Sabtu, 31 Oktober 2009

[Movie] Ruma Maida (2009)


Ruma Maida

(2009 - Lamp Pictures/Karuna Pictures)


Directed by Teddy Soeriaatmadja

Written by Ayu Utami

Produced by Doddy M. Husna

Cast: Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Frans Tumbuan, Hengky Solaeman, Davina Veronica Hariadi, Nino Fernandez, Imelda Soraya, Verdy Solaiman, Wulan Guritno


Film Ruma Maida adalah film nasional yg entah pake pelet apa, seakan-akan memanggil gw bagaikan patung kucing pemanggil di toko2 emas untuk menontonnya dengan tidak berat hati. Faktor poster yg bagus dan ide yg menarik dan berbeda mungkin jadi pertimbangan awal. Lalu ada sutradara Teddy Soeriaatmadja yg berdasarkan resumenya yg pernah gw tonton, gemar menampilkan gambar2 yg bagus, dan naskahnya ditulis oleh sastrawan sastrawati (?) muda Ayu Utami, penulis antara lain novel2 yg menjadi buah bibir blantika sastra nasional, Saman dan Larung--gw gak pernah baca karya2nya, sebagaimana gw emang nggak gemar baca, tapi konon beliau cenderung punya pemikiran yg menarik, sampe salah seorang temen gw pengen kawin sama dia karena merasa soulmate hihihi (you know who you are v ^_^ ). Akhirnya, gw ke bioskop pulang kerja, sendirian, nonton Ruma Maia di Bekasi (fyi, ini bukan semacam film yg akan laku di Bekasi, lain cerita kalo horor atau komedi jorok). Hasilnya? Not bad, actually.

Jakarta, 1998. Maida (Atiqah Hasiholan) adalah mahasiswi jurusan Sejarah tingkat akhir, namun menghabiskan banyak waktunya mengajar anak2 jalanan di sebuah rumah kolonial tua yg tak berpenghuni. Rumah itu bukan rumah sembarangan, karena berdasarkan pengakuan 3 manula dari orkes keroncong, rumah itu tempat tinggal dari seorang komponis indo yg bernama Ishak Pahing (Nino Fernandez), pencipta sebuah lagu berjudul "Pulau Tenggara" yg menginspirasi Soekarno membuat gerakan non-blok. Akhirnya, Maida langsung mendapat pencerahan dan menjadikan sejarah Ishak Pahing sebagai topik skirpsinya. Namun, suatu hari datang orang2 yg mengaku ditugaskan oleh pemilik rumah untuk mengosongkan rumah tua tersebut, untuk dialihfungsikan menjadi pertokoan. Maida bertatap muka dengan sang arsitek, Sakera (Yama Carlos) dan menuntut mempertemukannya dengan sang pemilik, yg belakangan diketahui bernama Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan) yg keukeuh mau merombak lahan rumah itu menjadi lebih modern, meskipun Sakera maunya sih desain aslinya masih sebagian dipertahankan. Maida barengan Sakera pun mencari cara supaya meyakinkan Dasaad agar bangunan itu tetap berdiri dengan mencari nilai sejarah rumah itu, yah skalian cari bahan skripsi kali ye. Lalu dari sini kita disuguhkan juga benih cinta antara Maida dan Sakera, lalu secara selang seling ada juga flashback mengenai kisah mengenai Ishak Pahing (not history, but his story), kisah cintanya dengan vokalis orkes keroncong Sumpah Pemuda asuhannya, Nani Kuddus (Imelda Soraya), juga cinta segitiga dirinya dan sang istri dengan mata-mata Jepang, Maruyama (Verdi Solaiman). Lalu apa yg sebenarnya terjadi sehingga rumah Ishak Pahing kini terbengkalai? Yang pasti kisah2 di tersebut diusahakan bersinggungan dengan peristiwa2 sejarah bangsa kita, semacam "the other side of the story" meskipun fiksi--Ishak Pahing dan apapun yg berhubungan dengannya adalah fiksi, tapi tetep gw pernah coba nge-google, bego beut yak T-T'.

Gw cukup bingung untuk mengungkapkan apa sebenarnya inti film ini. Menurut gw sih benang merahnya udah gw ceritain di atas, dan maksudnya jelas bahkan tersurat: Jas Merah=jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tapi film ini nggak cuma tentang itu. Gw merasakan ada beberapa muatan dari ceritanya. Di sini kita lihat 3 pihak yg berbeda sikap soal rumah itu: Maida jelas nggak mau rumah itu diapa-apain karena punya nilai sejarah, lalu ada Sakera yg ditugaskan untuk mengubah fungsi bangunan itu, tapi masih ingin mempertahankan desain2 yang ada, dan Dasaad si self-declared tidak suka sejarah yg ingin merubuhkan rumah itu menjadi bangunan baru. Pro, ragu2, dan kontra. Aren't they one of us? Film ini juga mengangkat isu pendidikan, tapi lebih berkaitan dengan bagaimana memposisikan pendidikan sebagai bagian untuk memajukan bangsa (ceritanya memang nggak difokuskan ke pendidikan anak jalanan, karena mungkin itu sudah bagiannya Laskar Pelangi). Lalu ada beberapa hint mengenai casualties dari peristiwa sejarah, seperti tulisan "pribumi" di rumah2 pasca kerusuhan Mei 1998, dan juga chaos saat kemerdekaan 1945, juga isu2 lain yg menjadi persoalan bangsa ini meski hanya sebatas dialog selintas. Wah, banyak deh bagian2 yg cukup bikin perenungan. Tambah lagi, kita melihat keadaan negeri kita, well, Jakarta setidaknya, dari tingkat paling bawah (anak jalanan) sampe yg paling atas (Dasaad).

Sebagai sebuah karya film, Ruma Maida memang terlihat seperti "film" dengan kelengkapan teknisnya. Gambar2 cantik persembahan sang sutradara masih ada walaupun nggak seperti lukisan layaknya Banyu Biru dan Ruang. Adegan pembukanya keren. Agak mengulang film Ruang, Pak Teddy bikin pembeda dengan memakai gambar sephia di setting masa lampau, cakep, tapi nggak seperti Ruang, yg bagian "masa kini" nya dibuat lebih alami dan cenderung kasar bahkan bergoyang-goyang, mau niru Slumdog Millionaire kali. Kostum dan make-upnya pun terbilang bagus. Sebuah adegan yg gw suka, ketika kita baru tau Maruyama itu mata-mata, dia langung pake baju militer dan menggelar bendera Jepang di temboknya, gw gak tau adegan ini seberapa penting dan perlunya (sama seperti adegan penyiksaan Ishak oleh Maruyama), tapi keren aja diliatnya (^_^'). Pokoknya film ini dibuat dengan effort yg oke...untuk setting masa lalunya. Mungkin terlalu lelah membuat setting masa lalu, tim desain produksinya jadi kedodoran di setting 1998, karena setau gw tahun itu Kijang baru modelnya gak kayak itu, blum ada Vios sbg taksi, TV LCD widescreen blum dilaunching, nggak ada bangunan baru Blok A Tanah Abang, treadmill blum secanggih itu, dan bahkan belum ada rencana pembangunan JALUR BUSWAY! Emang sih hal2 ini agak tricky kecuali ada visual efek yg bisa menghapus itu, tapi tetep aja ganggu, apalagi jalur buswaynya keliatan 2 kali.

Selain itu, film ini lemah di segi casting. Maida memang digambarkan perempuan idealis dan kikuk, tapi Atiqah bagi gw terlihat bingung gerak-geriknya kalo nggak mau disebut over-acting. Yama Carlos lama2 makin mirip Keanu Reeves: tampak bagus di layar asalkan tidak bicara. Blum lagi gw sebut pemeran Soekarno, haduh.......*gak berani bilangnya*. Tapi setidaknya sektor akting diselamatkan oleh oom Frans Tumbuan yg luar biasa (udah bau Citra ^.^'), Hengky Solaeman (sbg Oom Kuan) dan surprisingly, Nino Fernandez. Pemeran anak2nya pun cukup memberi kesegaran tersendiri walaupun porsinya nggak banyak. Yang gw suka juga dari film ini adalah tampilnya detail2 para tokohnya tanpa harus dieksploitasi secara berlebihan. Mungkin emang dasar penulis naskahnya adalah novelis, tiap karakter punya identitas yg riil, punya suku, agama, profesi dsb, sehingga believable dan tidak kartunis, dan itu perlu diberi kredit tersendiri.

Perasaan gw terbelah saat nonton film ini, cerita bagus, teknisnya baik (kecuali yg gw sebut tadi), tapi sayang eksekusinya sedikit tersandung di segi akting, pun penceritaan di tengah2 juga agak kemana-mana (kayaknya interaksi dengan tokoh sejarah nyatanya kebanyakan deh), tapi untungnya dibayar dengan manis di akhir. Jadi, sepertinya gw akan menganggap film ini termasuk kategori "bisa lebih baik lagi". Gw amat sangat menghargai niat baik pembuat film ini, modal ceritanya oke dan punya pesan penting tanpa harus pretensius (sok penting). Apakah kata-kata "Pendidikan itu memerdekakan jiwa" atau "Sejarah itu penting, yang baik kita rayakan, yang buruk kita catat dan jangan sampai terjadi lagi" termasuk menggurui? Nggak ah, ini lebih kepada mengajak, lagian ini bukan hal yg baru. Tapi mnurut gw, Ruma Maida punya satu lagi pesan penting yg tersirat di bagian akhir dan hampir nggak keliatan: tanpa tahu sejarah, kita tidak punya jati diri. Agree.


My score: 7,5/10



NB: Mau tanya dong, apakah toga wisuda Jurusan Sejarah UI tahun 1998/1999 warnanya kuning dan oranye? Setau gw kalo Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, seperti gw, warnanya kuning dan putih...



Rabu, 28 Oktober 2009

[Movie] The Fall (2008)


The Fall

(2008 – Googly Films/presented by David Fincher and Spike Jonze)

Directed by Tarsem

Screenplay by Dan Gilroy, Nico Soultanakis, Tarsem
Based on the 1981 Bulgarian film "Yo Ho Ho" written by Valeri Petrov

Produced by Tarsem

Cast: Lee Pace, Catinca Untaru, Justine Waddell, Robert France.



Lama banget setelah salah satu temen gw merekomendasikan, dan setelah gw liat trailernya, akhirnya gw menonton film The Fall, skalian tes mutu DVD keluaran Jive Collection yg harganya Rp59 ribu (ternyata nggak seburuk yg gw kira, tapi tetep aja teknisnya agak kurang). The Fall adalah karya ke-2 sutradara kelahiran India, Tarsem (di imdb.com: Tarsem Singh) setelah film The Cell-nya Jennifer Lopez tahun 2000 (pernah nonton sedikit di TV tapi ketiduran pas iklan hihihi). Kelar taun 2006, tanpa ada perusahaan film yg sudi mencolek untuk sekadar distribusi, The Fall malang melintang (a.k.a. luntang lantung) di festival2 film dunia, dan akhirnya dirilis di bioskop umum tahun 2008 (di Indonesia di jaringan Blitz Megaplex skitar bulan Mei). Yg menjanjikan dari pak Tarsem, sebagaimana The Cell, adalah suguhan desain dan gambar nan fantastis. Lagipula, film ambisius yg murni pake duit Tarsem sendiri ini (dikumpulkan dari "profesi utama"-nya sebagai pembuat iklan dan video musik, kasian ya)—thus called "independent", mengambil lokasi syuting di seluruh dunia, literally.

The Fall berkisah tentang hubungan unik seorang anak imigran Rumania umur 5 tahun yg kerja di kebun jeruk (bukan kebon jeruk ya), Alexandria (Catinca Untaru) yg tangannya patah habis jatuh di kebun, dan Roy (Lee Pace), seorang stuntman film yg habis kecelakaan pas syuting dan kakinya lumpuh. Mereka berdua dirawat di sebuah rumah sakit di Los Angeles (imdb.com bilang mungkin sekitar taun 1920-an) dimana mereka dipertemukan. Pada pertemuan pertama mereka, setelah tau nama si anak perempuan itu, Roy berkisah mengenai Alexander Yang Agung, asal nama Alexandria. Alexandria tertarik dengan dongeng Roy, dan Roy pun mengundangnya kembali ke bangsalnya untuk bercerita sebuah kisah epik. Maka persahabatan mereka dibangun melalui dongeng yg dibuat Roy, serta imajinasi visual dari Alexandria yg juga turut menambahkan beberapa aspek dalam dongeng tersebut, termasuk gambaran tokoh2nya yg adalah orang2 yg dikenalnya. Dongengnya sendiri mengenai 5 (plus 1) orang hebat (yg kemudian salah satu tokohnya, Bandit adalah paralel Roy yg sama2 nggak bisa berenang) dari berbagai latar belakang tapi bertujuan satu: membunuh gubernur Odious yg jahat. Petualangan seru plus kisah cinta dan tragedi, serta gambaran "curhat" Roy mewarnai dongeng ini. Namun seejuatinya, Roy punya maksud tertentu dibalik sikap manisnya sama Alexandria, dia pengen diambilin morfin (kalo Alexandria bilang morphin3 ^_^') biar bisa "tidur nyenyak". Alexandria yg polos dan tulus pun mau aja, agar dongeng mereka bisa lanjut, sampai suatu saat imajinasi dan kepolosannya itu berakibat fatal.

Gw nonton film ini 2 kali, dan sepertinya memang harus gitu caranya untuk menikmati film indah ini. Pada kali pertama, meski dengan kualitas gambar DVD yg kurang halus, gw terpaku pada visualnya yg anjr*t top banget, para penggemar fotografi pasti bakal gregetan deh. Asal tau aja, untuk mendapat setting dongengnya yg memang antah-berantah, Tarsem tidak lari ke kantor visual efek, tapi langsung ke kantor2 pariwisata di berbagai belahan dunia untuk minta izin syuting di tempat2 yg bisa ditangkap kamera dengan indahnya. Bagaikan art directionnya sudah disediakan oleh Tuhan dan nenek moyang kita (bangunan dan situs alami nya sebagian termasuk UNESCO World Heritage) dan dimanfaatkan dengan sangat, sangat baik oleh angle-angle ajaib Tarsem (he has the eyes for these stuffs), karena adegan2 luar ruangan—termasuk sawah terasering Bali dan padang pasir oranye yg ada di Afrika—adalah memang asli, dan istana2nya sebagian besar adalah bangunan2 pariwisata bersejarah di India. Yup, termasuk "kolam" bertangga-tangga segitiga itu. Ditambah desain kostum yg out of this world dan masih banyak adegan2 yg akan panjang kalo diceritain di sini, Tarsem sukses menciptakan dunia dongeng tanpa harus keluar dari bumi. Bravo!!



Kali kedua gw nonton, gw memang udah nge-set untuk fokus sama ceritanya, karena jujur ceritanya tidaklah mudah dicerna sekali makan. Ternyata film ini punya beberapa detil tersembunyi yg lucu juga untuk diketahui, bahkan judul "the fall" pun punya makna yg beragam—Alexandria jatuh dari pohon, Roy jatuh dari jembatan, Alexandria jatuh ke "tipu daya" Roy dan dunia khayalannya sendiri, Roy jatuh mentalnya karena pengkhianatan cinta, dan ada jatuh satu lagi yg gak akan gw bilang di sini hehehe. Visualisasi dongeng adalah dari imajinasi Alexandria, ketauan dari adanya kertas pesan dan peta bolong2 seperti kertas pesan yg dimiliknya, kotak barang berharga yg persis miliknya juga, dan dia juga salah mengira "an Indian" (suku asli Amerika) adalah seseorang dari India. Detail lain yg cukup subtle antara lain, ketika Alexandria berbuat sesuatu yg nggak sesuai harapan Roy, Roy langsung memunculkan tragedi dalam kisahnya. Pun ketika Alexandria menggambarkan sang Putri kekasih Bandit adalah perawat/nurse Evelyn (Justine Waddell), dan karena emang dirawat di RS Katolik (oh ya, ini juga bukan set, tapi bangunan beneran di Afrika Selatan), Roy kira Evelyn itu seorang suster/biarawati (nggak papah, di Indonesia sampe sekarang masih rancu kok). Lalu bagaimana Roy menggambarkan kisah cintanya yg pupus gara2 si cewek lebih milih si aktor utama ketimbang dirinya yg cuman stuntman—jadi salah satu alasan pengen bunuh diri, patut diperhatikan juga. Dan satu lagi, adalah ketika di bagian akhir, Alexandria menuntut agar Roy mengakhiri dongengnya. Roy hanya bisa memikirkan akhir yg tragis (a.k.a. yg paling gampang kan?), tapi Alexandria juga merasa memiliki dongeng ini dan dia mau agar berakhir bahagia, adegan ini sebenarnya adalah obrolan heart to heart kedua orang ini.


The Fall sukses sebagai sebuah film karena menyeimbangkan visual dongeng dan kedalaman cerita di dunia nyata. Tanpa visual efek berlebihan, toh dunia fantasinya mengagumkan. Dan tanpa aktor terkenal, toh di dunia nyatanya, adegan2nya dibuat believable, apalagi interaksi si Alexandria yg aslinya (si Catinca itu) gak bisa bahasa Inggris ini dengan Roy dibuat senatural mungkin, nggak palsu. Sayang ceritanya kelewat subtle—bedakan dengan mengabaikan yah—dan mungkin puitis, jadinya kurang berasa langsung ke gw, mungkin memang musti nonton lebih dari 1 kali (dan gw dengan senang hati bersedia, ini bukan film jelek). Tapi okelah, pemanjaan mata habis-habisan mungkin sangat cukup untuk mengangkat nilai film ini. Beberapa adegan favorit gw adalah tari kecak penunjuk arah di Candi Gunung Kawi (of course), adegan pernikahan yg dikelilingi tarian memutar kaum Sufi, Otta si ksatria berkulit hitam yg jatuh tapi ditopang puluhan panah di punggungnya (oops), dan adegan sumur bertangga segitiga, plus adegan klimaks yg selang-seling antara dongeng dan realita, hehe. Boleh dibilang, meski keuntungan finansialnya diragukan, pengorbanan Tarsem dalam "memperjuangkan" The Fall tidaklah sia-sia bila ditilik (aih..ditiliiik) sebagai sebuah karya seni.

Amanah yg bisa diambil dari film ini: life goes on, man, nggak usah lebay dah! ^m^'


My score: 7,5/10


Beberapa dari konon 18 negara lokasi syuting film ini (kayaknya ada sebagian yg cuman 1 detik munculnya hehehe) http://en.wikipedia.org/wiki/The_Fall_%282008_film%29 atau http://www.imdb.com/title/tt0460791/locations




Selasa, 20 Oktober 2009

[Movie] Inglourious Basterds (2009)



Inglourious Basterds

(2009 – Universal/The Weinstein Company)

Written & Directed by Quentin Tarantino
Produced by Lawrence Bender

Cast: Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Eli Roth, Michael Fassbender, Diane Kruger, Til Schweiger, Daniel Brühl



Setelah sekian minggu, gw akhirnya masuk lagi ke bioskop, dan keluar dengan sangat puaaas. Inglourious Basterds adalah karya terbaru dari Quentin Tarantino. Sekali lagi: Quentin Tarantino. Nama ini perlu gw ulang dengan maksud menekankan bahwa beliau bukanlah Steven Spielberg yang sangat lurus gayanya, bukan pula Michael Bay yg maunya gila dan hingar bingar tapi tanpa tujuan. Meskipun gw baru menonton 2 biji karyanya—Kill Bill Vol. 1 dan 2, eh itu itungannya satu apa dua yah?— terlihat sekali Quentin Tarantino (sebut 3 kali ^o^) ini berlatar belakang penonton dan pencinta film sejati, bahkan konon film2 kampungan kelas B pun disukainya. Selain kerap meniru aspek2 dari film lain (halo? Film samurai, film yakuza, film kung-fu, anime, film koboi, semua ada di Kill Bill,
right?), ia juga paham betul apa yg harus diperbuat agar penonton tidak bosan tanpa mengabaikan ide yang ingin disampaikan, tak terkecuali di Inglourious Basterds ini—kenapa ejaannya kayak gini gw juga nggak paham, mungkin ini ejaan yg bisa dibaca orang Jerman?

Kini Pak Tarantino bermain-main dengan tema Nazi dan Yahudi di masa Perang Dunia II, tepatnya di masa pendudukan Nazi di Prancis, yg diklaim bergaya film "spaghetti Western" atau koboi2an brutal yg dibuat orang2 Itali (contohnya film The Good,The Bad,The Ugly yg dibintangi Clint Eastwood...info dari imdb.com hoho). Dalam bentuk
chapter-chapter yg paralel mirip Kill Bill, cerita Inglourious Basterds mengalir di 2 jalur yg menuju ke satu muara di akhir. Pertama adalah mengenai Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent). Ia lolos dari pembantaian yg dipimpin oleh Kolonel Hans Landa (Christoph Waltz, dengan performa yg luar biasa) terhadap keluarganya yg sembunyi di sebuah rumah petani Prancis. Beberapa tahun kemudian, Shosanna punya identitas samaran Emmanuelle Mimieux, bule pemilik sebuah bioskop di Paris. Dengan rangkaian kejadian tak terduga, Shosanna punya kesempatan membalaskan dendamnya kepada Nazi ketika bioskopnya terpilih sebagai tempat pemutaran perdana film propaganda Nazi dalam pekan film Jerman di Paris, yg bakal dipenuhi oleh petinggi2 Nazi, termasuk Kolonel Landa.

Kisah kedua adalah misi rahasia nan penuh dendam dari pasukan Amerika pimpinan Sersan Aldo Raine (Brad Pitt) bernama The Basterds. The Basterds terdiri atas sekelompok pria Yahudi (plus seorang Jerman
psycho yg hobi membunuh perwira Nazi) yang dilatih militer dengan tujuan menghabisi setiap orang berafiliasi Nazi yg mereka temui, dan mengumpulkan kulit kepalanya (hoeek). They really did. Aksi mereka sangat brutal tanpa ampun (in somewhat cruel yet hillarious way) sehingga reputasi mereka pun sampai di telinga sang führer Hitler, yang pengen The Basterds segera dibasmi. Suatu ketika The Basterds diberi misi bersama agen dari Inggris, Letnan Archie Hicox (Michael Fassbender) dan aktris Jerman sekaligus agen ganda untuk Inggris, Bridget von Hammersmark (Diane Kruger) untuk "panen" kepala2 Nazi yg akan menghadiri tayang perdana pekan film Jerman di Paris. Masalahnya, The Basterds bukanlah pasukan yg pandai menyamar (^_^').

Kisah di atas mungkin akan dianggap satu lagi film pelampiasan dendam kaum Yahudi sama Nazi, sebagaimana mungkin ratusan film lain yg bernada sama. Tapi, lagi2, ini filmnya Quentin Tarantino, yg sepertinya mengerti apa artinya potong pinggir (
cutting edge ihihihi). Film ini jelas fiksi dari awal sampe akhir, yg historicaly accurate palingan cuman settingnya. Tarantino bercerita lewat 5 bab yg dapat berdiri sendiri namun punya benang merah—sudah gw usahakan rangkum di atas—dan tiap chapternya punya sesuatu yg menarik. Polanya mirip: ada sedikit cerita latar belakang, lalu ngobrol ngalor ngidul ngulon ngwetan (tapi sebenernya tetep menarik untuk disimak), lalu sebelum penonton (=gw) bosan, ketegangan langsung dibangun dan disambung aksi yg dibuat cepat (nan kejam berdarah) dan tak terduga. Humor nyelekit yg bikin nyengir tak pernah absen dari perilaku tokoh2nya, plus ada tulisan penunjuk nama tokoh, subtitle yg kadang gak konsisten (orangnya ngomong bhs Prancis "Merci", subtitlenya yg harusnya bhs Inggris tulisannya "Merci" juga, piye toh? ^o^'), juga intercut footage2 "keterangan" yg agak norak itu (perkenalan tokoh, dan penjelasan mengena film 35 mm yg mudah terbakar haha). Selain itu, Tarantino masih suka mengesyut hal2 kecil secara perlahan seperti berdandan, nyalain pipa, memotong makanan, menaruh krim dsb dengan sangat cantik. Satu lagi, beliau juga menggunakan perbedaan bahasa dengan sangat brilian, orang Jerman ngomong Jerman, orang Prancis ngomong Prancis, The Basterds ngomong Inggris. Kalau berpindah bahasa, pasti ada maksudnya. QT is in to details for sure.

Dengan gaya pengarahan Tarantino yg unik juga, para aktor diberi ruang yg sangat leluasa untuk mengerahkan seluruh kemampuannya. Gw berharap setidaknya salah satu aktor saja di film ini patut dipertimbangkan untuk mendapatkan penghargaan, terutama Christoph Waltz yg
hands down sukses abeis memerankan Kolonel Landa yg cerdas, menyebalkan, licik dan pandai berkomunikasi—dalam bahasa apapun heuheuheu—sekaligus intimidatif (eh, di udah menang deing Best Male Performance di Cannes kmaren dalam film ini, congrats!). Brad Pitt, Mélanie Laurent (pernah main di film Taiwan setting Singapur, Rice Rhapsody, yg diputer jutaan kali di Celestial Movie Channel), bahkan Diane Kruger juga membuktikan akting mereka dengan maksimal. Oh ya, Hitler digambarkan komikal di sini, kocak dah ^0^.

Agak segan untuk bilang film ini "bagus" sebagai rekomendasi kepada orang lain. Ini semacam film yg harus ditonton dulu dengan mata kepala sendiri untuk memutuskan suka atau tidak. "Bagus" itu standarnya apa? Apakah yg plotnya mudah dimengerti (berfokus pada benang merah selalu)? Dialog yg ringkas dan
straight to the point? Karakter yang menyenangkan? Atau mumpung berlatar belakang Perang Dunia, adegan perang yg spektakuler? Maap aja, bagi yg mengharapkan hal2 itu di film ini pasti bakal kecewa. Kecenderungannya bercerita kemana-mana mungkin akan bikin kesal dalang Parto di Opera Van Java (hihihi). Atau yg bagus itu justru yg penuh drama, alurnya rumit dengan dialog terlalu serius dan bahasa tingkat tinggi? Lagi2 maap, ini juga bukan film seperti itu. Inglourious Basterds (dan kemungkinan besar film2 Tarantino lainnya) punya standar sendiri yg rancu kalo harus dibandingkan dengan film2 lain. Dan meskipun terkesan bikin film seenak udel, Pak QT sendiri sepertinya bisa membaca mood penonton filmnya: ketika saat nonton kita udah hampir bilang "aduh, bose--eh?", tiba2 ditebus lewat cara yg unexpected. Pun dari segi penokohan berhasil dibangun dengan sangat kuat. Jadi kalo dibilang film ini "jelek" pun rasanya janggal.

Gw tidak merasa fanatik Tarantino, tapi yg pasti gw bisa bilang film2 dia, termasuk Inglourious Basterds ini, setidaknya merupakan pengalaman berkesan. Apalagi, adegan klimaks Inglourious Basterds sangat
thrilling to the max, nendang banget! Gw juga melihat ada yang rada puitis--bocoran sedikit: Shosanna eventually had the last laugh. Inglourious Basterds adalah film yg bagus (dan gw suka) sebagaimana adanya: beda, entertaining, nggak perlu mikir banget (hanya perlu ikutin aja kemana jalannya cerita), tetap artistik sekaligus norak (musiknya dong, hehehe), kejam, satir (dialognya, gw paling suka waktu Bridget bilang "Do you Americans speak any other language besides English?" Gotcha! ^0^'), dan tidak punya maksud tersembunyi. Nggak ada tendensi untuk menebar simpati sama kaum Yahudi, karena film ini hanya dibuat sebagai karya seni yg menghibur dengan caranya yg aneh unik, just because he can. Quentin Tarantino (total gw nyebut nama ini 5 kali, blum termasuk panggilan lainnya ^.^) is definitely sedeng and not your typical filmmaker. Even the end credits ran rather quick. Jadi filmnya bagus atau nggak? Taauk dah. Yang jelas, kalo mau nonton, tonton sampe abis yah. Harus!



My score:
8,5/10
(yeah,
just because I can! -_- v)


NB: Ada Mike Myers cameo jadi petinggi militer Inggris yg ngebrief Lt. Hicox, logatnya bagus deh.

Senin, 19 Oktober 2009

[Movie] Gran Torino (2008)


Gran Torino
(2008 – Warner Bros.)


Directed by Clint Eastwood

Screenplay by Nick Schenk

Story by Dave Johannson, Nick Schenk

Produced by Clint Eastwood, Bill Gerber, Robert Lorenz

Cast: Clint Eastwood, Bee Vang, Christopher Carley, Ahney Her, John Carroll Lynch



Marathon VCD sewaan gw (silahkan liat 3 postingan sebelumnya) ditutup dengan menonton film yg konon terakhir kalinya kita akan melihat Clint Eastwood sebagai aktor. Meskipun begitu, Gran Torino nyatanya menjadi “kenang2an” akting Clint Eastwood yg jempolan, dan membuktikan bahwa jika nggak jadi aktor pun beliau akan tetap
survive sebagai sutradara film2 berkualitas. Ih, padahal gw tadinya gak suka lho film2 yg diarahkan Clint Eastwood sebelumnya, karena endingnya nyelekit bikin depresi dan alurnya lamaaaaa banget macem Mystic River dan Million Dollar Baby. Anggapan itu berubah waktu gw nonton Letters From Iwo Jima yg digarap apik (dan endingnya nggak terlalu bikin depresi), dan Gran Torino ini pun bikin gw sama sekali nggak membenci kakek timurkayu ini.

Film Gran Torino tidaklah segahar judulnya—yg adalah jenis mobil klasik yg masih banyak diincar orang krn nilai pretisenya. Film ini mengisahkan Walt Kowalski (Clint Eastwood), seorang veteran perang Korea, sepeninggal istrinya. Walt bukanlah orang yg menyenangkan, hubungannya dengan kedua putranya yg masing2 sudah berkeluarga pun tidak bisa dibilang dekat. Sebelum wafat, istrinya juga "menitipkan" sang suami pada pastur Janovich (Christopher Carley) yg masih muda, yg penasaran dengan kekerasan hati Walt. Di lain pihak, kompleks rumahnya (di Detroit, Massachusets, kota asalnya Eminem kalo nggak salah) kini jadi lingkungan komunitas etnis Hmong bermukim (suku yg aslinya di China selatan, Vietnam, Myanmar, Thailand dkk). Tak hanya itu, geng2 brandalan merajalela di sana.

Tetangga sebelah Walt pun adalah keluarga Hmong, dan suatu hari Walt menangkap basah anak laki2 tetangganya itu mau mencuri mobil Gran Torino miliknya. Anak laki2 itu bernama Thao (Bee Vang), dan dia sering diintimidasi sepupunya yg anggota geng. Ketika terjadi keributan antara Thao dan keluarga vs gang sepupunya yg sampe menginjak halaman rumah Walt, Walt turun tangan dan mengusir anak2 sok bandel itu. Perbuatan itu dianggap heroik sehinga Walt mau tak mau menerima beragam bentuk tanda terima kasih dari komunitas Hmong, plus kakak Thao, Sue (Ahney Her), menyuruh adiknya kerja apa aja deh sama Walt sebagai bentuk balas jasa sekaligus hukuman. Walt tadinya enggan, tapi lama2 hubungannya dengan Thao juga Sue menjadi dekat—sama Thao kayak anak, kalo sama Sue kayak tmen ngobrol yg klop. Thao yg tadinya gak punya tujuan hidup yg pasti (mnurut Sue, kalo perempuan Hmong-Amerika banyak yg masuk kuliah, yg laki2 banyak masuk penjara ^_^), dari Walt belajar banyak mengenai keterampilan teknik dan konstruksi —karena kalo tetangga minta perbaikin apa sama Walt, malah si Thao yg disuruh hehehe, bahkan berhasil mendapatkan kerja jadi pekerja konstruksi (a.k.a. kuli bangunan, tapi klo di Amerika kesannya agak lebih elit yah?) dari kenalan Walt, selain bagaimana menjadi bagian dari masyarakat dan juga cara menghadapi cewek yg ditaksir ^.^'. Tapi perkembangan menggembirakan ini tidak menghilangkan gangguan dari anak2 geng. Thao masih saja diincar, hanya saja kini ia punya Walt yg ternyata mau melindunginya dengan caranya sendiri. Tapi apakah itu baik, mengingat anak2 geng ini adalah orang2 nekad?


Jalan cerita film Gran Torino dibangun lewat kejadian sehari-hari, mungkin agak terkesan lambat, tapi bagi gw nggak mboseni (mungkin istilahnya:
captivating). Rasanya enak aja melihat Walt yg sesepuh keras kepala dan dingin mulai mencair ketika mengenal lebih dekat tetangganya, juga serasa mengembalikan sifat “keayahannya” lagi ketika Thao hadir di hidupnya. Ia tidak terlalu bangga dengan anak2nya sendiri, tapi ia merasa berharga ketika membantu Thao. Kecuali dialog Walt dan si pastur yg terlalu filosofis mengenai hidup dan mati selepas kematian si nyonya, apa yg ditampilkan di film ini mengalir baik dan menyentuh. Perubahan diri Walt sangat mengundang simpati, dan simpati kita terhadap orang2 di sekitar Walt terutama Thao dan Sue pun tak terhindarkan, apalagi ketika “sesuatu” terjadi pada mereka *oops*, waduh, gw jadinya sama marahnya kayak Walt. Salut buat penulis naskah dan kakek Clint sebagai sutradaranya yang membuat kisah yang kuat, membumi dan tidak basi ini. Gw mau menekankan sesuatu soal endingnya dengan berusaha tidak meng-spoil banyak2, bahwa adegannya agak “bikin depresi”, tapi dengan ending “demikian” di saat yg bersamaan Walt telah berbuat sesuatu yang besar buat Thao, Sue, bahkan lingkungannya. See for yourself, it’s beautiful T—T.

