng/fairy tale yg (seharusnya) adalah jagonya mereka. Setelah cukup sukses me-revive formula ini tahun lalu lewat The Princess and The Frog, tahun ini dirilislah kisah putri berambut puanjang, Rapunzel dengan resep tradisional Disney, hanya saja animasinya sekarang CGI meski diusahakan tetap mengandung prinsip animasi gambaran tangan. Pertama-tama jangan heran kalau judul film ini ada dua. Konon demi tak hanya menarik minat anak2 cewek doang, di USA sanah judulnya diganti jadi Tangled, sedangkan di negara lain judulnya tetep atau setidaknya mengandung unsur versi ngondeknya, Rapunzel.

Dikisahkan seorang putri kerajaan antah berantah diculik oleh seorang nenek bernama Mother Grothel (Donna Murphy), karena si nenek menemukan kekuatan ajaib di rambut emas sang putri yg masih bayi itu yg dapat membuatnya tetep muda. Sang putri diasuh layaknya anak sendiri oleh Grothel di sebuah menara tersembunyi tak berpintu atau bertangga (akses satu2nya hanya lewat jendela, naiknya pake rambut sakti Rapunzel) tanpa pernah keluar dari sana selangkah pun, dan rambutnya tak pernah dipangkas sesenti pun, dialah yang dinamakan Rapunzel (Mandy Moore). Rupanya Rapunzel tumbuh menjadi gadis cantik nan lugu namun menyimpan rasa penasaran yg besar terhadap dunia luar. Hingga pada ultahnya yg ke-18 ia meminta pada sang "ibu" untuk memperbolehkannya keluar untuk melihat secara dekat cahaya beterbangan nun jauh di sana yg anehnya hanya muncul di hari ulang tahunnya setiap tahun. Grothel jelas menolak mentah2 permintaan Rapunzel dengan dalih bahwa dunia luar sangat berbahaya apalagi jika tau kekuatan ajaib pada rambutnya.

Namun takdir mempertemukan Rapunzel dengan pencuri bernama Flynn Rider (Zachary Levi) yang bisa aja masuk ke menara Rapunzel saat sedang kabur dari kejaran penjaga istana. Rapunzel lalu punya akal “menggunakan” Flynn agar bisa kabur dari menara, dan dimulailah petualangan keluar rumah Rapunzel dan bunglon kesayangannya, Pascal bersama dengan Flynn yang sok keren itu demi melihat cahaya “ulang tahun” yang notabene adalah festival lentera memperingati ulang tahun putri kerajaan yang kini hilang. Tentu saja petualangan mereka tak lengkap tanpa pengejaran Mother Grothel yang tak mau melepas Rapunzel, serta pengejaran pihak berwajib (dan kuda genius Maximus ^_^) terhadap Flynn yang telah mencuri mahkota raja.

Kalau mau jujur Rapunzel memang cukup setia dengan pakem fairy tale Disney, sehingga gak ada sesuatu yang benar2 baru. Ada putri cantik, ada “pangeran tampan”, ada tokoh jahat, ada kekuatan ajaib, adegan nyanyi2, ada tokoh hewan komikal, dan akhiran happily-ever-after. Pun film ini sudah menjabarkan motivasi dari setiap tokoh dengan jelas dari awal, tidak ada rahasia atau twist, endingnya mudah sekali tertebak, hanya saja anehnya tetap membuat gw enjoy menonton filmnya hingga akhir. Mungkin itu disebabkan oleh storytelling/penyampaiannya yang lebih segar, baik dari segi dialog maupun rangkaian adegan. Dari awal saja sudah ketahuan si narator bodor adalah si Flynn, menjadi semacam statement bahwa film ini akan agak berbeda dari dongeng putri2an masa lalu yang kebanyakan took-themselves-too-seriously. Humor2nya tidak terlalu maksa dan lebih updated, lucu juga lah. Namun yang paling terasa adalah intensitas ceritanya yang lebih baik jika dibandingkan The Princess and The Frog yang menurut gw terlalu terburu-buru. Duo sutradaranya dengan bijak mengatur ritme cerita, yang aksi dan lucu2 dibuat cepat, yang emosional dibuat lebih lambat, efeknya membuat ceritanya jadi lebih meresap, bahkan sanggup juga membuat adegan yang lumayan berefek shocking di bagian menjelang akhir.

Bagusnya Rapunzel ini juga adalah menghindari karakterisasi yang terlalu stereotipikal. Rapunzel sang “putri” memang cantik dan multitalented (nyanyi, lukis, masak, ngomong ama hewan ^_^;) tapi kenorakan dan ke-ababilan-nya saat keluar kandang pun diperlihatkan dengan kocak. Flynn juga bukan pangeran yang eksistensinya hanya “menyelamatkan dan menikahi sang putri”, melainkan seorang kriminal yang clueless dan agak jauh dari kata charming. Lalu si “ibu jahat”, walaupun memang jahat, tapi tidak bisa dibilang sepenuhnya jahat sama Rapunzel, karena ia membesarkannya sebagai anak sendiri dengan segala kasih sayang, kebutuhan dan “kenyamanan” meskipun hanya ilusi karena ada maunya.

Jadi Rapunzel a.k.a. Tangled ini gw bilang sukses dalam melaksanakan misinya menyuguhkan sebuah tontonan yang segar nan bercitarasa klasik dan dapat dinikmati segala umur dan juga jenis kelamin (dan tidak terlalu kekanak-kanakan). Meski tidak baru dari segi jalan cerita dan lelucuannya belum bisa bikin ngakakgulingguling, serta lagu2nya yang (walau terdengar indah) tidak terlalu memorable, Rapunzel tetaplah film yang menghibur dan berkualitas mulai dari teknik animasi, pengisi suara, dan gambar keseluruhan. Gambarnya tuh cakeeep banget dengan kesan “lensa” berembun (ini istilahnya apa ya?) dan warna2 yang indah (terutama warna2 hijaunya), apalagi pada adegan festival lentera yang memanjakan mata. Special credit for the background artists/layout/art directors atau apapun sebutannya buat yang bertanggung jawab atas keindahan dunia Rapunzel. Disney masih ada, bung!



My score: 7,5/10

Rabu, 15 Desember 2010

[Album] Hata Motohiro - Documentary



秦 基博 Hata Motohiro – Documentary
(2010 – Augusta/Ariola Japan/Sony Music Japan)

Tracklist:
1. ドキュメンタリー Documentary
2. アイ Ai
3. SEA
4. oppo
5. 猿みたいにキスをする Sarumitai ni Kiss wo Suru
6. Halation
7. 透明だった世界 Toumei Datta Sekai
8. 今日もきっと Kyou mo Kitto
9. パレードパレード Parade Parade
10. 朝が来る前に Asa ga Kuru Mae ni
11. Selva
12. アゼリアと放課後 Azalea to Houkago
13. メトロ・フィルム Metro Film (Album ver.)


Berselang hampir dua tahun—cukup lama untuk ukuran artis rekaman Jepang—sejak album ALRIGHT yg reviewnya jadi postingan review pertama blog Ajirenji ini =), singer-songwriter Hata Motohiro meluncurkan album ketiganya, Documentary. Sedikit mengingatkan bahwa, walaupun tidak termasuk terkenal banget ataupun berpenampilan keren, Hata Motohiro so far adalah artis solo Jepang lelaki terfavorit gw, terutama karena suaranya yang bagus berkarakter, nggak kayak “suara orang Jepang” kebanyakan yg terbiasa nyanyi dengan merapatkan-pangkal-lidah-dan-langit2-mulut, namun lebih dari itu lagunya dia juga enak2 diringi gitar akustiknya itu. Mini album Bokura wo Tsunagu Mono, lalu dilanjutkan full album contrast dan ALRIGHT adalah bukti dari pernyataan gw barusan. Tentu gw berharap cukup tinggi sama album ketiga ini.

Single2 yang diluncurkan sebelum album ini pun turut mendukung harapan gw itu. Ada lagu ballad nan nusuk “Asa ga Kuru Mae ni” dan “Ai” yang bisa dibilang masuk jajaran karya terbaik Hata, lalu “Halation” yang dibuat megah namun hangat, juga ada “Metro Film” yang cukup unik aransemennya dengan dentingan triangle pada durasi awal lagu. Mungkin lagu “Toumei Datta Sekai” yang berusaha dibuat semangat agak nge-rock (untuk lagu pembuka kesekian anime Naruto Shippuuden) agak menurunkan ekspektasi karena kayak kurang cocok dengan karakter Hata, tapi secara umum seharusnya Documentary jadi karya yang patut dinanti. But, is it?

Menurut gw, siapapun yang menyukai Hata Motohiro dan menikmati karya2 sebelumnya, Documentary cukup aman didengarkan. Karakter musik dan lagunya masih terjaga, namun dibilang pengulangan banget juga nggak. Sebenarnya ada sih hal baru yang paling keliatan dicoba di album ini, namun justru mnurut gw agak ganggu. Lagu “SEA” sepertinya dimaksudkan sebagai lagu yang menyemangati saat liburan atau gimana, but didn’t quite work. “Sarumitai ni Kiss wo Suru” yang agak slow dengan dominasi gitar akustik dan loop elektronik plus hiasan vokal wanita yang manis, sebenarnya bisa jadi lagu highlight album ini seandainya saja dihilangkan bagian rapnya (oleh vokal tamu), ganggu pisan >.<.

Akan tetapi meskipun ada bagian yang ganggu, harus gw akui bahwa keseluruhan album Documentary sama sekali nggak menjemukan. Track demi track masih bisa dinikmati dan grafik iramanya pas, dari slow, medium dan fast (?) ditata seimbang. Segi aransemennya pun tidak mengecewakan dalam membalut lagu2 pop kalem ala Hata, malah lebih meriah karena banyak memakai instrumen2 yang belum pernah digunakan Hata di album2 sebelumnya. Track pertama “Documentary” menjadi pembuka yang menjanjikan dengan aransemen yang asik (agak bluesy sedikit) plus pamer kekuatan vokal Hata (mantaph), yang dengan brilian disambung “Ai” yang menurut gw—secara rekaman—merupakan performa vokal terbaik Hata. Dua lagu ini adalah highlight album ini berbarengan dengan “Halation”, “Kyou Mo Kitto” yang berirama medium nan catchy, “Asa ga Kuru Mae ni”, seta “Metro Film” yg menutup album ini dengan kelegaan. “oppo” dan “Azalea to Houkago” pun masih enak didengar meski dari segi (melodi) lagunya agak biasa aja dan mudah terlupakan. Sedangkan “Parade Parade” dan “Selva” perlu dicatat karena intronya lucu2 =).

Ya, lagi-lagi meski ada bagian yang ganggu atau sekadar kurang istimewa, lagu2 di Documentary masih ketolong sama aransemen yang bagus2 dan vokal Hata yang tetap istimewa. Jadi overall gw nggak akan melempar album ini ke rak paling ujung belakang, sebaliknya gw pasti akan masih memutarnya beberapa kali karena Documentary memang masih terbilang enjoyable. Bukan album terbaiknya Hata Motohiro (predikat masih dipegang album perdana, contrast), namun nggak bakal menghancurkan karirnya ataupun menimbulkan benih benci di hati penggemarnya *cieileeeh*. Lanjutkan!



My score: 7,5/10


基博 Hata Motohiro

Previews courtesy of YouTube

朝が来る前に Asa ga Kuru Mae ni



Halation


アイ Ai



透明だった世界 Toumei Datta Sekai



メトロ・フィルム Metro Film

Selasa, 07 Desember 2010

Peraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2010

Pemenang Festival Film Indonesia 2010 sudah diumumkan. Agak sedih juga gw gak bisa ikut secara "aktif" dalam perkembangan festival film yang *face it* paling konsisten penyelenggaraannnya di negeri kita ini, karena sedang dalam tugas sehingga akses informasi tanah air kurang yahud. Dari batal diadakan di Batam, peserta final cuman 8 film-yang akhirnya ditambah jadi 10 (ini kayak belanja di ITC, udah mo dibungkus, pembelinya pergi, dan si penjual nyerah "udah deh kasih lah 10" *apaansih*), gak ada Sang Pencerah, kasus pelecehan seksual oleh seseorang bernama Shine (kalo diucap dalam bahasa Jepang, shi-ne, artinya "matilah"), dewan juri memasukkan film yang bukan finalis *ini aneh banget lho*, dewan juri dibubarkan di hari yang harusnya pengumuman nominasi, dibentuk dewan juri baru, Niniek L. Karim mundur dari jabatan ketua Komite Festival Film Indonesia, whoa heboh deh kayaknya. Ibarat sinetron aja nih FFI 2010 ini.

Karena nggak melihat perhelatannya dengan mata kepala sendiri, gw kali ini nggak bisa mencela RCTI sebagai pengelola acara FFI 2010 (padahal sangat ingin), meskipun mendengar berita bahwa acara dibuka oleh ST12 sudah cukup menggambarkan bagaimana bentuknya malam penganugerahan Citra, 6 Desember 2010 itu--proposal saya masih sama: selanjutnya TVRI please! Dan sayangnya pula gw nggak bisa berkomentar banyak mengenai nominasi dan pemenang Citra di FFI tahun ini, karena dari 10 film finalis, gw cuman nonton 1, Minggu Pagi di Victoria Park yang bagus dari berbagai segi itu. Kecewa juga sih ketika gw menganggap Minggu Pagi di Victoria Park, yang sudah ditolak untuk ikut Oscar, kalah di Jiffest pula, akhirnya punya kesempatan bersinar di FFI, ternyata cuman dapet 1 piala, yaaaah. But anyway, tahun ini piala Citra diborong oleh film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, sebuah film drama-komedi *sok tau* tentang percintaan dua budaya dan agama. Selamat ya.

Berikut daftar pemenang Piala Citra plus unggulan lainnya di Festival Film Indonesia 2010, saya comot dari flickmagazine.net =).

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta menerima Piala Citra Film Terbaik FFI 2010 (vivanews.com)


FILM
3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

nomine: 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita; Alangkah Lucunya (Negeri Ini); I Know What You Did On Facebook; Minggu Pagi di Victoria Park


PENYUTRADARAAN
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

nomine: Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda); Awi Suryadi (I Know What You Did On Facebook); Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya (Negeri Ini)); Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park)


PENULISAN SKENARIO CERITA
Skenario Adaptasi: Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
Skenario Asli: Musfar Yasin (Alangkah (Lucunya Negeri Ini))

nomine: Alberthiene Endah (I Know What You Did On Facebook); Robby Ertanto Soediskam (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita); Salman Aristo, Ginanti S. Noer (Hari Untuk Amanda); Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park)


PEMERAN UTAMA PRIA
Reza Rahardian (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

nomine: Edo Borne (I Know What You Did On Facebook); Lukman Sardi (Red Cobex); Oka Antara (Hari Untuk Amanda); Reza Rahardian (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))


PEMERAN UTAMA WANITA
Laura Basuki (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

nomine: Fanny Fabriana (Hari Untuk Amanda); Jajang C. Noer (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita); Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park); Tika Bravani (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))


PEMERAN PENDUKUNG PRIA
Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

nomine: Asrul Dahlan (Alangkah Lucunya Negeri Ini); Deddy Mizwar (Cinta 2 Hati); Jaja Mihardja (Alangkah Lucunya (Negeri Ini)); Tio Pakusadewo (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))


PEMERAN PENDUKUNG WANITA
Happy Salma (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

nomine: Ella Hamid (Minggu Pagi di Victoria Park); Henidar Amroe (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta); Intan Kieflie (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita); Kimmy Jayanti (I Know What You Did On Facebook)


TATA SINEMATOGRAFI
Roby Herby (I Know What You Did On Facebook)

nomine: Roy Lolang (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta); Suadu Utama (Heart-Break.Com); Yadi Sugandi (Minggu Pagi di Victoria Park); Yudi Datau (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))


TATA ARTISTIK
Oscar Firdaus (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

nomine: Anes (Cinta 2 Hati); Djulfikar Thaib (Hari Untuk Amanda); Goetheng Iku Ahkin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini)); Windu Arifin (I Know What You Did On Facebook)


PENYUNTINGAN
Aline Jusria (Minggu Pagi di Victoria Park)

nomine: Andhy Pulung (Hari Untuk Amanda); Ramantyo Wicaksono (I Know What You Did On Facebook); Tito Kurnianto (Alangkah Lucunya (Negeri Ini)); Wawan I. Wibowo (Red Cobex)


TATA SUARA
Adiatyawan Susanto & Novi Dwi R Nugroho (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))

nomine: Adityawan Susanto & Djoko Setiadi (Hari Untuk Amanda); Hadi Ilfat & Satrio Budioni (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta); Khikmawan Santosa (I Know What You Did On Facebook); Khikmawan Santosa (Heart-Break.Com)


TATA MUSIK
Ian Antono &Thoersi Argeswara (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))

nomine: Andhika Triyadi (Hari Untuk Amanda); Nathanael (7 hati 7 Cinta 7 Wanita); Ricky Lionardi (I Know What You Did On Facebook); Thoersi Argeswara (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta).


FILM PENDEK
Kelas 5000an

nomine: Angin; Marni; Sang Penggoda; Timun Mas


FILM DOKUMENTER
Hari-Hari Terakhir Bung Karno

nomine: Beasiswa Ala Bajo; Cahaya Air Air Batanguru; Radio Rimba Raya; Serupa Tapi Tak Sama


PENGHARGAAN PENGABDIAN SEUMUR HIDUP
Tuti Indra Malaon