Sabtu, 27 November 2010

[Movie] Leonie (2010)



Leonie
(2010 - Kadokawa/Hyde Park Films)

Directed by Hisako Matsui
Screenplay by Hisako Matsui, David Wiener
Inspired by the book "The Life of Isamu Noguchi: Journey without Borders" by Masayo Duus
Produced by Hisako Matsui, Ashok Armritaj, Yuki Ito, Masao Nagai
Cast: Emily Mortimer, Shido Nakamura, Christina Hendricks, Mary Kay Place, Keiko Takeshita, Takashi Kashiwabara, Masatoshi Nakamura, Jan Milligan


Leonie adalah film independen joint venture Jepang dan Amerika, yang mungkin akan jarang kedengaran selain di festival2 film atau sejenisnya. Filmnya jelas bukan soal personel Trio Kwek Kwek yang nantinya jadi jiplakan San Chai lalu telanjang di film pemenang FFI, tetapi soal seorang wanita yang adalah ibu dari salah satu perupa ternama di abad ke-20, Isamu Noguchi. Mengapa soal ibunya bukannya tentang si Isamu Noguchi nya? Film ini menjawabnya sendiri secara pelan2 dan subtle, bahwa bagaimana Isamu jadinya sebagai seorang seniman tidak pernah lepas dari peran sang ibu, Leonie yang hidupnya penuh dinamika.

Awal abad ke-20 Leonie Gilmour (Emily Mortimer) adalah salah satu mahasiswi sastra di Pennsylvania yang terbilang kritis, terlalu kritis mungkin pada zamannya. Suatu ketika Leonie melamar sebagai editor bagi karya seorang pujangga asal Jepang, Yone Noguchi (Shido Nakamura) di New York, yang tengah membuat novel perdananya dalam bahasa Inggris, “An American Diary of a Japanese Girl”. Kebersamaan mereka secara profesional bergeser ke romansa, hingga pada saat terjadi perang Russia-Jepang, Leonie mengandung, namun Yone memilih pulang ke Jepang. Perjuangan Leonie pun dimulai ketika ia memilih melahirkan dan membesarkan anaknya, seorang putra, bareng ibunya (Mary Kay Place) di California. Kembali sentimen perang anti-Asia di Amerika, serta undangan dari Yone, mendorong Leonie memberanikan diri pergi ke Jepang bersama putranya yang belum bernama itu. Tiba di Jepang, sang anak blasteran itupun diberi nama Isamu oleh Yone, dan Leonie diberi kerjaan menjadi pengajar bahasa Inggris. Di sini Leonie pun harus menghadapi kendala bahasa, perbedaan budaya, hingga kenyataan bahwa Yone sudah menikahi perempuan lain. Leonie memutuskan menghidupi diri dan putranya sendiri, di negeri asing, tanpa bergantung pada Yone (meski tetep jadi editornya dia), belum lagi ia kembali melahirkan seorang putri, Ailes yang ayahnya entah siapa. Suka duka pun tetap bergulir dalam hidup Leonie sampai ia berani mengirim Isamu yg masih belasan tahun pergi ke Amerika sendirian daripada dicatut ikut perang, dan pada akhirnya ia menyaksikan (sort of) Isamu tumbuh menjadi seorang seniman berbakat.

Menyaksikan Leonie dengan pengetahuan sangat terbatas tentang sejarah aslinya ternyata bisa dibilang baik2 saja, film ini bercerita cukup lancar tentang kehidupan Leonie dengan dramatisasi yang mudah dimengerti. Meski bermaksud mengambil sudut pandang dari Leonie Gilmour, tetapi film ini sebenarnya bercerita bagaikan bagian “early life” di halaman tentang Isamu Noguchi di Wikipedia, which was not really a bad thing. Sutradara dan co-writer Hisako Matsui memilih menggunakan perkenalan singkat dan agak non-linear tentang Leonie dan hubungannya dengan Yone Noguchi, lalu film baru berjalan layaknya biopic “normal” setelah Isamu lahir. Ya, dengan berusaha menekankan pada perjuangan hidup Leonie dan ikatannya dengan sang putra, film ini berjalan cukup straight sebagai sebuah riwayat seseorang yang benar2 pernah ada. Jelas ada penyesuaian demi kepentingan film, tapi film ini juga nggak menghakimi atau membuat kesimpulan sotoy tentang fakta yang masih rancu. Gw respek sekali dengan penggambaran hubungan Leonie dengan tiga pria Jepang murid perdananya yang dicurigai (oleh Isamu, katanya menurut biografi) sebagai ayah Ailes, ketiga-tiganya ada kecenderungan mengarah ke sana, but we never know, karena hingga Leonie tutup usia identitas ayah Ailes tidak pernah diungkapkannya.

Leonie, yang gw tonton hanya karena lagi pengen ke bioskop dengan modal dan ekspektasi minim, plus tanpa review2 awal karena filmnya baru beredar secara reguler hanya di Jepang, adalah film yang berpotensi. Kisahnya sangat menarik, ada simbol2 dan juga muatan culture gap, emansipasi dan human emotion di dalamnya, serta didukung oleh faktor teknis seperti art-direction dan sinematografi yang bagus—ada banyak gambar2 oke, serta musik sentimentil (dari Jan A.P. Kaczmareck) yang masih enak diterima di kuping, plus make-up untuk Leonie tua yang cukup meyakinkan. Akan tetapi, Leonie ternyata belumlah film yang bagus, bahkan kurang enjoyable gara2 beberapa faktor yang mengganggu, sayangnya faktor2 yang mengganggu itu cukup vital.

Pertama adalah dialog yang lame, yang mungkin akan terdengar fine2 aja kalo diucapkan di dorama Jepang, tetapi jadi aneh bila digunakan di film berbahasa Inggris, padahal sebagian (terutama si Shido Nakamura) itu dialognya after-recording/dubbing lho. Lalu beberapa adegan yang dramatisasi ala Jepang (nangis saat berpisah dan teriak “don’t go!” pas orangnya udah jalan? Puh-leez) yang mengurangi nilai believable-nya. Satu lagi yang paling fatal, adalah penampilan Emily Mortimer yang seperti menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya sebagai pemeran utama yang dominan, paling parah adalah aksen Amerikanya yang ganjil, bahkan seringkali terdengar intonasi British (karena Mortimer aseli Inggris). Ekspresi dan gesturnya oke, tetapi ketika dia buka mulut atau bersuara lewat narasi, buyarlah semua, sayang sekali. Pun adanya tokoh Umeko, mahasiswi Jepang yg satu kampus sama Leonie di Amerika yang kemudian membuka universitas untuk perempuan pertama di Jepang kayaknya nggak penting dan nggak berkaitan kuat sama keseluruhan filmnya…nambah2in durasi aje…

Nevertheless, Leonie punya hal yang menarik perhatian gw. Film ini disutradarai oleh orang Jepang, wanita. Sehingga entah sengaja atau tidak, film ini selain kembali mengangkat beberapa penggal budaya Jepang, gw juga mengendus kritik mengenai budaya patriakal di negeri itu, terutama pada zaman pra Perang Dunia II. Mungkin film Leonie menjadi alat Mastui dalam melawan sisa-sisa budaya patriakal di negerinya, apalagi terlihat pada caranya menggambarkan Yone yang manis di awal tapi belakangan jadi, well, "laki-laki", sedikit banyak karena tuntutan budaya. Untungnya, Leonie “menang” melawan itu. “Watashi wa anata no inu dewa nai” (gw bukan anjing piaraan loe) katanya, you go girl, hehehe. Kesimpulannya, Leonie could’ve been a good movie, but turned out to be “not really”..



 My score: 6/10


PS: Cerita sedikit, gw nonton ini di bioskop yang memang sepertinya khusus memutar film2 independen atau art-house di Osaka (anehnya, penontonnya cukup banyak). Sedikit shock gw, ternyata gw di suruh nunggu di lobi 10 menit sebelum jamnya, karena penonton akan dipanggil sesuai nomor urut tiket untuk masuk studio (tempat duduk bebas pilih di dalem studio)...yup, tiketnya ada nomor antreannya...ini bioskop atau bank ya? XD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar