Minggu, 27 Juni 2010

NAMA DI BALIK LENSA: 5 Sinematografer Favorit Saya

Apa itu 'sinematografi'? Satu yang pasti kata ini berhubungan dengan dunia film, dan tentu siapa pun bisa mencari tahu lewat buku-buku, atau yang paling mudah, wikipedia. Saya memang bukan ahli dalam bidang ini, namun secara pribadi berusaha membuat pengertian mudah bahwa 'sinematografi' adalah 'tata kamera' (baik untuk film bioskop maupun televisi), namun saya kira pengertian yang sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Sinematografi berkaitan erat dengan fotografi, sama-sama berhubungan dengan kamera—walau berbeda jenis, sama-sama memakai lensa sebagai bagian vital, berhubungan dengan sudut pengambilan gambar, fokus, pencahayaan, efek, dan sebagainya. Bedanya, fotografi merekam sebuah momen menjadi gambar statis, sedangkan sinematografi menghasilkan gambar bergerak. Karena kesamaan prinsip itu, tak heran bila lazimnya orang yang bertanggung jawab atas sinematografi atau sinematografer sebuah film disebut sebagai "Director of Photography", disingkat DP atau DoP (namun perlu diingat sinematografer tidak selalu mengoperasikan kamera langsung).

Apa yang kita lihat di layar saat menonton film umumnya adalah hasil dari rekam sinematografi. Apakah gambar video yang kita rekam lewat telepon genggam juga disebut sinematografi? Saya tidak berani memastikan, namun saya hanya bisa bertanya balik: apakah foto yang kita ambil sewaktu liburan atau dipasang untuk profil facebook sama dengan foto yang dihasilkan oleh fotografer profesional semisal Darwis Triadi?


Bagi saya sinematografi adalah salah satu hal yang terpenting dari sebuah film. Jelas tanpa adanya sinematografi tidak akan dihasilkan sebuah film—film bisa saja dibuat tanpa naskah, tanpa aktor, tanpa dialog, tanpa musik, atau tanpa suara, tapi wajib direkam kamera, bukan? Namun di luar itu, saya termasuk orang yang senang dipuaskan secara visual ketika menonton film. Saya suka dengan film yang menampilkan gambar-gambar yang diambil secara kreatif, unik, dan, yang terpenting (meskipun subjektif), indah. Bahkan bila tata artistik ataupun adegan yang direkam itu simpel, sinematografer yang baik pasti bisa membuatnya tetap bagus dipandang dan tersampaikan maknanya.

Tugas seorang sinematografer pada hakikatnya adalah menghasilkan rekaman gambar yang sesuai dengan visi sutradara dalam menerjemahkan naskah, entah itu lewat objek dan latar yang ditangkap, pencahayaan, pergerakan kamera, sudut pengambilan—biasa disebut angle, warna, dan banyak lagi hal lainnya. Dari sini saja, dapat dibayangkan bahwa seorang sutradara sebagai yang mengepalai proses dan hasil sebuah karya film harus hati-hati dalam memilih sinematografer, agar sesuai dengan visi dan hasil yang diinginkan, bahkan kalau bisa membawa visinya itu lebih jauh dan hasil yang lebih baik daripada yang diinginkan.

Baru-baru ini saya mencoba mencatat beberapa nama sinematografer atau director of photography yang sering saya temukan di film-film yang pernah saya tonton, kemudian saya rampingkan menjadi lima nama yang paling saya sukai hasil karyanya. Apakah mereka, sadar atau tidak, favorit Anda juga?



1. Janusz Kaminski


Saya yang lebih mengenal film-film karya sutradara Steven Spielberg sejak zaman Saving Private Ryan (1998), amat sangat familiar dengan nama sinematografer asal Polandia ini. Janusz Kaminski seperti jodoh sejati Spielberg sejak mahakarya Schindler's List (1993). Tak pelak film-film yang direkam oleh Kaminski yang pernah saya tonton hampir semuanya adalah karya Spielberg, total ada sembilan film. Pemenang sepasang piala Oscar ini memang tak pernah gagal dalam menerjemahkan visi Spielberg dalam film-film yang bervariasi temanya. Gambarnya bisa sangat muram dan realistis seperti di Schindler's List dan Saving Private Ryan, bisa terang namun misterius seperti War Of The Worlds (2005) dan A.I. Artificial Intelligence (2001), bisa lincah dan berwarna dalam Catch Me If You Can (2002) dan The Terminal(2004), bisa gelap dan sangat dinamis di Minority Report (2002), natural konvensional di The Lost World: Jurassic Park (1997), ataupun mencekam dan sendu seperti dalam Munich (2005). Tampaknya, apapun nuansa yang diinginkan—laga, drama, komedi—Kaminski pasti bisa mewujudkannya, dan umumnya dengan sangat berhasil dan enak dipandang.

Schindler's List

Selain sembilan film karya Spielberg tadi, satu lagi proyek yang melibatkan Kaminski yang pernah saya saksikan adalah film berbahasa Prancis, The Diving Bell and The Butterfly (2007) besutan Julian Schnabel. Di sini pun beliau dengan tanpa cela menampilkan serangkaian gambar yang unik dalam film yang penceritaannya juga tak biasa. Ciri karya Janusz Kaminski pun cukup tertanam dalam benak saya:
angle dinamis, sangat lincah bergerak, serta tak ragu-ragu bermain cahaya, kontras, fokus, dan kemiringan kamera, yang hampir pasti berhasil memberikan efek dramatis yang meyakinkan.

Karya Janusz Kaminski lainnya yang cukup terkenal tetapi belum saya saksikan antara lain: Jerry Maguire (1996); Amistad (1997); Indiana Jones And The Kingdom Of Crystal Skull (2008); Funny People (2009), dan sebagainya.




2. Emmanuel Lubezki


Sinematografer asal Meksiko ini bukanlah nama yang sering ditemukan di film-film yang saya tonton. Tercatat saya hanya pernah menyaksikan enam film yang melibatkannya, itu pun salah satunya The New World (2005) karya Terrence Malick, saya saksikan di televisi tidak sampai selesai. Namun, nama Emmanuel Lubezki langsung jadi favorit karena saya jatuh cinta dengan film Children Of Men (2006) karya Alfonso Cuarón. Film ini—yang merupakan salah satu film favorit saya sepanjang masa—memang luar biasa terutama secara visual, dan sudah pasti olah rekam Lubezki turut ambil bagian penting. Meski latar Children of Men ada dalam dunia fiksi yang jauh dari kesan gemerlap, namun Lubezki sangat berhasil merekam gambar dengan realistis, artistik, berintensitas tinggi, berani, tepat, dan memikat, sangat memikat.


Rupanya, dalam film-film yang lainnya Lubezki tak kalah bertaji. The New World yang bernuansa sejarah menunjukkan kemampuan Lubezki menangkap keindahan sekaligus keliaran alam dari jarak dekat, dan Lemony Snicket's A Series Of Unfortunate Events (2004) milik sutradara Brad Silberling membuktikan kepiawaiannya menangkap kecantikan dari desain artistik sebuah film fantasi yang terlihat menyatu dengan para aktornya, senada dengan yang dilakukannya dalam A Little Princess (1995) karya—lagi-lagi—Alfonso Cuarón. Lubezki memang paling sering berkolaborasi dengan Cuarón yang notabene rekan senegaranya. Selain Children Of Men dan A Little Princess, film hasil kolaborasi mereka yang pernah saya tonton adalah Great Expectations (1998) yang berjenis romansa puitis dan Y Tu Mamá También (2001), sebuah drama-komedi seputar pubertas, keduanya pun sukses menampilkan gambar-gambar mengagumkan, serta khusus untuk Y Tu Mamá También, memamerkan beberapa
angle yang mengejutkan.

Children Of Men

Dari beberapa filmnya yang saya tonton, Lubezki memang memiliki ciri yang jarang dimiliki sinematografer lain. Warna-warna yang dihasilkan cenderung terkesan gelap namun tetap tajam, cahaya serta
angle yang digunakan cenderung berani, dan pergerakan kamera yang dilakukannya sangat dinamis namun mulus dan tepat guna tanpa harus jadi memusingkan. Latar dan aktor senantiasa tampak pas proporsinya, serta pemandangan yang terlihat biasa saja dan kerap terabaikan dapat ditangkap dengan sedemikan rupa menjadi lezat disaksikan di layar lebar. Saya merasa bahwa Lubezki tengah pelan-pelan menapak menjadi salah satu sinematografer terbaik di indurstri perfilman. Setelah empat kali memperoleh nominasi Academy Awards, tinggal masalah waktu saja Lubezki akan memperoleh penghargaan prestisius itu.

Film-film Lubezki yang lain yang belum sempat saya saksikan antara lain Reality Bites (1994); A Walk In The Clouds (1995); The Birdcage (1996); Meet Joe Black (1998); Sleepy Hollow (1999); Ali (2001); The Cat In The Hat (2003); Burn After Reading (2008), dan lain-lain. Untuk tahun ini, Lubezki akan kembali bekerja sama dengan Terrence Malick dalam film Tree Of Life (2010).




3. Roger Deakins


Roger Deakins, pria kelahiran Inggris tahun 1949 ini bisa jadi salah satu sinematografer paling dicari di ranah film Hollywood maupun dunia. Dari puluhan rekam jejak karya filmnya, saya ternyata sudah menyaksikan 11 di antaranya, ditambah dua film animasi, Wall-E (2008) dan How To Train Your Dragon (2010) yang melibatkan beliau sebagai konsultan visual, sehingga menjadikan Deakins sebagai sinematografer yang paling sering saya tonton film-filmnya. Beberapa filmnya yang saya ingat betul antara lain A Beautiful Mind (2001), No Country For Old Men (2007), The Reader (2008, bagian yang melibatkan Kate Winslet saja), Doubt (2008), dan tentunya film yang kerap didapuk sebagai salah satu terbaik sepanjang masa, The Shawshank Redemption (1994).

Dari yang saya saksikan, kolaborator tetap duo sineas Coen bersaudara ini sepertinya belum pernah terlibat dalam film yang terlalu hingar bingar, umumnya bergenre drama berlaju tenang, namun gambar-gambar yang ditangkapnya bukannya tidak istimewa. Roger Deakins senantiasa menampilkan gambar yang bersih, mulus, sudut-sudut pengambilan yang kreatif, permainan fokus nan tajam, pencahayaan yang padu, pergerakan yang lembut, dan sempurna dalam menangkap ekspresi wajah aktornya. Singkatnya: indah dan tepat. Tak hanya itu, Deakins pun selama ini mengerjakan film-film yang tidak termasuk kategori tercela, sehingga seakan ada jaminan bahwa film yang melibatkan Deakins pasti layak tonton. Terbukti, film-film yang tata sinematografinya dikerjakan oleh Deakins minimal menuai tanggapan positif oleh kritikus hingga kerap masuk unggulan Academy Awards. Deakins sendiri sampai saat ini mengantongi delapan nominasi untuk kategori sinematografi meski—sayangnya—belum berkesempatan menerima piala itu satu pun.



The Shawshank Redemption

Film Roger Deakins lainnya yang pernah saya tonton antara lain: Fargo (1996); O Brother, Where Art Thou? (2000); Intolerable Cruelty (2003); House Of Sand And Fog (2003); The Ladykillers (2004); dan The Village (2005). Sedangkan film-filmnya yang terbilang terkenal namun belum saya tonton antara lain: Dead Man Walking (1995); Courage Under Fire (1996); Kundun (1997); The Big Lebowski (1998); The Hurricane (1998); The Man Who Wasn't There (2001); Jarhead (2005); In The Valley Of Elah (2007); The Assasination Of Jesse James By The Coward Robert Ford (2007); Revolutionary Road (2008); A Serious Man (2009), dan sebagainya.




4. Yadi Sugandi


Yadi Sugandi mungkin adalah salah satu sinematografer Indonesia terbaik saat ini, dan memiliki potensi yang layak dibanggakan. Yadi cukup aktif terlibat dalam film-film nasional semenjak awal kebangkitannya pada tahun 2000-an. Saya sendiri sudah menonton enam filmnya, yaitu Petualangan Sherina (2000), 3 Hari Untuk Selamanya (2007), The Photograph (2007), Under The Tree (2008), Laskar Pelangi (2008), dan baru-baru ini Minggu Pagi di Victoria Park (2010). The Photograph milih Nan T. Achnas adalah film yang membuat saya salut dengan Yadi, karena gambar yang ditampilkan bersih, nyaman dan sangat cantik di tengah kesederhanaan setingnya, bersahaja dan meyakinkan. Kekaguman saya berlanjut di Laskar Pelangi karya Riri Riza, bahwa Yadi berhasil menangkap pemandangan eksotis pulau Belitung dari berbagai sisi dengan luar biasa indah. Tak hanya lewat media film seluloid, Yadi pun tidak gagal merekam lewat format digital dalam film Under The Tree karya Garin Nugroho, setiap angle yang dipilihnya terasa artistik yang rasanya sesuai dengan visi sang sutradara yang dikenal nyeni, meski sayang presentasi gambarnya di bioskop terdegradasi oleh proses transfer dari digital ke film seluloid, sehingga terlihat buram.

The Photograph

Di luar enam film tersebut, film-film lain hasil sorotan kamera Yadi Sugandi yang belum saya simak antara lain Kuldesak (1999); Pasir Berbisik (2001); Eliana, Eliana (2002); Garasi (2006); Jatuh Cinta Lagi (2006); Koper (2006); Pesan Dari Surga (2006); dan Lost In Love (2008), dan lain-lain.




5. Robert Richardson



Awalnya saya kurang ngeh dengan nama ini, mungkin karena faktor Robert Richardson adalah nama yang sangat umum untuk orang Amerika atau Britania sana. Akan tetapi, ketika saya memeriksa filmografinya, ternyata saya sudah menonton enam buah film beliau. Saya termasuk mengagumi kinerja bapak gondrong ini dalam karya sutradara Quentin Tarantino, yaitu Kill Bill Vol. 1 (2002), Kill Bill Vol. 2 (2003), dan Inglourious Basterds (2009), serta dua karya Martin Scorsese yaitu The Aviator (2004) yang membuahkannya sebuah piala Oscar, dan yang teranyar Shutter Island (2010). Satu filmnya yang saya lupa lupa ingat adalah A Few Good Men (1992) yang beberapa kali tayang di televisi, meski seingat saya sinematografi film itu tidak semembekas film-film yang disebutkan sebelumnya. Dari yang telah saya saksikan, ciri yang menonjol dari film-film Richardson adalah angle yang kadang ekstrim dan sumber pencahayaan yang kreatif, serta menyorot detil-detil dari dekat dengan cantiknya. Mungkin itu sebabnya ia sering diajak kerja sama oleh sutradara-sutradara bervisi antik seperti Tarantino, Scorsese, dan Oliver Stone.

Inglourious Basterds

Banyak sekali film terkenal yang melibatkan Richardson namun belum sempat saya saksikan, di antaranya Platoon (1986); Wall Street (1987); Born On The Fourth Of July (1989); The Doors (1991); JFK (1991) yang membuahkan Oscar pertamanya; Natural Born Killers (1994); Casino (1995); Nixon (1995); Wag The Dog (1997); The Horse Whisperer (1998); Snow Falling On The Cedars (1999); The Good Shepherd (2006), dan sebagainya. Ditambah lagi tahun ini Richardson menjadi sinematografer untuk film yang turut mengambil lokasi syuting di Bali, Eat Pray Love (2010). Semoga saja tangkapan kameranya juga seindah pulau Dewata aslinya.




Selain lima nama di atas, berikut beberapa nama lain yang sering saya temukan dalam film-film yang saya tonton, namun sayangnya belum sampai jadi favorit saya:


-
John Seale (Dead Poets Society, The English Patient, City of Angels, The Perfect Storm, Harry Potter and The Sorcerer's Stone, Dreamcatcher, Cold Mountain dll.)
-
Dion Beebe (Equillibrium, Chicago, Collateral, Memoirs of a Geisha, Miami Vice, Nine, dll.)
-
Oliver Wood (Mighty Joe Young, Freaky Friday, Fantastic Four, The Bourne trilogy, dll.)
-
Andrew Lesnie (Babe, The Lord Of The Rings trilogy, King Kong, dll.)
-
Christopher Doyle (The Quiet American, Hero, 2046, Lady In The Water, dll.)

Hero (sinematografi oleh Christopher Doyle)


Jumat, 25 Juni 2010

[Movie] Toy Story 3 (2010)



Toy Story 3
(2010 - Walt Disney/Pixar)


Directed by Lee Unkrich
Screenplay by Michael Arndt, John Lasseter, Andrew Stanton, Lee Unkrich
Produced by Darla K. Anderson
Cast: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, Ned Beatty, Don Rickles, Michael Keaton, Wallace Shawn, John Ratzenberger, John Morris, Jodi Benson, Timothy Dalton, Bonnie Hunt, Whoopi Goldberg



Apa sih yang nggak buat Pixar ^o^. Studio animasi CGI ini sudah terbukti mampu bikin film dengan tema2 baru, bahkan yang terkesan kurang menjual sekalipun (Up
anyone?), menjadi karya yang bermutu dan menghibur juga disukai banyak orang. Bikin sekuel yang tetap bagus bahkan lebih bagus dari pendahulunya pun dihajar juga. Toy Story pada tahun 1995 menjadi pelopor feature film yang seluruhnya adalah tampilan animasi komputer, tahun 1999 Toy Story 2 hadir dengan kualitas baik cerita maupun teknis yang tak kalah bagusnya, bahkan lebih laris (dan meraih Golden Globe Awards untuk Best Motion Picture - Musical or Comedy tahun 2000). Terus terang, gw lupa-lupa inget sama 2 jilid pendahulu kisah mainan yang bisa hidup ini, yg gw inget ya emang keduanya film bagus, tapi ceritanya aja gw lupa =P. Nevertheless, film buatan Pixar emang harus ditonton, sejelek-jeleknya Pixar palingan Cars dan itu bukanlah film yg jelek banget.

Beruntung Toy Story 3 mengusung cerita yang tidak terlalu terkait dengan 2 pendahulunya (tapi ada lah referensi dikit2). Kita tetap akan bertemu karakter2 familiar antara lain boneka koboi Woody (Tom Hanks), boneka astronot Buzz Lightyear (Tim Allen), cowgirl Jessie (Joan Cusack), Mr. dan Mrs. Potato Head (Don Rickles, Estelle Harris), si dinosaurus kocak Rex (Wallace Shawn), si celengan Hamm (John Ratzenberger), serta Slinky Dog atau disubtitel jadi "anjing ngeper" (Blake Clark), tak ketinggalan si kuda Bulls-Eye dan trio alien. Saat ini mainan2 ini sedang dalam masa “krisis” karena pemilik mereka, Andy (John Morris) sudah berusia belasan dan sebentar lagi akan meninggalkan rumah untuk memulai hidup "di rantau" sebagai mahasiswa. Sudah cukup lama mereka hanya disimpan saja, dan kini ketika Andy akan pindahan, sudah saatnya pula para mainan masa kecil ini harus ditertibkan.


Di tengah kekhawatiran mereka akan dicampakkan begitu saja, Woody berusaha meyakinkan teman2nya bahwa Andy nggak mungkin akan membuang mereka sia-sia, karena mereka selalu menemani tuannya itu. Tapi, yang terjadi justru yang dikhawatirkan,—singkat cerita—geng mainan ex-Andy ini lalu tiba di tempat penitipan anak Sunnyside barengan mainan2 adik ABG Andy—termasuk si Barbie (Jodi Benson). Sunnyside ini adalah tempat yang ceria, menyenangkan dan rasanya paling tepat bagi mereka, apalagi dikuatkan sambutan hangat oleh para mainan “senior” seperti si boneka beruang pink Lotso (Ned Beatty) dan belahan jiwa Barbie, Ken (Michael Keaton). Namun petualangan besar menanti mereka, karena rumah baru mereka itu tidaklah seperti yang mereka harapankan dan bayangkan.


Aduh, jangan pedulikan ringkasan cerita gw deh. Pokoknya, dengan ramuan yang kreatif namun tetap mudah dicerna serta menyentuh, Toy Story 3 adalah satu lagi karya Pixar yang jauh, jauh sekali dari kata memalukan. Mungkin kalo dipikir-pikir ini Toy Story 3 ini lebih
family-friendly nan sederhana ala Disney dengan mengetengahkan sekelompok mainan dengan ikatan kekeluargaan yang kuat yang musti diuji ketahannya—kali ini diuji lewat perpisahan, lebih ringan daripada karya Pixar lain yang belakangan makin berat aja isinya, lagipula konsep semacam ini sama sekali tidak baru. Namun demikian, bapak2 di Pixar tetap sangat piawai menyajikan jalan cerita yang tetap menyegarkan, kuat dan menggelitik emosi. Tak peduli ini sudah seri ke-3, tapi honestly tetap mengena dan tidak basi. Karakter2 lama tetap terasa familiar dan tidak diabaikan, sedangkan yang baru2—dan banyak—pun tidak dibiarkan luput dari perhatian, porsinya sangat pas dan membuat mereka loveable, bahkan yang antagonis sekalipun (hehe). Komedi, drama, action, bahkan suspense, semua dilempar bergiliran menjadi rangkaian yang mampu mengikat penonton tanpa ada perasaan bosan maupun kesal. Apalagi film ini punya klimaks dan ending yang menguras emosi (well, gw nggak sampe berlinang air mata sih, cuman yah…mantep banget dah). Mengutarakan maksud lewat bahasa gambar atau dialog yang “besides the point” bukanlah perkara mudah, tapi Toy Story 3, sukses!

Terlepas dari solidnya segi naskah, yang paling menarik perhatian gw dari Toy Story 3 adalah keganasan imajinasi para pembuatnya. Biarpun umumnya udah bapak2 tapi daya khayal mereka seperti tidak dikorup, murni, menakjubkan layaknya khayalan kanak2. Berbagai cara mainan2 ini bisa hidup itu jelas, namun dunia mainan secara keseluruhan, terutama yang di Sunnyside, terutama ketika “rahasia Sunnyside terbongkar” (^_^;) itu sangat luar biasa buat gw. Keranjang mainan di rak anak
playgroup jadi penjara? Boneka monyet dan cymbalnya jadi pengawas CCTV? Ada “bookworm” yang mencari manual mainan kayak cari file rahasia? Si telepon mainan cuman bisa ngomong kalo gagangnya diangkat? Wow, how did they come up with all those things? Genious indeed!

Setelah 15 tahun dengan 10 rilisan
feature film, kini sulit membayangkan kreativitas para penghuni Pixar akan berhenti, namun yang pasti studio ini telah menegaskan bahwa merekalah yang terbaik. Toy Story 3 yang di-kapten-i oleh Lee Unkrich ini turut mengisi jejak itu. Sebuah karya yang tidak hanya memikat secara teknik gambar dan animasi—bukan yang terbaik sih tapi tetap sangat oke, dan juga kemantapan penghayatan para pengisi suaranya, namun lebih dari itu, film ini adalah sebuah karya yang bermakna dan berperasaan, sebuah manifestasi imajinasi yang tepat, nikmat dilahap, dan tidak pernah meninggalkan unsur kunci: menghibur semua kalangan. Sebuah jamuan yang memuaskan mata, telinga, dan hati. Ayo ditonton…



My score:
9/10



Selasa, 22 Juni 2010

[Movie] Vicky Cristina Barcelona (2008)



Vicky Cristina Barcelona
(2008 - The Weinstein Company/Mediapro)


Written and Directed by Woody Allen
Produced by Letty Aronson, Stephen Tenenbaum, Gareth Wiley
Cast: Rebecca Hall, Scarlett Johansson, Javier Bardem, Penélope Cruz, Patricia Clarkson, Kevin Dunn, Chris Messina, Christopher Evan Welch (Narrator)



Sepertinya gw sama sekali belum pernah nonton film karya Woody Allen, padahal gw pernah baca di sebuah majalah beberapa tahun lalu bahwa konon bermain di filmnya Woody Allen—selain berpose di sampul majalah Vanity Fair dan membintangi serial buatan David E. Kelley—adalah sebuah kehormatan besar bagi aktor2 Hollywood sampe mereka rela banting harga atau bahkan nggak dibayar. Segitu pentingnya dia di dunia perfilman. Vicky Cristina Barcelona ini adalah film karya Allen pertama yg gw tonton,
and I'd like to say gw lumayan paham mengapa banyak aktor yang senang bila terlibat di film si opa ini. Kalau dari film ini gw boleh menilai, Allen memberikan keleluasaan bagi para aktornya untuk mengerahkan kemampuan aktingnya, dengan dialog2 cerdas nan nyantai dan jalan cerita yang mengalir nggak menjengkelkan.

Vicky Cristina Barcelona dimulai dari perjalanan liburan musim panas sepasang sahabat asal New York, Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson) di Barcelona. Dengan narasi yang sangat deskriptif oleh sang narator (Christopher Evan Welch), kita langsung tau bahwa Vicky yang "cewek baik2" dan percaya akan komitmen pergi ke kota di Spanyol itu untuk mencari data penelitian tesis-nya soal kebudayaan Catalonia, sedangkan Cristina yang adalah seniman berjiwa bebas dan impulsif ikut sahabatnya itu untuk cari suasana baru pasca putus dari pacarnya. Liburan mereka ini mendadak jadi berwarna lewat kehadiran pelukis lokal, Juan Antonio Gonzalo (Javier Bardem), yang tanpa banyak basa basi mengajak dua wanita ini berakhir pekan di kota kelahirannya, Oviedo. Dan oh betapa liburan mereka berjalan sangat di luar rencana. Cristina yang terang2an tertarik sama Juan Antonio malah jatuh sakit, dan Vicky yang terang2an kurang suka dengan keagresifan Juan Antonio malah lama kelamaan ikut kepincut.
Clue: yang terdahulu jadi yang terkemudian, dan yang terkemudian jadi yang terdahulu *hehehe*.

Kembali ke Barcelona, Vicky kedatangan sang tunangan, Doug (Chris Messina) yang mengajaknya menikah di Barcelona lebih awal (nanti pas pulang ke New York diulang lagi), tapi Vicky tampaknya belum bisa mengenyahkan kesan yang ditinggalkan Juan Antonio, tanpa ada seorang pun yang tahu, tak terkecuali Cristina. Di lain pihak, Juan Antonio udah "lanjut" sama Cristina, bahkan udah tinggal bareng, namun hasrat cinta mereka "ditantang" oleh kedatangan mantan istri Juan Antonio yang juga seniman, Maria Elena (Penélope Cruz) yang jiwanya labil dan
suicidal kalo nggak mau disebut sakit jiwa—kelihatan sekali Juan Antonio dan Maria Elena masih saling cinta, tapi sayangnya KDRT tak pernah bisa hilang dari antara mereka ^_^;. Apakah Vicky berhasil mengatasi keraguan antara menikah dengan pria baik2 dan hatinya yang tergelitik oleh Juan Antonio? Apakah Cristina akan puas dan terus dengan kehidupan "unik"nya bersama Juan Antonio yang di-"caploki" Maria Elena?

Vicky Cristina Barcelona sesungguhnya adalah film yang sederhana, "hanya" berkisah tentang petualangan cinta semusim dua gadis bersahabat dengan sifat berbeda yang berhasil diluluhlantakan oleh satu pria yang sama. Namun tanpa jatuh terlalu klise dan
over-dramatic, boro-boro sendu, film ini berhasil mengemasnya dengan ringan, nyaman, lucu, dan menghibur, serta sesekali tak terduga. Entah ya, pokoknya gw menikmati sekali adegan demi adegan yang ditampilkan oleh opa Allen yang tanpa beban, terkesan tidak dibuat-buat, natural, ditambah dialog2 yang cerdas dan tepat sasaran namun santai tanpa harus mengawang-awang. Karakterisasinya jempolan, opa Allen sukses menabrakkan berbagai karakter, yang masing2 jadi loveable, dalam rangkaian peristiwa dengan olahan yang cukup manis. Narasi yang mendominasi pun tidak terlalu terkesan kuno, malah jadi penguat rasa nikmat pada setiap adegan yang ada. Ditambah lagi mata penonton disegarkan dengan pemandangan eksotik berbagai sudut kota Barcelona (ada Sagrada Familia, Parque Guell, gerbang Pabellon Guell, Casa Mila..halo bagi yg kerja di travel? *maap lelucuan intern*) dan Oviedo meski sinematografinya tidaklah istimewa. Plus musik yang pas, menyenangkan sekali lah.

Kalau pun dipikir-pikir ceritanya agak menggampangkan situasi—karena menggunakan narator demi mempersingkat—dan tanpa tujuan yang jelas, juga kadang gw merasa ketika filmnya lebih berfokus pada Vicky atau Cristina, pengaturan porsinya agak kurang imbang, tapi secara keseluruhan bisa dibilang gw terpuaskan lah dengan film ini. Kisahnya bergulir tanpa menciderai logika maupun menurunkan selera. Apalagi performa para aktornya patut dipuji, lancar tanpa beban tapi tetap sangat meyakinkan. Penélope Cruz menang piala Oscar atas perannya di sini, dan memang cukup pantas (porsi dikit tapi berkesan sekali), namun akting Rebecca Hall sebenarnya juga perlu diperhitungkan, menegaskan asumsi gw bahwa aktor Inggris lebih sering sukses kala beraksen Amerika ketimbang aktor Amerika beraksen Inggris. Javier Bardem sangat cocok dengan perannya yang agak plin-plan dan
offensive tapi tetap charming dan lembut dengan keterusterangannya. Scarlett Johansson yang belakangan sering main di filmnya opa Allen sayangnya kurang bisa mengimbangi kawan2nya...tapi tetep cakep mbak yang ini @_@. Overall, it's a light, fun, harmless, uncommon yet enjoyable romantic-comedy trip movie ("trip movie" tuh yo opo meneh? ^_^;).


My score:
7/10



Senin, 21 Juni 2010

[Movie] The A-Team (2010)



The A-Team
(2010 - 20th Century Fox)

Directed by Joe Carnahan
Screenplay by Joe Carnahan, Skip Woods, Brian Bloom
Based on the televison series created by Stephen J. Cannell & Frank Luppo
Produced by Ridley Scott, Tony Scott, Stephen J. Cannell, Spike Seldin, Iain Smith, Alex Young, Jules Daly
Cast: Liam Neeson, Bradley Cooper, Jessica Biel, Quinton "Rampage" Jackson, Sharlto Copley, Patrick Wilson, Brian Bloom, Gerald McRaney



The A-Team ini diangkat dari serial TV produksi tahun 1980-an, di sekitar tahun kelahiran gw. Namun bagi yang pernah hidup di paruh awal 1990-an, pasti kenal sama kelompok tentara bayaran buronan negara (AS) dengan karakter2 unik ini yang saban pekan nongol saat
primetime layar RCTI...ya iyalah, TV dulu yang bisa ditonton kan 2 channel doang tho—dan serial impor pasti tayangnya telat di sini. Yang suka nonton TV mau gak mau suka serial ini, pasti familiar sama musik temanya. Selain karena emang gak ada pilihan lain (hehehe), juga harus diakui setiap episode action-comedy ini kebanyakan sukses menghibur penontonnya termasuk gw.

Tahun 2010 The A-Team dibuat versi film layar lebar yang serba baru:
cast baru dan latar belakang tokoh yang disesuaikan (mereka veteran perang Irak, bukan lagi Vietnam...dan Face juga ikut jadi buronan). Sepertinya ini semacam reboot dari kisah mereka, cikal bakal terbentuknya The A-Team sebelum melanglang buana jadi tentara bayaran di luar ranah hukum (did I just give away the ending? =.= v). Terkumpul secara kebetulan dalam sebuah misi di perbatasan AS-Meksiko, tersebutlah tim khusus The A-Team dalam satuan Ranger (di bawah Angkatan Darat AS mungkin?) yang dipimpin Kolonel Hannibal Smith (Liam Neeson) dengan 3 anggotanya: Faceman Peck (Bradley Cooper) yang pandai menyamar sekaligus penakluk wanita—baik yang di dalam film maupun penontonnya (gw nonton bareng rekan2 kerja cewe yg demen banget sama Cooper di sini), B.A. Baracus (Quinton Jackson) si pengendara handal yang gahar fisiknya tapi agak polos sifatnya, dan Murdock (Sharlto Copley) si pilot serbaguna yang sakit jiwa in funny way. Suatu hari ketika hampir akan pulang dari tugas mereka di Irak, seorang yang mengaku dari CIA bernama Lynch (Patrick Wilson) meminta The A-Team menjalankan misi rahasia mengambil plat cetakan uang dolar yang dicuro dan dimiliki kelompok pendukung Saddam Hussein. Misinya berhasil, tapi pas di ujung mereka disabotase, plat itu diembat sama tim lain di bawah pimpinan Pike (Brian Bloom), dan menewaskan atasan yg meng-ACC misi mereka, Jenderal Morrison (Gerald McRaney). Keempat personel The A-Team dituduh bertanggung jawab sekaligus berkhianat, kemudian pangkat mereka dicopot dan masing2 dipenjara di tempat berbeda-beda.

Akan tetapi, beberapa waktu kemudian Lynch kembali muncul di hadapan Hannibal dengan permintaan yang sama—merebut plat cetakan uang dari Pike yg kini bekerja untuk orang Arab misterius, kali ini dengan tawaran imbalan pembebasan dari hukuman dan pengembalian nama baik setiap personel The A-Team. Tawaran diterima, Hannibal membebaskan anggotanya satu per satu, dan The A-Team beraksi menjalankan misi, namun harus dibayangi oleh pengejaran Letnan Charisa Sosa (Jessica Biel) dari Departemen Pertahanan yang juga mantan pacar Face, yang berusaha menangkap para buronan ini sekaligus memperoleh plat cetakan uang tersebut. Terlalu simpel? Ah, tenang, ada
twist kecilnya kok.

The A-Team versi film ini konsepnya serupa dengan serial TVnya:
action-comedy, misi berbahaya yang diselesaikan secara nyentrik dan mengada-ada cenderung konyol, plus karakter2 yang mengikat penonton. Film ini cukup berhasil dalam eksekusi adegan action dalam artian lebih heboh dari format aslinya. Adegan "nonton film 3D" dan pembebasan B.A. lumayan menggelitik gw. Namun sayangnya, secara keseluruhan film ini kurang—meminjam dari Ussy—klik sama gw. Entah karena mood gw yang emang lagi stress saat itu (makanya berharap film ini jadi mindless action flick yang menghibur, tapi ternyata...), atau karena posisi duduk yang nggak enak (kursi pinggir di studio 2 fX, studio yg aneh), pokoknya gw tidak merasa terhibur boro2 terkagum-kagum sama film ini. Adegan pembukanya kelamaan, twist kecilnya agak mudah ditebak, dan kecuali yg gw sebut di atas, adegan2 aksinya seringkali bingungin (nggak tau mereka lagi ngapain dan ada dimana) dan kurang orisinil—serta non-sense tapi karena ini cuma film jadi yg satu itu sedikit dimaafkan. Penggunaan efek visual dengan CGI pun tidak membantu, malah mengurangi excitementnya—kalo menurut gw akan lebih memacu adrenalin andaikan tumpahan peti kemas di klimaks adalah peti kemas betulan =_=.

Jadi pada dasarnya bagi gw The A-Team bukanlah film yang perlu terlalu dihiraukan. Gw kurang bisa menikmati film ini dari awal hingga akhir meskipun belum sampe jengkel. Ada sih beberapa adegan humor yg boleh lah, tapi kurang bisa menambal perasaan “kurang” sesusai nonton film ini secara keseluruhan, laju penceritaan dan naik-turun
mood nya kurang mengena di gw. Teknisnya biasa aja, soundnya agak bising, tapi gambarnya sih cukup oke lah. Untung aja ada Sharlto Copley yang performa sedengnya mencegah gw dari kebosanan (ah, gw suka tuh pas dia ama B.A. paspor paslunya ketuker ^0^). Tapi tetep aja, The A-Team dengan modernisasi dan pemain yang fresh dalam film ini, tak ubahnya tembok kusam yang dicat ulang. Gak berubah banyak, cuman sedikit lebih eye-cathcy aja.


My score:
5,5/10



Sabtu, 19 Juni 2010

[Movie] Where The Wild Things Are (2009)



Where The Wild Things Are
(2009 - Warner Bros.)

Directed by Spike Jonze

Screenplay by Spike Jonze, David Eggers

Based on the book by Maurice Sendak

Produced by Tom Hanks, Gary Goetzman, John Carls, Vincent Landay, Maurice Sendak

Cast: Max Records, Catherine Keener, Mark Ruffalo, James Gandolfini, Catherine O'Hara,
Forest Whitaker, Chris Cooper, Lauren Ambrose, Paul Dano


Meski bertokoh utama seorang anak yang berinteraksi dengan makhluk2 besar serupa (lagi males pake kata "mirip" =P) boneka berbulu seperti badut Dufan, nyatanya Where The Wild Things Are bukanlah semata-mata tontonan kanak2. Merujuk pada satu ayat trivia di IMDB.com, memang film ini berdasarkan buku bergambar untuk anak2 (yang konon cuman ada 9 kalimat), namun dibuat oleh sutradara Spike Jonze dengan orientasi dewasa, dalam artian—jangan ngeres—melihat kembali masa kanak2 dalam pola pikir yang dewasa. Bukan film anak2, melainkan "tentang anak2".
Instead of fantasi penuh keheranan dengan warna warni keceriaan, Where The Wild Things Are berani mengemas film dengan monokromatis, gersang, tapi justru lebih bermakna.

Secara garis besar Where Wild Things Are berkisah mengenai Max (Max Records, sodaraan sama Tower?), bocah 10 tahunan yang ngambek sama emaknya (Catherine Keener) karena dimarahin, lalu kabur ke sebuah pulau antah berantah—yang bisa jadi hanya imajinasinya sendiri—yang dihuni oleh 7 makhluk serupa boneka yang gw singgung tadi. Di sana Max berhasil meyakinkan ke-7 makhluk bongsor itu sedemikian rupa sehingga ia diangkat jadi raja atas mereka, hingga pada suatu titik Max merasa harus pulang, namun dengan membawa pembelajaran dari negeri ajaib itu menjadi orang yang berbeda dari yang sebelumnya.


Sebagaimana gw bilang sebelumnya, film ini tentang anak2. Gw diajak masuk ke dunia Max yang notabene masih anak2, tapi penyampaiannya begitu mengena bagi gw yang merasa suda
h melewati masa kanak2 (dewasa? Belum tentu ^_^). Kita lihat Max adalah anak yang penuh khayalan, cenderung nakal, kesepian dan cari perhatian, di tengah2 situasi keluarga yang kurang..err..mendukung—hanya punya ibu tunggal yg bekerja plus punya pacar baru (Mark Ruffalo), serta kakak remaja perempuan (Pepita Emmerichs) yg tentu sedang masanya mementingkan teman2nya daripada adiknya yang nakal. Jelas Max bukan anak teladan, tapi buat gw dia adalah refleksi dari setiap anak yang belum mengerti posisi diri dan orang lain, ia belum paham dampak dari apapun perbuatannya, dan terutama ia belum paham sama keadaan di sekitarnya. Max kabur ke dunia “where the wild things are” setelah dimarahi keras oleh sang ibu (eh si pacar ibu ikut2 lagi), padahal itu karena Max bertingkah aneh2 dan bahkan gigit pundak ibunya, namun lagi2, Max masih terbilang kecil dan self-centered, yang ia mengerti hanya sesimpel ini: "they treated me like a bad person". Salah? Nggak lah, itu reaksi yang jujur.



Di negeri imajiner inilah Max seharusnya merasa bebas, namun lambat laun dia sadar bahwa tidak mudah menjadi raja dari 7 makhluk yang sifatnya berbeda-beda. Ada Carol (James Gandolfini) yang kreatif sekaligus mudah terpancing emosi; Douglas (Chris Cooper) sahabat sekaligus penasihat yg bijak bagi Carol; Judith (Catherine O’Hara) yang cerewet dan gemar mengritik; Ira (Forest Whitaker) yg lembut dan sabar, agak oon juga kayaknya, pacar Judith; Alexander (Paul Dano) yang fisiknya kecil dan lindah namun sering tidak diacuhkan baik tindakan maupun perkataannya; KW (Lauren Ambrose) yang kalem,ramah dan penyendiri; lalu ada The Bull (Michael Berry, Jr.) yang seram, intimidatif, namun pasif dan hampir nggak pernah ngomong. Ke-7 makhluk ini sebenarnya bertingkah, berinteraksi, bermain, juga berantem layaknya anak2 kecil (lihat adegan perang lumpur hehehe). Max sebagai raja harusnya membuat mereka akur, namun apa daya karena malah konflik yang terjadi. Max seperti dihadapkan pada sifat2 kekanakannya sendiri yang tercermin lewat ke-7 makhluk ini, semisal susahnya mengakurkan Carol dan KW (yang kayaknya saling suka ^_^), karena Carol orangnya ambekan sama KW yang punya “teman lain”, dan KW yang merasa lebih baik main sendiri daripada capek ngumpul sama Carol yang terlalu “drama”. Pun soal ia paling akrab sama Carol dibandingkan yang lain, kenyataan bahwa ia nggak punya kekuatan ajaib—yang membuatnya diangkat jadi raja, serta beberapa “janji” Max yang ketika ditagih ternyata nggak bisa ditepati, ini menjadi titik2 dimana Max harus belajar bertanggung jawab atas setiap perbuatannya…dan betapa tidak mudahnya jadi pemimpin, jadi raja, jadi orang tua.

Berat ya? ^_^; Oh tenang, itu mungkin cara nulis gw aja yang agak terlalu serius dan sok tau *mohon maaf*. Secara filmis, film ini sendiri berjalan tak seberat esensi yang dikandung, kayak main2 saja layaknya melihat dari sudut pandang Max. Sangat berbeda dengan gaya film2 “anak” atau film Hollywood biasanya yang terlalu "memanjakan" penonton dalam bercerita, namun adegan demi adegan di Where The Wild Things Are dibuat rapih dan apik. Karakterisasinya dibuat sedemikian rupa sehingga gw cepat untuk mengenal dan bersimpati tanpa mengganggu laju ceritanya. Secara teknis banyak yang mau gw bicarakan di sini (efek visual, musik, desain karakter “wild things”, editing,
art direction dan lain2 yg semuanya jempolan sekaligus unik), namun perhatian gw terutama tertuju pada sinematografi yang tampak ringan dan biasa, dan warnanya pun tidak meriah, namun sebenarnya menangkap setiap momen lewat sudut2 yang cakep dan unik, serta riil dan bermakna (gw paling suka setiap kamera nyorot matahari langsung). Jadi secara visual, film ini keren dengan gayanya sendiri—sayang segi akting yg hampir sepenuhnya ditanggung oleh si aktor cilik Max Records kurang dapat disebut istimewa.

Harus diakui memang film ini akan sulit disukai apalagi dimengerti, mengingat kisahnya mengalir seakan tanpa benang merah cerita yang jelas. Gw butuh 2 kali untuk memastikan gw benar2 nangkep maknanya, dan mungkin butuh nonton lagi untuk paham lebih jauh. Namun demikian, Where The Wild Things Are berhasil menjadi suguhan film yang membuat gw merasa bercermin, kayaknya ada “saya” juga di dalam film itu. Tanpa perlu spesifik (malu ah), gw seperti menyaksikan representasi diri gw di sana, dan untuk itu gw merasa jadi Max yang harus sadar dan belajar, serta lebih bijak lagi ketika kembali ke alam nyata. Max mungkin belum akan langsung berubah, tapi setidaknya ia mulai mengerti posisi orang lain ketika menghadapi dirinya, sebagai langkah awal menuju kedewasaan sekaligus pengenalan akan diri sendiri,
and so should we.



My score:
7,5/10


Minggu, 13 Juni 2010

[Movie] Minggu Pagi di Victoria Park (2010)



Minggu Pagi di Victoria Park
(2010 - Pic[k]lock Production)


Directed by Lola Amaria
Written and Co-Directed by Titien Wattimena
Produced by Sabrang Mowo Damar Panuluh, Dewi Umaya Rachman
Cast: Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Damara, Donny Alamsyah, Imelda Soraya, Permata Sari Harahap



We thought we knew, but we had no idea
. Minggu Pagi di Victoria Park adalah film tentang TKI (Tenaga Kerja Indonesia), atau TKW (Tenaga Kerja Wanita), atau buruh migran, atau apapun sebutannya, khususnya yang bekerja di Hong Kong. Kita tentu sering mendengar soal TKI—terutama soal penyiksaan oleh majikan atau korban penipuan di bandara ketika tiba kembali ke tanah air, dan dii sisi lain ada juga propaganda pemerintah mengenai TKI yang sukses dan berhasil membangun kampung halamannya (dulu ada deh iklannya). Akan tetapi, correct me if I’m wrong, belum pernah ada satu pun media atau karya yang sukses menggambarkan kehidupan TKI kita di negeri orang dari sudut pandang TKI itu sendiri di medan perjuangan mereka. Dengan demikian, Minggu Pagi di Victoria Park boleh berbangga sebagai perintis konsep ini. Dan para sineasnya pun boleh lebih berbangga lagi, bahwa karya mereka yang terbilang berbeda dan belum ketahuan pangsa pasarnya ini merupakan karya yang sama sekali tidak tercela.

Naskah Minggu Pagi dengan cukup strategis menempatkan tokoh Mayang (Lola Amaria) yang baru bekerja di Hong Kong selama 3 bulan sebagai agen bagi penonton untuk membuka pikiran kita terhadap seluk beluk dunia TKI di Hong Kong. Apa saja yang mereka kerjakan, sedikit mekanisme bagaimana mereka bisa bekerja, interaksi mereka dengan orang sekitar maupun sesama TKI, isi kamar mereka (ada cover MP3 “The Verry Best of Kangen” di kamar Mayang, dan bukan saya yg salah mengeja, huehuehue), cara bicara mereka, apa yang mereka bicarakan, tempat mereka pergi dan berkumpul, pelayanan publik (bank, warung, swalayan) yang mereka gunakan, bahkan sampe cara mengirim uang ke kampungnya (oh, ini iklan banget lho, produknya disebut pula, tapi gw baru sadar pas adegan ini selesai, cukup relevan sih ^_^;). Judul film ini pun mengambil potret pemandangan menarik di Victoria Park, ketika TKI yang mayoritas wanita ini saban hari Minggu (libur) ngariung di sana, dengan kegiatan, gaya dandanan dan pembicaraan yang seringkali mengundang senyum. Kita dan Mayang perlu tahu itu, karena selain jadi pembelajaran bagaimana hidup sebagai TKI, juga sebagai jalan dalam menuntaskan tujuan Mayang menjadi TKI di Hong Kong.


