Selasa, 15 Desember 2009

[Movie] Coco Before Chanel (2009)


Coco avant Chanel
Coco Before Chanel

(2009 – Sony Pictures Classics/Warner Bros.)


Directed by Anne Fontaine

Screenplay by Anne Fontaine, Camille Fontaine

Based on the book by Edmonde Charles-Roux

Produced by Caroline Benjo, Philippe Carcassonne, Carole Scotta

Cast: Audrey Tautou, Benoît Poelvoorde, Alessandro Nivola, Marie Gillain, Emmanuelle Devos


Thank God for
Jiffest! Tahun ini gw kembali menghampiri pelopor festival film internasional di Indonesia ini yg sudah memasuki penyelenggaraan yg ke-11, setelah gw meng-skipnya tahun lalu. Di Jakarta International Film Festival ke-11 yg diadakan 4-12 Desember 2009 kali ini gw tertarik dan berhasil menonton 4 film. Maunya sih nonton lebih banyak lagi film2 Indonesia yg gratisan, tapi apa daya, sekarang gw bukan anak kuliahan lagi yg punya lebih banyak waktu T-T. Film yg gw tonton pertama adalah produk Prancis, Coco avant Chanel/Coco Before Chanel, yg cukup dinanti banyak sekali orang, dan membuat gw dapet kursi agak depan dan pinggir (hate that), maklum ini film soal salah satu ikon fashion paling berpengaruh di dunia, walaupun kayaknya rakyat kita sebenarnya sedikit sekali yg sanggup memiliki produknya…yg asli ya *nyinyir* ^.^’

Sesuai judulnya, film ini menceritakan kehidupan Coco Chanel sebelum dia memulai karirnya sebagai perancang busana. Sewaktu kecil, sekitar tahun 1890-an Gabrielle Chanel dan kakaknya, Adrienne dibesarkan di sebuah panti asuhan di sebuah kota kecil. Ketika dewasa, Gabrielle (Audrey Tautou) dan Adrienne (Marie Gillain) meninggalkan panti dan menyambung hidup sebagai pegawai tukang jahit di siang hari, dan jadi penyanyi duet di sebuah bar. Gabrielle kemudian bertemu dengan seorang oom2 kaya, Étienne Balsan (Benoît Poelvoorde), yg dengan seenaknya memanggil dia Coco, karena saat pertama ketemu Garbielle nyanyi lagu “..ada yg liat anjingku, Coco dari Trocadero?” ^_^. Gabrielle, yg makin sering dipanggil Coco, memang tidak pernah ramah pada lelaki toh dia memang bukan pelacur, tapi Balsan begitu tertarik padanya sehingga mereka pun jadi dekat layaknya teman. Singkat cerita, karena satu dan lain hal, Coco datang dan tinggal di kediaman Balsan di dekat Paris. Semacam simbiosis mutualisme, Balsan menjadikan Coco semacam “piaraan”, yah bisa diajak ngobrol, makan bareng, tidur bareng atau sejenisnya; balasannya, Coco jadi bisa hidup enak bak di istana meski tetap nggak boleh diketahui umum. Coco pun akhirnya terlibat dalam pergaulan Balsan yg kelas atas. Singkat cerita (lagi) dari lewat relasi2 inilah Coco bisa menemukan bahwa bakat dan hobinya membuat baju sendiri bisa menghasilkan uang, dimulai dari merancang berbagai model topi berkat seorang aktris, Emmilienne (Emmanuelle Devos) yg senantiasa memakai topi pemberian Coco sewaktu manggung di teater.

Tapi cikal bakal brand Coco Chanel tidak akan lengkap tanpa kisah asmaranya dengan seorang Inggris teman Balsan, Arthur ‘Boy’ Capel (Alessandro Nivola), yg notabene adalah orang pertama yg benar2 membuat Coco jatuh hati (hmm, Balsan baik dan asik sih, tapi itu bukan cinta). Karena memang tanpa ikatan dengan Balsan, Coco pun lumayan bebas bercengkerama dengan Boy, bahkan sampe liburan berdua ke pantai, padahal Boy sebenarnya juga tidak bisa ia miliki karena akan menikah dengan putri keluarga kaya di Inggris. Namun karena sudah biasa, mereka tetap berhubungan, bahkan Boy membantu modal untuk Coco merintis usaha bikin topi di Paris setelah memutuskan lepas dari Balsan, sebuah langkah paling awal menuju Coco Chanel yg nantinya dikenal dunia.

Saat nonton, gw merasa lucu juga bahwa meski berfokus pada kisah personal seorang Coco Chanel, film in menunjukkan pula bagaimana Coco bisa memperoleh inspirasi rancangan2nya yg revolusioner, serta jelinya mata Coco soal busana yg ditunjukkan lewat kritiknya terhadap busana wanita kelas atas yg menurutnya terlalu lebay. Ketika wanita saat itu semuanya sesak berkorset dan berbulu-bulu, baju bernyanyi Gabrielle/Coco dan Adrienne terlihat lurus2 saja, mungkin seperti baju para biarawati di panti mereka dulu. Begitu juga dengan bagaimana Coco memodifikasi pakaian Balsan menjadi pakaian yg bisa dipakai dirinya sendiri (baju perempuan yg nyaman mirip baju laki-laki, she did it first); terinspirasi baju nelayan dalam membuat kaos bermotif garis2 horizontal biru; serta membuat gaun hitam non-korset untuk pesta dansa…jadi kalian, para wanita, berterimakasihlah pada Coco Chanel yg memerdekakan kalian dari belenggu korset dan stagen ^o^’. Jadi selain bagian biografi, ditampilkan pula hint2 gebrakan yang nantinya dilakukan Coco di dunia fashion.

Tapi terus terang, mungkin juga karena pengaruh posisi duduk, gw kurang segitu impressed-nya sama film ini. Ceritanya menarik sih, tapi bagian dramatisasinya terlihat datar-datar saja. Okelah, karena berdasarkan kisah nyata, jadi “datar” bisa saja dimaklumi. Namun mungkin gw kurang terkesan dengan presentasi visualnya yg sebagian besar standar saja. Apa mungkin gw terlalu terpaku pada stigma kalo sineas Eropa selalu punya “mata” yg beda dari Hollywood, sebagaimana film Prancis lain satu2nya yg gw pernah nonton, Amélie (yg juga dibintangi Audrey Tautou)? Yah, bisa juga gitu. Satu2nya shot yg gw suka banget adalah bagian pertama ketika Gabrielle/Coco kecil melihat panti asuhan dari balik celah gerobak. Sisanya, so-so lah, walau setidaknya bisa menangkap ekspresi aktornya dengan cukup baik.

Nilai paling tinggi patut gw berikan buat para aktornya. Audrey Tautou sukses memerankan seorang wanita yg terlihat kuat namun menyimpan kepahitan masa lalu, pembawaannya pun sangat believable. Bagian terakhir, menggambarkan Coco sedang mengadakan fashion show perdananya sembari mengingat-ingat pengalaman masa lalunya, meski tanpa sepatah kata pun, mimik muka Audrey begitu luar biasa sempurna! Ini mungkin adegan favorit gw sepanjang film. Benoît Poelvoorde juga bermain bagus, sebagai pria angkuh yg bersifat baik tanpa perlu bersikap manis. Gw pun salut sama Alessandro Nivola, tapi lebih karena latar belakangnya: orang Amerika keturunan Italia berperan sebagai orang Inggris berbahasa Prancis (kurang ribet apa hidupnya hehe). Mereka dan para aktor pendukung lainnya menjadi faktor yg membuat gw tetap bersedia menikmati film yg gw rasa panjang padahal durasinya cuman 1 jam 45 menit ini. Kesimpulannya, ceritanya cukup efektif untuk mengenal kira2 bagaimana Coco Chanel sebelum menemukan passionnya, dan akting aktor2nya juga baik, hanya saja penyampaian keseluruhannya kurang menarik bagi gw, nggak ada yg terlalu spesial. But at least I watched on the big screen hwehwehwe…*pamer*


My score 7/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar