Sabtu, 24 April 2010

[Movie] The Ghost Writer (2010)



The Ghost Writer
(2010 - Summit)


Directed by Roman Polanski
Screenplay by Robert Harris, Roman Polanski
Based on the novel by Robert Harris
Produced by Robert Benmussa, Roman Polanski, Alain Sarde
Cast: Ewan McGregor, Pierce Brosnan, Olivia Williams, Kim Cattrall, Timothy Hutton, Tom Wilkinson, James Belushi, Robert Pugh, Jon Bernthal



Jangan percaya kalo ada buku autobiografi dari tokoh terkenal, yg notabene harusnya ditulis oleh dan tentang si penulis sendiri, baik Barrack Obama maupun Susilo Bambang Yudhoyono sekalipun, atau jangan2 nanti Anji 'Drive' maupun Raul Lemos, ditulis oleh si tokoh sendiri..kayak sempet aje, dan, terutama, kayak bisa nulis aje mereka. Buku2 seperti ini sudah barang tentu ditulis atau "dibantu" oleh seorang penulis betulan yg eksistensinya tidak diketahui publik, mereka inilah yg disebut "ghost writer" atau "penulis bayangan" (bukan hantu ya). Keberadaan dan identitas mereka sebatas tahu-sama-tahu di lingkungan penerbitan dan lingkungan si tokoh yg akan dibukukan itu, benar2 dibalik layar yg tersembunyi,
technically they are not exist. Di film The Ghost Writer, yg mengisahkan tentang seorang penulis bayangan (Ewan McGregor), bahkan tidak sekalipun nama "ghost writer" ini disebut.

Demi memudahkan
review ini, sebut saja si Ewan McGregor ini The Ghost (sesuai namanya di end credit roll). Ia mendapat tugas menggiurkan--duitnya, bukan isinya--untuk menjadi penulis bayangan autobiografi mantan Perdana Menteri Inggris Adam Lang (Pierce Brosnan), setelah penulis bayangan sebelumnya yg juga asisten Lang bernama McAra mati tenggelam sebelum merampungkan bukunya (o-ow). The Ghost pun harus berangkat ke kediaman Lang saat ini, di sebuah pulau di pantai Timur Amerika (katanya di Massachusets), bertemu dengan asisten pribadi Lang, Amelia Bly (Kim Cattrall) serta istri Lang yg juga dulunya aktivis partai, Ruth (Olivia Williams), sebelum bertemu langsung dengan Lang. Meski hanya disuruh merampungkan tulisan yg udah dibikin McAra, The Ghost tetap harus mewawancarai untuk mengenal Lang lebih jauh demi mendapatkan hasil buku yg terbaik dan yg menarik. Di saat yg bersamaan, Lang terseret sebuah kasus di Mahkamah Internasional Den Haag oleh mantan menteri luar negerinya, Robert Rycart (John Pugh), tentang dugaan menyetujuii penyelundupan 4 tersangka teroris Pakistan untuk diserahkan pada CIA untuk disiksa, tanpa diadili, selama dia menjabat sebagai PM (yg berarti melanggar hukum internasional, melanggar HAM, dan harusnya sih dia jadi penjahat perang). Berawal dari penelusuran riwayat Adam Lang, The Ghost ternyata dihadapkan pada petunjuk adanya ketidakberesan dalam Lang dan orang2 di sekitarnya, tak terkecuali keterlibatan Lang dalam kasus yg sedang di-blowup saat ini yg ternyata berkaitan dengan rahasia Lang di masa lalu. Sedikit demi sedikit fakta2 tersembunyi terungkap, The Ghost pun harus waspada, karena apa yg terjadi pada McAra bukan tidak mungkin menimpa dia juga.

The Ghost Writer merupakan film terbaru garapan Roman Polanski, sutradara asal Polandia (sekarang jadi orang Prancis) yg lama eksis di dunia perfilman, sangat lama--selain dikenal sebagai sutradara yg jadi buronan pengadilan Amerika Serikat sejak 30 tahun lalu, dan sekarang masih jadi tahanan rumah di Swiss sebelum diekstradisi ke Amerika. Gw sendiri baru nonton 1 film dari beliau, The Pianist (2002) yg menuai sukses di Festival Cannes dan Oscar (tapi sedih kalo inget DVDnya yg gw beli di Singapur *cih sombongnya* sekarang hilang entah kemana, hiks). Lewat film The Ghost Writer ini gw merasa bahwa memang opa Polanksi ini "angkatan lama". Kesan klasik terpancar dari tiap2 adegan. Sinematorgrafi dan musiknya benar2 memberi kesan demikian, menarik. Penataan adegannya bagus, apalagi dengan detail2 perilaku tokoh yg menimbulkan kesan nyata dan natural pada situasi yg terjadi, tek-tok aktornya pas banget, gambar
frame per frame nya oke dan tepat, nggak ada kesan kayak disetting layaknya hubungan Anang dan Syahrini. Gw suka banget adegan pertama di ferry, lalu The Ghost yg berusaha kabur dari kejaran dua orang misterius juga di ferry, dan adegan penutup yg artistik. Skillfully crafted.

Namun penuturan film ini pun terkesan gaya lama. Nggak ada yg salah dengan itu sih, tapi untuk cerita dengan misteri konspirasi yg sesugguhnya menarik ini, penuturan yg satu per satu, pelan-pelan, dieman-eman, bagi gw kurang membangun kepenasaranan, apalagi
excitement. Mungkin ini karena faktor gw yg udah terbiasa dengan film2 macem Bourne atau Kala, atau yg terbaru Shutter Island, makanya gw menganggap The Ghost Writer seperti kurang niat menekankan pada sisi thriller misterinya, lebih banyak porsi dramanya (dan omongnya) yg malah membuat plotnya seakan jalan di tempat, sehingga durasi film ini kerasa lamanya. Ada sih yg bikin tegang (dengan cara yg pelan2 juga) yg digarap baik, tapi lebih banyak bagian yg kendor. Menurut gw, harusnya film ini bisa dibuat sedikit lebih ringkas supaya lebih solid. Masak adegan orang keluar ruangan atau ngeliat orang nyapu aja musti dimasukin; atau adegan maki2 berita di TV, well it felt real but is it that important? Lalu bagian The Ghost yg coba buka manuskrip di flash disk..argh...buang deh adegan itu, percuma juga toh ternyata password-protected dan akhirnya ditelantarkan begitu saja di adegan2 selanjutnya. Apakah ini pengaruh proses pascaproduksinya kelar selama opa Polanski dipenjara di Swiss sehingga hasilnya kurang nendang? Mudah-mudahan sih begitu *curigaan amat*.

Penceritaan film ini mengingatkan gw pada gaya novel fiksi, banyak detil2 (tokoh, situasi, setting) yg diungkapkan dan ditunjukkan, nggak semuanya saling berkaitan tapi memang menarik diceritakan. Misalnya sindiran2 Ruth terhadap Amelia yg menyiratkan kecurigaan bahwa Lang ada main sama Amelia, sebuah contoh detail yg menarik, 'kan?. Bisa jadi karena salah satu penulis naskahnya adalah pengarang novel sumbernya, lantas The Ghost Writer jadinya bergaya ala novel dengan detil2nya yg memang memperkaya penghayatan pembaca/penonton, tapi justru ini berpotensi membosankan, kebanyakan detil malah kelamaan dan nggak maju2 jadinya, apalagi pada akhirnya gak semuanya relevan dengan inti cerita/misterinya (spoiler dikit: The Ghost, Ruth, makan malam, minum, hujan, seranjang telanjang..buat apa coba?).


Secara keseluruhan film ini harusnya bisa bagus. Ceritanya bagus, intrik2nya nggak terlalu
predictable. Pengarahan adegannya realistis tapi tetep disyut secara "film", lalu dialog2nya yg oke dan kadang2 ada lucunya, serta memberi ruang bagi tokoh2 yg perannya singkat tapi harus berkesan. Pemain2nya pun cukup baik. Cukup, karena Ewan McGregor memang aktor yg berbakat tapi agak kurang berkarisma di sini serta kurang sukses mentransfer emosinya, dan Pierce Brosnan screentime nya cukup singkat padahal dia mainnya cukup bagus. Kim Cattrall lumayan bisa menyamarkan aksen Amerikanya jadi aksen Inggris meski kedengaran kurang sempurna. Penampilan paling kuat di sini adalah dari Olivia Williams (gw inget dia jadi istrinya Bruce Willis di The Sixth Sense) yg terlihat cerdas sekaligus rapuh, memperlihatkan bahwa tokoh Ruth adalah penopang utama karir Lang.

Dibuka dengan misterius, ditutup dengan adegan bagus, di tengah2 ada 1-2 adegan wokeh, namun di antaranya adalah hampir datar2 saja dengan banyaknya dialog dan adegan2 kurang perlu, meski secara teknis
shot2 gambarnya nggak ada yg tercela. Good story, but not so much enjoyable.



my score:
6,5/10


Sabtu, 17 April 2010

My Top 25 J-Pop Songs of the 2000's (Part II~final)

Baiklah, saatnya kita melanjutkan senarai 25 lagu Jepang atau akrab disebut J-Pop terbaik di dekade 2000-an versi gw, dan kita sampai pada 10 teratas, horee. Sedikit keterangan, sebenarnya gw menyukai 25 lagu di daftar ini sama rata, sama2 bagus. Gw membuat pemeringkatan karena beberapa alasan personal, selain karena biar lucu aja (=_=;), juga berdasarkan seberapa nggak bosannya gw memutar ulang lagu2 ini atau kenangan yg terasosiasi di benak gw ketika mendengarnya, penilaian yg sangat abstrak, bukan? Kali ini gw menyertakan alasan mengapa gw memasukkan setiap lagu dalam daftar terbaik, terbaik se-dekade pula. Gw sih berharap gw tidak menyesal menyusun daftar ini, karena gw sudah yakin bahwa lagu2 yg terpilih adalah lagu2 yg memang bagus. Gw pun sangat merekomendasikannya baik penggemar J-Pop maupun yg simply pecinta musik. Kalau Anda belum yakin, sok atuh dicek previewnya, baru protes hehehe. Nggak mau denger karena nggak ngerti bahasanya? Lha, loe pikir gw ngarti mereka ngomong apaan...:P


Mari kita mulai 10 teratas lagu2 J-Pop terbaik 2000-2009 versi saya...


10. SAKURAドロップス Sakura Drops (宇多田ヒカル Utada Hikaru; 2002)

Bukan hit yg paling populer dari artis Jepang paling populer termasuk di Indonesia ini, tetapi "Sakura Drops" bagi gw adalah lagu terkeren darinya.
Ketika gw udah muak dengan "First Love" yg overplayed dan sering dinyanyikan di tempat yg salah (ingat: "First Love" BUKAN lagu untuk pernikahan), Utada mempersembahkan sebuah lagu yg segar dan unik, misterius namun sekaligus bikin adem. Bunyi2annya ekperimental, antara techno, R&B dan melodi ke-Jepang-an, tapi untungnya tidak jatuh jadi terlalu aneh--meski seperti itulah lagu2 Utada setelah rilisan ini =_=;. It's a killer tune, and presented in truly fantastic music video.





9. 花 Hana (ORANGE RANGE; 2004)

Penggemar anime pasti tau ORANGE RANGE dari lagu "Viva*Rock" di Naruto atau "*~Asterisk~" di Bleach. Di Jepang sana, sepertinya "Hana" yg paling dikenal dari band ini, terbukti dengan penjualan single yg laku keras.
Di saat yg sama, euforia baru belajar bahasa Jepang melanda gw dan sebagian teman2 seangkatan gw pas kuliah semester2 awal, maka lagu ini pun jadi salah satu yg paling sering disenandungkan, karena emang catchy sekali melodinya. Terlepas dari kelemahan vokalnya (aduh, harap maklum, mereka orang Jepang :p), "Hana" adalah sebuah lagu manis, agak gombal, tapi tidak cengeng. Gabungan pop ballad dan rap yg asik jadi ramuan yg enak didengar bahkan hingga sekarang. Btw, ini lagu tema dari film Ima Ai ni Yukimasu a.k.a. Be With You. 'Say yeeah...yeaah...'





08. センチメンタル Sentimental (平井堅 Ken Hirai; 2004)

Lagunya seperti judulnya. Hanya dengan piano dan string section, melodi serta lirik yg nusuk, "Sentimental" adalah lagu Ken Hirai yg paling gw suka.
Nadanya baguuus pisan, dibalut dengan vokal dan aransemen yg dramatis serta berhasil menghantarkan isi liriknya: cinta yg menggebu tapi belum kesampaian, masih ngarep aja, hehe. Beautiful, beautiful song.
-sebenernya lagu ini ada video musiknya, tapi gw gak nemu di YouTube, jadi pake yg ini aja yah.





7. ひとり Hitori (ゴスペラーズ The Gospellers; 2000)

Lagu a cappela ini sempet gw tau lewat acara musik (mirip Delta di RCTI) di Metro TV duluu banget, dan baru gw embrace lagi pas masa kuliah. Lagi2, mirip2 sama lagu "Kon'ya Tsuki no Mieru Oka ni"-nya B'z (no.11) dan "Hana"-nya ORANGE RANGE (no.9), "Hitori" cukup populer di antara teman2 seperjuangan kuliah gw.
Tinggal pancing dengan lirik awalnya "aishiteru.." langsung disambut dengan background vokal "Uuuuu..." ^O^. Anyway, selain kenangan itu, lagu ini memang diarrange dengan ciamik sehingga, setidaknya bagi gw, bakal terngiang-ngiang terus. Keren.
-Saking lamanya lagu ini, gw nggak nemu video musiknya di YouTube, jadi silahkan nikmati audionya saja yah.






6. 鱗(うろこ) Uroko (秦 基博 Hata Motohiro; 2007)

"Uroko" adalah lagu yang sangat pas memfasilitasi kemampuan vokal Hata Motohiro, yg buat gw adalah salah satu penyanyi Jepang dengan suara paling bagus.
Walau sepertinya bukan lagu komersil yg bakal langsung diingat sekali dengar karena melodinya nggak sederhana, tapi lagu ini berhasil meninggalkan kesan yg mendalam buat gw. Aransemennya cantik dan menggugah (arrangernya Seiji Kameda, bassisnya Tokyo Incidents) meramu gitar akustik, gitar elektrik, bass dan string section menjadi sajian yg powerful, nggak menye2. And I have performed this song on stage, twice ^o^ v.
-"Uroko" artinya "sisik ikan". Apa artinya? tauk ah =.='






5. 奏(かなで) Kanade (スキマスイッチ Sukima Switch; 2004)

Lagu ini rilis tahun 2004 namun gw baru tahu sekitar tahun 2008-an, dan langsung menyukainya.
Musiknya terdengar sederhana, tapi melodinya sangat menyentuh. Dalam nuansa nge-jazz sedikit, "Kanade" sukses menyampaikan feel perpisahan yg menyakitkan namun tetap berusaha optimis, lalu dramatis ketika memasuki bagian bridge. Sedih tapi nggak juga. Bagus lah pokoknya. Jangan ke-distract sama rambut kribo pianisnya ^.^





4. 愛してる Aishiteru (風味堂 FUMIDO; 2006)

Jika ada lagu yg simpel tapi captivating hingga terus terkenang, "Aishiteru" nya Fumido adalah salah satu contohnya. Awalnya lembut, tapi perlahan excitement dari lagu ini terasa juga dan masih dalam tatanan yg cantik, easy-listening dan sangat sangat enak didengar.
Liriknya cukup sedih dan sederhana, dibalut dengan melodi dan format aransemen yg tidak umum--piano jazznya asik--namun tetap nyaman di kuping, tidak ada kesan nyeret atau mewek.





3. 愛をこめて花束を Ai wo Komete Hanataba wo (Superfly; 2008)

Gw bener2 jatuh hati pada pandangan..err..pendengaran pertama sama lagu ini. Tadinya cuman penasaran ngecek YouTube, eh ternyata keren, banget! Langsunglah gw cari donlotan (cutau ya :p), dan gw puter sebanyak ada mungkin belasan kali berturut-turut.
"Ai wo Komete Hanataba wo" sangat catchy melodinya, dan nggak cuman itu, bagian bridgenya bener2 keren dan enerjik, dan diakhiri dengan pekikan suara Shiho Ochi yg membuat gw berpikir ulang tentang anggapan gw bahwa orang Jepang pada nggak bisa nyanyi. Dibungkus dengan sedikit rock n roll yg jadi basis musik Superfly, menyatu dengan string section yg dinamis nan megah, lagu pop rock ballad ini masih betah banget di playlist gw setidaknya seminggu sekali. Eh, liriknya juga unik, soal ngasih bunga ke pacar, tapi kan yg nyanyi perempuan ^o^ v.





2. 深い森 Fukai Mori (Do As Infinity; 2001)

Okeh, "Fukai Mori" memang adalah salah satu lagu paling terkenal di kalangan penggemar J-Pop.
Tapi sungguh, gw menempatkan lagu ini di sini karena alasan yg sangat personal. Gw jadi bener2 suka J-Pop karena Do As Infinity, dan "Fukai Mori" adalah gerbangnya. Pertama kali denger di penutup serial anime Inu Yasha di Indosiar dulu, gw sudah merasa "ini lagu bagus". Lalu dengan cara sedemikian rupa, gw dapet lagu ini dan sangat sangat sering gw putar...looooooove it so much! Begitu intens dan merasuk, mulai dari intro hingga selesai, dari musik dan vokal, almost perfect. Rasanya gw belum pernah mendengar lagu pop (atau rock) sebagus ini, reffnya maut euy. Dengan aransemen akustik, setiap instrumen--gitar, bas, string section, drum--berbunyi lewat skill dengan sangat padu membalut vokal berat nan manis dari Tomiko Van. Tak pelak lagi ini lagu terbaik dari Do As Infinity, dan hingga sekarang, jadi salah satu lagu Jepang terbaik yg pernah gw tau.







dan...juaranya..adalah.......


1. 君の街まで Kimi no Machi Made (ASIAN KUNG-FU GENERATION; 2004)

Baiklah...ini jelas sentimen pribadi. Alasannya lagu ini di nomer 1 cukup sederhana: suka-suka gw dong! ^o^ v
Ini..ya lagu ini adalah yg membuat gw jadi penggemar sejati ASIAN KUNG-FU GENERATION--makanya gw paksain ada 2 lagu mereka di daftar ini, hihihi. Karena lagu ini gw sibuk ubek2 internet untuk dapetin semua lagu dan info yg berkaitan dengan mereka, donlod semua video musik serta konser sebanyak mungkin, hingga memiliki hampir semua CD band ini.
Bahkan nama 'ajirenji' pun gw ambil (paksa) dari nama band ini: 'aji' diambil dari ejaan Jepang ASIAN KUNG-FU GENERATION (ajian kan-fuu jenereeshon), sedangkan 'renji' dari ejaan Jepang ORANGE RANGE (orenji renji)--yg dulu gw juga suka tapi sekarang udah nggak, hehehe. Baiklah kembali ke lagu "Kimi no Machi Made". Kenapa ya dengan lagu ini? Di saat yg hampir bersamaan ASIAN KUNG-FU GENERATION menelurkan hits yg sama bagusnya ("Rewrite" yg ada di nomer 14, serta "Loop&Loop", semua ada di album Sol-Fa), tapi impact lagu ini begitu kuat ke gw. Melodinya simpel sekali, liriknya..well, puitis meskipun gw cuma ngerti sebagian (dodol beut yak gw), namun semuanya dikemas dalam musik pop-rock-alternative (mirip Weezer) yg asik, lincah, menyenangkan, mudah dicerna, enak di kuping tanpa ada sedikitpun kesan kacangan. Rasanya band ini tidak pernah membuat lagu lain yg seperti ini lagi, ketika ke-catchy-an lagu dan energi bermusik mereka terdengar sangat selaras. Lagipula, aransemennya rapih dan tidak monoton, terutama karena bagian akhirnya yg dibuat berbeda dari bagian2 sebelumnya. Wonderful song which will always lingers in my heart *lebay*...and the music video is very original, and hillarious too. ~\ ^0^ /~





So, whaddya think?


RECAP
MY TOP 25 J-POP SONGS OF THE 2000's:

1. Kimi no Machi Made - ASIAN KUNG-FU GENERATION
2. Fukai Mori - Do As Infinity
3. Ai wo Komete Hanataba wo - Superfly
4. Aishiteru - FUMIDO
5. Kanade - Sukima Switch
6. Uroko - Hata Motohiro
7. Hitori - The Gospellers
8. Sentimental - Ken Hirai
9. Hana - ORANGE RANGE
10. Sakura Drops - Utada Hikaru

11. Kon'ya Tsuki no Mieru Oka ni - B'z
12. Sounan - Tokyo Incidents (Tokyo Jihen)
13. Sign - Mr. Children
14. Rewrite - ASIAN KUNG-FU GENERATION
15. Everything - MISIA
16. Yume no Hana - THE BACK HORN
17. Ai Uta - GReeeeN
18. This Love - Angela Aki
19. Sakurairo Maukoro - Mika Nakashima
20. SAKURA - Ikimonogakari
21. TSUNAMI - Southern All Stars
22. Mata Aimashou - SEAMO
23. READY STEADY GO - L'Arc~en~Ciel
24. Aikagi - Color Bottle
25. Konayuki - Remioromen



artikel Part I silahlan klik di sini

[Movie] The Book Of Eli (2010)



The Book Of Eli
(2010 - Alcon/Sony/Warner Bros.)


Directed by The Hughes Brothers

Written by Gary Whitta

Produced by Joel Silver, Denzel Washington, Broderick Johnson, Andrew A. Kosove, David Valdes

Cast: Denzel Washington, Gary Oldman, Mila Kunis, Ray Stevenson, Jennifer Beals, Tom Waits, Michael Gambon, Frances de la Tour, Malcolm McDowell



Gw lupa kapan terakhir kali gw nganga waktu nonton sebuah film, yg pasti The Book of Eli membuat gw nganga lagi. Gw pikir The Book of Eli hanyalah film soal pasca semi-kiamat biasa dan mudah diprediksi arahnya...
nope, gw salah besar. Film garapan sutradara kembar ini lolos dari jebakan tayangan standar. Hal ini jelas perlu diapresiasi. Rupanya pula, film ini dilengkapi dengan visual serta akting yg baik, sehingga lengkaplah formula The Book of Eli menjadi film yg mungkin tidak akan populer tapi layak tonton.

Dunia sudah menjadi reruntuhan, peradaban sudah mati, manusia tinggal sedikit dan kembali ke hukum rimba, alam telah berubah, dan cahaya matahari sangat tidak bersahabat (keluar ruangan musti pake kacamata hitam). Yang ada hanya puing2 sisa peradaban yg tadinya sangat dibanggakan. Nggak dijelasin ini karena apa, yg pasti telah terjadi sesuatu yg menyebabkan kehancuran masal, dan kejadiannya sudah cukup lama karena siudah muncul manusia angkatan baru pasca peristiwa itu yg tidak kenal lagi peradaban yg kita jalani sekarang. Adalah seorang pria, mungkin namanya Eli (Denzel Washington)--namanya ada di
tag dalam tasnya dan cuma disebut di bagian ending--berkelana sendirian di tanah (yg dulunya) Amerika Serikat. Kalo ditanya mau kemana, jawabannya simpel: ke Barat. Eli jalan dengan membawa perlengkapan seadanya, berbagai senjata untuk bertahan hidup (+ keahlian bela diri yg yahud, karena makanan dan minuman sudah langka, dan kadang di tengah jalan ada rampok atau kanibal), dan sebuah buku..err..kitab besar berkunci yg dibacanya setiap malam, kitab bersampul tanda salib (did I just spoiled that?). Kitab inilah yg harus diantar Eli ke tempat yg layak di Barat sana. Plot intinya adalah di tengah perjalanannya, Eli harus terhadang oleh Carnegie (Gary Oldman) yg menginginkan kitab yg dibawa Eli, sedangkan Eli berusaha tetap maju terus pantang mundur mencapai tujuannya, maka terjadilah pertaruhan nyawa antar keduanya: Eli dengan kemampuan survival canggihnya, dan Carnegie dengan bawahan gangster bersenjata yg buta huruf. Hal ini diperumit dengan adanya Solara (Mila Kunis), anak tiri Carnegie yg pengen ngikut Eli karena merasa muak hidup di bawah Carnegie yg kerap menyiksa ibunya yg buta, Claudia (Jennifer Beals), selain karena penasaran dengan kitab yg dibawa Eli--maklum anak zaman "itu" kan gak tau buku hehehe.

Emang ada apa sih dengan si kitab itu sampe segitunya? Jangan salah menyangka bahwa kitab yg dibawa Eli itu sakti atau menyimpan rahasia yg gimana gitu. Kitab yg dibawa Eli adalah cetakan tersisa karena dulu setelah "peristiwa itu" (yg entah apa), setiap eksemplarnya sengaja diberangus karena dianggap sebagai asal muasal terjadinya perseteruan dan peperangan. Carnegie sama dengan Eli, pernah hidup sebelum peristiwa kehancuran dunia, dan ia tahu bahwa konten kitab ini dapat menarik orang2 terutama yg haus akan kebutuhan spiritual dan pengharapan di tengah2 kehidupan yg tanpa kepastian dan tujuan. Nah, karena sepertinya cuman Carnegie yg bisa membaca (di daerah situ), dan jika hanya dia satu2nya yg memiliki buku itu, maka dia pikir kitab ini akan melengkapi kekuatannya untuk bisa mengendalikan "rakyat"nya supaya nggak ada yg akan berani melawan dia, karena dia bakal jadi "
supplier tunggal" dan mau gak mau orang2 harus percaya sama dia. Menariknya, Eli tidak tahu soal motivasi licik ini. Yang dia tahu adalah menjaga kitab ini sampai ke tujuannya, yg bahkan dia sendiri nggak tau tujuannya itu apa sebenarnya, dia hanya tau caranya ke sana, he's just doing it by faith, katanya.

Gampang saja film ini dianggap film religius, terutama karena Eli yg katanya diutus oleh "suara2" serta "identitas" si kitab itu sendiri. Bagi gw sih ada benarnya juga, ada pesan2 religius yg cukup penting yg untungnya disampaikan dengan
smooth tanpa harus berkhotbah atau menyelipkan jargon religius di dialognya. Terus terang gw suka film yg seperti itu (contoh lain Signs dan Knowing, seriously). Ini yg gw bilang film ini mungkin aja nggak bakal populer karena dianggap terlalu bertendensi agama. Tapi pesan2 ini pun sebenernya universal, misalnya: apa gunanya punya buku/kitab kalau nggak dibaca dan dipahami, dan apa artinya membaca dan memahami kalau pembacanya tidak membagi apa yg telah diperolehnya kepada orang lain. Bukankah semua pemeluk agama apapun seharusnya berpikir begitu? Buat gw, inilah yg membuat The Book Of Eli bukan sekedar film numpang lewat yg kosong tanpa makna.

Di luar itu, The Book of Eli adalah film yg
unexpectedly sanggup bikin gw pantengin layar terus menerus, captivating, padahal lajunya tuh lambaaaat banget. Plotnya yg memang solid nggak kemana-mana disampaikan secara perlahan, dieman-eman. Untung adegan2 actionnya mengundang decak kagum meski jarak satu adegan aksi ke yg lain agak jauh. Aksi bela diri oom Denzel Washington selalu terlihat keren (dan sadis). Dua adegan aksi yg gw inget dan suka banget adalah Eli melawan 4 perampok dalam siluet di awal, dan adegan tembak2an di rumah kakek nenek yg bikin gw geleng2 sendiri, karena pengambilan gambarnya sangat seru seperti one-take-shot. Visualnya yg redup dan suram terlihat sangat pas dengan tema postapocalyptic nya. Tata artistik, make-up serta kostumnya cukup meyakinkan menggambarkan suasana pasca kehancuran, tangkapan sinematografinya yg monokromatis juga anehnya nggak bikin gerah. Hal lain yg bikin gw betah menyaksikan film ini adalah akting simpatik dari Denzel Washington dan performa meyakinkan Gary Oldman, keduanya tampil hidup di tengah2 dunia yg mati (halah). Sayang, peran2 pendukungnya biasa aja (hanya saja Mila Kunis wajahnya eksotis sekali ^_^), dan fungsi perannya pun nggak terlalu signifikan. Oh ya, selain itu ada juga pertanyaan muncul di benak gw gimana caranya Eli ditembak tapi nggak mati2, tapi ya sudahlah...

Lalu apa yg bikin gw nganga? Nah, ketika sepertinya gw bisa menebak arah ending film ini...ternyata oh ternyata....ternyata gitu toh? Bahkan nggak pernah terbesit di pikiran gw yg tadinya udah mau sok aja nebak endingnya--jadi orang memang nggak boleh sombong heuheuheu. Dengan demikian The Book Of Eli tuntas menjadi film yg punya maksud sekaligus
entertaining secara cukup seimbang, bukan mengedepankan hiburan belaka (action terus2an), tidak juga terlalu menitikberatkan pada drama yg membosankan. Gw sendiri ragu bakal mem-favoritkan film ini, tapi setidaknya akan gw inget cukup lama. Lucu juga film yang settingnya bumi luluh lantak tapi banyak tumpangan iklannya ^o^;.


my score:
7,5/10

Kamis, 08 April 2010

My Top 25 J-Pop Songs of the 2000's (part I)

Memasuki tahun 2010, gw merasakan sebuah krisis yg cukup mengkhawatirkan: gw udah nggak ngikutin perkembangan dunia Japanese Pop lagi! Selama hampir 7 tahun belakangan, sejak kelas 2 SMA lalu terutama selama kuliah jurusan Jepang kuping gw memang selalu diwarnai dengan lagu2 J-Pop, bahkan gw sampe ngerasa gw adalah salah satu orang di lingkungan pertemanan gw yg paling jago soal J-Pop *sombong*, malah salah satu tujuan dibuatnya blog ini adalah merekomendasikan musik2 J-Pop yg oke2 secara lebih luas...Tapi itu dulu. Sekarang gw udah hampir lost banget sama J-Pop. Apa itu Oricon? Apa itu Music Station? Waktu menganggur gw udah hilang sekarang sehingga udah nggak sempet lagi menyibukkan diri dengan mencari2 lagu2 Jepang teranyar atau segala sesuatu yg terkait dimanapun itu. Ah, I miss the old days...

Anyway, sebagai kenang2an sebelum gw bener2 buta sama J-Pop, gw menyusun daftar 25 lagu J-Pop terbaik dekade 2000-an ini, versi gw tentu saja. 25 lagu ini dirilis mulai dari tahun 2000 hingga 2009 (baik dalam bentuk single maupun track di album), yg mnurut gw sepertinya bakalan gw inget terus dan suka terus hingga dekade2 berikutnya, lagu2 yg masuk daftar karaoke, lagu2 yg gw akan hapal setidaknya bagian refrainnya setiap kali diputer. Tidak semuanya lagu2 populer, dan jelas akan bias sekali, selera musik itu kan paling sulit untuk diseragamkan. Jadi jangan heran kalau lebih banyak yg mellow daripada yg rock, bahkan visual kei atau techno khas anime pun absen karena selera gw memang nggak ke sana. Senarai akan gw bagi jadi 2 bagian secara hitungan mundur, yg sekarang dari 25-11. Gw sediakan preview juga, jadi yg ragu akan keputusan gw, silahkan dengarkan dulu sebelum protes, hehehe. Eh, bagi yg belum familiar sama J-Pop boleh juga loh dicoba denger...


25. 粉雪 Konayuki (レミオロメン Remioromen; 2005)

- lagu tema dorama/sinetron "1 Litre of Tears", pernah tayang di Indosiar, di RCTI ada KW3 nya: "Buku Harian Nayla"





24. 合鍵 Aikagi (カラーボトル Color Bottle; 2009)
- di video di bawah ini, lagunya baru mulai di menit 2:00. Lagunya terlalu bagus untuk video musik yg sangat tidak kreatif ini :p





23. READY STEADY GO (L'Arc~en~Ciel; 2004)

- salah satu lagu tema pembuka serial anime "Fullmetal Alchemist"
- cuma Ken nya L'Arc yg bisa main gitar sambil ngebul rokok
di video klip :p





22. マタアイマショウ Mata Aimashou (SEAMO; 2006)






21. TSUNAMI (Southern All Stars; 2000)

- Ingat: di awal 2000-an rebonding rambut sangat populer, termasuk untuk si oom vokalis di video klip lagu ini :p





20. SAKURA (いきものがかり Ikimonogakari; 2006)






19. 桜色舞うころ Sakurairo Maukoro (中島美嘉 Mika Nakashima; 2005)






18. This Love (Angela Aki; 2006)

- salah satu lagu tema penutup serial anime "BLOOD+"





17. 愛唄 Ai Uta (GReeeeN; 2007)





16. 夢の花 Yume no Hana (THE BACK HORN; 2004)





15. Everything (MISIA; 2000)






14. リライト Rewrite (ASIAN KUNG-FU GENERATION; 2004)

- salah satu lagu tema pembuka serial anime "Fullmetal Alchemist"





13. Sign (Mr. Children; 2004)

- lagu tema dorama/sinetron "Orange Days", pernah tayang di sini gak yah? di lapak VCD sih pernah (^_^)





12. 遭難 Sounan (東京事変 Tokyo Jihen/Tokyo Incidents; 2004)

- saya tunggu penyelenggara Java Jazz untuk mengundang band ini, coba denger deh...





11. 今夜月の見える丘に Konya Tsuki no Mieru Oka ni (B'z; 2000)

- lagu tema dorama/sinetron "Beautiful Life", pernah tayang di Indosiar
- salah satu lagu paling "berpengaruh" buat gw karena selalu dinyanyikan bareng temen di sela2 kuliah semester2 awal ^o^: 'tatoebaaah...'





つづく
Bersambung
...

Rabu, 07 April 2010

[Movie] Clash Of The Titans (2010)



Clash Of The Titans

(2010 - Warner Bros.)


Directed by Louis Leterrier
Screenplay by Travis Beacham, Phil Hay, Matt Manfredi
Based on the 1981 motion picture written by Beverley Cross
Produced by Kevin De La Noy, Basil Iwanyk
Cast: Sam Worthington, Gemma Arterton, Mads Mikkelsen, Ralph Fiennes, Liam Neeson, Jason Flemyng, Alexa Davalos



Gw bingung sepertinya banyak orang yg mengantisipasi adanya film Clash Of The Titans ini. Bahkan majalah Movie Monthly menempatkan film ini di urutan 1 film paling dinantikan krunya tahun 2010. Apakah karena film ini
full special effect? Apakah karena merupakan remake dari film cult hit awal 1980-an (wah, maap deh, belum lahir saiah ^o^)? Apakah orang2 berharap film ini sekelas Lord Of The Rings atau setidaknya 300? Atau karena film ini tentang pahlawan dalam mitologi Yunani yg memang banyak disukai? Mungkin saja. But I don't really feel that fuss, though. Film ini dirilis di bulan Maret dan "dipaksa" ada versi 3-Dimensi nya, ini bukan gelagat yg baik untuk macam film yg lazimnya dijual di pertengahan tahun (tentu saja dengan beberapa pengecualian). Menonton Clash Of The Titans demi nggak dikira ketinggalan zaman--gw banget--pun tidak mengubah pandangan gw tersebut. Yah, ternyata memang bukan film yg penting.

Clash Of The Titans berkisah tentang pahlawan dalam mitologi Yunani zaman dahulu kala, seorang
demi-god (manusia setengah dewa) bernama Perseus (Sam Worthington). Perseus adalah anak yg dilahirkan dari benih dewa Zeus (Liam Neeson), dewa tertinggi di Olympus, tapi Perseus sendiri nggak tau itu karena sejak bayi dibesarkan oleh keluarga nelayan. Suatu hari mereka sekeluarga menyaksikan sekelompok tentara dari kota Argos (bapaknya tau aja lagi kalo tentaranya dari Argos) merubuhkan patung Zeus. Tak lama kemudian muncul makhluk2 aneh yg membantai tentara2 itu, lalu muncul Hades (Ralph Fiennes), dewa penguasa alam kematian. Eeeh, kapal Perseus kena getahnya kesamber Hades, sehingga sekeluarga mati semua, kecuali Perseus tentu saja. Perseus lalu dibawa beberapa tentara yg selamat ke Argos. Argos, terutama raja dan ratunya tenyata memang tengah mempelopori gerakan melawan dewa-dewi, salah satunya lewat merobohkan patung Zeus tadi. Jelas Zeus nggak senang, tapi Hades malah memanas-manasi supaya Argos diberi pelajaran supaya manusia yg lain (katanya) menyembah dewa lagi, dan rupanya diizinkan, tanpa tahu sebenarnya Hades punya rencana sirik terhadap Zeus.

Balik lagi ke Argos, Hades datang untuk memperingatkan bahwa ia akan melepaskan monster Kraken untuk menghancurkan Argos pada saat gerhana, kecuali Argos menyerahkan sang putri cantik Andromeda (Alexa Davalos) sebagai tumbal. Oh ya, dan Hades menebar
spoiler bahwa Perseus sebenarnya adalah anak Zeus. Mendengar itu Perseus langsung dicatut oleh raja Argos untuk membasmi Kraken dan mencegah kehancuran kota serta mengamankan nyawa sang putri. Setelah diyakinkan oleh Io (Gemma Arterton, dibacanya 'aiyo'...aiyo sekolah), wanita yg dikutuk awet muda yang konon mengawasi Perseus sejak lahir, Perseus pun berangkat bareng beberapa prajurit Argos menuju tempat peramal untuk mengetahui cara mengalahkan Kraken. Lalu mereka ketemu kalajengking padang pasir rakasasa yg kemudian mereka kendarai (?), lalu ketemu trio peramal bermata satu, dan ke kuil Gorgon Medusa di alam kematian untuk memenggal kepalanya yg tatapan matanya bisa mengubah laki2 jadi batu, dan balik ke Argos naik kuda sembrani Pegasus hitam untuk mengalahkan Kraken--dengan dugaan bahwa Kraken itu jantan, ya males aja kalo bukan.

Di atas kertas dan mitologi, petualangan Perseus ini cukup menjanjikan keseruan. Di atas layar Clash Of The Titans, petualangan Perseus terlihat jadi petualangan berbahaya, fantastis nan membosankan. Lempeng aja keliatannya, nggak ada emosi, nggak ada greget, humor yg dimunculkan pun nggak lucu. Plot utamanya cukup simpel dan ringkas, tapi para pembuat filmnya memaksakan filmnya lebih panjang dengan memunculkan seorang musuh tambahan yg mau menghalangi langkah Perseus dkk (diakhiri dengan pertarungan pake pedang dewa milik Perseus yg jadinya mirip pedang mataharinya Kamen Rider RX)...halah penting banget sih? Belum lagi Io, dengan latar belakang yg sampe sekarang masih misterius bagi gw, selalu eksis dimana-mana secara terlalu ajaib bagaikan ibu peri di sinetron "Bidadari", DAN jadi
love interestnya Perseus (lho ini Perseus apa Oedipus?). Gw tau ini cerita khayal tapi come on, she's not even a godess or a nymph or whatever. Nama Io pun yg gw tau dalam mitologi sama sekali nggak kayak di film ini. Entah sebesar apa modifikasi ceritanya dari mitologi atau film aslinya, eventually I don't care (kalo Troy nya Brad Pitt mah bukan modifikasi, tapi memorak-porandakan!). Jangan salah, gw pun dulu sempat jadi pemerhati mitologi Yunani, tapi gw berhenti pada bagian dewa-dewinya saja (gw tau dari seri buku bergambar itu lho..gw beli cuman buku 1-5)...karena bagian itulah yg berhubungan dengan Saint Seiya (hihihi). Jadi kalaupun gw mau protes ya mungkin soal penampilan para dewa yg pake baju besi kinclong padahal secara gambaran tradisional mereka selalu ditampilkan nyaris telanjang, jangan2 pembuatnya terinspirasi Saint Seiya (^o^)...dan Apollo nya lagi emo-gothic jadi rambutnya dicat hitam bukannya tetap berambut emas (=.=')

Tapi okelah, gw harus
fair: sebab-akibatnya konsisten (agak cheesy sich), baik sekali film ini memberi narasi2 latar belakang terhadap beberapa hal termasuk hubungan Zeus dan Hades, lalu motivasi Perseus pun dibuat manusiawi walaupun jatuhnya kurang kuat, adegan aksinya juga lumayan, visual efeknya nggak memalukan, pokoknya film ini nggak sampe bikin gw jadi ngantuk atau kesal. Hanya saja, ya cuma itu aja, nggak lebih, nggak istimewa, gampang terlupakan begitu saja. Ceritanya biasa, visual pun gitu2 aja, nggak berkesan. Entah kenapa gw juga nggak simpati sama satupun tokohnya. Sam Worthinghton? Bahkan di sini dia terlihat lebih kaku daripada tubuh CGI birunya di Avatar. Gemma Arterton agak lumayan menyegarkan mata (agak gemukan ya, mbak daripada di Quantum of Solace ^_^), walaupun itu tadi, keterlalu-eksisan tokoh Io miliknya menganggu gw. Seandainya ceritanya dipersingkat (adegan menuju trio peramal tuch agak kepanjangan deh) dan adegan aksinya lebih maksimal serta lebih bermaksud, niscaya film ini akan lebih menghibur. Sayangnya kali ini, Clash of The Titans versi baru ini sangat biasa dari berbagai segi, termasuk dari segi entertainment. And btw, desain produksi maupun kostumnya juga terlihat kurang niat.


my score:
5,5/10

Selasa, 06 April 2010

[Movie] How To Train Your Dragon (2010)



How To Train Your Dragon
(2010 - DreamWorks Animation/Paramount)


Directed by Dean DeBlois, Chris Sanders
Screenplay by Dean DeBlois, Chris Sanders
Based on the novel by Cressida Cowell
Produced by Bonnie Arnold
Cast: Jay Baruchel, Gerard Butler, Craig Ferguson, America Ferrera, Jonah Hill



Nonton film 3-Dimensi lagi niy...Dengan segala keterbatasan pada saat itu (dana dan kesehatan), meskipun selalu beranggapan bahwa nonton film 3D terbaik adalah di RealD Blitz Megaplex, tapi gw akhirnya memutuskan nonton How To Train Your Dragon di Mega Bekasi XXI yg deket rumah saking deketnya udah kayak tetangga sendiri *apaan sih*. Dan untungnya, Dragon adalah film 3D pertama yg ada subtitel Bahasa Indonesia, jadi lumayan menghemat pikiran dan tenaga =_=. Ternyata, Dragon adalah tontonan yg sangat memuaskan dan pas 3Dnya, walaupun "hanya" di XXI. Ini mungkin salah satu tayangan 3D terbaik yg pernah gw tonton..dan bisa jadi paling baik karena faktor subtitel, hehehe.
Nevertheless, it's just because it is a good movie.

Jujur saja film ini kurang menarik tampak luarnya, terkesan terlalu kekanakan dan materi promosinya (poster, trailer dst) kurang sanggup memanggil gw untuk menyaksikan filmnya. Akan tetapi, nama dibalik film ini cukup menarik gw, yaitu Chris Sanders dan Dean DeBlois yg mnurut gw sangat berhasil dengan Lilo & Stitch bareng Disney. Bahkan tokoh (utama) naga di Dragon, yg bernama Toothless (hahaha) bentuknya agak mirip si alien bandel Stitch. Kali ini temanya juga nggak jauh2 amat dari Lilo & Stitch, tentang persahabatan antar spesies. Tokoh utama kita adalah Hiccup (Jay Baruchel), seorang anak di sebuah desa Viking zaman dahulu kala. Desa ini dipenuhi oleh orang2 perkasa, baik laki2 maupun perempuan yg ahli membasmi naga2 yg sering datang dan mencuri hasil ternak mereka. Tapi Hiccup berbeda, dia adalah anak yg lebih rumahan sebagai seorang pandai besi yg kecil, kurus dan lemah, dan dianggap menyebalkan, padahal dia adalah anak kepala suku setempat, Stoick (Gerard Butler), yg juga pembasmi naga terhebat di sana. Akibat tak ada yg mau benar2 berteman dengannya, apalagi pacar, Hiccup pun bertekad untuk bisa jadi pemburu naga terhebat, yaitu dengan menjadi Viking pertama yg menangkap Night Fury, jenis naga yg paling misterius dan paling ditakuti.


Suatu malam, kesempatan itu datang. Dengan peralatan miliknya, Hiccup berhasil menembak jatuh naga yg diyakininya sebagai seekori Night Fury. Walaupun seluruh penduduk nggak percaya, ternyata benar saja, seekor naga hitam terjatuh dan terikat oleh tembakan Hiccup. Ketika Hiccup mau membunuhnya, ia urung dan malah melepaskan ikatan naga itu. Rupanya si naga belum beranjak jauh semenjak di lepaskan Hiccup, tapi malah terkurung di sebuah lembah danau/telaga/apapun itu, karena sebelah sayap di ekornya hilang. Hiccup pun mencoba mengadakan interaksi langsung dengan si naga hitam, dan betapa terkejutnya ia bahwa si naga tidaklah seperti yg selama ini diyakini oleh penduduk desanya. Ya, naga yg diberi nama Toothless (karena giginya hanya muncul kalau diinginkan) itu bagaikan anjing dengan tingkah menggemaskan dan mau menjalin persahabatan dengan Hiccup. Lewat interaksi akrab (tentunya sembunyi2) Hiccup dengan Toothless, rupanya membuat Hiccup dapat mempelajari sifat2 dan kelemahan naga, sehingga tanpa diduga semua orang sebelumnya, ia bisa sukses besar di ujian pemburu naga dengan cara2nya yg didapat dari pertemuannya dengan Toothless. Hiccup jadi yg paling populer di desanya. Tapi sampai kapan Hiccup bisa menyembunyikan Toothless? Dan siapkah penduduk desa mengetahui bahwa seorang di antara mereka "berhubungan baik" dengan naga musuh mereka?


Persahabatan 2 makhluk yg sedianya tidak mungkin bersahabat adalah tema yg sudah sangat lumrah. Namun entah kenapa, kehangatan film ini tetap terasa istimewa. Gw senang bahwa Hiccup tidak hanya "memanfaatkan" Toothless untuk mencapai keinginannya, tapi ia juga memberi sesuatu untuk si naga, yaitu kesempatan untuk terbang tinggi lagi (dengan keahlian pandai besinya) meski mereka harus terus bersama-sama. Dalam durasi yg tidak panjang, plot film ini sangat enak untuk diikuti, nggak kedodoran dan perpindahan antar momennya sangat
smooth. Dialog2 serta adegan2nya pun kerap mengundang tawa tulus, tidak menjengkelkan, meskipun nggak sampe ngakak kayak waktu nonton Kung-Fu Panda, pokoknya semua ditata dalam timing yg oke. Untuk bagian klimaksnya, atau istilahnya mungkin "act three", yaitu sejak penonton tau asal usul naga2 itu, gw sangka akan terlalu serius dan mengacaukan apa yg sudah dibangun di awal, tapi nggak tuh, rupanya dieksekusi dengan baik sekali. Pokoknya dari segi drama, komedi, action, sukses semuanya. Seru lah.

Kekuatan cerita Dragon sangat diakomodir oleh sektor visualnya. Gw singgung di awal, Dragon adalah film (animasi) dengan penggunaan teknologi 3D paling berhasil yg pernah gw tonton--karena Up agak garing, dan A Christmas Carol filmnya gak sebagus Dragon (hehe). Kedalaman dan penonjolan gambarnya sangat oke, nyaman, dan terang. Desain lanskapnya yg mengambil contoh dari daerah Eropa Utara (ada Giant's Causeway-Irlandia Utara, yg bebatuan tapi kayak susunan batu bata) terlihat indah padahal tidak berwarna meriah, yah agak2 mirip game RPG kali ye. Desain naga2 pun terlihat
family-friendly karena nggak terlalu menyeramkan, malah cenderung konyol karena rata2 cameuh semua (^_^;). Desain Toothless terbilang menarik karena meskipun bisa terlihat imut tapi juga bisa tampak kuat dan gagah. Justru desain karakter manusianya yg mnurut gw agak kurang berkesan, mungkin lebih terlihat oke di gambar 2 dimensi. Tapi untungnya semua terbantu oleh karakterisasi yg baik, hidup dan mudah diingat, serta peran suara aktor yg cocok2 saja. Ada beberapa momen yg paling gw suka adalah bayangan2 naga yg menyemburkan api dibalik awan yg menimbulkan siluet naga, adegan ini ada beberapa kali dan menurut gw itu keren2, memberikan efek dramatis dan megah (cieileeh).

Satu hal lagi yg gw suka dari How To Train Your Dragon adalah bahwa film ini tidak jatuh jadi
cheesy, juga tidak terlampau berat gimana gitu. Dalam kemasan yg sangat menghibur baik mata, hati maupun telinga, film ini mengajak penontonnya untuk tidak takut jadi one of a kind, apalagi the first of a kind. Hiccup tidak sama dengan orang2 disekitarnya, toh dengan apapun yg ada di dirinya, ia berhasil lebih unggul dari yg lain dengan caranya sendiri, bahkan membawa perubahan di sekitarnya. Perubahan macam apa? Makanya, nonton dong...^o^



my score:
8/10


Minggu, 04 April 2010

[Movie] The Passion of The Christ (2004)



The Passion Of The Christ
(2004 - Icon/20th Century Fox)


Directed by Mel Gibson
Screenplay by Benedict Fitzgerald, Mel Gibson
Produced by Mel Gibson, Stephen McEveety
Cast: James Caviezel, Maia Morgenstern, Christo Jivkov, Monica Belucci, Hristo Shopov, Francesco De Vito, Luca Lionello, Mattia Sbragia



The Passion of The Christ memvisualisasikan proses penangkapan Yesus dari Nazareth (James Caviezel), atau disebut Kristus, di Taman Getsemani oleh aparat agama, dihakimi di Mahkamah Agama (Yahudi) dengan tuduhan penodaan agama krn mengaku-ngaku sebagai sang Mesias yg dinubuatkan, diadili (
sort of) untuk disiksa dan dihukum mati lewat hukum penjajah Romawi (karena hukum agama nggak bisa menghukum mati..kotor katanya), kemudian memikul serta mati di kayu salib. Setiap pemeluk Kristen manapun sudah seharusnya familiar dengan kisah ini karena ini salah satu bagian paling inti dari iman Kristen. Peristiwa ini dirayakan setiap tahun sebelum perayaan Paskah, yaitu di Jumat Agung, dan terutama bagi pemeluk Katolik pasti sudah tau detil2 perjalanan Yesus menuju kematian ini. Banyak sudah film2 lain yg mencoba menggambarkan cerita yg sama, tapi menurut gw The Passion of The Christ yg memang berfokus di bagian passion (sengsara menuju penyaliban) serta berusaha menggunakan dialog bahasa2 yg dipakai pada zamannya, memang paling istimewa. Apa istimewanya? Lewat deskripsi, ilustrasi, film2 yg ada sebelumnya, sengsara Yesus hanya bisa dibayangkan, malah sepertinya diperbagus (atau istilah sekarang kayak di-photoshop). Mel Gibson lewat film ini, ingin penontonnya tidak hanya membayangkan, tapi menyaksikan dan merasakan. Beliau seperti ingin menekankan bahwa Yesus tidak sekedar disiksa, tapi di-SIKSA dengan cara serealistis mungkin sehingga menimbulkan efek yg nyata pula, bahwa sengsara Yesus bukanlah sekadar sengsara kayak kelaparan atau putus cinta.Nggak heran film ini menjadi film bertema Kristiani paling laku sampe saat ini, karena memang, terutama bagi gw, film ini penting untuk disaksikan umat Kristen, karena jika saja tidak ngeh pada maksud dibuatnya, maka The Passion tak ubahnya tontonan sadistis layaknya film2 horror slasher.

Terlepas dari tema religiusnya, sebagai sebuah film The Passion of The Christ tetaplah sebuah karya serius, yg tidak menggurui, dan yg seharusnya bisa diapresiasi siapa saja. Munculnya berbagai kontroversi seputar film ini, yang anti-Semitik lah (mengarahkan kebencian pada orang Yahudi, katanya...idih, kalo bersih kenapa harus risih?), yg kelewat
violent lah, yg kurang akurat lah, sebenarnya dapat dimentahakan oleh karena kenyataan film ini adalah sebuah karya yg solid secara dramatik dan sinematik, lewat rangkaian adegan2 yg dijalin cukup rapih meski banyak sekali referensi yg hanya bisa dimengerti oleh "kalangan sendiri". Di sela-sela proses passion sepanjang film, dimunculkan juga adegan2 flashback dan simbolik yg menguatkan kesan dramatis dan emosional film ini sehingga tidak terlalu menjemukan. Ada tiga bagian semacam itu yg paling berkesan buat gw: pertama adegan flashback Yesus memamerkan meja tinggi buatannya pada sang ibu, Maria (Maia Morgenstern), menunjukkan betapa manusianya Yesus, lengkap dengan selera humor. Kedua, adegan yg cukup singkat ketika Yesus memulai perjalanannya memikul salib di jalan2 Yerusalem, Ia disoraki dengan dihina-dina, intercut dengan momen dirinya yg datang ke kota yg sama beberapa hari sebelumnya yg disambut meriah beserta lambaian daun2 palma oleh penduduk kota, disyut dari sudut pandang Yesus. Lalu yg ketiga adalah adegan intercut Yesus yg terjatuh ketika membawa salib dengan Yesus kecil yg jatuh karena berlari, dalam kedua momen itu sang bunda Maria datang untuk menolongnya bangkit (T_T).

Bagi gw sutradara Mel Gibson sukses untuk mengangkat hal2 yg memang perlu dan menarik untuk ditampilkan dalam film. Penonton disuguhkan bahwa Pontius Pilatus (Hristo Shopov), gubernur Romawi di Yerusalem sedang dalam konflik batin untuk menegakkan hukum--bahwa Yesus memang tidak melanggar hukum apapun, atau menyerah pada tekanan rakyat Israel (terutama kaum petinggi agama yg sangat mudah menggalang massa) yg ditakutkan menimbulkan
uprising dan kekacauan. Lalu cukup detail juga soal Yudas Iskariot (Luca Lionello), murid yg menyerahkan Yesus pada aparat yg karena penyesalannya jadi depresi berat seperti diganggu setan hingga bunuh diri. Dan yg cukup esensial dari awal hingga akhir, adalah keberadaan wujud Iblis yg senantiasa ingin menggoyahkan kesetiaan Yesus atas takdirNya. Si Iblis (Rosalinda Celentano) menanti Yesus untuk jatuh hingga menyangkal Tuhan atas penderitaan luar biasa yg dialami, bahkan siksaan yg diterima jauh lebih berat daripada yg penjahat betulan. Namun ketika ternyata Yesus taat sampai mati, Iblis pun digambarkan kalah.

Kesan lambat dan nyeret sempat terbesit menyaksikan sekitar 1 jam pertama: udahlah lama, gelap2an lagi, dialognya kayak ngeja pelan2 pula (maklum bahasa asing yg kuno). Satu momen yg mengubah itu adalah adegan Yesus dicambuk puluhan kali oleh tentara Romawi. Ya, sadis, tapi bagian ini membangunkan gw bahwa untuk menyaksikan proses inilah film ini dibuat. Gw udah nonton sekitar 3 kali, dan masih nggak kuat ketika bagian Yesus dicambuk pake martil tajem sampe dagingnya ikut kecabut (aaargghh! >.<). Namun detail2 kekerasan gamblang itu diimbangi dengan apik oleh adegan2 dramatik seperti yg gw sebutkan sebelumnya. Dan untungnya, semua momen ditangkap dengan luar biasa indah oleh kamera. Sinematografinya jempolan, meski suka ada adegan tiba2
slow motion kayak the Matrix, serta adegan tokoh2 saling liat2an sambil jalan (yg juga diulang Mel Gibson di film Apocalypto), tapi semua terkesan wow dan bermakna, adegan siang dan malam sama2 bagus.

Kembali ke kesan lambat itu, gw sebenernya cukup respek dengan keputusan Mel Gibson dengan gaya seperti itu, bahwa memang proses sengsara Yesus adalah proses yg panjang dan memilukan, bukan hanya sambil lalu semata. Untuk yang satu ini,
he did it so well. Beliau tidak menekankan pada akurasi sejarah karena kisah ini banyak sekali versinya, tapi lebih kepada impact yg dihasilkan. And it worked. Yang jelas, film ini memang layak untuk ditonton: penting dan indah.



my score:
8/10



NB: gw dulu2 pernah baca bahwa menurut tradisi orang Yahudi pada zaman Yesus, laki2 termasuk Yesus seharusnya TIDAK gondrong. Tapi mungkin karena sekian lama sudah terlanjur gambaran Yesus di benak semua orang adalah gondrong, brewok dan agak pirang (
thanks a lot, Da Vinci =.=), maka Yesus versi James Caviezel di sini tetap gondrong, hanya saja tidak bergelombang dan tidak pirang..tapi ini teori gw loh.


Sabtu, 03 April 2010

[Movie] Chicago (2002)



Chicago
(2002 - Miramax)

Directed by Rob Marshall

Screenplay by Bill Condon

Based on the musical play "Chicago" directed and coreographed by Bob Fosse
book of the musical play by Bob Fosse, Fred Ebb

based on the play by Maurine Dallas Watkins
Produced by Martin Richards

Cast: Renée Zellweger, Richard Gere, Catherine Zeta-Jones, Queen Latifah, John C. Reilly, Christine Baranski


Chicago di tahun 1920-an. Ketika klub malam, minum2an keras dan musik jazz merajalela, dan ketika berita kejahatan domestik adalah hiburan utama penduduk kota sehari-hari. Roxie Hart (Renée Zellweger) adalah seorang istri yg tidak bahagia dari montir
retarded Amos Hart (John C. Reilly), memimpikan dirinya menjadi penyanyi bintang di klub2 malam, seperti idolanya, Velma Kelly (Catherine Zeta-Jones), yg belakangan masuk penjara karena membunuh suami dan adiknya yg sedang berselingkuh. Demi mimpinya, Roxie pun rela di-apa2in sama sales furnitur, Fred Casely (Dominic West) yg katanya punya kenalan di klub agar bisa mengorbitkan Roxie. Apa lacur, sudah sekian lama nggak pernah kesampaian, bahkan ketahuan Fred nggak punya kenalan di klub, Roxie menembak Fred hingga tewas. Praktis Roxie dijebloskan ke penjara--di baris khusus wanita2 pembunuh barengan Velma Kelly--tanpa pengadilan karena pengakuannya langsung (akibat perang mulut emosional yg agak bodoh ^_^;). Roxie ketakutan karena mendengar jaksa akan menuntut hukuman gantung padanya, untung ibu sipir Mama Morton (Queen Latifah) menaruh iba sama Roxie yg cute itu (?) dan bersedia memanggilkan pengacara terhebat di Chicago yg pasti bakal membebaskan Roxie, Billy Flynn (Richard Gere), potong 10% persen untuk komisi hehehe.

Ternyata Billy Flynn emang licin. Meski sudah jelas Roxie bersalah, Billy punya taktik yg diyakini bisa membebaskan Roxie dari hukuman: simpati publik. Bagaikan Zarima yg tadinya
bukan siapa-siapa tapi senantiasa masuk berita utama di pertengahan 1990-an di koran dan televisi kita sebagai Ratu Extacy (dulu belum ada infotainment), Roxie pun kini jadi sering masuk berita koran Chicago sebagai "the cutest murderer in town" (dengan bumbu dramatisasi/pemalsuan riwayat hidup dan motif pembunuhan ^_^) sehingga jadi terkenal, disukai publik, dan bahkan barang2 yg pernah disentuhnya bisa dijual. Roxie jadi bintang, dan menikmatinya, merebut spotlight yg tadinya milik Velma Kelly, yg juga kasusnya tengah dibela oleh Billy Flynn. Sirik2an antara Roxie dan Velma untuk jadi yg "terdepan" menjadi pengganjal utama perjalanan Roxie menuju kebebasan, tapi Roxie yg dasarnya ambisius itu nggak akan membiarkan apapun juga merintanginya untuk jadi bintang, meski dari balik jeruji besi. (O, I bet Jennifer Dunn have already watched this film =.=)




Kalo disimpulkan, film adaptasi pertunjukkan musikal Broadway yg terinspirasi kisah nyata ini berbentuk komedi satir dalam presentasi musikal (gerak dan lagu). Berdasarkan beberapa pendapat yg gw denger, film ini seperti
love it or hate it. Gw? Love it. Menurut gw solusi yg digunakan Rob Marshall dalam menampilkan adegan musikal di film ini cukup brilian. Kecuali adegan awal dan akhir, setiap karakter bernyanyi hanya di alam khayal mereka yg disimbolkan dengan panggung sandiwara yg ditonton masyarakat Chicago, lengkap dengan teknik panggung dan lighting. Dua dunia diselang-seling, menjadi representasi karakter atau isi hati mereka. Bagi gw, ini kreatif dan fresh (lihat waktu Roxie dicuekin Flynn ketika muncul Kitty Baxter (Lucy Liu) si triple-murderer yg bakal jadi headline, tulisan neon ROXIE di alam khayalnya langsung padam, hihihi). Mungkin bagi penonton lain, ini membingungkan. Cara yg sama juga dipakai Rob Marshall dalam film terbarunya, Nine (2009), tapi Chicago sebagai karya layar lebarnya yg pertama sepertinya lebih tampak menggugah, menarik mata, dinamis, original, mewah, dan tidak membosankan (bahkan serial Glee pun rada ngikut gaya ini), semua berkat sinematografi, editing, art direction, kostum, musik, sound dan juga koregrafi yg sangat sangat kompak, gorgeous! Beliau tahu betul kalo bikin film musikal nggak bisa setengah2, namun dengan latar belakangnya sebagai sutradara panggung Broadway, Marshall berhasil mempersembahkan excitement menonton pertunjukan musikal langsung dalam bentuk film tanpa kehilangan kesan sinematiknya. Gw menebak orang2 yg membenci film ini pasti jijik pada lajunya yg ada nyanyian tiap (maksimal) 5 menit sekali, kesannya filmnya nggak maju2. Mnurut gw, memang adegan nyanyiannya cukup memperlambat plot, tapi gw fine2 aja sama ritme keseluruhan film, nggak terasa lambat sama sekali, lagian lagunya asik2! Dialog2 yg menyelingi lagu2 (bukan kebalikannya hehe) sangat efektif dan nggak kedodoran, dan memang sangat terbantu oleh performa prima para aktornya tanpa kecuali (tante Catherine menang Oscar lewat film ini, senangnya ^__^).

Chicago yg jadi Best Picture di Academy Awards tahun 2003 ini menjadi contoh film musikal yg komplit: musik asik, visual cantik, performa akting-tari-nyanyi yg apik, serta cerita satir yg bagus dalam kemasan yg
fun dan entertaining. Dibuka dengan lagu pembuka yg menggugah tapi bercerita cukup banyak, dan ditutup dengan lagu penutup yg menghangatkan, di antaranya diisi oleh karakter2 yg hidup serta lagu2 yg dirangkai dengan mood yg pas. Bila harus memilih mana adegan musik yg favorit, gw akan pilih "And All That Jazz" di awal yg menggebrak; "Cell Block Tango" dengan koreografi jempolan; "Both Reached For The Gun" dengan simbol Roxie dan semua wartawan adalah wayang yg dikendalikan Flynn *mantaff*; "Mr Cellophane" oleh Amos yg entah kenapa sangat menyentuh; "I Can't Do It Alone" oleh Velma yg menurut gw adalah bagian yg membuat tante Catherine menang Oscar; dan adegan penutup "Nowadays/Hot Honey Rag" yg imperssive dan menyenangkan. Ada satu lagi adegan panggung yg gw suka adalah "Hunyak's Disappearing Act" yg begitu paradoks menggambarkan penderitaan seseorang adalah bahan tontonan yg memikat bagi orang lain.




Popularitas mungkin jadi impian banyak orang, tapi banyak yg nggak tau cara yg paling sejati meraihnya, dan banyak juga kasus seseorang jadi dikenal luas bukan untuk hal yg orang tersebut sendiri ingin dikenal. Chicago bersetting jaman baehula ketika teknologi paling canggih adalah telepon kabel membahas popularitas yg cepat namun semu, namun di masa teknologi semakin berkembang seperti saat ini, film ini sungguh2 masih relevan. Monggo silahkan nonton infotainment setiap hari pasti ada saja orang2 macam Roxie--bukan siapa-siapa tapi nemu aja cara biar ngangkat namanya (a.k.a Dewi Perssik Syndrome). Padahal pada akhirnya, popularitas, penghargaan yg sejati dan tulus, meski harus lewat jatuh bangun, hanya bisa didapat lewat prestasi diri, bukan yg lain2 *sok bijak*. Bagi gw Chicago sukses mengusung ide ini dengan cara-cara yang menghibur dan menyenangkan tanpa harus cheesy, norak atau terlalu aneh. Buktinya, gw nggak pernah bosen untuk nonton ulang, dan film ini jadi salah satu film favorit gw hingga sekarang...and all...that...jaaaazzzz...That jazz!



my score:
8,5/10




Jumat, 02 April 2010

[Movie] Children of Men (2006)



Children of Men

(2006 - Universal)

Directed by Alfonso Cuarón

Screenplay by Alfonso Cuarón, Timothy J. Sexton, David Arata, Mark Fergus, Hawk Ostby

Based on the novel "The Children of Men" by P.D. James

Produced by Marc Abraham, Eric Newman, Hilary Shor, Iain Smith, Tony Smith

Cast: Clive Owen, Julianne Moore, Michael Caine, Chiwetel Ejiofor, Pam Ferris, Clare-Hope Ashitey, Charlie Hunnam, Peter Mullan



Beberapa waktu ini gw agak terpanggil untuk me-revisit film2 terfavorit gw sepanjang masa. Setelah gw coba cek rak DVD gw beberapa minggu lalu, pilihan pun jatuh ke Children Of Men karya Alfonso Cuarón. Gw pertama kali nonton film ini lewat DVD, belinya agak gambling karena belum pernah nonton dan informasi yg gw tau tentang film ini sedikit sekali, selain mengantongi 3 nominasi Oscar yg--menurut gw--cukup penting: sinematografi, editing, dan naskah adaptasi untuk tahun 2007 (yg jadi tahun pertama penyiaran malam Academy Awards hengkang dari televisi nasional kita hingga sekarang T_T). Ditambah film ini cukup terpuji di mata para kritikus, serta disutradarai oleh Alfonso Cuarón yg gw kenal dan suka karena Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, jadilah gw ambil DVD ini, lalu gw tonton...dan gw tonton lagi...dan gw tonton lagi...dan lagi2 gw tonton...dan wah kayaknya sampe kmaren terakhir gw udah nonton sekitar 6 kali dalam 2,5 tahunan ini. Praktis Children of Men adalah salah satu film TERfavorit gw sepanjang masa, and I'm gonna stand by that statement.


Kita diperkenalkan kepada Theo Faron (Clive Owen), seorang pegawai biasa sebuah kementrian di London. Suatu hari ketika hendak menjalani rutinitas hari-hari, Theo tiba2 diculik oleh sekelompok orang, yg belakangan diketahui adalah gerakan Fish (dengan
nickname "the Fishes"), salah satu gerakan "makar" yg di-blacklist pemerintah Inggris, yg belakangan lagi diketahui dipimpin oleh Julian (Julianne Moore), yg notabene mantan istri Theo. Julian hendak meminta tolong Theo untuk bikinin surat jalan, karena Julian dkk mau mengantar seorang perempuan muda (seorang imigran gelap)--nanti diketahui bernama Kee (Clare-Hope Ashitey)--ke sebuah tempat yg harus melalui pemeriksaan aparat. Theo mau nggak mau nurut, karena diiming-imingi uang yg banyak (kayaknya sih buat nglunasin utang atau jangan2 emang nggak bisa nolak permintaan mantan). Theo sukses memenuhi permintaan Julian, tapi terpaksa Theo harus ikutan mengantar karena surat jalan itu butuh pengawalan pegawai pemerintahan. Tanpa Theo sadari, sebuah misi yg tampaknya sederhana, ternyata menyimpan rahasia yg luar biasa, dan tanpa pernah diduga berbagai macam bahaya baik dari pihak luar maupun dalam siap membuyarkan perjalanan yg dianggap remeh Theo ini.




Cukup simpel ya? Mengantar sesuatu/seseorang ke
suatu tempat melintasi rintangan dan tantangan yg menghadang, tinggal masalah berhasil atau tidak. Tapi Children of Men ini tidaklah sesederhana itu. Sebagaimana tertulis di cover DVDnya, film bersetting di tahun 2027, ketika manusia sudah tidak lagi mampu bereproduksi sejak 18 tahun sebelumnya (o-em-ji, 2009?), dunia sudah di ambang kesudahan. Kalo di film lain setting futuristik berarti kemajuan teknologi, di dunia rekaan Alfonso Cuarón ini, masa depan bagaikan puncak perilaku dasar manusia yaitu bertahan hidup dengan segala cara, terutama saat di ambang kepunahan: kekumuhan dan keruwetan. Theo dkk tengah berada dalam situasi yg sebenarnya mencekam. Lewat tayangan iklan propaganda pemerintah Inggris, terlihat seluruh dunia sudah dalam kaos (tanpa oblong), kecuali Britania Raya, yg karena itu pula negeri ini jadi tujuan utama para imigran gelap. Alhasil, seluruh penjuru Inggris disesaki oleh imigran gelap, sehingga entah karena sudah kewalahan atau kepenuhan (downtown London aja jadi mirip Blok M atau Jakarta Kota, cuman lebih banyak billboard LED screennya ajah), pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan penangkapan atau pelaporan (untuk ditangkap) imigran gelap yg nantinya akan dikarantina di kota terpencil yg dijaga ketat. Seringkali tindakan aparat sangat tidak manusiawi, sehingga timbul gerakan2 bawah tanah (yah mirip "teroris" lah) untuk menentang pemerintah, salah satunya gerakan Fish pimpinan Julian.





Penjela
san gw di atas lucunya bukanlah dalam bentuk prolog ala Star Wars. Lalu gimana caranya gw bisa jelasin ulang? Di sinilah gw temukan kegemesan gw terhadap cara penyutradaraan Alfonso Cuarón yg sangat2 jempol pol pol. Sebagaimana gw singgung, ceritanya tidak sesederhana itu. Plotnya mengalir sedemikian rupa dengan laju yg tepat dan tidak kehilangan fokus meski ada pengungkapan rahasia dan intrik2. Kita hanya tau yg Theo juga tau, sehingga mengikut jalan ceritanya pun semakin asyik karena kita nggak tau apa yg akan terjadi. Anehnya, setiap adegan pasti bercerita lebih daripada sekedar plot utamanya, bahkan tanpa perlu banyak berkata-kata. Jadi selain mengikuti jalan cerita, kita juga sekaligus--bisa jadi di alam bawah sadar (lebay)--diasupi informasi2 yg kaya tentang apa yg terjadi di sekitar Theo dkk, entah dari selipan di dialog, papan pengumuman dan iklan, situasi di sekitar, dsb dsb. Adegan2 ini diletakkan tidak berkesinambungan waktunya, jadi "penjelasan" yg gw peroleh bukan karena diceritakan secara khusus sehingga menjegal laju cerita, tapi dari memperlihatkan (memperlihatkan, bukan menceritakan) petunjuk sedikit demi sedikit yg disebar secara sangat smooth dan nggak membingungkan. Lewat cara inilah, film ini jadi terasa padat tanpa harus terlena dalam durasi yg terlalu lama, cuman 100-an menit.

Akan tetapi kalau mau jujur, sektor cerita bukanlah hal pertama yg membuat gw nagih sama Children of Men. Akan gw tambahkan pernyataan tentang film ini: Children Of Men
is one of the most perfectly-framed film I've EVER seen! Gila, visualisasi Alfonso Cuarón di sini bener2 gila! Film ini jelas2 fiksi tapi gw merasa dimanapun Theo berada, ia berada di sebuah tempat dan situasi yg sungguhan. Nggak ada yg tampak diatur atau disetting, tapi seperti dokumenter, semua tampak memang terjadi begitu saja. Luar biasa believable. Top markotop perlu gw lontarkan pada tim production design, make-up, kostum dan tentu saja sinematografi yg sukses menampilkan gambar tampak suram namun sangat indah nan dinamis, menambah kesan mencekam tapi adem secara bersamaan (silahkan tonton kalo gak bisa bayangin ^_^). Tak berhenti sampe di situ, sang sutradara Cuarón berhasil membuat gw shock dengan adegan2 yg ditampilkannya. Film baru mulai, udah ada kedai kopi meledak padahal Theo baru keluar dari sana. Lalu di perjalanan mengantar Kee, baru aja Theo dan Julian main lempar pingpong pake mulut, mobil mereka udah diserang teroris dari luar sehingga harus ngebut menghindari serangan, yg semua gambarnya diambil dari dalam mobil dalam satu take! Film ini memang jadi arena keahlian Cuarón mengarahkan adegan one-take-shot, karena bagian klimaks ketika Theo dkk berada di tengah2 peperangan gerakan Fish vs pemerintah juga disyut cukup lama, ada kali 5 menitan yg magnificent dan menegangkan. Tapi yg paling bikin gw mikir "what the.." adalah adegan "anu"--yg juga disyut dalam satu take--di malam menjelang perang besar para pemberontak vs pemerintah. Adegan apa itu? Aaaada deh...Tapi sumpah gw shock banget, maklum, gak pernah liat yg begituan sebelumnya. Keren ^o^ v.

Kalau bisa gw akan terus dan terus membahas betapa gw suka banget film ini...oh ya..aktor *lho masih nambah*. Meski tidak menampilkan penampilan yg wah gimanaa gitu, tapi gw suka banget setiap porsi karakter bahkan yg cuman sebentar dan mukanya nggak jelas sekalipun, dimainkan dengan pas dan solid oleh
cast yg sebagian besar asal Inggris (yg menurut gw senantiasa menghasilkan aktor2 yg berbakat "betulan"), menjadi bagian penyempurna film ini.

Jadi, apa artinya gw udah nonton 6 kali tapi masih terkagum-kagum?
An amazing film, I supposed. Mungkin filmnya terkesan terlalu serius, tapi jangan salah sangka, film ini juga menghibur lewat suspense yg spontan dan juga bagian ending yg menawarkan sedikit kelegaan (walaupun belum tentu). Visualnya membelalak mata, cerita yg baik dan berbeda, penceritaan yg luar biasa, dan yg penting, memicu gw jadi penggemar berat Alfonso Cuarón *penting nggak ya? ^_^'*. Jangan kaget liat scorenya ya...



my score:
9,5/10