Minggu, 28 Februari 2010

Tebak-Tebakan Pemenang 82nd Academy Awards

Seminggu sebelum malam penganugerahan Academy Awards, dan setelah gw cukup sok tau dalam meramal iklim dunia perfilman di Hollywood, saatnya gw untuk mempersembahkan tebak2an nggak kredibel untuk pemenang piala Oscar tahun 2010 ini. Untuk nominasi lengkapnya bisa dilihat di http://oscar.go.com/nominations/nominees. Sama seperti tahun2 lalu, tebak2an gw berangkat dari pengetahuan yg terbatas dan hanya didasarkan pada film2 yg udah gw tonton, trailer, buzz media, penghargaan2 pra-Oscar, dan tentu saja: feelings...wo uwo uwo, feelings.... Tahun lalu adalah tebak2an terbaik gw, 2/3 nya bener (see, bahkan rekor terbaik gw cuman 2/3), tahun ini apakah bisa menyamai atau melebihi, yaah...moga2 aja. Anyway, pada beberapa kategori, gw menambahkan nomine yg sebenarnya tidak diunggulkan tapi gw akan senang sekali jika nomine itu benar menang. Here goes...





best picture
“The Hurt Locker”

Sudah menang berbagai penghargaan, terlepas dari berbagai kontroversi yg belakangan muncul, film ini tetaplah film yg memang bagus dan pantas menang, gw pun nyandu sama film ini, bikin pengen nonton berulang-kali.

happy surprise: "Inglourious Basterds"


actor in a leading role

Jeff Bridges in “Crazy Heart”

Juga udah menang dimana-mana, dan tampaknya beliau mainnya bagus.

happy surprise: Jeremy Renner in "The Hurt Locker"


actor in a supporting role

Christoph Waltz in “Inglourious Basterds”

Cukup jelas.


actress in a leading role

Carey Mulligan in “An Education”

Ketika banyak orang memprediksi Sandra Bullock di "The Blind Side", gw memprakirakan si mbak Carey ini, entah kenapa, kalo di trailer mbak Carey tampak lebih meyakinkan daripada tante Sandra (gw belum nonton dua2nya, hahaha)

happy surprise: Meryl Streep "Julie & Julia"


actress in a supporting role

Mo'Nique in “Precious: Based on the novel 'Push' by Sapphire”

Ini komedian yg sering komentar di acara2 E! entertainment television, but it seems that she looked really scary in this film.


animated feature film

“Up”

Karena dapet nominasi Best Picture juga. Hanya itu alasannya.

happy surprise: "Coraline"


art direction

“The Imaginarium of Doctor Parnassus"

Yg ganjil selalu lebih menarik. Pandora di Avatar? Bukannya itu lebih pas masuk visual efek yah?


cinematography

“Inglourious Basterds”

Klasik dan cantik, rasanya nggak fair kalo yg dimenangkan adalah Avatar yg lebih banyak pake efek komputer ketimbang fotografi manual seperti nomine lainnya.

happy surprise: "The Hurt Locker"


costume design

“The Young Victoria”

Seperti "The Duchess" tahun lalu, kostum jaman pertengahan yg ribet selalu punya tempat di Academy Awards, dan kalo diliat di trailer, kostum di film ini emang bagus2 banget kayaknya.

happy surprise: "The Imaginarium of Doctor Parnassus"


directing

“The Hurt Locker”, Kathryn Bigelow

Jika dari 6000-an anggota Academy separuhnya adalah wanita, mereka pasti memilih Bigelow kan? Lagian tante ini emang keren banget pengarahannya.

happy surprise: "Avatar" , James Cameron


documentary feature

“The Cove”

Temanya kayaknya bagus, dan menampar tradisi nelayan Jepang *lagi sensi sama Jepang =.=;*


documentary short subject

"The Last Truck: Closing of a GM Plant"

Dari judulnya, lagi pas banget sama suasana di AS sekarang.


film editing

“The Hurt Locker”

It's almost perfect!

happy surprise: "District 9"


foreign language film

"Un Prophète" , France

Premisnya bagus.


makeup

“Star Trek”

Jika film favoritku tahun 2009, Star Trek harus menang sesuatu, maka harusnya di bidang make-up ini. Kuping Spock, jidat Nero, kerutan Winona Ryder, dan kulit hijau Gaila, it's just great.


music (score)

“Up”

Karena memang bagus ^.^

happy surprise: "Avatar"


music (song)

"The Weary Kind (Theme from Crazy Heart)" from "Crazy Heart"

Entahlah, karena ini lagu country mungkin?


short film (animated)

"Logorama"

Pernah liat cuplikannya, menggunakan berbagai logo brand ternama buat bikin sebuah kota, dan tokoh utamanya adalah maskot Michelin. Keren deh kayaknya.


short film (live action)

"Miracle Fish"

Sinopsisnya kayaknya oke. (=.=;)


sound editing
“Avatar”

Untuk soal ini, nggak ada yg lain.


sound mixing

“The Hurt Locker”

perfect! harus menang!


visual effects

“Avatar”

Aku cinta Star Trek, dan alien CGI di District 9 dilihat dari sudut manapun tampak tidak seperti CGI, tapi sudah jelas tahun ini juaranya adalah Avatar.

happy surprise: "District 9"


writing (adapted screenplay)

“Up In The Air”

Smart!


writing (original screenplay)

“Inglourious Basterds”

Orang gila, tapi cerdas. Bener juga metafora Col. Landa tentang tikus, sometimes we just hate things for no reason.

happy surprise: "The Hurt Locker"



Pemenang benerannya akan diumumkan pada malam penganugerahan 82nd Academy Awards di Hollywood, Los Angeles 7 Maret 2010 sore waktu setempat, atau 8 Maret 2010 pagi WIB. Dan tampaknya tidak akan ada tayangan live atau quick delay (tayang malemnya) dari TV nasional maupun berlanganan. Nggak asik loe smua!! T_T

[Movie] Up In The Air (2009)



Up In The Air
(2009 - Paramount)

Directed by Jason Reitman

Screenplay by Jason Reitman, Sheldon Turner

Based upon the novel by Walter Kirn

Produced by Jeffrey Clifford, Daniel Dubiecki, Jason Reitman, Ivan Reitman

Cast: George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick, Jason Bateman, J.K. Simmons, Sam Elliott



Sedikit latar belakang, menonton Up In The Air adalah pengalaman pertama gw nonton film "midnight" (jam malem banget, di Indonesia kayaknya cuman malem minggu dan masang film2 yg baru sebelum tayang reguler), atau karena gw nonton di Blitz Megaplex, istilahnya "sneak preview". Nonton pukul 22.00 malam minggu sendirian ternyata agak takut juga, takut ngantuk maksudnya--lalu Kopiko pun berbicara ^_^;. Pengalaman pertama ini pun dilengkapi dengan mati listrik sekitar 10-15 menit setelah film mulai, sehingga harus break nunggu 15-an menit untuk pengalihan ke gen-set (grrr =.=). Lalu sekitar 45 menit film udah jalan lagi, listrik kayaknya nyala lagi sehingga ada pengalihan lagi dari gen-set ke listrik general, nunggu lagi lah 10 menitan (grrr =.=).
But anyway, gw sama sekali nggak ngerasa nggak puas, ternyata Up In The Air adalah film yg bagus sehingga kejadian nggak enak tadi jadi terabaikan...dan gw nggak ngantuk!

Mari kita mulai ulasan film Up In The Air sendiri.
Filmnya bagus.

*krik...krik...*

Halah,
review macam apa ini ^o^, sama sekali nggak membantu. Tapi bener kok, gw simpulkan filmnya bagus, tapi jujur gw nggak tau film ini tentang apa...hahaha ^_^;. Well, atau setidaknya gw nggak pandai untuk menceritakan ulang isi film ini. Jadi sebagai solusinya, gw akan menceritakannya dengan sepotong2--mudah2an membantu. Ryan Bingham (George Clooney) adalah bujang lapuk yg senantiasa sibuk dengan pekerjaannnya (sounds like...George Clooney? ^_^;). Dijelaskan di awal, Ryan kerja di CTC, semacam perusahaan rekrutmen/outsourcing, dan pekerjaan Ryan sendiri adalah mewakili pihak perusahaan2 (yg terlalu takut) untuk merumahkan karyawan2nya, dan saat krisis ekonomi Amerika yg lagi banyak2nya PHK, kerjaan Ryan pun seakan nggak berhenti sehingga harus mondar-mandir pake pesawat ke seluruh wilayah Amerika, selain juga ia kadang jadi pembicara motivasi bagi orang2 agar survive hidup sendirian. Tak pelak karena kerjaannya ini, Ryan jadi berasa hampir nggak punya rumah, hari demi hari naik pesawat dan nginep di hotel2 plus pake jasa mobil sewaan. Tapi dia merasa sangat nyaman dengan hidup demikian, target hidupnya pun sejauh ini agak cetek: sebagai pelanggan American Airlines paling setia yg menggunakan jasa maskapai itu sampe sekian mil agar jadi anggota dari klub yg ekskulsif (penting banget yah)... yah itu dan memang Ryan punya hobi ikut keanggotaan berbagai hotel atau jasa lainnya supaya sekadar dapet poin sebanyak2nya.

Suatu ketika Ryan bertemu dengan Alex (Vera Farmiga), wanita memikat yg juga seorang yg sering bepergian untuk bekerja seperti Ryan. Mereka langsung klop dan berbuat "hal2-yg-mereka-inginkan" malam itu juga,
simply because besok2 belum tentu bisa, maklum jadwal padat. Cara mereka mengatur pertemuan berikutnya menggelitik sekali, saking susahnya. Tak lama setelah itu, Ryan dipanggil ke "markas besar" di Omaha oleh Craig (Jason Bateman) sang atasan. Ternyata Craig sedang akan mengadakan perubahan bagi cara kerja Ryan dan rekan2nya sesama pemecat, dengan menyetujui ide dari seorang pegawai muda, Natalie Keener (Anna Kendrick). Natalie mengajukan proposal metode pemecatan secara online via live webcam, sehingga para "eksekutor" nggak perlu lagi berkelana kesana-kemari, bisa menetap bareng keluarga, selain untuk menghemat pengeluaran perusahaan di masa krisis ini. Ryan serta merta nggak setuju cara ini, ia yakin bahwa metode yg selama ini dilakukan sudah benar (atau supaya bisa ketemu Alex lagi? Entahlah), dan ia juga menganggap Natalie cuman anak kemaren sore yg nggak tau apa-apa. Untuk menanggapi itu, maka Craig menyuruh Ryan menjadi mentor Natalie agar "tau apa-apa" sebelum me-launch metode PHK online. Jadilah kerjaan2 Ryan--awalnya dengan berat hati--selalu didampingi Natalie yg memang masih naif dan ternyata kerja di CTC hanya karena cowoknya kerja di kota yg sama. Kalimat2 di atas barusan hanya permulaannya saja, and I'm just gonna leave you with that. Bakal panjang banget kalo gw tulis setidaknya cuma ampe separoh film.

Adegan2 selanjutnya adalah adu karakter Ryan dengan Natalie, romansa dewasa dengan Alex yg lambat laun benar2 membuat Ryan jatuh cinta, berbagai proses pemecatan--yg sebagian adalah orang2 yg benar2 telah di-PHK pada krisis keuangan Amerika beberapa waku lalu, dsb dsb. Mungkin gw nggak terlalu ngeh sama ceritanya, muatannya banyak, tapi cara penceritaannya enak sekali, sama sekali nggak berantakan. Nggak ada perasaan bingung atau canggung, apa yg di layar gw lahap aja dengan nikmatnya. Plotnya sendiri nggak mudah ditebak, dan memang nggak perlu. Gw pasrah aja dengan jalannya film ini hanya karena memang enak diikuti. Dialog2nya cerdas sekali, kadang humoris dan satir, dan dimainkan dengan performa di atas rata2 oleh para aktornya. George Clooney bagus walau agak generik di sini, versi santai dan lucu dari Michael Clayton. Vera Farmiga tampil sangat
loveable dengan aura kedewasaannya, kebalikan dari perannya di The Departed yg menyebalkan. Anna Kendrick pun mencuri perhatian dengan pembawaan perempuan cerdas dan tampak kaku tapi rapuh dan masih melibatkan emosi dalam bekerja--ini pertama kalinya gw nonton Kendrick, katanya sih dia main di Twilight juga (belum gw tonton). Shot2 gambar serta penataan adegannya juga nyaman sekali dilihat meski tidak standar. It's just good, walaupun, sekali lagi, gw nggak yakin apa esensi film ini.

Jika ada esensi yg bisa gw tarik secara egois dan subjektif dari Up In The Air, maka itu adalah "perubahan". Dan ketika gw memikirkan kata ini, Up In The Air jadinya adalah film tentang itu (apakah memang ini yg dimaksudkan pembuat filmnya?
I have no idea). Perubahan bukan hanya dilambangkan lewat orang2 yg tadinya bekerja jadi gak punya apa2, tapi juga berimbas sama Ryan yg harus berubah cara kerjanya sekaligus gaya hidupnya karena tuntutan keadaan. Ryan nggak bisa lagi ngawang2 di udara (up in the air...get it? =_=;), tapi harus jejek ke tanah, harus settle, ke kehidupan dimana ia harus mengadakan kontak emosional betulan--bukan formal kayak kerjaannya selama ini, yg malah cenderung palsu--dengan orang lain, tak terkecuali dengan saudara2nya yg selama ini dia cuekin. Tapi tahan, film ini nggak seklise itu. Pada ending filmnya, perubahan nggak cuman dimaknai sebatas "perubahan ke arah mana", tapi "perubahan untuk apa". Up In The Air seakan menutup dengan getir tapi penting: perubahan harus dari, oleh dan untuk diri sendiri, jangan untuk orang lain, or you will be left disappointed.


my score
8/10

Minggu, 21 Februari 2010

My J-Pop 37

Kompilasi pribadi, atau bahasa kerennya: mix CD (^_^;) lagu2 Jepang gw hadir lagi, yg pertama di tahun 2010. Banyak banget lagu2 basian tahun 2009, dan gw juga ngerasa...hm, edisi ini bukan masterpiece saya (bajakan aja pake masterpiece, halah), karena banyak lagu2 yg buat gw enaknya nanggung. Tapi yah lumayan dah daripada nggak enak sama sekali. Anyways, mulai kali ini gw akan coba menandai lagu yg bener2 gw suka dan paling gw rekomendasikan untuk didengar oleh semua orang...gw tetep pada prinsip nggak akan ngasih link donlodan (haha, cari sendiri dong, gw aja bisa kok), tapi gw usahakan ada preview dari YouTube, mayan toh.

NB: yg di-bold adalah lagu yg paling gw rekomendasikan


My J-Pop vol. 37


01. 冨田ラボ - あの木の下で会いましょう (NO MUSIC, NO LIFE. version) feat.安藤裕子
(Tomita Lab - Ano Hi no Shita de Aimashou (NO MUSIC, NO LIFE. version) feat. Yuko Ando)


02. カラーボトル - 合鍵
(Color Bottle - Aikagi)


03. MONKEY MAJIK - Open Happiness (versi Jepangnya lagu Coca Cola, "Buka Semangat Baru" itu loh, tapi yg ini nggak ada mirip2nya sama "Open Happiness" versi asli)


04. 秦基博 - アイ
(Hata Motohiro - Ai)


05. Do As Infinity - 君がいない未来 (Kimi ga Inai Mirai)
06. サンボマスター - ラブソング
(Sambomaster - Love Song)
07. 阿部真央 - いつの日も
(Mao Abe - Itsu no Hi mo)
08. Superfly - Dancing On The Fire
09. YUI - GLORIA
10. くるりとユーミン - シャツを洗えば
(Quruli and Yuming - Shirt wo Araeba)
11. SunSet Swish - さくらびと (Sakurabito)
12. さかいゆう - まなざし☆デイドリーム
(Yu Sakai - Manazashi*Daydream)
13. のあのわ (NoaNowa) - Sweet Sweet
14. 東京事変 - 能動的三分間
(Tokyo Jihen - Noudouteki San-bunkan)
15. FUNKY MONKEY BABYS - 涙 (Namida)
16. ASIAN KUNG-FU GENERATION - 新世紀のラブソング (Shinseiki no Love Song)

17. いきものがかり - なくもんか
(Ikimonogakari - Nakumonka)




Selasa, 16 Februari 2010

[Movie] The Hurt Locker (2009)



The Hurt Locker

(2009 - Summit)

Directed by Kathryn Bigelow

Written by Mark Boal

Produced by Kathryn Bigelow, Mark Boal, Greg Saphiro, Nicolas Chartier

Cast: Jeremy Renner, Anthony Mackie, Brian Geraghty, Christian Camargo, Evangeline Lilly, Guy Pearce, David Morse, Ralph Fiennes



Pertengahan tahun 2009 lalu The Hurt Locker tiba2 kucruk-kucruk eksis di layar bioskop jaringan 21. Tanpa promo, tanpa
buzz, dan filmnya sendiri nggak mengusung nama2 yg menjual (at least di negeri kita). Alhasil krn gw gak tau apa2 tentang film ini, gw skip lah. "Film dari mana niy?" pikir gw. Beberapa minggu kemudian, setelah hilang dari bioskop kita, film ini dirilis di Amerika (how 'bout that, di kita rilis duluan loch, itungannya minggu pula) dan mendapat sambutan serta pujian meriah dari para kritikus. Nggak hanya itu, musim piala2an di Amerika akhir tahun 2009 sampai sekarang termasuk Oscar, selalu dimeriahkan oleh The Hurt Locker. Rasa sesal pun menghampiri, kenapa gw dulu nggak nonton yah? (iya lah filmnya diem2 datengnya, salah gw? salah temen2 gw? T-T). Atas nama penasaran, gw pun berusaha untuk menonton The Hurt Locker ini. DVD bajakan bukan pilihan...masih jaman "beli" bajakan? hehehe. Nyari di Video Ezy pun belum masuk katanya (VCD/DVD originalnya udah dijual loch, tapi yaah..gitu deh, distributor nya nggak gw percaya mutunya). Ya sudah, pilihan terakhir, dengan rasa sesal dan malu, adalah...hihi I won't tell you.

The Hurt Locker bercerita tentang regu penjinak bom tentara Amerika yg bertugas di Baghdad, Irak. Di awal kita diperkenalkan pada regu ini yg hanya terdiri dari 3 orang: Seargant J.T. Sanborn (Anthony Mackie), Specialist Owen Eldridge (Brian Geraghty), dan
team leader Seargant Matt Thompson (Guy Pearce). Dalam tugas kali ini rupanya berbagai hal yg tak terduga terjadi sehingga merenggut nyawa Thompson ketika menjinakkan bom di jalanan pinggir rel kereta. Untuk menggantikan posisi team leader sekaligus teknisi ahli, maka Seargant William James (Jeremy Renner) ditugaskan selama sisa waktu rotasi tugas regu ini, 38 hari. Kalo nanya plotnya apa, ya itu dia. Serius. Selanjutnya adalah cerita hari2 3 orang ini menghadapi bahaya menjinakkan bom sampai rotasinya berakhir, bagaimana regu ini dalam masa penyesuaian pada awalnya hingga akhirnya kompak dan seterusnya.

Lalu menariknya dimana? Gw berani bilang bahwa film "perang" ini bukan soal perang , tapi soal orang (patriotisme? propaganda Amerika? perang melawan teroris? atau pesan anti-perang?
not even close). Film ini menunjukkan berbagai karakter (well, in this case, 3 orang) yg dipertemukan dalam medan perang yg, bagi banyak orang, mencekam. William James lah motor kisah ini. James bukanlah seorang tentara berperilaku kaku dan menjalankan tugas dengan iya-iya ajah, ia adalah orang yg cenderung slengean namun ramah. Kalau diperhatikan, ada perbedaan antara cara kerja, bahkan dari gerak-gerik antara Thompson dengan James. James kayak nggak kenal takut, jalan pake baju pelindung aja kayaknya menikmati sekali. Okelah dia memang ahli, bahkan ahli sekali menjinakkan bom, tapi lebih dari itu, dia mengerjakan tugasnya tanpa rasa takut bahkan seperti asik sendiri. James melewati satu bom dengan bom lainnya kayak karyawan berangkat dan pulang kantor, like just another routine, nyantai banget. Tangkepan gw, James menganggap medan perang seperti kantor, where he works, doing what he's best at and, above all, loves: menjinakkan bom. Semakin rumit komponen bomnya, ia semakin tertantang untuk memecahkannya. Sgt. Sanborn agak senewen melihat tingkah James. Sanborn adalah tipe orang yg lurus dan berat di logika, ia (ingin) menjalankan tugas sebagaimana seharusnya, sesuai protokol, dan yang penting, aman. Sanborn tak jarang gerah dengan gaya James yg kerap nggak memperhitungkan resiko dan mengabaikan protokol, walaupun pada akhirnya mereka sukses menjinakkan bom. Lalu yg paling kasian adalah Sgt. Eldridge, yg merupakan tipe orang yg nggak tau dia harus ngapain. Keliatan banget bahwa Eldridge--terutama dari dialog2nya yg suicidal--bukanlah orang yg "terbiasa" dengan perang, dan nyatanya menyimpan ketakutan terhadap perang yg mendalam meski berusaha menutupinya dengan "ini tugas negara" atau "mati di medan perang kan biasa toh". Namun selanjutnya, pada satu situasi mereka ada kontak senjata dengan sniper militan, ketiga orang ini pun anehnya bisa bersatu dan kompak. Namun kekompakan ini harus diuji lagi, ketika James menyadari bahwa pekerjaannya ini bukanlah pekerjaan ringan yg main2 (Ya iyalah, bom gitu loh! Liat adegan pertama gak sih!? ^_^;), dan ketika emosinya mulai terlibat hingga melakukan hal yg bukan ranahnya.

Gw butuh 2 kali nonton untuk memaknai maksud film ini. Mungkin berbeda bagi masing2 penonton, tapi menurut gw hal2 tersebut di atas lah yg gw tangkep. The Hurt Locker seperti studi karakter di tengah2 perang, terutama untuk Sgt. William James. Regu penjinak bom berbeda dengan regu2 lainnya, dan harusnya paling tahu apa yg namanya resiko--misalnya salah potong kabel lalu mati berkeping-keping (>.<), tapi James tidak pernah menganggap resiko itu harus ditakuti (digambarkan di adegan hari pertama James), ia malah menghadapinya. Gw suka dengan kalimat2 terakhir James di ending. James bukan
psycho, tapi menjinakkan bom adalah passionnya, seperti kata bapak Rene Suhardono (career coach yg siaran di Hard Rock FM Jakarta, fyi): it's what he enjoys the most.

Terus terang The Hurt Locker bukanlah film bertema perang yg "mudah dinikmati" kayak Saving Private Ryan atau Black Hawk Down. Nggak akan banyak tembak2an atau ledak2an (malah ledakan sangat nggak kita harapkan bukan?). Jangan juga berharap ada konflik dahsyat dengan klimaks yg heboh. Film ini sederhana sekali kelihatannya, apalagi cakupannya sangat kecil dan personal, tapi tampak sangat riil, hampir mirip dokumenter. Penceritaannya cukup berbeda, ditunjukkan hari per hari (yah nggak tiap hari juga sih) yg bisa menunjukkan "drama" para tokohnya, dan buat gw, cara ini sangat efektif, terasa dekat dan nyata. Gw juga salut dengan dialognya yg natural namun efektif *lho mengulang kata efektif* sebagai unjuk diri tokoh2nya, nggak lebay dan kayak nggak dibikin-bikin. Jadilah film ini berat ke drama, tapi bukan melodrama (kalo mau yg itu sih tonton Taegukgi ajah), sebuah drama yg bermakna dalam dan perlu waktu untuk dicerna (a.k.a. tanda2 film bagus ^o^), atau bisa juga berarti membosankan bagi sebagian orang, karena filmnya sendiri berjalan tanpa memanjakan penonton dengan mengungkapkan secara eksplisit film ini tentang apa, semua serba mengalir saja. Film ini ditutup dengan sempurna sekaligus menyimpulkan apa sebenernya yg selama 2 jam sebelumnya terjadi di layar. Cukup ironis memang satu2nya hal yg jadi keahlian sekaligus kesukaan Sgt. James hanya bisa dilakukan di tengah bahaya perang, hmm...


Walaupun bukan film perang yg mewah atau masuk kategori "menghibur", The Hurt Locker tidaklah lemah dari sisi penggarapan. Sinematografi dan editingnya tepat dan nggak bikin pusing,
soundnya cool, aktingnya luar biasa believable --terutama si Jeremy Renner yg nggak butuh waktu lama untuk mengundang simpati, everything seemed just right. Adegan2 dirajut rapih dan dipresentasikan dengan tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Thrillnya oke, ledakan2 yg sedikit itu pun digarap canggih. Gw suka banget deh adegan pembukanya, keren. Salut buat Kathryn Bigelow, sutradara wanita yg sepertinya tidak mau terjebak pada kebiasaan bahwa wanita hanya bisa bikin film buat penonton wanita (ehem, "Mamma Mia!"?), beliau memang seorang filmmaker sejati, bahkan sanggup membuat film dengan gaya yg mungkin juga belum tentu sutradara2 pria kepikiran dan bisa lakukan. O ya, musik yg masuk nominasi Oscar tahun ini, walaupun bisik2, tapi bagus juga ternyata.

Sebagaimana gw sebut sebelumnya, gw suka dengan dialog2 Sgt. William James di ending, selain bahwa emang gw suka dengan eksekusi endingnya secara keseluruhan. Kalimat2nya sederhana tapi mengusik sekali. Waktu "ngobrol" sama anaknya yg masih bayi, James bilang "As you get older... some of the things you love might not seem so special anymore".
Excactly! James memantapkan diri bahwa jalan hidupnya adalah satu2nya yg ia cintai, yaitu bom. Aneh? Well, at least he found out what his passion is. Have you? (aku belum Y-Y).



my score:
8/10



NB: Seminggu setelah gw nulis review ini, ternyata 21/XXI menayangkan lagi The Hurt Locker, kemungkinan besar karena sekarang lebih banyak orang sudah denger buzz film ini terutama di berbagai ajang penghargaan daripada waktu aslinya beredar lebih dari 6 bulan yg lalu (sama dengan film Crash yg ditayang ulang setelah menang Oscar 2006). Brangkat lah gw nonton, 2 kali, ^_^; pengalaman nonton dengan sound bioskop memang nggak tertandingi. Tapi dalam versi bioskop di sini, gw menemukan beberapa adegan yg dihilangkan dari versi yg sebelumnya gw tonton: pertemuan pertama Sanborn dan James di barak, dialog "tank" Eldridge sebelum bom pertama tim mereka bareng James, dialog Eldridge sama Col. Cambridge di bengkel, dan malam setelah tembak2an di gurun. Entah dihilangkan dengan alasan apa dan oleh siapa--kemungkinan besar supaya durasinya jadi pas 120 menit (?), tapi untungnya buat gw sih nggak mengganggu cerita secara keseluruhan, tetep bagus, bahkan setelah ditonton ulang. Very good film!

Minggu, 14 Februari 2010

[Movie] 3 Idiots (2009)



3 Idiots

(2009 - Reliance Big Pictures)

Directed by Rajkumar Hirani

Story, Screenplay, and Dialogue by Rajkumar Hirani, Abhijit Joshi, Vidhu Vinod Chopra

Based on the book "Five Point Someone" by Chetan Bhagat

Produced by Vidhu Vinod Chopra

Cast: Aamir Khan, Kareena Kapoor, R. Madhavan, Sharman Joshi, Omi Vaidya, Boman Irani



Dengan kekuatan Twitter, 3 Idiots sepertinya jadi film India paling nge-hits di Jakarta yg ditayangkan di bioskop. Dengan strategi marketing "eksklusif"--hanya ada 1 kopi film sehingga harus digilir, dan dengan pengumuman bahwa akan tayang sampe tgl sekian sebelum pindah ke Bandung kecuali peminatnya banyak--sukseslah film ini full house terus sampe penayangannya diperpanjang 3 minggu dari rencana semula. 3 Idiots memang bukan film India biasa. Film ini sekarang adalah film paling laris sepanjang masa di India (tanpa inflasi, dan bukan 3D hehe), dan juga film India dengan pemasukan terbesar dalam penayangannya di luar negeri. Di India dan bagi penggemar sinema Bollywood, mungkin hanya dengan nama Aamir Khan dan Kareena Kapoor sudah cukup menjual film ini, tapi di sini 3 Idiots sukses berkat buzz dari mulut ke mulut (atau tweet ke tweet) yg begitu hebat sampe yg bukan peminat film India seperti gw pun termakan dan penasaran untuk ikut supaya nggak ketinggalan jaman (halah). Btw, ini film India kedua seumur hidup gw yg gw tonton dengan niat dari diri sendiri dan kesadaran penuh, setelah Lagaan (pemainnya Aamir Khan juga) nomine Oscar 2002 yg dulu pernah tayang di TPI. Lalu 3 Idiots juga mencatat sejarah sebagai film India pertama yg gw tonton di bioskop. Yeay (?).

3 Idiots di sini adalah Farhan (R. Madavhan), Raju (Sharman Joshi), dan teman mereka yg unik, Rancho (Aamir Khan). Mereka sahabat dekat dan kebetulan sekamar di asrama sewaktu kuliah di ICE (Imperial College of Engineering), ceritanya kampus teknik no. 1 di India. Sepuluh tahun sejak lulus, Farhan dan Raju tak tahu keberadaan Rancho, namun tiba2 mereka bertemu dengan rekan seangkatan Chatur a.k.a. Silencer (Omi Vaidya), seorang yg ambisius dan salah satu yg paling unggul waktu kuliah dulu, yg mengaku tahu keberadaan Rancho. Di sela2 pencarian Rancho ke India utara, penonton disuguhi kisah kehidupan mereka waktu kuliah dulu lewat narasi dari Farhan, terutama dengan berbagai kejadian khas mahasiswa serta pengalaman dengan Rancho yg memang pribadi paling "unik" di antara mereka. Rancho berhasil lolos dari plonco; juga senantiasa melemparkan pertanyaan kritis hingga sering disuruh keluar dari kelas, tapi dia nantinya bakal nyusup ke kelas lain. Tapi diluar perilakunya yg aneh dan atau "nakal" menurut pihak kampus, Rancho itu jenius, bahkan sanggup mengungguli Chatur yg paling rajin dan kesayangan para dosen meski bahasa Hindi nya masih sangat terbatas (maklum kelahiran luar negeri, hehe). Lebih lagi, Rancho yg memang menggemari mesin ini pun berhasil memberikan inspirasi dan motivasi bagi Farhan dan Raju dalam menjalani hidup. Eh, Kareena Kapoor nya manah? Well, dia jadi love interest-nya Rancho bernama Pia, yg adalah putri dari dekan ICE yg absurd, Viru Sahastrebuddhe (Boman Irani) a.k.a. Virus (^_^) yg jadi "musuh" Rancho dan pretty much every student in the campus. Jelas2 porsinya tidak sebesar tokoh Farhan dan Raju, tapi atas nama marketing, status kebintangan Kapoor membuat namanya "musti" di taruh tepat setelah nama Aamir Khan dalam kreditnya.

3 Idiots bukanlah produk Bollywood yg biasa saja. Film ini dominan komedi, untungnya komedinya memang lucu dan cerdas. 3 Idiots berhasil membuat gw nggak menguap sepanjang durasinya, paling nggak 5 menit sekali gw pasti ketawa. Beberapa kejadian dan dialog memang sangat menggelitik tanpa kesan membodohi, meskipun yg terlalu maksa memang ada (sepertinya bagi orang India, buka celana dan mabuk itu lucu, di film ini sering banget muncul yg begituan). Persoalan2 yg dihadapi para tokohnya memang tampak riil dan meyakinkan meski ditampilkan secara "film banget". Ya, setiap kita pasti bisa merasa jadi salah satu tokohnya: tentang menjalankan sesuatu yg tidak sesuai dengan keinginan hati dan passion kita, atau tekanan karena ketakutan akan masa depan nantinya bakal gimana, atau stress karena merasa menjadi yg terbawah di lingkungan yg berstandar tinggi, atau menjalani segala sesuatu tanpa tujuan jelas hanya mengikuti arus dan ukuran "sukses" menurut pandangan orang lain (seperti mendengar career coaching Rene Suhardono, hehe). Film ini juga sukses menyampaikan kritik terhadap cara mendidik yg terlalu textbook sehingga nggak merangsang perkembangan individu, sampe menyentil masalah kurang meratanya pendidikan terutama di India (waktu Raju nanya alamat di secarik kertas ke tukang kacang, si tukang bilang "kalo saya bisa baca, ngapain saya jualan kacang" ^o^;). This film is something. Akan tetapi, di luar kelebihannya yg istimewa itu, perlu diingat 3 Idiots tetaplah film India dengan segala ke-film-India-an nya. Formula khas Bollywood masih ada di sini: tari dan nyanyi, kisah cinta, melodrama, rumah sakit, hujan, serta plot panjang yg berimbas pada durasi lebih dari 2,5 jam, tapi ramuannya membuat film ini tetap enak aja disaksikan dan menjadi penyeimbang emosi penonton, apalagi ditambah bumbu kejutan ditengah-tengah dan akhir film. Film India nggak pernah gagal deh kalo soal menghibur penonton.

Selain dari naskah, 3 Idiots juga berhasil berkat penampilan para aktornya. Aamir Khan memang aktor yg bagus, meski dari segi muka tampak serius tapi nyatanya sanggup berakting komikal dengan nyaman, bahkan nggak tampak aneh waktu berakting jadi mahasiswa, terlepas dari usia aslinya yg lebih cocok jadi dosen, hehehe. Tapi bagi gw yg berakting paling bagus adalah Madavhan (Farhan) dan Omi Vaidya (Chatur), sedangkan Kareena Kapoor dan Sharman Joshi tampil standar ala *lagi-lagi* film India, tapi tertolong chemistry dengan pemain2 lainnya.

Puja-puji orang2 terhadap 3 Idiots ternyata tidak lah bisa dibilang berlebihan. Baiklah, memang sinematografinya biasa saja meski menampilkan pemandangan India utara nan eksotik, keklise-an Bollywood yg nggak pernah bisa lepas, adegan2 yg memang plausible tapi diletakkan pada situasi yg impossible, dialog2 yg terkesan menggurui di beberapa tempat, musik latarnya teteup ala film India yg jadi sokoguru musik latar sinetron2 Indonesia, serta cara penceritaannya terkesan terlalu generik. Namun harus diakui, 3 Idiots mengemban pesan2 yg penting, bahkan krusial bagi kehidupan setiap manusia, dengan kemasan yg ringan dan sangat menghibur. Jadilah orang hebat maka kita akan sukses, bukan sebaliknya. Kalau pun nggak mudeng sama pesan2 penting itu, setidaknya kekuatan magis film India akan bekerja: biar filmnya punya cerita yg nggak jelas juntrungannya sekalipun, you'll just feel happy with everything that happen on the screen, dan akan nonton sampe habis. Itulah yg terjadi sama gw dengan 3 Idiots ini. Bedanya, 3 Idiots ada juntrungannya.

Aal izz well
^_^


my score: 7,5/10



NB: Film ini diimpor oleh Raam Punjabi, produser legendaris sinetron2 kita, mulai dari yg komersil norak kayak "Angin Tak Dapat Membaca", "Janji Hati", "Panji Manusia Millennium" dan sebangsanya yg memasang aktor2 yg selalu tampil dengan pakaian dan riasan kondangan; sampai yg bagus tapi nggak laku kayak "Melati" dan "Tiga Perempuan". Well, pengecualian ada di "Suami-Suami Takut Istri" yg (awalnya) bagus dan laku sekaligus, but anyway the point is, who says that he doesn't have a sense for good films? o_O


Selasa, 09 Februari 2010

[Movie] Sita Sings The Blues (2008)


Sita Sings The Blues
(2008 - Creative Commons Attribute-Share Alike)

Directed, Written, Produced, Animated, Designed, Edited, and everything else except specified by Nina Paley

Based on the classic Indian epic "The Ramayana" by Valmiki

Cast: Annette Hanshaw, Aseem Chhabra, Bhavana Nagulapally, Manish Acharya, Reena Shah, Sanjiv Jhaveri, Debargo Sanyal, Nina Paley



Sita Sings The Blues adalah film animasi independen yg mulai dirilis tahun 2008. "Dirilis" di sini benar2 berarti "release" karena selain pemutaran di festival2, semua orang dapat menontonnya dengan bebas dan gratis lewat situs2
streaming internet (YouTube dan teman2nya) bahkan boleh diunduh dalam berbagai format. Gratis! Seperti membajak tapi justru digalakkan a.k.a. encouraged oleh si pembuat, animator Amerika, Nina Paley (karena beliau ingin mempelopori gerakan free culture. Wah, Miss Paley, I bet Indonesians would glad to support you ^o^ V), karena teorinya, semakin banyak orang yg nonton, semakin banyak pula permintaan untuk DVD dan merchandise ekslusifnya, nice thought. Intinya, inilah film yg paling pantes disebut "independen" bahkan sampe ke distribusinya, hehehe. Tapi itu cerita lain. Sebagai sebuah film, Sita Sings The Blues adalah tontonan yg ternyata cukup unik dan segar. Bertagline "the greatest break-up story ever told", film ini bercerita tentang Rama dan Sita dari epos "Ramayana" (diangkat dari versi original India, bukan versi wayang Jawa...apa sama aja yah?) dari sudut pandang Sita, sekaligus autobigrafi dari Nina Paley tentang perceraiannya, sehingga mungkin semacam ungkapan "I feel you" Paley pada Sita, hehehe.

Film ini bercerita dari Rama dan Sita (versi Jawanya: Sinta) sudah menikah. Rama hampir diangkat jadi raja di Ayodya, tapi seorang istri raja yg bukan ibu Rama merasa iri sehingga mempengaruhi sang raja (ayah Rama) untuk menyuruh Rama mengasingkan diri di hutan selama 14 tahun. Sita sebagai istri setia pun turut. Suatu ketika, raja dari Lanka/Alengka, Ravana (Rahwana) terobsesi pada Sita lalu menculiknya. Ravana menanti Sita untuk jatuh ke pelukannya, tapi Sita tetap menunggu Rama suaminya untuk menyelamatkannya. Singkat cerita, Rama plus Hanuman (Hanoman) datang membasmi Ravana dan menyelamatkan Sita, tapi Rama ragu akan kesucian dan kesetiaan Sita, karena Sita sudah berapa lama tinggal di rumah laki2 lain. Sita pun diuji kesuciannya lewat api, dan lulus. Tapi kembali di Ayodya, Rama sudah menjadi raja, dan Sita tengah mengandung anak kembar, Rama tak nyaman dengan desas-desus di negerinya bahwa seorang raja rela menerima istrinya kembali yg udah tinggal lama di rumah laki2 lain. Untuk itu, Rama pun menyuruh adiknya, Laxman (Lakshmana) untuk mengasingkan Sita di hutan. Dalam keterupurukan, Sita bertemu guru/resi Valmiki (Walmiki) yg kemudian menuliskan kisah Rama dan Sita. Sita melahirkan anak kembar di hutan, Kush dan Luv (Kusa dan Lawa). Kush dan Luv dididik oleh Valmiki tidak untuk membenci ayah mereka, tapi justru menyanyikan puja-puji untuk Rama. Suatu hari Rama mendengar puja-puji itu, dan singkat cerita lagi, ia tahu bahwa si kembar adalah anak2 Sita, tapi Rama masih ragu apakah mereka itu anak2 dirinya. Maka untuk terakhir kalinya, Sita membuat sumpah bahwa ia setia dan anak2nya adalah anak2 Rama, dan jika demikian ia akan diterima di "rahim" Ibu Pertiwi...dan Sita pun seketika ditelan bumi, meninggalkan kesedihan dan penyesalan bagi Rama. Spoiler kah ini? ^.^


Banyak aspek menarik dari film ini. Kisah yg mengambil sudut pandang Sita ini mempersembahkan hal yg jarang digali: kemanusiaan. Okey, memang Sita adalah titisan dewi Laksmi (muncul di awal film), istri Rama yg titisan dewa Wisnu (yg selalu digambarkan berkulit biru), dan biasanya hikmah yg diambil dari kisah ini hanya pada betapa perkasanya Rama melawan Rahwana, dan betapa hebat kesetiaan Sita. Namun Sita Sings The Blues ini mengeksplor lebih jauh lagi. Bagaimana perasaan Sita ketika "dituduh" oleh suaminya, 2 kali malah. Selain itu, film ini berusaha menggambarkan betapa "dingin"nya Rama (mungkin itu sebabnya dia biru? =_=). Lewat film ini, Paley seakan-akan memberi kemenangan pada Sita, pada wanita yg "terzalimi" oleh keraguan suaminya sendiri (lihat adegan Laksmi dan Wisnu di paling akhir). Tadi, gw bilang film ini juga menampilkan autobiografi Nina Paley, dan memang dibuat seakan-akan paralel dengan kisah Sita di Ramayana. Suami Nina, Dave ditugaskan ke India untuk berapa lama, hubungan mereka renggang meskipun Nina sempat mengunjungi sang suami, dan tiba2 tanpa alasan yg jelas Dave minta pisah...


Tapi sabar dulu, semua yg gw jabarin di atas disajikan dalam bentuk kartun yg lucu dan cantik. Ada setidaknya 5 macam animasi. Ada bagian dewa-dewi di awal dan akhir yg menyimbolkan asal-usul tokoh2 kisah ini. Ada bagian kartun kasar tentang kisah hidup Nina Paley yg mirip karikatur koran. Ada bagian narasi berupa 3 orang India berbentuk wayang (versi India) yg mengobrol tentang kisah ini--konon bagian ini spontan a.k.a.
unscripted, sehingga terdengar segar dan menggelitik, karena dalam obrolan ini tak jarang orang2 ini saling lempar argumen tentang pendapat mereka mengenai epos Ramayana. Lalu ada bagian cerita inti Ramayana yg seperti lukisan kertas dengan pensil warna, tapi mulutnya bergerak mengikuti dialog ala sandiwara atau mungkin film Bollywood. Dan yg paling substansial, kartun flash 2 dimensi dengan desain karakter yg tampak original, sebagai visualisasi musikal, karena Paley menggunakan lagu2 dari penyanyi jazz jadul Annette Hanshaw ("mengisi" suara Sita) yg dipas-pasin dengan kisah Ramayana. Sita nyanyi jazz! Cerita tetap berjalan di bagian musikal ini, tapi menghibur sekali karena gerakan2 tokohnya disingkron-kan dengan irama lagu. Cara jalannya Hanuman lucu deh.



Rama, Hanuman, dan Sita, versi segmen musikal di Sita Sings The Blues


Meskipun gw bilang lucu, Sita Sings The Blues bukanlah parodi yg cenderung ke penghinaan terhadap kisah yg udah turun temurun ini, setidaknya mnurut gw. Di balik gambar2 kartun yg lucu, Sita Sings The Blues menyimpan pula unsur satir. Dialog2 tokoh Ramayana dibuat tidak ribet dan sengaja diucapkan secara kaku (biar dramatis gimana gitu), bahkan Rama seringkali mengucapkan dialog yg agak o'on (waktu mau mengasingkan Sita, Rama bilang "Say, Sita, would you like to take trip", "But we were just got here", "Yeah great, get packing", hahaha). Ini mungkin dendam pribadi Paley pada tokoh "suami". Lalu puja-puji Kush dan Luv untuk Rama, yg liriknya super nyindir, ditulis sendiri oleh Paley juga menguatkan "dendam" itu, watch it and you'll know what I mean. ^o^. Meski dalam bentuk kartun dan dialog2 serta adegan2nya tampak nggak serius, Sita Sings The Blues sukses menyampaikan sisi kemanusiaan dari Ramayana, terutama perasaan istri/perempuan, dengan caranya sendiri.

Keluhan gw buat Sita Sings The Blues hanya ada pada beberapa adegan yg seakan-akan hanya dipanjang-panjangkan, apalagi ada intermission 3 menitnya hehe. Tapi secara keseluruhan, gw suka sekali film ini. Gambar bagus, cerita dan penceritaan yg segar, lucu, menghibur, punya makna yg dalam, dan yg penting bisa ditonton gratis pula. Ayo tonton versi lain dari kisah Rama dan Sita ini. Gw jadi inget lagi cerita Ramayana gara2 film ini lho.




my score:
8/10


get it here:
http://www.sitasingstheblues.com/

Senin, 08 Februari 2010

[Movie] Wanted (2008)



Wanted
(2008 - Universal)

Directed by Timur Bekmambetov
Screenplay by Michael Brandt, Derek Haas, Chris Morgan
Screen Story by Michael Brandt, Derek Haas
Based on the comic book series created by Mark Millar and J.G. Jones
Produced by Marc Platt, Jim Lemley, Jason Netter, Iain Smith
Cast: James McAvoy, Morgan Freeman, Angelina Jolie, Thomas Kretchsmann, Terrence Stamp, Common



Wanted, barengan sama Mamma Mia!, adalah film hit 2008 yg gw lewatkan begitu saja entah kenapa pas waktu rilis di bioskopnya. Kali ini, barengan sama Mamma Mia! juga, Wanted mendapat kehormatan untuk gw sewa VCDnya dari Video Ezy yg koleksinya makin lama makin bapuk itu.
However, serius, gw bertanya-tanya kenapa ya dulu gw skip Wanted. Padahal trailernya keren penuh dengan adegan2 nggak masuk akal tapi tampak oke dilihat, premisnya menarik, ada Angelina Jolie dan Morgan Freeman pula. Dan setelah gw tonton, filmnya ternyata nggak jelek.

Diangkat dari serial komik berjudul sama, meski konon--menurut mbak Wikipedia--adaptasinya agak bebas gitu, jadi banyak banget bedanya sama versi aslinya. Alkisah Wesley Gibson (James McAvoy) adalah seorang pegawai biasa yg punya kehidupan yg
sucks: ditinggal ayahnya waktu masih bayi, bos nyebelin yg minta ditimpuk pake lemaknya sendiri, pacar yg tukang komplain, temen deket yg songong dan nilep pacarnya, serta punya "penyakit" hampir jantungan kalo lagi nahan emosi tinggi. Kalo pake bahasa ala subtitel di TV: pecundang (sebuah kata yg hampir tidak pernah diucapkan oleh orang2 Indonesia tapi entah darimana para penerjemah itu menemukannya). Suatu ketika tiba2 nongol seorang cewek berwujud Angelina Jolie (^_^'), belakangan diketahui bernama Fox (tanpa Megan pastinya), mengatakan dia kenal ayah Wesley, seorang pembunuh bayaran paling andal. Ayahnya itu baru saja terbunuh oleh Cross (Thomas Kretschmann), dan kini Cross mengincar Wesley beserta keseluruhan gembong Fraternity, "perkumpulan" pembunuh bayaran super tempat bernaungnya Fox dan ayah Wesley. Ia kemudian diboyong ke markas Fraternity dan berhasil diyakinkan oleh si bos, Sloan (Morgan Freeman) bahwa ia punya kemampuan potensial menjadi sehebat ayahnya. Singkat cerita Wesley meninggalkan kehidupan lamanya lalu dilatih oleh orang2 Fraternity untuk mengasah naluri pembunuh bayaran untuk menjadi salah satu dari Fraternity--dalam serangkaian sesi latihan yg unik--, lalu menjalankan tugas sebagai pembunuh bayaran, sekaligus bersiap-siap membasmi Cross...or so we've assumed..

Agak standar ceritanya? Tenang, ada
plot twistnya kok, cukup unexpected meski nggak terlalu ngagetin gimana gitu. Tapi selain itu, tentu saja yg dicari dalam film semacam ini adalah soal visual...dan visual di Wanted agak lain dari film2 sejenis, maklum sutradaranya orang Rusia, bukan lulusan Hollywood, jadi gayanya agak berbeda, dalam artian yg baik. Beberapa kali gw berucap "halah!" sambil nyengir setiap ada adegan2 orang lompatin gedung, mobil Fox ngangkut Wesley sambil ngepot, Wesley mukul sahabatnya pake keyboard komputer trus keys yg copot berformasi frase "f**k you", alat tambahan mirip "periskop" buat pistol, nembak tepat sasaran dari jarak jauuuuuuuuuuuuuh banget, mobil lompat jungkir balik sambil nembak orang dari atas mobil lain, dan gongnya adalah: peluru belok! (Kalo adegan di atap kereta mah biasaa, di Jakarta tiap hari orang pada kayak gitu, haha ^_^;). Weleh, sutradara film ini sinting banget sih fantasinya, dan lebih sinting lagi karena adegan2 tsb justru menghibur ketimbang jadi menjengkelkan (contoh yg menjengkelkan: Charlie's Angels: Full Throttle), karena kadung dunianya Wanted bukanlah dunia nyata, dan orang2 Fraternity adalah orang2 sakti mandraguna, jadi terima sajalah adegan2 implausible dan impossible itu.

Bisa dibilang Wanted punya bahan2 yg oke menjadi sebuah film yg sukses. Adegan
action absurdnya didukung oleh teknik kamera, efek suara dan visual yg mumpuni, editingnya juga dinamis dan nggak bikin bingung, bagous. Wanted juga punya bintang2 untuk dijual, misalnya Angelina Jolie yg sebenernya tokoh pendukung tapi mukanya di poster meuni geda pisan, aktor jempolan Morgan Freeman, lalu ada rapper Common, yg bermain baik dalam karakter mereka yang terbilang lempeng bak tokoh komik--oh, ini emang adaptasi komik ya, hihihi. Justru tokoh utamanya, aktor Skotlandia James McAvoy yg sepertinya belum dikenal luas, tapi cukup cocok memerankan loser yg jadi jagoan, meski intonasi aksen Amerikanya masih terdengar textbook. Dari segi naskah sendiri sebenernya cukup bisa mengimbangi adegan2 aksinya, nggak brilian atau gimana tapi nggak dangkal juga, tanpa terlalu dalam terjebak dalam klise ala Hollywood ataupun melankoli ala Korea, apalagi diakhiri dengan dilema yg, yaah, lumayan bikin perenungan: pilih prinsip atau nyawa. Gw cuman masih nggak ngeh sama teori relasi antara tikus, selai kacang, dan bom. Tapiii...apalah arti cerita kalau memang adegan2 aksinya saja yg dinantikan. Well, at least di film ini adegan2 aksi sintingnya masih cukup peduli untuk memberi ruang sama ceritanya agar diserap oleh gw sbg penonton.

Mungkin satu lagi hal yg nggak gw suka dari Wanted adalah
soundtracknya yg modelnya terlalu mirip2 sama Spider-Man atau DareDevil, kurang nampol, biasa ajah. Tapi di luar itu, Wanted adalah film yg sangat enjoyable baik visual, karakter, maupun plotnya. Nggak rugi ditonton, walaupun gw agak merasa rugi karena nggak nonton di bioskop dulu. How I wish I could be just like Wesley, escape from my common, potentially depressing life to find my true potential, hoho ^_^ v.


my score:
7/10


Jumat, 05 Februari 2010

[Movie] Mamma Mia! (2008)


Mamma Mia!
(2008 - Universal)

Directed by Phyllida Lloyd
Screenplay by Catherine Johnson

Based on the musical play written by Catherine Johnson

Produced by Judy Craymer, Gary Goetzman

Cast: Meryl Streep, Amanda Seyfried, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgård, Colin Firth, Julie Walters, Christine Baranski, Dominic Cooper


Seperti gw tulis di review Nine, gw suka film musikal, itulah salah satu alasan gw akhirnya tertarik nonton Mamma Mia!, apalagi film ini memakai lagu2 lawas nan klasik dari ABBA, yg sedikit banyak pasti diketahui oleh sebagian orang, terutama kalo sering denger radio Sonora, hihihi. Tapi harusnya gw udah menduga film komedi-romantis musikal ini bakal "perempuan sekali"--bahkan jangan2 itu alasan gw baru nonton sekarang bukanya dari dulu. Tanpa bermaksud diskriminasi gender, tapi setelah cukup menonton film2 komedi romantis serta telenovela yg kebanyakan sangat "berpihak" pada fantasi wanita, gw memutuskan untuk menghindar sebisa mungkin dari film komedi romantis dan telenovela (pengecualian pada (500) Days of Summer dan Betty La Fea, because they're different), dan cukup membaca 1 chicklit berjudul Cintapuccino, yg jelas2 dari, oleh dan untuk perempuan, gw pun bersumpah nggak akan menyentuh namanya chicklit atau teenlit atau selulit (?). Gw bahkan kesal dengan bab tambahan di akhir novel Harry Poter and The Deathly Hallows yg menjurus ke arah sana. Apa maksud gw mengatakan "berpihak pada fantasi wanita"? Dari beberapa film dengan target perempuan, semuanya selalu soal mimpi dan harapan (mostly tentang cinta) di tengah situasi yg paling nggak mungkin menjadi terwujud secara terlalu mudah meski sudah lewat jalan berliku yg emosional, muter jauh2 ternyata akhirnya gitu2 juga (contoh: Mari Mar atau Twilight mungkin?). Mamma Mia!, versi film dari pertunjukkan panggung musikal berjudul sama ini agak mending karena meng-skip bagian jalan berliku emosional lalu menggantinya dengan lagu2 asik dari ABBA, tapi tetep aja penyelesaiannya terlalu mudah...atau jangan2 emang sengaja karena, sekali lagi, targetnya perempuan.

Sophie (Amanda Seyfried) tinggal di sebuah pulau di Yunani bersama sang ibu, Donna (Meryl Sheridan) yg punya hotel wisata di sana. Sophie akan menikah dengan Sky (Dominic Cooper, Jamie Cullum versi agak tinggian ^_^), dan ia ingin sekali hari bahagianya itu dihadiri oleh ayahnya yg sama sekali nggak dikenalnya, mengingat gadis 20 tahun ini dibesarkan oleh sang ibu sendiri saja, dan mungkin dengan alasan tertentu, Donna nggak pernah singgung seiprit pun tentang ayah Sophie. Maka Sophie pun punya akal mengundang diam2 ayahnya...agak ribet sebab kemungkinannya ada 3 orang (wow...tante Donna nakal ya ^.^;), dengan harapan mempertemukan mereka dengan sang ibu akan menguak misteri siapa ayah biologisnya. Mereka antara lain seorang petualang dan penulis buku Bill Andersson (Stellan Skarsgård), bankir Inggris Harry Bright (Colin Firth), dan arsitek Irlandia Sam Carmichael (Pierce Brosnan), ketiganya datang kompakan sekaligus sehari sebelum hari-H pernikahan Sophie. Sophie berusaha menyembunyikan mereka sebelum acara, tapi Donna langsung tahu dan berusaha menyembunyikan mereka dari Sophie (ugh..). Lalu ada CLBK Donna dengan ketiga pria ini, lalu ada keraguan Sky sama Sophie yg lebih berat untuk cari tau siapa ayahnya daripada pernikahan mereka. Eh, ada nyelip soal Sophie yg pengen juga keluar dari pulau rumahnya mencari jati diri ("I Have A Dream"
anyone?). Dan ada 2 sahabat yg dulu satu grup nyanyi bareng Donna, Rosie (Julie Walters) dan Tanya (Christine Baranski) memeriahkan suasana. Semuanya bernyanyi dan menari, tralala, trilili, lalu diakhiri dengan siapa jadian dengan siapa, dengan seketika dan mudahnya.

Well
, jika ditonton lewat perspektif sinis dan chauvinis, film ini biasa2 saja...o wait, I can't help it, gw nemu kekurangan2 di sana sini. Ceritanya sesungguhnya menarik sekali, bahkan plotnya dibangun cukup baik, tapi penyelesaiannya lagi-lagi terlalu cetek, seakan2 endingnya dibuat sedemikian rupa supaya sekadar filmnya selesai. Adegan2 baik musikal maupun dialog masih sangat teatrikal, sangat mungkin terpengaruh oleh penulis naskah dan sutradaranya yg adalah orang2 yg juga menggarap pertunjukan Mamma Mia! versi panggung. Sinematografi tampak biasa, tapi itu mungkin karena gw nontonnya di VCD sewaan ^_^;. Beberapa koreografi dan penempatan lagu terlihat terlalu konyol, bahkan ada lagu2 yg kayaknya gak usah ada di film ini juga nggak papa. Dan lagi, Pierce Brosnan kalo nyanyi suaranya jelek!

Tapi ya sudahlah, film ini memang tidak dibuat untuk dianggap terlalu serius. Film ini buat lucu2an. Camkan itu, dan Mamma Mia! akan jadi tontonan yg cukup menyenangkan, terima kasih kepada ABBA sebagai empunya lagu2 oke yg dkumandangkan sepanjang film,
thank you for the music lah pokoknya, hehehe. Cerita yg menarik itu pun jadinya nggak terlalu penting banget karena rangkaian lagu2nya dan sing-a-long nya lah yg akan lebih terngiang-ngiang. Gw paling suka adegan "Dancing Queen", paling seru meski agak2 nggak meaning. Penokohannya menarik, perilakunya sesuai dengan maksud bahwa film ini adalah komedi, dan untungnya dibawakan oleh para aktor, baik yg senior maupun yg junior, dengan santai, kompak, dan meyakinkan sehingga enak aja ditontonnya. Mereka begitu menikmati dan cukup berhasil menularkan mood senang itu ke gw. Lagian, kapan sih Meryl Streep mainnya jelek?

Pada akhirnya, buat gw sebagai penyuka musikal, Mamma Mia! berhasil mencapai taraf menghibur...tapi sebagai film secara keseluruhan nggak bagus2 amat sebenernya...atau mungkin karena gw laki2? Entahlah...


"
See that girl...tonetonetonetonet...watch that scene...terereret...diggin' the Dancing Queen...jreng!" ^O^/~



my score:
6/10



NB: Fyi bagi yg nggak tau, radio Sonora adalah stasiun radio FM di Jakarta (sekarang udah berjaringan di mana-mana) dengan segmen keluarga tapi lebih berat ke orang tua...bahkan dulu penyiarnya pake bahasa yg kayaknya lebih baku daripada RRI..tua beut dah, hehehe.


Rabu, 03 Februari 2010

52nd Grammy Awards / 2010


courtesy of Grammy's fanpage @ facebook

Pergelaran anugerah paling prestige bagi industri musik Amerika Serikat dan dunia baru aja kelar hari Senin pagi, 2 Februari (WIB) lalu. Tahun 2010 ini, Grammy mencoba kembali menunjukkan gengsinya sebagai pergelaran musik paling wah, dan buat gw sih cukup berhasil. Dibandingkan acara tahun lalu yg kriik kriik, tahun ini acaranya terbilang lebih menghibur.
Opening dari Lady Gaga plus Elton John yg muka2nya pada coreng moreng kayak lagi pelatihan kamuflase tentara, agak kurang mantep sih mnurut gw. Tapi "21 Guns" dari Green Day dan para pemeran drama musikal American Idiot (yg bakal memakai lagu2 Green Day) tampak bagus sekali, pun penampilan Beyonce lengkap dengan putaran kepala ala trio macan, sirkus akrobat P!nk, robot2an The Black Eyed Peas, Jamie Foxx+T-Pain+Slash+satu orang lagi gw gak tau, Dave Matthews Band yg agak Nodame Cantabile, "Bridge Over Troubled Water" dari David Foster+Andrea Boccelli+Mary J. Blige untuk Haiti, Maxwell+Roberta Flack adalah penampilan2 yg berkualitas dan exciting. Tribut untuk Michael Jackson oleh Celine Dion, Usher, Carrie Underwood, Jennifer Hudson, dan Smokey Robinson + suara asli Michael Jackson yg menyanyikan "Earth Song" juga menyentuh, walaupun VT 3-Dimensi yg digembar-gemborkan itu jelas nggak ngaruh bagi penonton TV. Eh, bahkan pemenang Best New Artist, band country Zac Brown Band ternyata cukup atraktif krn menutup penampilannya dengan musik ala koboi. Yee-haw..

Meski demikian ada juga penampilan2 yg nanggung untuk ukuran Grammy. Penampilan penutup oleh Drake, Eminem dan Lil Wayne sebenernya biasa aja (katanya banyak yg disensor yah?) tapi bolehlah. Bon Jovi menyanyikan 3 lagu, termasuk 1 lagu klasik yg dipilih secara online oleh penggemar (jatuh kepada "Livin' On A Prayer"), kesannya terlalu singkat dan nggak maksimal. Pun Taylor Swift bersama vokalis band lawas Fleetwood Mac, Stevie Nicks malah terlihat memalukan. Taylor Swift-nya fals, bahkan sering!! (entah udah berapa kali gw liat Taylor Swift nyanyi live dan selalu fals) Duh si mbak udah brapa lama sih jadi artis..?.


Ngomong2 Taylor Swift, kalo gw boleh berpendapat di sini, sejak lama gw menganggap cewek manis ini agak overrated. Lagu2nya terdengar sama semua walaupun liriknya emang menarik, diluar vokal yg lemah. Mungkin beberapa orang berpendapat sama dengan gw, sehingga nggak ridho dia menang Grammy untuk kategori sekelas Album Of The Year. Untungnya pemenang2 yg lain nggak begitu mengecewakan setidaknya buat gw--walaupun banyak juga yg gw nggak kenal hahaha. Jason Mraz akhirnya dapat Grammy setelah tahun lalu--mnurut gw--dia dirampok John Mayer di Best Male Pop Vocal dan Coldplay di Song Of The Year.
Jason said "make it mine", and Grammy replied "I'm yours" hihihi *garing*.

Some Winners:


Album of The Year
: Fearless / Taylor Swift
Record of The Year
: Use Somebody / Kings of Leon
Song of The Year
: Single Ladies (Put A Ring On It) / Beyoncé
Best New Artist
: Zac Brown Band

Best Pop Vocal Album
: The E.N.D. / The Black Eyed Peas
Best Female Pop Vocal Performance
: Halo / Beyoncé
Best Male Pop Vocal Performance
: Make It Mine / Jason Mraz
Best Pop Performance By A Duo Or Group With Vocals
: I Gotta Feeling / The Black Eyed Peas
Best Pop Collaboration With Vocals
: Lucky / Jason Mraz & Colbie Caillat
Best Traditional Pop Vocal Album
: Michael Bublé Meets Madison Square Garden / Michael Bublé

Best Dance Recording
: Poker Face / Lady Gaga
Best Electronic/Dance Album
: The Fame / Lady Gaga

Best Rock Album
: 21st Century Breakdown / Green Day
Best Rock Song
: Use Somebody / Kings Of Leon
Best Solo Rock Vocal Performance
: Working On A Dream / Bruce Springsteen
Best Rock Performance By A Duo Or Group With Vocals
: Use Somebody / Kings Of Leon
Best Hard Rock Performance
: War Machine / AC/DC
Best Metal Performance
: Dissident Aggressor / Judas Priest

Best Alternative Music Album
: Wolfgang Amadeus Phoenix / Phoenix

Best R&B Album
: Blacksummers' Night / Maxwell
Best Contemporary R&B Album
: I Am... Sasha Fierce / Beyoncé
Best R&B Song
: Single Ladies (Put A Ring On It) / Beyoncé
Best Female R&B Vocal Performance
: Single Ladies (Put A Ring On It) / Beyoncé
Best Male R&B Vocal Performance
: Pretty Wings / Maxwell
Best R&B Performance By A Duo Or Group With Vocals
: Blame It / Jamie Foxx & T-Pain
Best Traditional R&B Vocal Performance
: At Last / Beyoncé
Best Urban/Alternative Performance
: Pearls / India.Arie & Dobet Gnahore

Best Rap Album
: Relapse / Eminem
Best Rap Song
: Run This Town / Jay-Z, Rihanna & Kanye West
Best Rap Solo Performance
: D.O.A. (Death Of Auto-Tune) / Jay-Z
Best Rap Performance By A Duo Or Group
: Crack A Bottle / Eminem, Dr. Dre & 50 Cent
Best Rap/Sung Collaboration
: Run This Town / Jay-Z, Rihanna & Kanye West

Best Compilation Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
: Slumdog Millionaire / Various Artists
Best Score Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
: Up
Best Song Written For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
: Jai Ho (From Slumdog Millionaire)

Best Short Form Music Video
: Boom Boom Pow / The Black Eyed Peas


complete winners @
grammy.com