Selasa, 24 Februari 2009

[Movie] 20th Century Boys (2008)


20世紀少年 (Nijuu-Seiki Shounen) Twentieth Century Boys (Toho - 2008)

Directed by: Yukihiko Tsutsumi

Screenplay by: Yasushi Fukuda, Takashi Nagasaki, Naoki Urasawa, Yusuke Watanabe

Based on the comic series by: Naoki Urasawa

Produced by: Yoshinobu Kosugi, Seiji Okuda

Cast: Toshiaki Karasawa, Etsushi Toyokawa, Takako Tokiwa, Teruyuki Kagawa, Hidehiko Ishitsuka, Kurannosuke Sasaki, Tsuyoshi Ukaji, Katsuhisa Namase, Hiroyuki Miyasako, Hitomi Kuroki


Salah satu proyek film (trilogi) termahal di Jepang, diadaptasi dari salah satu serial manga paling favorit gue. Layaknya Hollywood, perfilman Jepang akhir2 ini memang lagi gatel buat memfilmkan komik. Dan layaknya Hollywood juga, hasilnya pun bervariasi. Ada yg sukses seperti "ALWAYS Sunset on the Third Street", "Death Note" atau "Nana", ada juga yg hambar (sehambar sebagian besar masakan Jepang) misalnya "Honey & Clover" dan "Touch". Bagaimana dengan hasil "20th Century Boys"? We'll get to that later.

Jepang tahun 1997 cukup dihebohkan dengan mencuatnya sekte "Tomodachi" (kalo versi Level Comic, terjemahannya "Sahabat"). Sekte ini menggunakan sebuah simbol yg sangat familiar bagi Kenji Endo dan beberapa teman se-SDnya. Ia lebih terkejut lagi setelah mengetahui bahwa permainan kepahlawanan diri dan teman2nya waktu SD, yang sedianya hanya main2 belaka, ternyata menjadi kejadian betulan ketika mereka dewasa. Penyebaran virus mematikan di berbagai negara sampai aksi teror di Tokyo (meledakkan bandara), semuanya yg dijadikan aksi musuh khayalan mereka untuk menguasai dunia, benar2 menjadi kenyataan. Padahal yg mengetahui permainan mereka yg tertuang di "Yogen no Sho" (Buku Ramalan) itu hanya beberapa orang. Berarti salah satu dari teman kecil Kenji adalah pelakunya, yang jelas berkaitan langsung dengan sekte "Tomodachi" yang telah "mencuri" lambang kepahlawanan mereka. Dengan mengandalkan ingatan mereka semasa kecil, sesuai dengan Buku Ramalan, Kenji dkk berusaha membasmi "kejahatan" di malam milenium baru, hanya untuk mengetahui musuh mereka, "Tomodachi" yg telah sukses menyusup di dunia politik Jepang, punya rencana yg lebih dahsyat daripada yg mereka bayangkan. Demikian inti kisah bagian pertama dari trilogi ini.

Kalo gue boleh cerita sedikit tentang komiknya, cerita misteri campur sci-fi ini memiliki alur yg cukup rumit dan karakter yang sangat banyak. Hal yg sangat appealing dari komik ini adalah setiap chapter disampaikan lewat perspektif salah satu karakter (khas Urasawa). Urutan waktunya pun dibuat acak, maju mundur, dari zaman kecil, lompat ke masa depan, kembali ke masa kini, demikian seterusnya. Inilah salah satu nilai top dari komik ini. Gaya brilian tersebut menciptakan efek misteri yang bikin gregetan...mungkin sama dengan efek yg diberikan serial "Lost".

Lalu, apakah filmnya menciptakan efek yg sama? Nope, not at all. Meski Urasawa-sensei ikut terlibat dalam naskahnya, tapi tampaknya para penulis kebingungan bagaimana film mahal ini dibuat se-"komersil" mungkin. Nggak ada yg namanya kedalaman karakter, nggak ada kegalauan Kenji yg merasa bertanggung jawab atas kejadian2 yg terjadi di sekitarnya, apalagi efek misteri seperti di komik. Alurnya cuman di tahun 1997 sampe 2000 dan beberapa flashback. That's it. Padahal, belajar dari serial "Lost" (atau mungkin film2nya Alejandro Gonzalez Inarittu seperti "21 Grams" dan "Babel"), kalau dibuat gaya lompat2 seperti di komik menurut gue adalah cara yg tepat membuat film menjadi lebih megang, meski mungkin tidak disukai sebagian besar penonton awam. Flat, adalah kata yg tepat untuk menilai "20th Century Boys part 1" ini. Meski secara visual effect cukup spektakuler, tapi teknis yg lain (sinematografi dan editing) nggak beda sama dorama2 di TV. Musiknya pun seringkali out of place. Sutradaranya cukup pandai membuat adegan2 yg cukup lucu, tapi masih lemah dalam membangun ketegangan dan aksi. Jadinya adegan2 yang muncul sangat kuno seperti film2 disaster Amerika zaman dulu, klise, padahal versi komiknya tidak se-klise itu.

Hal-hal positif yg dapat diambil adalah jelas ide ceritanya, visual effect, casting yg tidak salah, dan kenyataan bahwa film ini cukup berhasil merangkum first act dari kisah epik kolosal akhir zaman ini (meski intensitas dan suspense jadinya terabaikan).

Okelah, filmnya mahal, aktor2nya cukup dikenal, para pembuat filmnya juga punya CV yg cukup menjanjikan, tapi karya Urasawa-sensei ini pantas untuk mendapat perlakuan yg lebih serius dan lebih kreatif lagi (harus sama briliannya dengan sang sensei).


my score: 5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar