Jumat, 31 Juli 2009

[Movie] Up (2009)


Up
(2009 - Walt Disney/Pixar)

Directed by Pete Docter
Co-Directed by Bob Petersen

Story by Pete Docter, Thomas McCarthy, Bob Peterson

Screenplay by Bob Petersen, Pete Docter

Produced by Jonas Rivera

Cast: Ed Asner, Christopher Plummer, Jordan Nagai, Bob Petersen, Delroy Lindo


Pixar itu seperti Baygon: Jaminan mutu. Dari film mereka paling awal Toy Story yg sangat menghibur, sampai tahun lalu WALL-E yang superb, kualitasnya selalu ada di kisaran "bagouus". Pixar bisa dengan sukses mengawinkan dua hal yg penting dimiliki film animasi: gambar bagus dan cerita yg menghibur untuk segala usia, nggak terlalu berat bagi yg kecil, dan nggak terlalu dangkal untuk yg dewasa.

Up, yg terbaru, masih melanjutkan tradisi itu. Secara sederhana, film ini bercerita mengenai petualangan seorang kakek berusia 78 taun, Carl Fredricksen, yg setelah diperintahkan pengadilan untuk masuk panti jompo gara2 mukulin pekerja konstruksi, kabur "bareng" rumahnya...yup, serumah-rumahnya, dengan ribuan balon udara. Tujuan penerbangannya adalah Paradise Fall di pegunungan Amerika Selatan, tempat dimana penjelajah favoritnya, Charles Muntz menemukan mahkluk langka, dan tempat berpetualang impian Carl dan mendiang istrinya Ellie, yg belum sempat terwujud. Maunya sih gitu, tapi ternyata di rumahnya nyangkut seorang anak Pramuka yg terobsesi untuk jadi petualang teladan, Russell. Mau gak mau, mereka menjalani petualangan ini berdua.

Mereka pun tiba di tujuan mereka...emm, deket lah. Paradise Fall nya ada di tebing seberang tempat mereka mendarat darurat. Karena rumahnya nggak bisa terbang tinggi lagi, mereka harus jalan ke tujuan menembus hutan. Petualangan dua karakter lucu nan manis ini dimulai dari sini, ketika pertemuan mereka dengan burung (kayak ayam n_n) raksasa yg diberi nama Kevin oleh Russell dan seekor anjing bernama Dug yg dikalungi alat penerjemah audio bahasa manusia, membawa mereka pada kenyataan bahwa mereka tidak sendirian di pegunungan itu, which is not always a good sign.

Kalo nggak salah ini film kedua Pixar yg tokoh utamanya adalah manusia (setelah The Incredibles). Gw paling salut banget pada karakter2nya yang manusiawi. Carl digambarkan sebagai orang tua yg agak pemarah dan nggak mau diganggu tapi kesepian, sedangkan Russel adalah anak yg polos tapi cerewetnya lumayan ganggu. Interaksi keduanya menimbulkan kelucuan yg memancing tawa tanpa paksaan. Tokoh lain pun sukses mewarnai petualangan rumah terbang ini, baik Kevin maupun Dug (yg pas banget seperti menerjemahkan pikiran anjing ke dalam bahasa manusia...squirell!!).

Kalo boleh, gw bisa membagi film ini dalam 3 babak. Babak 1 adalah latar belakang Carl, bagian ini diisi mulai dari pertemuannya dengan Ellie sewaktu kecil sampai adegan2 singkat tanpa kata hidup Carl bersama Ellie, hingga Ellie meninggal. menurut gw bagian ini adalah bagian yg paling brilian dari film Up. Tanpa sepatah kata, tapi gw (dan penonton) ngerti, dan ngerasain banget betapa "aww-so-sweet" nya cinta Carl dan Ellie. Babak kedua adalah "penerbangan" Carl dan Russell, dan pertemuan dengan Kevin dan Dug yg juga penuh dengan dialog2 yang menyegarkan. Babak ketiga adalah pertemuan mereka dengan si villain. Bagian ini mnurut gw terlalu serius, disajikan dengan cukup absurd, dan peralihan ke babak ini juga agak kasar, tiba2 ada anjing2 seperti Dug versi lebih galak yg mengincar "sesuatu" yg ada bersama Carl dan Russell, dan tiba2 mereka harus berseteru dengan si villain ini. Untungnya perseteruan ini disajikan cukup lucu juga, dan babak ketiga ini pula yg memuat makna mendalam (khas Pixar) dalam perubahan diri Carl, karena ketika tujuan awalnya tercapai, ia belum bahagia...

Film ini lucu, banget, udah lama gw nggak ngakak di bioskop, bahkan WALL-E kemaren pun nggak selucu ini. Tapi entah kenapa, ada beberapa hal yg ngeganjel. Gambarnya bagus tapi belum seindah Finding Nemo dan WALL-E (gw nonton versi 3D, nggak ngaruh). Mungkin yg paling risih adalah umur Carl dan si villain yg kalo diitung-itung, agak2 gimanaa gitu. Plus aksi2 Carl dan si villain di klimaks yg menggelikan dan bikin gw komentar dalam hati: "untung cuman kartun"..^.^;, karena memang klimaksnya cartoonish abis, dan diakhiri dengan kekalahan si villain dengan cara ala Disney (kalo nonton pasti ngerti maksud gw), yg menurut gw, bikin tone-nya nggak semenarik di awal2. Dan ngomong2 soal versi 3D, kayaknya film ini masih malu2 "menjangkau" penonton, jadi jatuhnya yaahhh...biasa aja tuch 3D nya.

Tapi, Up tetaplah film yg bagus, terutama di karakterisasi. Gw menyukai tiap tokoh hero nya, dan gw yakin setiap penonton pun demikian. Film ini berhasil membuat gw melupakan ketidaknyamanan memakai kacamata 3D dan kacamata biasa sekaligus (maklum, minus euy). Nggak se-awesome WALL-E, but still, it's Pixar. Go watch it!

Point!!


my score: 8/10


PS:
Mau komplain dech ke Plaza Senayan XXI, tempat gw nonton Up dalam 3D tgl 29 Juli 2009 jam 19:20...kenapa telat sich buka pintunya? 15 menit loch kita nunggunye, blum lagi ada trailer2nye....Saking telatnya sampe gw sempet papasan sama Ridho Rhoma (*apa hubungannya?*)

Selasa, 28 Juli 2009

[Rapid Film Review] Harry Potter series

Menyambit..eh..menyambut rilisnya Harry Potter and The Half-Blood Prince, yg notabene film ke-6 Harry Potter, Rapid Film Review kali ini akan mengulas sedikit film2 Harry Potter yg sebelum2nya. Perlu diingat, gw beli dan baca semua bukunya, tapiii, kecuali buku pertama, gw LUPA dan SAMAR-SAMAR sama sebagian besar detilnya (+_+ I'm not a diligent reader)..walaupun mungkin cukup menguntungkan supaya bisa menikmati filmnya sebagai film secara utuh...or is it?

Note: Gw berencana menonton ulang Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, abis itu bakal gw tulis review utuh...secara ini film Harry Potter favorit gw hehehe..



Theme: The Harry Potter Series



Harry Potter and The Sorcerer's Stone
a.k.a. Harry Potter and Philosopher's Stone (2001 - Warner Bros.)



Directed by Chris Columbus
Screenplay by Steve Kloves

Based on the novel by J.K. Rowling

Produced by David Heyman

Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Richard Harris, Maggie Smith, Ian Hart, Robbie Coltrane


Harry Potter adalah seorang anak yatim piatu yg seumur hidupnya selama 11 tahun dilecehkan oleh keluarga Dursley, ipar mendiang ibunya. Namun semua berubah ketika ulang tahunnya yg ke-11, Harry mengetahui bahwa ia lahir dari keluarga penyihir dan akan disekolahkan di sekolah khusus penyihir, Hogwarts, tempat kedua orang tuanya juga pernah menuntut ilmu. Nggak hanya itu, bahkan namanya sangat legendaris di dunia sihir karena sewaktu bayi berhasil selamat dari serangan penyihir jahat paling ditakuti, Voldemort. Mata Harry pun mulai terbuka dengan dunia sihir yang sama sekali belum pernah terbayang, bertemu teman2 baru, dan tergelitik memecahkan misteri Philosopher/Sorcerer's Stone di sekolahnya.

Hype film ini begitu heboh, kepenasaranan orang2 pecinta novel ultra-populer ini untuk melihat dunia sihir versi Harry Potter keluar dari sekadar imajinasi membuatnya cukup meledak, dan karena itu juga gw untuk pertama kalinya nonton di bioskop baris pualing depan dan pualing pojok T_T. Bagi gw, secara desain artistik film ini sangat memuaskan, dunia yg dibuat sudah menggambarkan "keheranan" (wonder, bahasa Indonesianya itu kan?) yang setara bukunya. Bahkan aktor2nya pun tampak sesuai (Dumbledore dan McGonagall nya persis plek sama yg ada di bayangan gw). Tapi secara sinematik, ceritanya cukup datar. Film ini lebih semacam "orientasi" untuk mengenal dunia sihir Harry Potter sehingga banyak adegan yg nggak berhubungan langsung sama inti cerita. Untungnya, film ini diarahkan oleh si spesialis film keluarga Chris Columbus, yg cukup baik mengakomodasi peran aktor2 ciliknya, serta adegan2 fantastiknya, sehingga nyaman ditonton seluruh keluarga. Good start.

my score: 6/10



Harry Potter and The Chamber of Secrets (2002 - Warner Bros.)


Directed by Chris Columbus
Screenplay by Steve Kloves

Based on the novel by J.K. Rowling

Produced by David Heyman

Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Kenneth Branagh, Richard Harris, Robbie Coltrane, Jason Isaacs


Tahun ke-2 Harry Potter di sekolah Hogwarts, beberapa penghuni sekolah ini membatu (petrified...apa yah bahasa Indonesia benernya?) secara misterius, Harry pun tak luput dari kecurigaan. Di lain pihak, Harry menemukan sebuah buku ajaib (bisa diajak chatting interaktif hehehe ^.^) milik seseorang bernama Tom Riddle, yang jati diri sebenarnya ternyata tak terduga, membawa Harry kepada tempat dimana "pelaku" kejadian2 aneh di Hogwarts bersarang, "pelaku" yg ternyata bisa "ngobrol" tapi cuma sama Harry..lho kok?

Dunia sihir yg tadinya terlihat menyenangkan di film awal, mulai terlihat menyeramkan di film kedua. Masih ada sih adegan2 "perkenalan" dunia Harry Potter. Ceritanya jadi sedikit gelap sebagaimana novelnya, tapi meski sudah ada misi yg harus diselesaikan, plotnya masih sedikit keteteran. Jadi formulanya mirip film pertama, tapi memang sedikit lebih nakutin dan jatuhnya lebih seru, dan akting aktor2 ciliknya juga nggak keliatan terlalu amatir lagi. Dan secara gambar, tata artistik, efek CGI, sinematografi serta sound-nya lebih jempolan daripada yg pertama. Pretty good, untuk ukuran film anak usia tanggung.

my score: 6,5/10



Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (2004 - Warner Bros.)
pending review



Harry Potter and The Goblet of Fire (2005 - Warner Bros.)


Directed by Mike Newell
Screenplay by Steve Kloves

Based on the novel by J.K. Rowling

Produced by David Heyman

Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Brendan Gleeson, Ralph Fiennes, Miranda Richardson, Robert Pattinson


Tahun ke-4, Harry secara misterius harus jadi kontestan keempat kompetisi pelajar sihir Triwizard yg diadakan di Hogwarts, padahal dia di bawah umur dan harusnya kompetisi ini diikuti 3 orang saja. Harry pun mau nggak mau menjalani tiap2 tantangan yg tidak mudah dan bahaya, sedangkan bahaya yang sesungguhnya mulai mengancam ketika Death Eaters mulai membuat kekacauan dan berusaha membangkitkan tuan mereka, Voldemort.

Setelah cukup suram di film ke-3, Harry Potter kembali berwarna di film ke-4. CGI mantap banyak bermain di sini, dan sutradara Mike Newell yg biasa membuat drama, cukup berhasil mengarahkan aktornya, terutama di sektor yg komikal. Ya, film ini mungkin Harry Potter yang paling banyak lucunya (the Yule Ball, anyone? hahaha). Sayang, walaupun udah nonton 2 kali, rasanya adegan2 di film ini nggak ada yg membekas yah. Pas muncul end credit, ya udah. Entah kenapa, nggak ada yg istimewa banget selain make-up Ralph Fiennes sebagai Voldemort, actionnya juga nanggung (dan Moody nya nggak serem). Apa mungkin gw udah mulai bosan yah? Overall, it's just okay, nggak mempermalukan nama besar Harry Potter, at least.

my score: 6/10



Harry Potter and The Order of Phoenix (2007 - Warner Bros.)


Directed by David Yates
Screenplay by Michael Goldenberg

Based on the novel by J.K. Rowling

Produced by David Heyman, David Barron

Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Imelda Staunton, Gary Oldman, Alan Rickman, Helena Bonham Carter, Ralph Fiennes


Walau Harry menyaksikan bahwa Voldemort sudah kembali ke "bentuk" dan kekuatan semula, kementrian sihir tidak mau mengakuinya, dan berusaha menutupi kenyataan tersebut, lalu menyidang Harry dan menuduhnya berbohong, serta curiga bahwa Harry bersekongkol dengan Dumbledore agar sang kepala sekolah bisa merebut tampuk kepemimpinan di kementrian sihir, bahkan kementrian sihir menempatkan seorang anggotanya di sekolah Hogwarts, hanya supaya anak2 tidak belajar sihir yang "nggak-nggak" (a.k.a. berontak). Tapi ancaman Voldemort dan Death Eaters tetap ada, dan ternyata ada organisasi rahasia Order of The Phoenix pimpinan Dumbledore yg berusaha memeranginya, apalagi Voldemort mengincar sebuah bola kristal, yang dapat mengungkap rahasia masa depan Harry dan Voldemort.


Gw ngerasa film ke-5 ini seperti film pertama, karena ada "dunia baru" yg bisa dilihat, yaitu kementrian sihir, yg cakupannya lebih besar dan umum daripada Hogwarts. Gw cukup
amazed sama desain2 di film ini. Visual efek dan sinematografinya juga menyegarkan. Tapi yg paling gw salut dari film ini adalah bagaimana novel Harry Potter tertebal diubah jadi film Harry Potter dengan durasi terpendek, yang plotnya koheren dan jelas. Pengaruh penulis naskah yg berbeda? Mungkin aja. Humornya renyah, banyak adegan yg memorable (Weasley kembar mengacaukan ujian, kelas rahasia Dumbledore's Army, pertarungan di ruang bola kristal, perang Death Eaters vs Order of the Phoenix, Voldemort vs Dumbledore, lumayan banyak dah), dan klimaksnya adalah yg paling "berasa klimaks" daripada film2 pendahulunya. Mungkin banyak yang nggak suka karena "terlalu banyak yang beda dengan bukunya", tapi menurut gw, Order of The Phoenix adalah yang paling solid sebagai film, nggak terlalu ngelantur. Imelda Staunton sebagai Prof Umbridge juga perlu diberi kredit khusus sebagai aktor yg berakting paling baik sepanjang sejarah film Harry Potter, melebihi muka2 lama yg kayaknya gitu2 aja. Buat gw, one of the best, tapi favorit gw tetep Prisoner of Azkaban (^0^) v.

my score:
7,5/10


Senin, 27 Juli 2009

[Movie] Public Enemies (2009)


Public Enemies
(2009 - Universal)

Directed by Michael Mann
Screenplay by Ronan Bennett and Michael Mann & Ann Biderman
Based on the book "Public Enemies: America's Greatest Crime Wave and the Birth of the FBI, 1933-34" by Bryan Burrough
Produced by Michael Mann, Kevin Misher
Cast: Johnny Depp, Christian Bale, Marion Cotillard, Billy Crudup, Giovanni Ribisi
Latar belakang kisah Public Enemies adalah peristiwa2 dan tokoh2 nyata tahun 1933-1934, era depresi (krisis ekonomi lah), ketika ada 3 perampok bank paling dicari di Amerika: Pretty Boy Floyd, Baby Face Nelson, dan John Dilinger. Karena aksi mereka lintas negara bagian, maka mereka adalah target utama dari FBI (pas baru2 berdiri) yg memang didirikan untuk berwenang di seluruh wilayah Amerika. Di film ini, yg jadi fokus adalah John Dilinger (Johnny Depp). Dilinger bukanlah penjahat yg ditakuti, tapi malah jadi semacam selebritis. Dilinger terkenal "santun" waktu merampok, karena tidak membunuh orang sembarangan dan bersikap gentlemen sama perempuan (walaupun tetep sambil ditodong). Pun dianggap pahlawan karena berani mengambil uang yg notabene "hasil rampokan bank dari rakyat". Dilinger juga bisa dengan santai bergaya hidup flamboyan, terutama di kota Chicago, dimana ia mendapat perlindungan dari mafia sana. Mulai di kota inilah, FBI berusaha menangkap "Public enemy no.1" itu, yg pada perkembangannya membuat pemerintah Amerika mengesahkan FBI sebagai lembaga investigasi yang berfokus pada kriminal tingkat nasional.

Inti film ini sich soal sebuah tim khusus FBI pimpinan Melvin Purvis (Christian Bale) ingin menangkap Dilinger, sebuah pekerjaan yg amat sangat sulit --yg digambarkan dengan bagus sekali, mengingat jaman dulu alat komunikasi canggih blum ada, boro2 kamera CCTV atau alat penyadap, jadinya susah untuk menelusuri jejak kriminal sekelas Dilinger. Tampang si buron pun palingan cuman muncul di koran atau bioskop (dengan tulisan "wanted") yang belum tentu diinget orang. Dengan itu sebagai intinya, film ini dilumuri hingga meresap *ayam bakar kali* dengan beberapa hilite hidup Dilinger: hubungan spesial Dilinger dengan Billie Frechette (Marion Cotillard), sempat ditangkap yg malah membuatnya semakin terkenal, kemudian kabur lagi, mau ngerampok lagi tapi atas tekanan mafia musti kerja bareng si "heboh" Baby Face Nelson (Stephen Graham) yg berakhir kacau, lalu menyingkir dan bertahan dengan teman2 terakhirnya, dan akhirnya ditembak mati sehabis nonton bioskop (no spoiler here, it's history). Cukup panjang dan bertele-tele, tapi disinilah kemampuan sang sutradata diuji.

Menurut gw, Michael Mann, yg punya gaya khas dalam membuat film, jago dalam membuat plot yg subtle *dapet istilah dari sinema-indonesia.com ^^*, penonton (well.. gw deing) tau sendiri ceritanya sambil jalan/nonton tanpa perlu diumbar jelas dalam dialog. Walaupun ternyata fakta sejarah sudah di fiksionalisasi (cara dan runut waktu wafatnya 3 public enemies beda dengan sejarah), tapi suasana realistis kental terasa, terutama didukung dengan penggunaan kamera digital untuk menangkap gambar. Tidak ada yg tampak terlalu didramatisir atau over-stylized (a.k.a. lebai), dialog2 yg ada terdengar natural tak terkecuali yg mengundang cengiran ikhlas. Perampokan2 Dilinger seakan ditunjukkan sambil lalu karena memang itulah rutinitas seorang perampok (obviously), romansa Dilinger dan Billie juga digambarkan seperti pasangan normal lainnya. Tapi bagian paling favorit gw adalah adegan2 baku tembak yg kayak beneran (lengkap dengan suaranya) yg ternyata amat sangat cukup untuk ngebangun ketegangan maksimum.

Akting para aktornya sangat memuaskan. Johnny Depp selalu bisa meyakinkan dalam setiap perannya (dan film ini cukup mengeksploitasi mukanya yg nyaris sempurna bentuknya itu), Christian Bale bolehlah sedikit melepas image Bruce Wayne nya. Marion Cotillard pun berhasil mencuri perhatian di setiap kemunculannya, gw paling suka di bagian ending, Marion membawakan peran Billie yg sedih tapi tetep rasional bukannya mewek nggak jelas.

Kesimpulannya, gw suka film ini. Mungkin bagi sebagian orang, gambar dan adegan realistis adalah sama dengan membosankan, terserah sih. Jelas jangan disamain dengan Pirates of the Caribbean atau Transformers yang pamer visual efek. But u know what, walaupun agak terlalu serius, dan gw nontonnya di bioskop yg operatornya kurang kompeten (suara udah keriting, gambar melengkung sebelah...di MPX Pasaraya Grande tuch), mata gw tetep bisa terpaku ke layar untuk mengikuti ceritanya. Film yg well-made dengan desain artistik yg mantap (tanpa harus pamer) dan sudut sinematografi yg mumpuni. Serius, realistis, tapi tetep seru.


my score 8/10

Jumat, 17 Juli 2009

[Movie] Harry Potter and The Half-Blood Prince (2009)


Harry Potter and The Half-Blood Prince

(2009 - Warner Bros.)


Directed by David Yates

Screenplay by Steve Kloves

Based on the novel by J.K. Rowling

Produced by David Heyman, David Barron

Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Alan Rickman, Jim Broadbent, Helena Bonham Carter, Tom Felton, Bonnie Wright


Film ke-6 serial Harry Potter, yg mungkin merupakan serial novel paling terkenal di dunia, udah gak perlu keterangan tambahan lagi kan? ^_^' Oke deh, gw ulang sedikit yah: Harry Potter (Daniel Radcliffe) adalah seorang penyihir muda paling terkenal yg ketika masih bayi selamat dari pembunuhan oleh penyihir paling ditakuti di dunia sihir, Voldermort. Takdir (a.k.a. kehendak pengarang) menentukan bahwa Harry dan Voldermort akan jadi musuh bebuyutan: Voldermort dengan ilmu sihir hitamnya ingin berkuasa, dan Harry harus mencegahnya...nah bagaimana caranya?


Setelah publik dunia sihir tahu bahwa Voldermort dan para pengikutnya yg disebut Death Eaters sudah siap beraksi lagi dan mengacaukan dunia, banyak yg hidup dalam kekhawatiran. Sampai2 Hogwarts, tempat Harry dkk bersekolah sihir, harus dilindungi mantra dan dijaga oleh Auror ("polisi" sihir). Ditengah2 itu, pada tahun ke-6 bersekolah Harry harus sering2 bertemu kepala sekolah Professor Dumbledore (Michael Gambon), untuk menyelidiki latar belakang Voldermort, terutama ketika masih bersekolah di Hogwarts dengan nama Tom Riddle, dengan cara melihat "memori" Dumbledore mengenai Voldermort. Harry juga diberi misi untuk mendekati profesor yg direkrut untuk mengajar kembali, Professor Slughorn (Jim Broadbent) agar memperoleh memorinya, karena memori Prof Slughorn mengenai Voldermort sangat penting untuk mengetahui cara mengalahkan Voldermort.


Di sisi lain, Harry mencurigai tindak tanduk Draco Malfoy (Tom Felton) yg lebih aneh dari biasanya. Di sisi lain lagi, Harry menemukan sebuah buku pelajaran Potions (= Ramuan) bekas milik seseorang yg menamai dirinya sebagai "Half-Blood Prince" (haha, cuman ini bagian yg relevan sama judul filmnya), buku ini penuh coretan tangan yg berguna dalam pelajaran sehingga membuat Harry jadi murid favorit Prof Slughorn. Di sisi lainnya juga, Harry kesengsem sama adik sahabatnya Ron(Rupert Grint), Ginny (Bonnie Wright). Di lain pihak (hehehe, dapet deh kata sambung lain), kita melihat Professor Snape, yg meski dibenci Harry tapi dipercaya Dumbledore, bersumpah mati untuk membantu Draco membunuh Dumbledore, dan bila gagal, dia sendiri yg harus melakukannya.


Bagaimana caranya memuat semua cerita itu dalam sebuah film 2,5 jam? Jangankan gw atau loe, kayaknya penulis naskahnya juga bingung. Ada yg salah dengan film Harry Potter ini. Selain posternya yg aneh, filmnya juga terasa yaaah....datar gimana gitu, gak ada
excitement-nya. Okey, memang harusnya suasana dunia sihir sedang mencekam dan sendu (dan didukung sama gambar2 yg cenderung gloomy), tapi setidaknya excitement kan bisa dibangun dengan misteri dan emosi tokoh, dan adegan2 yg berpotensi "rame" harusnya dibuat se-maksimal mungkin...tapi apa lacur *<<God, I love this phrase*, excitementnya nanggung. Endingnya gitu doang tuch? Padahal gw berharap ada adegan pem*****n yg megah seperti di novelnya...sebuah harapan yg sia-sia..T-T

Tapi tidak sedikit juga poin bagus dari Harry Potter 6. Ada beberapa adegan yg memang dibuat sangat bagus seperti penyerangan Death Eaters ke rumah keluarga Weasley, kejar2an Harry dan Draco di toilet, dan adegan Harry dan Dumbledore vs mayat2 hidup. Gw suka banget sama desain artistiknya ama visual effect-nya yg makin bagus aja. Sinematografinya cakep, kali ini sedikit di-"photoshop" jadi rada mirip film2 Lord of The Rings. Beberapa adegan juga berhasil memancing senyum tulus.


Aktornya bermain sebagaimana filmnya, datar lempeng gimana gitu. Yg gw liat "niat" berakting cuman Michael Gambon (Dumbledore), Jim Broadbent (Slughorn) dan Helena Bonham Carter (Bellatrix Lestrange), sedangkan Emma Watson (Hermione) cuman bertambah cantik saja (^v^) tapi aktingnya tidak bertambah bagus. Tapi satu hal yg perlu gw salahkan akan lemahnya film ini adalah musiknya. Entah karena sebingung penulis naskahnya atau apa, musiknya terasa kurang padu dan kurang menarik, malah bikin tambah ngantuk, sayang sekali.


Perlu dimaklumi juga sich, novel ke-6 Harry Potter memang bukan yg terbaik dari segi cerita, cuman sebagai pijakan untuk cerita ke-7, tapi memang memuat peristiwa2 penting seperti cara mengalahkan Voldermort, Harry jadian sama Ginny, Ron jadian sama Hermione, Draco
confirm jadi Death Eaters, keberpihakan Snape (or maybe not hehehe), dan koitnya "seseorang yg penting" QoQ, tidak lebih. Ini juga berimbas ke filmnya. Meski "The Order of The Phoenix" tahun 2007 lalu tampak solid dan seru, --mungkin karena penulis naskahnya juga beda (Michael Goldenberg), tapi sutradara yg sama (David Yates) tak berdaya untuk membuat "Half-Blood Prince" setidaknya lebih menarik lagi. Akhirnya, buat gw, ini film Harry Potter paling lemah di antara yg pernah dibuat. Why didn't they call back Alfonso Cuarón and Michael Goldenberg?


my score: 5,5/10




Senin, 13 Juli 2009

Nonton Star Trek (lagi!!) di Teater IMAX Keong Emas TMII (Lagi!!!)

Ini mungkin rekor pribadi gw nonton sebuah film di bioskop sebanyak tiga kali...brapa kali..? 3 kali....brapa kali? Tiga kali...^0^ Bahkan 2 di antaranya adalah di teater IMAX, dimana lagi kalo bukan di Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah (iyalah, satu2nya di Indonesia). Star Trek mungkin bukan film yg pualing buagus yg pernah gw tonton, tapi entah kenapa gw selalu senang setiap kali menontonnya, dan sangat tidak rugi ketika nonton di layar IMAX. Dan perlu diinget, I'm not considering myself as a trekkie.
Pengalaman gw kali ini beda. Pertama, gw nonton rame2 bareng 5 orang teman, alhasil foto-foto genitnya juga lebih banyak (maklum, anak muda jaman sekarang huehuehue hoekk). Kedua, setelah ngantri paling depan di pintu (dan seorang temen gw sempet "balapan" ~dalam arti kata sebenernya~ dengan seorang anak kecil pas masuk teater XD wkwkwkwkwk), kami kebagian kursi warna "biru" alias kursi tengah, dan paling atas ~di bawah VIP~, meskipun kenyamanan kursinya tidak bertambah T-T.

Ketiga, soal filmnya ...HEI! Kok kali ini adegan yg di-"sensor manual" cuman satu yah?! Adegan syur Kirk dan Gaila (si cewek berkulit hijau) tetep disensor, tapi adegan cium Spock dan Uhura kali ini dilolosin...damn...untung gw nonton lagi (hahahaha).

It was a fun experience. Buat yg pengen coba juga, masih ada kok, katanya sich sampe September. Keterangannya kira2 sama kayak yg gw post sebelumnya, tapi ternyata sekarang filmnya maen jam 17:00, tapi gak tau deh mungkin bisa berubah lagi.

Live long and prosper. W(^o^)


in case you're wondering, satu orang lagi adalah yg motret ^^


Star Trek @ Teater IMAX Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur
Setiap Sabtu, Minggu, dan hari libur pukul 17:00 (sampai September, moga2)
Harga tiket Rp 50.000 per orang
Khusus pembayaran dengan Kartu Debit Mandiri: 1 tiket untuk 2 orang
Masuk TMII: Rp 9.000 per orang + Rp 10.000/mobil atau Rp 6.000/motor atau Rp 1.000/sepeda
Telp: (021)8409277,8401021




related articles:


Mohon izin bagi oknum AS yg foto tangkapannya saya gunakan di tulisan ini.
Mohon izin juga ya bagi teman2ku yg merasa mukanya ada di foto2 di atas.

Sabtu, 11 Juli 2009

[Movie] Blood: The Last Vampire (2009)


Blood: The Last Vampire
(2009 - Samuel Goldwyn Films (USA))

Directed by Chris Nahon
Screenplay by Chris Chow
Based on the anime by Production I.G.

Created by Kenji Kamiyama, Katsuya Terada

Produced by Bill Kong, Abel Nahmias

Cast: Gianna (Jun Ji-hyun), Allison Miller, Koyuki, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata


Film anime tak selesai (durasi cuman 50 menit krn kurang dana, kalo gak salah) yg menjadi salah satu anime paling dipuji krn gambarnya bagus banget, kini dibuat versi live actionnya dengan judul yg sama. Bukan produksi Jepang ataupun Hollywood (
at least tidak murni), tapi 2 orang produsernya dari China dan Prancis, meskipun film ini memakai bahasa Inggris hampir seluruhnya. Tidak ada ekspektasi apa-apa waktu gw mau nonton ini, dan memang tidak perlu, karena jujur gw juga kurang begitu nge-fans sama versi animenya (akhir2 ini sering diputar ulang di Animax), yg dengan soknya hampir semua dialog berbahasa Inggris, tapi diucapkan kayak orang keterbelakangan mental (lambaaat banget). Cerita versi anime, dan film ini juga, sangat sederhana. Jadi menurut gw nilai plus Blood versi anime hanyalah di sektor gambar animasinya. Versi live actionnya, sayangnya gak beranjak jauh dari situ.

Adalah makhluk setan yg disebut
bloodsuckers (vampir? mungkin, di film sih gak disebut begitu ^^) yg bisa menyamar jadi manusia dan hidup ditengah-tengah masyarakat sekaligus cari mangsa. Saya (bukan "aku", tapi namanya emang gitu), seorang pemburu bloodsuckers bertampang gadis muda berseragam sailor, menghabiskan hidup hanya untuk mencari dan membunuh dedengkot makhluk2 itu, disebut Onigen, yg telah membunuh orang yg telah merawatnya dulu, Kato (Yasuaki Kurata) (btw maksudnya dulu adalah duluuuuuu banget). Untuk mencapai tujuan itu, Saya menjadi eksekutor, mencari dan membantai para bloodsuckers dengan pedangnya, untuk sebuah organisasi rahasia yg disebut The Council, yg menangani perang antara manusia dan bloodsuckers sekaligus menutupinya agar perang turun temurun ini tetap tidak diketahui oleh siapapun. Imbalannya adalah Saya mendapat apa yg ia butuhkan agar bertahan hidup: minuman cairan kental merah dalam botol (aha! ^0^).

Tahun 1970, The Council membawa Saya (Gianna) kepada petunjuk bahwa Onigen (Koyuki) sudah siap eksis lagi, karena para
bloodsuckers aksinya makin brutal dan berkumpul di satu tempat, pangkalan militer Amerika di wilayah Kanto, Jepang (emang ada ya? Kalo di anime aslinya kan di Okinawa). Saya pun menyamar jadi siswi SMA Amerika di pangkalan tersebut. Hari pertama, Saya langsung nemu aja gitu bloodsuckers yg nyamar jadi anak sekolahan yg mau memangsa seorang putri Jenderal, Alice (Allison Miller). Alice yg agak rebelious ini melihat aksi Saya, nantinya dia tau keberadaan makhluk2 ini (bahkan dia diincar, entah kenapa), dan sampai akhir film Alice ikut nimbrung dalam setiap aksi Saya menumpas para bloodsuckers, hingga pertarungan melawan Onigen. Oh ya, asal usul Saya juga dikupas lho...dan rada2 Star Wars: The Empire Strikes Back gimanaaa gitu (^o^).

Penting gw garisbawahi bahwa menonton film ini memang beda banget jika dibandingin sama film sejenis produksi Hollywood yg serba klise ataupun Jepang yg terlalu "tradisional". Mengingat sutradaranya orang Prancis, maka gw merasa memang sinematografinya bercitarasa Eropa (gambar banyak
close up, banyak noise dan lighting yg berani). Tapi melihat produser dan koreografer silatnya, gw pun mengakui bahwa film ini juga cukup dekat sama film2 silat Mandarin (lompat2, terbang2, gitu deh). Dua hal ini menurut gw yg menjadi kekuatan positif film ini. Pertarungannya seru-seru euy (terutama adegan flashback ketika Kato dikeroyok sama anak buah Onigen, nice). Adegan ala Hong Kong direkam dengan cara Prancis...hmm...@_@

Akan tetapi di luar itu, film ini banyak sekali kurangnya. Ceritanya cukup koheren dan amanlah walaupun emang biasa aja, tapi naskahnya kurang digarap dengan baik. Banyak dialog janggal dan konyol yg keliatan banget dibuat oleh orang yg bukan penutur asli bahasa Inggris terutama Inggris-Amerika. Ada juga "tambahan" plot seorang agen The Council yg selama ini jadi
L.O. Saya, malah pecicilan membunuh ayah Alice dan agen partnernya (motifnya apa juga gak jelas) sehingga memaksa Saya dan Alice kabur dari pangkalan militer. Endingnya pun kurang konklusif dan cenderung kurang wah untuk klimaks. Dan yg paaaling mengganggu adalah, efek CGI yg sumpeh, culuuun banget. Gw sangat menyayangkan adegan2 aksi yg cukup keren harus dinodai sama darah2 CGI yg kliatan boongnya (ceritanya darah bloodsuckers tuch coklat kentel, tapi yaah..gitu deh). Jangan tanya bagaimana tampilan CGI wujud asli bloodsuckers, amatir. Aktor2nya, emang dasar gak ada yg terkenal, yah penampilannya juga biasa2 saja. Gianna cukup baik, tapi kalo jadi orang Jepang, ya mbok latian dialog bahasa Jepangnya (yg cuman beberapa kalimat) dibagusin dikit lah...^.^;

Entah kenapa, gw pingin menyukai film ini, karena memang berpotensi baik. Sayangnya beberapa plot holes menjatuhkan penilaian gw. Dan visual efeknya. Tapi untuk sektor yg satu ini, masih gw maafkan karena mungkin dananya memang nggak cukup. Seandainya visual efeknya lebih "bener", dan seandainya juga gunting Lembaga Sensor Film kita gak rese untuk memotong adegan2 sadis *cih*, pasti secara keseluruhan film ini akan
just okay. Gw pun cukup respek sama sutradaranya yg berusaha membuat Blood tetep watchable meski naskahnya gak begitu bagus. Setidaknya, ada adegan2 yg bisa dinikmati dan durasinya filmnya nggak panjang2 amat..unlike that "other" film I watched recently *sigh*...


my score:
4,5/10


Rabu, 08 Juli 2009

[Movie] Hellboy II: The Golden Army (2008)


Hellboy II: The Golden Army
(2008 - Universal)


Directed by Guillermo del Toro

Story by Guillermo del Toro, Mike Mignola

Screenplay by Guillermo del Toro

Based upon the comic book created by Mike Mignola

Produced by Lawrence Gordon, Mike Richardson, Lloyd Levin

Cast: Ron Pearlman, Selma Blair, Doug Jones, Jeffrey Tambor, Luke Goss, Anna Walton, John Hurt



Franchise
Hellboy, mnurut gw, adalah film adaptasi komik yg terlalu diremehkan. Memang, komiknya bukan termasuk populer apalagi klasik, dan hype versi filmnya pun tampak rendah diri sekali. Ketika gw nonton Hellboy (rilis taun 2004) pertama lewat VCD sewaan, gw cukup terkejut bahwa film "kecil" ini ternyata menghibur, cukup seru dan terutama diwarnai tokoh2 dan dialog2 lucu, bahkan visual efeknya sama sekali nggak kliatan murahan. Gw nonton Hellboy II tahun 2008 lalu juga bukan karena "pengen banget nonton", tapi emang lagi banyak waktu luang (abis lulus kuliah=pengangguran T-T), dan menonton Hellboy II sepertinya tidak ada salahnya, dan ternyata memang tidak salah.


Hellboy adalah makhluk perpaduan setan dan manusia yg ditemukan dan diadopsi oleh seorang profesor waktu dia masih bayi, jadinya ia tumbuh "jinak" dengan lebih mengembangkan sifat manusianya, dan tanduk setannya selalu dikikir. Dengan keistimewaannya (tubuh kokoh, tangan kanan sekeras batu, berekor dst), ia jadi agen di sebuah biro riset dan pertahanan paranormal BPRD, dan bersama agen2 ajaib lainnya (Abe Sapien si manusia ikan, Liz yg bisa menghasilkan api) berusaha menumpas makhluk gaib nan aneh yg kerap mengganggu stabilitas kehidupan manusia secara (harusnya) rahasia.


Kali ini Hellboy dkk harus berhadapan dengan makhluk mitos bangsawan elf. Seorang pangeran elf bernama Nuada berniat membangkitkan kembali pasukan Golden Army yg dahulu menjadi mesin pembantai kaum manusia ketika manusia dan elf saling berperang dahulu kala, sebelum akhirnya gencatan senjata dicetuskan raja elf Balor, yg tidak pernah disetujui Nuada. Untuk membangkitkan Golden Army, Nuada harus mencari potongan mahkota pengendali serta peta lokasi disimpannya Golden Army itu, dan dalam pencariannya Nuada pun tak sungkan mengusik dunia manusia dengan hebohnya.


Hal yg gw suka dari film ini dan juga ada di Hellboy pertama,bahwa pembuatnya tidak lupa untuk berfokus pada tokoh2nya. Selain menyelesaikan misi dan bertarung dengan monster2 yg dikemas dalam petualangan yg menyenangkan, Hellboy juga harus menghadapi dirinya terekspos oleh khalayak ramai yang, melihat tampilan luarnya, justru menganggap Hellboy dkk sebagai gangguan. Ditambah lagi Liz, pacar Hellboy akhir2 ini marah2 mulu, krn merahasiakan sesuatu. Abe kebagian percikan cinta dengan putri Nuala, kembaran Nuada tapi pro-perdamaian. Hadir juga tokoh baru, agen kiriman dari "pusat" yg berwujud asli "asap", Johann Krauss, yg sikap kaku dan taat peraturannya menguji kesabaran Hellboy yg slengean. Sangat menarik karena walaupun berwujud aneh, tokoh2 ini dibuat sangat manusawi (Hellboy sama Abe nyanyi bareng "Can't Smile Without You" sambil mabok? yup,
love that scene, ^_^').

Para aktornya bermain cukup baik dibalik make-up tebal, kecuali Selma Blair (Liz) yg sepertinya bingung harus berakting seperti apa. Ron Pearlman masih megang banget membawakan karakter Hellboy yang nyantai, blak-blakan dengan celetukan kocak. Kredit khusus diberikan pada aktor spesialis dibalik prostetik, Doug Jones, yg dengan luar biasa memerankan Abe, Chamberlain di istana elf dan Angel of Death dengan bahasa tubuhnya yg meyakinkan.


Keunggulan lainnya adalah segi teknis secara keseluruhan. Make-up, tata artistik, desain makhluk yg fantastik dan amat sangat imajinatif sangat menarik untuk dilihat, ditangkap dengan sinematografi yg artistik tapi nyaman (beberapa adegan terlihat pake kamera digital, tapi hasilnya lain banget deh sama film2 Indonesia yg pake kamera digital juga, hehehe). Bagian2 tsb dikerjakan oleh kru yg sama dengan film Pan's Labyrinth, tapi kali ini lebih berwarna. Actionnya, baik tembak2an maupun perkelahian termasuk kategori
nice. Visual efeknya sangat mendukung, rapi dan tepat guna, walaupun katanya budget terbatas tapi kliatan bagus2 aja tuh. Golden Army-nya keren.

Gw harus memuji sutradara dan penulis naskah Guillermo del Toro yg pandai meramu cerita simpel dan solid, makhluk fantasi, teknik dan desain yg artistik, komedi, action, horor dan visual efek dalam sebuah film yg enak dan menyenangkan untuk ditonton. Jalan ceritanya mungkin terbilang biasa saja, tapi penokohannya yg
lovable membuat film ini sukses meninggalkan kesan di hati gw *cih*. Saran gw bagi yg belum nonton, jangan underestimate sebelum nonton...


my score:
7,5/10



Senin, 06 Juli 2009

[Rapid Film Review] Charlie's Angels - Charlie's Angels: Full Throttle - Transformers

2nd edition. Menyambut terbitnya film Transformers 2, kali ini gw akan mereview singkat film Transformers yg pertama beserta 2 film lain yg serupa.

Theme: Mindless Action Flicks



Charlie's Angels (2000 - Columbia)


Directed by McG
Written by Ryan Rowe, Ed Solomon, John August

Based on TV series created by Ivan Goff and Ben Roberts

Produced by Leonard Goldberg, Drew Barrymore, Nancy Juvonen

Cast: Cameron Diaz, Drew Barrymore, Lucy Liu, Bill Murray, Sam Rockwell


3 gadis cantik nan tangguh bekerja sebagai "agen rahasia swasta" yg diberi misi oleh "Charlie" yg hanya mereka kenal suaranya saja lewat speakerphone. Misi kali ini adalah melindungi seorang programmer yg baru saja menciptakan alat deteksi suara yg diincar oleh pihak2 entah siapa untuk maksud yg jahat.

Jangan puji kemampuan gw untuk mereingkas plot film ini hanya dalam 2 kalimat (n.n'), krn cerita intinya ya emang cuman itu. Film ini termasuk action-komedi gabungan antara film spionase James Bond (beserta keabsurdannya), The Matrix, film2 silat Hongkong, dan plot generik yg nggak beda jauh sama sebuah episode serial TV. Hasilnya ternyata cukup menyenangkan. Karakter dan komedinya lumayan bikin nyengir, soundtracknya asik, design art dan kostumnya bernuansa pop retro dan unik, actionnya cukup seru, gambar2nya sangat berwarna memanjakan mata...well so do the the angels hohoho. A guilty pleasure for me... ^^...udah nonton berkali-kali nich..

my score: 6/10




Charlie's Angels: Full Throttle (2003 - Columbia)


Directed by McG
Story by John August

Screenplay by John August, Cormac Wibberley, Marianne Wibberley

Based on TV series created by Ivan Goff and Ben Roberts

Produced by Leonard Goldberg, Drew Barrymore, Nancy Juvonen

Cast: Cameron Diaz, Drew Barrymore, Lucy Liu, Demi Moore, Bernie Mac, Justin Theroux, Shia LeBeouf


Charlie's Angels kini harus mencari dan melindungi sepasang cincin yg disebut "Halo", karena cincin ini menyimpan daftar identitas asli dari orang2 yg dilindungi FBI (witness protection...di cincin? ada2 ajah). Namun tentunya tidak mudah, karena mereka harus melawan pihak2 yg juga menginginkan cincin itu, yg tak lain juga adalah mantan anggota Charlie's Angels.

Sebenernya semacam pengulangan film pertamanya. Di sequel ini, para penulis "berusaha" memperumit jalan cerita dan membuat penyelesaian sebuah misi lebih berputar-putar yg untungnya dikemas dalam adegan2 yg lumayan menggelitik walau agak garing juga. Tapi rasanya sebuah film yg memang jelas2 "mindless" nggak perlu dibuat terlalu rumit seperti halnya film ini. Dengan parodi2 nggak penting dan adegan2 lebih nggak ngetok akal daripada film pertama (Demi Moore terbang pake selendang? loe kira cerita Jaka Tarub?) jalan ceritanya jadi membingungkan dan terlalu berputar-putar, pake si Drew Barrymorenya berhenti jadi Angels lah, ada si Thin Man lagi lah, ada orang tuanya Lucy Liu lah..dll deh. Gambar dan soundtracknya juga nggak semenarik film pertama. Cukup ditonton sekali saja, atau kalau lagi bosan dengan sinetron di TV.

my score: 4/10




Transformers (2007 - DreamWorks/Paramount)


Directed by Michael Bay
Story by John Rogers, Roberto Orci, Alex Kurtzman

Screenplay by Roberto Orci, Alex Kurtzman

Produced by Don Murphy, Ian Bryce, Tom DeSanto, Lorenzo di Bonaventura

Cast: Shia LeBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, Jon Voight, John Turturo, Rachael Taylor


Sam Witwicky memperoleh mobil pertamanya, yg ternyata adalah robot alien yg bisa berubah bentuk menjadi mobil sedan biasa. Si robot ini pun akhirnya membawa Sam bertemu dengan Optimus Prime,yg bisa jadi truk gede, sekaligus pemimpin kaum Autobots, robot alien dari planet Cybertron yg bisa menyamar menjadi benda2 apapun teristimewa kendaraan bermotor. Mereka ada di bumi dengan misi menyembunyikan dan melindungi Allspark, sbuah benda yg memberikan kekuatan dahsyat bagi siapapun yg memilikinya, terutama dari incaran kaum robot jahat Decepticon yg juga tengah beraksi. Bahayanya lagi, Decepticon berusaha membangkitkan pemimpin terkuat mereka, Megatron. Perang Autobots vs Decepticons di ladang orang pun tak terhindarkan.


Cerita yg simple (baik vs jahat yg memorak-porandakan bumi) dengan action yg medhok plus visual efek yg canggih adalah jodoh yg serasi. Sangat kekanakan, tapi membuat sisi kekanakan gw menjadi senang karenanya. Mungkin agak memusingkan melihat robot-robot dan ledakan dimana-mana, tapi itu cukup untuk mewarnai film ini. Nilai plusnya adalah pada penokohan baik manusia maupun robot (yg autobots yah, terutama Bumblebee) yg mengundang simpati dan lumayan lucu. Dua perempuan cihuy juga menjadi pemanis yg pas. Yg satu ngerti mesin mobil, yg satu lagi jago fisika,
it's just made them even sexier khikhikhi. Salah satu guilty pleasure gw.

my score:
6/10


Rabu, 01 Juli 2009

[Movie] Transformers: Revenge of The Fallen (2009)



Transformers: Revenge of The Fallen

(2009 - DreamWorks/Paramount)


Directed by Michael Bay
Written by Ehren Kruger, Roberto Orci, Roberto Orci, Alex Kurtzman
Produced by Don Murphy, Ian Bryce, Tom DeSanto, Lorenzo di Bonaventura

Cast: Shia LeBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturo, Ramon Rodriguez


Gw speechless nonton film ini...

Di tengah2 krisis global, pengangguran bertambah dimana-mana, harga2 naik, banyak kecelakaan besar, kelaparan dan perang saudara di Afrika, ampe Manohara rela jual aibnya biar bisa main sinetron, masih ada aja orang2 yg membuang ratusan juta dolar untuk sesuatu yg tidak membawa faedah bagi kehidupan manusia di muka bumi. Sesuatu itu bernama Transformers: Revenge of The Fallen.

Sedikit cerita, gw nonton bertiga, dan kami bertiga sepertinya punya impresi yg serupa. Yg seorang pulang ditengah-tengah film tanpa ada rasa menyesal. Yg seorang lagi mukanya tampak tersiksa seakan mainannya direbut sama kakak kelas dan dibanting-banting di depan mukanya. Dan gw sempat berpikir "apah.? gimanah..?" saat film berakhir.

Sejak awal kemunculannya, film yg cukup banyak dinanti ini punya prestasi yang patut diukir dalam sejarah perfilman dunia. Bukan kecanggihan visual effek atau apapun itu, tapi silakan cek para kritikus film di luar sana, baik yg kredibel maupun yg diragukan, hampir semuanya menghujat film ini. Lucunya, jutaan orang di dunia dengan sangat baik hati membuat film ini amat sangat super laris...bahkan ada yg menyukainya (producers should thank them). Setelah ngeliat review2 orang, gw berpikir "oke, film ini kemungkinan memang tidak bagus, jadi gw nonton buat ngetawain aja deh." Apa yg terjadi, saudara2? Ketawa pun rasanya hampir tak sanggup. Gw baru bisa ketawa sekitar menit ke 90 alias 1 jam sebelum selesai, hanya karena berusaha menghibur diri akibat filmnya nggak kelar2.

Sepertinya baru pertama kali dalam sejarah menonton film di bioskop gw nganga kebingungan, ganti2 sikap duduk, ngeliat jam lebih dari 3 kali, mengekspresikan "zzzzzz..." ala kakeknya Bart Simpson, garuk2 kepala, bersuara kesal "ck..." kayak ngantri ATM BCA kelamaan, berkata "Duh..", "Astagfirullah", "God!" sampai "F**k!", semua sekaligus dalam satu film.

Jadi film sequel Transformers ini bercerita tentang..............................................................umm............................bentar yah...............................................................em...................................................oh, gini aja deh, silahkan bagi siapa saja yg mungkin tidak sebodoh gw untuk menceritakan isi cerita dari film ini dengan jelas dan ringkas, itu pun kalo memang film ini ternyata ada ceritanya yah. Bahkan kayaknya film di wahana Turbo Tur di Dufan pun masih lebih jelas ceritanya.

Mungkin itu kegagalan gw. Gw terlalu bodoh untuk mengerti arti dari adegan2 yg diedit cepat yang sepertinya ditampilkan tanpa tujuan dan gak ada hubungan satu dengan yg lain, sampe gw nggak ngerti ini film ceritanya apa. Gw terlalu lemah krn langsung pusing menyaksikan tangkapan kamera yg muuuter-muuuter nggak bisa diem kayak anjing mau dikasih makan. Gw terlalu serius dalam menanggapi humor2 joroknya, termasuk buah zakar robot raksasa dan robot kecil yg "ngen**t" di kaki Mikaela. Gw kurang awas untuk menghitung ada berapa robot sebenernya yg sedang bertarung, atau mengingat nama2nya, atau membedakan robot yg satu dengan yg lain. Gw terlalu sok karena kurang punya respek sama visual effect yg setelah diliat 1 jam sudah tidak tampak istimewa lagi. Selera seni gw rendah karena merasa semua robot2 di film tidak enak dilihat. Gw terlalu sombong untuk simpati sama karakter2nya yg nggak berkembang. Gw terlalu katro karena menganggap adegan orang tua Sam Witwicky tiba2 muncul di Mesir adalah pelecehan akal tidak sehat sekalipun. Gw terlalu su'uzon krn menganggap Megatron yg tidak mati dan kabur di ending adalah sinyal sequel yg murahan....yup, maybe it's all my fault. Whatever.

Bagi yg merasa dialog2 nggak nyambung adalah lucu, silahkan.
Bagi yg berpikir konotasi2 seksual dimana-mana adalah mengelitik, oke deh.
Bagi yg menganggap ledakan dan penghancuran bangunan, kota, jalan, dan kapal sebanyak-banyaknya adalah seru, terserah.
Bagi yg memandang robot CGI bertarung dan aksi robot2 yg bentuknya nggak jelas adalah spektakuler, bodo amat.
Bagi yg merasa jalan cerita absurd berantakan selama 2,5 jam adalah hiburan, bukan urusan gw.

Biarkan gw berpendapat: This film sucks.

Tapi, marilah lihat hal2 positif yg bisa diambil dari Transformers 2 ini. Megan Fox, pemandangan seger Yordania dan Mesir, Megan Fox, sub woofer dahsyat, Megan Fox, dan lagu "New Divide" dari Linkin Park...serta Megan Fox.

Nevertheless, apalah artinya biaya mahal dan teknologi canggih kalo hasilnya juga nggak bagus...


my score: 3/10


FYI, I kinda like the first Transformers, it was fun and funny, and actually have a story and lovable characters. A guilty pleasure. The sequel? Not so much...T-T

Btw, ada alasan gw ngasih nilai kecil banget. Film ini udah nyedot begitu banyak keuntungan finansial, jadi nggak perlulah kasih nilai gede2..^_^;