Sabtu, 28 November 2009

[Movie] Disney's A Christmas Carol


Disney’s A Christmas Carol

(2009 – Walt Disney)

Written for the screen & Directed by Robert Zemeckis
Based on the classic story by Charles Dickens

Produced by Jack Rapke, Steve Starkey, Robert Zemeckis

Cast: Jim Carrey, Gary Oldman, Colin Firth, Robin Wright Penn, Fionnula Flanagan, Cary Elwes, Daryl Sabara



Disney’s A Christmas Carol adalah film CGI tapi mungkin kurang tepat disebut kartun atau animasi, karena gerak-gerik tokohnya dilakoni langsung oleh aktor, dan baru sedikit dipoles oleh para animator. Ini disebut teknik
motion-capture, persis dengan teknik yg dipakai oleh sang sutradara dalam karya2 sebelumnya The Polar Express dan Beowulf (inget Angelina Jolie telanjang digital? ^o^), sehingga gerakan tokoh2nya terlihat lebih riil, meski tampilan fisik digitalnya masih terlihat aneh dan agak serem. Butuh nonton 2 kali untuk gw menghargai film ini. Bukan, bukan karena film ini super bagus, tapi kali pertama nonton dalam format 3-Dimensi yg tanpa subtitel, padahal filmnya punya dialog berlogat British dan memakai pilihan kata yg “sastra Inggris”, buat gw yg kemampuan bahasa Inggrisnya tidak sedahsyat Cinta Laura, Farah Quinn atau Pandji Pragiwaksono, ternyata ini adalah ide yg kurang bijaksana. Nggak ngerti cing ^_^’. But it was fine *duh, sok bahasa Inggris deh*, pengalaman nonton Disney’s A Christmas Carol dalam 3D lebih memuaskan daripada nonton Up kemaren yg lebih mirip akuarium, saljunya kayak bener di depan mata gw dan banyak adegan2 berlaju cepat yg menarik sekali disaksikan dalam format ini (mungkin pengaruh venue, gw nonton di Blitz Megaplex yg layarnya lebih besar dan kacamata 3D nya lebih nyaman dipakai buat gw yg udah berkacamata, nice). Meski nggak ngerti2 amat, gw terpanggil untuk lebih mengerti cerita yg didaulat banyak orang sebagai kisah berlatar Natal terbaik yg pernah dibuat, makanya gw nonton lagi sehari setelah gw nonton kali pertama (lumayan, baru gajian hehe).

Ceritanya sendiri asalnya dari novel (kalo wikipedia bilangnya “novella”, novel pendek mungkin maksudnya) karya sastrawan Inggris terkenal Charles Dickens, dan film ini bertujuan menampilkan visual dan jalan cerita yg hampir persis dengan materi asalnya, bersetting sebuah kota di Inggris tahun 1800-an (kalo kata buku sejarah sekolah, ini masa2 revolusi industri). Ebenezer Scrooge (Jim Carrey) adalah seorang kreditor/rentenir tua bangka yg sudah terkenal di seluruh kota sebagai orang pelit supelit dan menyebalkan, adegan pembuka menggambarkan itu dengan sangat baik. Kisah diawali dengan kematian mitranya, Marley (Gary Oldman) pada tgl 24 Desember, malam Natal. Lalu malam Natal tujuh tahun kemudian, Scrooge masih bertahan dengan sifatnya itu. Ia menolak ajakan keponakannya, Fred (Colin Firth) untuk jamuan makan malam merayakan Natal bersama kerabat dan sahabat, menolak permohonan amal Natal dengan kata2 pedas, bahkan nggak rela kasirnya, Bob Crachit (Gary Oldman) libur pada hari Natal, malah Crachit diharuskan datang lebih awal pada tgl 26 Desember.


Sesampainya di rumah menjelang tidur, Scrooge tiba2 didatangi hantu Marley yg masih gentayangan karena terbelenggu “dosa” semasa hidupnya. Marley memperingatkan Scrooge bahwa malam Natal ini, ia akan didatangi 3 hantu Natal, agar nantinya tidak jadi seperti Marley. Benar saja, kala sedang berusaha tidur, Scrooge didatangi hantu berkepala lilin, Ghost of Christmas Past (Hantu Natal Masa Lalu: Jim Carrey juga). Scrooge dibawa melihat kembali masa lalunya, tepatnya setiap hari Natal, dari masa kecil sampai kehilangan tunangannya, Belle (Robin Wright Penn) karena hati Scrooge sudah berpindah ke yang lain: uang. Petualangan mistis Scrooge berlanjut saat didatangi Ghost of Christmas Present (Hantu Natal Masa Kini: Jim Carrey lagi), ia diajak melihat perayaan Natal yg sedang dilakukan oleh orang2 di kota, lalu mengintip kedalam rumah Crachit dan Fred, yg keduanya selama ini tidak diperlakukan baik oleh Scrooge, tapi pada jamuan Natal ini, mereka tetap membuat
toast alias doa buat Scrooge. Sudah mulai tersentuh, Scrooge didatangi hantu bisu dan menyeramkan, Ghost of Christmas Yet To Come (Hantu Natal Akan Datang: Jim Carrey lagi dan lagi), menunjukkan Natal di masa depan, orang2 kota yg Scrooge kenal membicarakan (dengan banyak sindiran) seseorang yg meninggal sendirian, termasuk penghutang yg senang rentenirnya meninggal, juga pembantu Scrooge, Ny. Dibler (Fionnula Flanagan) yg mengambil kelambu, baju, dan selimut Scrooge kepada rentenir rivalnya, serta keadaan keluarga Crachit setelah Tim kecil, putra Crachit yg memang cacat sudah meninggal karena kurang biaya pengobatan. Scrooge pun sadar bahwa orang meninggal yg dibahas orang2 kota itu adalah dirinya sendiri.

Terus terang gw baru kali ini mengetahui kisah A Christmas Carol, gw nggak pernah baca materi aslinya maupun menyaksikan adaptasi2nya. Memang makna kisah ini bagus sekali, mengingatkan kita mengapa hari raya patut dirayakan. Jalan ceritanya, setidaknya di film ini, tidaklah menggurui dan menarik untuk diikuti. Melihat Scrooge yg tadinya bisa dibilang jahat kemudian berubah menjadi orang yg hangat, ceria, dan bahkan mau berbagi menimbulkan kesan hangat sekaligus perenungan. Buat apa capek2 bikin susah hidup orang lain, kalau ternyata bisa membahagiakan hidup orang lain? Cerita yg klasik dan agak panjang kalo mau dibahas isinya (belum lagi soal latar kelas sosial, makna tersirat dari dialog2nya, juga makna filosofis hantu2 itu), tapi tetap relevan ini ditampilkan dengan baik di versi film kali ini, meski ternyata setelah nonton dengan subtitle Indonesia, dialognya ternyata masih nggak gampang dipahami (penerjemahnya agak kurang oke nih ^_^’).


Karena dari ceritanya sudah oke, aspek2 lain dari film ini pun jadi terlihat baik2 saja. Nuansa A Christmas Carol jelas lebih ceria dan lebih berwarna daripada Beowulf, dan sudah tidak sekaku The Polar Express. Plotnya sedikit lambat, tapi nggak bikin ngantuk karena sang sutradara akan langsung menyodorkan adegan2 humor atau yg mengagetkan. Soal aktornya, Jim Carrey memang nggak bisa “sembunyi”, kita pasti bakal kenal bahwa itu Jim Carrey dari pembawaannya yang memang terasa pas untuk peran2nya di film ini, begitu juga dengan Gary Oldman,
good job. Visual yg konon dibuat semirip mungkin dengan ilustrasi di novel aslinya diramu cukup enak, apalagi banyak adegan2 “terbang” dengan kesan one take-shot yg memang sengaja dibuat agar 3D nya berfungsi, menarik sekali dan seru. Tapi justru ini yg agak blunder, adegan2 ini jadi kayak dipanjang-panjangin hanya supaya ada efek 3D, misalnya adegan Scrooge dikejar2 kereta kuda dari neraka yg entah apa fungsinya dalam cerita. Dan sepertinya juga, film ini kurang “kartun” untuk ditonton anak-anak kecil yg menginginkan segala hal di layar itu lucu dan menggemaskan.

Tapi tak apalah, keseluruhan film ini bagus meskipun dibilang terbaik rasanya belum. Makna kisah ini cukup membekas untuk direnungkan. Selain tentang perubahan hidup bagi Ebenezer Scrooge, Natal atau apapun hari raya yang Anda rayakan yg hanya setahun sekali memang pantas dirayakan. Terlepas dari makna religi, hari raya mengingatkan kita bahwa ada satu hari, walau ada baiknya setiap hari, tapi
setidaknya satu hari setiap tahunnya, kita bisa berbagi dan bersukacita bersama orang2 di sekitar kita, betapapun mumetnya hidup kita di hari lainnya. It won’t hurt. God bless us everyone.



My score:
7,5/10

My J-Pop vol. 36

Yo, kembali lagi naluri pembajak gw beraksi dengan menge-burn 17 lagu2 Japanese Pop dalam CD 80 menit untuk konsumsi pribadi. Jaraknya cukup jauh dari volume sebelumnya, padahal dulu waktu jaman kuliah gw pernah ampe sebulan sekali bikinnya. Akan tetapi, karena kesibukan kerja yg menjengkelkan jadinya gw kurang punya waktu browsing2 mencari lagu2 J-Pop yg oke (udah lama nggak nonton Music Station atau Music Japan nich, lamaaa banget), dan juga disebabkan oleh, mnurut gw, rilisan J-Pop di Jepang sana lagi kurang mantep hampir setahun ini. But anyways, inilah 17 butir lagu yg berhasil gw kumpulkan yg gw rasa enak2 dan bisa direkomendasikan buat teman2 semua. Seperti biasa, kalo mau lagunya, cari sendiri ya hehehe.


NB: ada 3 lagu temanya Fullmetal Alchemist: Brotherhood. Gw nggak pernah nonton tapi theme songs anime ini dari dulu emang enak2.


My J-Pop vol. 36


01. B'z - イチブトゼンブ
Ichibu to Zenbu
02. のあのわ - ループ、ループ
Noanowa - Loop, Loop
03. 秦基博
Hata Motohiro - Halation
04. NICO Touches the Walls - ホログラム
Hologram
05. いきものがかり
Ikimonogakari - YELL
06. Superfly - 恋する瞳は美しい
Koisuru Hitomi wa Utsukushii
07. Do As Infinity - ナイター
Nighter
08. スキマスイッチ - ゴールデンタイムラバー
Sukima Switch - Golden Time Lover
09. Tiara - さよならをキミに... feat. Spontania
Sayonara wo Kimi ni...feat. Spontania
10. ステレオポニー - ツキアカリのミチシルベ
Stereo Pony - Tsuki-akari no Michishirube
11. 福原美穂
Miho Fukuhara - LET IT OUT
12. 平井堅 - 僕は君に恋をする
Ken Hirai - Boku wa Kini no Koi wo suru
13. B'z - MY LONELY TOWN

14. 冨田ラボ - パラレル feat. 秦基博
Tomita Lab - Parallel feat. Hata Motohiro
15. MONKEY MAJIK - 虹色の魚
  Niji-iro no Sakana
16. 多和田えみ - 時の空
Emi Tawata - Toki no Sora
17. Chicago Poodle - さよならベイベー
Sayonara Baby



Rabu, 25 November 2009

5 Reaksi Tanda Film Tidak Bagus

Berdasarkan penelitian terhadap diri sendiri (hehehe), gw mencatat beberapa reaksi saat nonton film yg menandakan gw nggak suka dengan film yg sedang ditonton. Ini bukan masalah film yg bagus seperti apa dan yg jelek seperti apa, tapi lebih kepada reaksi dari diri sendiri yg kadang tanpa sadar terjadi begitu saja. Mungkin juga ini terjadi pada Anda, tapi karena penilaian bagus tidaknya karya seni adalah hal yg sangat subjektif, sangat mungkin reaksi yg sama juga muncul tapi terhadap film yg berbeda. Here they are...


1. Bingung


Ini adalah reaksi paling subjektif, tapi gw pikir hampir semua orang punya prinsip yg sama: kalo saya nggak ngerti berarti filmnya jelek. Ini mungkin semacam pembelaan karena nggak mau dibilang kitanya yg bodoh ^o^. Tapi gw rasa ini nggak salah. Tingkat penalaran orang berbeda2 bukan? Berlagak sok pinter pun nggak ada gunanya, nggak ngerti ya nggak ngerti aja, emang lagi nggak jodoh. Contohnya, nggak sedikit orang yg memahami film2nya Garin Nugroho, semisal Under The Tree, maka mereka bilang filmnya bagus, tapi gw nggak termasuk golongan itu, jadi gw bilang film ini kurang oke. Kenapa? Ya karena gw nggak ngerti. Dan setelah nonton pun gw nggak berniat untuk mengerti lebih jauh (Hal yg sama juga terjadi setelah gw nonton The Golden Compass, Banyu Biru, The End of Evangelion, Transformers 2, dsb). Jika "bingung" terdengar terlalu abstrak, maka reaksi konkritnya mungkin antara lain: nggak inget nama tokoh2nya, nggak bisa menceritakan ulang isi filmnya kepada orang lain dengan jelas, malah mungkin langsung lupa ceritanya gimana, nggak mau nonton lagi, dst. Tapi sekali lagi, tingkat penalaran setiap orang berbeda-beda, jadi reaksi "bingung" bukanlah pertanda absolut kualitas sebuah film.



2. Bisa tebak jalan cerita


Ini kebalikan ekstrim dari bingung. Mungkin ada orang yg oke2 saja dengan jalan cerita standar (misalnya penggemar komedi romantis atau film bencana), tapi, bagi gw, dan tanpa bermaksud sombong, cerita yg mudah ditebak bukanlah tanda sebuah film yang bagus (makanya gw gak pernah nonton film horor Indonesia lagi). Mungkin bukan masalah "apa yg akan terjadi" tapi bisa juga "bagaimana caranya terjadi". Kalo terjadi benar seperti yg gw tebak, brarti gw lebih jago dong daripada pembuat filmnya, that's not fun. Tapi, bukan berarti gw orang yg banyak cingcong dengan mengumandangkan "ini nanti pasti begini trus begini deh," keras-keras. Paling gw cuman bilang "duh" atau "halah" atau "oke deh" atau pura2 ngorok sambil roll eyes. Contoh teranyar: 2012, go figure.



3. Komentar


Kecuali Anda adalah orang nggak tau diri yg hobi nyerocos sepanjang waktu termasuk di dalam studio bioskop (aduh pernah banget tuh ketemu yg kayak gitu, bikin jengkel), berkomentar banyak bahkan cenderung ngobrol sama teman di sebelah saat film sedang diputar adalah bentuk penolakan dari ide2 yg disampaikan oleh film, not a good sign. Mulai dari sekedar "aduh", "apaan sich?" dengan tawa melecehkan, sampai "ya nggak gitu juga kalee!" atau mungkin "harusnya kan blablablabla, ini kok blablabla, bego deh..." dsb yg notabene bukanlah reaksi yg diharapkan oleh si empunya film, adalah tanda2 jelas bahwa filmnya gagal menyentuh simpati gw untuk menyukainya. Gw jarang sih melakukan ini, tapi pernah: Transformers 2, go figure.



4. Mengantuk


Ini juga salah satu reaksi yg jadi prinsip banyak orang: kalo saya tidur, brarti filmnya jelek. Lagi2, itu juga nggak salah, malah sangat alamiah. Gw pun demikian, kalo misalnya gw nguap lebih dari satu kali, bahkan sempet "hilang kesadaran", berarti filmnya gagal menarik dan menjaga perhatian gw, atau dalam bahasa gampangnya: membosankan. Kalo emang kecapekan? Tetep aja, berarti filmnya tidak berhasil membangunkan gw dari kelelahan. Untuk reaksi yg ini seringnya sih kalo gw nonton di VCD/DVD di rumah (mungkin karena hawa rumah yg terlalu santai kali ya). Kalo gw mulai ngantuk, gw akan pause, dan akan resume lagi setelah 1 jam, 1 hari, 1 minggu (!) atau malah nggak lanjut sama sekali . Gw jarang sih sampe tidur bener2 kalo di bioskop, karena reaksi gw yg paling sering waktu nonton di bioskop adalah reaksi no.5...



5. Lihat Jam


Kalo cuman cek jam 1 kali, itu sih masih biasa bagi gw. Lebih dari itu, artinya kegagalan sebuah film menarik dan melarutkan gw dalam dunianya, sehingga terasa "hadoh, filmnya kok ndak bar bar yah" karena timbul perasaan ada-hal-yg-lebih-penting-yg-bisa-dilakukan-ketimbang-menonton-film yg bersangkutan, misalnya makan atau keluar cepat2 supaya bayar parkir-nya nggak terlalu mahal. Mungkin istilahnya, nggak captivating, gw sebenernya nggak rela waktu gw diambil untuk nonton film tsb, dan biasanya gw udah nggak peduli lagi filmnya mau sampe mana, jauh lebih bagus kalo sudah selesai. Ini mungkin jadi pertanda krusial bagi gw. Biasanya reaksi ini muncul pada film2 yg pada akhirnya gw kasih nilai di bawah 5/10. Versi lain dari reaksi ini adalah main handphone, berawal dari sekedar liat jam eh malah keterusan jadinya twitter-an deh haha.





Demikianlah 5 patokan gw untuk "memutuskan" sebuah film yg nggak bagus ^o^. Apa tanda versi teman2 dalam menilai film yang nggak bagus? Please due share...

Sabtu, 21 November 2009

[Movie] 2012 (2009)


2012
(2009 - Columbia)


Directed by Roland Emmerich

Written by Roland Emmerich & Harald Kloser

Produced by Roland Emmerich, Harald Kloser, Larry J. Franco

Cast: John Cusack, Chiwetel Ejiofor, Amanda Peet, Thandie Newton, Danny Glover, Oliver Platt, Woody Harrelson.



Mari gw awali ulasan ini dengan deklarasi: meributkan, membuat kontroversi, malah melarang-larang pemutaran film 2012 adalah tindakan BODOH, TOLOL, IDIOT, MALAS BERPIKIR, BERPIKIRAN SEMPIT, TIDAK BERPENDIDIKAN, KAMPUNGAN, TIDAK BERDASAR, NORAK, dan KURANG KERJAAN!! Ya, itu juga berlaku bagi Andi Soraya, Ayu Azhari, pimpinan2 MUI daerah yg ketahuan sekali hanya ingin namanya dicetak di koran atau sekedar ingin merasa berkuasa, dan tentu saja biang keladi dari semua ini: INFOTAINMENT. Well, semua orang juga kayaknya udah tau sich kalo wartawan infotainment adalah profesi paling kurang kerjaan di muka bumi, apalagi editornya yg mengangkat hal ini jadi berita, udah kurang kerjaan, norak, IQ-nya tiarap lagi kalo nggak mau disebut idiot (bagi gw merekalah sumber bencana yg sesungguhnya). Jika film ini memang menyesatkan, maka menyesatkan juga perlu disematkan kepada Transformers, Harry Potter, Ayat-Ayat Cinta (masa orang Mesir ngomongnya bahasa Indonesia semua) dan sinetron Lorong Waktu (hei, tidak ada seroang pun yg bisa memutar balik waktu, oke?). Asal tau saja, ini bukan film soal kiamat, tapi bencana besar. Siapa bilang kiamat 2012 itu ramalan suku Maya? Suku Maya hanya menamatkan kalendernya di 2012 (malah peradaban mereka udah punah jauh sebelum itu), dan setelah itu akan ada periode baru di bumi ini, tinggal diulang lagi, cuma gitu kok repot. Justru si bule2 kurang kerjaan itu yg menyebut dirinya “scientist” yg mengulirkan teori bahwa akan ada aktivitas matahari yg akan menghancurkan bumi. Dan tau apa tanggapan “scientist betulan” dari NASA?
It’s bullshit. There you go. Case closed!

Tapi tetap saja, gara2 orang2 infotainment yg kurang kerjaan dan idiot itu, gw susah dapet tiket untuk nonton 2012 dan baru bisa nonton baru2 ini (gw nonton film karena itu hobi gw, bukan karena buzz nya,
but I guess no one would care), beli tiket pas jam makan siang untuk nonton sepulang kantor sore2. Setelah akhirnya nonton, ternyata ketololan dan keidiotan tidak hanya melanda para wartawan dan editor infotainment, tapi juga justru dari pembuat film 2012 sendiri dan….penonton yg udah antre capek2. We’re struggling our way to the box office just for this?

Jadi ceritanya, tahun 2009 matahari mulai mengeluarkan gelombang yang mendidihkan inti bumi (anehnya malah bukan permukaan bumi. Ketololan pertama). Ini membuat kerak bumi akan mengalami pergeseran dan perubahan yg drastis. Mendapat laporan ini, negara2 besar di dunia membuat suatu proyek di pegunungan Himalaya, yg hanya bisa kita lihat di akhir film. Rupanya, bumi udah mulai “berubah” lebih cepat, di tahun 2012. Mulai terjadi tanah pecah dengan ukuran besar lalu pelan2 tenggelam ke laut, gunung meletus nggak wajar, dan tsunami besar-besaran yg pada akhirnya, seperti dalam posternya, sampe aja gitu di Himalaya (yg gw pertanyakan bagaimana bisa. Ketololan kedua). Jualan film 2012 cuman itu, dengan visual efek yg memang bagus sekali, tidak memusingkan dan seperti kata Roger Ebert, memberi kita kesempatan untuk melihat dan menghargai teknik visual efeknya. Gw pribadi suka adegan kapal pesiar terbalik. Nah, supaya adegan2 fantastis itu bisa terlihat, maka perlu ada cerita di tempat2 kejadiannya. Kita diperkenalkan pada tokoh2 mulai dari para ilmuwan (Chiwetel Ejiofor, Jimi Mistry), pemerintahan (Oliver Platt, Danny Glover yg jadi presiden AS, Thandie Newton), dan yg gak berhubungan banget, wakil dari rakyat biasa (John Cusack, Amanda Peet dan anak2nya). Intinya adalah mereka berusaha selamat dan sampai di “bahtera” keselamatan di Himalaya itu. Dan dalam tradisi Independence Day, The Day After Tomorrow, Deep Impact dan pokoknya film2 Hollywood, tentu saja tokoh2 “kesayangan” kita selamat, tinggal nikmati saja bagaimana caranya mereka selamat.
See? Bukan kiamat toh?

Kenapa gw bilang tokoh2 “kesayangan”? Karena film ini punya porsi penokohan yg lumayan membuat ikatan dengan penonton. Kita seneng sama yg ini, kesal sama yg lain.
And it worked. Fragmen2 hubungan antar manusia yg bertebaran di tengah2 peristiwa maut cukup membuat gw tersentuh. Itu dan visual efek adalah nilai plus dari 2012. Sayangnya, nilai plusnya cuman itu. Sisanya adalah adegan2 serba kebetulan dan bo’ong banget yg diulang-ulang. Maksud gw adalah, bagaimana keluarganya John Cusack selalu menemukan jalan untuk lolos dari “kejaran” gempa atau gunung meletus, dan bagaimana ada aja hal2 kecil yg sengaja dibuat mepet (nyari peta, manggil anjing, mobil dan pesawat nggak nyala, pintu kejepit dsb) hanya supaya penonton merasakan ketegangan. Adegan2 itu sangatlah bodoh dan film banget, tapi sialnya memang berhasil membuat tegang (ketololan ketiga). Oh ya, kayaknya ketegangan juga sedikit dipengaruhi penggunaan kamera digital sepanjang film, entah emang supaya ada efek riil, atau cuman untuk menghemat biaya syuting, hehe. Film ini juga menyimpan dilema moral mengenai siapa yg pantas untuk masuk ke “bahtera”, kenapa dia bisa dan yg lain nggak, tapi sekali lagi film ini tidak mau menjual itu.

Nah, kalo sudah tau film ini mau menjual apa, dan ternyata yg kita dapatkan sesuai dengan yg diiklankan, apakah berarti film ini gagal? Sayangnya, tidak. Anda ingin film bencana, visual efek besar, tokoh2 yg mengundang simpati, dan adegan2
thrilling? You got it. Walaupun sangat biasa dan bodoh secara ilmiah, tapi itu yg Anda harapkan, dan film ini memenuhinya. Tidak lebih jelek daripada yg diiklankan (bukan kontroversi idiotnya ya), dan juga tidak lebih bagus, ya segitu-segitu aja. Jadi kesimpulan gw, film ini bodoh sekaligus berhasil. What you see is what you get, and that’s okay. Kalo yg di luar dugaan sekaligus tidak bodoh, tontonlah Knowing, karena mnurut gw, endingnya lebih “benar”. Kalaupun memang akhirnya film ini ditarik, mungkin pilihan selanjutnya: Hantu Binal Jembatan Semanggi…wow, “binal”…, mungkin ini juga film kiamat dalam segi kreativitas membuat judul.



My score
6/10


NB: Gw menemukan sesuatu yg lucu di berita detkHot.com, ada wawancara telepon dengan seseorang dari MUI, katanya ada dugaan penodaan agama dalam 2012 karena ada penghancuran bagunan seperti masjid. Padahal “bangunan seperti masjid” itu ternyata adalah kubah GEREJA St. Peter’s Basilica di Vatikan. Jangan2 dia pikir gedung DPR/MPR dan Balai Sarbini itu masjid juga lagi. Dan kita masih betanya-tanya kenapa bangsa kita nggak maju-maju…

[Album] GReeeeN - Shio,Koshou


GReeeeN - 塩、コショウ
Shio,Koshou
(2009 – Nayutawave/ Universal Music Japan)

1. 光 Hikari
2. 口笛
Kuchibue
3. 遥か
Haruka
4. 歩み
Ayumi
5. いつまでも
Itsu Made mo
6. 旅人
Tabibito
7. ハレルヤ!!!!
Hallelujah!!!
8. STORY
9. 刹那
Setsuna
10. 冬のある日の唄
Fuyu no Aru Hi no Uta
11. 扉
Tobira
12. 空への手紙
Sora e no Tegami
13. 父母唄
Fubo Uta
14. 髭、コソウ
Hige, Kosou (Secret Track)


GReeeeN sekali lagi membuat gw kagum. Sebuah group vokal yg suaranya tidak terlalu enak didengar dan bahkan muka2nya sampai sekarang belum ketahuan seperti apa, tapi dengan mulus dan sukses menjual album2 mereka dengan jumlah yg nggak main2. Kuartet yg terdiri dari sarjana kedokteran gigi ini sukses hanya dengan resep klasik: lagu-lagu enak. Di Indonesia mana bisa begitu? Gabungan pop, hip-hop, rap, reggae, rock dan dance serta lirik yg mudah diterima rupanya formula yg ampuh untuk membawa karya2 mereka senantiasa laris. Album debut mereka tahun 2007 A', Domo. Hajimemashite ("Oh, halo. Salam kenal." ^_^) yg gw suka sekali sukses terjual setengah jutaan keping. Album kedua A', Domo. Hisashiburi desu. ("Oh, halo.
Lama tak jumpa." ^0^) yg gw gak terlalu suka, ternyata meledak hingga hampir dua kali jumlah album pertama. Album ketiga pun masih sanggup menyamai prestasi album kedua mereka, dan untungnya lagi, gw menyukai album ketiga GReeeeN ini (idih, siapa gw?).

Shio, Koshou ("Garam, Lada"...ampun deh judul album macam apa ini? ^.^') merangkum cukup banyak lagu (13, track 14 gak gw anggep lagu, cuman teriak2 doang) dan untungnya daya tarik nada2
catchy dan beat2 menyenangkan ala GReeeeN masih kental. Jika dibanding dengan album pertama, album ini cenderung lebih kalem. Kalo dibandingin album kedua (yg memuat superhit "Kiseki") yg menurut penilaian gw terlalu beban sehingga kurang menghibur, gw bilang album ini lebih enjoyable, antara yg irama nya cepet, medium, dan slow porsinya pas. Sebenernya nggak ada sesuatu yg baru yg ditawarkan di album ketiga ini, tapi gimana ya, lagunya enak2 sih. Gw gak bisa menjelaskan dengan deskriptif jelas bagaimana musik GReeeeN ini, tapi yg pasti melodi2nya akan mudah diterima oleh kuping siapapun.

Lagu2 yg gw suka antara lain single2 “Ayumi”, “Setsuna”, “Tobira”, lalu lagu2 baru seperti
“Kuchibue” (my most favorite track of the album), “Itsu Made mo”, “Hallelujah!!”, “Fuyu no Aru Hi no Uta”, “Sora e no Tegami”, dan lagu manis untuk ayah-ibu “Fubo Uta”, tapi bukan berarti lagu2 lain nggak bagus. Semuanya terpadu dengan cukup mulus. Gw merasakan sesuatu yg hilang di album kedua ada di Shio,Koshou, yaitu perasaan malas mengskip lagu. Singkatnya, dari pop ballad sampai disco reggae yg mantap, album ini menawarkan warna yg solid dan nyaman didengar dimanapun dan kapanpun (cieileeh...nggak sih, nggak selebay itu).

Karena kadung udah mendengarkan 2 album mereka sebelumnya, mau nggak mau lama2 kesan pengulangan muncul juga. Nada2nya mulai keliatan “ke situ-situ aja”. Tapi untungnya GReeeeN
masih pintar meramu musik mereka sehingga tidak terlalu membosankan. Begitu pintar sampe gw gak mau tau arti liriknya, nggak musingin sembernya vokal2 mereka, bahkan udah nggak peduli lagi sama kepenasaranan bagaimana tampang asli mereka. Lagunya enak2. Titik. Itu sangat cukup untuk membuat album ini layak didengarkan dari awal hingga akhir. Tidak seimpresif album pertama, tapi kualitasnya nggak jauh kok dari situ.


My score:
7,5/10



GReeeeN


Previews

Ayumi


Setsuna


Haruka



Jumat, 20 November 2009

[Album] Superfly - Box Emotions




Superfly - Box Emotions
(2009 - Warner Music Japan)


Tracklist:
01 Alright!!
02 How Do I Survive?

03 Searching
04 My Best Of My Life

05 恋する瞳は美しい
Koisuru Hitomi wa Utsukushii
06 やさしい気持ちで Yasashii Kimochi de
07 Bad Girl
08 アイデンティティの行方 Identity no Yukue
09 誕生 Tanjou
10 See You

11 春のまぼろし
Haru no Maboroshi
12 Hanky Panky

13 愛に抱かれて Ai ni Dakarete


Superfly adalah nama proyek musik asal Jepang bernuansa pop, rock n roll, soul tahun 60-70an. Tadinya anggotanya ada 2, tapi sejak single ke-3 mereka pada tahun 2007 hingga sekarang "anggota tetap"-nya cuman sang vokalis manis, Shiho Ochi. Yg satunya lagi, gitaris Koichi Tabo hanya di belakang layar bersama musisi pendukung lainnya.


Tahun 2008 ketika gw masih sangat "aktif di dunia per-J-Pop-an" sebagai seorang pendengar, bagi gw Superfly adalah artis/penyanyi/band/apapun
yg sangat menjanjikan. Lagu bagus, musik asik, dan vokal yg bisa lembut enak dan kuat lancar secara bersamaan, yg gak gw sangka bisa ditemukan dalam diri seseorang yg berkewarganegaraan Jepang. Album debut self-titled nya pun gw kasih full 5 bintang (jaman friendster gw masih pake bintang) karena sangat, sangat enjoyable. Untungnya konsumen Jepang pun kira2 sependapat sehingga album Superfly itu sempet 2 minggu nangkring di puncak ranking album Oricon maupun Billboard Japan. Kecenderungannya adalah, kalo karya terdahulunya sukses dan disukai, maka karya selanjutnya, bagaimanapun kualitasnya, pasti akan sukses juga. Memang benar, album Box Emotions pun bisa dapet no. 1 di ranking mingguan, tapi sepertinya belum bisa menyamai album pertamanya yg nyaris sempurna itu.


Formulanya hampir mirip dengan album pertamanya. Ada 13
track yg berusaha menjadi mesin waktu ke era flower generation, hentakan drum dan distorsi gitar rock pun digelar tanpa malu-malu sebagai pendukung tembakan suara Shiho dalam lagu2 yg umumnya berirama cepat. It's not bad actually. Tapi setelah mendengar album ini beberapa kali sampe abis, gw ngerasa Superfly dalam Box Emotions terlalu emosi. Setiap lagunya masih terbilang enak2, tapi itu kalau didengar satu per satu secara lepas, bukan berkelanjutan. Baik instrumen maupun vokalnya terlalu digeber dengan tensi tinggi, beat-beatnya hampir seragam. Ini mungkin akan terasa exciting dalam konser, tapi dalam sebuah album rekaman, rasanya jadi repetitif. Jika dibandingkan dengan album pertama yg lagu2nya lebih berkarakter, lagu2 di Box Emotions sulit dikenali yg satu dari yg lain. Jadi mungkin permasalahan terletak di urutan lagu...mungkin. Gw hanya bisa menikmati bener 5 lagu pertama dan 3 lagu terakhir, karena susunannya enak.

Sekali lagi, lagu2 dalam Box Emotions sebenernya enak2.
Yg gw suka terutama single "My Best of My Life" yg nuansanya mirip "Ai wo Komete Hanataba wo" di album pertama, lalu "How Do I Survive?" yg hentakannya asik, "Koisuru Hitomi wa Utsukushii" yg bisa buat disko, "Haru no Maboroshi" yg tempo nya agak tenang, "Hanky Panky" yg exciting, dan lagu slow ballad "Ai ni Dakarete" dimana range vokal Shiho dipamerkan dengan anggunnya. Sisanya adalah lagu2 yg seperti gw gambarkan sebelumnya, bagus2 tapi agak ngotot.

Jadi kesimpulannya, Superfly sebagai artis masih menjanjikan, tapi sayang Box Emotions kurang berhasil membuat gw terhibur tuntas.



my score
7/10



Superfly


Previews

How Do I Survive?



My Best of My Life (live in Fuji TV's "our music 6")..love it



Alright!!


Koisuru Hitomi wa Utsukushii


Yasashii Kimochi de





Minggu, 08 November 2009

[Movie] This Is It (2009)


This Is It
(2009 - Columbia Pictures)

Directed by Kenny Ortega
Produced by Paul Gongeware, Randy Philips, Kenny Ortega
Featuring: Michael Jackson, the crew, the band, the dancers, the background vocalists etc.



Gw gak pernah review film dokumenter (karena emang jarang banget nonton, terakhir Farenheit 9/11), apalagi film pertunjukan alias konser. Michael Jackson's This Is It adalah gabungan keduanya. Ia dokumenter yg memberi informasi mengenai tur konser
comeback Michael Jackson yg sedianya dimulai di London bulan Juli 2009, semacam behind-the-scene lah. Ia juga sekaligus konser yg difilmkan, dan gw menikmatinya sebagaimana gw menikmati setiap menyaksikan DVD konser band favorit gw ASIAN KUNG-FU GENERATION atau Linkin Park....hanya saja This Is It minus penonton di venuenya, karena semua performance direkam di sesi latihan untuk tur This Is It yg batal digelar itu—bagi yg nggak ngeh, Michael Jackson udah keburu meninggal 25 Juni 2009, udah mepet banget padahal sama jadwal turnya.

Sekadar latar belakang, gw bukanlah macam orang yg akan teriak2 "I love you, Michael!!" sambil nangis2 (lalu dibalas dengan suara lembut MJ: "I love you more." ^_^') setiap MJ tampil, apalagi sampe meniru gaya2nya. Michael Jackson memang terkenal banget, buanget selama beberapa dekade dengan mungkin jutaan penggemar fanatik, saking terkenalnya banyak yg familiar sama
gimmick2 khasnya (contoh: "I-hi!"), sampe sering gw denger rumor kalo dia pake kuasa setan atau apapun itu, konyol. Gw cuman suka Michael Jackson sebagaimana gw suka musisi2 lainnya yaitu karena karyanya, tapi gw akan selalu kepincut ketika nonton performa MJ, entah kenapa. Dalam This Is It, gw dipuaskan dengan MJ membawakan beberapa hits favorit seperti "Billie Jean", "Smooth Criminal", "Black or White", "Beat It", "They Don't Care About Us", "I Just Can't Stop Loving You" dan my personal favourite "Man In The Mirror"—tapi cuman bentar, dan beberapa lagu lainnya ("Thriller"? ada dong, rencananya pake 3D lagi!) dan tak ketinggalan koreografi yg bikin geleng2 kepala...semuanya ditampilkan masih dalam tahap latihan dan sound-check, dirangkai juga dengan pemaparan konsep (dalam sketsa animasi komputer), proses kreatif, styuting film2 pendukung pertunjukan yg keren abis, audisi dancer, kesaksian orang2 tentang bekerja sama dengan MJ, pokoknya persiapan2 apa yg akan ditampilkan di panggung untuk setiap lagu, plus pake ada salah2 lagi karena kadang MJ merasa ada yg kurang pas sehingga harus diulang ("this is why we do practice" hahaha), bahkan diana lupa loh lirik lagu "I Want You Back".

Tapi apa kesan yg bisa ditangkap dari sekedar dokumentasi latihan2?
Truthfully, sebagus sebuah konser betulan (mungkin juga didukung gw nonton di baris kedua dari paling depan hahaha). Hei, ini Michael Jackson, the King of Pop, panutan hampir semua artis top dari Justin Timberlake sampe Agnes Monica (atau Ressa Herlambang ??) sampe Rain. Ini yg original! Di usia yg paruh baya (nggak keliatan sih, thanks to those nip/tuck things. Tapi tetep gw berpikir "aduh plis jangan close-up ke mukanya"..sereum euy), MJ masih punya energi dan tampak siap untuk menghibur penggemarnya. Kita bisa melihat kesungguhan hati MJ untuk memberikan yg terbaik bagi separuh penduduk bumi ini yg udah kangen sama penampilannya-nya setelah sekian taun untuk alasan yg hanya dia dan Tuhan yg tau absen melakukan apapun sebagai seorang artis. Mulai dari aransemen musik, koreografi sampe efek2 panggung, MJ ingin semuanya terbaik dan sesuai dengan yg ingin disaksikan fans (dan "do it with love. L-O-V-E, love. God bless you" hoho). Alhasil, meski baru latihan dan eksekusi konsepnya belum 100%, fellas, I enjoyed it very much. Untungnya, konser ini tanpa gemuruh penonton sehingga kita bisa menikmati performa MJ secara tenang, tapi sebagai gantinya yg terjadi adalah penonton di bioskoplah yg tepuk tangan beberapa kali setiap lagu usai, termasuk gw! (ini beneran loh), malah mungkin ikutan nyanyi.

Gw membaca dan mendengar pendapat bahwa film ini "orang yg bukan penggemar MJ mungkin nggak suka." Buat gw itu nggak sepenuhnya benar. Mungkin lebih tepatnya "orang yg bukan penggemar MJ akan mengerti mengapa dia adalah
entertainer (bukan "entertain" ya, tapi "entertainer") yg paling dikenal dan digandrungi di seluruh dunia" melalui film ini, karena gw yakin sebagaimana ia bisa menggalang penggemar di setiap benua, MJ juga pasti bisa menyihir orang2 "awam" lainnya. Meski Michael Jackson's This Is It bukan konser yg sesungguhnya, he was still awesome, gimana coba kalo konsernya bener2 jadi. Silakan telan pemberitaan aneh2 mengenai dia di media (yg memang aneh), tapi sebagai seorang artis, Michael Jackson adalah Michael Jackson yg takkan terganti. Btw, nonton beginian di bioskop asik juga ternyata.


my score
8/10


NB: "Setlist" di film This Is It dari Wikipedia: (nggak sebanyak ini sich, ada yg nggak satu lagu penuh)


1. "Wanna Be Startin' Somethin'"

2. "Speechless"

3. "Bad"

4. "Smooth Criminal

5. "The Way You Make Me Feel

6. "Jam (with snippet of Another Part Of Me)"

7. "Mind Is The Magic"

8. "They Don't Care About Us" (with snippets of "HIStory", "She Drives Me Wild" "Why You Wanna Trip On Me and Bad")

9."Human Nature"

10. "I Want You Back"

11. "The Love You Save"

12. "I'll Be There"

13. "Shake Your Body (Down to the Ground)"

14. "I Just Can't Stop Loving You"

15. "Thriller" (with snippets of "Ghosts" and "Threatened")

16. "Who Is It"

17. "Beat It"

18. "Black Or White"

19. "Earth Song"

20. "Billie Jean"

21. "Man In The Mirror"

22. "This Is It" (played during the credits)

23. "Heal The World" (live audio played during the credits)

Minggu, 01 November 2009

[Movie] 9 (2009)


9
(2009 - Focus Features)

Directed by Shane Acker

Screenplay by Pamela Pettler

Story by Shane Acker

Produced by Tim Burton, Timur Bekmambetov, Jim Lenley, Dana Ginsburg, Jinko Gotoh

Cast: Elijah Wood, Christopher Plummer, Jennifer Connelly, John C. Reilly, Martin Landau, Crispin Glover



Focus Features adalah studio yg selama ini mengedarkan film2 yg disebut-sebut "arthouse", "sidestream" atau istilah gampangnya: mudah dijauhi orang, misalnya Lost In Translation,The Pianist dan Eternal Sunshine Of The Spotless Mind. Pokoknya yg temanya beda dan cenderung tidak populer meskipun secara mutu rata2 jauh dari memalukan. Kecenderungan ini pun masih kerasa ketika Focus masuk ke bidang animasi. Awal tahun ini mereka nelurin Coraline yg memang bagus kualitasnya, dan kali ini 9 (baca: nine, tapi kalo mau bilang songo atau salapan ya terserah sih), film animasi CGI hadir dengan tema yg sama gelapnya serta sama-sama bukan tontonan anak2.


9 adalah versi panjang dari film animasi pendek nomine Oscar berjudul sama. Kisahnya tentang seorang (?) boneka karung kecil bernomor punggung 9 (Elijah Wood) yg terbangun di sebuah laboratorium ketika manusia sudah tidak ada lagi, kiamat. Dengan rasa penasaran, 9 menjelajah kota yg sudah porak-poranda, lalu dia bertemu dengan makhluk seperti dirinya, bernomor punggung 2 (Martin Landau). Dengan demikian, 9 tahu bahwa di tidak sendirian. Tapi tiba2 datang makhluk robot berbentuk tengkorak anjing yg menyerang mereka, dan kemudian berhasil menangkap 2. 9 kemudian diselamatkan oleh 5 (John C. Reilly) di sebuah gereja, dimana dia bertemu yang lainnya, termasuk yang jadi pemimpin, 1 (Christopher Plummer). Di sanalah 9 tahu bahwa boneka2 karung ini ada sembilan biji, namun ada juga yg terpencar-pencar. 9 pun gerah pada kenyataan bahwa 1 tidak berniat menyelamatkan 2, padahal dia teman mereka (karena memang 2 dibawa ke tempat yg berbahaya). Tanpa menunggu terlalu lama, 9 pun nekad mengajak 5 untuk pergi ketempat 2 ditangkap. Mereka berhasil dengan usaha mengalahkan si robot tengkorak dengan bantuan si jagoan 7 (Jennifer Connelly). Namun, 9 yg ternyata membawa sebuah benda penting (semacam batere), menemukan tempat yg pas untuk memasang benda itu, karena penasaran, dipasang deh...tanpa disangka, 9 telah membangunkan sebuah mesin besar nan hebat, yg bisa membuat mesin2 lainnya, bahkan menyerap nyawa 2 sehingga tubuh bonekanya tidak hidup lagi. 9, 5 dan 7 berhasil menyelamatkan diri, mencari tahu apa sebenarnya mesin itu, dan meyakinkan rekan2 yg lain untuk bisa menghentikan mesin itu. Masalahnya, kesembilan boneka ini tidaklah akur, apalagi 1 yg lebih memilih menghindar, dan lagipula, mesin supercerdas itu mengincar setiap nyawa boneka karung itu dengan berbagai cara. Buat apa gerangan? Dan pertanyaan yg lebih besar, kok bisa ada boneka2 karung yg bisa jalan2 dan ngomong?


Technically
, langsung aja gw bilang, film 9 punya konsep visual yg original. Meski suram dan dunianya luluh lantak, tapi semuanya bagus aja diliat dan berbeda dari yg pernah ada. Dihiasi adegan2 action yg cukup seru, sound yg oke, dan terutama animasi yg mantep. Dari segi tema memang sama dengan Terminator atau The Matrix, tentang manusia yg kalah dikuasai mesin ciptaannya sendiri, bedanya tidak ada makhluk manusia di sini. Film ini berhasil membangun karakater2 yg mudah dikenali (selain desain yg unik2), terutama karena sifat2 1 sampe 9 berbeda satu sama lain. 9 adalah yg paling muda, paling berani, dan paling inisiatif dalam bertindak, bertolak belakang dengan 1 yg merasa sebagai pemimpin, berpengalaman, sangat hati2 dan cenderung keras kepala. 2 adalah semacam ilmuwan dengan semangat seperti 9 versi tua, lalu 5 adalah seorang penolong dan cenderung bersikap ragu2, 6 agak mistis dan berada di dunianya sendiri, 7 yg punya skill fisik tinggi dan nggak neko-neko, kemudian ada 8 yg bertubuh tinggi besar tapi kayaknya otaknya kecil banget. Mnurut gw sih yg paling lucu si kembar peneliti bisu, 3 dan 4, setiap kemunculan mereka bikin sedikit seger setelah sepanjang film suasananya redup selalu. Jalan ceritanya mudah diikuti, memanfaatkan waktu kira2 80 menit saja dengan baik, awalnya agak lambat tapi lama2 cukup exciting kok, dan ketika kita kira ceritanya udah bakal kelar, ternyata masih ada lagi. 9 sebenarnya punya bekal lengkap sebagai film yg baik.

Ceritanya sendiri agak berat di balik plot
good vs evil dan karakter menarik di permukaan. Dialognya terbilang sedikit, sedikit tapi berat. Tadinya sih gw gak ngeh, tapi temen gw yg nonton bareng malah langsung merasa nonton film ini kayak belajar filsafat terutama kepada bagaimana manusia (atau apapun itu) punya rasa keingintahuan begitu besar, bahkan ingin menyamai penciptanya, hingga pada akhirnya membawa malapetaka. Hmm, buat gw bagian ini agak tersembunyi, nggak sejelas film2 Pixar misalnya. Well, mungkin gw harus nonton lagi karena memang gw kurang peka sama hal2 begituan kalo cuman nonton sekali. Tapi memang banyak yg bisa digali dari film ini, mungkin termasuk soal nilai tanggung jawab dan pengorbanan. Yg justru gw langsung tanggap adalah mengenai jati diri kesembilan boneka ini. Akan sangat spoiler kalo gw beberkan di sini, tapi intinya ada hubungannya dengan "purpose of life". Awalnya 9 nggak tau apa2, lalu ke level ceroboh, kemudian belajar untuk jadi lebih bijak, dan akhirnya, menemukan pencerahan. Know who you are and you'll know what to do. Mantap.

Secara keseluruhan 9 adalah film yg menarik dan sebenarnya tidak membosankan. Hanya saja nilai
entertainment nya nggak terlalu muncul akibat mood-nya yg memang kelam (dan serius), humornya minim, bahkan keterikatan emosi dengan penonton (gw) pun kayaknya nggak terlalu berasa. Apakah film ini wajib tonton? Hmm, bisa dibilang sangat nggak rugi kalo nonton, tapi nggak nonton pun no problem sih. Yang jelas, animasi dan karakterisasi nya pantas ditengok.


My score:
7/10