Kamis, 28 Januari 2010

[Movie] Nine (2009)


Nine
(2009 - The Weinstein Company)

Directed by Rob Marshall

Screenplay by Michael Tolkin, Anthony Minghella

Based on a musical play by Arthur Kopit, Maury Yeston

Based on the story by Mario Fratti

Inspired by the 1963 Italian film "8½" by Federico Fellini

Produced by John DeLuca, Marc Platt, Harvey Weinstein, Rob Marshall

Cast: Daniel Day-Lewis, Marion Cotillard, Penélope Cruz, Nicole Kidman, Kate Hudson, Judi Dench, Fergie, Sophia Loren



Gw adalah salah satu orang yg suka dengan film musikal. Gw sedih ketika Moulin Rouge! memble di Oscar 2002, dan amat sangat nggak keberatan ketika Chicago, film yg disutradarai oleh Rob Marshall, menang Best Picture di Oscar 2003 lalu. Mnurut gw kedua film itu berhasil secara hiburan maupun artistik, bukan sekedar orang2 yg bernyanyi dalam cerita. Kalau Moulin Rouge!-nya Baz Luhrmann bentuknya semacam
tribute film2 musikal klasik serta film2 India, maka Chicago berhasil membawa excitement yg setara menonton pertunjukan musikal di teater broadway (kayak gw pernah aja ^_^;) dengan tetap berpegang pada kemasan sinematik—selain materi ceritanya yg memang bagus dan nyentil—lewat visualisasi "dua dunia": dunia nyata, dan panggung musikal dalam imajinasi tokoh sebagai simbol ungkapan hati (smacam penyempurnaan dari serial Ally McBeal, haha). Rob Marshall kembali mencoba melakukan hal yg kira2 sama, memfilmkan pertunjukkan musikal yg terkenal, Nine, yg diilhami film Italia 1960-an yg—konon—merupakan masterpiece, 8½. Selain sebagai event kembalinya tim sukses dari film Chicago, Nine juga memasang aktor2 kelas hiu sebagai bahan jualannya. Gw perhatiin banyak kritikus yg kurang suka film Nine, mungkin karena film ini dianggap kualitasnya jauh dari film sumber aslinya. Good thing I never know that old movie, hehe.

Guido Contini (Daniel Day-Lewis) adalah seorang sutradara terkenal Italia di tahun 1960-an yg banyak menelurkan film2 sukses. Begitu sukses sehingga ia pun dituntut untuk terus membuat film sukses. Suatu kali produser udah menentukan film yg akan dibuat Guido, bahkan udah ada judulnya, "Italia", dan udah ada
press conference, padahal ide cerita filmnya aja belum ada! Tak tahan, Guido pun nekad kabur ke kawasan wisata yg jauh. Perekat plot film ini adalah bagaimana dalam tekanan, kebingunan dan kebuntuan, Guido harus berhasil membuat film "Italia" itu. Guido pun mulai mencari pelampiasan sembari mencari ide cerita filmnya, dan yg ada dalam pikirannya adalah 7 wanita yg lalu lalang sepanjang hidupnya, masing2 punya makna tersendiri. Istrinya, Luisa (Marion Cotillard) adalah wanita yg jadi "milik" resmi Guido yg senantiasa mendukungnya, tapi justru yg paling nggak ia pedulikan. Carla (Penélope Cruz) adalah istri orang yg sudah lama bermain api dengan Guido sebagai pelampiasan hasrat badaninya. Lalu ada Claudia Jenssen (Nicole Kidman), selalu menjadi bintang dalam film2 Guido, serta lewat dialah Guido selama ini selalu memperoleh inspirasi. Lili (Judi Dench), penata busana film2 Guido yg selalu menjadi rekan kerja dan rekan diskusi yg nggak pernah salah. Juga ada wartawan fashion Amerika, Stephanie (Kate Hudson) yg nge-fans sama Guido serta film2nya, and a little bit more. 2 wanita lainnya muncul dari kenangan masa lalu Guido: Saraghina (Fergie), pelacur yg pertama kali "mengajar" Guido yg waktu itu berumu 9 tahun tentang cinta dan wanita (no..it's not what you think), yg sedikit banyak mempengaruhi cara Guido menggambarkan wanita dalam film2nya yg tampil sensual dan kerap bugil; lalu mendiang sang Mamma (Sophia Loren), yg mungkin satu2nya wanita yg Guido tau cara mencintainya.

Kenapa musti ada wanita2 ini, yg satu per satu bernyanyi dan menari di studio imajinasi Guido (di film ini)? Itulah yg bikin gw agak
loading waktu nonton dan untungnya dibayar cukup lunas di bagian akhir. Dengan kata lain film ini mungkin akan masuk kategori "nggak jelas" bagi sebagian orang. Tapi mari gw coba mengungkapkan apa yg gw tangkep. Kenapa Guido nggak nemu2 ide cerita? Setelah film ini hampir abis gw baru ngeh bahwa Guido yg udah tua punya imajinasi yg masih stuck berkeliaran di usia 9 tahun, makanya kalo adegan nyanyi Guido main panjat2an di set studio kayak di mainan mistar di TK itu loh. Jiwanya yg 9 tahun itu hanya mau segala sesuatu sesuai dengan kemauannya, nggak mau disuruh-suruh sebagaimana ia sekarang ini—makin disuruh malah makin ngeyel. Tibalah kini saatnya ide2nya sudah habis, dan di sinilah kekanakan jiwa Guido musti dihadapkan pada akumulasi masalah dunia nyata yg selama ini tanpa sadar dipupuknya sendiri. Luisa, yg tadinya adalah seorang aktris, udah capek mengalah dan berkorban demi kesuksesan suaminya yg rajin menjamah perempuan2 di pergaulannya, dengan bonus rajin berbohong. Carla tak segan bertindak nekad demi mendapat cinta Guido—bukan sekadar hubungan badan, meski harus membahayakan perkawinannya sendiri. Claudia kali ini ogah memberi inspirasi buat Guido, ia pun ingin dicintai Guido tapi sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai wanita "buatan" Guido sebagaimana dalam film2 karyanya. Mereka sudah tak mau lagi jadi "agen kepuasan" Guido. Guido pun mulai tersadar lewat pertemuannya dengan Stephanie, ia begitu mudah terlena pada hal2 yg menyenangkan dirinya, tapi langsung kabur kalo keadaan lagi nggak enak. Mau lari ke mana? Ke Mamma? Sorry, she's dead already. Guido dipaksa jadi dewasa, harus, sekarang...and I just spoiled quite a lot there ^_^;

Proses pendewasaan kembali Guido ini dirangkai dalam adegan2 yg diselingi dengan nyanyian dan tarian persis kayak gaya film Chicago. Paruh awal Nine sangat
entertaining, naik-turun mood adegan dan lagu2nya disusun enak, tapi lama2 kerasa juga durasi film ini di tengah2 ketika adegan lagunya mulai berasa kebanyakan (padahal separuh dari "playlist" pertunjukkan aslinya udah dipangkas lho), nguap ya nguap deh. Mungkin memang tuntutan naskahnya yg ingin segala sesuatunya berjalan tidak terburu-buru, apalagi mengingat salah satu penulis naskahnya adalah almarhum Anthony Minghella, sutradara The English Patient dan Cold Mountain yg puitis sekaligus boring itu, pengaruhnya masih ada sedikit. Namun di luar itu, gw nggak punya hal lain untuk diprotes. Dialog2nya bagus, situasi dan permasalahan yg dialami serta solusi yg dibuat Guido digambarkan sangat riil dan menguatkan pesan film ini. Teknis? Oh, my...ini adalah hattrick dari Rob Marshall setelah sukses membuat mata dimanjakan oleh kekompakan tata artistik, kostum, tata cahaya dan sinematografi plus musik sebagaimana di Chicago dan Memoirs of a Geisha. Lagu2 (walau nggak langsung nancep di kuping) dan koreografinya pun nggak kalah asik disimak. Pokoknya penataan adegannya, baik yg dunia nyata maupun dunia "panggung"nya okeh sekali deh (dan Rob Marshall kayaknya masih suka dengan gambar asap rokok dan lampu blitz kamera). Adegan perkenalan para wanita Guido di awal film ditata begitu keren; adegan ini impactnya sama kayak prolog di film2 James Bond, penggugah selera. Lain dari itu, gw bahkan sampe tepuk tangan (tanpa suara dong pastinya) sehabis bagiannya Fergie nyanyi "Be Italian" ditemani tamborin, bangku dan pasir. Mantaf...



Saraghina (Fergie) menyanyikan "Be Italian"; the scene that made me applaud.


Soal aktor yg jadi daya tarik utama film Nine,
let me say this: nama tenar emang nggak ngebo'ong ^_^. Daniel Day-Lewis dan Judi Dench adalah dua orang yg nama2nya aja adalah sinonim dari kata "kualitas". Marion Cotillard yg terlihat lebih anggun dan cantik daripada di Public Enemies sukses abis menunjukkan kelasnya. Penélope Cruz luar biasa total berakting, selain luar biasa rrrr...@.@, awesome. Fergie, Nicole Kidman, Kate Hudson dan Sophia Loren yg munculnya sebentar2 pun tampil berkesan.

Overall
, buat gw Nine adalah film yg bagus. Hanya saja, emang nggak se-entertaining dan se-fun Chicago, dan durasinya sangat potensial membuat mata mepet pada jurang kantuk, itu juga lebih karena visualisasinya tak jarang terlalu"simbolik" sehingga sekali waktu bikin bingung "ini maksudnya apa yah?". Ceritanya nggak biasa, malah mungkin nggak terlalu menarik bagi banyak orang, belum lagi kenyataan bahwa nggak semua orang suka dengan gaya film musikal macam ini, apalagi menggunakan gerak dan lagu sebagai simbol keadaan hati, bukannya alih2 menjelaskan cerita. Beberapa temen yg nonton bareng gw bilang adegan penutupnya agak gantung, tapi bagi gw nggak juga. Adegan penutupnya sempurna untuk cerita film ini, gw seneng dengan simbolisasi dan apa yg disimbolisasikan—selain karena adegannya ditata dengan cantik. Guido nggak lagi bergantung pada orang2 yg selama jadi pelariannya, semua sudah ada di belakangnya. Now, Guido is finally in control of himself, on his lap ^_^ (kurang spoiler apa coba gw haha...tapi teteplah tulisan gw nggak mungkin bisa mendeskripsikan eksekusi filmnya sendiri secara utuh). Dan gw jadi rada penasaran, versi adaptasi-kuadratnya aja udah begini oke dibilang jelek, gimana film sumber aslinya yah?



my score:
7,5/10


NB:

- Penerjemahnya (di bioskop) kurang oke nih, agak susah dinalar. Masa lupa bahasa Indonesianya "script" itu apa? Hmm, memang belum ada yg bisa sejago almarhum Rashid Rachman.

Minggu, 24 Januari 2010

My Top 5 Cinema

Setelah cukup lama malang melintang di dunia pernontonan, dan menyambut menjamurnya bioskop2 selama 2 tahun terakhir ini, gw iseng2 nih ngedaftar 5 bioskop yg paling gw suka. Perlu diingat ini sangat subjektif, karena gw hanya menilai tempat2 yg pernah gw kunjungi, which is gak jauh2 dari tempat tinggal gw di Bekasi, Jawa barat, sebuah kota suburban tepat di timur Jakarta yg dengan sombongnya udah punya 7 pusat perbelanjaan (mall dan yg- maunya-mall), dan semua kecuali satu punya bioskop 21...karena yg sisa satu bioskopnya sedang dalam tahap pembangunan (kali ini Blitz Megaplex) =_=. Tapi sepertinya, nggak semua wakil Bekasi jadi favorit gw..we'll see...

Beberapa bioskop yg jadi nominasi tapi gagal masuk daftar antara lain: Semanggi 21 (Plaza Semanggi, deket banget sama kantor) yg emang agak sering tapi bioskopnya standar saja; Hollywood KC 21 (Planet Hollywood/Hotel Kartika Chandra) yg enak dan murah tapi parkirnya muahal, Plaza Indonesia XXI (Plaza Indonesia Extension/eXX) yg sebenarnya enak, tapi kecil2 dan terletak di mall semi-museum yg nggak punya tempat makan dengan harga terjangkau; Djakarta Theater XXI yg dulu sempat jadi favorit tapi belum gw kunjungi lagi semenjak renovasi; dan Blitz Megaplex GI (Grand Indonesia) yg memang cineplex terbesar dengan studio terbanyak serta punya 2 layar bioskop tergede se-Indonesia, tapi sound-nya senantiasa bergaung dan bergema.

Dan akhirnya, saudara-saudara, inilah 5 bioskop kesukaan gw, dalam urutan mundur:



5. Gading XXI
– Mall Kelapa Gading III Lt.3, Jl. Boulevard Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara –

Sejak nggak dapet tiket nonton Petualangan Sherina setelah antre 1 jam lebih zaman dahulu kala, gw bersumpah nggak akan nonton di Gading 21 lagi. Sayang sumpah itu harus dilanggar untuk nonton E.T. 25th anniversary, ^_^'. Tapi untungnya, Mall Kelapa Gading kemudian menjadi mall yg besar dan menambah satu bioskop lagi dengan kualitas dan kenyamanan lebih mumpuni: Gading XXI. Kalo gak salah ini adalah bioskop XXI kedua setelah Studio XXI eX. Namun, Gading XXI adalah semacam versi downgrade dari pendahulunnya: studio lebih kecil dan kursi yg lebih standar, yg kemudian jadi model baku bioskop XXI di manapun di negeri ini. Gakpapa sih, masih tetep enak, kualitas teknisnya bagus (tapi gw sempet mengalami mati lampu di sini, hehe), harganya cukup fair (sekarang 20rb Senin- Kamis, 25 rb Jumat, 35rb weekend+libur), film2nya pun selalu update. Faktor lain yg bikin gw suka bioskop ini adalah....Mall Kelapa Gading, hehehe. Ini salah satu mall terfavorit gw se-Indonesia, enak buat jalan2 dan ada toko2 serta tempat2 makan yg gw senengin. Tapi gw udah jarang banget sih nonton di sini. Disebabkan oleh letaknya yg cukup jauh dari rumah (walau bisa ditempuh dalam waktu cepat), tapi terutama jika film2 yg ditayangkan sama, gw lebih memilih nonton di bioskop yg "no.1" di daftar ini, you'll see why.

pintu depan Gading XXI, entah tahun kapan. Courtesy of skyscrapercity.com




4. Blitz Megaplex PVJ

– Paris Van Java Resort Lifestyle Place Jl. Sukajadi, Bandung (biang macet) –


Siapa yg iseng udah capek2 jalan ke luar kota tapi malah cari bioskop? Oh, ada. Saya! Hahaha. Mendengar ada bioskop baru (yg saat itu baru "akan jadi" jaringan) di Bandung, apalagi ada sebuah film yg hanya ditayangkan di sana (The Queen), dan ketika ternyata keluarga gw sedang
ingin jalan ke Bandung, langsung deh gw minta didrop di Paris Van Java untuk nyoba si bioskop baru ituh. Sampe sekarang gw baru 3 kali nonton di situ dan gw menganggap Blitz PVJ adalah salah satu bisokop yg paling nyaman dari semua yg gw kunjungi. Suasananya tuh sangat friendly, cozy, nggak kelewat mewah, nggak tensi, asik lah. Harga tiketnya terbilang murah (paling mahal 27rb, dan itu weekend+libur) meskipun tetep lebih mahal dari jaringan 21/XXI di kotanya. Tata letak seatnya enak (kemiringan step-nya nggak bikin pandangan kita kehalang sama kursi depan, dan kursi yg paling depan pun nggak harus nge-dongak banget. Bravo Blitz!) dengan layar termasuk besar yg memang adalah jualan utama jaringan Blitz. Sound dan pengoperasian proyektor juga bagus (pergantian rol nggak kentara). Sbenernya gw bilang Blitz PVJ lebih bagus ketimbang "adiknya" yg lebih bongsor, Grand Indonesia. Jajanannya juga lebih terjangkau harganya...tapi itu dulu T_T, sekarang udah mendekati "harga Jakarta", sebagaimana harga2 barang di Bandung saat ini. Kekurangannya cukup jelas, letaknya 2,5 jam dari rumah gw, tapi itu sih bisa dimaklumi, kan beda kota. Tapi kekurangan yg utama justru disebabkan oleh distributor film yg kerap menganaktirikan market Bandung, banyak film2 yg highly-anticipated datangnya telat (padahal nggak hamil ^_^')...walaupun gara2 ini juga gw punya kesempatan nonton Watchmen kedua kali hehe. Tapi gak papa lah, overall Blitz PVJ hade euy.


Lobi dan loket Blitz PVJ. Courtesy of manggamuda.com




3. Studio XXI eX

– Plaza Indonesia Entertainment X'nter (eX) Lt.2, Jl. M.H Thamrin, Jakarta Pusat (gedung kubus2 berwarna warni di belakang Kedubes Jepang, perpanjangan Plaza Indonesia) –


Belum lama ini gw nonton Avatar di sini, setelah terakhir gw menginjakkan kaki 2 tahunan sebelumnya di bioskop pertama di Indonesia yg menyandang label "XXI" ini. Meskipun jarang, kesan yg tertinggal dari bioskop mewah ini selalu tetap sama: kursi...or should i say: kursi malas. Guys, kursinya wueeeeenak banget. Mirip sofa dari beludru, empuk. Di sinilah satu2nya tempat gw bisa ketiduran pas nonton. Tak perlu kuatir menyenggol atau mencium "aroma" tetangga, ukuran kursinya sangat memungkinkan gw untuk duduk dalam versi posisi apa saja. Layar dan sound bagus, maksimalnya 21/XXI lah, karena semua 4 studionya THX Certified, nendang abis. Dulu bioskop ini harganya mahal banget, jadi gw paling hanya nonton film2 tertentu (Lord of The Rings, Harry Potter, King Kong, Memoirs of A Geisha among others), sekarang karena banyak saingan, jadinya sedikit dimurahin, tapi tetep aja tiket bioskop ini adalah 21/XXI paling mahal (25rb Senin- Kamis, 35 rb Jumat, 50rb weekend+libur) barengan Plaza Senayan XXI. Letaknya cukup strategis kalo dari kantor bahkan rumah gw walaupun memang nggak deket. Sepertinya sampe saat ini Studio XXI eX tetep jadi yg teristimewa dari jaringan 21/XXI, desain interiornya pun paling bagus. Ada harga ada barang, T-T.


Kali ini gw foto sendiri pake handphone, mau nunjukkin kursinya eX XXI yg okeh sekali itu...tapi gw emang gak bakat jadi paparazzi, maap yah T_T





2. Blitz Megaplex MOI

– Mall Of Indonesia Lt.2, Jl. Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara (tersembunyi di balik ruko2 Kelapa Gading Square, entah ide bodoh siapa itu) –

Pada mulanya gw agak eneg mau ke sini, itu semua gara2 letaknya ada di kompleks terpadu (mall, ruko, rukan, apartemen) Kelapa Gading Square yg program acara pemasarannya wara-wiri di televisi kita, yg dipandu oleh Feni Rose dan ibu Evelyn Setiawan sebagai wakli
marketing Agung Sedayu Group (dengan jargon2 andalan: letak strategis, semua serba lengkap, harga terjangkau, marketing gathering hari minggu, hari senin harga naik...hoeek). Tapi atas nama coba2, gw jabanin juga tempat ini...eh, malah kepincut jadinya. Layar besar pasti, operator proyektor jago , soundnya okeh (nggak menggema seperti di Grand Indonesia), desain interior cukup bagus, tata letak seatnya enak banget, dan yg penting harga paling murah diantara Blitz di Jakarta (20rb Senin-Kamis/35rb Weekend+libur), meskipun lagi2 masih lebih mahal dari 21/XXI yg ada di kawasan yg sama. But, hey, I like it very much. Kekurangannya cuman ada di kursi khas Blitz yg sandarannya flexibel (jadi nggak menahan badan, pegel dah), dan lokasinya lumayan jauh dari rumah atau kantor, sekitar 45 menit, itu pun kalo nggak macet, jadi effortnya harus lebih besar (siapin uang tol, parkir, makan kalo2 laper). But still, ini adalah bioskop Blitz yg terbaik mnurut gw.


Auditorium 1 Blitz MOI, courtesy of blitzmegaplex.com




1. Mega Bekasi XXI

– Mega Bekasi Hypermall (a.k.a. Giant Bekasi, karena tulisan Giant (hipermarket)nya lebih gede daripada judul mallnya), lt. 5 alias atap, Jl. Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat (tepat depan gerbang tol Bekasi Barat) –

Banyak faktor yg membuat gw memilih bioskop ini menjadi favorit no.1. Gedung yg seakan2 "beda dunia" dengan Mega Bekasi Hypermall di bawahnya (karena lebih mirip pasar/ITC versi sangat kacau) ini hanya 10-15 menit naik mobil dari garasi rumah gw sampe parkir, jadi nonton jam malem pun nggak masalah. Harga tidak mahal (15rb senin-kamis, 20 rb jumat, 25 rb weekend+libur). Biaya parkirnya pun sangat bersahabat, maksimal 6rb rupiah saja. Secara teknis dan desain bioskop, XXI berstudio 7 ini sama sekali nggak memalukan. Lobby nya
mungkin yg paling luaaas dari semua franchise 21/XXI, soundnya maupun pengopersian proyektornya cukup oke (walau sebenarnya belum maksimal). Oh, dan sepertinya, studio 1 dan 2 nya kapasitasnya paling besar dari antara semua jaringan 21/XXI, persis Plaza Senayan 21 dulu sebelum renovasi. Malah sekarang udah ada bioskop 3Dnya. Complete package. Sayangnya, film2 yg ditayangkan sesuai dengan "market" Bekasi, jadi sebagian besar adalah film2 nasional (terutama horror, laku deh) atau Hollywood populer (pasarnya kebanyakan remaja sobat Bekasi alias Sobek hehehe). Bahkan Star Trek pun gak sampe tayang di sana. Kayaknya juga Mega Bekasi XXI jadi semacam pusat keramaian yg memang ramai, tiap malem ada live music di Cafe XXI nya yg letaknya di "halaman" luar bioskop, yg kadang pula suaranya tembus ke dalam studio bioskop ^_^;. Tapi bagaimanapunjuga, Mega Bekasi XXI tetep bioskop pilihan utama gw: dekat, murah, nyaman, kualitas cukup.


Jepretan gw untuk lobi dan tampak luar Mega Bekasi XXI. Not just a bad paparazzi, I'm simply not a good photographer Y___Y



So, fellas, mari ke bioskop! ^O^


Rabu, 20 Januari 2010

Nonton Avatar dalam format 3D


Avatar adalah film yg digembar-gemborkan sebagai pencapaian termutakhir teknologi film saat ini, dan memang dibuat untuk disaksikan dalam format 3-dimensi, apalagi si James Cameron sang sutradara/penulis/produser sendiri yg meng-invent kamera khusus 3D yg konon lebih canggih dari yg sudah ada. Okelah, apa artinya sesumbar kalau belum dibuktikan....dan buktinya, gw nonton 2 kali dalam format 3D, hahaha *korban kapitalisme*.

Sebelumnya gw udah nonton Avatar versi normal sebagai tontonan bisokop penutup tahun 2009. Gw agak "terpaksa" nonton dalam versi normal, 2 hari setelah jadwal rilis karena rangkaian alasan berikut: 1. Pengen nonton secepatnya, sebelum tahun 2009 berakhir, biar gaul getoh; 2. Hanya sempet nonton Sabtu atau Minggu, karena Seninnya (21 Desember) berangkat road trip sekeluarga mudik ke Denpasar; 3. Nonton dalam format 3D di hari Sabtu dan Minggu (plus Jumat) adalah bunuh diri karena harga tiketnya dua kali lipatnya Senin-Kamis, yg notabene udah 2 kali lipatnya harga tiket non-3D—duit dari mane bang? Untuk itu, gw memutuskan untuk nonton dalam format biasa, dan cukup worth it (nonton di Plaza Indonesia eX XXI emang maknyuss).

Setelah itu, blantika perbioskopan gw di tahun 2010 diawali dengan menonton Avatar 3D bareng beberapa teman sekantor. Berdasarkan pengalaman, nonton film 3D buat gw lebih mending di Blitz Megaplex dibandingkan XXI, lebih mahal sih tapi kacamata RealD 3D di Blitz lebih nyaman bagi gw yg berkacamata. Karena itulah kami memilih nonton di cabang Blitz di mall Pacific Place (itu loh, yg pernah ada wanita muda dibunuh di tangga darurat =_=;). Ternyata, wow, cukup puas. Janji2 teknologi itu memang terbukti. Gw bener2 bisa ngeliat "ruang" di dalam layar dan sesekali beberapa benda keluar layar, gambarnya terang pula, nggak terlalu bikin pusing. Gw paling suka berkas2 cahaya matahari yg nyorot hutan Pandora, bener2real. Dalam format 3D ini juga gw memperhatikan banyak banget serangga yah di film ini ^o^'.

Entah kenapa, seminggu kemudian gw terpanggil lagi untuk nonton Avatar dalam format 3D. Kali ini sendirian, gw memilih nonton di Blitz di Grand Indonesia (itu loh, yg ada orang lompat dari lantai 5 =_=; Kenapa gw nontonnya di situs2 TKP gini yah?) terutama karena layar di sana lebih besar. Percobaan pertama gagal karena diwarnai dengan insiden hilangnya handphone di bus TransJakarta, damn! Tapi gw keukueh mau nonton hari berikutnya dan berhasil ^o^;. Overall, hampir sama seperti pengalaman nonton sebelumnya, plus layar yg lebih gede, cuman sayang sound bioskopnya tidak se-mantap di Pacific Place apalagi di eX XXI. Tapi okelah, kapan lagi nonton Avatar dalam format 3D, di DVD kan nggak bisa.

Lucunya, meskipun nonton dalam format 3D, toh gw bukannya mencari-cari kapan efek 3Dnya akan keluar. Baik versi normal maupun 3D, Avatar "memaksa" gw untuk nonton "film"nya, bukan hanya gambar 3 dimensinya, which is a good point. James Cameron membuat filmnya sedemikian rupa sehingga teknologi canggih dalam Avatar tidak mengalihkan perhatian penonton pada filmnya sendiri, efek2 3D nya nggak ada yg terkesan maksa "supaya keliatan 3D", semua terlihat pas dan tepat. Well done, Sir.

Dalam review gw kmaren setelah nonton versi normal, gw bilang nilainya "segitu" dulu (8,5/10) karena belum nonton versi 3D yg konon adalah format yg pantas. Tapi setelah nonton versi 3D, dua kali bahkan, gw nggak terbebani untuk menaikkan atau menurunkan nilainya. Setiap kali nonton ulang, gw merasa "nilainya memang pantas", berbeda dengan setiap kali gw nonton Star Trek yg kayaknya nilai dari gwnya naik terus. Ceritanya tidak terlalu baru, endingnya rada predictable dan durasi yg kerasa lamanya masih jadi faktor yg membatasi gw memberi nilai lebih tinggi. APALAGI nih ya... di format 3D nggak ada adegan Jake dan Neytiri "mating before Eywa"!! What? Why? Kali ini bukan ditutupin secara manual kayak waktu nonton Star Trek di teater IMAX Keong Emas, tapi emang udah di-edit dari sononya. Apakah adegan "begituan" belum pantas disaksikan secara 3D? Yaelah, bukan orang beneran aja kok musti dipotong siy. Maka, lengkaplah keputusan gw nggak menaikkan nilai film ini (kurang meyakinkan yah, hihihi).

Eh, denger2 Avatar ini mau maen juga di Teater IMAX Keong Emas TMII lho (seperti biasa info di media kurang jelas, musti nelpon ke call centernya sepertinya). Mungkin berformat IMAX biasa, belum 3D, dan mungkin adegan "mating before Eywa" nya juga hilang...hmm, I think I'll skip it. ^m^



My score 8,5/10



NB: Oh btw, Avatar baru aja menang Best Motion Picture Drama dan Best Director dalam Golden Globe Awards. Congragulations (?). Gw suka sih film ini, tapi kalo menang film terbaik rasanya agak gimanaa gitu... ^_^;


Minggu, 17 Januari 2010

[Movie] The Princess and The Frog (2009)



The Princess and The Frog
(2009 - Walt Disney)

Directed by Ron Clements & Jon Musker

Story by Ron Clements, John Musker, Greg Erb, Jason Oremland

Screenplay by Ron Clements, Jon Musker, Rob Edwards

Produced by Peter Del Vecho

Cast: Anika Noni Rose, Bruno Campos, Keith David, Michael-Leon Wooley, Jennifer Cody, Jim Cummings, Terrence Howard, Oprah Winfrey, John Goodman



Nggak lama gw menonton ulang film animasi gambaran-tangan (terjemahan
hand-drawn animation, menurut Kamus Bahasa Indonesia-edisi saya) produksi Walt Disney terakhir yg berbentuk musikal--you know, yg tokoh2nya bernyanyi, yaitu Mulan yg aslinya dirilis 1998 (Tarzan ke sini udah gak gitu lagi bentuknya bukan? gw gak tau deh Home On The Range kayak gimana), baru2 ini gw nonton The Princess and The Frog yg kembali ke format itu, yg dirilis 11 tahun setelah Mulan. Disney akhirnya eling bahwa this is what they do best, setelah sebelumnya pertengahan tahun 2000-an ada orang tolol (CEO Disney, udah gak lagi siy kayaknya) yg memutuskan secara sepihak bahwa animasi tradisional (bukan animasi komputer 3 dimensi ala Pixar) udah ketinggalan zaman dan tidak menguntungkan lagi, sehingga departemen yg memproduksi film macam ini ditutup aja gitu, dengan produksi terakhir adalah Home On The Range di tahun 2004 yg emang rugi bandar. Untung aja dedengkot Pixar, John Lasseter, yg juga jadi salah satu petinggi Disney sekarang, masih punya hati dan otak untuk membuka kembali departemen animasi tradisional Disney. Entah gw baca dimana, tapi sempat Lasseter yg pecinta animasi format apapun ini mengeluarkan quote "hand-drawn animation had become a scapegoat for bad storyteling." Benar sekali, kalo sebuah film ceritanya jelek ya jelek aja, entah itu tradisional, 3D atau live action sekalipun. Buktinya Lilo & Stitch yg lahir di era maraknya 3D sukses tuh. Jadi pada akhirnya Disney menelurkan animasi tradisional pertama mereka setelah "kantor"nya buka lagi. Selain film yg "kembali-ke-asal": dongeng, putri, lagu2, magic; film ini juga jadi sejarah karena animasi Disney pertama yg menampilkan tokoh utama putri berkulit hitam.

Dibilang putri juga bukan sih. Jadi film bersetting di New Orleans, Amerika Serikat di era kelahiran musik jazz awal 1900-an ini terinspirasi dari dongeng Pangeran Kodok--seorang pangeran yg kena kutuk jadi kodok dan bisa kembali ke bentuk semula kalau dicium seorang putri yg mencintainya,
as simple as that. Tapi akan panjang sekali kalau gw menceritakan jalan cerita film ini dari awal, latar belakang cerita The Prince and The Frog sendiri agak kompleks. Tiana (Anika Noni Rose) adalah seorang pelayan di dua tempat siang dan malam untuk mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan impian tak terwujud dari mendiang ayahnya (Terrence Howard): membuka restoran sendiri. Jadi, Tiana itu miskin dan pekerja keras,how realistic. Ia bersahabat dengan anak orang kaya nan manja, Lottie (Jennifer Cody) sejak kecil karena sang ibu Eudora (Oprah Winfrey) adalah penjahit langganan membuat gaun2 ala putri2an untuk Lottie. Suatu ketika dalam pesta Mardi Grass di rumah Lottie, karena satu dan lain hal, Tiana berpakaian ala putri dan bertemu dengan seekor kodok....yg bisa ngomong! Si kodok mengaku sebagai Pangeran Naveen (Bruno Campos) dari Maldonia, yg sedianya akan bertemu dan dijodohkan pada Lottie, tapi malangnya ia bertemu dengan penyihir sirik, Dr. Facilier (Keith David) dan mengubahnya jadi kodok. Iseng2 percaya sama dongeng pangeran kodok, Naveen minta Tiana menciumnya biar bisa jadi manusia lagi--fyi, si Naveen kira Tiana itu putri. Namun apa yg terjadi adalah...emm...yg tidak diharapkan *kalo gw kasih tau spoiler gak yah?* eh tapi di trailernya udah ketahuan, yaudah deh: malah Tiana ketularan jadi kodok! Selanjutnya mereka berdua pergi berpetualang bertemu dengan berbagai tokoh dengan tujuan utama "menyembuhkan" wujud mereka. Well, at least that's what they want.

Gw lumayan suka
twist dari dongeng pangeran kodok di sini, sehingga jalan ceritanya tidak terlalu mudah ditebak walaupun memakai formula animasi Disney yg klasik (happy ending love story dan lagi2 penjahatnya jahat karena jahat). Seperti yg gw bilang muatan yg dibawa film ini agak kompleks. Si "putri" kita Tiana akan gampang disukai bukan hanya elok rupa dan--di akhir kisah--beruntung, tapi karena dia independen dan dapat diandalkan yg dihasilkan dari pergumulan hidupnya yg jika direnungkan terasa amat riil (apalagi ia dari keluarga miskin...dan dari kulit berwarna, perlu diingat ini settingnya Amerika awal 1900-an). Latar belakang pangeran Naveen pun juga nggak terlalu konyol: pangeran hidupnya boros dan urakan sehingga orang tuanya a.k.a. raja+ratu Maldonia menyetop sama sekali suplai biaya hidupnya, maka dia datang ke New Orleans mencari anak wong sugih untuk dinikahi (yang akan saling menguntungkan, Naveen bakal kebagian duit, Lottie bakal dapet gelar putri sebagaimana impiannya sejak kecil). Untungnya bagian2 kompleks itu cukup subtle sehingga gak membuat film ini terlalu serius, maklum target utama film ini adalah anak2 dan remaja putri pastinya. Semua ditampilkan aman dengan warna2 dan tingkah polah setiap karakter yg akan mengundang minimal senyum simpul, apalagi dengan dialek yg lucu2. Tokoh2 yg berhasil membuat gw begitu adalah Naveen (dialog dan ekspresinya oke2 sekali), Louis si buaya peniup terompet, dan terutama Lottie, she's ridiculous in a fun, good way. ^O^'.

Dari segi visual, gambar2nya memang mengundang nostalgia pada era kejayaan animasi 2D Disney. Desain karakternya cukup bagus dan penggunaan warna2nya sangat ciamik. Gw suka bahwa film ini banyak menggunakan warna2 yg biasa digunakan dalam karya seni asal New Orleans/Cajun apalagi ada setting karnaval Mardi Grass, kayak lukisan2 di dinding Popeye's Chicken gitu loh. Ini paling keliatan di lagu "Almost There" yg dinyanyikan Tiana saat hampir berhasil mendapat tempat usaha. Tapi kalo dari segi animasi, kayaknya kelihatan lebih kasar jika dibandingkan film2 animasi Disney 90-an dan awal 2000-an, jangan2 gara2 terlalu lama absen di dunia animasi gambaran-tangan, keahlian para animator Disney jadi agak terkikis hohoho.

Sayangnya lagi, secara keseluruhan film ini kurang
memorable buat gw. Impactnya nggak seperti waktu gw nonton The Lion King, Mulan, Lilo & Stitch, bahkan Hercules, termasuk Aladdin dan The Little Mermaid yg notabene digarap oleh duo sutradara yg sama. Permainan moodnya kurang oke, dan gw curiga penyebab utama dari kurangnya greget dari film ini adalah segi musik, baik komposisi maupun penempatannya, padahal film ini memang musikal. Walaupun cukup fresh dengan aliran jazz, rasanya penempatan lagu2nya terlalu sering dan dekat, lagu yg anthemic pun sepertinya nggak ada, jadinya kurang ngeresep. Sayang sekali, karena sialnya film musikal adalah kelemahan di segi musik membuat film ini lemah 50 persen ~teori dari mana coba tuch? ^_^'~.

The Princess and The Frog memang dicanangkan sebagai kembalinya animasi klasik Disney, tapi bagi gw
overall filmnya nggak istimewa2 banget. Well, setidaknya gw dihibur dengan gambar dan karakter2 yg menarik, juga amanah yg harusnya jadi pegangan bagi kita semua: carilah dahulu yg kamu benar2 PERLU, maka kamu nggak akan kehilangan yang kamu MAU. Amen.


my score:
6,5/10


Senin, 11 Januari 2010

[Movie] Sherlock Holmes (2009)



Sherlock Holmes
(2009 - Warner Bros.)

Directed by Guy Ritchie

Screen Story by Lionel Wigram, Michael Robert Johnson

Screenplay by Michael Robert Johnson, Anthony Peckham, Simon Kinberg

Based on the characters created by Arthur Conan Doyle

Produced by Joel Silver, Lionel Wingram, Susan Downey, Dan Lin

Cast: Robert Downey Jr., Jude Law, Rachel McAdams, Mark Strong, Eddie Marsan



Sherlock Holmes adalah detektif fiksi paling terkenal di dunia, demikian katanya. Tapi yah dasar bukan penggemar novel, gw taunya Sherlock Holmes ya dari komik Detective Conan, ^o^'. Cover buku komik Detective Conan volume 1 adalah Conan yg berpakaian jas panjang dengan topi dan pipa, konon inilah
image umum Sherlock Holmes selama ini. Tapi sekarang, muncul Sherlock Holmes dengan kisah baru, dan image yg baru. Kita tidak akan melihat Holmes dengan topi dan pipa khasnya, tapi film terbaru karya Guy Ritchie ini tetaplah sebuah film detektif yg (lagi2 konon) ala Holmes yg rupanya menghibur dan sama sekali nggak jelek.

Film diawali dengan Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) bareng mitranya Dr. John Watson (Jude Law) dan polisi meringkus Lord Blackwood (Mark Strong) yg ketahuan membunuh beberapa wanita untuk melakukan ritual magis. Blackwood ditangkap dan divonis hukuman mati, tapi sebelum mati, Blackwood memperingatkan Holmes bahwa ia akan bangkit lagi dan akan ada malapetaka yg di luar kuasa Holmes. Holmes adalah orang yg percaya akan sains dan berpikir rasional tentu tidak terlalu menganggap ini serius. Lord Blackwood pun akhirnya digantung dan dipastikan koit oleh Dr. Watson. Beberapa waktu kemudian, Holmes kedatangan Irene Adler (Rachel McAdams), seorang wanita pencuri lihai dan satu2nya wanita yg dicintai Holmes. Adler meminta bantuan Holmes untuk mencari seseorang bernama Reordan. Holmes dan Watson akhirnya menemukan Reordan sudah dalam bentuk mayat...di makam Lord Blackwood. Mayat Blackwood pun sudah nggak ada bekasnya, ini sesuai dengan yg dikatakan oleh Blackwood sebelum digantung, apalagi setelah itu ada beberapa orang, yg merupakan orang penting pemerintahan, tewas dengan cara yg tampak mistik. Holmes pun tertantang untuk membongkar keanehan ini, dimulai dari petunjuk paling dekat yaitu Reordan, dan satu per satu petunjuk pun terbuka meskipun Holmes dan Watson kerap terhalang oleh pihak2 yg tak ingin kasus ini terpecahkan. Mending gw ceritain sampe sini aja yah...^o^


Proses pemecahan kasus dalam film ini mengingatkan gw sama Detective Conan dan serial House, wajar karena memang dua judul tersebut mengambil inspirasi dari karakter dan cara kerja Sherlock Holmes, istilahnya analisa "deduktif": dari hal yg kecil2 bisa diketahui hal yg lebih besar. Bahkan tokoh Holmes di film ini sangat mirip dengan tokoh Dr. Gregory House yg gw lebih kenal duluan, lengkap dengan kejeniusan, keanehan, dan kecanduannya, dan tokoh Dr. Watson sedikit banyak mengingatkan gw sama Dr. Wilson, keduanya dalam serial House. Jadi bisa dibilang gw udah cukup "terlatih" lah sama gaya detektif macam ini, hehe. Untungnya dalam film Sherlock Holmes 2009, semua disajikan cukup menarik dan tidak membosankan, cukup cerdas lah
twist2nya. Kita udah tau penjahatnya siapa, tapi asik aja mengikut Holmes mencari tahu "bagaimana" cara si penjahat melakukan aksinya yg dianggap black magic. Menariknya lagi, film ini juga diisi dengan dialog2 lucu dan subplot yg memberi kesempatan penonton melihat perkembangan tokohnya. Kita lihat bagaimana Holmes dengan berbagai cara tersirat berusaha mencegah Watson untuk tidak hanya menikah, tapi juga berhenti jadi mitranya dan keluar dari rumah/kantor detektif swasta mereka. Ia nggak ridho sahabatnya -yg sering juga jadi babysitter buat Holmes- pergi begitu saja. Lalu kita menyaksikan hubungan unik Holmes dan Adler yg dalam hati saling tertarik, tapi bermusuhan secara profesi. Setiap karakter utama pun dibuat terlibat dengan kasus yg ditangani Holmes: Watson yg mau pensiun nggak tahan untuk ikut memecahkan misteri, selain mencoba mengembalikan reputasinya yg telah menyatakan Lord Blackwood mati tapi kok sekarang bisa hidup lagi; lalu Adler yg juga ikut nimbrung bareng Holmes dan Watson karena ada misi tersembunyi.

Materi cerita dan naskah yg oke tadi ternyata bisa diakomodasi oleh sang sutradara dengan cukup baik dalam hasil akhir filmnya. Gw lumayan suka adegan Holmes menganalisa cara mengalahkan lawan sebelum bertindak, juga adegan "perulangan" waktu Holmes buntutin Adler dari rumahnya, selain pada adegan hipotesa di klimaks, yg dihiasi beberapa kali
slow-motion sekejap mirip serial CSI. Para pemeran bermain bagus (Mr Downey and Mr Law are a nice pair), dan secara teknis film ini nggak mengecewakan. Sinematografinya dibuat agak suram dan "kotor" mungkin agar menguatkan nuansa misteri dan ke-jadul-annya, dan gw agak memperhatikan ada permainan lensa yg cukup okeh di sini. Kostum dan setting London abad ke-19nya juga okeh sekali, tentu dipoles dengan visual efek. Tapi gw agak terganggu sama porsi pukul2an yg banyak sekali. Kelihatannya sutradara Guy Ritchie demen banget sama adegan berantem, sehingga ketika cerita menyimpan celah untuk tokoh2nya berkelahi, maka jadilah perkelahian, se-nggak-penting apapun itu. Apalagi ada beberapa adegan yg nggak masuk akal (di pelabuhan, mnurut loe?). Bisa jadi ini sebagai alat "biar nggak ngantuk", tapi bagi gw film ini akan lebih oke kalo berantemnya agak dikurangi (sekaligus mengurangi durasi biar lebih ringkes), dan sektor misteri kasusnya agak ditambah fokusnya, toh pemecahan trik2 kejahatannya pun sebenarnya nggak kalah keren.

Secara keseluruhan, jujur gw
enjoy dengan film Sherlock Holmes ini. Penokohannya menarik, humor2nya cukup lucu dan nggak murahan, kasusnya juga nggak terlalu gampangan. Meski bukan favorit, gw harus mengamini bahwa film ini fun dan entertaining, with some brain too, sebagaimana kisah detektif seharusnya. Menyenangkan lah.


my score:
7/10


Sabtu, 09 Januari 2010

[Movie] Mulan (1998)



Mulan

(1998 - Walt Disney)


Directed by Tony Bancroft & Barry Cook

Story by Robert D. San Souci

Screenplay by Rita Hsiao, Christopher Sanders, Philip LaZebnik, Raymond Singer, Eugenia Bostwick-Singer

Inspired by the Chinese poem "Ballad of Hua Mulan"

Produced by Pam Coats

Cast: Ming-Na, Eddie Murphy, B.D. Wong, Miguel Ferrer, James Hong, Pat Morita



Film ketiga yg gw tonton lewat DVD di liburan ini adalah animasi Disney Mulan. Mulan udah lama jadi salah satu film animasi panjang Disney, atau istilahnya "Walt Disney Classics" favorit gw. Sebagai manusia yg lahir di pertengahan dekade 1980-an, menonton film animasi Disney terutama yg dirilis 1990-an adalah suatu "kewajiban", oh ralat: menonton dan membeli soundtracknya, tak terkecuali Mulan ini. Gw dulu punya sih VCDnya yg gw beli di Manila (Filipina) berbahasa Inggris tanpa subtitel...dan VCD gitu loch. Ketika Mulan dirilis di DVD beberapa tahun lalu, gw udah ngincer, tapi baru gw dapet sekitar 6 bulan yg lalu karena lagi diskon "ngabisin stok" dengan harga Rp 40 rb saja, barengan sama DVD Zodiac. Senang rasanya nonton film favorit dalam kualitas yg lebih baik (dan tidak didubbing seperti yg ditayangkan di RCTI, jadi aneh).


Mulan (Ming-Na) adalah seorang anak perempuan dan satu2nya dalam keluarga Fa, yg tomboi dan senantiasa dianggap tidak sanggup membawa nama baik keluarga, meski demikian ia begitu disayangi oleh Ayah (Oh Soon-Tek), Ibu (Freda Foh Shen) dan neneknya (June Foray) yg sableng (hehehe). Suatu ketika, wilayah kerajaan Tiongkok tengah disatroni oleh pasukan bangsa Han dari utara pimpinan Shan-Yu (Miguel Ferrer) nan bengis dan keji, dengan tujuan utama ke Kota Terlarang (istana Kaisar, ibukota negara, fyi) untuk membunuh Kaisar (Pat Morita). Kaisar memerintahkan untuk menambah pasukan, yaitu merekrut satu laki2 dari setiap keluarga di negeri China untuk dilatih dan ikut bergabung dalam pasukan melawan bangsa Han, dan perintah itu juga berlaku bagi keluarga Mulan. Sayang, di keluarga Fa, satu-satunya laki2 hanya sang Ayah yg sudah sakit2an. Mulan tak tega, melepas sang Ayah ke medan perang sama saja dengan menghantarnya ke ajal. Mulan pun mengumpulkan tekad, beda tipis sama "nekad", dengan mengambil peralatan perang sang Ayah dan berangkat ke pusat pelatihan, menyamar sebagai laki2. Bersama "utusan" dari roh nenek moyangnya, si naga merah Mushu (Eddie Murphy) dan si jangkrik mujur, Mulan yg tadinya nggak bisa apa2 perlahan-lahan menjadi prajurit yg terlatih dan setara dengan para prajurit amatir lainnya yg semuanya laki-laki, meski sepertinya kurang cukup terlatih ketika tiba2 harus menghadapi serangan langsung dari pasukan Shan-Yu yg semakin dekat ke Kota Terlarang,
or is she?

Dulu waktu gw nonton pertama kali, baru lulus SD, gw hanya sekedar terhibur dengan keseruan dan kelucuan dari adegan2, gambar dan desain2 cantik, serta lagu2 yg enak. Menonton sekarang, 11 tahun kemudian, gw jadi sangat mengapresiasi ceritanya yg cukup solid, logis dan tak ada yg terlalu mubazir. Biarpun humornya udah nggak terlalu lucu lagi, tapi sekarang gw lihat bahwa nilai2 moral, terutama tentang kesetaraan gender disampaikan begitu
subtle dan smooth, serta dikemas dengan sangat menghibur. Gw baru sadar bahwa dalam film ada tentang pengorbanan sekaligus penghormatan Mulan untuk sang ayah, yang terbukti tak sia-sia; juga soal pembuktian diri, dari Mulan yg dianggap "laki-laki" lemah yg kemudian jadi yang paling berjasa, pun Mushu yg tadinya tidak dianggap akhirnya punya andil besar dalam keberhasilan Mulan. Gw juga menemukan motif Shan-Yu menyerang China, karena Kaisar membangun Tembok Besar yg baginya merupakan lambang arogansi, bukannya bikin takut musuh tapi malah kayak "ngundang", nantangin. Tim penulis ceritanya oke niy.

Pace
-nya juga enak sekali diikuti. Adegan tes pengantin Mulan di awal sangat komikal, tapi adegan tanpa kata ketika Mulan memutuskan untuk berangkat menggantikan ayahnya juga sukses karena serius dan emosional (tapi untungnya masih bisa diterima segala umur), pokoknya film ini berhasil membangun emosi penonton dengan baik, didukung iringan musik latar yang manteph dari (alm) Jerry Goldsmith. Lagu2 yg menghiasi memang terbilang sedikit, tapi penempatannya begitu tepat dan nggak mengganggu cerita. Secara visual Mulan juga cukup terpuji. Desain baik karakter maupun hal2 lainnya tetap terlihat cantik hingga sekarang. Banyak gambar2 terutama pemandangan alam China (jelas dalam bentuk "lukisan") yg menyegarkan mata. Selain itu, film ini juga cukup banyak menggunakan bantuan CGI yg menyempurnakan animasinya. Gw pun masih menganggap adegan "tumpah"nya pasukan berkuda Han di gunung salju adalah adegan paling keren yg pernah ada di film animasi apapun...dan film ini ada sebelum Lord of The Rings...canggih dah.

Jika ada kekurangan dari film ini, mungkin...apa yah...absurditas khas Disney yg tak bisa lepas dan sepertinya memang harus ada, seperti adanya
sidekick yg komikal sebagai pemancing tawa (Mushu dan jangkrik serta trio prajurit rekan Mulan) dan karakter penjahatnya yg terlalu absolut (jahat karena...ya jahat aja), padahal dalam bagian2 lain film ini agak berbeda dari klise film2 fairy tale Disney yg ada sebelumnya (the heroine actually kick some ass, no kissing, and almost no magic). Adegan klimaksnya menurut gw terlalu kekanakan, meskipun memang seru. Tapi ya udahlah, ditonton kesekian kali pun, Mulan memang tetap cocok bersanding dengan Beauty and The Beast dan The Lion King sebagai film animasi Disney 1990-an terbaik mulai dari cerita, gambar dan tentunya musik. Classic indeed.


my score:
8/10



PS:

- Dalam beberapa dialog, negeri China disebut sebagai "Middle Kingdom". Dalam huruf China/Kanji, "China" atau "Tiongkok" ditulis dengan 2 huruf yg berarti "tengah/pusat" dan "negara". ^_^


- Ngomong2 soal Manila (gw beli versi VCD di sana), gw perhatiin pers Filipina sepertinya bangga sekali dengan keterlibatan penyanyi/aktris panggung asal Filipina, Lea Salonga yg jadi
singing-voice Mulan. Di sana lagu "Reflection" lebih terkenal sebagai hits milik Lea (versi film), bukan Christina Aguilera (yg versi pop). Setiap promo film maupun soundtrack Mulan pun selalu nempelin nama Lea...plis deh...=_=' Untung filmnya emang bagus.

Jumat, 08 Januari 2010

[Movie] Apocalypto (2006)



Apocalypto
(2006 - Icon Production)

Directed by Mel Gibson

Written by Mel Gibson, Farhad Safinia

Produced by Mel Gibson, Bruce Davey

Cast: Rudy Youngblood, Dalia Hernández, Jonathan Brewer, Raoul Trujillo, Gerardo Taracena



DVD liburan yg gw tonton selanjutnya adalah Apocalypto. Sama seperti Zodiac, gw sebelumnya pernah nonton lewat VCD sewaan dan, ah, alangkah baiknya jika ditonton dengan kualitas gambar lebih baik, "minimal" lewat DVD--zaman sudah begitu maju, DVD bukan lagi yg paling bagus, ckckck. Gw pun berhasil membeli DVD stok lama yg harganya masih "hanya" Rp 99 rb (beuh, berasa TV Media zaman dulu yah, dulu sih bisa beli satu set pisau dapur atau alat pengecil perut, sekarang cuman bisa dapet sekeping DVD)--karena stok barunya udah naik jadi Rp 129 rb..hokiii ^o^. Apocalypto, film berbahasa "asing" milik Mel Gibson--sebagaimana The Passion of The Christ pake bahasa Aram, Latin, dan Ibrani sekaligus--ini sebenernya agak tricky. Premisnya adalah tentang sekelompok suku primitif di peradaban Maya (Amerika Tengah) sekitar abad ke-16 lengkap dengan dialog bahasa "asli"nya. Reaksinya mungkin ada dua: 1. Tertarik; atau 2. udah males duluan, apalagi ada kata "suku" dan "primitif", berpakaian minim, pake bahasa ajaib pula. Gw untungnya termasuk yg pertama, karena pak Mel udah sukses dengan The Passion, sapa tau yg ini juga bagus.

Cerita filmnya mengikuti Jaguar Paw (Rudy Youngblood), putra kepala suku yg hidup di hutan dan jago berburu, dan Jaguar Paw digambarkan yg paling jago. Suatu ketika ketika Jaguar Paw dkk sedang bagi2 hasil buruan, sekelompok orang suku lain meminta izin lewat, karena desa mereka sudah diporak-porandakan. Keesokan harinya, desa Jaguar Paw yg diserang oleh sekelompok pasukan dengan persenjataan lebih "canggih" dan kuat pimpinan Zero Wolf (Raoul Trujillo), plus prajurit paling menonjol, Middle Eye (Gerardo Taracena). Rupanya pasukan ini menyerang desa2 untuk menangkap dan membawa pergi penduduknya, kecuali anak2. Jaguar Paw akhirnya juga tertangkap, tapi anak dan istrinya yg sedang hamil, Seven (Dalia Hernández) berhasil lolos karena disembunyikan, atau tepatnya terjebak di sebuah gua/sumur yg cukup dalam. Jaguar Paw dan orang2 lainnya yg dibelenggu dibawa ke sebuah kota yg besar dan ramai, yg tak pernah dilihat oleh Jaguar Paw dkk sebelumnya. Para tawanan perempuan dilelang sebagai budak, sedangkan para laki2,
well, rupanya dipersiapkan sebagai korban persembahan di atas piramida untuk dewa oleh dukun dan keluarga raja, karena kota kerajaan ini mulai tandus dan muncul wabah penyakit. Setelah "mempersembahkan" 2 korban, terjadi gerhana, dan si dukun mengklaim ini pertanda dewa sudah puas terhadap korban mereka (ini menarik, menurut trivia nya imdb.com, si Mel Gibson ingin menggambarkan bahwa si dukun dan raja tahu bahwa akan ada gerhana, secara bangsa Maya memang jago astronomi, tapi mereka menggunakannya untuk membodohi rakyat dan memperkuat posisi mereka sebagai yg agung). Nah, yg nggak jadi dikorbanin, termasuk Jaguar Paw tentu saja, disuruh dibunuh saja oleh para pasukan--intinya sih tetep aja mati. Jaguar Paw yg terampil berhasil lolos dan kabur sampai ke hutan daerah kekuasaannya meski dikejar-kejar oleh pasukan Zero Wolf. Selain berusaha lolos dari kejaran, Jaguar Paw juga harus berpacu dengan waktu, karena ia tau air hujan lebat yg tak kunjung henti sedang menggenangi gua tempat anak-istrinya bersembunyi.

Apocalypto tak disangka mampu menyita perhatian gw untuk ngikut ceritanya terus menerus. Ceritanya ditata sedemikian rupa sehingga nggak ada yg terbilang mubazir. Sebab akibat dari adegan awal hingga akhirnya juga kompak. Sebenernya yg bisa dianggap poin unggul film ini adalah babak kejar2an Jaguar Paw dan pasukan Zero Wolf yg ternyata seru. Agak berdarah-darah tapi nggak terlalu berlebihan ah. Menariknya, adegan2
action ini nggak terasa kosong, karena punya motif dan tujuan: Jaguar Paw mau jemput anak dan istrinya, dan Zero Wolf yg hancur hati karena putranya terbunuh saat hendak membunuh Jaguar Paw dkk. Selain itu, film ini juga cukup sukses menyentil karena memuat pesan yg relevan dengan zaman sekarang. Di awal film sih udah ada quote yg kira2 artinya kehancuran sebuah bangsa selalu dimulai dari dalam bangsa itu sendiri, or something like that. Bangsa Maya abad ke begitu pesat dan maju dalam kebudayaan, saking pesatnya orang2 ini jadi sangat konsumtif dengan mengeksploitasi hasil alam dan hutan, hingga menyebabkan keadaan seperti digambarkan di setting film ini. Familiar? Bagian endingnya pun menguatkan sentilan ini, ketika ramalan anak perempuan berpenyakit menjadi kenyataan, bahwa mengejar Jaguar Paw akan menuntun pada kemusnahan peradaban bangsa ini. Kemusnahan itu ternyata berbentuk kapal2 Eropa...*ups!*

Selain dari cerita, visual Apocalypto juga menarik dilihat. Setting, make-up dan kostum serta properti para penduduk kota yg hiruk pikuk sangat luar biasa dan
believable, keren banget, detail2nya amazing. Penggunaan kamera digital (tapi yg canggih punya, Panavision) juga dipergunakan dengan baik, sudut2nya bagus, tangkapan pemandangan alamnya juga bagus, berasa semi dokumenter yg menambah kesan riil film ini. Cuman ya, laju film ini lambaaat banget, jadi kadang bikin gw bosen terutama waktu nonton kedua kali. Adegan2nya bergulir kayak dieman-eman, hati2 sekali. Gw juga menangkap kecenderungan Mel Gibson yg suka meng-slow-motion-kan gerakan obor, serta merekam wajah para pemeran sedang liat-liatan sambil jalan, banyak banget itu. Para aktor, yg memang tidak ada satu pun yg terkenal, bermain cukup baik, hanya saja saat berbicara dalam bahasa kuno Yucatec-Maya yg mungkin bukan bahasa yg mereka kuasai, kelihatan sekali mereka tidak nyaman walaupun sudah berusaha keras di segi ekspresi. Untung aja film ini termasuk nggak banyak omong.

Bagaimanapun, salut buat Mel Gibson yg mengedepankan sedekat mungkin gambaran peradaban Maya, tapi tetap memiliki amunisi cerita dan karakter yg menarik dan tidak sembarangan. Sangat mungkin settingnya (termasuk hubungan sosialnya) tidak akurat secara historis, tapi bukan itu intinya. Kasih sayang, keberanian, dan kecenderungan manusia (kita) untuk terlena dalam kesombongan hingga perlahan-lahan merusak lingkungan kita sendiri; merekalah amanah universal yg ingin disampaikan film ini, dan mnurut gw cukup berhasil. Apakah ada adegan2 cara hidup dan kekerasan ala budaya primitif yg "barbar"? Ada dong, pasti. Tapi Apocalypto juga ingin mengedepankan sisi kemanusiaan, yg relatif tidak berubah dari dulu hingga sekarang.
And it worked.


my score:
7/10


Rabu, 06 Januari 2010

[Movie] Zodiac (2007)



Zodiac

(2007 - Warner Bros./Paramount)

Directed by David Fincher
Screenplay by James Vanderbilt

Based on the book by Robert Graysmith

Produced by Mike Medavoy, Arnold W. Messer, Bradley J. Fischer, James Vanderbilt, Ceán Chaffin

Cast: Jake Gyllenhaal, Mark Ruffalo, Robert Downey Jr., Anthony Edwards, Brian Cox, John Caroll Lynch, Chloë Sevigny



Cuti yg gw ambil di awal tahun 2010 akhirnya bisa membuat gw nonton DVD yg gw beli udah lama tapi masih terlantar. Yg pertama gw sentuh adalah Zodiac, ini kali kedua gw nonton setelah lebih dari setahun sebelumnya gw nonton lewat VCD sewaan. Aneh sekali, meskipun udah pernah nonton, gw masih ketakutan sama beberapa adegan >_< . Diangkat dari kejadian beneran, Zodiac bertutur mengenai penyelidikan pembunuhan berantai heboh yg terjadi di San Francisco dan sekitarnya pada akhir 1960-an sampe 1970-an. Saking hebohnya hingga menginspirasi pembuatan film Dirty Harry (1971) yg dibintangi Clint Eastwood. Akan jadi kasus biasa saja, kalau saja setiap pembunuhan punya pola tertentu, dan kalau saja si pembunuh, yg menamakan dirinya Zodiac, nggak mengirim pesan berupa kode2 ke koran2 dan minta dipublikasikan, lewat itulah ia berhasil menebar teror ke masyarakat. Banci tampil...


Si Zodiac yg secara resmi tidak pernah ketahuan pasti siapa hingga sekarang, mengirimkan pesan beserta kode2 ke koran2 di San Francisco, berkali-kali. Ia mengaku (bahkan ia sendiri yg melapor ke 911) sebagai pelaku pembunuhan sepasang kekasih pada Desember 1968 di wilayah kota Benicia, lalu sepasang kekasih pada hari kemerdekaan AS 1969 di Vallejo--setelah ini dia baru mulai mengirim surat2, sepasang kekasih di siang bolong di Danau Berreyss di Napa tak lama kemudian, dan seorang supir taksi di tengah kota San Francisco. Nggak cuma itu, si Zodiac juga pernah nge-klaim sebagai pelaku berbagai kecelakaan serta meminta "tolong" sama pengacara terkenal Melvin Belli secara
on air di TV lewat telepon. Kasus2 yg diselidiki oleh Ins. David Toschi (Mark Ruffalo) dan Ins. William Armstrong (Anthony Edwards) ini menarik perhatian publik karena memang publikasinya cukup heboh. Si Zodiac sukses menebar ketakutan bagi warga. Wartawan San Francisco Chronicle, Paul Avery (Robert Downey Jr.), punya perhatian besar terhadap penyelidikan yg selalu menemukan jalan buntu dan tanpa tersangka ini, di film ini dia memperoleh petunjuk asal muasal nama dan lambang Zodiac, sampai selanjutnya setelah sekian lama kasus ini bergulir (ampe bertahun2), Avery bahkan menerima pesan langsung dari Zodiac, hingga akhirnya dipecat dari kantor karena dinilai produktivitasnya menurun. Tapi rekan satu kantor Avery, Robert Graysmith (Jake Gyllenhaal) yang cuma seorang kartunis, adalah yg paling gigih menyelidiki bahkan ketika polisi udah jenuh dengan berlarutnya kasus ini.

Robert, seorang duda
single father yg suka main teka-teki, dialah yg berhasil mereka-reka gambaran pelaku dibalik nama Zodiac. Robert berhasil menemukan bahwa Zodiac terinspirasi buku atau film "The Most Dangerous Game" yg berkisah tentang seseorang yg gemar memburu manusia sebagai pengganti berburu binatang. Ia yg berhasil menemukan dari mana saja Zodiac mendapatkan sumber sehingga bisa menyusun kode2 yg dikirimkan ke koran2. Ia juga yg berhasil merangkum bukti2 yg selama ini terlewatkan akibat kekurang-kompakan antar polres zaman itu (kan blum ada internet). Ia menyimpan data, mengumpulkan kliping, bahkan berani mencari saksi2 kunci. Kegigihan yg cenderung obsesif yg menahun ini pulalah yg membuat kehidupan pribadinya dengan istri barunya, Melanie (Chloë Sevigny) jadi tak menentu.

Film ini konon mengikuti betul kejadian2 yg melibatkan Zodiac berdasarkan bukti penyelidikan dan kesaksian yg dikumpulkan Robert Graysmith (yg beneran) lewat bukunya. Beberapa kejadian pembunuhan ditampilkan dengan detail dan menegangkan padahal tidak tampak didramatisir...adegan2 ini yg bikin gw ketakutan, hehe. Film ini tidak menampilkan si "Zodiac" secara pribadi dari awal seperti film2 bertema kriminal lainnya, tapi berdasarkan penyelidikan. Hingga akhir pun tidak diungkapkan pelaku pastinya karena kenyataannya tidak ada yg pernah dijadikan tersangka apalagi didakwa sebagai Zodiac, namun dalam cerita disodorkan kuatnya petunjuk kepada 2 orang. Seorang mantan guru, Arthur Leigh Allen (John Carroll Lynch), sangat besar kecocokan profilnya dengan pelaku, tapi perbedaan tulisan tangannya dengan surat2 Zodiac menggugurkannya. Lalu ada Rick Marshall, yg diketahui Robert lewat telepon misterius, yg dicurigai sebagai Zodiac karena tulisan tangannya di poster2 film sebuah bioskop tempat dia bekerja sangat identik dengan surat2 kiriman Zodiac. Robert hanya berhasil bertemu dengan mantan bos Rick Marshall pemilik bioskop, Bob Vaughan, yg ternyata memberikan informasi yg simpel tapi...
sh*t, adegan ini yg paling bikin gw freak out, T-T'.

Sumpah, film ini megang banget, nggak cuman dari segi
suspense, tapi juga hampir semua segi lainnya. Sutradara David Fincher (yg juga berhasil membuat gw gregetan di Panic Room) memang berusaha me-reka ulang kejadian2 serealistis mungkin, dan justru dengan cara inilah ketegangannya makin menjadi. Tanpa dramatisasi berlebihan dan berjalan mengalir, lengkap dengan timeline--yg menunjukkan betapa panjangnya kasus ini berjalan, adegan2nya bener2 thrilling to the max tanpa kedodoran di sisi drama, pace-nya nggak mboseni dan rapih, bikin gw terpaku ngikut terus terutama dari pencarian fakta oleh polisi dan Robert, penokohannya lancar, akting para aktor bagus2 dan simpatik, visualnya bagus dengan sinematografi yg bercitarasa tinggi dan editing yg mantap, soundtrack oke, visual efek (untuk merealisasikan gambaran San Francisco zaman baheula) nggak mengganggu, berlalunya rentang waktu pun tidak membingungkan, poko'e maknyusss!

Cerita yg menarik,
intriguing, dengan kemasan yg ciamik membuat Zodiac film yg buat gw keren dan bagus banget, sayang award2an bergengsi menutup mata terhadap film ini, bahkan dari segi pendapatan film juga termasuk nggak laku, nasibnya lebih naas daripada Children Of Men, salah satu film favorit gw sepanjang masa yg berkualitas tinggi tapi kurang "dipandang" (walaupun masih dapet "beberapa" nominasi Oscar). Sayang! Zodiac adalah salah satu film crime thriller paling bagus yg pernah gw tonton (padahal gw nonton yg jenis ini juga kayaknya jarang banget kok, hehehe). Gw sarankan teman2 penggemar film dilarang keras melewatkan film ini.


my score:
9/10