Sabtu, 21 Agustus 2010

My Top 25 Indonesian Songs of the 2000's

Menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 *udah lewat woy!*, rasanya enak aja untuk gw menggelar daftar lagu pilihan gw untuk dekade 2000-2009, khususnya untuk lagu Indonesia, setelah beberapa bulan lalu gw juga posting untuk yang lagu2 Jepang. Dekade ini mungkin adalah dekade yang cukup cerah bagi blantika musik Indonesia, karena begitu banyak karya yang dihasilkan oleh begitu banyak artis, kuantitasnya luar biasa. Kualitas, well tidak sepesat kuantitasnya, apalagi kalo bukan gara2 banyak artis yang baik konsep performa maupun warna (bahkan sampe cara main) musiknya mirip2. Tapi baiklah, terlepas dari itu, setidaknya dalam dekade ini pula musik (pop) Indonesia benar2 jadi raja di negeri sendiri (bagaimanapun caranya, hehe), melebihi musik2 impor, itu sebuah langkah awal yang baik.

Setelah mencoba mengingat-ingat, gw berhasil menyenarai 25 lagu Indonesia yang diterbitkan sepanjang tahun 2000-2009 yang paling berkesan, lalu gw urutkan berdasarkan penilaian ngasal: terbaik dari yang favorit *bingung kan?*. Gw berusaha terbuka terhadap kriteria “favorit”, untungnya gw gak terlalu fanatik sama artis tertentu, tapi tetep aja, yang kata orang bagus tapi gw gak suka, ya gak gw masukin. Makanya jangan heran kalo karya Slank atau Gigi atau Kahitna bahkan Agnes Monica absen, karena mnurut gw sepanjang dekade kmaren karya2 mereka belum begitu membekas di gw. Jangan tanya juga soal Peterpan, Ungu, ST12, Kangen, atau T2 (=.="), karena sejak awal gw emang nggak suka *there I said it*.


Sedikit keterangan, gw membuat kriteria yang masuk daftar, satu artis satu lagu saja, dan dengan terpaksa gw hanya memasukkan lagu2 yang setidaknya dominan berbahasa Indonesia, jadi mohon maap ya buat Mocca dan Endah N Rhesa (T-T <- sedih karena peraturan yang dibikin sendiri, mulai gila).


Daann…..inilah 25 lagu Indonesia pilihan gw untuk periode 2000-an:



25. Hapus Aku – Nidji (2006)


24. Semua Tak Sama – Padi (2001)

23. Roman Picisan – Dewa (2000)


22. Ruang Rindu – Letto (2005)


21. Menjaga Hati – Yovie & NuNO (2007)

20. Januari – Glenn Fredly (2002)

*dari sekian banyak lagu patah hati Glenn Fredly (yang diduga terinspirasi dari 1 orang yang sama =P), ini yang paling nendang buat gw.


19. 3 Hari Untuk Selamanya – Float (2007)


18. Aku Rela – Naif (2002)

17. Berharap Tak Berpisah – Reza (2002)

16. Seberapa Pantas – Sheila On 7 (2002)

*saya generasi yang tumbuh mengidolakan SO7, jadi inget jaman nge-band SMP (curhat)


15. Pandangan Pertama – RAN (2007)


14. Saat Kau Tak Di Sini – Jikustik (2000)

13. 50 Tahun Lagi – Warna (2006)

12. Dangdut Is The Music Of My Country – Project Pop (2003)

*salah satu anthem persatuan yang pantas jadi lagu wajib nasional (lebay ah)


11. Takkan Terganti – Dea Mirella (2001)

*lagu yang dalam 10 tahun sudah di-cover at least 2 kali oleh Kahitna dan Marcell, memang salah satu masterpiece Yovie Widianto.



10 teratas ada previewnya, lumayan buat nostalgia hehe

10. Menjemput Impian – KLa Project (2000)

Salah satu “karya emas terakhir” KLa Project sebelum mereka kayak kehabisan tenaga di kemudian hari hingga sekarang. Tapi tetap sebuah lagu yang cantik baik dari segi lirik, melodi dan aransemen.






9. Terdiam – MALIQ & D’ESSENTIALS (2005)

Salah satu band yang berani membawa warna musik yang berbeda, “Terdiam” adalah lagu debut yang bisa membuat orang2 yang mendengarkan terdiam: emang mereka keren *jempol*





8. Sabtu Minggu – Sandy (2005)

Simply the sweetest love song of the decade, agree?






7. Senandung Maaf – White Shoes and The Couples Company (2005)

Lagu yang memegang teguh prinsip ke-vintage-an, baik dari musik, warna vokal, dandanan (kayak foto2 nyokap gw pas muda), gestur dan gerak, bahkan liriknya pun sangat “evergreen hits”, in a very good way.






6. Selalu Denganmu – Tompi (2005)

Tenang, santai, manis, berbobot, nggak kacangan, kurang apalagi? Oh, Tompi adalah salah satu artis pria terbaik dan paling berkarakter generasi sekarang, indeed.






5. Kuat Kita Bersinar – Superman Is Dead (2009)

Satu2nya karya Superman Is Dead yang gw suka, dan gw suka banget. Lagu berpesan positif yang penting juga asik sekaligus.
(Preview-nya audio only ya)





4. Kenakalan Remaja Di Era Informatika – Efek Rumah Kaca (2008)

Mengandung kebenaran dari kenyataan, kena tepat sasaran tanpa harus vulgar, kritik yang sama sekali tidak ofensif. Beautifully written. Gak ada yang bisa selain Efek Rumah Kaca.






3. Selebihnya Dusta – Tere (2003)

Lagu ini underrated sekali mnurut gw. Lagunya bagus dan asik, catchy, aransemennya nggak standar, dan gw masih suka sampe sekarang, bahkan ketika si penyanyi udah jadi anggota MPR sekalipun, hehe.






2. Luka Lama – Cokelat (2001)

Mnurut gw pribadi, Cokelat hanya bagus di album keduanya “Rasa Baru”, dan lagu ini adalah lagu terbaik mereka. Ringkas dan pasti terngiang-ngiang, warna rock nya nggak maksa. Very very good song.






1. Hampa – Ari Lasso (2003)

Ari Lasso adalah contoh yang benar-benar langka di blantika musik Indonesia. Setelah “dipecat” dari band besar, bandnya tetap besar, begitu juga Ari sebagai artis solo. Lagu2nya nggak ada yang berkualitas buruk sekaligus nggak ada yang nggak disukai, bahkan sampe sekarang. However, “Hampa” bagi gw adalah karyanya yang exceptional. Simpel, namun begitu membekas. Salah satu lagu Indonesia terbaik yang pernah dibuat *kali ini nggak lebay, dari hati bener*.






Aneh, gak ada rilisan 2004 *bingung*. Apakah favoritmu ada di daftar ini?
Maju terus musik Indonesia!

Selasa, 17 Agustus 2010

[Movie] The Expendables (2010)


The Expendables
(2010 - Lionsgate/Millennium Films)


Directed by Sylvester Stallone
Story by Dave Callaham

Screenplay by Dave Callaham, Sylvester Stallone

Produced by Kevin King Templeton, John Thompson, Kevin King, Avi Lerner

Cast: Sylvester Stallone, Jason Statham, Jet Li, Dolph Lundgren, Eric Roberts, Randy Couture, Terry Crews, Steve Austin, David Zayas, Giselle Itié, Mickey Rourke, Charisma Carpenter, Bruce Willis,
Arnold Schwarzenegger


Tak perlu kaget kalo The Expendables rame penontonnya di bioskop. Sejak dulu
kan orang Indonesia suka nonton film action, lagipula film ini dipenuhi oleh bintang2 laga dari zaman dulu hingga sekarang yang cukup dikenal masyarakat kita. Siapa gak kenal Sylvester Stallone si Rocky dan Rambo, siapa gak kenal Jet Li si Wong Fei-hung, Jason Statham si Transporter dan Crank juga pasti banyak yang tau, Dolph Lundgren dan film2 martial arts kelas B-nya cukup sering wara-wiri di TV kita di era 90-an, “Stone Cold” Steve Austin sempat sering terdengar namanya waktu tayangan gulat boongan WWE jadi fenomena, tambah lagi Bruce Willis dan si governator Schwarzenegger yang ikut mejeng sebentar, ini sudah cukup alasan untuk menonton The Expendables.

So the idea is, opa Stallone ingin mengumpulkan pemain2 bintang dalam sebuah film action yang akan memuaskan masing2 penggemar mereka maupun penonton awam. Ceritanya mah gak masalah, yang penting bisa mengakomodir ide di atas. Maka dibuatlah plot standar yang mudah dan cukup efektif. Bukan, bukan balas dendam lewat turnamen bela diri, yang standar satunya lagi: sekelompok tentara bayaran berkeahlian tinggi bertugas menjatuhkan pemimpin diktator sebuah negara. Diwarnai dengan sedikit drama yang kurang penting, keraguan dan pengkhianatan instan, jadilah kisah ini sebagai lem adegan2 aksi yang jadi porsi utama. Memang pasti akan ada pertanyaan “lha, bisa gitu” atau “lho, kok begini”, tapi semua dipatahkan oleh sebuah penggalan dialog antara Stallone dan sang damsel in distress Giselle Itié:
Sandra (Itié): “how did your get in here?” (kok bisa masuk ke sini?)
Barney (Stallone): “I just…in” (pokoknya sampe aja)
Jadi kalo merasa ada yang janggal dengan detailnya, ya sudahlah, terima saja. ^0^

Di luar itu, The Expendables adalah film yang menepati janji. Dengan cerita yang sangat klise, opa Stallone berhasil menyajikan adegan demi adegan film ini dengan tepat takarannya tak terkecuali untuk masing2 bintangnya. Adegan aksinya nendang cuy! Nggak terlalu lebay namun gak ragu2. Klasik, tapi tetap mengundak decak kagum karena eksekusi yang baik. Dari aksi pembukaan di kapal bajak laut Somalia, Stallone dan Statham lawan belasan tentara, nembak2in dermaga dari pesawat, kejar-kejaran mobil, masang bom, hingga ke adegan klimaksnya, hell yeah! Drama gak pentingnya bisa aja dirasa kelamaan (karena gak penting), cuman itu jadi selingan yang pas agar kenikmatan menyaksikan adegan2 aksinya jadi meningkat. Cara ini justru lebih efektif ketimbang model non-stop action.

Pemasangan aktor2 ternama juga rasanya tidak terlalu mubazir. Opa Stallone bermain begitu-begitu aja tapi tetep nggak bisa dikomplain, demikian juga Jet Li yang aksi khasnya muncul juga walau singkat, sedangkan Lundgren tampil nggak banyak tapi cocok juga dengan peran kasar dan telernya itu. Jason Statham on the other hand adalah pahlawan gw di film ini, selain pembawaannya yang asik,
gaya dan gesturnya waktu berlaga tuh keren banget ya *jempol*, manteph. Porsi aksi juga diramaikan oleh mantan peserta Ultimate Fighting Championship Randy Couture serta si Stone Cold Steve Austin yang sedikit dialog tapi banyak banting2an, sedangkan mantan bintang American football NFL Terry Crews tampil cerewet tapi dengan persenjataan yang lebih “bawel” lagi, membuat film ini makin hingar bingar tapi anehnya bagi gw tidak terkesan bising. Bagusnya lagi, penampilan non-laga dari Mickey Rourke sebagai mantan anggota Expendable dan Eric Roberts sebagai villain utamanya menambah nyawa film ini dengan akting yang baik. Khusus oom Rourke, gw kebanyakan gak ngerti sih dia ngomong apa (=_=”), tapi cara dia ngomong itu sangat meyakinkan, nice job Sir *iyalah kelas Oscar*.

Dengan dialog2 yang singkat tapi lucu2 juga, sinematografi dan sound yang tidak mengganggu, walaupun visual effectnya justru agak mengganggu (untung gak banyak), tapi The Expendables adalah film yang nikmat ditonton sebagai hiburan yang tidak mencelakakan. “Isi”nya sih dangkal dan kosong, tapi tetap saja film ini tidaklah rugi jika ditonton, apalagi buat yang gemar brantem2an, tembak2an, kejar2an, perang2an, ledak2an, darah2an, serta wanita seksi berkaos 1 lapis sedang berlari (@_@), The Expendables jauh dari kata mengecewakan. Eh dari tadi gw nggak nulis jalan ceritanya ya? Halah, who cares…




My score: 6/10


Jumat, 13 Agustus 2010

[Movie] The Last Airbender (2010)



The Last Airbender
(2010 - Paramount)

Written, Produced, and Directed by M. Night Shyamalan

Based on the Nickelodeon series "Avatar: The Last Airbender" created by Michael Dante DiMartino, Bryan Konietzko

Produced by Sam Mercer, Frank Marshall

Cast: Noah Ringer, Dev Patel, Nicola Petz, Jackson Rathbone, Shaun Toub, Aasif Mandvi, Cliff Curtis



Dengan menggunakan asas praduga tak bersalah, The Last Airbender mungkin adalah film yang paling terdzalimi tahun ini di media massa baik formal maupun non-formal, mungkin saingannya cuman Susno Duadji. Silahkan cek ke situs film, kritik film, maupun blog2 yang membahas tentang film semua menghakimi film ini adalah film ancur-jelek-parah-merusak-merugikan dsb dsb. Alih-alih bilang bagus, yang bilang “just okay” pun se-langka harimau Sumatra. Lucunya, mendengar itu di benak gw malah terbesit “gw harus ikut jadi saksi ke-ble’e-an film ini”, mungkin dengan harapan film ini bakal jadi Transformers 2-nya 2010, yang telah menghasilkan review terfavorit saya pribadi di blog ini, hehehehe. The Last Airbender adalah versi film live action dari serial kartun di saluran anak Nickelodeon, “Avatar: The Last Airbender” atau di sini dikenal sebagai “Avatar: The Legend of Aang”. Sayang sekali judul Avatar dicolong oleh James Cameron untuk film 3-dimensi-nya di akhir 2009 (yang bahkan pemakaian istilah “avatar” dengan cerita filmnya tidak se-intens di The Last Airbender). Gw gak pernah nonton kartunnya (yg menurut gw agak Naruto-wannabe), tapi gw taulah Avatar ini cukup populer terutama di kalangan anak2. Buktinya bisa dilihat di sampul buku tulis, tas, alat tulis, kaos dsb ^_^.

But anyway, konon film The Last Airbender menceritakan ulang season 1 dari serialnya. Ini dunia fantasi, ada 4 bangsa: Tanah, Udara, Air dan Api, dan tiap2 negara punya orang2 khusus yang dapat mengendalikan unsur masing2 sesuai namanya (earthbender, airbender, waterbender, dan firebender) termasuk membuatnya jadi alat bertarung. Di seting filmnya, bangsa Api tengah berusaha menguasai dunia dengan menyerang dan menindas bangsa2 lain. Yang dapat menghentikannya hanya satu orang, yang disebut Avatar, yang punya kemampuan mengendalikan keempat unsur yang ada di dunia, sekaligus sebagai penjaga keseimbangan dan perdamaian. Muncullah Aang (Noah Ringer). Meski bertubuh kecil, ia sebenarnya terkubur di es selama hampir 100 tahun sebelum ditemukan oleh waterbender amatir Katara (Nicola Petz) dan kakaknya yg bloon Sokka (Jackson Rathbone). Long story short, bangsa Api pun confirm bahwa Aang adalah sang Avatar yang dapat mengancam kekuasaan bangsa Api. Maka Aang pun diincar, baik oleh Commander Zhao (Aasif Mandvi) secara resmi atas perintah Raja Ozai (Cliff Curtis), maupun oleh sang pangeran terbuang Zuko (Dev Patel) yang ingin membawa Avatar ke kerajaannya untuk mengembalikan statusnya sebagai putra raja.

Dengan itu sebagai basis plot, film pun berjalan dengan format petualangan (yang diper-) singkat. Meski sudah ditentukan sebagai sang Avatar, rupanya Aang belum belajar untuk mengendalikan unsur2 lain selain udara. Berdarakan siklus apalah-itu, Aang pertama-tama harus belajar
waterbending, dan tempat terbaik adalah di negeri air utara (atau apalah namanya), skalian belajar dasar2nya dari si Katara dalam perjalanan. Nah, kalau Aang ke sana, maka bangsa Api pun juga manut ke sana, sehingga perang di negeri air utara itu pun sudah di ambang pintu.

Jadi, apakah saya akan turut ikut dalam aksi global merajam film ini karena kualitas yang katanya buruk?
Well, film ini memang bukan film yang bagus, lemah lah. Gw cukup terganggu dengan akting pemain utama yang seadanya—apalagi untuk ukuran film berbujet besar, juga pada beberapa cut-to-scene yang patah-patah. Gw juga ngerasa terganggu sama suaranya Nicola Petz sebagai Sokka yang berperan juga sebagai narator, nggak enak ah gayanya. Dangkalnya karakter, dialog dan motivasi yang tiba2 muncul secara nggak smooth pun juga bikin agak gimana gitu. But…

I actually quite enjoyed it
, lho O_o. Ini film berdasarkan kartun, jadi cerita dan karakternya, bahkan visualisasinya mirip kartun, tapi dalam level yang sedikit lebih serius dan lebih mewah lah untuk tampilan sinema. Menurut gw, jalan ceritanya nggak mengesalkan, gw masih bisa menikmati, menelan dan mengerti apa aja yang diceritakan, walau memang penceritaannya kurang baik dan intens, tapi sebab akibatnya masih bisa dipertanggungjawabkan dan gw memperoleh cukup informasi mengenai dunia Avatar ini. Harus diakui pula, bahwa secara visual The Last Airbender sama sekali tidak memalukan (yang bilang jelek pasti karena udah sentimen =P *kalimat ala fanboy*). Efek visual CGI bagus dan serius, art direction serta kostumnya pun jauh lebih niat dan menarik dilihat daripada Clash Of The Titans misalnya. Penataan adegannya masih membawa kebiasaan sang sutradara M. Night Shyamalan yang suka merekam orang ngobrol dalam posisi statis (sayang aktor2nya kebanyakan gak bagus mainnya), banyak pake adegan one-take-shot bahkan di adegan aksi. Adegan aksinya boleh juga (adegan aksinya beberapa mirip 300: slow motion zoom in-zoom out), sinematografinya pun cakep kok, nggak memusingkan, dan penonton diberi cukup waktu untuk menikmati pemandangan dunia Avatar ini. Dan at least klimaks dan ending nya lebih jelas daripada 2 film terakhir M. Night Shyamalan =_=”.

Oke penilaian gw mungkin karena menonton dengan trik yang tepat, pertama: sedang tidak stress di pekerjaan atau di jalan atau ngantri tiket. Kedua: gw menghindari versi 3-Dimensi, karena film ini bukan “dibuat 3-D” tapi hanya “ditayangkan 3-D” jadi pasti efek 3-D nya maksa banget, lagian mahal tiketnya. Ketiga: ekspektasi yang sangat sangat rendah,
thanks to my film reviewer colleagues ^_^, seperti waktu gw nonton Ninja Assassin, gw kira bakal ancur banget, namun ternyata hanya retak-retak, gak ancur. Kelemahan film ini memang cukup fatal, penceritaan yang agak kasar, aktor yang kualitasnya sekelas aktor2 di Twilight *ups*, dan kurangnya intensitas di sebagian besar adegan. Tapi The Last Airbender masih bisa diselamatkan oleh visual serta musik yang oke, dasar cerita yang menarik, serta penampilan salah 2 dari aktor yang bermain paling bagus dan memang bagus: Dev Patel dan Shaun Toub, alhasil Zuko dan oom Iroh adalah tokoh2 paling menarik dan simpatik di film ini.

Nonton The Last Airbender seperti melihat pemandangan indah dari dalam mobil lewat jalan gronjalan,
you’ll still enjoy the view one way or another. Nggak sejelek-banget itu ah. Mungkin untuk bisa menikmatinya perlu trik keempat dan yang paling kunci: ingat bahwa film ini targetnya anak-anak dan pra remaja, sekitar 6-14 tahun, dan gw cukup yakin yang umur segitu bakal menikmati film ini, maka "jadilah" berumur 6-14 tahun kala menonton. Mungkin jiwa gw emang masih umur segitu kali ye (eh muka juga lho *huehuehueheu =P*). Just wait for the sequels guys (film ini “Book One: Water”, Aang cuman belajar waterbending, yang lain belum ^_^), katanya Shyamalan nggak akan menyutradarai, which is a shame karena gw lebih milih dia jadi sutradara daripada penulis naskah, aneh ni orang kalo bikin dialog =.=’.



My score:
6/10


Selasa, 03 Agustus 2010

[Movie] The Diving Bell and The Butterfly (2007)


Le Scaphandre et le Papillon
The Diving Bell and The Butterfly

(2007 – Pathé/Miramax)

Directed by Julian Schnabel
Screenplay by Ronald Harwood
Based on the book by Jean-Dominique Bauby
Produced by Jon Kilik, Kathleen Kennedy
Cast: Mathieu Amalric, Emmanuelle Seigner, Marie-Josée Croze, Anne Consigny, Marina Hands, Max von Sydow



Ini baru namanya BPB—bukan pelm biasa. Entah gimana, pembuat filmnya sanggup mengolah kisah seseorang yang mengalami kelumpuhan total—kecuali otak dan mata kirinya, menjadi sebuah film,
but they did it, malah jadi film yang sangat layak tonton. The Diving Bell and The Butterfly diangkat dari otobiografi mantan editor majalah Elle Prancis, Jean-Dominique Bauby, atau disapa Jean-Do (Mathieu Amalric) di masa kelumpuhannya. Iiiyak betul, dia bikin otobiografi dalam keadaan lumpuh. Nah lho...gimana caranya?

Di situlah letak kekerenan film berbahasa Prancis ini—meski sutradaranya dan produsernya dari Amerika. Dengan cerdas, penulis Ronald Harwood dan sutradara Julian Schnabel benar2 mengambil sudut pandang dari Jean-Do secara dominan sejak awal hingga akhir. Film dimulai ketika Jean-Do tersadar di rumah sakit setelah sekian lama, dan mengetahui keadaannya saat itu setelah dijelaskan oleh tim dokter. Jean-Do mengalami apa yg disebut
locked-in syndrome: meskipun secara kesadaran jiwa normal, tubuhnya lumpuh total, tidak bisa merasa apalagi bergerak, bicara juga nggak bisa, hanya bisa mendengar dan menggerakkan mata, itupun mata kanan-nya musti dijahit karena kelopaknya gak bisa kedip (takut infeksi). Bener2 terpenjara di tubuh sendiri. Nah, sebagian besar film, gambar yang ditampilkan adalah lewat sebelah mata Jean-Do itu, karena hanya lewat itulah Jean-Do dapat berkomunikasi dengan orang lain. Salah seorang terapisnya, Henriette (Marie-Josée Croze) menemukan cara berkomunikasi dengan Jean-Do: menandai huruf lewat kedipan. Ribet lah, tapi efektif, Jean-Do berangsur-angsur bisa mengungkapkan perasaannya lewat huruf demi huruf, bahkan membuat sebuah buku otobiografinya dengan cara demikian.

Frustrasi? Mnurut loe? Namun jangan mengira film ini akan mengeksploitasi penderitaan Jean-Do dengan haru biru ala sinetron Jepang dan Korea. Lewat kisah inilah penonton diajak untuk ikut mengalami apa yang dialami Jean-Do lewat berbagai sisi, mulai dari kegusarannya, kesedihannya, hingga pada kebangkitan semangatnya. Juga cara dia
move on dan berusaha tetap waras dalam kondisinya meskipun dokter pun belum tau apa penyebab pasti sakitnya dan cara menyembuhkannya. Kita diajak mengenali sosok Jean-Do lewat narasinya yang agak witty, lewat imajinasi dan kenangan masa lalunya—flashbacknya lumayan banyak, juga lewat interaksi dengan orang2 di sekitarnya. Jean-Do bukanlah orang suci, ia punya 3 anak dengan Céline (Emmanuelle Seigner)—kayaknya nggak nikah, yang paling sering mengunjunginya pada saat2 seperti ini, namun sebenarnya hatinya hanya tertinggal pada Joséphine (Marina Hands), yang justru tak sekalipun pernah mendatanginya sejak sakit. Urusan hati ketiga orang memang mendapat porsi penting di film ini, tidak banyak, tapi berkesan—gw suka adegan pada suatu hari Minggu ketika staff rumah sakit libur dan Jean-Do hanya ditemani Céline, Joséphine nelpon =]. Selain itu ada pula sepasang adegan Jean-Do dengan ayahnya (Max von Sydow) yang sangat menyentuh. Adegan2 favorit gw ini hanya beberapa contoh, bahwa biarpun tidak konvensional, film ini tetap begitu membumi dan mengusik nurani *alah lebay*.

Kisah menyentuh dan inspiratif dengan pendekatan yang menarik dan menggugah adalah senjata utama The Diving Bell and The Butterfly ini. Betapa arifnya pula film ini dikemas dengan kelengkapan teknis yang
magnificent. Sinematografi arahan Janusz Kaminski udah gak bisa ditawar lagi kerennya, bisa2nya dibikin mirip gerakan mata Jean-Do, apalagi dengan gayanya yang suka seenaknya miring2in kamera, tapi rasanya tepat guna dan cantik. Editingnya sangat bagus, art directionnya cakep, serta ditemani oleh soundtrack yang sangat mendukung. Penampilan para aktornya pun bisa dibilang terpuji. Interaksi mereka dengan tokoh Jean-Do sangat believable dan tidak kaku. Mathieu Amalric pun sanggup membawa perannya dengan baik meski sebagian besar hanya berupa suara lewat narasi, tapi mungkin karena tampilan fisiknya yang agak antik jadi screen-presencenya pun terkesan kuat meski hanya tampak beberapa kali saja.

The Diving Bell and The Butterfly mungkin saja akan terasa panjang dan menjemukan bagi penonton yang mencari melodrama amat sangat. Namun buat gw, film ini adalah salah satu film
biopic terkeren yang pernah gw tonton. Ini film biopic yang digarap dengan dramatisasi tidak biasa, namun lebih menggugah dari yang biasa-biasa. Gw sih nggak bosen nontonnya. Very good. Très bon <- *nyontek di Google translate =P*.



My score: 8,5/10


Minggu, 01 Agustus 2010

[Movie] Shanghai (2010)


Shanghai
(2010 - The Weinstein Company)

Directed by Mikael Håfström
Written by Hossein Amini
Produced by Mike Medavoy, Barry Mendel, Jake Myers, Donna Gigliotti
Cast: John Cusack, Gong Li, Chow Yun-Fat, Ken Watanabe, David Morse, Franka Potente, Rinko Kikuchi, Jeffrey Dean Morgan



Shanghai hakikatnya adalah proyek ambisius, sebuah
joint venture internasional secara denotatif: sutradara Swedia, penulis keturunan Iran, sinematografer Prancis, komposer Jerman, editor dan desainer produksi Inggris, aktor2 dari Amerika, Hong Kong, Jepang, Jerman, Inggris, berseting di China syuting di Thailand dan London…campur2 layaknya penduduk kota Shanghai dalam filmnya. Shanghai ini adalah salah satu film yang memaksa gw untuk memasang ekspektasi yang besar. Dari trailernya yang menggoda lewat seting, kostum dan sinematografinya yang tampak cantik, premis yang lumayan, sampai yang terutama adalah barisan cast-nya yang sangat menggiurkan. Jika ada hal yang tampak meragukan, adalah sang sutradara yang belum dikenal terlalu luas dan belum punya track record yang kinclong untuk memancing harapan tinggi dalam menggarap film kelas internasional seperti Shanghai ini. Singkatnya Shanghai punya hampir segala bahan untuk menjadikannya sebuah karya yang baik, tapi, tapi, yang terjadi tidaklah demikian adanya.

