Rabu, 27 Oktober 2010

[Album] Angela Aki - LIFE



Angela Aki – LIFE
(2010 – Epic Records Japan/Sony Music Japan)

Tracklist:
1. 愛の季節 Ai no Kisetsu
2. 輝く人 Kagayaku Hito
3. Every Woman’s Song
4. サイン Sign
5. Remember Me
6. Unbreakable
7. What Are The Roses For?
8. 愛と絆創膏 Ai to Bansoukou
9. Mad Scientist
10. The Truth Is Like A Lie
11. Bop Bop Bop (Colors Of Your Soul)
12. 母なる大地 Haha Naru Daichi
13. LIFE


Baiklah, gw nggak akan meragukan lagi karya dari Angela Aki. Ketika gw menyukai 3 album pertama dari Angela—Home (2006), TODAY (2007), dan ANSWER tahun lalu, gw agak sangsi bakal suka pada album keempatnya ini, LIFE, apalagi single yang dirilis sebelumnya untuk album ini, “Ai no Kisetsu” dan “Kagayaku Hito” bukanlah termasuk karya Angela favorit gw. Namun、 mendengarkan keseluruhan album LIFE justru menempatkannya menjadi album Angela favorit gw, bahkan calon album terfavorit gw tahun ini. Jarang sekali ada artis J-Pop, apalagi yang model singer-songwriter, yang album pertamanya bagus dan laris, yang bisa menjaga kualitas musiknya meski harus “dikejar deadline” oleh perusahaan rekaman dengan musti bikin album paling lama 2 tahun sekali *ini asumsi saya belaka =)*.

Angela Aki “biasa”-nya mengusung musik pop easy listening tapi berbobot dan intim baik lewat aransemen komplet (dengan orkestra dsb) maupun hanya dengan pianonya saja, juga lewat lirik2 yang indah mendalam. Memang terlihat sekali pengaruh musik Amerika dalam karya2nya—yah nggak disalahin juga sih wong mbake blasteran Jepang-Amerika dan mulai bermusik di jalur independen di AS, namun itu bukan berarti jelek, malah harusnya Angela Aki lebih bisa diterima di pasar internasional dibandingkan J-Pop biasa2, apalagi dia punya vokal yang lembut dengan penjiwaan yang mantap. Album LIFE masih menunjukkan itu, untung saja, disertai beberapa hal baru yang masih sangat selaras dengan musik khas Angela Aki.

Salah satu hal baru yang dicoba oleh Angela adalah bermain gitar di lagu “Kagayaku Hito”. Meskipun sederhana, tapi depth khas Angela Aki masih terasa. Namun hal baru yang benar2 terlihat adalah fakta bahwa hampir separuh album, 6 dari 13 lagu yang ada ditulis full berbahasa Inggris dan direkam di Nashville, Tennesse, Amerika Serikat (“ibukota” musik country), malah 2 lagu di antaranya, “Every Woman’s Song” dan “Bop Bop Bop” ditulis Angela bareng Janis Ian, seorang artis folk pemenang Grammy dan salah satu artis favorit Angela—sebuah langkah besar melanjutkan album sebelumnya dimana Angela berkolaborasi dengan Ben Folds di lagu “Black Glasses”. Untungnya kesempatan ini dimanfaatkan oleh Angela dengan membuat lagu2 yang bagus dan cukup memorable. Namun, bukan berarti yang direkam di Jepang sendiri jadi terbengkalai. Contohnya adalah lagu “Haha Naru Daichi”, sebuah lagu “nasionalis” yang sebenernya simple namun terbungkus megah dengan orkestra lengkap plus alat musik tradisional Jepang, koto, menggugah sekali lagu ini =).

