Selasa, 11 Mei 2010

[Movie] Agora (2009)



Agora
(2009 - Focus Features)


Directed by Alejandro Amenábar
Written by Alejandro Amenábar, Mateo Gil
Produced by Álvaro Augustín, Fernando Bovaira
Cast: Rachel Weisz, Max Minghella, Oscar Isaac, Ashraf Barhom, Michael Lonsdale, Rupert Evans, Sami Samir



Err, bukan, Rachel Weisz yg dipampang gede2 di posternya bukan berperan sebagai tokoh bernama Agora, karena 'agora' adalah sebutan bagi plaza, atau alun2 kota tempat semua orang berlalu lalang di Alexandria (Mesir) abad ke-4, ketika masih dalam kekuasaan Romawi. Weisz sendiri berperan sebagai Hypatia, filsuf wanita di Alexandria yg cemerlang baik otak maupun fisiknya, yg menjadi guru bagi banyak pemimpin2 pada zaman itu. Sebenarnya, dari sini aja udah ada tanda2 ketidakkonsistenan film ini, mau ceritain apa sih? Apa hubungannya Agora sama Hypatia?


Gw sendiri menyimpulkan Agora adalah film sejarah, lengkap dengan keterangan waktu dan latar dalam bentuk tulisan, (ah,
so Star Wars). Akurasinya gw kurang paham, tapi ya begitu deh, tokoh2 dan beberapak peristiwa yg ditampilkan pada umumnya adalah non-fiksi dan ada dalam sejarah. Gw nggak tau apa2 soal apa yg diceritakan film ini, jadi gw cuma akan mencoba menangkap apa yg disampaikan oleh film ini saja. Latarnya adalah Alexandria, atau sekarang namanya Iskandariyah di Mesir, kota yg sangat maju pada zaman itu, dan mempunyai perpustakaan terbesar dan terlengkap di seluruh kekaisaran Roma (Library of Alexandria, buku2nya masih berupa gulungan dengan huruf2 romawi kuno). Pada zaman ini pula agama Kristen semakin meluas dan pemeluknya semakin banyak, bahkan telah diakui oleh pemerintahan Romawi, tak terkecuali di Alexandria, yg umumnya dipeluk oleh warga termarjinalkan. Waktu film ini dimulai, pemeluk Kristen di Alexandria dipimpin oleh Uskup Theopilus, yg gatel dengan keberadaan agama asli a.k.a. pagan a.k.a. berhala beserta patung2 sesembahan di kota itu, dan kegatelan itu diimplementasikan oleh para pengikutnya (dan ada yg disebut Parabalano, aparat penegak "syariat" semacam banser atau pecalang, yg digambarkan suka memprovokasi). Agora di Alexandria menjadi arena saling cemooh antar umat beragama yg seringkali berujung pada kekerasan. Puncaknya terjadi ketika si Uskup sendiri yg "memimpin" umat untuk mengejek patung berhala yg ada di agora, dan para pemeluk pagan yg sebagian besar berpendidikan tinggi dan kegiatannya berpusat di Perpustakaan Alexandria, memutuskan untuk bertindak ekstrim dengan membunuh langsung orang2 Kristen yg ada di agora saat itu juga. Tapi keadaan berbalik, kekacauan terjadi, tanpa mereka sadari pemeluk Kristen di sana sudah sangat2 banyak dan malah mendesak kaum pagan yg hanya bisa bertahan di lingkungan perpustakaan. Demi mencegah pertumpahan darah lebih lanjut, Kaisar Roma memutuskan untuk mengamankan kaum pagan hingga selamat, dan memperbolehkan kaum Kristen untuk memasuki perpustakaan dengan bebas, yg sebagaimana bisa ditebak, berujung pada anarki dan pengrusakan perpustakaan itu.

Lha, Hypatia-nya dimana? Oh, ada tuh, di dalam perpustakaan, berusaha mengamankan buku2 yg ada. ^_^; Hypatia ini mungkin satu2nya wanita yg ada di Alexandria yg boleh mengajar filsafat. Ia mencintai ilmu pengetahuan, dan senantiasa tergelitik untuk mencari jawaban dari pertanyaan2 mendasar: bumi itu apa, dimana, bagaimana bentuknya, matahari serta planet2 tuh apanya bumi, kenapa posisinya berbeda setiap musim? Sebuah pemikiran yg sangat maju di zamannya tapi harus terepresi dalam sejarah hingga zamannya Keppler atau Galileo, mungkin karena dia seorang wanita. Di tengah2 gejolak kotanya, Hypatia hanya peduli pada filsafat dan benci kekerasan. Kerupawanannya menarik hati para pria, tak terkecuali salah satu muridnya Orestes (Oscar Isaac) yg bahkan pernah menyatakan cintanya di depan khalayak ramai; serta budaknya yg pintar, Davus (Max Minghella), yg harus memendam perasaannya karena..
well..dia seorang budak, namun Hypatia sendiri pun tak peduli pada yg namanya cinta, bahkan menolak cinta Orestes dengan memberinya saputangan dengan darah haidnya (...). Davus sendiri punya konflik batin, ia mencintai Hypatia, tetapi ia pun terpanggil untuk menjadi Kristen yg tidak mengenal strata majikan-budak. Dan ketika peristiwa pagan vs Kristen yg gw sebutkan tadi, Davus pun memilih meninggalkan Hypatia, jadi orang merdeka, dan jadi seorang Kristen.

Perhatikan paragraf "latar" lebih panjang daripada "plot"? Eits, ada babak keduanya lho. 6 tahun kemudian, agama Kristen menjadi mayoritas di Alexandria, bahkan pimpinan pemerintahan pun sudah menjadi Kristen, termasuk Orsestes yg kini sudah jadi prefek (gubernur?) Alexandria. Davus pun kini aktif jadi Parabalano. Sedangkan Hypatia masih berkutat pada filsafat, dan menjadi penasihat sekaligus sahabat dari Orestes, dan...Udahan ah, kepanjangan kalo diceritain juga bagian ini. Maafkan atas keterbatasan pengetahuan dan lambannya otak, tapi jujur gw nggak bisa menikmati film ini. Bukan masalah sensitivitas agama, tapi emang filmnya nggak jelas juntrungannya. Ribet dan berat, dan seakan mengabaikan sisi manusiawi dari (yg harusnya) tokoh utamanya, Hypatia, karena filmnya sendiri sering jalan2 menjauh dari Hypatia demi menjelaskan sejelas-jelasnya tentang keadaan Alexandria, bahkan sering2 ke luar angkasa untuk meng
zoom in/zoom out bumi dengan citra satelit kayak pake Google Earth (pointless =_=). Padahal sektor human drama-nya sangat potensial, tapi hampir tenggelam oleh porsi latar keadaan. Film ini seperti acara tayangan National Geographic atau History Channel tanpa narator, yg karena itu membuat gw merasa "so what's the point?" Bisa juga dibilang mirip sama serial drama sejarah Jepang di channel NHK, contoh yg gw pernah tonton komplit adalah "Atsuhime", tapi itu masih mendingan karena meletakkan si tokoh utama sebagai penggerak cerita, nggak ngelantur kemana-mana, penjelasan latar keadaan secukupnya saja.

2 jam film Agora rasanya lama sekali, karena itu tadi, menantikan kemunculan Hypatia agak bikin gregetan. Adegan perang2annya terlalu dipanjang-panjangkan, walaupun gw akui cukup realistis, tapi tetep aja kelamaan. Kenapa sih nggak lebih fokus pada kehidupan Hypatia dan pemikiran2nya? Terutama soal alam semesta dan bumi, itu menarik sekali lho. Menjelaskan latar keadaan sih memang penting tapi apa porsinya harus menghabiskan separuh durasi film? Apa memang tujuannya menceritakan keadaan sejarah Alexandria dan akhir dari kejayaan paganisme di kerajaan Romawi sebelum dikuasai oleh hierarki gereja, dengan Hypatia sebagai bumbunya? (lho, malah tambah aneh kedengarannya). Ya udahlah. Intinya sih gw mau bilang film ini agak kurang--atau gw yg terlalu picik,
i don't know, gitu aja sih.

Namun apresiasi perlu juga gw sematkan pada film produksi Spanyol ini (untuk konsumsi internasional, mau ngekor Prancis dan Luc Besson sepertinya). Rachel Weisz memang jauh dari mengecewakan, tak hanya dengan wajah ayu dan kulit ala bintang iklan sabun Lux (lho, emang iya kale), penghayatan dan performanya sebagai Hypatia sangat terpuji, sayang, seperti gw bilang sebelumnya, porsi kemunculannya tidak sebanyak yg diharapkan. Peran pendukungnya sih lumayanlah, Max Minghella cukup sukes, sedang Oscar Isaac gw bilang sih
so-so. Desain produksinya dan tata kostumnya sangat meyakinkan, keren. Secara sinematografi cukup bagus, ada beberapa shot yg mantep seperti melihat keadaan kacau kota dari atas secara vertikal layaknya sudut pandang burung (bird's eye, hehehe), tapi mungkin gw agak terganggu sama presentasi format digital saat gw nonton ini di bioskop, gambarnya kurang tajem dan garis2, layaknya DVD yg ditampilkan di layar yg terlalu besar. Tapi, pokoknya film ini cukup oke di mata.

Gw pun salut sama sutradara/penulis yg berani menampilkan gambaran perseteruan antar golongan agama yg terjadi di Alexandria, mungkin agak terkesan berat sebelah, tetapi kalau dipikir-pikir, masuk akal juga, apalagi untuk zaman itu. Zaman ketika kekerasan masih membudaya, zaman ketika tidak semua orang benar2 mengerti agama yg dipeluknya karena tidak punya akses terhadap sumber kepercayaan dan pengetahuan sehingga terlalu tergantung dan mudah terpengaruh pada pemimpinnya yang belum tentu benar2 jujur mengamanahkan yg sesuai agama, sehingga memanfaatkan fanatisme pengikutnya untuk mencapai tujuan yg nggak melulu untuk Tuhan-nya. Zaman ketika agama adalah alat politik yg efektif sekaligus beresiko, mengingat agama bukan hanya soal kepercayaan, tapi juga pengikat komunitas yang sangat kuat dan sensitif, dan kerap kali hukum yg berlaku dan aparatnya tak berdaya membendungnya, sebab tindakan apapun dapat dibenarkan dan dimaklumi asalkan berlabel agama. Maksud gw bahwa itu masuk akal, adalah karena hal yg sama masih terjadi di dunia kita, atau bahkan tepatnya, negara kita sekarang2 ini, ya kan? Duh...malah gw yg ngelantur.


So
, kesimpulannya, Agora adalah film yg kuat dalam menggambarkan, tetapi lemah dalam menceritakan. Kalau memang ingin membuat visualisasi peristiwa sejarah, ya buatlah film demikian, jangan letakkan Hypatia sebagai yg utama, karena ia hanya salah satu bagian dari sejarah. Kalau memang ingin membuat film tentang Hypatia dan romantika kehidupannya, buatlah film yg lebih bertumpu padanya, yg lebih membumi supaya dapat mengundang ikatan emosi lebih dengan penontonnya. Kalau ingin bikin film soal kucing...oh...itu Anggora deing =P



my score:
6/10


2 komentar:

  1. Hahahahaha..gw juga emang ngerasa gregetan krn ngerasa krg di sini situ wkt nonton film ini.hihi

    BalasHapus
  2. @Tiko
    ho-oh, berasa jadi Parto di OVJ yg mau bilang: "becanda ini...mana benang merahnya?" *timpuk kursi styrofoam*
    ^_^;

    BalasHapus