Jumat, 19 Maret 2010

[Album] Tomita Lab - Shipahead




冨田ラボ Tomita Lab - Shipahead
(2010 - Rhythm Zone/Avex)

Tracklist:
01. Holy Taint

02. ペドロ~消防士と 潜水夫 feat. 佐野元春
Pedro~Shouboushi to Sensuifu (Pedro-Firefighter and Diver) feat. Motoharu Sano
03. Shipahead

04. 夜奏曲 feat. 一十三十一
Yousoukyoku (Evening Sonata) feat. Hitomi Toi
05. 横顔
Yokogao (profile)
06. パラレル feat. 秦 基博
Parallel feat. Hata Motohiro
07. あの木の下で会い ましょう feat. 安藤裕子
Ano Ki no Shita de Aimashou (let’s meet under that tree) feat. Yuko Ando
08. D.G

09. 残像 feat. CHEMISTRY
Zanzou (afterimage) feat. CHEMISTRY
10. エトワール feat. キリンジ
Etoile feat. Kirinji
11. 千年紀の朝 feat. 吉田美奈子
Sennenki no Asa (dawn of the millennium) feat. Minako Yoshida


Udah lama nggak
review musik, kali ini akan gw ulik salah satu album yg cukup gw nantikan. Kenapa? Karena gw cukup nge-fans sama Keiichi Tomita, produser-arranger-remixer (apaan tuh remixer?) asal Jepang yg menjadi motor Tomita Lab ini. Gw mengenal beliau dari karya produksinya untuk artis2 lain seperti lagu2 “Everything”-nya MISIA, “Ring” dan “Canvas”-nya Ken Hirai, “Kiss”-nya Crystal Kay, “ONE”-nya AI, “Stars” dan “WILL”-nya Mika Nakashima, “Chain”-nya BONNIE PINK, serta “Bolero”-nya TVXQ (atau apapun versi lain penulisannya). Nggak semua terbilang lagu bagus, tapi coba dengarkan aransemen musik yg digarap Tomita, KERRRENN ABEEISS!! Makanya gw menantikan kesempatan untuk bisa denger proyek solo dari Tomita di bawah nama Tomita Lab ini. Shipahead adalah album ketiga Tomita Lab setelah Shipbuilding dan Shiplaunching (mantebh judul2nya ^_^), yg gw belum familiar karena sulit dicari bajakannya sekalipun—hehehe—sebab maklum bukan jenis musik komersil.

Keiichi Tomita mengusung musik yg
basicnya (mungkin) jazz, tapi kedengarannya terkontaminasi beat pop dan melodi klasik ala Disney sehingga tidak terkesan terlalu “aneh”. Menyimak album Shipahead yang lagunya diarrange dan dicompose oleh Tomita sendiri (penulis liriknya beda2), plus dipenuhi pelbagai featured artists sebagai pengisi area vokal ini membuktikan ternyata musik Tomita nggak cuma sampai di situ, setidaknya lewat proyek Tomita Lab ini. Diselingi 3 track instrumental yg rada eksperimental, lewat album ini gw dikejutkan oleh track 2 “Pedro”—track pertama yg ada liriknya, langsung nyambung dari track pertama—yg didominasi riff gitar listrik. Dengan menggandeng rocker tuir Motoharu Sano untuk mengisi vokal, gw makin angkat topi sama range musik Tomita, karena unsur rock di lagu ini nggak meninggalkan arasemen jazzy khas Tomita. Gw pun menikmati track2 selanjutnya, dari “Yosoukyoku” dengan vokal Hitomi Toi yg mendayu-dayu, juga “Yokogao” yg jazzy dan cozy (hah?) yg kebetulan Tomita sendiri mengisi vokalnya. “Parallel” dengan Hata Motohiro yg soft, “Ano Ki no Shita de Aimashou” bareng Yuko Ando yg groovy dan terutama “Etoile” bersama Kirinji yg unik dan dinamis, ketiga lagu ini pernah dirilis sebelumnya sebagai single, hingga sekarang pun gw masih suka banget.

Akan tetapi gw merasakan ada sedikit sandungan ketika “Zanzou” yg vokalnya diisi duo pop/R&B yg (dulu) terkenal, CHEMISTRY berkumandang,
track ini seperti nggak punya energi yg sama dengan lagu2 lainnya. Meski bernuansa sangat pop modern, tapi..gimana yah, terlalu sederhana, lemes, diperparah oleh vokal CHEMISTRY yg terdengar nggak niat, cukup mengganggu kenikmatan keseluruhan album. Pun track penutup “Sen-nenki no Asa” dengan vokal penyanyi gaek Minako Yoshida bernuansa big-band jazz dan blues yg klasik dan emosional, tapi gw kurang suka sama vokalnya tante Minako yg mau nyerempet ke enka (pop tradisional Jepang, di sini setara kroncong lah) yg sayangnya nggak pas, untung aja komposisi musiknya masih yahud pisan.

Tomita Lab mungkin kelihatan seperti
passion project pelampiasan energi kreatif Keiichi Tomita, dan menilai dari album Shipahead ini, gw rasa juga demikian. Meski kemasannya kurang komersil dan sedikit bereksperimen, tapi menurut gw musik Tomita Lab akan relatif mudah diterima oleh banyak (mungkin nggak setiap) telinga yg mendengarnya, karena tetap enak didengar, meskipun, bila diperhatikan lebih seksama, komposisinya rada ngejlimet. Setiap instrumen yg senantiasa dimainkan lincah, baik itu piano/keyboard, gitar, bass, drum, perkusi, string section, brass section, maupun flute akan terdengar tidak teratur kalo bunyi sendiri, tapi disatukan dalam komposisi yg entah gimana caranya dengan porsi, timing dan mixing yg pas, sehingga terdengar harmonis. Tidak dibiarkan setiap detik lagu terasa hampa, namun juga tidak ada yg cuman buat tempelan atau meramaikan belaka. Mungkin sekarang gw nggak bisa memberi nilai maksimal untuk album Shipahead yg nggak sekuat ekspektasi gw, tapi penghormatan tertinggi gw untuk Keiichi Tomita sebagai musisi yg bagi gw tensai a.k.a. jenius nggak akan pudar, karena belum tentu ada orang lain yg (sendirian) bisa mengolah permainan instrumen “kacau” menjadi satu bentuk musik yg manis seperti Tomita-sama (mulai lebay ^_^'). Bravo!


My score:
7,5/10




冨田ラボ / Tomita Lab




Previews courtesy of YouTube
(Tidak ada yg preview resmi karena sepertinya Rhythm Zone adalah record label yg gak peka YouTube (hari ginih?)).

Etoile feat. Kirinji (audio)




Ano Ki no Shita de Aimashou (NO MUSIC, NO LIFE. version) feat. Yuko Ando

(Versi digital single, yg di album agak beda di intro, interlude dan outro nya)



Pedro~Shouboushi to Sensuifu feat. Motoharu Sano

Rabu, 17 Maret 2010

[Movie] Green Zone (2010)


Green Zone

(2010 - Universal)

Directed by Paul Greengrass

Screenplay by Brian Helgeland

Inspired by the book "Imperial Life in the Emerald City: Inside Iraq's Green Zone" by Rajiv Chandrasekaran

Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Lloyd Levin

Cast: Matt Damon, Greg Kinnear, Brendan Gleeson, Amy Ryan, Khalid Abdalla, Jason Isaacs



Sepertinya kalau ditanya sutradara bidang
action yg paling gw suka, gw akan jawab Paul Greengrass (kenapa hayo namanya Greengrass? Krn kalo Greenleaf jd nama band dong...*deuh bikin sendiri garing sendiri*). Gw udah dipuaskan 3 kali oleh pak Greengrass lewat The Bourne Supremacy, United 93 dan The Bourne Ultimatum. Actionnya tidak terlihat mewah, tapi dengan kamera hand-held yg senantiasa bergoncang dan kekerasan yg cepat dan nggak over-stylized, seakan punya sihir tertentu yg membuat gw melotot ke layar dan berseru "anjr*t!" setiap adegan2 itu selesai. Dan yg penting, film2 beliau sampai saat ini nggak pernah terkesan konyol. Green Zone yg merupakan kali ketiga pak Greengrass kerja bareng Matt Damon ini pun mengangkat tema yg nggak main2: kebenaran Senjata Pemusnah Massal (Weapon of Mass Destruction=WMD) yg dijadikan alasan Amerika Serikat membombardir Irak tahun 2003 lalu. Ditambah aktor2 yg berkelas serta kru yg sebagian besar udah "paketan" sama pak Greengrass dari film2 sebelumnya, gw pun mantap untuk harus nonton film ini.

Chief Miller (Matt Damon, entah pangkatnya apa, pokoknya dipanggil Chief) adalah leader sekelompok pasukan Amerika Serikat untuk menyergap WMD di tempat2 berdasarkan petunjuk intel. Intel lho, harusnya sahih dong datanya. Tapi apa, udah nyergap 3 tempat (yg ke-4 musti gali lapangan (!)), lengkap dengan pengamanan susah payah di tengah2 kekacauan Baghdad pasca jatuhnya Saddam Hussein, nggak ada apa2, kosong, sisa2 pun nggak ada. Miller pun gerah, ngapain capek2 nyergap kalo ternyata intelnya ngawur. Miller coba ngadu ke atasannya, tapi bener2 nggak dianggep. Lalu Miller didatangi dan ditawari proyek oleh pimpinan CIA di Baghdad, Martin Brown (Brendan Gleeson), yg juga mencurigai ada maksud busuk dibalik ngaconya intel tentang WMD. Tapi usaha untuk mengungkapkan kebenaran tentang WMD ini senantiasa dijegal oleh perwakilan Pentagon di Baghdad, Clark Poundstone (Greg Kinnear), yg bersikukuh untuk mempercayai informan rahasianya nya yg disebut "Magellan" bahwa benar ada WMD di Irak di tempat2 yg diperintahkan kepada Miller. Berawal dari petunjuk yg dari seorang Irak veteran perang, Freddy (Khalid Abdalla), bahwa ada pertemuan rahasia para jenderal sekaligus petinggi partai Ba'ath (partai berkuasa zaman Hussein), Miller pun semakin termotivasi untuk mencari kebenaran dibalik keberadaan WMD lewat menemukan orang yg disinyalir mengetahui perkara ini--dalam hal ini salah satu dari jenderal Ba'ath, Al Rawi (Igal Naor)--juga dengan mengungkap siapa itu "Magellan", meski harus berada di tengah2 arena perang yg berbahaya, juga arena adu kepentingan pihak2 di atasnya.


Perlu diingat bahwa cerita dalam Green Zone bukanlah kisah nyata, tapi menurut gw ide yang disampaikan amat sangat nyata. Film ini mencoba mendramatisir apa yg jadi pertanyaan banyak pihak mengenai penyerangan AS dkk ke Irak. Miller sebagai prajurit nggak mau sekedar kerja nurut perintah, tapi juga mau tau untuk apa dia berjuang di zona bahaya, untuk apa banyak nyawa melayang di Irak,
he wants to make sure everything he had done is for the right reason. Jika kalian rajin baca koran, pasti udah tau bahwa WMD itu memang nggak pernah ada di Irak, dan sudah diakui oleh pihak intel AS sendiri sekitar tahun 2008 kalo nggak salah (wtf!), so you may generally have guessed the ending. Film ini mencoba mereka-reka kenapa dan bagaimana caranya WMD itu di"ada-adain", dan menurut gw penggambaran di Green Zone cukup masuk akal: pemerintah Amerika saat itu hanya membuat pembenaran, terutama lewat media massa, supaya rezim Hussein pokoknya abis dan Irak dimpimpin oleh politisi yg lebih American-friendly (untuk apa? di film ini sih nggak sampe sejauh itu, but you got the idea lah) kendati orang ini udah lama nggak pernah menginjak negerinya sendiri, padahal Brown udah mengusulkan bahwa tindakan yg tepat untuk mengatasi kekacauan di Irak adalah mengangkat petinggi militer yg sebenarnya anti-Hussein sekaligus lebih dipercaya rakyat. Tapi apa lacur...

Namun, hei, kalo merasa konten ceritanya agak berat, tenang sajalah. Film ini
full thriller dan action kok dari awal hingga akhir, dengan beberapa ruang bernapas yg tepat takarannya. Fokus utama film ini lebih berat ke penyelidikan Miller secara fisik ketimbang intrik politik. Seperti gw bilang di awal, adegan2 aksi cepat tepat darurat nan efektif khas pak Greengrass nggak pernah gagal buat gw termasuk di film ini (kejar2an, tembak2an, helikoter jatuh, mantaap!). Miller memang tidak sejago Jason Bourne, bahkan cenderung polos karena bukan bagian dari orang2 "intel" yg licik, tapi justru itu yg membuat aksinya lebih believable dan tak kalah seru. Gw juga cukup kagum tentang hal yg sering di-highlight di review2 lain, yaitu tata artistiknya yg berasa Irak banget, lengkap dengan kompleks Istana Republik yg tadinya jadi pusat pemerintahan Hussein..disyut dari udara malah (wah kalo ini pasti CGI ^_^;), pokoknya film ini sukses dari segi environment-nya. Shot2 kameranya pun bagus2, tapi gw sebenernya kurang setuju dengan (baru kecurigaan gw sich) penggunaan kamera digital HD, mirip yg digunakan di The Hurt Locker yg kebetulan Director of Photography-nya sama. Film ini banyak mengambil set waktu malam hari jadi banyak noise yg nggak enak karena kurang pencahayaan. Mungkin supaya realistic-feel nya keluar (apaan tuh realistic-feel? ^_^;), tapi tetep aja gambarnya terlalu buram.

Sayangnya juga, penceritaan film ini agak sulit diikuti, jadi mungkin berpotensi membingungkan, apalagi plotnya nggak bisa dibilang sederhana, jadi terkesan kurang kuat di sektor cerita. Tapi dalam tradisi film2 Bourne arahan Greengrass yg juga bertempo cepat (dan anehnya tidak tampak terburu-buru), menikmati film ini ada kuncinya:
just watch it, mind the details later ^_^;, jadi buat gw itu bukan kekurangan yg terlalu gimana gitu. Justru yg jadi ganjalan adalah dengan banyaknya karakter yg sebenarnya penting, kesannya jadi nggak penting. Penceritaannya terkesan terlalu berpusat pada Miller--yg btw, dimainkan dengan cukup baik oleh Damon, nggak mirip Jason Bourne--sehingga Brown (Gleeson), Poundstone (Kinnear), apalagi si wartawati Lawrie Dayne (Amy Ryan) jadi kayak sekadar suplemen, serta dimainkan dengan seadanya krn porsi perannya juga seadanya, padahal tiga aktor pemainnya ini semuanya nomine Oscar lho (ngaco, Brendan Gleeson belum >_< - red). Untungnya segi cast diselamatkan oleh akting prima Khalid Abdalla sebagai Freddy yg jadinya ikut terseret bareng Miller dalam penyelidikan berbahaya ini. Walau aslinya nggak ada Irak2nya, aktor Scotland turunan Mesir ini (pernah jadi teroris asal Lebanon di United 93 dan jadi tokoh utama yg seorang Afghanistan di The Kite Runner, yg penting Arabia *ngawur*) paling berhasil mendeliver emosi yg tepat dan meyakinkan di setiap dialognya. Dan di bagian akhir, quote dari Freddy adalah yg paling nonjok dari keseluruhan film ini: "It's not up to you to determine what happens in this country."--terdiam--

Overall
, Green Zone jatuhnya kurang memenuhi ekspektasi gw. Film ini tidak sebaik The Bourne Ultimatum apalagi United 93 karya Paul Greengrass sebelumnya, tapi dari segi hiburan (action) yg tanpa terlalu mengabaikan cerita (tidak membodohi), film ini tetaplah sebuah tontonan yg sama sekali nggak gagal. Tetap seru dan sukses menyita mata gw untung pantengin layar terus-menerus. Btw, kalo penasaran "Green Zone" itu apa, ini adalah istilah militer untuk wilayah yg aman dan dijaga ketat di dalam daerah konflik atau perang. "Green Zone" di film ini adalah kompleks residen pejabat pemerintahan Saddam Hussein, termasuk kerabat dan Hussein sendiri, yg terbengkalai pascainvasi AS, lalu sekarang menjadi pusat kegiatan dan tempat tinggal orang2 asing, terutama AS dan koalisinya, karena paling aman. Jadi ketika di luar zona itu ada bom, tembak2an, kekurangan air, dan penjarahan, di Green Zone orang2 lagi pada berenang, foto2, makan2 dan minum2 produk kesukaan mereka, internetan...and well yeah, selain mengurus "pembangunan demokrasi" di Irak, whatever. Entah buat penonton yg lain, tapi melihat gambaran ini dan juga keseluruhan cerita film Green Zone, gw jadi pengen toyor muka idiot George W. Bush dan cubit kenceng2 lemak pinggang orang2 "intel" Amerika itu, bikin jengkel >_<. Mungkin film ini terkesan anti-Amerika (dan sepertinya akan menyenangkan mereka yg anti-Amerika), tapi gw pikir poinnya bukan di situ. Intinya adalah tentang kebenaran, yg senantiasa dicari, tapi belum tentu diinginkan. Sick.


my score:
7,5/10

Sabtu, 13 Maret 2010

[Movie] The Imaginarium of Doctor Parnassus (2009)



The Imaginarium of Doctor Parnassus
(2009 - Lionsgate/Sony Pictures Classics)

Directed by Terry Gilliam

Written by Terry Gilliam, Charles McKeown

Produced by Amy Gilliam, Terry Gilliam, Samuel Hadida, William Vince

Cast: Heath Ledger, Christopher Plummer, Verne Troyer, Lily Cole, Andrew Garfield, Tom Waits, Johnny Depp, Jude Law, Colin Farrell



Jualan utama film The Imaginarium of Doctor Parnassus adalah bahwa ini film terakhir almarhum Heath Ledger, yang bahkan belum sempat menyelesaikan keseluruhan adegannya ketika ditemukan meninggal awal tahun 2008.
But thanks to that, film ini punya bahan jualan lagi ketika para pembuatnya bikin sedikit perubahan dari segi naskah sehingga adegan2 yg belum sempet dilakukan oleh Ledger, diisi oleh aktor2 wahid: Johnny Depp, Jude Law dan Colin Farrell. Tapi terus terang gw nggak tertarik pada jualannya itu. Gw lebih tertarik pada premis bahwa ini film agak fantasi dengan desain2 (production design dan kostum) yg unik, serta judul yg lain dari yg lain--boleh dicek di IMDB, cuman film ini yg pake kata 'imaginarium'. Ini adalah karya pertama dari surtradara Terry Gilliam yg gw tonton...Twelve Monkeys nggak termasuk krn dulu gw nonton di TV cuman sepotong2. Ats (asal tahu saja, terjemahannya fyi *ngawur*), Terry Gilliam dikenal sebagai sutradara yg karya2nya agak2 aneh, mungkin seperti Tim Burton tapi versi non-komersil dan nggak se-produktif itu. Nah, dengan antisipasi "ini bisa jadi film aneh" apalagi bertema fantasi, gw datang ke bioskop hanya dengan ekspektasi akan melihat visual yg cantik, tapi rupanya film ini punya lebih daripada itu.

Apakah ceritanya aneh? Hmm, lumayan. Perekat ceritanya adalah Doctor Parnasuss (Christopher Plummer, si pak Von Tramp ternyata sudah setua ini haha) dan Mr. Nick (Tom Waits) yg adalah perwujudan iblis mengadakan taruhan atas Valentina (Lily Cole), putri si Doctor yg hampir berusia 16 tahun dan saat usia inilah ia harus diserahkan buat si iblis, tapi Mr. Nick menawarkan akan bisa membebaskan Valentina jika mereka berdua berlomba mendapatkan 5 jiwa. Siapa yg lebih dulu mendapatkan 5 jiwa, ia yg mendapat Valentina. Ini apa maksudnya "ambil 5 jiwa"? Jadi begini *tanda2 penjelasan akan panjang dan nggak jelas*, Doctor Parnassus yg berusia abadi berkat taruhan dengan Mr. Nick jauuh sebelumnya, punya kekuatan untuk menciptakan dunia yg merupakan perwujudan dari imajinasi siapa saja yg masuk di dalamnya, disebut Imaginarium. Di Imaginarium, seseorang bisa merasakan langsung cerminan dari imajinasinya, tapi pada akhirnya akan disuruh memilih, apakah akan membawa imajinasinya untuk kebaikan (Parnassus) atau kenikmatan (Mr. Nick). Kenyataannya, jika pilih kebaikan, ia akan kembali ke dunia nyata dan merasa bahagia tiada tara seperti dilahirkan kembali, jika pilih kenikmatan, ia akan "dimakan" iblis.


Nah bagaimana caranya orang bisa masuk ke Imaginarium? Doctor Parnassus kini adalah pemilik 'freak show' keliling berbentuk kereta kuda bongkar pasang besar bersama sahabat sejatinya Percy (Verne Troyer), serta Valentina dan Anton (Andrew Garfield), gelar pertunjukkan di pinggir jalan, mengundang orang2 yg lewat untuk masuk ke sebuah cermin (dari karton mengkilap beli di warung depan kayaknya hehe) yg merupakan pintu ke imaginarium, layaknya sulap. Masalahnya, siapa yg mau percaya begituan di (London) zaman modern kayak gini? (adegan pembukanya mantep, mereka gelar
show di depan klub malem, hahaha). Takdir pun berbicara ketika mereka menemukan seseorang yg gantung diri tapi masih hidup dan amnesia, belakangan diketahui bernama Tony Shepard (Heath Ledger). Tony ini sebenernya seorang jutawan filantropis yg gemar mengumpulkan dana untuk anak2 miskin di negara2 dunia ketiga. Kegemaran serta pesonanya itu benar2 membantu menarik "pelanggan" bagi Doctor Parnassus, terutama perempuan, bahkan Tony punya andil besar dalam mengubah konsep pertunjukkan Doctor Parnassus agar lebih modern dan menarik. Tapi seperti biasa, Mr. Nick nggak akan tinggal diam, apalagi identitas Tony yg sebenar-benarnya bakal jadi taruhan baru bagi Doctor Parnassus dan Mr. Nick.

Believe me
, yg gw ceritain masih belum seberapa dari konten The Imaginarium of Doctor Parnassus. Agak susah juga menjelaskan keseluruhan cerita film ini dengan susunan kalimat yg logis, banyak sekali muatannya (termasuk benih2 cinta Anton dan Valentina yg agak tersirat). Apakah ceritanya masuk akal? Yes and no. Adegan2nya memang absurd, tapi mnurut gw itu cuman "cara bercerita"nya yg agak nggak masuk akal, tapi apa yg ingin disampaikan lewat keabsurdan itu sangat masuk akal dan dialami oleh siapa saja. Apakah gw mengerti ceritanya? Well, gw ngerti apa yg bisa gw ngerti. Tapi menurut gw, pada dasarnya penceritaannya lumayan enak dinikmati, ada drama, ada lucunya (in an unusual way), porsinya pas walaupun pasti tetap meninggalkan ganjalan tanda tanya. Untungnya, Terry Gilliam sepertinya dianugerahi kemampuan untuk menceritakan cerita yg aneh menjadi tontonan yg anehnya menarik. You have to experience it for yourselves. Sinematografinya nyaris sempurna menangkap nuansa mistik dan misterius (dan absurd), dan membuat gw percaya bahwa di kereta kuda yg tingginya 3 meter dan lebarnya cuman 1 meter bisa muat 4 orang (yah, salah satunya si cebol Verne Troyer sih, but still...). Kostum, make up dan tata artistiknya juga sangat jempolan (knapa di Oscar kmaren Avatar yg menang sih? T_T). Ini baru yg di dunia nyata, yang di imaginarium, waduuh...awesomely surreal. Gw senantiasa terkagum-kagum sambil nyengir karena kegilaan dan keliaran isi kepala sang sutradara lewat visualisasi dunia imajinasi yg dibantu oleh kecanggihan CGI. Wow. Bukan sekedar visual, tapi menyimpan simbol.


"Panggung" Imaginarium of Doctor Parnassus, setelah di facelift oleh Tony. Kinda cool, ya. ^_^

Ya, selain benang merah plotnya, film ini juga dipenuhi simbol2 yg ditampilkan baik lewat adegan maupun visualisasi yg menurut gw keren. Apakah moral yg diambil hanya sekadar "jangan mengadakan perjanjian dengan iblis"? Sama sekali nggak, silahkan tonton sinetron2 religius kalau cuman cari yg itu. Film ini mengembangkan kompleksitas pilihan 'baik-jahat' yg dihadapi manusia setiap waktu dengan cara yg beda. Yang utama, yg agak jelas pada setiap adegan imaginarium, adalah simbol bahwa manusia selalu dapat memilih antara yg baik dan yg jahat, tapi sayangnya yg 'jahat' selalu punya kemasan yg lebih tampak 'enak' sehingga tak jarang (bahkan sering) manusia salah pilih. Gw juga tertarik sama imaginarium pertama Tony, ia memang orang yg gemar beramal, tapi nyatanya ia beramal bukan untuk kebaikan orang lain, tapi karena ingin disanjung tinggi oleh semua orang. Pun Doctor Parnassus yg katanya kapok berurusan dengan iblis, tapi kok malah selalu tergoda bertaruh dengan Mr. Nick berkali-kali,
evil just never giving up on you. Namun, lihat juga ketika Valentina yg memang masih remaja labil tahu "status" dirinya yg sesungguhnya, karena ketidakpercayaan terhadap ayahnya, ia bukannya digoda oleh si jahat, tapi justru secara sukarela mendatangi si jahat, just to escape. Brilian! Ternyata film ini nggak seaneh yg gw duga.

Gw cukup pede untuk bilang film ini
well-crafted. Cerita yg (sangat) tidak biasa, visual yg sangat menarik (mau bilang "indah" agak berat, hehehe), serta pengarahan setiap adegan yg punya taste tersendiri. Gw suka dengan interaksi antar aktor yg tampak believable, "tek-tok" nya enak, agak teatrikal mungkin tapi nggak bisa dibilang para aktornya nggak bermain maksimal, tak terkecuali opa Plummer, Ledger, Lily Cole, Andrew Garfield serta Verne Troyer yg bisa juga main di film bagus. Mungkin cuman Tom Waits yg menurut gw biasa saja, atau memang sengaja begitu. Kalo pengen tau gimana Johnny Depp, Jude Law dan Colin Farrell menggantikan peran Heath Ledger, beginilah: wajah Tony berubah setiap masuk imaginarium sesuai dengan imajinasi orang lain yg masuk bareng dia. Simpel tapi cerdas. Bravo! ^o^. Beruntung film ini selesai meski Heath Ledger sudah tiada, dan beruntung juga bagi Ledger untuk terakhir kalinya berakting di film yg sama sekali nggak malu2in. I like this film.


my score:
8/10


Rabu, 10 Maret 2010

[Movie] Shutter Island (2010)


Shutter Island

(2010 - Paramount)

Directed by Martin Scorsese

Screenplay by Laeta Kalogridis

Based on the novel by Dennis Lehane

Produced by Brad Fischer, Mike Medavoy, Arnold Messer, Martin Scorsese

Cast: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Max Von Sydow, Michele Williams, Ted Levine, John Carroll Lynch, Emily Mortimer, Patricia Clarkson, Elias Koteas, Jackie Earle Haley



Shutter Island adalah film terbaru sutradara kawakan Martin Scorsese, dengan dukungan banyak sekali aktor yg berkualitas mumpuni, serta bernuansa misteri thriller yg rupanya dipresentasikan dengan suksesnya. Konon opa Martin jago membuat berbagai macam film, dan Shutter Island membuktikan si opa bisa hajar juga film bertema misteri ini.

Berbekal petunjuk spoiler endingnya yg mirip Pintu Terlarang--dari sutradaranya langsung lewat Twitter =.=;, gw ternyata cukup menikmati cerita dan penceritaan di Shutter Island. Tahun 1950-sekian (lupa) Edward "Teddy" Daniels (Leonardo DiCaprio) adalah seorang Marshal (semacam polisi yg khusus mengurus soal tahanan negara) bersama mitranya Chuck Aule (Mark Ruffalo) dipanggil ke Shutter Island, sebuah pulau di lepas pantai Boston, AS, yg adalah fasilitas penjara sekaligus RSJ bagi kriminal tak waras. Fasilitas negara ini tengah ada masalah karena seorang pasien berbahaya, Rachel Solando (Emily Mortimer) yg dituduh menenggelamkan ketiga anak kandungnya, hilang entah kemana. Padahal kamarnya dikunci, sedangkan pulau itu pun sangat terisolasi hanya ada 1 dermaga untuk masuk dan keluar, dan hari pertama Teddy dan Chuck ada di situ, badai besar tengah menanti. Teddy dan Chuck pun mulai mengolah penyelidikan, tentunya lewat kesaksian2 orang2 di sana. Tapi anehnya, mulai dari perawat, sesama "pasien" sampai dokter-dokter ahlinya, Dr. Cawley (Ben Kingsley...yg buka usaha batagor di Bandung *kriik kriik*) dan Dr. Naehring (Max von Sydow), semua sok2 misterius gitu deh, jawabannya nggak ada yg memuaskan Teddy. Selain itu, Teddy juga penasaran dengan metode penyembuhan di tempat itu, karena disinyalir menggunakan manusia sebagai objek percobaan sesuatu, apalagi sebelumnya Teddy pernah bertemu dengan George Noyce (Jackie Earle Haley) yg mengaku pernah ditahan di Shutter Island dan bersumpah tidak mau kembali lagi. Di tengah2 terungkapnya berbagai misteri yg malah makin membingungkan, Teddy juga kerap merasa sakit migrain, mimpiin mendiang istrinya, Dolores (Michelle Williams) terus-terusan, dan juga teringat-ingat akan kejadian waktu dia jadi tentara di Perang Dunia II, serta terbayang2 mayat2 korban Holocaust dan korban2 dari Rachel Solando secara bersamaan (nah lho). Rupanya Teddy pribadi memang sudah lama ingin datang ke Shutter Island, karena ingin membuktikan apakah orang yg telah membunuh istrinya, Andrew Laeddis (Elias Koteas) benar ada di Shutter Island. Tujuan Teddy ada di tempat itu pun jadi terbelah sehingga bingung harus mengungkap kebenaran kriminal, atau memuaskan kepenasaranan pribadinya terhadap pembunuh istrinya.

Demikianlah rangkuman cerita film ini yg gw usahakan tidak mengandung spoiler. Karena jika tau endingnya, maka rangkuman ceritanya pun akan sedikit lain arahnya, hehe. Kuncinya cuman satu: jangan repot2 mikir. Karena dengan cara demikian, film ini nggak seribet yg diduga. Malah jalinan ceritanya enak sekali dinikmati sekaligus mencekam walaupun misteri2nya tetap mengundang rasa penasaran. Kisah semacam ini memang nggak baru, tapi Shutter Island sama sekali nggak basi. Mungkin karena penggarapan yg rapih dan akting yg baik dari aktor2nya. Adegan2 "halusinasi" Teddy nggak terlalu bikin bingung sebenernya, karena semua terbayar di akhir cerita.

Sebagaimana gw bilang, film ini disutradarai oleh opa Martin Scorsese yg memang salah satu sineas (yaoloh...wartawan sekali bahasanya) yg paling dihormati di Hollywood sana. Banyak yg suka sama karya2 beliau, sedangkan gw so-so saja--gw cuman nonton film2nya yg rilis taun 2000-an, paling suka Gangs of New York, dan tidak suka The Departed, padahal udah nonton 2 kali. Tapi yg gw suka dari si opa adalah kepiawaiannya menampilkan gambar2 cantik dan production design yg detil, tak terkecuali di Shutter Island ini. Siapa yg nggak respek atau malah amazed dengan adegan mimpi Teddy memeluk Dolores yg perlahan-lahan terbakar, atau adegan di kantor petinggi Nazi, atau pembantaian tentara Nazi yg melibatkan Teddy (long shot, dalam arti kata sebenarnya ^_^), atau ketika Teddy mengejar salah satu tahanan di bangsal (benteng) C. Those are treats for the eyes. Sinematografinya gw kasih jempol deh. Pengarahan serta tone adegan2nya pun sangat berhasil menurut gw, intens dan misterius sekaligus, bahkan dari detik pertama, serta kesan kebimbangan dan kesesakan di bagian akhir. Para aktornya nggak ada yg kedodoran, semuanya pas. Ini kesekian kalinya Leonardo DiCaprio kerja bareng opa Martin, kali ini pun tidak gagal--apalagi mengingat gw dulu nggak suka si Leo, gw cuman nganggep dia sebagai idola remaja putri belaka layaknya Zac Efron atau Robert Pattinson sekarang. Gw juga salut sama aktor2 yg munculnya bentar tapi langsung all out kayak Jackie Earle Haley (fine actor, is he not?) dan Patricia Clarkson sebagai..ehem ehem..^.^

Namun demikian, Shutter Island bukanlah film yg sempurna. Gw ngerasa di bagian menjelang akhir, pace ceritanya jadi agak dragging dan kelamaan. Konklusi di ending (menjelaskan hal2 yg terasa ganjil dan nggak masuk akal, termasuk gaya bicaranya Teddy yg mnurut gw "film banget" ^o^) juga sebenernya nggak terlalu menjelaskan amat sih, tapi ya udahlah, I got the idea--sekali lagi, kalo terlalu dipikirin malah tambah bingung, so don't. Apalagi musiknya yg agak2 lebay, padahal ini bukan filmnya Quentin Tarantino, hehehe. Tapi itu nggak terlalu menghalangi impresi gw bahwa Shutter Island sangat layak tonton dan (tak disangka untuk film seperti ini) menghibur. Jangan terpengaruh sama posternya yg nggak banget >_<



my score 7,5/10


NB: perlu diitung mungkin berapa kali Chuck ngomong ke Teddy: "r'you okay, boss?"..hehe


Selasa, 09 Maret 2010

[Movie] Alice In Wonderland (2010)


Alice in Wonderland

(2010 - Walt Disney)

Directed by Tim Burton

Screenplay by Linda Wollverton

Based on the books "Alice's Adventures in Wonderland" and "Through The Looking Glass" by Lewis Carroll

Produced by Richard D. Zanuck, Tim Burton, Jennifer Todd, Suzanne Todd, Joe Roth

Cast: Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, Crispin Glover, Alan Rickman, Michael Sheen, Stephen Fry



Mungkin..mungkin nih ya...untuk menonton versi baru Alice in Wonderland ini butuh: 1. pengetahuan yg cukup mendalam tentang sumber asli kisah Alice; 2. Respek terhadap sang sutradara, Tim Burton berdasarkan karya2 sebelumnya; 3. Bahasa Inggris setidaknya listening skill level minimal advance kalo kalian les di LIA (atau intermediate kalo les di tempat berbasis British-English). Gw gak punya ketiga hal itu. Alhasil, gw NGGAK NGERTI film ini. Pengetahuan gw soal dongeng Alice udah usang sehingga lupa, gw bukan penggemar Tim Burton (yg gw suka cuman Big Fish), dan bahasa Inggris gw tidak cukup untuk memahami film ini walaupun udah dibantu subtitel sekalipun. Padahal pengharapan akan film ini cukup tinggi: dibuat oleh Walt Disney, sutradara bervisi unik Tim Burton, kisah Alice yg tersohor, gabungan antara live action dan animasi/kartun CGI, aktor2 menjanjikan macam Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, dan ditampilkan dengan teknologi 3-Dimensi yg lagi sama ngetrennya kayak BlackBerry. Tapi apa lacur, setelah gw mendengar kesaksian seorang temen yg udah nonton duluan dalam format 3D ternyata sempet bobo, gw memutuskan nonton versi regular, dan jujur gw juga ngerasa agak ngantuk nonton ini.

Secara singkat, film ini bercerita mengenai Alice (Mia Wasikowska, wajahnya percampuran Gwyneth Paltrow+Samantha Morton) yg berusia 19 tahun sedang dalam pesta pertunangan yg bermotif politik...er bukan, perdagangan, karena ayah Alice yg adalah seorang saudagar (Marton Csokas) telah meninggal dan perusahaannya dibeli oleh sahabat ayahnya itu (ini bagian yg paling gw ngerti, serius). Sebelum Alice menerima pertunangan, ia kabur mengejar seekor kelinci yg membawa jam (McTwisp, suara oleh Michael Sheen) hingga sampai jatuh ke lubang dan sampai ke sebuah dunia yg belakangan diketahui bernama Underland. Alice kemudian bertemu dengan berbagai makhluk mulai dari Dormouse (Barbara Windsor), si kembar kocak Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), kucing tersenyum Chesire Cat (Stephen Fry), ulat biru Absolem (Alan Rickman), anjing bicara Bayard (Timothy Spall) hingga Mad Hatter (Johnny Depp). Underland saat ini berada di bawah pemerintahan The Red Queen (Helena Bonham Carter) yg kejam, dan makhluk2 ini yg berada di pihak The White Queen (Anne Hathaway) tengah berusaha untuk melawan Red Queen. Mereka semua mengenal Alice, padahal Alice merasa tidak mengenal mereka. Yg pasti, Alice sengaja dibawa (kembali) ke Underland untuk memenuhi takdirnya membasmi makhluk Jabberwocky (Christopher Lee) yg dikuasai Red Queen, sehingga nantinya Underland menjadi kembali aman tenteram damai sejahtera indah bersih nyaman gemah ripah loh jinawi.


Jika kalian merasa plotnya beda dengan kisah Alice aslinya, memang iya. Menurut
plot twistnya, Alice memang pernah datang ke Underland (disalah-kaprahkan jadi Wonderland), waktu kecil, dan dikira cuman mimpi. Jadi kali ini Alice kembali bertemu dengan karakter yg familiar tapi dengan kejadian2 yg berbeda. Setelah ngecek mbak wikipedia, Alice in Wonderland ini mencampur-adukkan kisah di dua buku Alice yg sesungguhnya hampir nggak berhubungan satu dengan yg lain. Wonderland itu yg ada Ratu2 dan Raja2 seperti di kartu remi dimana Queen of Hearts yg paling dominan dan kejam, sedangkan Through The Looking-Glass itu yg bertema catur di tengah perlawanan antara Red Queen dan White Queen (bidak hitam/merah vs bidak putih). Maka jadilah kisah Alice ini lebih baru, tapi alih-alih jadi fresh, malah jadi lebih klise (memenuhi takdir melawan pemerintahan yg kejam, sounds like...Disney?), sekaligus lebih ribet. Sebab-akibat, aksi reaksi antar tokoh lewat dialog2nya juga kayak nggak nyambung...atau memang karena gw lagi bego2nya, padahal mungkin dialog2nya menyimpan filosofi2 khas dongeng Alice. Mungkin, kan gw nggak ngerti. Gw nggak menemukan hal2 yg memorable di film ini kecuali keganjilan visualnya dan bentuk tokoh2nya. Sayangnya, keganjilan itu pun kurang istimewa, biasa aja. Berwarna-warni tapi terkesan dark, filmnya Tim Burton kayak gini semua bukan?

Bingung. Itu kesimpulan gw seusai nonton. Mungkin itu juga yg dialami para pembuat film ini (sutradara+naskah dan teman2nya), sampai menular pada para aktornya. Mia Wasikowska tampak sempurna sebagai Alice, begitu juga aktor lain pun tampak pas pada karakternya. Hanya "tampak", nggak lebih dari itu, semuanya terasa kosong, jangan2 karena bingung. Pengecualian mungkin pada Helena Bonham Carter yg selalu bisa berakting total dibalik make-up aneh2. Bingung juga gw harus menilai film in bagaimana. Dari cerita, gw nggak ngerti dan udah nggak peduli, padahal film ini ditujukan sebagai tontonan keluarga. Amanah moral, yaelah ceritanya aja nggak ngerti gimana moralnya. Visual dan teknologi, banyak yg lebih unggul. Urusan desain, buat gw masih kalah dari film2 karya Guillermo del Torro (Pan's Labyrinth, Hellboy II). Menghibur pun tidak! Jadi apa? Ya sudahlah. Hikmah yg perlu diambil adalah, Tim Burton jangan kerja bareng Disney lain kali, nggak cocok.



my score
5/10

Senin, 08 Maret 2010

WINNERS of The 82nd Annual Academy Awards

Bersyukur dapat cuti, susah payah nyari live streaming, akhirnya sukses juga gw berusaha memperoleh pemenang Oscar tahun 2010 ini secepat mungkin, hehe. Berikut para pemenang Academy Awards ke-82, dan seperti tahun kmaren, gw akan memparalelkan daftar ini dengan daftar tebakan gw sebelumnya. (O) kalo tebakan benar, dan (X) kalo tebakan salah. Here they are...



best picture
“The Hurt Locker” (O)

directing
“The Hurt Locker”, Kathryn Bigelow (O)
Sejarah tercipta, wanita pertama pemenang Oscar untuk kategori sutradara...dan jangan2 yg pertama menang lawan mantan suami (James Cameron)?

actor in a leading role
Jeff Bridges in “Crazy Heart” (O)

actress in a leading role
Sandra Bullock in “The Blind Side” (X)
Oscar nya kurang surprise ah..

actor in a supporting role
Christoph Waltz in “Inglourious Basterds” (O)
of course

actress in a supporting role
Mo'Nique in “Precious: Based on The Novel 'Push' by Sapphire” (O)

writing (adapted screenplay)
“Precious: Based on The Novel 'Push' by Sapphire” (X)
didn't see it coming

writing (original screenplay)
“The Hurt Locker" (X)
Salah tapi senang ^_^

animated feature film
“Up” (O)

foreign language film
“El Secreto de Sus Ojos (The Secret In Their Eyes)”, Argentina (X)
Yah, meneketehe..

cinematography
“Avatar” (X)
baiklah =.=

film editing
“The Hurt Locker” (O)

art direction
“Avatar" (X)
baiklah =.=;

costume design
“The Young Victoria” (O)

makeup
“Star Trek” (O)
YESSS!!!!

music (score)
“Up” (O)

music (song)
“The Weary Kind (Theme from Crazy Heart)” from “Crazy Heart” (O)

sound editing
“The Hurt Locker” (X)
Salah tapi senang ^_^, harus lebih memahami nih bedanya sound edit sama mixing hehe.

sound mixing
“The Hurt Locker" (O)

visual effects
“Avatar” (O)
Aduh, perlu ditanya ya...

documentary feature
“The Cove” (O)
Jepang memang kejam! I feel you, dolphins..T_T *apaan sih*

documentary short subject
“Music By Prudence” (X)
ini juga meneketehe

short film (animated)
“Logorama” (O)

short film (live action)
“The New Tenants” (X)



Tebakan gw turun 1 dari tahun lalu, cuman bener 15 dari 24 (62,5%), lumayan laah.

Senang sekali The Hurt Locker yg filmnya sendiri lama2
grow-in-me dapet penghargaan2 yg memang pantas diperoleh (editing dan sound itu memang wajib!), total 6 biji. Penghargaan ganda terbanyak disusul Avatar sebanyak 3 biji...ya, cuma 3-- 2 di antaranya gw nggak terlalu ridho--, lalu ada Precious, Up, dan Crazy Heart masing2 sepasang. Turut prihatin buat Up In The Air yg pulang dengan tangan hampa bagai udara *halah*.

Selamat untuk para pemenang.


Bagi yg punya TV berlangganan, seperti biasa harus bersabar karena 82nd Academy Awards baru akan ditayangkan di Star Movies, hari Rabu 10 Maret 2010 mulai pukul 19.00 WIB. TV lokal? Hah, mereka lebih milih tayangin sinetron dan reality show palsu yg lebih murah dan nggak berguna...