Kamis, 28 Januari 2010

[Movie] Nine (2009)


Nine
(2009 - The Weinstein Company)

Directed by Rob Marshall

Screenplay by Michael Tolkin, Anthony Minghella

Based on a musical play by Arthur Kopit, Maury Yeston

Based on the story by Mario Fratti

Inspired by the 1963 Italian film "8½" by Federico Fellini

Produced by John DeLuca, Marc Platt, Harvey Weinstein, Rob Marshall

Cast: Daniel Day-Lewis, Marion Cotillard, Penélope Cruz, Nicole Kidman, Kate Hudson, Judi Dench, Fergie, Sophia Loren



Gw adalah salah satu orang yg suka dengan film musikal. Gw sedih ketika Moulin Rouge! memble di Oscar 2002, dan amat sangat nggak keberatan ketika Chicago, film yg disutradarai oleh Rob Marshall, menang Best Picture di Oscar 2003 lalu. Mnurut gw kedua film itu berhasil secara hiburan maupun artistik, bukan sekedar orang2 yg bernyanyi dalam cerita. Kalau Moulin Rouge!-nya Baz Luhrmann bentuknya semacam
tribute film2 musikal klasik serta film2 India, maka Chicago berhasil membawa excitement yg setara menonton pertunjukan musikal di teater broadway (kayak gw pernah aja ^_^;) dengan tetap berpegang pada kemasan sinematik—selain materi ceritanya yg memang bagus dan nyentil—lewat visualisasi "dua dunia": dunia nyata, dan panggung musikal dalam imajinasi tokoh sebagai simbol ungkapan hati (smacam penyempurnaan dari serial Ally McBeal, haha). Rob Marshall kembali mencoba melakukan hal yg kira2 sama, memfilmkan pertunjukkan musikal yg terkenal, Nine, yg diilhami film Italia 1960-an yg—konon—merupakan masterpiece, 8½. Selain sebagai event kembalinya tim sukses dari film Chicago, Nine juga memasang aktor2 kelas hiu sebagai bahan jualannya. Gw perhatiin banyak kritikus yg kurang suka film Nine, mungkin karena film ini dianggap kualitasnya jauh dari film sumber aslinya. Good thing I never know that old movie, hehe.

Guido Contini (Daniel Day-Lewis) adalah seorang sutradara terkenal Italia di tahun 1960-an yg banyak menelurkan film2 sukses. Begitu sukses sehingga ia pun dituntut untuk terus membuat film sukses. Suatu kali produser udah menentukan film yg akan dibuat Guido, bahkan udah ada judulnya, "Italia", dan udah ada
press conference, padahal ide cerita filmnya aja belum ada! Tak tahan, Guido pun nekad kabur ke kawasan wisata yg jauh. Perekat plot film ini adalah bagaimana dalam tekanan, kebingunan dan kebuntuan, Guido harus berhasil membuat film "Italia" itu. Guido pun mulai mencari pelampiasan sembari mencari ide cerita filmnya, dan yg ada dalam pikirannya adalah 7 wanita yg lalu lalang sepanjang hidupnya, masing2 punya makna tersendiri. Istrinya, Luisa (Marion Cotillard) adalah wanita yg jadi "milik" resmi Guido yg senantiasa mendukungnya, tapi justru yg paling nggak ia pedulikan. Carla (Penélope Cruz) adalah istri orang yg sudah lama bermain api dengan Guido sebagai pelampiasan hasrat badaninya. Lalu ada Claudia Jenssen (Nicole Kidman), selalu menjadi bintang dalam film2 Guido, serta lewat dialah Guido selama ini selalu memperoleh inspirasi. Lili (Judi Dench), penata busana film2 Guido yg selalu menjadi rekan kerja dan rekan diskusi yg nggak pernah salah. Juga ada wartawan fashion Amerika, Stephanie (Kate Hudson) yg nge-fans sama Guido serta film2nya, and a little bit more. 2 wanita lainnya muncul dari kenangan masa lalu Guido: Saraghina (Fergie), pelacur yg pertama kali "mengajar" Guido yg waktu itu berumu 9 tahun tentang cinta dan wanita (no..it's not what you think), yg sedikit banyak mempengaruhi cara Guido menggambarkan wanita dalam film2nya yg tampil sensual dan kerap bugil; lalu mendiang sang Mamma (Sophia Loren), yg mungkin satu2nya wanita yg Guido tau cara mencintainya.

Kenapa musti ada wanita2 ini, yg satu per satu bernyanyi dan menari di studio imajinasi Guido (di film ini)? Itulah yg bikin gw agak
loading waktu nonton dan untungnya dibayar cukup lunas di bagian akhir. Dengan kata lain film ini mungkin akan masuk kategori "nggak jelas" bagi sebagian orang. Tapi mari gw coba mengungkapkan apa yg gw tangkep. Kenapa Guido nggak nemu2 ide cerita? Setelah film ini hampir abis gw baru ngeh bahwa Guido yg udah tua punya imajinasi yg masih stuck berkeliaran di usia 9 tahun, makanya kalo adegan nyanyi Guido main panjat2an di set studio kayak di mainan mistar di TK itu loh. Jiwanya yg 9 tahun itu hanya mau segala sesuatu sesuai dengan kemauannya, nggak mau disuruh-suruh sebagaimana ia sekarang ini—makin disuruh malah makin ngeyel. Tibalah kini saatnya ide2nya sudah habis, dan di sinilah kekanakan jiwa Guido musti dihadapkan pada akumulasi masalah dunia nyata yg selama ini tanpa sadar dipupuknya sendiri. Luisa, yg tadinya adalah seorang aktris, udah capek mengalah dan berkorban demi kesuksesan suaminya yg rajin menjamah perempuan2 di pergaulannya, dengan bonus rajin berbohong. Carla tak segan bertindak nekad demi mendapat cinta Guido—bukan sekadar hubungan badan, meski harus membahayakan perkawinannya sendiri. Claudia kali ini ogah memberi inspirasi buat Guido, ia pun ingin dicintai Guido tapi sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai wanita "buatan" Guido sebagaimana dalam film2 karyanya. Mereka sudah tak mau lagi jadi "agen kepuasan" Guido. Guido pun mulai tersadar lewat pertemuannya dengan Stephanie, ia begitu mudah terlena pada hal2 yg menyenangkan dirinya, tapi langsung kabur kalo keadaan lagi nggak enak. Mau lari ke mana? Ke Mamma? Sorry, she's dead already. Guido dipaksa jadi dewasa, harus, sekarang...and I just spoiled quite a lot there ^_^;

Proses pendewasaan kembali Guido ini dirangkai dalam adegan2 yg diselingi dengan nyanyian dan tarian persis kayak gaya film Chicago. Paruh awal Nine sangat
entertaining, naik-turun mood adegan dan lagu2nya disusun enak, tapi lama2 kerasa juga durasi film ini di tengah2 ketika adegan lagunya mulai berasa kebanyakan (padahal separuh dari "playlist" pertunjukkan aslinya udah dipangkas lho), nguap ya nguap deh. Mungkin memang tuntutan naskahnya yg ingin segala sesuatunya berjalan tidak terburu-buru, apalagi mengingat salah satu penulis naskahnya adalah almarhum Anthony Minghella, sutradara The English Patient dan Cold Mountain yg puitis sekaligus boring itu, pengaruhnya masih ada sedikit. Namun di luar itu, gw nggak punya hal lain untuk diprotes. Dialog2nya bagus, situasi dan permasalahan yg dialami serta solusi yg dibuat Guido digambarkan sangat riil dan menguatkan pesan film ini. Teknis? Oh, my...ini adalah hattrick dari Rob Marshall setelah sukses membuat mata dimanjakan oleh kekompakan tata artistik, kostum, tata cahaya dan sinematografi plus musik sebagaimana di Chicago dan Memoirs of a Geisha. Lagu2 (walau nggak langsung nancep di kuping) dan koreografinya pun nggak kalah asik disimak. Pokoknya penataan adegannya, baik yg dunia nyata maupun dunia "panggung"nya okeh sekali deh (dan Rob Marshall kayaknya masih suka dengan gambar asap rokok dan lampu blitz kamera). Adegan perkenalan para wanita Guido di awal film ditata begitu keren; adegan ini impactnya sama kayak prolog di film2 James Bond, penggugah selera. Lain dari itu, gw bahkan sampe tepuk tangan (tanpa suara dong pastinya) sehabis bagiannya Fergie nyanyi "Be Italian" ditemani tamborin, bangku dan pasir. Mantaf...



Saraghina (Fergie) menyanyikan "Be Italian"; the scene that made me applaud.


Soal aktor yg jadi daya tarik utama film Nine,
let me say this: nama tenar emang nggak ngebo'ong ^_^. Daniel Day-Lewis dan Judi Dench adalah dua orang yg nama2nya aja adalah sinonim dari kata "kualitas". Marion Cotillard yg terlihat lebih anggun dan cantik daripada di Public Enemies sukses abis menunjukkan kelasnya. Penélope Cruz luar biasa total berakting, selain luar biasa rrrr...@.@, awesome. Fergie, Nicole Kidman, Kate Hudson dan Sophia Loren yg munculnya sebentar2 pun tampil berkesan.

Overall
, buat gw Nine adalah film yg bagus. Hanya saja, emang nggak se-entertaining dan se-fun Chicago, dan durasinya sangat potensial membuat mata mepet pada jurang kantuk, itu juga lebih karena visualisasinya tak jarang terlalu"simbolik" sehingga sekali waktu bikin bingung "ini maksudnya apa yah?". Ceritanya nggak biasa, malah mungkin nggak terlalu menarik bagi banyak orang, belum lagi kenyataan bahwa nggak semua orang suka dengan gaya film musikal macam ini, apalagi menggunakan gerak dan lagu sebagai simbol keadaan hati, bukannya alih2 menjelaskan cerita. Beberapa temen yg nonton bareng gw bilang adegan penutupnya agak gantung, tapi bagi gw nggak juga. Adegan penutupnya sempurna untuk cerita film ini, gw seneng dengan simbolisasi dan apa yg disimbolisasikan—selain karena adegannya ditata dengan cantik. Guido nggak lagi bergantung pada orang2 yg selama jadi pelariannya, semua sudah ada di belakangnya. Now, Guido is finally in control of himself, on his lap ^_^ (kurang spoiler apa coba gw haha...tapi teteplah tulisan gw nggak mungkin bisa mendeskripsikan eksekusi filmnya sendiri secara utuh). Dan gw jadi rada penasaran, versi adaptasi-kuadratnya aja udah begini oke dibilang jelek, gimana film sumber aslinya yah?



my score:
7,5/10


NB:

- Penerjemahnya (di bioskop) kurang oke nih, agak susah dinalar. Masa lupa bahasa Indonesianya "script" itu apa? Hmm, memang belum ada yg bisa sejago almarhum Rashid Rachman.

3 komentar:

  1. Salam kenal Aji!
    a really nice review! membawa saya lebih memahami konflik Guido lebih lanjut, kayak tujuan munculnya Guido kecil, a good interpretation!
    jujur,saya salah satu org yang beranggapan konflik cerita ini terkesan flat dan kalau bukan nelihat kesungguhan para aktor kaliber oscar bernyanyi dan berdancing, saya akan benci cerita ini
    tapi abis baca tulisan anda, akhirnya saya mulai memahami Nine :D

    BalasHapus
  2. Halo Movietard, thanks udah mampir

    Iya juga sih, saya ngerasa konfliknya juga terlalu tersirat dalam durasi yg cukup panjang, saya juga baru mulai paham di akhir film dan pas pulang dari bioksop, lama ya hehehe

    BalasHapus
  3. Yap. Senang membaca reviewmu. Sayang sekali maksudnya sang sutradara gak terlalu gampang diungkap sehingga saya malahan jadi ngantuk banget nontonnya.

    Tapi thanks ya buat ilham atas kenapa judul Nine dipakai. Tadi saya pikir Guido cewenya ada sembilan, tapi sampai ending kok cuma tujuh sampai saya menghitung-hitung ulang lagi. ^^;

    Still though, ini film ga terlalu oke buatku. Lagu-lagunya juga rada membosankan (yang mengena cuma satu dua, yang lain flat banget. ^^;)

    BalasHapus