Sabtu, 31 Juli 2010

[Movie] Salt (2010)


Salt
(2010 - Columbia)

Directed by Phillip Noyce
Written by Kurt Wimmer
Produced by Lorenzo di Bonaventura, Sunil Perkash
Cast: Angelina Jolie, Liev Schreiber, Chiwetel Ejiofor, Daniel Olbrychski, August Diehl



Ngerasa gak sih film2 Hollywood musim
Summer (Mei-Agustus) tahun ini kurang cihuy? Sampe review ini diposting, buat gw film2 Summer 2010 hanya 1-2 yang memuaskan. Bahkan sejak awal waktu liat daftar2 film yg bakal rilis dalam periode ini, hanya 2 film yang bener2 menarik minat gw (alhasil cuman nonton sedikit saja), pertama adalah Inception—very good one, dan satunya lagi adalah Salt. Salt tampak menjanjikan karena film ini berbau konspirasi intelijen yang menjanjikan keseruan dan action, disokong oleh nama sutradaranya Phillip Noyce yg citranya tidak terlalu abal2 (Clear And Present Danger, The Quiet American), serta tentu saja sang bintang utama, si tukang angkat anak, Angelina Jolie, yang bukan kali ini saja bermain di ranah laga.

Premis Salt bisa dibilang klasik. Evelyn Salt (Jolie) adalah seorang mata-mata CIA yang pada suatu interogasi dituding sebagai mata-mata Rusia oleh Orlov (Daniel Olbrychski) yang juga mengaku sebagai agen Rusia yang membelot. Tudingan tak main-main tersebut tentu harus diproses, baik oleh kolega sekaligus sohib Salt, Ted Winter (Live Schreiber), maupun oleh Peabody (Chiwetel Ejiofor) dari pihak Contra-Intelligence—semacam provost nya CIA. Tidak sudi ditahan, Salt pun menggunakan keahliannya (yang absurd, khas film2 spionase lah) untuk melarikan diri dari kejaran Peabody dan Winter, berusaha mencari suaminya Mike Krause (August Diehl) yang menghilang pasca interogasinya dengan Orlov, sekaligus membuktikan bahwa dirinya bukan mata-mata…
or does she?

Secara struktural (hah?) Salt memenuhi kriteria yang diharapkan dari sebuah film action berlatar belakang spionase, CIA dan semacamnya, it did well. Ceritanya baik2 saja, bahkan mnurut gw plotnya walaupun tidak jenius ataupun orisinil, tetapi masih cukup oke dan rapih, cukup mudah dipahami, serta padu sama adegan2 aksinya—nggak asal nyambung. Keteganggannya ada, plot twistnya juga ada, banyak malah ^_^;. Angelina Jolie cocok lah memainkan Salt yang memang sejak awal terlihat keren dan baik2 saja tapi misterius, nggak malu2in. Membayangkan Salt sebagai trilogi Bourne versi perempuan memang nggak salah, karena memang film ini mengarah ke situ, terutama dari tampilannya dengan editing cepat, pertarungan yang dilihat dari dekat, kamera yang dinamis, aneka kejar2an, bahkan musiknya pun ketara sekali miripnya. Tapi semuanya terakit sebagaimana seharusnya. Lalu?

Well, maap2 saja, memenuhi standar ternyata belum cukup untuk memuaskan gw. Terutama pada adegan2 aksinya, cukup oke tapi masih banyak yang lebih oke di film lain. Penggunaan unsur emosinya kurang maksimal sehingga masih ada jarak antara gw dengan tokoh2nya. Gw sebenernya nggak bisa menyalahkan kurang dalemnya tokoh Salt karena tampaknya memang sengaja dibuat demikian, walaupun harus diakui motivasi-nya dalam melakukan segala sesuatu tetap misteri bahkan setelah filmnya abis =_=”. Tapi jelas no excuse buat pipihnya tokoh Winter dan Peabody, padahal sudah dimainkan dengan baik oleh masing2 aktornya. That’s okay sih, cuman bikin film ini jatuhnya kurang istimewa.

Terlepas dari itu, Salt masih boleh dijadikan pilihan, sebagai tontonan yang menghibur tanpa merugikan. Gw masih bisa menemukan dan menikmati poin2 bagus dari film ini. Beberapa adegan dibuat bagus—Salt menclok di tembok apartemen (emangnya burung kakatua =P), nembak2in kaca anti peluru *cool*, bombardir kapal Orlov dsb dsb. Sinematografinya pun terbilang nice. Beberapa hal menarik lainnya gw temukan dari segi detil cerita, yang cukup sulit gw ungkapkan karena berpotensi spoiler. Salah satunya adalah mengenai metode “pihak Rusia” untuk mencapai tujuan “menghancurkan Amerika” gw bilang masih bisa diterima akal, and rather sophisticated. Juga mengenai pernyataan Orlov di ruang interogasi bareng Salt ternyata tidak hanya pengakuan dan “let me tell you a story” belaka, tapi juga jadi semacam “pemicu” untuk “mengaktifkan” “sesuatu” *mulai ganggu ya, kebanyakan tanda kutip =P*. Dan jangan lupa, sex appeal Angelina Jolie dalam 3 gaya rambut berbeda selalu punya magnet tersendiri, tak terkecuali saat beradegan keras atau dalam keadaan bonyok sekalipun.

Salt, nothing special, lumayan.Kalo istilahnya Pak Bondan Winarno: boleh tahan. Atau kalau kata tweet gw tepat sehabis nonton: Salt seperti garam meja Refina, enak tapi nggak terlalu asin.



My score: 6,5/10


PS: satu lagi misteri: di poster dan publikasi lainnya, naskah Salt ditulis oleh Kurt Wimmer dan Brian Helgeland, tapi kok di kredit filmnya cuman “written by Kurt Wimmer” doang yah?

Senin, 19 Juli 2010

[Movie] Inception (2010)


Inception
(2010 - Warner Bros.)


Written and Directed by Christopher Nolan

Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan

Cast: Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy, Tom Berenger, Dileep Rao, Michael Caine


Gw hampir kehilangan kata-kata soal Inception. Inception adalah salah satu dari sedikit sekali film (Hollywood) di masa-masa sekarang yang antisipasinya terbayar oleh eksekusi. Dan bagusnya, Inception adalah karya orisinil, bukan adaptasi atau lanjutan atau ulang-buat (yang adalah cara instan meraup laba), yang membuatnya cenderung bakal sulit dilupakan. Baiklah, memang dari segi marketing film ini bakal mengundang banyak peminat lebih pada visual2 keren, aktor2 terkenal berkwaliteit terjamin, serta sang sutradara Christopher Nolan yang angkat nama di seluruh dunia lewat 2 film Batman kontemporer (Batman Begins dan The Dark Knight) yang terpuji itu. Namun, Inception menyajikan lebih daripada yang dibayangkan. Percayalah, membaca review dengan spolier pun percuma saja jika tidak menyaksikan sendiri peristiwa demi peristiwa di film ini, yang kalian lihat di trailer itu belum apa-apa.

Inception adalah film fiksi ilmiah berbalut action-thriller, bersetting di dunia entah kapan ketika ada teknologi
dream-sharing, yaitu beberapa orang bisa berpartisipasi dalam alam mimpi yang sama. Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah ahli manipulasi dream-sharing itu, dan ia menggunakannya untuk mencuri ide dari otak seseorang (atas perintah klien dengan imbalan tentu saja) lewat alam mimpi: dia sih bisa masuk mimpi secara sadar, tapi subjek atau “korban”nya dibuat percaya seakan mimpi itu nyata dan tidak sadar idenya sedang dicuri, namun ketika bangun si korban pun akan mengira itu hanya mimpi =). Pencurian ide itu dikenal dengan sebutan “extraction”, dan Cobb mengklaim dirinya extractor terbaik. Pahami ini…udah? Oke lanjut. Benang merah utama film ini sederhana sekali sebenarnya, Cobb yang diminta bukan untuk mencuri ide, tapi menanamkan ide, inception. Saito (Ken Watanabe) ingin Cobb—beserta timnya, jadi mirip Mission Impossible gitu deh—menanamkan ide pada benak pewaris usaha pesaingnya, Robert Fischer Jr (Cillian Murphy) agar terinspirasi untuk menghentikan ekspansi perusahaan ayahnya.

Gw akan stop di situ saja soal plot, dan gw akan lanjut pada kekaguman gw akan resep yang digunakan oleh Christopher Nolan dalam membuat karyanya ini amat sangat
watchable banget sekali. Bahwa film ini soal “mimpi”, pasti kebanyakan orang udah membayangkan keanehan dan kerumitan yang nggak-nggak. Nolan membuat aturan2 sendiri, sehingga Inception pada akhirnya, believe me, bisa ditonton oleh hampir semua kalangan, nggak aneh2 amat. Tokoh mahasiswi arsitek cerdas Ariadne (Ellen Page), yang baru direkrut untuk merancang labirin dunia mimpi yg dapat memperdaya si subjek, digunakan sebagai kendaraan bagi penonton untuk memperkenalkan serba serbi dream-sharing (begitu juga Eames (Tom Hadry) yang nggak suka matematika, =D), jadi (harusnya) penonton nggak terlalu bingung sama apa yang bakal mereka lakukan, it’s not that complicated. Tapi, kalaupun nggak/belum mudeng, Nolan pun punya trik bahwa ketika memulai misi mereka di alam mimpi, alam bawah sadar Fischer ternyata telah terlatih untuk melawan para extractor, dan perlawanan di alam mimpi ini berbentuk orang2 bersenjata yang bertugas menyerang Cobb dkk (mungkin ini disebut “contraception” =P), sehingga selalu ada adegan kejar-kejaran dan tembak-tembakan seru. Everybody loves kejar2an dan tembak2an, ya tho? Masih banyak aturan2 sakarepe dhewe nya Nolan yang sangat menarik, tapi gw akan menahan untuk tidak ditulis di sini, nonton deh, you’ll be impressed bahwa adegan2 absurd nan keren yang ada di trailer ternyata tidak hanya sekadar supaya terlihat keren.