Secara keseluruhan gw suka bagaimana album LIFE mengalir dari awal hingga akhir. Meski cenderung kalem tapi iramanya beragam dan grafiknya nggak mbosenin, malah sangat enjoyable sekaligus timbul kekaguman akan musikalitas Angela Aki yang memproduseri sendiri album ini selain mengaransemen sebagian besar lagu2 yang ada. Mulai dari aransemen cuman 1 instrumen sampe yang super komplet pake orkestra dijajarkan secara cantik di sini. Nggak ada yang bisa gw cela…ada deing, di ending lagu “Remember Me” dia ngucapinnya “remembel us” XD, so Japanese. Tapi, ya, gw suka lagu2nya, nggak ada yang jelek. Yang perlu gw highlight adalah “Unbreakable” yang berchorus maut, “What Are The Roses For?” yang berlirik puitis dengan balutan piano dan cello saja, “Ai to Bansoukou” dan “The Truth Is Like A Lie” yang dalem banget, juga “Haha Naru Daichi” dan “Remember Me” tadi. “Every Woman’s Song” dan “LIFE” menghadirkan lirik inspiratif dalam nuansa khas Angela Aki seperti “biasa”nya, namun selalu sedap didengar. Track paling lucu adalah “Mad Scientist” yang agak centil dengan ending yang aneh, namun sama sekali nggak merusak album, lucu in a good way.

So, Angela Aki telah berhasil membuktikan kualitasnya sebagai seorang artis sejati lewat satu lagu karya yang bermutu. Dia nggak membiarkan kacamata, jeans dan rambut-ikal-panjang-nggak-pernah-dikuncir membuatnya diremehkan atau mengelabui kemampuannya membuat karya yang bisa dinikmati dan menyentuh pendengarnya. One fine work from one of Japan’s finest.




My score: 8/10


Angela Aki / アンジェラ・アキ

Previews, courtesy of YouTube

愛の季節 Ai no Kisetsu


輝く人 Kagayaku Hito


Every Woman's Song


Unbreakable


What Are The Roses For?

Selasa, 19 Oktober 2010

[Album] ASIAN KUNG-FU GENERATION - Magic Disk


ASIAN KUNG-FU GENERATION – マジックディスク Magic Disk
(2010 – Ki/oon Records / Sony Music Japan)

Tracklist:
1. 新世紀のラブソング Shinseiki no Love Song
2. マジックディスク Magic Disk

3. 双子葉 Soushiyou
4. さよならロストジェネレイション Sayonara Lost Generation
5. 迷子犬と雨のビート Maigo Inu to Ame no Beat
6. 青空と黒い猫 Aozora to Kuroi Neko
7. 架空生物のブルース Kakuu Seibutsu no Blues

8. ラストダンスは悲しみを乗せて Last Dance wa Kanashimi wo Nosete
9. マイクロフォン Microphone

10. ライジングサン Rising Sun
11. イエス Yes
12. 橙 Daidai

13. ソラニン Solanin


Album terbaru dari band terfavorit saya ASIAN KUNG-FU GENERATION (vokal+gitar Masafumi Gotoh, gitar Kensuke Kita, bass Takahiro Yamada, drum Kiyoshi Ijichi), Magic Disk merupakan album studio ke-6 mereka, dan baru kali ini mereka berani memasukkan sound baru dalam rilisan resmi. Terakhir band J-Pop beraliran alternative rock, atau ada juga yang bilang power pop ini (tergantung situs mana yang Anda baca) merilis concept album Surf Bun’gaku Kamakura yang seakan bernostalgia dengan warna musik mereka pada waktu awal2 muncul yang menghentak asik dan berdistorsi bermodalkan gitar rhythm, gitar melodi, bass dan drum seperti biasa. Magic Disk justru menjadi platform pembuktian bahwa ASIAN KUNG-FU GENERATION (daripada capek, selanjutnya gw singkat AKG saja, okey ^_^) siap untuk move on dan berkembang dalam bermusik *ampuun bahasa gweee*. Pokoknya udah jauh banget deh dari jamannya "Haruka Kanata". Tapi jujur gw sendiri mengendus keanehan ketika sebelumnya single “Shinseiki no Love Song” dan “Maigo Inu to Ame no Beat” serta “Solanin” muncul, lagu2nya bukanlah jenis2 lagu segera-nyantol seperti yang rilisan mereka sebelumnya, malah terkesan lemes dan lazy. Tetapi memang seperti itulah perkenalan mereka terhadap album Magic Disk yang menyimpan bunyi2an baru yang secara keseluruhan gw malah relatif suka.

“Shinseiki no Love Song” adalah track pembuka dan merupakan track paling “aneh” karena cenderung eksperimental. Dengan loop techno di dua-per-tiga awal lagu, serta vokal Masafumi Gotoh yang cenderung sing-talking di bagian verse. Itu baru awal, ternyata AKG kemudian mengundang bunyi brass section (trompet dkk) di “Maigo Inu to Ame no Beat”, perkusi di “Last Dance wa Kanashimi wo Nosete”, synthesyzer di “Microphone”, serta kembali loop digital dan penggunaan gitar akustik ekstensif di “Rising Sun”. Namun, track yang patut mendapat pujian tertinggi gw adalah “Kakuu Seibutsu no Blues”, yang nampaknya salah satu lagu AKG paling mellow, sekaligus yang paling berhasil mengintegrasikan instrumen AKG dengan string section dengan sangat nyerep sekali. Selama ini mereka cuman pake string section waktu konser, tapi kali ini usaha untuk memakainya di studio berbuah manis.

Dalam hal susunan lagu, meski dibuka dengan “pengejut” di track pertama, 2 track selanjutnya cenderung ala AKG-banget baik nada maupun hentakannya yang sayangnya jadi agak boring. Untung saja keboring-an itu dipatahkan oleh track 4 hingga akhir. “Sayonara Lost Generation” dengan cepat jadi lagu paling gw suka di album ini, melodinya catchy yang dibungkus irama santai tapi ganas di chorus yang kuat, liriknya pun bagus tentang pandangan mandeg generasi muda akhir2 yang cenderung skeptis dan pesimistis. Track favorit gw lainnya adalah “Daidai” yang seakan menggabungkan lagu2 ber-“aura positif-ceria” lawas mereka “Loop&Loop” dan “Korogaru Iwa, Kimi ni Asa ga Furu” yang dijamin ke-catchy-annya. “Aozora to Kuroi Neko” pun masuk jajaran favorit gw karena terdengar emosional dan kuat dengan vokal yang harus mengambil range nada yang luas (fragile tapi cukup berhasil), namun tanpa harus digeber abis, mirip pop-rock Amerika awal2 2000-an. Lalu ada “Kakuu Seibutsu no Blues” tadi, serta “Rising Sun” yang terkesan usil, mulai dari melodi, vokal, hingga tiap2 instrumen yg kali ini miskin riff gitar elektrik, menyenangkan sekali didengarnya.

Anehnya yang gw suka malah bukan single2 yang diandalkan mereka untuk mempromosikan album ini, hehe. “Solanin”, lagu tema film Jepang berjudul sama yang jadi bonus track pun menurut gw gak se-powerful lagu2 yang gw sebut di paragraf sebelumnya. Ada pula lagu yang gw nggak suka banget, “Yes”, yang nggak jelas sama sekali, kayak cuman ngejreng2 dan si Gotoh lagi ngomel.

Kalau boleh disimpulkan, dan ini pendapat dari seorang penggemar, Magic Disk bukanlah karya terbaik AKG, namun untungnya bukan yang terburuk. Setidaknya album ini tidak terjebak pada nuansa murung seperti di album ketiga mereka, FanClub. Lagipula bunyi2an baru yang dipersembahkan sama sekali tidak mengecewakan, tidak benar2 meninggalkan ciri khas AKG tapi juga tetap memberi warna baru, membuat Magic Disk punya nilai tambah tersendiri dibanding karya2 yang lain (ini jelas pendapat seorang penggemar, hehe)…dan tetep aja sering gw puter berulang-ulang. The magic is rather not grand but still acceptable.



My score: 7,5/10

 
ASIAN KUNG-FU GENERATION

Previews
mohon maaf karena Jepang, terutama Sony Music Japan itu agak banci copyright, previewnya cuman segini dan mungkin nggak lama bakal ilang =(. Courtesy of YouTube.


Solanin


Maigo Inu to Ame no Beat


Magic Disk



Daidai

Jumat, 15 Oktober 2010

[Album] MONKEY MAJIK - MONKEY MAJIK BEST ~10 Years & Forever~



MONKEY MAJIK – MONKEY MAJIK BEST ~10 Years & Forever~
(2010 – binyl records/Avex)

Tracklist:
1. fly
2. Around The World
3. フタリ Futari
4. Change (Monkey Majik + Yoshida Brothers)
5. 空はまるで Sora wa Maru de
6. Together
7. あいたくて Aitakute
8. ただ、ありがとう Tada, Arigatou
9. アイシテル Aishiteru
10. 虹色の魚 Niji-iro no Sakana
11. Open Happiness
12. MONSTER
13. SAKURA
14. FOREVER
15. Fast Forward
16. 大丈夫 Daijoubu
17. tired (remastered)
18. Lily (remix & remastered)
19. Livin’ in the sun (remastered)


