Sabtu, 18 September 2010

[Movie] The Lives of Others (2006)



Das Leben der Anderen
The Lives of Others
(2006 - Buena Vista International/Sony Pictures Classics)

Written and Directed by Florian Henckel von Donnersmarck
Produced by Max Wiedemann, Quirin Berg
Cast: Ulrich Mühe, Sebastian Koch, Martina Gedeck, Ulrich Tukur, Thomas Thieme, Hans-Uwe Bauer


Kayaknya gw nggak pernah nonton film Jerman sebelum The Lives of Others ini deh. Memenangkan piala Oscar sebagai film berbahasa asing terbaik di tahun 2007 serta rekomendasi dari beberapa blog tetangga membuat gw cukup tertarik untuk menyaksikan film ini. The Lives of Others mengambil latar masa perang dingin ketika Jerman masih terbelah, mengambil fokus, yang benar2 fokus, pada kehidupan di Jerman Timur (yang rada2 sosialis/komunis/leninis atau apapun itu) yang kerap menyelidiki dengan menyadap oknum2 tertentu yang dicurigai sebagai pembelot ke Jerman Barat (yang liberal).

Sedari awal kita diperkenalkan pada Kapten Wiesler (Ulrich Mühe) sebagai prajurit Stasi (kayak...apa yah...tentara?) yang luar biasa cakap dan dapat diandalkan dalam membongkar kasus pembelotan yang makin marak terjadi. Maka tak heran pula bila Wiesler ditunjuk oleh sang atasan, Anton Grubitz (Ulrich Tukur) untuk terjun langsung ke lapangan dalam rangka pengupingan terhadap penulis/sutradara teater terkemuka Jerman Timur, Georg Dreyman (Sebastian Koch) atas pesanan menteri kebudayaan (Thomas Thieme). Wiesler pun melaksanakan perintah dengan sangat baik, nguping dan mencatat lalu melaporkan kehidupan Georg yang tinggal bersama kekasihnya, aktris teater Christa-Maria Sieland (Martina Gedeck), terutama tentang hal2 yang mencurigakan apakah Georg ini pembelot atau bukan. Proses "pengawasan" ini pun mengharuskan Wiesler menyelami kehidupan pribadi sang seniman teater, mulai dari hubungan asmaranya hingga pergaulannya. Sejak awal memang tampak bahwa Georg ini seorang warga Jerman Timur yang setia meski banyak kawan2nya menjadi korban pemerintahan (karirnya disabotase) karena dianggap membahayakan negara. Perlahan tapi pasti, Wiesler mulai terlibat dalam kehidupan Georg, tapi tahan dulu, bukan sebagai Stasi, tapi sebagai…manusia, apalagi ia tau jelas motif dibalik perintah pengawasan Georg yang (seharusnya) bersih itu.

Plot The Lives of Others berjalan selangkah demi selangkah, agak terkesan lambat, tapi buat gw, efektif dan captivating. Tampak sederhana, tapi bukan dalam arti seadanya saja, namun lebih karena terlihat otentik dan believable, baik itu plotnya, konflik, dialog, seting, maupun karakternya. Film ini dengan tepat guna menggambarkan suasana Jerman Timur pada masanya, yang terintegrasi dengan aspek lainnya tanpa harus kasih keterangan panjang lebar. Lihat bagaimana dingin dan monotonnya suasana di sana, bangunan yang hampir seragam, pakaian pun warna tanah semua, bahkan dengan mimik dan gestur Kapten Wiesler yang seorang prajurit sempurna itu juga berhasil bikin gw sedikit banyak bisa paham bagaimana tertutup dan terkendalinya pemerintahan di sana saat itu.

Di luar itu, gw juga merasakan kuatnya karakter Kapten Wiesler yang dimainkan secara ciamik tak bercacat oleh alm.Ulrich Mühe. Secara porsi tokoh Wiesler memang nggak termasuk dominan, dialognya pun terbatas, tapi perannya tetap sangat berpengaruh. Sikap dan tingkah lakunya sangat datar dan kaku, sekaligus cerdas (dia bisa bikin penyadapan yang dilakukannya sama sekali nggak ketahuan), dengan kehidupan yang...yah...hampir gak punya kehidupan, namun ia ternyata memilih untuk berpegang teguh pada sesuatu yang lebih luhur daripada sekadar menjalani perintah atasan: keadilan. Penonton diajak melihat Wiesler, dari seorang antek pemerintahan yang strict, tergerak nuraninya ketika menyaksikan ketidakadilan di depan matanya (atau kupingya ^_^), memutuskan untuk bertindak meski ia sendiri tau konsekuensinya bagi dirinya sendiri sebagai abdi negara. Perubahan itu memang lambat laun namun tetap terasa, meskipun ekspresi muka Wiesler nggak berubah!

The Lives of Others adalah sebuah film yang sangat rapih, sangat. Hampir tidak ada celah dalam film ini, kecuali bahwa film ini tidak heboh atau overdramatic, atau tidak memberi efek decak kagum sesegera mungkin. Dengan cara tersendiri, film ini berhasil mempersembahkan cerita yang mungkin lingkupnya kecil tapi mampu berkisah banyak, menyampaikan emosi tanpa terlalu emosional, ketegangan yang lebih pada intimidatif ketimbang suspense, semua dalam sebuah karya yang solid. Gw salut juga bahwa meskipun secara screen-time lebih banyak menampilkan kehidupan Georg, tapi tetap berhasil membuat tokoh Kapten Wiesler (yang adalah tokoh utama namun pasif) mengundang simpati, seakan jadi pahlawan tanpa suara. Dia bahkan nggak pernah senyum…well, almost never *ups*. Sebuah film yang menunjukkan bahwa siapapun bisa bertindak benar atas dasar keadilan, bukan karena pamrih atau kepentingan…kalau memang mau.


My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar