Kamis, 27 Agustus 2009

[Movie] District 9 (2009)


District 9
(2009 - TriStar)
Directed by Neill Blomkamp

Screenplay by Neill Blomkamp, Teri Tatchell

Produced by Peter Jackson, Carolynne Cunningham

Cast: Sharlto Copley, Jason Cope, David James, Vanessa Haywood, Louis Minnaar


Meski bertema alien, District 9 bukanlah termasuk film mahal dengan strategi marketing heboh seperti film2 musim liburan lainnya. Lucunya, walau tanpa bintang terkenal, tanpa backingan studio besar, setting serta sebagian krunya adalah dari Afrika Selatan (yg jarang banget jadi setting film apapun, apalagi alien2an),
budget “hanya” sekitar 30 juta dolar dan berbekal nama sang produser, Peter Jackson (produser dan sutradara film2 kecil berjudul Lord Of The Rings 1,2,3 dan King Kong ^_^’), film ini ternyata nggak kalah heboh buzz-nya karena kabar mulut ke mulut (dan Twitter) dari orang2 yg sudah menonton dan merasa puas. Biasanya, film yg terkenal dengan cara seperti itu memang lebih terjamin daripada yg ngaku2 besar, mahal, spektakuler, bahkan megafilm (wah…film apa tuh? *padahal gw blum nonton*) tapi ternyata filmnya sendiri memble. District 9 kembali membuktikan bahwa hal itu benar adanya (atau ada benarnya?).

Tahun 1980-an, sebuah UFO besar tiba2 mangkal cukup rendah di langit Johannesburg, Afrika Selatan. Tak ada aktifitas selain melayang di atas awan, pemerintah beserta Multi-National Union (MNU…paralel nya UN/PBB mungkin) menerabas masuk dan menemukan makhluk2 asing yg bentuknya mirip udang versi tinggi dan berkaki (maka disebut “prawn”) mengerumun di dalam UFO itu. Dinilai tak terurus terlunta-lunta, disediakanlah rumah2 pengungsian bagi mereka di atas bumi Johannesburg. 20 tahunan para
prawn hidup di kawasan yg disebut District 9 ini, tapi karena perbedaan cara hidup (ya iyalah, kita makan daging sapi, mereka makan kepala sapi mentah2, mnurut loe?) dan dianggap membahayakan, maka District 9 dipagerin dan para prawn ini gak boleh keluar ke kawasan “manusia”. Lama2 kawasan penuh alien ini jadi kumuh dan benar2 liar. Karena tekanan dunia terutama soal HAA (hak asasi alien, hahaha, ngarang aja gw), para prawn ini rencananya akan dipindahkan ke kawasan yg “lebih layak”. Jelas nggak semuanya mau. Di sinilah cerita dimulai.

Wikus van der Merwe (Sharlto Copley) adalah petugas MNU yg harus mendapatkan “tanda tangan” persetujuan para
prawn untuk pindah, sekaligus inspeksi barang2 ilegal. Di sebuah gubuk prawn ia menemukan sebuah laboratorium, dan ada kecelakaan kecil terjadi ketika Wikus menemukan sebuah tabung kecil (kayak foam cukuran) tapi isinya muncrat ke mukanya. Little he knew, Wikus terkontaminasi zat yg ternyata membuatnya berangsur-angsur berubah jadi prawn, dimulai dari tangan kirinya. Mengetahui ini, pihak MNU berencana menjadikan dia objek eksperimen dan mengambil semua organ tubuhnya untuk diteliti. Wikus kemudian berhasil kabur, jadi buronan nasional (dengan tuduhan dia melakukan interaksi seksual dengan prawn…ewwh). Gak ada tempat baginya untuk sembunyi, di rumah juga gak bisa, secara mertuanya itu petinggi MNU, maka dia nyelonong ke District 9.

Wikus kemudian bertemu dengan
prawn bernama Christopher Johnson (don’t ask how he got the name. Diisi suaranya oleh Jason Cope) dan anaknya yg kecil, yg kalo kata kritikus Roger Ebert adalah dua prawn yg paling “beradab” di film ini, yg ternyata adalah pembuat tabung sumber malapetaka Wikus itu. Dia butuh tabung itu untuk bahan bakar pesawat kecil yg tertanam di bawah rumahnya agar bisa terbang ke UFO nya lalu pulang ke planet asalnya. Christopher juga mengaku bisa menyembuhkan Wikus, dan mau aja, tapi dengan syarat tabung yg kini disita di lab MNU itu didapatkannya kembali. Berbekal kenekatan, Wikus dan Christopher berdua menerobos lab MNU dengan “senjata alien” yg mereka peroleh dari gangster Nigeria di District 9, dan berusaha demi tujuan mereka masing-masing sambil dikejar2 tentara MNU pimpinan Koobus (David James) yg nggak ketulungan sadisnya, because nothing is always easy.

Jangan anggap sebelah mata film yg boleh disebut produk Afrika Selatan ini. Dengan naskah yg baik dan presentasi yg agak potong pinggir (
cutting edge ^_^’), District 9 sangat layak tonton, kecuali yg gak suka adegan cenderung kerasm kejam dan agak jijik. Film ini diceritakan kayak tayangan dokumenter Fakta atau Metro Realitas, dengan wawancara beberapa ahli dan footage2 TV dan CCTV (tapi yah ini versi bo’ongan lah), tapi nggak sepanjang durasi 112 menit gitu doang, tetep ada “kamera” yg ngikut Wikus kemana dia pergi seperti film pada umumnya. Gabungan 2 gaya ini ngingetin gw sama Cloverfield campur Slumdog Millionaire. Adegan action yg cenderung sadis ditampilkan cukup keren dan memuaskan. Sang pemeran utama, Sharlto Copley dengan logat Afsel yg jelas lebih otentik daripada Leonardo DiCaprio di Blood Diamond, tampil “gila” alias luar biasa meyakinkan sebagai Wikus yg agak sedikit dodol dan panik, padahal ini film pertamanya dan dia bukan aktor secara profesi (but I think he should consider it though). Tapi yg paling maksimal mnurut gw adalah visual efek yg nggak keliatan kayak visual efek. Semua prawn murni CGI, tapi dengan tekstur dan pencahayaan sedemikian rupa, keliatan bener2, betul2, sangat2 kayak beneran. Manteph abis dah!

Diceritakan dengan laju cepet banget, tapi anehnya gw ngerti apa isi ceritanya. Konon ide dasarnya terinspirasi politik apartheid yg diterapkan di Afsel dulu, yg membedakan hak dan kewajiban warga kulit hitam dan bule. Yg gw kepikiran adalah bagaimana sebenernya para
prawn itu punya kemampuan dahsyat dan bisa mengalahkan manusia dengan mudah, senjata alien nya aja bisa ancurin seluruh badan orang sekali tembak (!), tapi selama ini entah kenapa mereka nurut aja sama manusia, malah manusianya yg jadi lebay (gw ngerti sih kenapa, they’re aliens, we don’t understand them). Mungkin krn sebenarnya mereka hanya ingin pulang? Entahlah, nggak dijelasin. Banyak juga sih aspek yg nggak masuk akal (gw masih nggak ngerti gimana caranya manusia yg berbahasa Inggris berkomunikasi dengan prawn yg berbahasa pletak pletok apaan tau), tapi film ini tetep punya intensitas wahid, mata gw gak bisa lepas dari layar. Dan btw, endingnya tidak klise, tapi mungkin belum tentu memuaskan semua penontonnya. Gw sih fine2 aja.

District 9 sepertinya cukup sukses mempermalukan film2 Hollywood masa kini yg belakangan ini banyak yag tidak tau caranya memanfaatkan biaya untuk membuat karya yg baik dan bermakna. Film ini punya originalitas tanpa harus keteteran di segi teknis. Beberapa kekurangannya bagi gw adalah nilai
entertainmentnya yg memang absen akibat tema yg serius (sebagaimana seharusnya sih, bukan sok serius), serta gw gak habis pikir tokoh Wikus begitu reaktif sehingga sering tanpa ragu menghabisi sesamanya manusia, segitu desperate-nyakah dia? Dan lagi, kenapa juga para prawn harus menukar persenjataan mereka yg lebih canggih dengan senapan ala bumi dari mafia Nigeria? Nevertheless, ini adalah salah satu film paling stand-out tahun ini, skalian bisa belajar ngomong f**k dalam logat Afsel, like this: fok! Hehehe.



my score:
7,5/10

Rabu, 26 Agustus 2009

[Movie] G.I. Joe: The Rise of Cobra (2009)


G.I. Joe: The Rise of Cobra
(2009 - Paramount)

Directed by Stephen Sommers

Screenplay by Stuart Beattie, David Elliott, Paul Lovett

Story by Michael B. Gordon, Stuart Beattie, Stephen Sommers

Produced by Lorenzo di Bonaventura, Bob Ducsay, Stephen Sommers

Cast: Channing Tatum, Marlon Wayans, Sienna Miller, Christopher Eccleston, Joseph Gordon-Levitt, Dennis Quaid, Rachel Nichols, Arnold Vosloo, Ray Park, Lee Byung-Hun, Adewale Akinnuoye-Agbaje, Saïd Taghmaoui, Jonathan Pryce



Setelah Transformers, hadir lagi film berdasarkan mainan anak laki-laki (garis bawahi kata "anak"), kali ini adalah tentara-tentaraan G.I. Joe lengkap dengan peralatannya yg konon adalah produk "anti-Barbie" ^.^'. Dengan pembukaan seperti ini, harusnya kita udah tau bahwa kemungkinan besar filmnya gak akan jauh beda dari khayalan anak2 yg sedang bermain mainan tersebut. Ditambah lagi formulanya aja "perang2an CGI+berdasarkan mainan+sutradara The Mummy dan Van Hellsing+ salah satu produser seri Transformers=standar cenderung basi". Karena perkiraan itu gw gak terlalu getol untuk nonton cepet2, gw nonton sekitar hampir 3 minggu semenjak film ini tayang premier di Indonesia, mumpung udah sepi dan udah bulan puasa (nonton di "jam tarawih", scara gw gak puasa) jadi gak bakalan ngantri dan bisa dapet kursi enak. Lalu, semua itu terjadi sesuai yg gw perkirakan, kecuali filmnya itu sendiri.


G.I. Joe (ada kepanjangannya, tapi lupa,
like I care) adalah sekumpulan tentara multinasional dengan keahlian tinggi dan teknologi super canggih. Ini protagonisnya. Lalu ada juga lawannya bernama Cobra, peralatannya gak kalah canggih, cuman mereka versi antagonisnya. Tapi nyata2nya persenjataan mereka dipasok sama orang yg sama, McCullen (Christopher Eccleston), dan ini bukan spoiler. McCullen punya senjata canggih nanomite yg mirip kutu2 kecil tapi bisa memakan apa saja. Tadinya ini buat NATO, tapi si McCullen secara rahasia dengan bantuan Cobra (ini juga bukan spoiler) pengen ambil dan pake sendiri buat menghancurkan kota2 besar di dunia sehingga seluruh dunia takut dan minta tolong sama dia (praktek monopoli, awas ketauan KPPU tuh). Tugas G.I. Joe, ya apalagi kalo bukan mencegahnya. Intinya sih begitu.

Namun apalah artinya inti itu kalo yg mau ditonjolkan adalah perang2an dan ledak2an dengan peralatan yg (untuk jaman sekarang) mustahil....tapi G.I. Joe untungnya masih eling dan lebih nyangkut di (kalo istilah di Opera van Java) benang merahnya. Inilah yg membuat gw berkesimpulan ini film masih mendingan daripada Ketika Transformers Bertasbih 2 (
credit to Mr. Hamam ^_^) Tambah lagi, film ini ternyata "ada" tokohnya, dan banyak (liat kolom Cast di atas) tapi lumayan bisa diingat. Ditonjolkannya tokoh Duke (Channing Tatum) dan Baroness ((the very lovely Sienna Miller) yg ada pihak berseberangan, dan Snake Eyes (Ray Park) dan Storm Shadow (Lee Byung-Hun) yg juga di pihak berseberangan, lewat beberapa adegan flashback lumayan menjelaskan seteru mereka di masa sekarang...nggak penting sih, tapi lumayan lah. Setidaknya masih ada "manusia" di film ini, dan gw cukup bersimpati pada mereka, apalagi diselipin CLBK Duke dan Baroness dan PDKT si cerewet Ripcord (Marlon Wayans) sama si jenius Scarlett (Rachel Nichols) yg cukup mengimbangi adegan2 actionnya. Soal adegan action yg jadi jualan utamanya, memang cukup fresh meski tetep "ngarang banget" dan khayalan masa kecil banget, tapi nggak menjemukan, lebih bikin melek daripada film Wolverine setidaknya. Adegan kejar2an di Paris seru!

Kalo gw mau jujur, film ini ceritanya (tak disangka) lumayan loh. Adegan2nya "beralasan", standar tapi ramuan intriknya cukup enak....hanya saja sutradaranya tidak terlalu mementingkan cerita. Sommers kurang punya
sense of storytelling yg baik karena gw merasa segala hal di film ini buru-buru. Nangkep sih gw, tapi gak ngeresep. Bahkan Sommers sepertinya kurang "pamer" kecanggihan teknologi dan tentunya dunia G.I. Joe, semua seperti sambil lalu saja, jatohnya malah kurang keren. Materi standard yg OK, di tangan Sommers jadi sangat standard dan klise, kayak kartun TV atau film2 action kelas B dengan dana lebih, atau kayak film anime Jepang yg didubbing dan diedit ulang di Hollywood, the pace is just too quick. Aktor2nya yah gitu-gitu aja, yg paling bagus mainnya (kebetulan yg seksi juga hohoho) adalah Sienna Miller yg tetep menebar pesonanya ke penonton dibalik rambut hitam dan aksen Amerikanya, she's lovely indeed @_@ (padahal tadinya gw cuman tau Sienna Miller yg dizalimi sama mantan pacarnya, Jude Law yg selingkuh sama babysitter...hihihi), ternyata dia aktris yg aktingnya sangat okeh utk ukuran film action musim liburan. Sayang musiknya udah lebay, nggak memorable pun. CGI nya bagus tapi yah itu tadi, cuman sambil lalu ajah kliatannya.

Overall
, dengan ditonton setelah macet di jalanan Jakarta sekaligus menurunkan derajat IQ dan kedewasaan berpikir, G.I. Joe ini sedikit di atas ekspektasi gw. Gw merasa "sama2 bodoh" dengan filmnya, bukan "dibodohi", and that's quite alright with me. Joke2nya boleh bikin senyum sedikit. Endingnya juga sengaja dibuat agar berpotensi sequel (cape deh), tapi tetep tidak semurahan Transformers 2 (gw terus bandingin sama film itu, abis nuansanya mirip sih, mainannya juga satu pabrik). Nggak penting, tapi juga bukan sampah bau ^_^'.


my score:
5,5/10



Selasa, 18 Agustus 2009

[Movie] Doubt (2008)


Doubt
(2008 - Miramax)
Directed by John Patrick Shanley
Screenplay by John Patrick Shanley
based on his stage play
Produced by Scott Rudin, Mark Roybal

Cast: Meryl Streep, Philip Seymour Hoffman, Amy Adams, Viola Davis



Gereja Katolik St. Nicholas di Bronx, New York adalah juga yayasan pengelola sekolah di sana. Tahun 1964, SMP St. Nicholas, yg hampir seluruh staff pengajarnya adalah suster dari Sisters of Charity menerima siswa kulit hitam pertama, Donald Miller (Joseph Foster II). Romo Brendan Flynn (maksudnya Pastor...tapi gw terjemahin biar sama kayak panggilan
Father Flynn ^^', btw yg main Philip Seymor Hoffman) pun cukup menaruh perhatian pada bocah ini, dan kerap menunjuknya sebagai putra altar. Kepala sekolah tensi-super-tinggi Suster Aloysius (Meryl Streep) juga cukup berhati-hati dengan keberadaan Donald agar tidak menyulut kontroversi, tapi dia ternyata lebih berhati-hati lagi sama Romo Flynn. Untuk alasan yg (awalnya) tidak kita ketahui, Suster Aloysius yg kolot sekolot-kolotnya itu memang agak gak suka sama Romo Flynn (ngajar juga jadi guru olahraga) yg supel dan pandai mengakrabkan diri dengan anak2 SMP itu, pastor modern gitu deh (kukunya panjang pula...tapi ngeklaim "yg penting bersih" ^_^).

Apa yg jadi ganjalan di hati Suster Aloysius akhirnya terjadi juga. Suster James (Amy Adams) yg baik hati dan polos, wali kelas Donald, melapor bahwa Donald bertingkah aneh sesudah dipanggil secara pribadi ke kantor Romo Flynn di tengah2 pelajaran. Suster Aloysius menangkap sinyal bahwa Donald di"apa-apain" sama Romo Flynn. Kok bisa2 nya suuzon gitu?
Again, (awalnya) kita nggak tau. Bahkan ketika Romo Flynn mengklarifikasi bahwa kecurigaan itu tidak benar, Suster James lumayan percaya, tapi Suster Aloysius tidak. Ia begitu keukeuh dengan apa yg ia curigai, dan berusaha sangat keras untuk membuktikan bahwa dia benar.

Doubt pada akhirnya bukan cuma judul, tapi juga perasaan penonton (setidaknya gw) seusai menonton. Ketika inti film ini adalah kecurigaan Suster Aloysius bahwa Romo Flynn melecehkan Donald, umumnya penonton menuntut jawaban pasti...akhirnya yg ada hanya keraguan (
doubt, hehehe). Kita tidak tau apakah kecurigaan Suster Aloysius itu benar, meskipun Romo Flynn (juga Donald) sudah menyangkalnya, tapi kita juga melihat petunjuk2 kecenderungan ke arah sana juga ada. Banyak yg bilang pihak penonton diwakili oleh tokoh Suster James. Ia tadinya cukup puas dengan keterangan Romo Flynn, tapi dia (dan kita) mulai ragu lagi mengingat Romo Flynn mengembalikan kaos singlet ke loker Donald secara diam2, dan juga memeluk Donald yg abis diisengin di lorong sekolah. Mungkin itu bukan apa-apa, tapi bisa jadi apa-apa juga kan?...see what I mean?

Sedikit spoiler deh, Suster Aloysius berbincang dengan ibu Donald (Viola Davis) memunculkan kemungkinan bahwa (dalam tangkapan gw) kalaupun yg dituduhkan Suster Aloysius itu benar, Donald pun sepertinya gak terlalu keberatan (nah lho!). Romo Flynn akhirnya keluar dari St. Nicholas menuruti "saran" Suster Aloysius kalau tidak ingin dilaporkan. Apakah karena memang dia bersalah? Atau bisa juga untuk mempertahankan reputasi daripada karirnya sebagai pastor hancur? Krna pola dari dialog2 film ini adalah maksud para tokohnya disampaikan secara implisit, tidak secara gamblang, kita nggak tau dengan pasti. Bagi sebagian besar penonton, mungkin ini akan bikin gregetan dan akhirnya membosankan (apalagi film ini banyak ngobrolnya).
But for me, that's just beautiful..

Di luar performa para aktornya yg luar biasa (empat nama yg gw tulis di kolom "Cast" masuk nominasi Oscar semua) dan gambar yg cukup cantik, yg membekas bagi gw dari film ini adalah bagaimana ramuan adegan dan dialognya yg bener2 memberi efek "doubt" sebagaimana ide utamanya, baik pada tokoh2nya maupun kepada penonton dengan begitu puitisnya. Judulya udah Doubt, berbicara tentang keraguan, dan memang menantang penonton untuk meninjau ulang "judgment" mereka terhadap tokoh2 yg ada. Dengan begitu, film ini tidak hanya tentang Romo Flynn bersalah atau tidak, tapi menguatkan pepatah lama: rambut boleh sama hitam, tapi hati orang siapa yang tahu. Orang boleh berbicara apa saja bahkan dengan sangat meyakinkan, tapi isi hati yang sesungguhnya kita tak pernah bisa jamin.
Everybody has doubt. Jenis film yg cocok untuk didiskusikan bahkan lama setelah nonton.my score 8/10

Senin, 03 Agustus 2009

[Movie] Ice Age: Dawn of The Dinosaurs (2009)


Ice Age:Dawn of The Dinosaurs

(2009 - 20th Century Fox)

Directed by Carlos Saldhana
Co-Directed by Mike Thurmeier

Screenplay by Peter Ackerman, Michael Berg, Yoni Brenner, Mike Reiss

Story by Jason Carter Eaton

Produced by John C. Donkin, Lori Forte

Cast: Ray Romano, John Leguizamo, Dennis Leary, Queen Latifah, Seann William Scott, Josh Peck, Simon Pegg



Entah kenapa, gw nggak pernah punya niat khusus untuk nonton seri Ice Age. Gw nonton Ice Age pertama (yg ternyata cukup lucu dan menghibur, dan gambarnya bagus) udah telaat banget, udah hampir mau ilang, dan itu di 21 Metropolitan Mall Bekasi (yg dulu film2nya telat minta ampun). Ice Age 2 gw skip tanpa alasan jelas sampe sekarang. Ice Age 3 yg barusan juga hampir gw skip, tapi akhirnya review2 dan rekomendasi teman2 meluluhkan hati gw, dan gw akhirnya nonton ketika film Up lagi rame2nya (tetep gw nontonnya lebih belakangan dari kebanyakan orang). Tak diduga tak dinyana, filmnya bagus. Kalau sebelumnya gw baru bisa ngakak di bioskop setelah sekian lama sewaktu nonton Up, tenyata nggak lama kemudian, gw bisa ngakak lagi waktu nonton Ice Age 3 (tapi kali ini nggak bisa keras-keras, gw nonton sendirian dan di kiri kanan gw ada orang ^_^').


Sedikit background, Ice Age awalnya bercerita mengenai persahabatan 3 hewan zaman es yg berbeda spesies dan seharusnya tidak bersahabat: Manny si gajah mamot, Sid si beruang(?)
sloth, dan Diego si macan gigipedang smilodon. Di film kedua (konon, secara gw gak nonton), rombongan ini ditambah sama Ellie si jodohnya Manny, dan sepasang tikus(?) oposum Eddie dan Crash. Di awal film Ice Age 3, mereka bersama makhluk lainnya hidup bareng sembari bertahan dari mulai mencairnya es di bumi.

Tapi persahabatan mereka diuji ketika Ellie sedang hamil, Diego mulai kehilangan kemampuan memangsa (kelamaan temenan sama makhluk herbivora mungkin hihihi), dan Sid yg dari dulu ampe sekarang selalu bikin sial, kebelet ingin jadi induk setelah menemukan 3 telur raksasa, selain karena nggak menemukan jodoh pastinya. 3 telur itu menetas, ternyata muncul 3 ekor dinosaurus, yg menganggap Sid sebagai "mommy"-nya mereka. Meskipun sudah berusaha mendidik agar bisa hidup berdampingan dengan mahkluk yg "lebih jinak", tapi 3 dino cilik ini tetaplah ganas dan mengganggu. Sid pun dicecar, tapi ia tetap ingin bersama "anak2nya" itu. Sampai suatu saat, induk asli dari dinosaurus (T-rex yg besaaar) itu datang dan mengambil anak2nya, Sid pun ikut terbawa. Atas nama nilai kekeluargaan, Manny, Diego, Ellie, Eddie dan Crash bareng2 pergi untuk menyelamatkan Sid. Pencarian mereka sampai pada dunia yg tak pernah mereka ketahui. Di bawah tanah yg jauh, para makhluk2 purba yg seharusnya punah ternyata masih bertahan. Usaha mereka pun tidaklah mudah karena wilayah ini terbilang berbahaya...dan petualangan menegangkan nan kocak mereka pun dimulai bersama dengan Buck, seekor
weasel (kayak tikus/tupai/marmut berleher panjang?) petualang yg benar2 menguasai hutan purba itu, selain ada bahaya dari dino paling besar di sana. Akankah mereka akan berhasil membawa pulang Sid?

Kalo gw tulis ceritanya kayak paragraf di atas, cukup biasa yah. Sebelum nonton pun kita tau endingnya bakal kayak gimana. Tapi nilai istimewa Ice Age 3 adalah adegan2nya yg boleh dibilang
pure-comedy. Dialognya penuh dengan jokes cerdas dan somewhat dewasa (tanpa harus jorok), meskipun mungkin anak2 kecil nggak akan terlalu mengindahkan itu. Di lain pihak, kelakuan absurd tokoh2nya serta situasinya pun mengundang tawa dengan timing yang pas. Gw sendiri paling geli waktu Manny dkk terjebak di lembah yg ada gas tertawanya (XD XD XD). Tak hanya didukung sektor humor, beberapa adegan aksinya boleh dibilang mantaps dan somewhat (keluar lagi nih kata) serius untuk ukuran kartun digital/CGI, nggak kalah sama visual efek film2 live action, ini bisa jadi untuk mengakomodir waktu nonton film ini dalam 3-dimensi, tapi di layar 2D pun tetep asik dan seru. Gambar dan animasinya bagus, mengaminkan bahwa karya Blue Sky Studios sama sekali nggak kalah sama studio yg lebih "besar" seperti Pixar dan DreamWorks (well honestly, mnurut gw Blue Sky masih lebih bagus daripada DreamWorks yang kualitas film2nya nggak konsisten).

Final judgement
, film yg sangat menghibur walau ceritanya sederhana tapi masuk kategori "bermaksud baik" dan aman ditonton semua umur (wuih untung pas gw nonton kayaknya nggak ada anak2 kecil yg senantiasa brisik itu). Gw nggak nyesel nontonnya. Oh ya, si tupai kocak Scrat juga masih ada, dan walaupun ceritanya nggak berhubungan langsung dengan cerita utama, porsinya tetep pas dan bikin ketawa mulu, apalagi ada seekor tupai betina, Scratée yg menciptakan semacam "cinta segitiga": antara Scrat, Scratée, dan sebutir biji yg selalu diincarnya itu. Nice and well-crafted film.



my score
8/10



Minggu, 02 Agustus 2009

My J-Pop vol. 35

Kumpulan lagu2 J-Pop asik versi gw ke-35 berhasil gw kompilasikan. Mudah2an jadi referensi berguna. Skali lagi, ini bukan blog "semacam-itu" jadi silahkan usaha sendiri yah kalo mau dapet lagunya fufufu. ^-^


My J-Pop vol. 35

01 Do As Infinity 「生まれゆくものたちへ」 Umareyuku Mono-tachi e
02 冨田ラボ 「Etoile feat.キリンジ」 Tomita Lab - Etoile feat. Kirinji

03 Superfly 「My Best Of My Life」

04 木村カエラ Kaela Kimura 「Butterfly」

05 JUJU 「明日がくるなら JUJU with JAY'ED」 Ashita ga Kuru nara

06 SCANDAL 「少女S」 Shojo S

07 椎名林檎 「ありあまる富」 Shiina Ringo - Ariamaru Tomi

08 いきものがかり 「ホタルノヒカリ」 Ikimonogakari - Hotaru no Hikari

09 MONKEY MAJIK 「アイシテル」 Aishiteru

10 BONNIE PINK 「Joy」

11 YUI 「again」

12 ASIAN KUNG-FU GENERATION 「夜のコール」 Yoru no Call

13 JASMINE 「sad to say」

14 GReeeeN 「遥か」 Haruka

15 絢香  「みんな空の下」 ayaka - Minna Sora no Shita

16 ORANGE RANGE 「瞳の先に」 Hitomi no Saki ni

17 Dew 「Thank you」