Definisi band “blasteran” benar2 nyata dalam MONKEY MAJIK. Band J-Pop ini mengandalkan lokomotif vokal+pemegang gitar yang berwujud 2 bersaudara bule asli Kanada, Maynard dan Blaise Plant, beserta tax pada drum dan DICK pada bass yang—terlepas dari nicknamenya—asli Jepang. Tahun 2010 katanya sih menandakan 10 tahun adanya MONKEY MAJIK meksipun sebenarnya mereka baru dikenal luas melalu rilisan major label mereka tahun 2006 dengan single “fly”. Well, adanya orang2 bule nyanyi bahasa Jepang aja jelas udah menarik perhatian khalayak—dan menarik pecinta J-Pop di luar Jepang karena ada juga akhirnya artis J-Pop yang bisa dengan baik dan benar dan nggenah mengucapkan lirik berbahasa Inggris ^_^ *yaiyalah*, ditambah lagu2nya ternyata hampir semua ramah di kuping siapa saja, sehingga mereka sukses bertahan sampe sekarang setelah 3 album dan belasan single (entah kenapa berbeda dengan Mike Tramp ex White Lion yg gagal jadi terkenal ketika nyanyi lagu Indonesia hehe). Untuk merayakan itu, MONKEY MAJIK (atau perusahaan rekamannya) menelurkan kompilasi lagu2 terkemuka mereka dalam album MONKEY MAJIK BEST ~10 Years & Forever~.

Kisaran musik MONKEY MAJIK memang bisa terwakili lewat album ini. Pada dasarnya musik mereka pop-rock cenderung santai ala Amerika Utara, dengan melodi chorus yang gampang sekali nyantol di ingatan, namun dengan lirik gado-gado Jepang dan Inggris yang padu (mayoritas ditulis bareng oleh Plant bersaudara dan tax, mungkin buat bahasa Jepangnya), sangat enak didengar. Vokalis Maynard dan Blaise nyanyinya bergantian tapi sering juga berharmonisasi. Maynard suaranya sih polos standar orang bule, tapi bahasa Jepangnya jago banget ^_^, sedangkan sang adik Blaise suaranya lebih soulful dan berkarakter—I think girls would go crazy over his voice, malah kadang nge-rap juga. MONKEY MAJIK bukan mengusung musik yang aneh2, namun tidak bisa dibilang standar saja. Yah, seandainya Plant bersaudara berkarya di negeri asalnya, mungkin memang terdengar biasa, namun sentuhan ke-Jepang-an mampu memantapkan keasikan rasa musik mereka sehingga terdengar fresh.

Dalam kasus industri J-Pop, album “best” biasanya tidak asal pasang judul, dalam arti bahwa biasanya sang artis tidak pelit dalam memenuhi durasi album dengan sebanyak mungkin lagu—beda banget sama Indonesia yang pelitnya minta ampun. MONKEY MAJIK BEST ini pun dengan cukup murah hati memasang hampir semua single2 mereka (kurang 3 lagi yang memang nggak terlalu populer), bahkan lagu2 dari zaman masih independen yang di-remaster, ditambah 3 butir lagu baru, semuanya diurutkan dari waktu rilisnya, kecuali yang 3 track terakhir yang dianggap bonus track kali ye. Generally gw suka hampir semua track satu per satu, mulai dari “fly”, breakthrouh single mereka “Around The World”, “Aishiteru”, “SAKURA”, “Open Happiness” (lagu Coca-Cola “Buka Semangat Baru” versi Jepang, tapi versi album ini bagian “jingle iklan”nya di-remove, thank God), sampai lagu mereka yang menurut gw paling keren “Change”, kolaborasi MONKEY MAJIK dengan pemetik alat musik petik tradisional Jepang shamisen, Yoshida Brothers. Senang sekali semua lagu enak itu ada dalam satu album.

Hanya saja, tampaknya mengurutkan lagu2 sesuai dengan tanggal rilis bukanlah keputusan yang bijaksana. Terutama pada track 5 sampe 8 (“Sora wa Maru de”, “Together”, “Aitakute”, “Tada, Arigatou”) yang beat maupun nuansanya mirip-mirip, jadi rada boring karena terkesan monoton. Walaupun track2 setelah itu nggak sampe segitunya sih. Gw juga menyayangkan mereka urung memasukkan 2 single dari trilogi kolaborasi mereka tahun 2007 yang meskipun kurang populer, tapi menurut gw nggak kalah bagus, yaitu “Picture Perfect” bareng m-flo dan “Sotsugyou. Soshite, Mirai e” bareng SEAMO (satu lagi adalah “Change” yang berhasil masuk di album ini).

Kurang lengkap dan kurang sempurna sih, tapi sekali lagi, gw gak bisa memungkiri bahwa gw sangat menikmati lagu2 dari MONKEY MAJIK yang dikumpulkan di album ini (kecuali mungkin “MONSTER” yang agak maksa). Bahkan single independen “tired” dan terutama “Lily”nggak dinyana bagus2 juga. Sedangkan untuk lagu2 barunya, gw paling suka “FOREVER” yang agak anthemic, sedangan “Fast Forward” dan “Daijoubu” tidaklah istimewa. Namun biar begitu, MONKEY MAJIK BEST ini masih patut untuk mengisi koleksi pribadi, baik oleh penggemar J-Pop ataupun yang sekadar penggemar musik asik yang pantang dihalang perbedaan bahasa =).


My score: 7/10
MONKEY MAJIK
 
Preview:
iklan 30 menit berisi cuplikan lagu2 yang ada dalam album MONKEY MAJIK BEST ~10 Years & Forever~ courtesy of avexnetwork channel at YouTube

Senin, 11 Oktober 2010

[Movie] Eat Pray Love (2010)

Eat Pray Love
(2010 - Columbia)

Directed by Ryan Murphy
Screenplay by Ryan Murphy, Jennifer Salt
Based on the book by Elizabeth Gilbert
Produced by Dede Gardner
Cast: Julia Roberts, Javier Bardem, Billy Crudup, James Franco, Viola Davis, Richard Jenkins, Tuva Novotny, Hadi Subiyanto, Christine Hakim.


Numpang ria’ sedikit, Eat Pray Love tercatat dalam sejarah hidup gw sebagai film pertama yang gw tonton di bioskop Jepang *fufufufu*. Ya, saat tulisan ini diposting gw sedang “ditahan” di kota Osaka, Jepang selama beberapa minggu untuk urusan pekerjaan yang tetap tak berubah menyebalkannya *curhat*. Sebagai orang yang lumayan hobi ke bioskop, sebelum berangkat gw udah diwanti-wanti bahwa bahwa film2 Hollywood terbaru di Jepang cenderung selalu terlambat ditayangkan (mereka tidak tertarik dengan bajakan, entah terlalu taat hukum atau mungkin gak punya waktu untuk itu, entahlah, sok sibuk banget ni bangsa), juga mendengar pula konvensi “sopan santun” di dalam bioskop yang “konsentrasi menonton saja” alias tidak ada reaksi apapun mau lucu atau seram sekalipun filmnya (konon katanya kalo tertawa atau teriak itu “aneh”, idih), ditambah lagi harga tiket yang bisa buat 5 kali makan (di Indonesia paling 1-2 kali makan ya kan?). Nevertheless, gw hampiri juga salah satu bioskop besar yang ada di Osaka, dan kebetulan yang gw belum namun tertarik untuk nonton adalah Eat Pray Love ini.

Cukup bersombong-sombongnya, kita mulai ulasan film yang diangkat dari buku non-fiksi “curhat pribadi” seorang penulis New York, Elizabeth Gilbert, tentang pengalamannya pergi ke 3 tempat di dunia dalam rangka mencari “sesuatu” dari jiwanya yang terasa hampa. Liz (Julia Roberts) tampak luarnya sudah punya kehidupan yang jadi impian nyaris semua orang, punya pekerjaan enak sekaligus telah berumah-tangga dengan Stephen (Billy Crudup). Rupanya setelah menikah beberapa lama Liz baru sadar, ia masih merasa ada yang kurang, tidak punya semangat hidup, apalagi ketika banyak mengalami ketidaksehatian dengan sang suami. Liz pun merenung dan memutuskan untuk memulai perubahan dalam hidupnya: pertama adalah bercerai. Selanjutnya ia berhubungan dengan David (James Franco), aktor sekaligus guru yoga, tapi gagal juga—maklum, cuman rebound hehe. Tak lama kemudian Liz merencanakan eksperimen ekstrim dengan pergi dari kehidupan “nyaman tapi numb”nya di New York selama setahun: menikmati kesenangan duniawi di Italia, mencari keteduhan ilahi di India, dan ..err..liburan di pulau Bali, Indonesia. Liz menjalaninya sesuai rencana, meski tidak dapat juga menduga hal2 yang ia temui selama perjalanannya, yang kadang kala terasa menghalanginya dalam mendapatkan apa yang ia cari.

Kalo boleh gw merumuskan, film ini terdiri dari 4 babak utama. Babak pertama adalah bagian motivasi, tentang kehidupannya di New York yang menjadi cikal bakal Liz mencari jati diri keliling dunia. Sayangnya bagian pertama yang sesungguhnya penting ini malah kurang sekali kedalamannya, terasa dipaksakan, malah gw sempet mikir “gini doang ampe pengen keliling dunia?”. Babak kedua adalah “eat” di Italia, ini adalah bagian yang (sayangnya?) paling menarik dari 2 jam 15menit-an film ini. Bertemu teman2 baru, belajar bahasa+gestur bahasa Italia dengan cara yang lincah dan witty (no wonder, sutradaranya Ryan Murphy adalah kreator serial “Glee” yang bertone mirip), dan menyaksikan setiap makanan yang tampak lezat disantap oleh Liz (adegan khusus makan spageti adalah adegan favorit gw, slrrrpp *iler*). Bagian ini boleh dibilang dengan tepat menggambarkan apa yang dirasakan Liz, menikmati hal2 yang menyenangkan tanpa beban (dan the pleasure of doing nothing, mantap hehehe).

Babak ketiga adalah “pray” di sebuah asrama meditasi di India, kayaknya bagian ini agak gagal yah. Gw lebih merasakan gregetnya ketika Liz yang asli bercerita pengalamannya di Oprah Winfrey Show di TV beberapa tahun ke belakang, daripada penggambarannya dalam film ini. Drastis sekali dengan yang gw rasakan pada babak “eat”, babak “pray” gw nggak dapet apa-apa selain beberapa dialog lucu dan permainan oke dari Richard Jenkins sebagai Richard dari Texas (serius, di kredit nulisnya gitu ^_^). Sayangnya pula, mungkin demi keadilan, bagian2 berseting di India ini rasanya lamaa banget. Bagian yang gw sebagai orang Indonesia paling tunggu tentu saja babak di Bali yang tanpa diduga Liz sendiri menjadi babak “love”. Di bagian ini arah filmnya udah mulai membaik, yah meski nggak terlalu istimewa juga, tentang asmara dewasa Liz dengan seorang duda pengusaha asal Brasil, Felipe (Javier Bardem). Namun, menyaksikan pemandangan Bali yang otentik dan performa dari aktor2 Indonesia (Hadi Subiyanto sebagai Ketut Liyer dan Christine Hakim sebagai Wayan) yang jauh dari kata memalukan di dalam film high-profile produksi Hollywood menimbulkan kepuasan dan kebanggaan tersendiri.

Kalau mau dirangkum, secara keseluruhan film Eat Pray Love tidak membuat gw mengerti kenapa kisah Liz Gilbert ini versi bukunya bisa sangat laris dan “menginspirasi” sampe segitunya, gw memang belum baca bukunya, sayangnya film ini nggak bikin gw tertarik pada bukunya juga—emm, emang dasar gw gak suka baca buku sih, apalagi yang gak ada gambarnya =P. Ada sih beberapa potongan kalimat yang sukup mengena, tapi sampe film berakhir pun gw nggak ngerti apa yang dicari Liz dan apa yang sudah didapatkannya, apa mungkin karena pengaruh gw nonton gak pake subtitle yang gw mengerti? Entahlah, mungkin ceritanya memang menarik, tapi plotnya kurang bisa mentransfer secara baik makna emosional (bukan cuman kata2 bijak) yang tersimpan dalam ceritanya, meskipun jujur dibuat cukup lincah dan bagian lucu2nya boleh juga (gw beneran pengen ketawa, tapi satu bioskop sunyi begituh, jadi gw cuman ketawa-ketawa lewat napas aja *?*, eh ternyata sebelah gw ada juga kayak gitu, nampaknya orang Jepang yang satu ini paham makna “entertainment”, salut!).

Beruntung film ini diisi oleh aktor2 berbakat yang tidak bermain jelek, Julia Roberts cukup baiklah mainnya—well it’s not like she can’t act at all, namun penampilan yang bener2 mencuat jauh dari deretan aktornya sepertinya nggak ada. Soundtracknya pun enak didengar dan pas sekali dengan atmosfer filmnya. Namun yang benar2 menyelamatkan film Eat Pray Love bagi gw adalah bidikan jitu dari Robert Richardson sang sinematografer. Kecuali bagian India, aduh gambar2 dan pergerakannya meuni cakeuuup pisan, terutama bagian yang menyorot makanan2 di Italia (jadi inget Inglourious Basterds dan strudelnya Kol. Landa), serta pemandangan sawah terasering dan kebun nan elok di Bali, superb photography indeed, thank you Mr. Richardson.

But overall, Eat Pray Love bukanlah film yang istimewa, namun yaah…masih cukup layak ditonton. See you later aligator *logat kakek2 Bali*.



My score: 5,5/10

Jumat, 01 Oktober 2010

[Movie] Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole (2010)


Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole
(2010 - Warner Bros.)

Directed by Zack Snyder
Screenplay by John Orloff, Emil Stern

Based on the novels "Guardians of Ga'Hoole" by Katryn Lasky

Produced by Zareh Nalbandian

Cast: Jim Sturgess, Helen Mirren, Geoffrey Rush, Ryan Kwanten, Emily Barclay, David Wenham, Anthony LaPlagia, Abbie Cornish, Miriam Margolyes, Joel Edgerton, Sam Neill, Hugo Weaving, Richard Roxburgh, Debora-Lee Furness



Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole adalah persembahan
feature film kedua dari studio animasi (dan visual effect) CGI berbasis di Australia, Animal Logic, setelah sukses dengan karya perdana mereka Happy Feet yang memenangkan piala Oscar itu. Mengetahui itu, lucu juga bahwa studio ini mengambil kisah Ga'Hoole yang nggak jauh2 amat dari karya debutnya: sama2 burung ^_^. Mirip juga dengan Happy Feet, Ga'Hoole pun "memakai" insan yang tidak berlatar belakang animasi untuk duduk sebagai sutradaranya, kali ini orang itu adalah Zack Snyder yang dikenal mengepalai film2 bervisual keren 300, Watchmen, juga remake Dawn of the Dead...kalo rujukannya itu, nggak kebayang ya kalo Snyder harus bikin film dengan target penonton seluruh keluarga—berarti termasuk anak2, I mean kids are not supposed to watch Watchmen right?

Legend of the Guardians adalah dongeng berseting dunia burung hantu. Dua bersaudara burung hantu remaja ras Tyto, Soren (Jim Sturgess) dan Kladd (Ryan Kwanten) harus menghadapi kemalangan ketika keduanya diculik oleh burung hantu asing yang membawa mereka ke sarang Metal Bleak (Joel Edgerton) dan Nyra (Helen Mirren). Soren, Kladd dan anak2 burung hantu dari berbagai ras yang disekap di tempat yang disebut St. Aggie's untuk dijadikan:a) prajurit atau b)pemungut logam ajaib berkekuatan misterius, demi memuluskan rencana Metal Bleak dan Nyra untuk menguasai dunia per-burunghantu-an dengan menempatkan ras Tyto sebagai kasta tertinggi, Pure Ones (
pureblood versi burung hantu =P). Soren ingin pulang, sedangkan Kladd malah terlena dengan tawaran Nyra untuk jadi prajurit Pure Ones. Dengan bantuan burung hantu baik hati, Grimble (Hugo Weaving), Soren pun berhasil lolos bersama teman senasibnya, burung hantu kurcaci Gylfie (Emily Barclay). Namun kini mereka ditugaskan untuk mencari dan meminta tolong pada The Guardians of Ga'Hoole, laskar burung hantu dalam legenda yang memerangi kejahatan. Bergabung dengan sepasang tokoh seksi penggembira, Digger (David Wenham) dan Twilight (Anthony LaPlagia), Soren dkk pun tekun mencari markas para Guardian yg konon ada di pohon Ga'Hoole, demi mengalahkan rencana jahat Metal Bleak-Nyra, sekaligus menjemput kembali Kladd sang kakak.