Emosi pun turut masuk dalam racikan ceritanya. Nolan menggunakan Cobb sebagai orang yang punya masa lalu yang kelam. Apa yang dilakukannya sekarang (yang jelas ilegal,
wong nyolong kok) serta imbalan yang Saito tawarkan berkaitan kuat dengan masa lalunya itu. Tak hanya sampe di situ, proyeksi istrinya, Mal (Marion Cotillard) senantiasa eksis di setiap dunia mimpi tempat Cobb menjalankan misi, dan senantiasa berusaha menggagalkan rencana Cobb. Kenapa dan bagaimana tokoh Mal ini demikian, serta pengaruhnya terhadap diri Cobb menjadi pelengkap yang baik sekaligus getir, membuktikan Nolan lewat Inception masih peduli untuk melibatkan “manusia” di dunia fantasinya, tidak terasa hampa. Karakter lainnya meski porsi yang sedikit tidak lantas tidak berkesan. Gw masih bisa kok memperhatikan kekurang-sreg-an Arthur yang rapi dengan Eames yang agak songong, serta “sesuatu” antara Arthur dan Ariadne (well, setelah nonton ulang sih merhatiinnya hehehe). Oh, tak lupa film ini menyelipkan sedikit humor yang cukup menyegarkan =).

Dalam 2,5 jam bergulirnya Inception, yang anehnya tidak terasa selama itu, banyak momen2 yang berkesan,
gimmick2 yang bakal gw ingat terus, kata-kata yang terngiang-ngiang bahkan lama setelah selesai menonton. Selain adegan “kafe meledak” dan “kota bengkok” dalam dream-sharing perdana Ariadne, momen yang saat itu juga langsung jadi favorit gw adalah aksi Arthur (Joseph Gordon-Levitt) melawan agen2 “contraception” (ini sebutan dari gw, jgn dianggap serius) di gravitasi jungkir balik, dan semua adegan zero gravity nya…kerrren mampus! Lalu konsep mimpi yang ditawarkan Inception pun masih lingering di benak gw: tentang “totem” lah, tentang bahwa kita nggak pernah ingat bagaimana mimpi kita dimulai lah, tentang perbedaan waktu dunia sadar dan bawah sadar, tentang mimpi berapa lapis lah, limbo lah. Ibarat lagunya Kylie Minogue, I just can’t get it out of my head *jep ajep ajep ajep ajep*.

Intinya gw sangat terpuaskan oleh film ini. Nolan berhasil bikin gw mantengin terus layar lebar, menata ide cemerlangnya dengan ramuan cerita yang lincah dan lancar, dibungkus dengan visual yang
breath-taking, literally (gw berapa kali narik napas berbunyi “sssspp” waktu adegan2 slow motion). Inception menggunakan kecanggihan teknik film dengan tidak mubazir. Art directionnya sangat juara, sinematografinya keren benget, visual effectnya mantep abis, soundnya maknyuss, musiknya cakep pisan, editingnya gokil…everything’s just wow. Nama tenar para aktornya pun tidaklah memalukan, walaupun belum bisa dibilang luar biasa, tapi penampilan mereka kompak dan tetap berkesan, tidak asal2an. DiCaprio mengemban tugas peran utama dengan baik, Watanabe tetap terlihat cool, Gordon-Levitt tidak terlalu menonjol tapi Hardy dan Page sukses menyita perhatian. Murphy pun tidak menyia-nyiakan screen timenya yang sedikit dan mengisinya dengan akting yang menggugah. Namun rasanya nggak ada yang bisa ngalahin magnet Marion Cotillard yang screen presencenya luar biasa itu.


Apakah ini film yang sempurna? Kalau merujuk pada Dorce, tentu saja tidak—kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan milik kita =]. Tapi, gw sendiri nggak/belum bisa menyebutkan apa kekurangan film ini, setidaknya untuk kekurangan2 yang mengganggu gw. Endingnya? Ah,
whatever lah, gw sudah memilih apa maksud endingnya dan bisa mendebatnya (ih, nantang *tapi takut =P*). Satu hal yang pasti, Inception adalah pengalaman menonton film yang luar biasa, menghibur juga menantang. Terlepas apa gw bener2 ngerti maksud filmnya atau nggak (like I said, nggak ngerti pun, setidaknya terhibur secara visual), toh yang penting Inception sudah membuat uang yang dikeluarkan untuk ke bioskop, bahkan untuk lebih dari 1 kali, tidak sia-sia. Sama sekali tidak.


My score:
9/10

Rabu, 14 Juli 2010

[Album] Tokyo Incidents - Sports



東京事変 - スポーツ
Tokyo Incidents (Tokyo Jihen) - Sports

(2010 - Virgin Music/EMI Music Japan)


Tracklist:

1. 生きる (
Ikiru / Vivre)
2. 電波通信 (
Denpa Tsuushin / Put Your Antenna Up)
3. シーズンサヨナラ (Season SAYONARA)

4. 勝ち戦 (
Kachiikusa / Win Every Fight)
5. FOUL
6. 雨天決行 (
Utenkekkou / Life Will Be Held Even If It Rains)
7. 能動的三分間 (
Noodouteki Sanpun-kan / 3 min.)
8. 絶体絶命 (
Zettai Zestumei / Life May Be Monotonous But The Sun Shines)
9. FAIR

10. 乗り気 (
Noriki / Ride Every Wave)
11. スイートスポット (SWEET Spot)

12. 閃光少女 (
Senkou Shoujo / Put Your Camera Down)
13. 極まる (
Kiwamaru / Adieu)


Mengharapkan Tokyo Incidents membuat musik “normal” adalah hal aneh. Mereka sudah sukses dan diterima khalayak pecinta musik Jepang dengan bunyi2an berbasis jazz yang liar nan tak terikat, yang dimainkan dengan semangat rock nan keras, tapi bukan eksperimental—yup, you read that right, bingung kan loe?—jadi tentu tidak salah bahwa mereka tetap konsisten dengan ciri yang demikian dalam album ke-4 mereka, Sports. Sebagai perkenalan, Tokyo Incidents (atau bahasa Jepangnya, Tokyo Jihen) adalah band yang dibentuk pada tahun 2004 oleh vokalis Shiina Ringo yang sebelumnya sukses sebagai penyanyi solo di blantika J-Pop dengan suara sengau nan annoying-kayak-kucing-kawin-nya (a.k.a berkarakter ^o^) itu. Kesuksesan Shiina bersama 4 personel yang sama gilanya dalam Tokyo Incidents pun tak kalah dari karir solonya, musik mereka yang unik dan (sangat) tidak biasa nyatanya tetap disambut hangat oleh masyarakat, bahkan tetap bisa sering tampil di TV nasional di sana.

Keanehan
sound Tokyo Incidents kemungkinan besar akan banyak ditolak oleh telinga pendengar musik awam, namun bagi gw charm terkuat dari band ini justru di situ, terutama aransemen yang…kayak tidak terencana. Setiap instrumennya ber-“suara” lantang (komposisinya tetap: gitar listrik oleh Ukigumo, keyboard/piano oleh Ichiyo Izawa, bass oleh si “dewa bass” sembahan gw Seiji Kameda, drum oleh Toshiki Hata, kadang Shiina juga pegang gitar), dimainkan seakan lepas dan random tapi anehnya selalu terdengar pas pada hasil akhirnya. Liar tapi familiar (<< hey, that’s a rhyme =)). Oh, lagu2nya sebenernya tidak se-ajaib deskripsi gw tentang Tokyo Incidents, melodinya simpel, ringan, dan manis, pop dengan sentuhan jazz di sana-sini, dan tampaknya inilah yang jadi perekat musik Tokyo Incidents sehingga masih bisa dinikmati—in my case, setelah mendengar 3-4 kali hehehe.

Kesan gw terhadap album Sports yang bercover brilian ini serupa dengan kesan gw ketika mendengar album2 Tokyo Incidents sebelumnya. Kesan pertama: ya ampun ini orang2 aneh banget sih. Kesan kedua: eh
track yg ini enak ternyata. Kesan ketiga: eh asik musiknya ternyata. Kesan keempat dan seterusnya: orang2 gila! Keren banget! Sulit juga bilang album ini bagus atau jelek, ataupun lebih bagus atau lebih jelek dari yang sebelumnya, alih-alih dibandingin sama musisi lain, wong jelas mereka tidak tertandingi. Bagi gw kualitasnya tetap sama, mereka tetap pada “kebiasaan lama”, yaitu tidak pernah mengecewakan dalam menawarkan kejutan lewat track demi track sehingga tidak membosankan. Mereka pandai mengatur mood urutan track, atmosfernya nggak monoton, nggak selalu digeber tensi hentakannya, tapi ada juga yang lembut sehingga yang denger bisa tetap bernapas lega =). Meski sudah album ke-4, nyatanya mereka tidak kendor dalam berkarya dengan tetap memberikan warna dinamis dan excitement dalam keseluruhan albumnya.

Dibuka dengan track ganjil “Ikiru” yang separuh awal lagunya hanya ada vokal Shiina dan mungkin vokal dari personel lainnya—tapi kedengeran kayak mode suara “choir” di keyboard =P— dan separuhnya lagi langsung
full band, Sports mengalir lancar dengan bunyi2an khas Tokyo Incidents yang unpredictable tapi teteup asik meski dihasilkan dari vokal dan 4 instrumen yang sama—yah ada sih sentuhan techno di beberapa lagunya. Track-track yang paling cepat (tidak langsung =P) jadi favorit gw adalah “Utenkekkou” yang easy listening nan menyegarkan, serta “SWEET Spot” yang manis dengan lirik berbahasa Inggris yang agak “provokatif”. “Senkou Shoujo” dan “Nodouteki Sanpun-kan” (yang durasinya pas 3 menit sesuai judulnya) pun juga jadi mudah gw nikmati karena sebelumnya sudah pernah dirilis sebagai single. Lagu-lagu lainnya tidak bisa gw bilang jelek karena…ini Tokyo Incidents, dude, ketika batas bagus dan jelek tersamarkan oleh kata “unik”.

Yang jelas Sports adalah album yang pantas didapatkan oleh penggemar, dan sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pengalaman musik yang berbeda dari biasanya.
Another incomparable work by the one and only Tokyo Incidents.



My score:
8/10


PS: Tokyo Incidents kerap iseng dengan mengurutkan judul2
track dalam setiap albumnya dengan simetris, tak terkecuali di Sports ini. Keterangan lengkap boleh dilihat di sini. Gw kasih clue: “garis simetri”nya adalah track 7 “Noudouteki Sanpun-kan” ^_^.



東京事変 / Tokyo Incidents



Previews, courtesy of YouTube:

能動的三分間 (
Noodouteki Sanpun-kan / 3 min.)




閃光少女 (
Senkou Shoujo / Put Your Camera Down)




勝ち戦 (
Kachiikusa / Win Every Fight) (live on Music Japan)




シーズンサヨナラ (Season SAYONARA)
(live on Music Japan)




スイートスポット (SWEET Spot) (audio)




雨天決行 (Utenkekkou / Life Will Be Held Even If It Rains) (audio)

Sabtu, 10 Juli 2010

[Movie] Despicable Me (2010)



Despicable Me
(2010 - Universal)


Directed by Pierre Coffin, Chris Renaud

Story by Sergio Pablos

Screenplay by Ken Daurio, Cinco Paul

Produced by John Cohen, Janet Healy, Christopher Meledandri

Cast: Steve Carell, Jason Segel, Russel Brand, Miranda Cosgrove, Will Arnett, Kristen Wiig, Julie Andrews



Film animasi Hollywood, terutama yg CG (
computer-generated, digambar pake komputer) makin rame aja. Kali ini Universal Pictures mem-fasilitasi produksi perdana Illumination Entertainment lewat Despicable Me untuk meramaikan arisan film2 animasi CG yang tengah naik daun ini. Langkah yang diambil oleh studio baru ini cukup aman, yaitu film komedi dengan target seluruh keluarga, namun dengan sedikit twist di ide dasarnya bahwa tokoh utamanya adalah seorang penjahat (villain).

Gru (Steve Carell), seorang penjahat yang sinis dan sombong tergelitik untuk mengungguli penjahat pendatang baru, Vector (Jason Segel) yang sukses mencuri piramida terbesar di Mesir. Bersama sekutunya Dr. Nefario (Russel Brand) dan ratusan makhluk cilik berbahasa aneh yang disebut
the minions, Gru berencana mencuri bulan. Langkah pertama adalah mendapatkan senjata penyusut yang dapat memperkecil ukuran segala benda—sepertinya ada di Korea Utara (?), namun sayang, Vector berhasil merebutnya lalu dan disimpan di Fortress of Vector..err…rumah. Merebut kembali senjata penyusut dengan cara biasa telah dicoba Gru berbuah kegagalan, maka akal Gru tertuju pada 3 gadis cilik yatim piatu yang pernah datang ke rumahnya untuk menjual kue. Gru lalu tiba2 mengadopsi ketiga anak tersebut, Margo (Miranda Cosgrove), Edith (Dana Gaier), dan Agnes (Elsie Fisher) dan tanpa menunggu lama memperalat mereka agar dia bisa mencuri senjata penyusut di rumah Vector. Namun yang terjadi, dengan Gru menjadi "ayah" dari ketiga gadis cilik sedikit banyak membuyarkan rencana besarnya.

Despicable Me dengan berani maju di tengah maraknya film2 animasi CG yang saat ini masih didominasi Pixar serta dibuntuti oleh DreamWorks yang notabene pangsa pasarnya sama. Lewat film perdananya ini Illumination Entertainment tampaknya belum bisa disejajarkan dengan dua perusahaan besar itu, karena masih bermain dalam zona terlalu aman. Teknik animasinya sih nggak masalah, cuman rasanya Despicable Me belum mempunyai sesuatu yang menonjol yang bisa diingat lama. Jujur, beberapa humornya tidak terlalu kena ke gw, terutama yang masih berkutat pada
slapstickwhich is not that funny anymore, dialognya pun kadang2 terkesan dipaksa untuk lucu, timingnya kurang pas. Dengan premis yang agak berbeda, naskahnya terbilang masih nanggung, dibarengi dengan eksekusi beberapa adegan masih terkesan sederhana, imajinasi yang masih taraf “waras”, dan kurang menyentuh. Musik latarnya rupanya digarap oleh Pharell Williams (N.E.R.D) barengan Heitor Pereira yang adalah “murid”nya Hans Zimmer, namun sayang sekali, buat gw musiknya belum sanggup mem-boost mood dramatis atau pun komedi dari filmnya.

Hanya saja Despicable Me tidak lantas layak disebut karya gagal. Gw masih terhibur dengan beberapa adegan aksi tanpa dialog adu kekuatan Gru dan Vector dengan
violence terselubung namun kocak dan lincah ala kartun2 Looney Tunes. Pun setiap kemunculan para minion selalu mengundang tawa, terutama yang bisa “nyala” ^0^. Satu lagi adegan yang bikin gw tertawa tulus adalah Gru membacakan dongeng 3 anak kucing pada ketiga anak itu ^o^, nice one. Karakterisasinya oke lah, meski tampaknya akan kurang memorable kecuali para minion itu, namun agak tertutupi dengan para pengisi suara yang lumayan. Pujian khusus harus gw sematkan pada desain artistiknya yang mengesankan. Gw pribadi sih paling suka dengan desain rumah dan gadget2 si Vector (dan pesawatnya yang tadinya jadi atap rumah) yang sangat futuristik, tapi mobil besi aneh nya Gru juga..err..keren ^_^. Bagus lah.

Dengan ide dasar yang sedikit berbeda, sebenarnya Despicable Me tidak menawarkan sesuatu yang baru pada hasil akhirnya, malah terbilang sederhana sehingga terancam mudah dilupakan. Kita tentu dapat menebak ke arah mana perkembangan Gru bila berhadapan dengan kepolosan anak2, dan ingat: ini film animasi untuk keluarga. Namun harus diakui bahwa penceritaan film ini cukup enak dinikmati, tidak ada kebingungan atau kekesalan yang akan timbul kala menyaksikannya, dan tidak kelewat
childish juga. Tokoh2 serta tindakannya memang komikal dan absurd sehingga terkesan kurang kedalaman yang dapat mengikat penonton, tapi rasanya itu cukuplah untuk mengisi kisah yang pada dasarnya dibuat untuk menghibur tanpa mencelakakan ini. Pesan moral yang luhur pun tak ketinggalan dimasukkan, namun sepertinya kurang begitu kuat ditaburkan ke penonton. Biar demikian, toh pasti banyak yang suka dengan tingkah polah para minion yang memang menggemaskan dan penyumbang humor paling dominan di sepanjang film. Harmless entertainment.



My score:
6,5/10


Minggu, 04 Juli 2010

My J-Pop 38

Rekomendasi J-Pop dari gw kembali hadir di volume 38. Lumayan lama yah jaraknya dari volume 37 bulan Februari kmaren, dan sekarang gw berhasil mengumpulkan 18 lagu Jepang ter-okeh versi gw selama beberapa bulan terakhir, yg bisa muat di mix CD bajakan saiah, huahahaha... T-T"

Sebagaimana telah dimulai di postingan volume 37, gw akan menandai lagu2 yang paling gw rekomendasikan dengan tulisan
bold beserta previewnya dari YouTube. Dan sebagaimana prinsip postingan2 sebelumnya, kalo mau lagunya, cari sendiri yats. Douzo goyukkuri ^_^ /


My J-Pop vol. 38


01. MONKEY MAJIK - SAKURA



02. D.W.ニコルズ - 春風
(D.W. Nicols - "Harukaze") <- lagu ini sangat enak sekali, serius guweh!



03. 木村カエラ (Kaela Kimura) - Ring a Ding Dong

04. ASIAN KUNG-FU GENERATION - 迷子犬と雨のビート ("Maigo Inu to Ame no Beat")


05. SoulJa - はなさないでよ feat.青山テルマ
("Hanasanaide yo feat. Thelma Aoyama")



06. いきものがかり - ノスタルジア
(Ikimonogakari - "Nostalgia")

07. THE BACK HORN - 戦う君よ
("Tatakau Kimi yo") <- now that's what I called "rock!" ^_^



08. moumoon - Sunshine Girl




09. Do As Infinity - 1/100 ("hyaku-bun no ichi")

10. 斉藤和義 - ずっと好きだった
(Kazuyoshi Saito - "Zutto Suki datta")
11. FUNKY MONKEY BABYS - 大切 ("Taisetsu")

12. ASIAN KUNG-FU GENERATION - ソラニン ("Solanin")

13. のあのわ - グラデーション
(NoaNowa - "Gradation")
14. Honey L Days - まなざし ("Manazashi")

15. 東京事変 - スイートスポット
(Tokyo Incidents (Tokyo Jihen) - "Sweet Spot")
16. アンジェラ・アキ - 輝く人
(Angela Aki - "Kagayaku Hito")
17. WEAVER - Hard to say I love you ~言い出せなくて~ ("Hard to say I love you ~Iidasenakute~")

18. lecca - TSUBOMI Feat. 九州男 ("TSUBOMI Feat. Kusuo")





Jumat, 02 Juli 2010

[Movie] The Other Boleyn Girl (2008)



The Other Boleyn Girl
(2008 - Focus Features/Columbia)


Directed by Justin Chadwick
Screenplay by Peter Morgan
Based on the novel by Philippa Gregory
Produced by Alison Owen
Cast: Natalie Portman, Scarlett Johansson, Eric Bana, Jim Sturgess, Kristin Scott Thomas, Mark Rylance, David Morissey



Tampaknya kehidupan Raja Henry VIII (atau nama lahirnya Henry Tudor) dari Inggris begitu menariknya sehingga sering diangkat ke berbagai media fiksi. Paling anyar adalah serial BBC/HBO berjudul The Tudors, dan pada tahun 2008 awal sempat muncul The Other Boleyn Girl, berdasarkan novel kontroversial (kata wikipedia) berjudul sama terbitan tahun 2001. Kisah ini berfokus pada 2 gadis keluarga Boleyn: Anne (Natalie Portman) yang kemudian akan menjadi permaisuri Raja Henry VIII (Eric Bana), dan "the other Boleyn girl" nya adalah Mary (Scarlett Johanssen) yang juga "digarap" sang raja, bahkan lebih dulu daripada Anne.


Abad ke-16, Raja Henry VIII adalah sosok yang membawa perubahan bagi kerajaan Inggris. Dia dengan berani memutus hubungan dengan Gereja Katolik di Vatikan dan membuat organisasi gereja sendiri, demi bisa bercerai dengan permaisuri Catherine dari Aragon (di film ini diperankan oleh Ana Torrent...beuh, pencetus bittorrent kah?) dan untuk menikah lagi dengan Anne Boleyn. Apa sebab? Diceritakan di film The Other Boleyn Girl ini, permaisuri Catherine gagal berkali-kali melahirkan anak laki-laki yang harusnya jadi penerus tahta kerajaan, hingga akhirnya dia benar2 nggak bisa mengandung sama sekali. Kesempatan ini nggak disia-siakan oleh salah satu penasihat raja, Duke of Norfolk (David Morissey) untuk dapat pengaruh besar dalam kerajaan. Ia mengutus keponakannya dari adik perempuannya (Kristin Scott Thomas), yang tak lain adalah Anne, untuk menjadi gundik raja dan sebisa mungkin melahirkan penerus tahta. Namun, apa mau dikata, raja lebih tertarik sama Mary yang lebih lembut dan polos, yang meski baru saja menikah tetep dikirim ke istana untuk dijadikan gundik.


Tak apa, tiada kakak, adik yang bahenol pun jadi, Mary pun melahirkan seorang putra, yang berarti selangkah menuju pengaruh keluarga Boleyn dan si Duke di kerajaan. Namun, Anne yang sempat menghilang "menuntut ilmu" kembali datang, dan sukses menarik perhatian raja, bahkan dengan lihai membuat raja tergila-gila. Lebih lagi, Anne menuntut raja untuk berpisah dari permaisuri Catherine dan menikahinya, agar ketika dia punya anak pun dianggap sah anak raja penerus tahta, padahal Mary sudah telanjur cinta sama raja...nah lho...*cakar kucing*. Cerita terus bergulir dengan beraneka macam intrik sampai Anne Boleyn dihukum penggal karena tuduhan perzinahan dan hubungan sedarah dengan saudaranya, George (Jim Sturgess)..maap spoiler, tapi ini sejarah *sok banget gaya gw*.


Begitu banyak intrik, begitu banyak drama, disampaikan secara ekspres, itulah The Other Boleyn Girl. Meski dengan kisah yang menarik, toh hal2 yang bejibun itu ditaruh sedemikian rupa sehingga muat di durasi 2 jam kurang dikit, dalam ritme yang melelahkan. Potensi film ini lumayan, namun eksekusi dari film debut dari sutradara yg tadinya banyak berkecimpung di film televisi ini jadinya terlalu standar dan agak menjengkelkan. Semacam visualisasi sejarah belaka (padahal gak akurat2 amat), adegan2 yang ada dibuat dengan tujuan "FYI" alias asal tahu saja, tanpa kedalaman emosi yang lebih. Isu tentang gadis2 Boleyn yang hanya jadi alat politik pamannya dengan mempermainkan tubuh dan "kesucian" mereka juga luput dari perhatian. Keindahan set pun kurang dipamerkan dengan seharusnya, telalu berskala kecil dan sempit. Namun yang lebih menjengkelkan adalah tata kameranya yang secara konsisten (!) sepanjang film selalu ada saja yang menghalangi antara kamera dan objek yang disorot. Maunya sih artistik, tapi kalo semua adegan kayak gitu ya males juga kale. Plus musiknya kerap salah tempat sehingga mendukung kejengkelan gw selama menyaksikan film ini.


Nama2 tenar di jajaran pemeran utamanya sayangnya tidak menolong.
Chemistry sepasang bintang rupawati Natalie Portman dan Scarlett Johansson sebenarnya cukup oke, tapi akting mereka kurang meyakinkan. Portman agak lebih bagus dari segi akting (emosinya cukup dapet) tapi aksen Inggrisnya terdengar palsu sekali. Sebaliknya, Johansson aksen Inggrisnya rada mendingan, tapi aktingnya datar saja. Eric Bana sebagai Raja Henry VIII terbilang lumayan tapi kayak kurang berkembang gara2 naskahnya kurang memberi ruang, sama seperti belasan peran pendukung lainnya yang seperti disia-siakan. Jika ada yang mengangkat harkat film ini adalah desain kostum yang "sinting" kerennya dari Sandy Powell, indah dipandang dengan detil2 yang luar biasa. Di luar itu, biasa saja, selain kurang nyambung sama judulnya, toh porsi Anne Boleyn ternyata lebih banyak daripada gadis Boleyn yg satunya lagi.



My score:
5/10


[Movie] Monster's Ball (2001)



Monster's Ball
(2001 - Lions Gate)


Directed by Marc Forster
Written by Milo Addica, Will Rokos
Produced by Lee Daniels
Cast: Billy Bob Thornton, Halle Berry, Heath Ledger, Sean "P. Diddy" Combs, Peter Boyle, Mos Def



Gw agak ragu untuk nge-
review film ini. Monster's Ball sebenarnya adalah film kecil yang terkenal hanya karena 2 hal: performa ciamik Halle Berry yang memenangkan piala Oscar (perempuan keturunan Afrika pertama yg menang di kategori Best Leading Actress), dan adegan seks Berry dan Billy Bob Thornton yang konon sangat panas. Sayangnya, gw nggak mendapatkan keduanya setelah nonton. Akting Halle Berry mnurut gw tidak sehebat itu. Adegan hotnya, malah nggak dapet sama sekali, gw nonton di DVD original buatan lokal, sensor euy (*boo* =.=;). Entah bila gw nonton secara utuh penilaian gw akan berbeda atau tidak, tetapi buat gw Monster's Ball (jangan pindahkan salah satu huruf "s"nya ke kata sebelahnya ya) adalah film yang...emm...berjudul aneh, lambat, dan mostly datar—oh , mungkin gara2 disensor *hehehe*, dengan beberapa letupan emosi yang gw gak yakin penempatannya tepat atau tidak.

Inti kisah Monster's Ball adalah Hank Grotowski (Billy Bob Thornton) dan Leticia Musgrove (Halle Berry), dua orang beda ras dengan latar belakang kehidupan keras di sebuah kota kecil wilayah selatan AS sekitar tahun 1990-an, yang saling menemukan kedamaian dan cinta satu sama lain. Hank adalah seorang penjaga di lembaga pemasyarakatan, dididik keras oleh sang ayah (Peter Boyle) yang rasis dan juga dulu seorang penjaga LP, serta punya anak berhati lembut (Heath Ledger), juga seorang penjaga LP (duh) yang kerap jadi sasaran emosinya. Leticia wanita berkulit hitam yang musti berjuang menghidupi putra tunggalnya yang obesitas di tengah utang dan pekerjaan berupah rendah, sementara sang suami, Lawrence (Sean "P.Diddy" Combs) dipenjara di LP untuk dihukum mati di kursi listrik. Mulai paham arahnya kemana? Eits tahan, pertemuan keduanya ternyata tidak semudah dan sedramatis roman2 picisan. Kematian Lawrence tidak serta-merta langsung menjodohkan Hank dan Leticia, mereka bahkan belum saling kenal, tapi itu hanya hulu dari dampak yang menjalar bagi mereka masing-masing (
clue: pokoknya keduanya mengalami "kehilangan yang menyedihkan" lah). Lewat rangkaian peristiwa setelah itu, kedua insan malang ini kemudian saling bertemu, saling memahami, dan pelan-pelan memperjuangkan hidup mereka yang baru, bersama-sama.

Intinya sih percintaan dua insan dewasa ditengah-tengah perbedaan dan situasi—sosial maupun hati, yang tengah getir. Tapi, percaya atau tidak, ini baru dimulai setelah sekitar setengah jam filmnya mulai. Lha, setengah jam awal ngapain aja? Taauk...lama banget lah pokoknya, seakan jalan di tempat dan sempet bikin gw bingung ini film maunya apa. Memang kisahnya bergulir cukup irit, perlahan dan sederhana, mungkin supaya lebih meresap kayak ngerendem bumbu ayam bakar, tapi tak jarang muncul godaan untuk bilang bosan (sekali lagi, mungkin karena disensor *penasaran*), untung setelah melewati bagian itu, cerita jadi agak lebih menarik. Biar demikian gw harus menghargai gaya film ini yang demikian, mungkin cocoknya memang begitu karena kisahnya sendiri agak sendu, miris dan depresif walau dihiasi
happy ending yang nggak pasaran. Respek tertinggi harus gw berikan pada jalan cerita yang cukup realistis, sinematografi yang cakep, serta musik latar nan modern yang pas.

Di luar itu, jujur gw nggak terlalu cocok dengan film ini secara keseluruhan. Mungkin karena gw emang kurang suka dengan film yang murung kayak begini (
but hey, I like Clint Eastwood's Gran Torino), tapi datar dan lambatnya alur masih mengganjal gw untuk menghargai Monster's Ball lebih, apalagi ada 2-3 adegan yg (maunya) emosional namun kurang kuat motivasinya. Akting para aktornya bagus sih, masih dalam batas tidak memalukan, tapi belum sampai simpatik. Gw gak merasa terbawa oleh performa Thornton apalagi Berry, rasanya kurang menyentuh—atau mungkin gw yang nggak punya hati, hehehe. Reaksi kimia mereka sih oke, kecanggungan dialog antara mereka juga lumayan mendukung keseluruhan cerita. Tapi yaah...mungkin masalah selera hingga gw berat rasanya untuk bilang film ini bagus...atau bisa jadi gara2 disensor *teteup*.



My score:
6/10


PS: di film dijelasin sih arti "Monster's Ball", tapi gw nggak paham relevansinya sama keseluruhan cerita..aneh...