Shanghai, China tahun 1940-an adalah miniatur dunia saat itu. Kota perdagangan internasional yang ramai, juga arena berbagai kepentingan beradu, dimana pihak2 berseberangan saat itu, Amerika-Inggris-Prancis dan Jerman-Jepang, dengan China sebagai
host-nya, berbaur di satu kota. Film ini berjalan ketika Jepang sudah menguasai China, namun tidak sepenuhnya Shanghai. Paul Soames (John Cusack) adalah seorang wartawan yang juga adalah agen intelijen AL Amerika Serikat di kancah perang dunia II. Sahabatnya, Connor (Jeffrey Dean Morgan) tewas ditembak secara misterius di distrik Jepang (ada apa dengan Morgan dan peran2 yang mati di awal film? =_=). Mengingat Connor adalah agen intel/mata-mata yang sedang dalam pengumpulan informasi, dan seandainya identitasnya itu terungkap, maka tersangkanya akan banyak sekali. Soames pun mulai menyelidikinya sedikit demi sedikit, namun di saat yang sama juga terlibat dalam lingkaran politik di kota itu lewat kedekatannya dengan Anna (Gong Li), istri dari dedengkot mafia Triad di Shanghai, Anthony Lan Ting (Chow Yun-Fat), bahkan berkenalan dengan kapten Jepang yang berkuasa di Shanghai, Tanaka (Ken Watanabe), yang bukannya tak mungkin berkaitan dengan kematian Connor.

Kalo dari segi cerita, gw sebenernya gak ada masalah. Malah naskahnya dengan baik menjelaskan suasana Shanghai jaman itu tanpa terlalu menganggu, dan keterkaitan sebab-akibat plotnya pun bisa dipertanggungjawabkan,
revelation misterinya pun jatuhnya tidak terlalu konyol—plus dialognya tidak dipaksakan selalu berbahasa Inggris, made sense lah penggunaannya. Memang benang merahnya misteri kayak detektif2an, tetapi lumayan oke juga dalam memasukkan drama dan intrik yang sebenarnya menarik. Ini sangat didukung oleh visualisasi Shanghai masa perang dunia II yang luar biasa bagusnya, terutama karena art directionnya yang mantep surantep top markotop banget dah dengan detil2nya (ternyata production designernya juga yang bikin seting Children of Men, pantesan ^_^), juga tata kostum dan sinematografi yang berkelas—bernuansa noir, mengingatkan gw sama Road To Perdition dan Kala. Penampilan aktornya sih tidak istimewa sekali, tapi sama sekali tidak buruk, tidak mencemarkan nama baik mereka, bahkan gw bilang John Cusack oke banget di sini, I can’t recall he has been this good before. Rasanya itu sudah cukup membuat film ini watchable bagi gw…but not really.

Tapi bener, sesungguhnya film ini termasuk kategori nggak rugi ditonton. Hanya saja film ini seperti tidak di-
deliver dengan semestinya. Misterinya nggak bikin penasaran2 amat, serta kurangnya intensitas dalam adegan2 yang seharusnya menjadi grafik naik mood film ini. Entah apa sektor editing bisa disalahkan (editingnya emang kurang mantep), atau musiknya yang kayak numpang lewat saja, tapi rasanya emang secara keseluruhan, perasaan “kurang” menyelimuti gw selepas nonton. Bisa jadi penataan adegannya yang memang tidak memberi impact yang berarti buat gw, terlalu generik. Harusnya filmnya nggak datar lho, wong banyak peristiwa2 yang seru kok, tapi ya tetep aja jadinya datar tuh. Klimaksnya yang "bergaya" pun jadinya agak klise kalo gak mau disebut basi.

Ada satu adegan yang cukup berkesan buat gw, sebuah adegan tanpa dialog ketika Mrs. Mueller (Franka Potente) nge-gep Soames sedang ngoprek2 kantor suaminya,
I think it’s the best scene in the film. Sayang sekali nggak ada lagi adegan2 lain yang yang sama membekasnya. Shanghai seakan jadi es campur (atau es Shanghai? =)) yang tampak cantik dan bahannya berkualitas, tapi diantar oleh pelayanan yang dingin dan tanpa senyum, could have been better. Namun untungnya secara keseluruhan film ini masih punya poin2 yang mencegahnya jadi film busuk. Dan jika memang produser eksekutif Weinstein bersaudara niat berpromosi, bisa jadi film ini nyelip di ajang Academy Awards, terutama untuk art direction, gw gak akan keberatan.



My score:
6,5/10