Kalo ceritanya ditulis lagi, mungkin akan kelihatan bahwa kisah Ga'Hoole ini sudah biasa ditemui dimana-mana. Soren dkk bertemu dengan pahlawan dalam legenda
in person (err...pake "person" boleh gak ya?), Ezylryb alias Lyze of Kiel (Geoffrey Rush) yang kemudian melatih Soren menjadi burung hantu yang tangguh. Selanjutnya silahkan tebak....yup...yes...you got it...kira2 begitulah *sok interaktif* *halah*. Namun, cara film ini menyesuaikan kisah semacam itu dengan tokoh2 yang semuanya berwujud burung hantu adalah sesuatu yang menurut gw sangat mengesankan. Entah bagaimana buku aslinya, tetapi menurut gw film Ga'Hoole sukses dalam visualisasi fabel burung hantu yang sesungguhnya generik secara cerita, menjadi nggak terlihat konyol, malah justru fresh. Kembali lagi ke Happy Feet yang menurut gw sukses membuat film musikal yang dibintangi pinguin, Ga'Hoole pun tak kalah sukses membuat kisah kepahlawanan ala Lord of The Rings, Narnia dan...err..300, yang dilakoni oleh burung hantu. Segitunya kah? Not really, tapi keseruan dan kekerenan sepak terjang burung hantu ini hampir menyamai para homo sapiens dalam film2 di atas. Di sinilah kebiasaan dan gaya Zack Snyder yang gemar bikin slow motion tiba2 di tengah2 adegan kelahi berfungsi sangat maksimal. Ini cuma burung hantu lho, tapi adegan aksinya benar2 seru dan keren sampe gw berseru beberapa kali di bioskop *malu*. Dan lucunya, adegan2 perang/kekerasan keren itu rasanya masih dalam batas sangat aman untuk dikonsumsi anak2.

Visual keren bukan hanya dari adegan aksi semata, tapi juga dari "sinematografi",
art direction, serta gerak gerik dan gestur setiap spesies yang terlihat otentik, natural dan nggak maksa. Dari sini kita bisa lihat kemampuan exceptional para animator di Animal Logic dalam membuat animasi hewan yang sangat riil namun ekspresif, manusiawi tapi tetap berbentuk dan berlaku sebagaimananya hewan, bukan hewan yang dipaksain berlaku layaknya manusia. Liat dong cara terbangnya, lihat juga detail2 bulunya, just amazing. Hanya saja saking otentiknya, warna2nya jadi terkesan murung dan kurang ceria, desain fisik per karakternya pun jadi agak sulit dikenali, apalagi yang ras nya mirip2. Gw hampir gak tau mana yang emak mana yang abahnya Soren kalo mereka gak ngomong, Soren ama Kladd aja hampir sulit dibedain. Untung para pengisi suaranya, yang 80-sekian persen adalah kelahiran Australia, terbilang hidup, tidak kaku dan cukup menambahkan muatan karakter dalam setiap tokohnya. Paling berkesan adalah Helen Mirren sebagai Nyra, sedangkan David Wenham sebagai Digger yang humoris dan lovable terbilang menyegarkan.

Jujur gw puas menonton film ini, sangat menghibur, seru, aman tidak mencelakakan, serta asik dipandang. Mungkin kekurangan terbesar adalah
storytelling yang tidak sejago visualnya. Ceritanya yang menyimpan kompleksitas tersendiri *cieileeh* sepertinya diceritakan agak ekspres, mungkin mengingat film keluarga tidak mungkin berdurasi terlalu lama, jatuhnya kurang mendalam, sehingga yang keinget cuma burung hantu baik vs burung hantu jahat saling bertarung, belum cukup berdaya merasuki relung nurani tiap pasang bola mata yang menyaksikannya *diksi dramatis ala review majalah musik =P*. Namun untunglah karakterisasinya cukup memorable, humor2nya gak terlalu garing dan gak salah penempatannya, sound oke, musiknya pun cukup cantik (ada lagu baru dari Owl City, wah jodoh banget band sama filmnya). Intinya: worth to watch, dan versi 3D nya pun nggak mengecewakan. Peace, love and Ga'Hoole *kriik...kriiik*.



my score:
7,5/10