Rabu, 08 September 2010

[Movie] My Blueberry Nights (2007)



My Blueberry Nights
(2007 - The Weinstein Company/Block 2 Pictures)

Directed by Wong Kar Wai
Screenplay by Wong Kar Wai, Lawrence Block
Produced by Jacky Pang Yee Wah, Wong Kar Wai
Cast: Norah Jones, Jude Law, Rachel Weisz, David Strathairn, Natalie Portman


My Blueberry Nights adalah film berbahasa Inggris perdana dari sutradara antik asal Hong Kong, Wong Kar Wai. Pak Wong bukanlah sutradara biasa, karya2nya pasti beda banget sama film2 Hong Kong yg sering tayang di Indosiar. Beliau lebih dikenal sebagai pembuat film2 bervisual cantik untuk konsumsi festival, serta skenarionya yang selalu spontan (huhuy) di lokasi syuting. Gw sendiri gak terlalu familiar sama pak Wong, sebelum film ini gw baru nonton karyanya yg berjudul 2046 (tapi bingung), tapi gw denger2 film2 beliau punya keistimewaan tersendiri. Reputasi pak Wong plus bintang2 berkelas yg terlibat membuat gw cukup tertarik untuk menonton My Blueberry Nights ini. Bagaimanakah hasilnya? *ih ni review pembukaanya basi banget* *penulis kehabisan ide*.

Menurut segmen behind-the-scene di DVDnya, konsep film ini diambil dari film pendek pak Wong yg intinya orang2 ngobrol di diner atau bahasa Indonesianya...err...warung...oke deh, kedai, biar nggak terlalu peyoratif *=P*. Di awal adalah Elizabeth (Norah Jones, debut akting nich) yang mampir ke sebuah kedai karena curiga pacarnya ketemu cewek lain di kedai itu. Pada akhirnya emang benar, lalu putus, kemudian jadinya Elizabeth jadi curhat sama si empunya kedai, Jeremy (Jude Law). Bermula dari obrolan2, terus mesen blueberry pie yg selalu luput dipesan orang setiap harinya, jalan bareng, dan kemudian dapat ditebak bahwa antara Elizabeth dan Jeremy tumbuh benih2 udang windu cinta. Tapi karena sempat gagal dalam bercinta, Elizabeth menemukan cara "kreatif" untuk mengkonfirmasi perasaannya pada Jeremy. Elizabeth pun ceritanya berkelana ke beberapa kota di Amerika, kerja sebagai pelayan di kedai dengan memakai nama alias variasi pangilan dari namanya sendiri.

Nah di setiap kota (di dalam kedai tempat dia kerja) ini Elizabeth menyaksikan kejadian/drama manusia yang mungkin dijadikannya asupan untuk memperkaya batinnya (?). Well, dibilang berbagai kota sih padahal cuman 2 aja. Di Memphis, ia bernama Lizzie, menjadi saksi hancurnya hati seorang polisi paruh baya Arnie (David Strathairn) karena masih ngarep sama istrinya yg muda dan sudah meninggalkannya, Sue Lynne (Rachel Weisz) *kalo disebut kayak nama China*. Di Nevada, ia bernama Beth, ikut terlibat persahabatan singkat nan bermakna dengan gadis muda bernama Leslie (Natalie Portman) yang gemar berjudi, sekaligus punya masalah komunikasi dengan sang ayah yang seorang tajir di Las Vegas. Setiap menyaksikan sesuatu, tak lupa Elizabeth senantiasa ngirim "laporan" lewat surat ke Jeremy, sehingga hubungan mereka tidak serta merta putus begitu saja. Tapi, apakah pengembaraan Elizabeth akan menguatkan atau justru melemahkan perasaannya pada Jeremy?

Eventually, I don't give a damn, and I don't think anyone does, tapi ini bukan berarti positif. Gw gagal untuk care sama Elizabeth. Pengembaraannya pun tidak membawa perubahan yang gimana2 amat. Cerita film ini cukup "ngrepotin" kalo gak disebut absurd. Musti ya berkelana dulu? Seperti mempersulit sebuah love story yang sebenarnya sederhana sekali. Kalo pun memang ceritanya tentang perjalanan mencari jati diri, tampaknya dengan menampilkan cerita di 2 kota saja tidak cukup membuat kesan film ini jadi mendalam dan kaya, setidaknya bagi gw. Seperti mau jalan keliling Jawa dari Jakarta cuman sampe Bandung dan Jogja, nanggung (harusnya terusin sampe Surabaya, Probolinggo, Banyuwangi, *lha ini ngomongin apa sih* *pantesan gw keinget sama benih udang windu*). Gw pun merasa film ini agak gak punya inti dan, yah, gimana ya, gitu deh *gak jelas*. Singkat dan agak dangkal, atau memang gw yang nggak bisa melihat kedalamannya. Oh, sektor akting sebenernya biasa2 aja lho, nggak istimewa, walaupun gak terlalu jelek juga sih.

Namun bukan berarti My Blueberry Nights tidak bisa dinikmati sama sekali. Film ini berjalan cukup manis, penceritaannya lumayan enak dengan isi obrolan2 yang lumayan nggak membosankan. Enak juga mendengarkan adegan2 yg sebagian besar adalah di kedai dengan iringan lagu2 (kebanyakan jazz) cukup tepat. Poin terbesar dari film ini masih dipegang sama sektor visual yg tampak berwarna-warni gemerlap yang ditangkap dengan apik oleh sinematografinya lewat sudut2 khas.Penataan adegan dan blocking aktornya juga unik dan efektif, bukti ke-antik-an Wong Kar Wai masih "kepake" di sini. Kadang2 visualnya agak norak lebay juga sih, tapi overall, lumayan menyegarkan mata dengan cara tersendiri dan sepertinya jadi faktor utama film ini jadi nggak terlalu menjemukan. And I bet people would love the kissing scene *ups* ^_^;. Kesimpulannya, My Blueberry Nights film yang lumayan saja, bukan tipe yang gw sukai banget banget, bukan film yang akan memorable sekali, tapi usaha pak Wong untuk membuat film berbahasa Inggris masih patut dihargai, nggak terlalu kelihatan aneh kok ternyata.



my score: 6/10

4 komentar:

  1. Setuju! MuLai dari bagian ketemu NataLie Portman gwe juga udah maLes mikirin ini-itu, yang penting akhirnya E-Jeremy jadi. And yes, I Love the kissing scene! ^^ Gara-gara itu keLuar dari bioskop gwe jadi ngidam pai bLueberry..

    BalasHapus
  2. @amadl..hehe kalo cuman memuat yg "benar2 penting" saja filmnya 20 menit udah selesai dong yah ^_^"

    BalasHapus
  3. bukan film hebat memang, tp gw suka film ini,
    karena rasa manisnya..
    rasa manis dari visual dan audionya

    memorable scene.. so pasti pas bagian kissing scene nya..

    oia gw jg suka ngeliat bagaimana rachel weisz dan david strathairn berakting

    BalasHapus
  4. @kreshnahary, ^_^..,setuju, Weisz dan Strathairn memang karismatik ya

    BalasHapus