Secara teknis filmnya nggak terlalu istimewa, bahkan kesan artistik pun tampaknya agak absen—atau jangan2 pengaruh nonton di VCD yg notabene formatnya fullscreen. Sinematografi dan tata artistiknya tampak apa adanya (bukan pas2an yah), mungkin agar kesannya sederhana dan lebih
believable. Music scorenya pun minim. Letak kualitas film ini memang terletak pada cerita, alur penceritaan dan akting Clint Eastwood. Pemeran Thao, Sue dan orang2 Hmong lainnya bisa dibilang kaku, maklum hampir semuanya bukanlah aktor betulan dan ini film pertama mereka, but that's okay. Film ini juga sedikit membuka wawasan gw bahwa ternyata ada etnis yg bernama Hmong yg jadi sekutu Amerika waktu perang Vietnam, lalu untuk menghindari pengusiran/pembasmian etnis (karena Amerika kalah, tentu saja) beberapa dari mereka diungsikan ke Amerika dan sampai kini membentuk komunitas etnis Hmong terbesar di luar benua Asia. Secara keseluruhan, Gran Torino adalah film bagus yg sekaligus menjadi “grand exit” bagi karir akting Clint Eastwood, serta menawarkan inspirasi agar manusia tidak menyia-nyiakan hidupnya dengan menjadi berarti bagi orang lain. Malahan, di film ini amanah tersebut bagi gw lebih mengena daripada film Up yg punya pesan serupa, jelas minus rumah terbang. Worth to watch.


My score:
8/10

Minggu, 18 Oktober 2009

[Movie] Taken (2008)


Taken
(2008 – EuropaCorp)


Directed by Pierre Morel

Written by Luc Besson, Robert Mark Kamen

Produced by Luc Besson

Cast: Liam Neeson, Maggie Grace, Famke Janssen, Olivier Rabourdin, Xander Berkeley



Entah datang dari mana, Taken pelan2 menjadi salah satu film yg sukses selama setahun lebih di seluruh dunia. Taken adalah film produksi Prancis dengan maksud dan tujuan sbagai konsumsi internasional dengan cara memakai aktor non-Prancis dan dialog berbahasa Inggris, terima kasih kepada nama yg sudah sering melakukan hal semacam itu, Luc Besson (sutradara The Fifth Element dan produser Leon/The Professional, 3 seri The Transporter, serta Kiss of the Dragon nya Jet Li). Peredarannya di dunia pun sangat bersahaja dengan cara bergiliran. Di bioskop Prancis tayang sekitar Februari 2008, di Indonesia sendiri (di jaringan Blitz Megaplex) skitar bulan Juli 2008, di AS malah Januari 2009 dan tak dinyana menjadi salah satu film pertama di 2009 yg pendapatannya tembus 100 juta dolar AS! Demi kepenasaranan gw atas prestasinya, Taken menjadi salah satu pilihan VCD yg gw sewa untuk ditonton marathon barengan Garuda di Dadaku, Coraline, dan Gran Torino kira2 seminggu sebelum tulisan ini terbit.


Cerita Taken sebenernya biasa saja, klasik. Bryan Mills (Liam Neeson) adalah mantan agen CIA yg sedang berusaha mempererat tali kasih dengan putri remajanya, Kim (Maggie Grace) yg kini tinggal di Los Angeles bersama mantan istrinya, Lenore (Famke Janssen) dan suami barunya, Stuart (Xander Berkeley) yg kaya raya. Suatu hari Kim minta persetujuan sang ayah agar bisa liburan sambil mengunjugi berbagai museum di Paris bareng temannya, Amanda (Katie Cassidy)—katanya di sana tinggal di apartemen sodara, jadi gak sendirian. Bryan khawatir dong, anaknya baru genap 17 taun udah jalan2 ke luar negeri tanpa pengawasan orang dewasa. Dicap “parno amat sih loe” sama mantan istrinya, dan Kim yg minta2 sambil mewek, Bryan pun mengizinkan. Namun, yg dikhawatirkan Bryan terjadi juga. Kim hanya berdua dan apartemen sodaranya Amanda ternyata lagi kosong. Tak hanya itu, tiba2 apartemen Paris itu dimasuki orang2 asing yg membawa paksa Amanda dan akhirnya Kim. Untungnya Kim sebelum diculik sedang menelepon Bryan sehingga dengan cara yg keren, Bryan punya petunjuk awal bagaimana cara utk menemukan putrinya. Bryan bergegas ke Paris dan menelusuri jejak putrinya yg telah diculik berkat sisa2
skill nya sebagai agen misi rahasia, yg ternyata membawanya pada seluk beluk gangster Albania dan penjualan perempuan di Paris. Tapi kali ini ia bertindak bukan untuk tugas negara, ini urusan pribadi, dan Bryan tidak akan sungkan untuk menghabisi si pelaku maupun siapapun yg menghalangi demi mendapatkan putrinya kembali dengan selamat.

Harapan untuk mendapatkan tembak2an, berantem2an, kejar2an dan ketegangan seperti film2 spionase macam trilogi Bourne atau Mission:Impossible, ada banget. Eksekusinya mungkin tidak spektakuler, tapi nggak cupu. Akan tetapi, nilai plus dari film ini terletak pada oom Liam Neeson yg bisa menyeimbangkan kekuatan akting dengan kemampuan
action (sesuatu yg tidak bisa dilakukannya di Star Wars Episode I, hehe). Sejak awal gw udah diajak simpati abis sama si bapak ini, apalagi melihat bahwa kemampuan spionase (seakan-akan) masih 100% mantap. Dengan motivasi utamanya adalah urusan pribadi, rasa2nya penonton bisa memaklumi apapun yg dilakukan oleh Bryan Mills, termasuk interogasi+penyiksaan kepada tersangka penculik, sampai menyerempet lengan istri Jean-Claude (Olivier Rabourdin), inspektur polisi Prancis kenalannya, dengan peluru!( gw shock waktu liat adegan ini), dan oom Liam sukses berat membawakan karakternya. Lewat alur yg sebenernya gak ribet atau terlalu gimanaa gitu, Taken ternyata dipoles cukup oke dengan unsur drama dan beberapa adegan aksi yg lumayan menegangkan (tapi kalo di VCD soundnya loyo banget).

Kekurangan? Selain bahwa jalan ceritanya serta sinematografinya terbilang standar, tak terkecuali pas adegan penutupnya (
B-movie banget deh), sebenernya film ini terbilang aman. Tidak istimewa, tapi sama sekali tidak jelek. Detail2 yg nggak masuk akal mungkin agak mengusik, dari Bryan Mills yg tampak terlalu jago (Roger Ebert malah bilang, kalo semua agen CIA kayak Bryan Mills, Al Qaeda udah pasti dibasmi dari kapan tau), bagaimana bisa dia bisa bawa senjata banyak ke negara orang padahal dia tidak datang atas nama negara, sampai dia masuk ke “sarang penyamun” ganster Albania di Paris dengan bahasa Inggris namun tidak dicurigai (?), tapi dengan jika ditonton dengan toleransi tinggi (ini bukan Hollywood), Taken rupanya lumayan enak dinikmati. It won’t hurt to watch.


My score:
6,5/10


Sabtu, 17 Oktober 2009

[Movie] Coraline (2009)


Coraline
(2009 - Focus Features/Universal)

Directed by Henry Selick
Screenplay by Henry Selick

Based on the novel by Neil Gaiman

Produced by Claire Jennings, Mary Sandell

Cast: Dakota Fanning, Teri Hatcher, Robert Bailey Jr, Keith David, John Hodgman, Ian McShane



Menyambut postingan sebelumnya, VCD (aduh lagi2, zaman apa ini? heuheu) kedua yg gw tonton dalam rangka
catch-up wawasan perfilman gw adalah Coraline, film stop-motion animation terbaru dari sutradara film animasi serupa The Nightmare Before Christmas –ya, dia, Tim Burton mah cuman produser atau semacamnya. Agak panjang untuk menjelaskan stop-motion animation itu apa, jadi silahkan merujuk pada film The Nightmare Before Christmas, Chicken Run, serial Robot Chicken, video musik "Fell In Love With A Girl" nya The White Stripes, atau tanya mbak Wikipedia aja, hehehe. Yang pasti jenis animasi ini agak lama proses pembuatannya, tapi setidaknya dalam kasus Coraline ini, hasilnya benar2 memuaskan.

Coraline Jones (Dakota Fanning) beserta ayah-ibunya baru saja pindah ke sebuah rumah yg dibagi jadi 4 apartemen..yah, kontrakan lah kalo orang sini bilangnya. Ibu (Teri Hatcher) dan Ayah (John Hodgman) adalah penulis artikel yg biasa ada di majalah semacam Trubus. Meskipun mereka sudah pindah ke tempat yg lebih sederhana dan jauh dari hiruk pikuk kota, mereka masing2 tetap sibuk sendiri dan mengabaikan bahkan jutek sama putri tunggal mereka (dan si ayah yg tugas masak, masakannya nggak enak). Itu benar2 membuat Coraline kesal, ditambah suasana rumah yg bobrok dan tetangga2 yg aneh yg sering salah menyebut namanya jadi Caroline (^.^), apalagi ia belum punya teman di lingkungan baru selain Wyborn (Robert Bailey Jr), cucu juragan kontrakan yg menurut Coraline anak ini cerewet sekali.. Bisa ditebak, Coraline tidak senang dengan kehidupan barunya ini.


Sampai suatu saat ia menemukan sebuah pintu kecil di tembok rumah yg tertutup wallpaper. Di siang hari, di balik pintu hanya ada tembok batu bata. Tapi di malam hari, secara ajaib jadi sebuah lorong ke sebuah pintu kecil lainnya. Mengobati rasa penasaran, Coraline menyeberangi lorong itu dan mendapati dirinya sampai di rumah yg persis sama dengan rumahnya, hanya suasananya lebih ceria. Tak sampai di situ, ada Ibu dan Ayahnya dalam versi lebih ramah, hangat, dan perhatian serta membuatkan masakan yg enak, bedanya kedua mata mereka masing2 tertutup kancing. Tak hanya mereka, Coraline pun diperkenalkan pada orang2 di lingkungannya dalam versi yg “lain” juga, termasuk Wyborn yg tidak berbicara satu patah kata pun—matanya juga berkancing. Jelas Coraline senang di sini. Walaupun pada pagi hari ia kembali pada rumah aslinya, malamnya ia kerap mampir ke rumahnya yg “lain” ini dimana ia dibuat betah oleh orang2 versi “lain” di sana. Saat ditawari untuk tinggal di sana selamanya, Coraline sih mau aja, tapi ia langsung tidak terima ketika tau bahwa ia harus menjahitkan dua matanya dengan kancing (!) sebagai syaratnya. Tapi masalah lain baru saja dimulai, orang tua Coraline yg asli hilang, dan ternyata diculik di dunia “lain”. Siapa sebenarnya orang2 di dunia “lain” itu? Dan bisakah Coraline bertemu ibu dan ayah aslinya lagi?


Waktu nonton film ini, yang paling menonjol adalah gambar animasinya yg bener2 cantik nan ciamik penuh warna dan imajinatif. Semengerikan apapun adegannya, gw dibuat kagum oleh desain gambarnya yg bener2 wokeh. Gerakan2 dan ekspresi tokohnya pun sangat pas. Klimaksnya top! Tapi nilai plus Coraline tidak hanya di segi teknis, ceritanya pun menarik dan tidak begitu mudah ditebak. Mengusung pesan moral seperti “kurangnya perhatian orang tua membawa petaka pada anak (
or something like that) ”, juga “you don’t know what you got till it’s gone” atau mungkin versi sininya “syukuri apa yg ada” (silahkan tebak gw dapetnya dari mana…^_^’), ceritanya dikemas dengan tidak membosankan, sekaligus bikin takut juga: hanya karena tidak senang dengan kehidupannya yang memang kurang kasih sayang, anak seperti Coraline bisa saja terperangkap di dunia yg sebenernya berbahaya serta kehilangan segalanya…untungnya Coraline bukanlah anak yg sepolos itu (hahaha, be smart, kids), sehingga setelah tau akibat dari pilihan yg dibuatnya, ia pun mampu berubah menjadi heroik. Tapi yg agak miris juga, perbuatan2 mengerikan si “musuh” –yg baru terungkap di paruh akhir, tidak hanya pada Coraline—juga didasari kurangnya kasih sayang. Hmm, jelas ini bukanlah film “hiburan keluarga” biasa gara-gara lumayan beratnya inti cerita dan gelapnya cara penyampaiannya. Mungkin memang sebaiknya yg menonton adalah remaja ke atas, bukan anak2.

Bagi gw Coraline adalah salah satu film animasi yg patut diacungi jempol karena berani tampil beda, dan termasuk menghibur (?) meski bukan dengan cara “haha hihi” seperti stereotipe film “kartun” (hei, orang nonton horor juga merasa terhibur kan?) dan mungkin akan lebih mengena bagi yg dewasa.
My verdict: kisahnya enak diikuti, pesan moralnya baik, gambarnya mantaph, karakterisasi yg kuat, pengisi suaranya berhasil, maka ini adalah film yg memenuhi syarat “bagus”, meski memang sulit untuk “laris mampus”. I think it's one of the best film of the year so far. Sayang DVD originalnya belum dirilis secara resmi di sini. Di VCD aja mnurut gw cukup bagus, pasti di DVD jauuuh lebih bagus…Ada tanggapan, Vision Interprima?


My score
8/10

[Movie] Garuda di Dadaku (2009)


Garuda di Dadaku
(2009 - SBO Films/Mizan Productions)

Directed by Ifa Ifansyah
Written by Salman Aristo

Produced by Shanty Harmayn

Cast: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Ari Sihasale, Maudy Koesnaedi, Ramzi



Ketika bioskop lagi kurang menarik tawaran filmnya, saatnya
catch-up film2 yg pengen tapi belum gw tonton 6 bulan sampe setahun terakhir dengan mampir ke Video Ezy dan menyewa VCD—tahun 2009 dan gw masih nonton VCD, Video Ezy-nya kacrut nich. Film pertama yg gw pilih dan tonton (karena masih baru dan harus dibalikin besoknya) adalah salah satu film Indonesia paling sukses tahun ini, Garuda di Dadaku. Sekadar informasi, gw punya kebiasaan untuk tidak menonton film Indonesia secara “konvensional”…entah kenapa kurang niat. Terakhir gw nonton Pintu Terlarang dan memang cukup layak ditonton di bioskop, tapi berdasarkan pengalaman, bagi gw masih banyak film lokal yg kurang segitu worth it nya utk ditonton di bioskop (just an opinion, jangan tensi dulu ya). Film2 lokal lainnya gw tonton paling di VCD sewaan atau pernah juga di JIFFEST mumpung gratis hehe. But anyways, kita balik lagi ke manuk dadali…eh maksudnya Garuda di Dadaku ini.

Bayu (Emir Mahira) adalah anak kelas 6 SD, pecinta dan memang berbakat dalam sepak bola karena almarhum ayahnya adalah mantan pemain di tim nasional RI (yg kalo main kostumnya ada lambang garuda Pancasila di dada sebelah kiri,
get the idea?). Bayu dan ibunya (Maudy Koesnaedi) kini tinggal di rumah sang kakek dari pihak ayah, Usman (Ikranagara, dengan tampilan yg agak mirip Antasari Azhar (?)) seorang pensiunan Pertamina yg juga berarti–meski tidak hidup mewah–tidak pernah khawatir soal uang. Sayang disayang, si Kakek justru anti sepak bola, dengan pengalaman bahwa sang anak yg pernah di timnas meninggal saat bekerja sbg supir taksi. Segala hal yg berhubungan dengan sepak bola dilarang bagi Bayu (kecuali kostumnya…aneh). Tapi selalu saja ada cara Bayu utk bermain sepak bola, apalagi ia bersahabat baik dengan Heri (Aldo Tansani), anak wong sugih berkursi roda penggila sepak bola yang sangat mendukung hobinya itu, termasuk untuk cita-cita Bayu masuk timnas U-13 dan memakai lambang garuda di dada kirinya (sweet ^_^).

Suatu hari dengan cara yg film banget, bakat Bayu tertangkap mata oleh seorang pelatih (aah lupa namanya, pokoknya Ari Sihasale) yg mengajaknya bergabung di sekolah sepakbola Arsenal (ada yach?). Ini merupakan jalan pembuka Bayu agar bisa masuk timnas, tapi ini sekolah mahal, dan jelas ini nggak boleh ketahuan kakeknya. Maka Bayu bersama Heri dan sopirnya (ah lupa juga namanya, yg main Ramzi dengan bagus sekali) berusaha berlatih sepakbola untuk ikut seleksi dan mendapat beasiswa di sekolah itu, dan kalau itu lewat, selanjutnya adalah ikut seleksi timnas U-13! Tentu tidak mudah karena Bayu dan Heri harus main rahasia2an dan tipu muslihat agar tidak dicurigai oleh sang kakek, apalagi Bayu sama si kakek disuruh juga les matematika, bahasa inggris, musik, dan lukis..capek dong . Sanggupkan Bayu mencapai cita-citanya? Dan apalah artinya film kalau rahasianya tidak ketahuan? ^o^’


Bila ditonton sampai habis, film ini punya inti cerita yg cukup baik dan manis, tidak terlalu serius apalagi pretensius (kalo itu mah kebanyakan di film atau komik Jepang, lebay dah), serta cukup jelas juntrungannya. Seorang anak pengen masuk timnas, tapi keadaan merintanginya, itu saja. Plotnya berjalan sebagaimana
sport movie generik –yg berarti endingnya sudah bisa ditebak tapi tetap ditunggu, ditambah bumbu kekeluargaan dan persahabatan (siapa yg gak mau punya temen kayak Heri?). Gw cukup diyakinkan dengan setting film dan karakterisasinya yg tidak mengada-ada. Film ini punya modal yg sangat baik, apalagi temanya sangat jarang diangkat, tambah lagi sepakbola adalah olahraga terpopuler di Nusantara. Pokoknya film ini layak lah untuk laku.

Tapi bukan berarti tanpa kekurangan. Terlepas pengaruh format gambar VCD yah, menurut gw sinematografinya masih kurang cantik, padahal tata artistiknya bagus. Dari segi cerita juga, selain hal2 klise dalam sebuah
sport movie, banyak bagian2 yg mnurut gw gak terlalu penting, termasuk tokoh anak perempuan, Zahra yg sepertinya hanya dibuat agar Bayu bisa mengelabui kakeknya dengan lukisan Zahra, dan supaya ada benih cinta nyemot sama Heri. Keanehan juga gw rasakan pada kakek Usman yg menyuruh Bayu untuk les musik dan lukis supaya nanti (yg diucapkan berulang-ulang sepanjang film) jadi orang sukses dan elit, nggak seperti pemain sepakbola. Aneh karena seharusnya bagi generasi pak Usman –dan kayaknya sampai sekarang juga—bukannya pelukis dan pemusik tidak lebih elit atau lebih tajir daripada atlit? Yg elit dan tajir mah kerja di perusahaan minyak kayak Pertamina dong (tdk termasuk SPBU yah hihi). Belum lagi ada orang tua murid sekolah Arsenal yg mau menyuap agar anaknya masuk seleksi timnas, maksud yang mau disampaikan baik, tapi jatuhnya kurang nempel sama keseluruhan filmnya. Dan jangan tanya sama penempatan iklan yg sumpah kasar banget. Film baru mulai, udah ada adegan Bayu mandi dan disuruh kakeknya "Bayu, jangan lupa keramas!", dan botol sampo Lifebuoy dengan jelas diambil Bayu. 2 kali loh. Apaan sich?

Para aktor bermain pas-pas saja, tidak jelek. Mnurut gw Ramzi yg paling berhasil membawa perannya dengan santai dan selalu menyegarkan sebagai bang sopir yg asik dan kocak. Pemeran2 anaknya mungkin tidak senatural anak2 di Laskar Pelangi, tapi setidaknya mereka tidak kaku.
Overall, Garuda di Dadaku adalah film yg baik, berbekal cerita yg terkesan hangat dan bersahaja tanpa ambisi yg terlalu berlebihan (gw belum nonton tuch film yg ngaku2 "Megafilm"). Gw kurang yakin ketika film ini mulai, tapi pas abis ternyata gw tersentuh juga TvT. This film has a heart. Gw suka dengan eksekusi endingnya yg tidak biasa dan bikin tersenyum ikhlas. Kapankah semua pemain sepak bola kita bermental Bayu (minus berbohong yah), dan kapankah semua pembina sepak bola kita bermental Heri? Indonesia masih menunggu kalian *cieileeh*.



My score:
7/10



NB: Ada yg menghitung berapa kali nama "Bayu!" atau "Bay!" diucapkan? Kayaknya porsinya berlebihan deh..^.^'

Senin, 05 Oktober 2009

[Album] The Banery - Janji Pasti


The Banery - Janji Pasti
(2009 - myOyeahmusic/Universal Music Indonesia)


Tracklist:
1. Tanpa-Mu

2. Cemburuisme

3. Janji Pasti

4. Waktu Yang Menjawab

5. Romee

6. So Sad

7. Tak Bisa Begini Tak Bisa Begitu

8. What I Said

9. Life

10. Karena Dia (akustik)

11.
iklan RBT (^_^')


Yang sering denger radio2 "anak muda" mungkin cukup akrab dengan lagu "Karena Dia" dari The Banery, terutama tarikan "diaaaaa...aaa..aaa...adalah penghancur, penghancur hidupku" yg rada adiktif itu. The Banery adalah salah satu pemenang kompetisi band L.A. Lights Indiefest 2008, sebuah kompetisi yg dari judulnya aja kayaknya sih para lulusannya agak sulit untuk sukses secara komersil. Gw hanya pernah mendengar dua nama lulusan kompetisi yg lalu-lalu: Vox dan Monkey to Millionaire, tapi di bursa radio mereka sedikit tergilas sama yg lebih terkenal. Lain cerita dengan The Banery, gw cukup sering denger lagu hit "Karena Dia" di radio, dan mereka terbilang beruntung udah berkali-kali main di TV (di Dahsyat RCTI aja udah 3 kali)...gw tau alasannya: The Banery punya potensi pasar yg lebih luas dari rekan2nya. Musik mereka mudah diterima di kuping dan tampilan mereka juga cukup menyenangkan dilihat (pakaian warna-warni dan dasi kupu2 yg senantiasa eksis ^^). Tampaknya juga, baru The Banery yg distribusi albumnya di "bantu" sama major label, padahal baru album debut loh!

The Banery adalah 'B'and yg terdiri dari 'A'dam (drum), 'N'anda/Oddo (keyboard, vokal), 'E'gi (gitar, vokal), 'R'afli (bass, vokal) dan 'Y'udhi (rhythm gitar, vokal) --nah, kenapa namanya The Banery hayoo...?-- yg hadir dengan mengusung musik yg mereka sebut "British Sunshine Pop"...atau mungkin orang2 bilang musik "agak mirip The Beatles" karena memang mereka tadinya copyband The Beatles...kalo gw bilang "pop dan rock n roll jadul" ^0^. Memang sama sekali nggak ada modernisasi dari musik The Banery, semua back to basics bernuansa 60's-70's, mirip The Changcuters tapi tidak segila itu, atau Naif tapi tidak selucu itu. Tapi intinya, musik mereka, setidaknya di satu album Janji Pasti ini melodinya catchy dan enaak didenger. Komposisi nya asik2, banyak yg bisa bikin kepala goyang2 kecil, misalnya di lagu jualan "Cemburuisme" yg agak meng-dangdut, atau lagu sedih-tapi-kok-ceria "So Sad".

Seperti yg gw denger di sebuah statiun radio saat mereka diwawancara, mereka memang berkonsep optimisme walaupun isi lirik justru kebalikannya--ya kayak "Karena Dia" itu. Malah walau liriknya marah2 kayaknya "Cemburuisme" dan "Romee", musiknya tetep asik. Hanya ada satu lagu yg bener2 slow, "Waktu Yang Menjawab" yg seakan membawa gw ke jaman kejayaan Favourite Band tahun 70-an (fyi, itu band yg vokalisnya Mus Mulyadi, thanx to my parents' karaoke laser discs). O ya..The Banery ini berlima, dan ada empat orang yg berstatus "vokal", jadi lead vocal nggak cuman melulu 1 orang. Bassis dan lead vocal di lagu "Karena Dia", Rafli paling sering hadir termasuk menambah (istilah paduan suara) suara III di tiap lagu, emang dia sih yg gw bilang paling mantep euy suaranya.

Jujur gw suka hampir semua lagu si album ini. Favorit gw adalah "Cemburuisme", "Janji Pasti" yg berpotensi komersil, "Romee" dan "So Sad". Tapi gw mulai merasakan ada pengulangan ketika "Tak Bisa Begini Tak Bisa Begitu", "What I Said" --lagu yg membuat mereka jadi salah satu pemenang kompetisi Indiefest, dan "Life" (lagu berbahasa Inggris yg rada ngawur grammarnya hihihi) mengalun berurutan. Masing2 lagu sebenernya enak, tapi kalo diurutin begitu nada dasarnya kayak sama semua (^o^) jadi agak kagok membedakannya kalo hanya dari bagian awal--atau mungkin karena lead vocalnya bang Rafli semua (^.^'). Dan terima kasih kepada yg namanya strategi marketing, lagu hit radio "Karena Dia" versi full band TIDAK ADA di album ini, karena hanya bisa didapat di album kompilasi L.A. Lights Indiefest Vol. 3. Damn! Versi akustik yg ada di sini bagaikan "versi loyo" dari yg aslinya, tapi daripada gak ada sama sekali? Gakpapa deh, lumayan kok. T-T Selain itu, gw kok ngerasa album Janji Pasti diperlakukan terlalu "indie" atau terlalu "jadul" dari segi hasil rekamannya. Ada sedikit noise dan suara gitar elektrik yg sering mendem, suara keyboard kegedean dan mixing vokal yg timpang (cth "Cemburuisme" ^_^') membuat gw bertanya-tanya: "2009 nich?" hehehe, atau mungkin disengaja agar unsur vintage nya jadi definitif? Entahlah, sedikit ganggu tapi untungnya "The Banery"-nya sendiri tidak terhalangi oleh kekurangan2 itu. Bakat gak bisa bo'ong lah, haha.

Di luar kekurangannya, gw sangat menikmati album Janji Pasti. Misalnya dengan rekaman yg lebih baik dan menambahkan lagu "Karena Dia" versi original serta perbaikan tata bahasa di lagu "Life" ^_^' this would be a near-perfect album. The Banery sebagai artis sangat menjanjikan (I'm a new fan), sangat pantas dilirik oleh pecinta musik Indonesia, dan sangat layak untuk laku, apalagi gw yakin akan ada saatnya konsumen musik jenuh dengan tawaran band tampilan-sangar-tapi mellow-melayu-lagian-aransemen-dan-skill-begitu-begitu-ajah keluaran major label dan berpaling ke musik yg berbeda tapi tetep enak seperti The Banery ini.

Salam dasi kupu-kupu!


my score: 7,5/10



The Banery



PS: Gw baca thanks note dari personelnya: gitaris dan lead vocal "Cemburuisme", Yudhi berterima kasih sama Kamen Raider dari angkatan pertama sampai sekarang sebagai penyemangat (haha). Tapi ternyata sang drummer, Adam juga berterima kasih sama kartun2 Jepang terutama "BLEACH" (hey..I'm a fan also ^_^) sebagai penyemangat. Gw yakin, waktu bikin note itu, salah satu dari mereka pasti nyontek! (~<^0^> ~)


Previews courtesy of YouTube


Karena Dia (versi yg tidak ada di album T_T)


Cemburuisme



Romee (live at L.A. Lights Indiefest 2009 Live Audition, Surabaya)



What I Said (versi Indiefest 2008, blum ada dasi kupu-kupu haha)


Sebenarnya preview gak cuman ini tapi yg diposting di YouTube nggak banyak.

More previews at The Banery Facebook fanpage. Enjoy ^.^


Minggu, 04 Oktober 2009

[Album] Rezza - The Voicer



Rezza - The Voicer
(2009 - Aquarius Musikindo)

Tracklist:
1. Ketulusan

2. Pertama

3. Tidakkah Kau Lihat

4. Biar Menjadi Kenangan (Duet with Masaki Ueda)

5. Cintakan Membawamu Kembali

6. Keyakinan

7. Berharap Tak Berpisah

8. Dia

9. Cinta Kita

10. Keabadian

11. Getir (feat. PAS)

12. Satu Yang Tak Bisa Lepas



Rezza Artamevira yg ini adalah dulu Reza Artamevia yg "itu", yg langsung terkenal saat debut di tahun 1997 akibat nyanyi sambil meperin badan di tembok di video musik lagu "Pertama". Entah apa makna dibalik penambahan huruf "z" dan "r", mungkin semacam "buang sial" setelah karirnya mandek krn drama perceraian yg sangat publik (ya, gw emang nonton gosip, ada yg protes?) beberapa tahun yg lalu, kini Rezza muncul lagi dengan album kompilasi, atau istilah gampangnya "the best" dengan judul The Voicer--entah apa artinya--...Lagu2 Rezza yg sempet nge-hits dari ketiga album yg dihasilkan sebelumnya dikumpulkan di album ini ada 9 lagu, ditambah 3 lagu baru: "Ketulusan", "Tidakkah Kau Lihat", "Keyakinan". Sama seperti kasus album "the best" dari artis2 Indonesia lainnya (Ari Lasso, Project Pop, KLa Project, dll), mnurut gw ini terbilang pelit!

Bagi yg memang "tumbuh" di akhir tahun 90-an dan sampai pertengahan 2000-an, pasti kenal betul hits "Pertama", "Satu Yang Tak Bisa Lepas", "Biar Menjadi Kenangan", "Keabadian", "Cinta Kita", "Berharap Tak Berpisah", lalu cover version "Cintakan Membawamu Kembali" (Dewa 19) dan "Dia" (Vina Panduwinata). Waktu lagu2 ini mengalun pasti reaksinya bakal : "Oow" atau "Ya ampun, lagunya...!" ^^ sebagai bentuk ekspresi nostalgia kita bahwa Rezza memang sempat menjadi penyanyi wanita paling top sejagat Nusantara, dengan suara besar, berat berkarakter dan image seksi yg sampai sekarang belum ada yg bisa mengungguli ( image seksi mungkin ada, tapi plus suara berkarakter? maap2 nih). Lagu2 lama tsb adalah senjata utama album ini yg siap memanjakan telinga. Gw pribadi paling suka "Berharap Tak Berpisah" karena berbeda dari warna pop ballad dan R&B yg menempel pada Rezza, plus melodi dan aransemen yg masih terdengar asik meski udah 7 taunan sejak pertama keluar. Izinkan akuuuuhu....^O^

Soal lagu2 barunya, nggak masalah, tidak jelek, termasuk lagu ciptaan Rezza sendiri "Keyakinan", walaupun sebenarnya aransemennya kurang mantep. Masalahnya bagi gw adalah urutan lagu yg campur aduk antara yg lama dan baru...ketika kita enak2 nostalgia dengan lagu2 lama, ternyata nyelip lagu baru, yg lewat bagaikan iklan TV yg menggangu kenikmatan nonton sinetron (oh tidak, kali ini gw gak nonton sinetron...sori selera gw Lost dan House hehe). Ada baiknya yg baru2 itu dikelompokin di awal atau di akhir, untuk menunjukkan "ini Reza yg dulu, dan ini Rezza yg sekarang dan masih bisa unjuk gigi". Gw nggak ngerti deh apa pertimbangan si label utk membuat urutan lagunya demikian serta kurangnya lagu yg dimuat. Ada satu lagu hit --nggak nge-hit juga sih, tapi setidaknya ada video musiknya-- dari album ketiga Rezza, Keyakinan yg judulnya "Putus", dan juga lagu yg menurut gw bagus "Aku Wanita" dari album Keabadian yg sayangnya luput ditampung di album ini. Atau harusnya dikasih bonus "Biar Menjadi Kenangan" versi bahasa Jepang mungkin, agar album ini punya nilai istimewa, tapi itupun sepertinya tak terbesit di pikiran pembuatnya. Pelit!!

Satu lagi yg gw sayangkan dari album Rezza ini adalah kualitas CD-nya. Entah gw doang atau gimana, CDnya yg berharga 35rb rupiah ini agak skip-skip saat diputer pertama kali, dan pada pemutaran kedua dan seterusnya, 4 lagu terakhirnya ada suara clicking "cak cik cuk cak cik cuk" yg lazimnya hanya ada di CD bajakan. Lagi nggak hoki gw kayaknya hiks hiks. Yah mau gimana lagi, terlanjur beli..kecuali manajemen Rezza mau gantiin CD gw hehehe...(udah ngatain pelit, minta ganti CD lagi...haha)

Bagi penggemar Rezza, atau yg mau mengenang bahwa Mr. Dhani Ahmad selera musiknya masih nggak aneh-aneh (album 1 dan 2 Reza adalah 90% buatan Dhani, good music indeed), atau yg dulu suka Rezza tapi belum sempet beli albumnya, The Voicer sangat boleh dijadikan pilihan. Tapi dicoba dulu yah di tokonya sebelum bayar hehehe...



my score: 6/10 (penilaian belum termasuk kualitas fisik CD..hihihi)


Rezza
(photo from www.aquarius-musikindo.com, obviously ^^')



Previews courtesy of YouTube
Ketulusan (cuman nemu yg kualitasnya begini, maap ya)



Pertama...the infamous white walls haha



Biar Menjadi Kenangan duet with Masaki Ueda
(lagi lagi, cuman nemu yg kualitasnya begini, maap ya)




Berharap Tak Berpisah
(great song, great music video, my favourite of hers)