Mayang rupanya mengemban amanah sang ayah untuk mencari sang adik, Sekar (Titi Sjuman,
not Siluman) yang lebih dahulu berangkat jadi TKI ke Hong Kong namun sudah sangat lama hilang tanpa jejak berita. Lewat jejaring sesama TKI, plus kenalan orang Konsulat Jenderal RI, mas Gandi (Donny Damara) dan pedagang muda keturunan,Vincent (Donny Alamsyah…ho, The Donnys?), sebenarnya menemukan Sekar bukan tidak mungkin—meski sulit, hanya saja justru Mayang sendiri yang antara pengen-nggak-pengen menemukan Sekar, mengingat Mayang telanjur sakit hati seumur hidupnya sama kesenjangan perhatian sang ayah pada mereka berdua, apalagi ketika mengetahui apa yang jadi duduk perkara yang membuat Sekar menghilang di negeri kecil nan ramai itu.

Namun selain plot utama di atas, sebagai pelengkap gizi Minggu Pagi di Victoria Park juga menampilkan subplot2 tentang permasalahan yang dialami rekan TKI Mayang yang lain, tapi untungnya, porsinya tidak mengganggu, malah jadi memperkaya keseluruhan film ini. Untungnya lagi, eksekusinya enak2 aja, mengalir cukup lancar tanpa ada kesan memperlambat cerita. Bagi gw menarik sekali film ini menampilkan penggalan2 kehidupan TKI di Hong Kong sana, seperti teman paling dekat Mayang, Sari (Imelda Soraya) yang punya pacar sesama buruh migran dari..err..Bangladesh mungkin (?) yg demen banget mlorotin si cewek, lalu ada Yati (Permata Sari Harahap) yg merahasiakan pengetahuannya tentang keberadaan Sekar, yang menjalin cinta lesbiola, kemudian Tuti (lupa nama pemerannya) yang ramah dan agak
know-it-all yang tampil layaknya “babu” di hari biasa, tapi berdandan ala “Christina Agwilera” di setiap Minggu pagi (hehehe). Lalu ada pula semacam rahasia bahwa tak jarang TKI di sana terlibat utang (perusahaan semacam “Super Kredit” ini beneran ada gak ya?) yang mungkin luput dari pengetahuan sebagian besar kita di tanah air. Namun sekali lagi, film ini nggak lantas gegabah dalam menceritakan semua itu dengan bertubi-tubi, semua tepat takarannya dan dirangkum sedemikian rupa sehingga mudah sekali diikuti, nggak berat.

Kalau boleh gw juga mau salut sama sang sutradara yang juga merangkap pemeran utama, Lola Amaria. Situ oke banget lho mbak. Gw tadinya mikir Lola akan bikin film “kelewat idealis” mengingat resume film garapan perdananya, Beth yang bahkan nggak tayang di bioskop, serta dulu dia mantannya Aria Kusumadewa *biang gosip* (I don’t like Identitas), tapi ternyata Minggu Pagi merupakan sajian yang sangat nikmat dilahap oleh—menurut hemat saya—siapa saja. Dengan syuting
on location di Hong Kong (tanpa harus kasih cap “Asli 100% Hong Kong” di posternya *wah kayak film apa tuh?*), Minggu Pagi berhasil menyodorkan adegan demi adegan yang realistis dan membumi tanpa dramatisasi berlebih, apalagi didukung dialog-dialog dengan bahasa yang sedekat mungkin digunakan oleh para TKI kita di sana yang mayoritas dari Jawa Timur. Pujian pun harus diberikan bagi para pemerannya yang mayoritas sukses dalam membawakan perannya. Tiga orang yang pelru gw catet adalah Lola yg oke dan intens, Titi Sjuman yang luar biasa hebat, dan si pemeran Tuti yang tampil sangat natural terkesan layaknya tidak berakting.

Namun, film bagus ini bukannya tanpa kelemahan. Dari akting, The Donnys sungguh jadi pengganjal film ini bagi gw. Donny Damara adalah
miscasting yang fatal untuk jadi mas Gandi yang harusnya simpatik dan mengayomi para TKI—kalo gw akan memilih Tio Pakusadewo atau Rudy Salam mungkin untuk peran ini. Gestur dan cara penyampaian dialognya sinetron banget. Donny Alamsyah, yah sama aja lah kayak gw liat film2 dia sebelumnya, datar, terlepas dari karakternya yang memang hanya pemanis saja (whoa, cowok cuman pemanis di film? Jarang2 nih ^_^ *agak nggak terima*). Naskahnya yang secara keseluruhan bagus pun tetap memiliki beberapa spot, gw itung minimal 3 spot, yang agak misplaced dan bikin gw mikir “opo seh?” karena kurang believable dan mengawang-awang, mungkin karena dari naskahnya atau karena penyampaian oleh si aktor yang kurang sreg. Di bagian akhir pun ada satu permasalahan yang kurang dijelaskan gimana jadinya (utang Sekar?).

Akan tetapi gw berusaha tidak terlalu mempermasalahkan kelemahan2 di atas untuk memberikan tepuk tangan tulus buat Lola Amaria dan kawan2. Sinematografinya yang ada dibawah pengarahan Yadi Sugandi cakeeep banget, dengan
sound yang bening, presentasi di bioskop pun oke sekali—mungkin karena pascaproduksinya diproses di Hong Kong. Sektor musik yang ditangani Aksan Sjuman terbilang powerful, nggak salah konteks dan didukung beberapa lagu dari beberapa artis yang terasa pas sekali, ditambah lagu soal TKI dari Kangen band yang konon sempat jadi hits di antara TKI di Hong Kong sana, yang terkesan sangat relevan (mungkin bila Kangen band dikedepankan dalam promosi film ini, bisa jadi filmnya akan laku keras *hehehe*, gw kmaren nonton 1 bioskop cuman 6 orang, man…ya jam 9 malem sih). Kesimpulannya, Minggu Pagi di Victoria Park adalah sebuah film nasional yang sangat layak dan patut dan perlu ditonton. Bukan karya sempurna, tetapi jadi karya penting karena wawasan yang ditawarkan, menggugah karena kisahnya yang mengena dan nggak kacangan, dan menghibur karena kebersahajaannya, serta harus dihargai karena niat baik dan eksekusi yang baik pula. Seriously, please watch it.



My score:
8/10