Minggu, 30 Mei 2010

[Movie] Kick-Ass (2010)



Kick-Ass

(2010 - Marv/Lionsgate)


Directed by Matthew Vaughn
Screenplay by Jane Goldman, Matthew Vaughn
Based on the comic books by Mark Millar & John S. Romita Jr.
Produced by Matthew Vaughn, Brad Pitt, Kris Thykier, Adam Bohling, Tarquin Pack, David Reid
Cast: Aaron Johnson, Christopher Mintz-Plasse, Chloë Grace Moretz, Mark Strong, Nicolas Cage, Clark Duke, Evan Peters, Xander Berkeley, Omari Hardwick



Gw denger
buzz film Kick-Ass dari beberapa blog tetangga yang rupanya sangat menantikan film berjudul kasar ini. Mengetahui premisnya pun gw jadi ikut tertarik, karena kisahnya juga bukan soal superhero bertopeng biasa2. Kick-Ass menempatkan superhero di dunia yang lebih riil, agak mirip sama film Watchmen yang dirilis tahun lalu, tapi ini kayak versi yg lebih ringan. Bedanya juga kalo Watchmen malah berkisah tentang para vigilante yg pensiun, maka film Kick-Ass yang ini semacam cikal bakal adanya pahlawan2 bertopeng tanpa kekuatan super itu yang terpanggil untuk menumpas kejahatan yang tak tersentuh hukum.

Awalnya kisah film ini memang tidak serius. Dave Lizewski (Aaron Johnson) adalah anak SMA Amerika yang rata-rata, nggak "terpandang", paling sering berkutat bareng 2 temannya yg sama2 penggemar komik, dan sepertinya hobinya itulah yang membuat Dave “memaksakan diri” untuk menjadi superhero (?). Berbekal beli kostum di eBay dan sepasang pentungan satpam, tanpa kekuatan super, bahkan tanpa pelatihan bela diri apapun bentuknya, Dave memulai karirnya sebagai superhero bernama Kick-Ass, yang menerima permintaan tolong lewat akun MySpace. Aksi pertama lawan preman, kalah, plus ketabrak mobil, babak belur, malah masuk rumah sakit (^_^;). Beberapa bulan kemudian, Dave pulih (bahkan lebih kuat karena tulang2nya disambung besi dan syarafnya kurang sensitif sama rasa sakit) tapi nggak kapok untuk tetap beraksi jadi Kick-Ass. Aksi keduanya ia menolong orang yg dikeroyok preman, babak belur juga sih, tapi aksinya direkam banyak orang lalu diunggah di YouTube...lalu disaksikan jutaan kali, Kick-Ass jadi fenomena yang melebihi Lady Gaga dan Justin Bieber! *halah*


Meski berawal dari suatu niat yg terkesan kekanakan tapi tulus, lambat laun Kick-Ass pun bersentuhan dengan kejahatan “betulan”. Suatu kali ketika nyawanya hampir melayang melawan sekelompok gangster, Kick-Ass diselamatkan oleh sesama pahlawan bertopeng: si gadis cilik bermulut comberan Hit Girl (Chloë Grace Moretz) serta ayahnya yang ngomong kayak robot, Big Daddy (Nicolas Cage), bedanya mereka berdua ini punya kemampuan bertarung yg sesungguhnya. Mereka berdua sedang dalam usaha menrontokkan boss mafia Frank D’Amico (Mark Strong) dan antek2nya—termasuk gangster yg dihadapi Kick-Ass—sekaligus menyadarkan Kick-Ass bahwa membasmi kejahatan itu bukan perkara main-main. Di lain pihak D’Amico pun curiga bahwa Kick-Ass terlibat dalam kemandegan bisnis narkobanya akhir2 ini, sehingga mencari cara agar dapat menangkapnya. Sang putra Chris (Christopher Mintz-Plasse), yg satu sekolah dengan Dave, pun menawarkan diri membantu sang ayah dengan menjadi seorang superhero bernama Red Mist—plus mobil keren ala MTV Pimp My Ride—dengan rencana nantinya berteman lalu menjebak Kick-Ass. Lalu, apakah Dave/Kick-Ass akhirnya akan terus menceburkan dirinya menjadi pahlawan bertopeng pembasmi kejahatan seperti yg diimpikannya setelah melihat bahwa apa yang dihadapinya merupakan perkara hidup dan mati yg sebelumnya tidak terbayangkan?


Kick-Ass bagi gw adalah sebuah sajian (bukan sesajian ya) yang sama sekali tidak mengecewakan. Gw merasa film ini pas, baik dari segi komedi (mungkin
black comedy) maupun dari segi aksi, baik dari karakterisasi maupun jalan cerita. Film ini dimulai layaknya drama komedi tentang kegelisahan remaja yang selalu merasa kurang dan ingin jadi "lebih" daripada dirinya sekarang, lalu kemudian bergeser ke aksi demi aksi yang agak sadistis namun keren dan menghibur (unsur sadisme inilah yang konon menyebabkan studio2 besar urung mendanai dan mengedarkan film ini). Pergeseran komedi ke aksi pun cukup smooth, gw nggak merasakan ada skip atau guncangan ketika filmnya mulai bergerak lebih “serius”. Adegan demi adegan dirangkai tepat dan enak dihiasi dialog dan narasi yang lugas dan segar, terutama dengan referensi pop culture zaman sekarang, plus humor2 yang nggak garing. Gw pun dapat menerima bahwa apa yang ditampilkan di film ini memang cukup plausible di kehidupan nyata, terkesan believable dan menambah intensitas, sehingga jauh dari kesan kacangan, ini jelas bukan film tipe "menghibur dan membodohi". Kerapihan naskah kemudian diperkuat dengan tampilan visual yang memikat dan keren. Dengan penempatan yang tepat dan nggak pecicilan, setiap adegan aksinya dieksekusi secara kreatif, berkelas dan memacu adrenalin, berdarah tapi seru euy, saat adegan penembakan bazooka di akhir gw sempet silent-applause lho. Namun, rasanya yang paling exciting adalah adegan2 laga dari Hit Girl yang lincah dan efektif sekaligus kejam, meski gw pribadi merasa tokoh Hit Girl ini terlalu absurd dan agak bikin miris juga, anak kecil kok bunuh orang2 dan ngomong jorok enak banget kayaknya *mulai merasa tua*. Tapi ya sudahlah, namanya juga film, keren kok keliatannya, asal jangan ajak anak kecil nonton aja, hanya orang tua gila yang akan berbuat begitu.

Biarlah Hit Girl menjadi
scene stealer, tapi menurut gw tokoh yang menarik justru Dave/Kick-Ass. Ia bukan gambaran pemuda istimewa, biasa banget, ibaratnya hanya figuran di sekolah, namun ia jadi istimewa karena tekad dan niat yang murni, berbeda dengan "superhero" yang ada di karya lainnya yang terkesan didramatisir (sebagaimana Dave bilang, nggak perlu kena gigitan laba-laba mutan atau trauma masa kecil untuk jadi superhero), bahkan Big Daddy dan Hit Girl pun termotivasi oleh dendam pribadi. Seharusnya, si Dave ini bisa jadi tokoh yg relate sama siapa saja, Kick-Ass lahir hanya karena tekad dan niat yang (sebenarnya) mulia, yang berarti semua orang pun bisa jadi apapun yang diinginkan dengan cara dan motivasi yang serupa...kecuali untuk jadi pahlawan bertopeng kali ya =_=;. Hanya sayang, sepertinya perhatian penonton pada Kick-Ass agak teralihkan di paruh akhir ketika muncul Hit Girl yang eye-catchy dan aksinya lebih memukau itu.

Di luar itu, kesimpulan gw, meskipun cukup berbeda dari kisah superhero komik biasanya, pada dasarnya Kick-Ass adalah kisah
from zero to hero (or superhero) yang berpotensi klise, tidak ada yang baru dari sana (perkembangan tokoh Dave/Kick-Ass cukup mudah tertebak), tetapi film ini berhasil dikemas dengan sangat menarik dan sama sekali tidak membosankan. Film ini bisa mengajak gw tersenyum, tertawa sekaligus kagum akan kekerenan adegan actionnya yang dipresentasikan dengan dinamis dan enerjik, bahkan film ini sukses menyelipkan unsur emosional yang nggak salah tempat. Didukung oleh departemen teknis yang mantap (sinematografi, editing, sound, musik) serta aktor2 yang kurang terkenal (ya kecuali Nicolas Cage) tapi berperforma ciamik, I gotta say I pretty much enjoyed Kick-Ass. Sebuah film yang entertaining meski belum favorit, dan mau ada sekuel pun nggak masalah, gw tunggu deh ^_^.



my score
7/10


Minggu, 23 Mei 2010

[Movie] The Sixth Sense (1999)



The Sixth Sense

(1999 - Hollywood Pictures)


Written and Directed by M. Night Shyamalan

Produced by Frank Marshall, Kathleen Kennedy, Barry Mendel

Cast: Bruce Willis, Haley Joel Osment, Toni Collette, Olivia Williams, Donnie Wahlberg, Trevor Morgan, Mischa Barton



Jika ada yg tanya gw--
and that's a big "if"--apa film favorit gw, gw akan jawab The Sixth Sense. Well, mungkin kalo ditanya sekarang, apalagi setelah menonton ulang baru2 ini, film ini bukan lagi "favorit no.1" gw, tapi tetep aja, The Sixth Sense adalah cikal bakal gw bener2 suka sama yg namanya seni film, dan akan tetap dalam jajaran favorit gw sepanjang masa. Padahal perkenalan gw akan film ini lucu juga. Waktu itu gw masih SMP tahun 2000, gw belum segitu rajinnya pergi ke bioskop, dan gw gak terlalu ngeh bahwa film ini begitu populer, horor sih, nggak tertarik (dasar penakut), tapi jadi cukup tertarik setelah tau film ini masuk nominasi Oscar dalam kategori2 nggak main2 (Aktor Pendukung, Aktris Pendukung, Editing, Naskah Asli, Sutradara, dan Film Terbaik! selain perolehan box officenya tahun 1999 termsuk fantastis, hanya kalah dari Star Wars Episode I). Sebelum gw akhirnya nonton, seorang sepupu gw bahkan udah membocorkan endingnya! Lalu suatu hari gw menyewa VCD film ini, lalu nonton, dan keesokan harinya, setelah balikin ke penyewaan, gw langsung ke Disc Tarra dan beli VCDnya...I liked it a lot!

Jika ditulis sinopsisnya, The Sixth Sense cukup sederhana. Dr. Malcolm Crowe (Bruce Willis) adalah seorang psikiater spesialis anak yg sedang menangani Cole Sear (Haley Joel Osment), seorang anak sekitar 9 tahun yg
gloomy, introvert, sarkastik yang kerap ketakutan plus dengan luka2 di tubuhnya, yg belakangan mengaku bisa melihat roh orang mati ("I see dead people," anyone? ^_^). Cole ingin Crowe "menyembuhkan" dirinya agar nggak usah bisa liat hantu lagi, sedangkan Crowe yg nggak percaya hal2 begituan mencoba menyembuhkan Cole secara psikis sesuai ilmu yang dikuasainya, tanpa sadar bahwa yang dikatakan Cole bukan sekadar halusinasi belaka. Itu saja intinya.

Pengakuan: gw nggak suka horor. Gw rada penakut, dan menurut gw film horor itu kebanyakan isinya cuman aneka cara menakut-nakuti penonton tanpa tujuan jelas selain menakut-nakuti. Pernyataan ini emang bertentangan sama pernyataan gw di awal bahwa The Sixth Sense adalah salah satu film terfavorit gw sepanjang masa. Tapi The Sixth Sense bukanlah film horor seperti yg gw cirikan di atas. Soal hantu2an memang, yg identik dengan horor supranatural, tapi yang membuat film ini istimewa, terutama bagi gw, adalah pendekatan drama yang sama kuat dengan bagian horornya. Terlepas dari kemampuan ajaib sang penulis sekaligus sutradara, M. Night Shyamalan untuk membungkus ceritanya dengan solid dan rapih, sampai pada
ending maknyuss yg kemudian banyak sekali ditiru (yg memang jadi salah satu poin yg membuat film ini sangat populer), hal yang membuat gw selalu terpanggil untuk nonton ini berkali-kali adalah drama yang simpatik dan menyentuh.

Awalnya film memang diarahkan kepada apakah benar Cole melihat hantu atau tidak, dan ketika penonton tahu itu benar, apakah Crowe akan percaya dan tau bagaimana cara membantu Cole mengatasinya. Di sini gw lihat bahwa filmnya memang nggak menekankan cerita pada hantunya, tapi pada manusianya. Crowe berusaha mengenal dekat Cole dengan harapan dapat menyembuhkannya, pada perkembangannya timbul ikatan emosional dan saling percaya di antara mereka berdua, dan ini pun tersampaikan dengan sangat baik di film ini. Nyatanya, bukan hanya Cole yg punya masalah (udahlah serem ngeliat hantu, dia juga kadang kena serangan fisik), Crowe pun bermasalah dalam perkawinannya, ketika istrinya (Olivia Williams) seakan nggak peduli lagi sama dia, bahkan disinyalir mulai ada main sama cowok lain, sangat mungkin disebabkan oleh Crowe yg terlalu mengabdi pada pekerjaannya, namun Crowe tetap nggak bisa meninggalkan Cole begitu saja. Lewat hubungan Crowe dan Cole serta melalui beberapa rangkaian peristiwa, bukan hanya Cole yg dibantu Crowe, tapi pada akhirnya Crowe juga dibantu Cole. Begitu pula tentang penggambaran hubungan Cole dan sang ibu, Lynn (Toni Collette) yg harus mengasuhnya sendirian. Cole memang cenderung menyimpan "masalah"nya sendiri, sehingga kadang sang ibu tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan putranya yg selalu murung dan bertingkah aneh (dan "mengundang" kejadian aneh) itu, hanya saja si ibu "slebor" ini selalu berusaha menjadi ibu yang baik bagi Cole meski tidaklah selalu mulus, ya karena itu tadi, dia nggak tau dan nggak diberitahu apa masalah Cole. Namun gw dapat merasakan betapa besarnya kasih sayang Lynn pada Cole dan begitu pula sebaliknya, jelas tak lepas dari
chemistry para aktornya yg dapet banget (Toni Collette is such a talented actress indeed). Dengan penataan adegan yang intens dan dialog yg bagus, didukung oleh akting mumpuni oleh cast utamanya, film ini berhasil mengundang keterlibatan emosi penonton, gw setidaknya.

Nah, tapi, teteplah film hantu2an hukumnya harus horor. Bagian drama udah mantep, bagian horor pun tidak kehilangan taringnya, serem, terima kasih terutama pada musik latarnya (=.=;). Yang juga gw suka dari film ini adalah tampilan horornya nggak pecicilan (maksudnya berusaha terlalu keras untuk menakuti). Kemunculan hantu2, atau hanya tanda2nya, diletakkan dengan tepat, kadang tak disangka-sangka. Beda dengan beberapa film horor yg gw pernah tonton, film ini
scary by not scaring, menakutkan tanpa (kelihatan) sengaja menakuti. Bahkan biar udah nonton beberapa kali, gw masih aja serem sama adegan Cole pipis malem2 dan kemunculan Kyra (Mischa Barton) di "tenda" Cole, malah waktu Crowe muter kaset rekaman wawancara dengan Vincent Gray (tokoh Donnie Wahlberg tapi yg masih seusia Cole) masih bikin gw merinding aja gitu.

Maka jika disimpulkan, The Sixth Sense adalah film horor yang berhasil menanggalkan formula horor standar dengan pendekatan drama kemanusiaan yg kokoh, tapi juga tetap tidak menumpulkan unsur horornya. Itu saja sebenarnya sudah cukup untuk memuaskan gw sebagai penonton, seandainya tanpa
twist endingnya pun, film ini bakal tetap jadi film yg bagus--inilah yg bikin gw terbuai sampe bisa hampir lupa sama spoiler yg dikasih tau sepupu gw itu, jadinya gw tetep kaget ^_^;. Gw nggak tau ada film lain lagi yg seperti ini, atau setidaknya sama berhasilnya, yang pasti inilah yang membuat The Sixth Sense istimewa. Gw suka dengan penataan adegannya yg punya atmosfer khas (mungkin mirip Hitchcock? entahlah), tampak sederhana, agak lambat tapi nggak kelamaan, ritmenya tepat, dan terkesan lebih mendalam, serta, di lain pihak, mencekam. Secara teknis pun, it's just looked right. Terus terang, gw suka dengan gaya penyutradaraan M. Night Shyamalan yang seperti ini, yg terus terbawa ke karya2 selanjutnya. Gw masih fine2 aja lho dengan gaya visualnya di karya Night yg lain, bahkan yg sekacrut Lady In The Water dan The Happening sekalipun, sayang yang terlihat justru gaya penulisan naskah beliau makin kesini nggak berkembang dan makin absurd. Biarpun begitu, itu tidak mengurangi respek gw kepada The Sixth Sense sebagai film crossover horor-drama yang sukses dan memang bagus, mungkin terbaik, serta masih dan masih jadi film yg akan punya tempat di hati gw. Top dah pokoknya.



my score:
9/10

Selasa, 11 Mei 2010

[Movie] Agora (2009)



Agora
(2009 - Focus Features)


Directed by Alejandro Amenábar
Written by Alejandro Amenábar, Mateo Gil
Produced by Álvaro Augustín, Fernando Bovaira
Cast: Rachel Weisz, Max Minghella, Oscar Isaac, Ashraf Barhom, Michael Lonsdale, Rupert Evans, Sami Samir



Err, bukan, Rachel Weisz yg dipampang gede2 di posternya bukan berperan sebagai tokoh bernama Agora, karena 'agora' adalah sebutan bagi plaza, atau alun2 kota tempat semua orang berlalu lalang di Alexandria (Mesir) abad ke-4, ketika masih dalam kekuasaan Romawi. Weisz sendiri berperan sebagai Hypatia, filsuf wanita di Alexandria yg cemerlang baik otak maupun fisiknya, yg menjadi guru bagi banyak pemimpin2 pada zaman itu. Sebenarnya, dari sini aja udah ada tanda2 ketidakkonsistenan film ini, mau ceritain apa sih? Apa hubungannya Agora sama Hypatia?


Gw sendiri menyimpulkan Agora adalah film sejarah, lengkap dengan keterangan waktu dan latar dalam bentuk tulisan, (ah,
so Star Wars). Akurasinya gw kurang paham, tapi ya begitu deh, tokoh2 dan beberapak peristiwa yg ditampilkan pada umumnya adalah non-fiksi dan ada dalam sejarah. Gw nggak tau apa2 soal apa yg diceritakan film ini, jadi gw cuma akan mencoba menangkap apa yg disampaikan oleh film ini saja. Latarnya adalah Alexandria, atau sekarang namanya Iskandariyah di Mesir, kota yg sangat maju pada zaman itu, dan mempunyai perpustakaan terbesar dan terlengkap di seluruh kekaisaran Roma (Library of Alexandria, buku2nya masih berupa gulungan dengan huruf2 romawi kuno). Pada zaman ini pula agama Kristen semakin meluas dan pemeluknya semakin banyak, bahkan telah diakui oleh pemerintahan Romawi, tak terkecuali di Alexandria, yg umumnya dipeluk oleh warga termarjinalkan. Waktu film ini dimulai, pemeluk Kristen di Alexandria dipimpin oleh Uskup Theopilus, yg gatel dengan keberadaan agama asli a.k.a. pagan a.k.a. berhala beserta patung2 sesembahan di kota itu, dan kegatelan itu diimplementasikan oleh para pengikutnya (dan ada yg disebut Parabalano, aparat penegak "syariat" semacam banser atau pecalang, yg digambarkan suka memprovokasi). Agora di Alexandria menjadi arena saling cemooh antar umat beragama yg seringkali berujung pada kekerasan. Puncaknya terjadi ketika si Uskup sendiri yg "memimpin" umat untuk mengejek patung berhala yg ada di agora, dan para pemeluk pagan yg sebagian besar berpendidikan tinggi dan kegiatannya berpusat di Perpustakaan Alexandria, memutuskan untuk bertindak ekstrim dengan membunuh langsung orang2 Kristen yg ada di agora saat itu juga. Tapi keadaan berbalik, kekacauan terjadi, tanpa mereka sadari pemeluk Kristen di sana sudah sangat2 banyak dan malah mendesak kaum pagan yg hanya bisa bertahan di lingkungan perpustakaan. Demi mencegah pertumpahan darah lebih lanjut, Kaisar Roma memutuskan untuk mengamankan kaum pagan hingga selamat, dan memperbolehkan kaum Kristen untuk memasuki perpustakaan dengan bebas, yg sebagaimana bisa ditebak, berujung pada anarki dan pengrusakan perpustakaan itu.

Lha, Hypatia-nya dimana? Oh, ada tuh, di dalam perpustakaan, berusaha mengamankan buku2 yg ada. ^_^; Hypatia ini mungkin satu2nya wanita yg ada di Alexandria yg boleh mengajar filsafat. Ia mencintai ilmu pengetahuan, dan senantiasa tergelitik untuk mencari jawaban dari pertanyaan2 mendasar: bumi itu apa, dimana, bagaimana bentuknya, matahari serta planet2 tuh apanya bumi, kenapa posisinya berbeda setiap musim? Sebuah pemikiran yg sangat maju di zamannya tapi harus terepresi dalam sejarah hingga zamannya Keppler atau Galileo, mungkin karena dia seorang wanita. Di tengah2 gejolak kotanya, Hypatia hanya peduli pada filsafat dan benci kekerasan. Kerupawanannya menarik hati para pria, tak terkecuali salah satu muridnya Orestes (Oscar Isaac) yg bahkan pernah menyatakan cintanya di depan khalayak ramai; serta budaknya yg pintar, Davus (Max Minghella), yg harus memendam perasaannya karena..
well..dia seorang budak, namun Hypatia sendiri pun tak peduli pada yg namanya cinta, bahkan menolak cinta Orestes dengan memberinya saputangan dengan darah haidnya (...). Davus sendiri punya konflik batin, ia mencintai Hypatia, tetapi ia pun terpanggil untuk menjadi Kristen yg tidak mengenal strata majikan-budak. Dan ketika peristiwa pagan vs Kristen yg gw sebutkan tadi, Davus pun memilih meninggalkan Hypatia, jadi orang merdeka, dan jadi seorang Kristen.

Perhatikan paragraf "latar" lebih panjang daripada "plot"? Eits, ada babak keduanya lho. 6 tahun kemudian, agama Kristen menjadi mayoritas di Alexandria, bahkan pimpinan pemerintahan pun sudah menjadi Kristen, termasuk Orsestes yg kini sudah jadi prefek (gubernur?) Alexandria. Davus pun kini aktif jadi Parabalano. Sedangkan Hypatia masih berkutat pada filsafat, dan menjadi penasihat sekaligus sahabat dari Orestes, dan...Udahan ah, kepanjangan kalo diceritain juga bagian ini. Maafkan atas keterbatasan pengetahuan dan lambannya otak, tapi jujur gw nggak bisa menikmati film ini. Bukan masalah sensitivitas agama, tapi emang filmnya nggak jelas juntrungannya. Ribet dan berat, dan seakan mengabaikan sisi manusiawi dari (yg harusnya) tokoh utamanya, Hypatia, karena filmnya sendiri sering jalan2 menjauh dari Hypatia demi menjelaskan sejelas-jelasnya tentang keadaan Alexandria, bahkan sering2 ke luar angkasa untuk meng
zoom in/zoom out bumi dengan citra satelit kayak pake Google Earth (pointless =_=). Padahal sektor human drama-nya sangat potensial, tapi hampir tenggelam oleh porsi latar keadaan. Film ini seperti acara tayangan National Geographic atau History Channel tanpa narator, yg karena itu membuat gw merasa "so what's the point?" Bisa juga dibilang mirip sama serial drama sejarah Jepang di channel NHK, contoh yg gw pernah tonton komplit adalah "Atsuhime", tapi itu masih mendingan karena meletakkan si tokoh utama sebagai penggerak cerita, nggak ngelantur kemana-mana, penjelasan latar keadaan secukupnya saja.

2 jam film Agora rasanya lama sekali, karena itu tadi, menantikan kemunculan Hypatia agak bikin gregetan. Adegan perang2annya terlalu dipanjang-panjangkan, walaupun gw akui cukup realistis, tapi tetep aja kelamaan. Kenapa sih nggak lebih fokus pada kehidupan Hypatia dan pemikiran2nya? Terutama soal alam semesta dan bumi, itu menarik sekali lho. Menjelaskan latar keadaan sih memang penting tapi apa porsinya harus menghabiskan separuh durasi film? Apa memang tujuannya menceritakan keadaan sejarah Alexandria dan akhir dari kejayaan paganisme di kerajaan Romawi sebelum dikuasai oleh hierarki gereja, dengan Hypatia sebagai bumbunya? (lho, malah tambah aneh kedengarannya). Ya udahlah. Intinya sih gw mau bilang film ini agak kurang--atau gw yg terlalu picik,
i don't know, gitu aja sih.

Namun apresiasi perlu juga gw sematkan pada film produksi Spanyol ini (untuk konsumsi internasional, mau ngekor Prancis dan Luc Besson sepertinya). Rachel Weisz memang jauh dari mengecewakan, tak hanya dengan wajah ayu dan kulit ala bintang iklan sabun Lux (lho, emang iya kale), penghayatan dan performanya sebagai Hypatia sangat terpuji, sayang, seperti gw bilang sebelumnya, porsi kemunculannya tidak sebanyak yg diharapkan. Peran pendukungnya sih lumayanlah, Max Minghella cukup sukes, sedang Oscar Isaac gw bilang sih
so-so. Desain produksinya dan tata kostumnya sangat meyakinkan, keren. Secara sinematografi cukup bagus, ada beberapa shot yg mantep seperti melihat keadaan kacau kota dari atas secara vertikal layaknya sudut pandang burung (bird's eye, hehehe), tapi mungkin gw agak terganggu sama presentasi format digital saat gw nonton ini di bioskop, gambarnya kurang tajem dan garis2, layaknya DVD yg ditampilkan di layar yg terlalu besar. Tapi, pokoknya film ini cukup oke di mata.

Gw pun salut sama sutradara/penulis yg berani menampilkan gambaran perseteruan antar golongan agama yg terjadi di Alexandria, mungkin agak terkesan berat sebelah, tetapi kalau dipikir-pikir, masuk akal juga, apalagi untuk zaman itu. Zaman ketika kekerasan masih membudaya, zaman ketika tidak semua orang benar2 mengerti agama yg dipeluknya karena tidak punya akses terhadap sumber kepercayaan dan pengetahuan sehingga terlalu tergantung dan mudah terpengaruh pada pemimpinnya yang belum tentu benar2 jujur mengamanahkan yg sesuai agama, sehingga memanfaatkan fanatisme pengikutnya untuk mencapai tujuan yg nggak melulu untuk Tuhan-nya. Zaman ketika agama adalah alat politik yg efektif sekaligus beresiko, mengingat agama bukan hanya soal kepercayaan, tapi juga pengikat komunitas yang sangat kuat dan sensitif, dan kerap kali hukum yg berlaku dan aparatnya tak berdaya membendungnya, sebab tindakan apapun dapat dibenarkan dan dimaklumi asalkan berlabel agama. Maksud gw bahwa itu masuk akal, adalah karena hal yg sama masih terjadi di dunia kita, atau bahkan tepatnya, negara kita sekarang2 ini, ya kan? Duh...malah gw yg ngelantur.


So
, kesimpulannya, Agora adalah film yg kuat dalam menggambarkan, tetapi lemah dalam menceritakan. Kalau memang ingin membuat visualisasi peristiwa sejarah, ya buatlah film demikian, jangan letakkan Hypatia sebagai yg utama, karena ia hanya salah satu bagian dari sejarah. Kalau memang ingin membuat film tentang Hypatia dan romantika kehidupannya, buatlah film yg lebih bertumpu padanya, yg lebih membumi supaya dapat mengundang ikatan emosi lebih dengan penontonnya. Kalau ingin bikin film soal kucing...oh...itu Anggora deing =P



my score:
6/10


Senin, 10 Mei 2010

[Movie] Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (2004)



Harry Potter and The Prisoner of Azkaban
(2004 - Warner Bros.)

Directed by Alfonso Cuarón

Screenplay by Steve Kloves

Based on the novel by J.K. Rowling

Produced by David Heyman, Mark Radcliffe, Chris Columbus

Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Maggie Smith, Alan Rickman, David Thewlis, Gary Oldman, Emma Thompson, Tom Felton, Timothy Spall



Menurut arsip blogspot gw, di postingan Rapid Film Reviews tertanggal 28 Juli 2009 gw pernah menyinggung bakal membuat review lengkap untuk Harry Potter and The Prisoner of Azkaban. Dan akhirnya, hampir 10 bulan kemudian =.=; pernyataan itu terealisasi. Kenapa harus secara khusus sementara yg seri lain sebelum Half-Blood Prince hanya singkat?
Simply karena ini film Harry Potter terfavorit gw, bahkan setelah gw tonton ulang baru2 ini tetap demikian, selain ini jadi film perkenalan gw dengan sutradara (hampir jadi) kesukaan gw, Alfonso Cuarón.

Benang merah kisah tahun ketiga Harry (Daniel Radcliffe), si anak penyihir yatim piatu tersohor di dunia sihir yg menuntut ilmu di sekolah pendidikan sihir Hogwarts kali ini adalah kaburnya penjahat besar bernama Sirius Black (Gary Oldman) dari penjara sihir paling ketat Azkaban, yg diduga mengincar nyawa Harry, yg dikuatkan dengan banyaknya
grim ('pertanda celaka'?) di sekitar Harry. Sirius dianggap sangat berbahaya karena pernah membunuh belasan orang sekaligus hanya dalam satu mantera, sekaligus menjadi antek penyihir jahat paling ditakuti, Voldermort. Karena kekhawatiran itu, makhluk2 penjaga penjara Azkaban yg disebut Dementors pun disebar untuk mencari Sirius, tak terkecuali di lingkungan sekolah Hogwarts. Tadinya Harry nggak segitu ngeh-nya sama si Sirius ini, bahkan ketika ada bukti nyata bahwa Sirius sudah bisa sampe masuk lingkungan Hogwarts, ia lebih concern pada kenapa dia selalu ketakutan dan pengsan setiap ketemu Dementors. Tapi dasar Harry yg senantiasa penasaranan, ia akhirnya tau bahwa Sirius adalah sahabat mendiang ayahnya, bahkan ia adalah ayah-wali (godfather, agak aneh kalo gw bilang "ayah baptis")-nya Harry...tapi lebih lagi, Sirius ini yg memberi tahu Voldermort dimana orang tua Harry berada sehingga mereka terbunuh oleh si Dark Lord itu. Maka Harry pun termotivasi untuk menghadapi Sirius, meskipun akhirnya akan ada rahasia yg lebih mencengangkan lagi menantinya.

Memposisikan Azkaban jadi film Harry Potter favorit gw sebenernya bermula dari novelnya yg juga paling gw suka dari ketujuh buku yg ada, paling seru dan misterius apalagi dengan adanya
twist yg memperkaya ceritanya, nggak terlalu simpel dan kekanakan seperti dua pendahulunya sekaligus lebih solid daripada 3 buku setelahnya, padahal justru kisah ketiga ini yg paling jauh hubungannya dengan musuh bebuyutan Harry, Voldermort. Kalo dari segi naskah, versi film Azkaban adalah salah satu adaptasi yg paling baik, karena punya alur yg logis, lebih setia pada benang merah cerita, dan lebih sedikit adegan ngelanturnya. Banyak bagian dari sumber aslinya yg dihilangkan atau diubah, tapi nggak masalah, karena kisah di filmnya nggak terkesan bolong2 meski berdurasi lebih singkat, lebih padat, walaupun untuk soal meringkas cerita dengan asik, kehormatan tertinggi harus gw berikan pada The Order of The Phoenix.

Filmnya sendiri bisa dibilang paling berbeda dari 6 film yg sudah dibuat sejauh ini, bahkan sejak adegan awalnya. Setelah sukses dengan gaya petualangan semua umur ala spesialis film keluarga Chris Columbus, kini hadir si sutradara Meksiko, Alfonso Cuarón, yg pernah menggarap film bertema anak2 A Little Princess dan di lain pihak film yg "dewasa" Y Tu Mamá También (dua2nya gw belum tonton T_T). Perubahan yg kentara adalah atmosfir
dark yg ditampilkan, drastis dari episode lainnya yg lebih berwarna. Mungkin ini memang gayanya sutradara Alfonso Cuarón, hampir mirip dengan gaya visualnya di Children of Men nantinya, gelap dan hampir monokromatis, serta cukup kental nuansa realistis. Bagi gw, gaya visual seperti ini cocok dengan mood ceritanya: tidak ada adegan action mewah, lebih banyak drama yg lumayan emosional, agak menyeramkan dan meresahkan, meski masih dalam batas family-friendly. I think he should've direct The Half-Blood Prince which has similar ambiance. Tetapi mungkin justru ini yg kurang menarik orang kebanyakan yg lazimnya mencari warna keceriaan ketika menonton film yg targetnya anak2 dan remaja seperti ini, film ini terkesan gloomy (meski nggak segloomy Half-Blood Prince), tak heran perolehan duit box office nya pun paling bontot daripada episode2 yg lainnya.

Namun di luar itu, Cuarón menurut gw paling sukses dalam mengarahkan para aktornya. Setelah kemaren gw tonton film ini lagi, gw menyimpulkan di sinilah
cast Harry Potter, terutama trio Radcliffe, Rupert Grint sebagai Ron Weasley dan Emma Watson sebagai si jenius Hermione Granger, terlihat paling maksimal dalam berakting. Sepertinya ini dipengaruhi oleh Cuarón yg memang gemar membuat adegan2 one-take-shot (yg ciamik) tanpa potongan sehingga interaksi para aktor harus senatural mungkin, hasilnya tampak believable, it worked really really well, film ini punya ensamble cast yg paling kompak. Gw juga melihat ada kesan bahwa baru di film ini para tokoh seakan-akan living the magical world tanpa canggung. Sihir2 yg ada tidak lagi mewah dan penuh keheranan, tapi malah tampak kasual, hari-hari aja, dan memang seharusnya demikian kan? Kita bisa melihat Harry dkk yg 13 tahun terlihat sebagaimana umurnya. Selain mereka pake jins ^_^, lihat cara mereka saling berbicara, seragam mereka yg nggak rapih, reaksi mereka ketika mendapat tugas berat dari Professor Snape (Alan Rickman), main2 permen Bertie Botts di kamar asrama malem2, dan dorong2an waktu disuruh baris di kelas guru baru Professor Lupin (David Thewlis), pokoknya kelakuan anak2 umur segitu diterjemahkan dengan sangat baik di film ini walaupun konteksnya dunia sihir. Dunia ajaib Harry Potter terlihat membumi, and that's good.

Bila ada kelemahan film ini, maka mungkin pada eksekusi klimaksnya, terutama yg pertama (ada 2 kan? ^_^) yg datar dan dibuat terlalu plek sama bukunya, sehingga terkesan banyak cakap,
dragging dan kurang wah..tapi ya masih mendingan lah daripada Half-Blood Prince (terkesan terlalu dendam ya? ^_^;). Alir ceritanya begitu enak di awal--tak sedikit humor2 kecil di sana-sini yg bikin senyum--lalu agak kurang mantep di bagian akhir, namun ditutup dengan adegan yg menghangatkan. Adegan2nya lebih punya kedalaman emosi, salah satunya gw selalu tergerak waktu Hagrid bilang "Buckbeak has been sentenced to death" T-T, dan hey, benih2 cinta monyet Ron dan Hermione oke banget penggambarannya. Dan, tidak dipungkiri pula, bagian "klimaks kedua" (something to do with "time" ^o^) dibuat nyaman dan tidak membingungkan. Maka mudah saja buat gw--dengan cerita, visual, tata adegan, akting, plus visual efek dan tata musik yg kompak, menyatakan bahwa Harry Potter and The Prisoner of Azkaban adalah film Harry Potter yang terbaik...well, setidaknya untuk sementara ini, karena tinggal 1 film lagi (yg dibagi 2 jilid, iseng amat yak) The Deathly Hallows yg akan memastikan status itu akan tetap atau tidak. We'll see.



my score:
8/10


Sabtu, 01 Mei 2010

[Movie] Iron Man 2 (2010)



Iron Man 2

(2010 - Paramount)


Directed by Jon Favreau

Screenplay by Justin Theroux

Based on the Marvel comic books by Stan Lee, Don Heck, Larry Lieber, Jack Kirby

Produced by Kevin Feige

Cast: Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow, Don Cheadle, Scarlett Johansson, Mickey Rourke, Sam Rockwell, Jon Favreau, Clark Gregg, John Slattery, Garry Shandling, Samuel L. Jackson.



Iron Man pertama tahun 2008 mendapat respon positif baik dari kritikus maupun penonton, serta
mixed feeling dari gw sendiri. Gw suka dengan jalan ceritanya yg made sense nggak seperti film2 superhero sebelum2nya, serta unsur fun dan pembawaan para aktornya yg asik, plus visual efek yg oke, hanya saja gw merasa ada yg kurang, dan itu adalah dari actionnya yg udahlah sedikit, kurang nendang pula. Biar begitu, sekuel nggak mungkin terelakkan, dan gw pun turut menantinya walau nggak sampe bela2in beli tiket di muka karena takut kehabisan. Ada sih sedikit harapan adanya peningkatan di sekuel dari kekurangan film pertama dalam kasus Iron Man 2, tapi mari kita lihat hasilnya.

Adegan penutup di Iron Man 1 adalah pengakuan publik Tony Stark (Robert Downey Jr.), seorang pewaris/pengusaha teknologi senjata besar Stark Industries, bahwa dialah sang Iron Man. Seinget gw sebelum jadi Iron Man, Stark Industries di bawah Tony menghentikan suplai senjata ke pemerintah Amerika Serikat, sebagai sikapnya untuk tidak mendukung peperangan. Kini, setelah mengaku sebagai orang dibalik Iron Man yg super canggih dan berdaya hancur tinggi, pemerintah AS menagih teknologi Iron Man milik Tony demi kemanan nasional, karena dikhawatirkan akan dibalap sama teknologi negara2 musuh, atau Tony akan dituduh menyembunyikan senjata berbahaya yg dapat membahayakan negara. Di tempat lain timbul dendam dari Ivan Vanko (Mickey Rourke), karena ayahnya dulu adalah rekan kerja ayah Tony, Howard Stark (John Slattery) untuk mengembangkan teknologi yg dipakai Tony sekarang untuk Iron Man, tapi kemudian karena suatu konflik ayah Vanko diusir dari AS dan hidup melarat hingga meninggal di pelukan sang putra, dan sekarang Vanko yg juga nggak kalah pinter dari Tony pun membuat teknologi tandingan,
perhaps simply just to make a statement. Lalu ada pula Justin Hammer (Sam Rockwell), saingan Tony dalam industri senjata yg sekarang jadi supplier ke pemerintah, yg juga kepingin teknologi yg dipunyai Tony. Di saat yg sama pula, zat Palladium yg jadi sumber tenaga mesin penggerak jantung Tony dan juga penggerak Iron Man, pelan2 meracuni tubuh Tony--yg hanya diketahui oleh dirinya dan si komputer Jarvis (Paul Bettany)--sehingga ia harus segera mencari zat baru yg dapat menggantikannya sekaligus membuatnya bertahan hidup. Dan karena riweuh dengan hal2 itu, Tony menugaskan asisten pribadi sekaligus wanita yg jelas2 dicintainya tapi nggak dapet2, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) sebagai CEO baru Stark Industries, lalu mengangkat asisten baru, Natalie Rushman (Scarlett Johansson) yg seksi nan misterius.

Fiuh..itulah latar belakang apa yg akan terjadi selanjutnya di film ini. Banyak ya. Kesemuanya itu lalu bertabrakan sebagai penggerak cerita film ini. Vanko unjuk gigi menghadang Tony/Iron Man yg lagi balapan di di Monaco untuk menunjukkan bahwa ia pun punya persenjataan yg nggak kalah dari Tony (kalo kata review2 lain, namanya Whiplash), kemudian direkrut oleh Hammer agar bekerja untuknya, membuat baju besi seperti punya Tony lalu disuplai ke pemerintah, duitnya okelah pasti. Hanya saja diam2 Vanko adalah seorang yg bertekad kuat dan bukanlah orang yg mudah terlena sama rayuan Hammer begitu saja. Kemunculan Vanko juga menjadi perhatian pemerintah AS karena teknologi Tony yg disesumbar hanya bisa terkejar beberapa dekade ke depan ternyata sudah ada saat ini juga. Pemerintah pun menugaskan teman Tony, Letkol James "Rhodey" Rhodes untuk mengawasi Tony: apabila ketahuan Tony berbuat onar--mengingat Tony itu sosialita yg gemar pesta dan hingar bingar, maka Iron Man harus disita. Lalu, gimana nih, udah sekarat, ada lawan tangguh, nggak dipercaya pemerintah pula, dan lebih lagi dijauhi oleh orang2 terdekatnya, mampukah Tony membuat Iron Man kembali menjadi penjaga perdamaian dunia sebagaimana cita2nya dulu?


Langsung saja, dari segi cerita Iron Man 2 tidak sebagus yg pertama, malah cenderung biasa, originalitasnya menurun (lagi2 soal
revenge). Unsur sebab-akibat yg masuk akal yg gw suka dari film pertama juga agak berkurang, gw agak lost di beberapa momen terutama di tengah2. Sebenernya sih perang teknologi Tony vs Vanko dan Hammer adalah ide yg menarik--ada satu adegan yg menggelitik gw jika Tony itu jago menciptakan teknologi, Hammer lebih jago jualannya aja (^_^)--hanya sayang gw ngerasa motivasi tindakan2 Vanko kurang digali lebih dalam. Adegan aksi memang agak nambah dari film pertama, tapi rasanya kurang digarap dengan maksimal, kurang seru dan asik dilihat, masih kurang cool, untuk yg satu ini kira2 masih sama aja kayak film pertama. Apalagi seperti yg dikeluhkan beberapa review2 tetangga, klimaksnya agak kecepetan dan kegampangan deh.

Di sisi lain, unsur2 yg gw suka di film pertama masih dipertahankan dan bikin gw
enjoy dengan filmnya. Penampilan para aktornya begitu pas dan sukses membawa perannya masing-masing: Downey dan Paltrow, bahkan sang sutradara Jon Favreau sebagai Happy Hogan, bagous; tokoh2 baru yg dimainkan Sam Rockwell, Scarlett Johansson dan Mickey Rourke pun bagouss. Rockwell sukses jadi annoying (dan joget kayak waktu dia di Charlie's Angels), Scarlett was cool and hot (?) O.O, dan oom Mickey tampil dengan akting matang dan simpatik meskipun dia ceritanya jahat. Pengecualian datang dari Don Cheadle, entah kenapa gw lebih suka Rhodey versi Terrence Howard yg dulu, lebih gagah serta...ya lebih cocok aja (kenapa sih dia dipecat? huh). Namun, di luar itu itu, gw sangat terhibur oleh dialog2nya yang renyah, yg dibawakan para pemain sebagaimana di film pertama yaitu dengan interaksi spontan, kadang tumpang tindih, yg menambah kesan believable, mungkin banyak improvisasi--konon di film pertama begitu. Lucu, cerdas, menggigit dan membuat setiap karakter yg ada menjadi lebih hidup, para aktornya tidak hanya sekadar boneka yg digerakkan naskah. Jadi sekalipun terkesan banyak omong, tapi gw malah menikmatinya. Aneh ya ada film action yg lebih bagus dialognya daripada adegan actionnya ^_^;. Ada satu adegan ketika muncul wartawati Variety, Christine Everhart (Leslie Bibb) yg bakal memuat artikel 2 halaman soal Hammer, Pepper pun nyeletuk "tahun lalu Christine juga bikin artikel 2 halaman buat Tony...", which was as per film pertama, dengan cara ehem ehem dulu ^o^.

Jadi kalo gw simpulkan, Iron Man 2 adalah film yg tetap menghibur, masih
fun, masih bisa bikin ketawa2 kecil maupun besar, namun tetep aja overall nggak sebaik yg pertama, ada faktor x *sok banget gaya gw* yg bikin kurang 'ugh' aja pokoknya. Sisi manusiawinya oke, tapi sisi aksi superhero/supervillain-nya kurang tereksplorasi maksimal. Tapi biarpun begitu, visual efeknya masih terbilang bagus, dan suara subwoofernya manteb bener. It's an okay movie. Dan btw, ada beberapa isyarat tentang proyek selanjutnya yaitu kumpulan superhero yg disebut The Avengers, seperti kemunculan Nick Fury dari organisasi SHIELD beserta Natasha Romanoff, perisai Captain America buat ganjelan pipa, dan "alat pertukangan" dalam adegan di buntut seusai end credit roll. Hmm, exciting...

My favourite line
: "Get a roof!" ^0^



my score: 6,5/10


[Movie] Twilight (2008)



Twilight
(2008 - Summit)


Directed by Catherine Hardwicke

Screenplay by Melissa Rosenberg

Based on the novel "Twilight" by Stephenie Meyer

Produced by Greg Mooradian, Mark Morgan, Wyck Godfrey

Cast: Kristen Stewart, Robert Pattinson, Billy Burke, Peter Facinelli, Anna Kendrick, Taylor Lautner, Ashley Greene, Kellan Lutz, Nikki Reed, Elizabeth Reaser, Cam Gigandet, Edi Gathegi, Sarah Clarke



Judul "Twilight" sebagai sebuah novel baru gw denger sekirar awal 2008, beberapa teman2 (perempuan) gw cukup hangat membincangkan novel ini dan sekuel2nya ketimbang berdiskusi buat bikin skripsi ^_^;. Tak berapa lama kemudian terdengar berita bahwa kisah romansa gadis manusia dengan vampir ini diangkat ke layar lebar, dengan
hype yg lumayan rame, bahkan pada akhirnya film Twilight memperoleh pendapatan box office yg sangat sukses. Gw baru nonton kmaren, gak masalah. Twilight gw akui sebagai film yg fenomenal. Dengan prinsip ekonomi memperoleh keuntungan maksimal dengan modal minimal, Twilight berhasil memperoleh sambutan yg maksimal dengan kualitas produk yg seadanya. Phenomenal, no?

Karena sang ibu (Sarah Clarke) akan pergi berkelana mengikuti suami barunya yg pemain baseball profesional, Bella Swan (Kristen Stewart) pindah ke kota kecil Forks, negara bagian Washington yg senantiasa sendu cuacanya, dimana ayahnya, Charlie (Billy Burke) tinggal--kalo2 ada yg nggak ngeh, artinya ortu Bella udah cerai. Jelas Bella harus beradaptasi dengan lingkungan barunya yg tadinya hanya ia kunjungi saat liburan saja, apalagi ia pindah sekolah (SMA) di tengah2 semester. Beruntung, Bella tak lama untuk dapat teman, dan tak lama pula ia segera "penasaran" sama seorang cowok bernama Edward Cullen (Robert Pattinson) yg berkulit pucat dan selalu ngumpul sama saudara2 angkatnya sesama Cullen, yg sepertinya disegani (atau dijauhi?) oleh satu sekolah. Tidak seperti lagunya Desi Ratnasari, takdir tidak kejam terhadap Bella, bahkan begitu manis, Bella duduk sebelahan sama Edward di kelas Biologi (...), tapi sikap Edward yg aneh seakan merasa jijik sama Bella, bikin Bella tersinggung, sekaligus jadi kepikiran terus. Beberapa minggu kemudian, mereka duduk sebelahan lagi, Edward malah bersikap manis, dan mereka pun lama jadi akrab dan sebagainya dan sebagainya, sampai Bella mengetahui bahwa Edward dan "saudara"2-nya adalah kaum vampir..yang sudah memutuskan tidak minum darah manusia. Oh ya, ada kematian berantai misterius yg diduga dilakukan oleh hewan tapi tentu saja kita tau itu perbuatan vampir, yg ternyata bukan "kelompok"nya Edward. Bagian ini yg kemudian dijadikan alat pembuat klimaks yaitu Bella diincar oleh vampir2 jahat dan Edward dkk dengan sekuat tenaga membela Bella. Kenapa? Karena Edward sudah tak sanggup lagi menjauh dari Bella...


Oh please
...Nggak bisa ya cari kata2 lain kalo loe cinta. Tapi begitulah, seperti yg telah diperingatkan oleh teman2, dan seperti yg gw duga, ini film remaja putri sekali. Gw bisa membayangkan bahwa cewek usia dari 12 sampe 22 tahun akan terbuai dengan kisah cinta remaja dengan tantangan dramatis bahwa kedua insan yg bercinta seharusnya tidak boleh saling cinta ini, dan juga dengan apa2 saja yg dilakukan cowok vampir ganteng-baik-manis-rapuh-heroik-dan-selalu-ada-ketika-si-cewek-dalam-bahaya-dimana-pun-dan-seabsurd-apa-pun-itu demi si cewek, reaksinya pasti "kyAAaaaaaaaaaa!!!!!". Apalagi penggambaran Bella sebagai cewek biasa-biasa yg pendiam dan tidak terlalu feminin tapi menyimpan kecantikan tersembunyi sehingga disukai semua orang di sekitarnya, pasti akan menggelitik sisi narcistik penontonnya yg bilang "ih, guveh banget tuh" *curiga*. Di luar segmen usia itu, gw membayangkan reaksinya hanya "duh.."...kriik...kriik...kriik...Okelah kalo begitu, patut dihargai bahwa filmnya sendiri cukup konsisten dengan unsur2 rekaannya sendiri, entah legenda vampirnya atau kemampuan2 Edward dkk...ah nggak jadi deh, gw juga ngerasa aneh dengan dunia vampir2annya, konyol. Mungkin ini karena gw bukan target penontonnya, tapi come on, kalo dipikir-pikir secara jernih, vampir2annya maksa deh. Vegetarian vampire? Coba skarang gw tanya, "vegetarian" artinya apa hayo? Harusnya mereka tetep nggak minum darah dong, tapi makan mawar kayak Nyi Blorong. Dasar teenlit.

So that's my problem with the story
. Biasanya sih, kalo gw udah drop ama ceritanya, unsur2 lain jadi kena imbasnya. Penceritaan film ini cukup baik sih, terkesan membumi dan bersahaja terutama di awal2, juga cukup oke dalam memperkenalkan tokoh2nya, tapi gw tetap merasa ada yg salah dengan film ini. Flat dan sunyi, mungkin deskripsi yg tepat. Gw tidak dapat merasakan apa2 waktu menyaksikan adegan demi adegan, nggak ada gregetnya. Ketika ceritanya semakin bergulir jauh, untuk sebuah film yg melibatkan mahkluk2 "lain" yg tidak sedikit, film ini jadi terlalu sederhana, atau menyederhanakan. Bagian klimaks (jika memang ada) dieksekusi terlalu gampang dan nggak menarik. Adegan2 lain yg seharusnya menarik, seperti adegan terbang bareng di antara pohon atau Edward yg terkena sinar matahari kulitnya bergliter, malah terlihat seperti kedengaranya: konyol. Dan itu diperparah oleh akting pemainnya yg bisa dibilang memprihatinkan. They looked good, but that's all. Mereka seperti boneka saja tanpa jiwa dan emosi, tidak believable kalo nggak mau dibilang nggak bisa akting (akh terlalu kejam itu sih). Jika ada bagian yg bener2 meyakinkan, adalah hanya ketika Bella naik mobil dan dipakein sabuk pengaman sama Edward abis main baseball terus bilang "all right I get it! I'm fine!", udah gitu doang.

Tapi ngomong2 soal baseball, itu adalah adegan yg cukup mengangkat mood bosan gw saat menonton, walaupun akhirnya dilanjutkan dengan adegan yg...hadeuuh. Gw juga surprisingly suka sama sinematografinya yg cantik, suasana2 sendunya nyaman dan seger dilihat dengan sudut2 pengambilan yg efektif, jadi selamatlah Twilight dari jebakan film busuk. Tetap saja, Twilight bukanlah film yg bisa gw nikmati bahkan sebagai hiburan sekalipun. Pengarahan adegan, visual efek, serta musik latarnya bahkan menimbulkan kesan film ini lebih cocok jadi FTV saja. Seandainya novelnya tidak populer, dan para fans gilanya tidak banyak banget, gw jamin film ini akan mudah sekali terlupakan. Tapi yah, terserah deh, selama memang ada segmen penontonnya...Seperti kata Linkin Park di lagu end credit, gw hanya akan mengingat hal yg bagus saja dari Twilight (sinematografi dan... apalagi yah?), and leave out all the rest, leave out all the rest...



my score: 5/10